Masa depan blog pribadi
Masa depan blog pribadi

Punya blog pribadi sekarang kok malah terasa jadi beban, ya? Beberapa waktu lalu, seorang temanku yang juga termasuk senior di dunia blogging memutuskan menjual salah satu domain blognya. Padahal, usia blog tersebut sudah belasan tahun. Isinya jangan ditanya. Sudah ratusan, mungkin ribuan tulisan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.

Alasannya dia sudah merasa keberatan membayar biaya perpanjangan domain dan hosting setiap tahun. Aku cukup kaget mendengarnya. Namun, setelah kupikir-pikir, kondisinya memang sedang tidak mudah bagi kami yang masih mempertahankan blog pribadi.

Job menulis artikel untuk blog makin langka. Jauh sekali dibandingkan masa kejayaannya sekitar 2014–2020. Dulu, hampir setiap bulan ada saja tawaran kerja sama dari brand atau agensi. Sekarang, menerima satu atau dua tawaran dalam beberapa bulan saja rasanya sudah lumayan.

Apa penyebabnya? Kalau menurutku, kehadiran AI menjadi salah satu faktor yang cukup besar. Meski tentu saja, perubahan tren pemasaran digital dan kebiasaan orang mengonsumsi konten juga ikut berpengaruh.

Harus kuakui, AI banyak membantu pekerjaan penulis. Mencari ide, menyusun kerangka tulisan, sampai mengeksplorasi sudut pandang baru kini jauh lebih mudah. Aku sendiri tidak menampik manfaatnya. Namun, konsekuensinya mulai terasa. Pekerjaan menulis semakin sulit didapat, sementara posisi tawar kami sebagai blogger juga melemah.

Kalaupun ada tawaran, rate card yang dulu bisa kami pertahankan sekarang jauh lebih mudah ditawar. Aku kasih contoh dari pengalamanku sendiri.

Dulu, satu artikel yang tayang di blog pribadiku minimal dihargai Rp300 ribu. Itu baru satu tulisan di blog, ya. Belum termasuk publikasi tautannya ke Instagram, Facebook, atau X. Kalau klien meminta satu paket artikel blog sekaligus promosi di beberapa media sosial, bayarannya bisa mencapai Rp1 juta atau lebih.

Sekarang? Untuk paket pekerjaan yang kurang lebih sama, tawarannya rata-rata tinggal separuhnya.

Bayangkan. Menulis artikel, mengunggahnya ke blog, lalu membuat publikasi tambahan di tiga media sosial sekaligus. Semua itu dihargai sekitar setengah dari tarif yang dulu biasa kuterima.

Mau protes? Bisa saja. Namun, ketika tarif seperti itu mulai dianggap wajar di industri, pilihan kami semakin terbatas. Menolak berarti siap kehilangan kesempatan. Menerima berarti ikut menyesuaikan diri dengan harga pasar yang terus turun.

Mau nangis? BANGET! HAHAHA. Tapi mau bagaimana lagi?

Ketika Video Menggeser Tulisan

Sebelumnya, menjadi blogger yang piawai menulis artikel soft selling atau hard selling punya kebanggaan tersendiri. Tidak semua orang bisa membuat tulisan promosi yang enak dibaca tanpa membuat pembacanya merasa sedang dijejali iklan. 

Sebagai blogger, kami punya keterampilan khusus di sana. Kami harus memahami produk, mengenali karakter pembaca, lalu merangkainya menjadi cerita yang menarik.

Sekarang, klien jauh lebih tertarik pada konten video vertikal di media sosial. Reels, TikTok, dan berbagai format video pendek menjadi pilihan utama banyak brand. Wajar saja sih sebenarnya, sebab konten semacam itu lebih mudah dikonsumsi dan berpotensi menjangkau audiens yang luas dalam waktu singkat.

Aku tidak mengatakan orang sudah berhenti membaca. Tentu masih banyak pembaca yang menyukai artikel panjang, ulasan mendalam, atau tulisan dengan riset yang serius. Hanya saja, untuk konsumsi konten sehari-hari, video pendek semakin mendominasi perhatian.

Perubahan ini juga terasa pada performa blogku. Sebelumnya, metrik DA, PA, dan DR blogku pernah berada di atas angka 30. Sekarang, beberapa di antaranya merosot hingga belasan.

Aku tidak merasa menurunkan standar menulisku. Kalau boleh dibilang, pengalamanku sebagai penulis justru semakin bertambah. Namun, jumlah pembaca dan performa blogku memang tidak lagi seperti dulu.

Tentu, penurunan DA, PA, atau DR tidak otomatis berarti kualitas tulisan memburuk. Ketiganya merupakan metrik dari penyedia layanan SEO, bukan ukuran langsung kualitas konten. Banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk profil tautan dan perubahan kondisi situs.

Hanya saja, kalau melihat statistik kunjungan blogku sendiri, penurunannya memang nyata. Sering aku bertanya, masih sepadankah biaya dan tenaga yang kukeluarkan untuk mempertahankannya?

Blog Hadiah Suami

Kembali ke cerita temanku tadi. Domain blognya akhirnya benar-benar terjual. Tulisan-tulisan yang selama belasan tahun mengisi blog itu pun hilang dari situs karena digantikan konten milik pemilik baru.

Duh, membayangkannya saja aku sudah horor. Sebab, buatku, blog pribadi bukan sekadar domain, hosting, atau kumpulan artikel yang bisa dihitung nilai komersialnya. Banyak sejarah hidupku di dalamnya.

FYI, suamiku membelikan domain muthebogara.blog ini pada 2014. Waktu itu, aku baru pindah ke Bali dan baru saja kehilangan putra pertama kami yang berusia 6 bulan dalam kandungan.

Selain kondisi mental dan fisikku sedang terganggu, aku juga masih terus beradaptasi dengan kehidupan baru di Bali. Suami cukup sering tidak berada di rumah karena pekerjaan, entah itu ke luar kota atau ke luar negeri. Dia tahu aku gampang stres kalau terlalu lama sendirian.

Akhirnya, dia mendukung hobi menulisku dengan membelikan domain dan hosting melalui WordPress, walau pun saat itu aku juga berprofesi sebagai jurnalis di Bali. Tapi kan, menulis untuk media pasti berbeda dengan menulis di blog pribadi.

Begitulah awal mula blog ini hadir dalam hidupku. Biaya perpanjangan domain dan hostingnya sekitar Rp3,5 juta per tahun era itu.

Lumayan mahal ya? Namun, waktu itu aku tidak terlalu mempersoalkannya. Penghasilan dari blogku bisa mencapai empat sampai lima kali lipat dari biaya tahunannya.

Artinya, selain menjadi tempat menyalurkan hobi, blog tersebut juga menghasilkan uang yang cukup untuk membiayai dirinya sendiri. Aku tidak keluar uang pribadi sama sekali.

Setelah berkenalan dengan lebih banyak blogger, aku mulai belajar soal pengelolaan hosting. Beberapa teman menyarankan agar aku menggunakan layanan hosting lokal. Tidak perlu terus membayar layanan langsung melalui WordPress jika ada pilihan yang lebih hemat.

Aku mengikuti saran mereka. Sejak itu, biaya tahunan blogku turun menjadi sekitar Rp1,6 juta, dengan rincian perpanjangan domain kurang lebih Rp500 ribu dan hosting sekitar Rp1,1 juta. Biaya tersebut masih kubayar sampai sekarang.

Kalau dihitung-hitung, blog ini sudah menemaniku selama 12 tahun. Lumayan panjang, ya, hubungan kami. HAHAHA.

Penghasilan Menulis dari Platform Lain

Menariknya, ketika pekerjaan dari blog pribadi semakin sepi, aktivitas menulisku di platform lain masih cukup ramai. Selain beralih menjadi editor lepas di salah satu penerbit instansi, juga menulis sejumlah buku, sekarang aku lebih aktif menulis di platform user-generated content, salah satunya Kompasiana.

Di sana, selain menuliskan pemikiranku, aku juga bergabung sebagai penulis berbayar dan masih rutin menerima pekerjaan. Penghasilan berupa saldo GoPay dari artikel-artikel yang kuterbitkan setiap bulan masih ada.

Nominalnya memang belum besar, tetapi tetap menyenangkan. Setidaknya, tulisan yang kubuat masih menghasilkan sesuatu.

Belum lagi pekerjaan yang datang melalui program Narativ atau Infinite. Sesekali, ada pula tawaran mengikuti kegiatan dan lomba menulis. Bukan bermaksud sombong, tetapi akun dan portofolio menulisku masih cukup sering mendapat kesempatan semacam itu.

Nilai pekerjaannya pun lumayan, bahkan bisa mencapai jutaan rupiah. Jadi, sebetulnya bukan berarti pekerjaanku sebagai penulis berhenti menghasilkan uang. Hanya saja, sumber penghasilannya mulai bergeser.

Kalau sebelumnya blog pribadi menjadi salah satu andalan. Sekarang, platform lainlah yang lebih banyak mendatangkan pekerjaan. Lucu juga kalau dipikir-pikir. Blog yang dulu menjadi tempatku membangun portofolio, sekarang malah lebih sering kukunjungi ketika sedang ingin menulis sesuatu yang benar-benar kusukai.

BIGBANG dan Drama China Selamatkan Traffic Blogku

Ini benar-benar di luar sangkaku. Belakangan, aku semakin jarang mengunggah artikel pekerjaan ke blog pribadi. Sebagai gantinya, aku lebih banyak menulis cerita fangirlingku sejak G-Dragon dan BIGBANG comeback akhir 2024, juga menulis ulasan drama China sejak 2020.

Awalnya, ya, karena hobi saja. Aku suka BIGBANG. Aku suka menonton drama China, membahas karakter, mengulik alur cerita, sampai membandingkan versi drama dengan novel aslinya. Daripada ocehanku kepanjangan di media sosial, lebih baik kutulis sekalian di blog.

Eh, ternyata pembacanya justru lebih ramai! Artikel-artikel tentang BIGBANG dan drama China mulai mendatangkan pengunjung dari Google Search. Beberapa ulasan bahkan memiliki performa yang lebih baik dibandingkan tulisan bertema lain.

Jadi, sekarang siapa yang membantu mempertahankan traffic blogku?

VIP & PARA DRACHIN LOVERS! HAHAHA.

Sungguh, aku tidak pernah membayangkan bahwa blog yang awalnya kubangun sebagai tempat menulis pengalaman pribadi, perjalanan, dan berbagai artikel kerja sama brand, suatu hari justru lebih ramai karena ulasan drama China.

Tapi ya… begitulah kenyataannya. Ketika melihat statistik blog, aku mulai memahami topik apa yang sedang dicari pembacaku.

Bukan berarti aku akan berhenti menulis tema lain. Aku masih suka menulis tentang lingkungan, perjalanan, keluarga, dan berbagai isu yang menarik perhatianku.

Hanya saja, kalau ulasan drama China ternyata punya pembaca setia dan terus mendatangkan kunjungan, mengapa harus kuabaikan? Lagi pula, aku memang menikmati proses menulisnya.

Tidak ada tuntutan klien, tidak ada brief promosi, dan tidak perlu memikirkan apakah sebuah produk sudah disebut sekian kali dalam artikel. Aku bisa menulis sepanjang yang kuinginkan, mengkritik karakter yang menyebalkan, atau memuji aktor yang menurutku tampil luar biasa.

Mau menulis ulasan 3.000 kata? Silakan. Mau membahas satu karakter sampai berlembar-lembar? Tidak ada yang melarang. Rupanya, masih ada orang yang mau membaca tulisan sepanjang itu.

Setidaknya, pengalaman ini sedikit menghiburku di tengah anggapan bahwa orang-orang sekarang sudah malas membaca artikel panjang.

Jadi, Apakah Blog Ini Akan Kujual?

Pertanyaan itu belakangan mulai muncul di kepalaku. Kalau pekerjaan dari blog terus berkurang, sementara biaya domain dan hosting tetap harus dibayar setiap tahun, sampai kapan aku mau mempertahankannya?

Apakah aku akan mengikuti jejak temanku yang akhirnya memilih menjual domainnya?

Untuk sekarang, jawabannya belum.

Aku masih bisa menutup biaya tahunannya. Selama masih memungkinkan, rasanya terlalu sayang untuk melepas blog yang sudah menemaniku sejak 2014 ini. Bagaimanapun, ada banyak kenangan di sana.

Tulisan-tulisan lama yang mungkin sekarang terasa norak ketika kubaca ulang. Cerita tentang kehidupan di Bali. Pengalaman menjadi ibu. Perjalananku traveling ke berbagai tempat. Pekerjaan yang pernah kuterima. Tak ketinggalan juga berbagai fase hidup yang mungkin sudah kulupakan kalau tidak pernah kutulis.

Kadang, ketika membuka artikel lama, aku bisa mengingat kembali hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja. Itulah yang membuatku masih berat melepaskannya. Kalau sekadar menghitung untung dan rugi, mungkin keputusan mempertahankan blog pribadi tidak lagi semenarik dulu.

Sayangnya, di blog ini, ada sesuatu yang tidak bisa dihitung hanya dari jumlah pengunjung atau nilai kerja samanya. Sebab blog ini menyimpan sebagian perjalanan hidupku. Aku berharap masih bisa mempertahankannya selama mungkin.

Meski begitu, aku juga tidak mau munafik. Kalau dulu aku begitu bersemangat mengurus blog, memeriksa statistik pengunjung, memperbaiki SEO, sampai rajin memperbarui artikel, sekarang semangat itu sudah jauh berkurang.

Kadang, beberapa minggu berlalu tanpa satu pun tulisan baru. Aku masih sayang blog ini. Hanya saja, mungkin aku sudah tidak sesayang dulu.

Duh, setelah 12 tahun bersama, ternyata hubungan kami juga bisa masuk fase hambar. HAHAHAHA. Bagaimana denganmu?

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment