Review The Longest Promise
Review The Longest Promise

Pas tahu “The Longest Promise” mau rilis di 2023, aku excited banget. Soalnya ini xianxia terbaru Xiao Zhan setelah “Douluo Continent” (2021). Honestly, setiap Xiao Zhan balik ke kostum-fantasy gini, perempuan mana yang nggak sabar mau nonton dia? Hahaha.

Ekspektasi penonton juga tinggi banget. Wajar sih. Dari teaser sampai materi promosinya, dramanya kelihatan niat banget. Visualnya mewah, dunianya luas, auranya “satu saga besar.” Selain itu, yang bikin heboh juga cara tayangnya.

Biasanya drama China panjang itu tayangnya santai, bisa dua bulan. Nah ini? “The Longest Promise” yang perdana 2 Juli 2023, udah kelar 19 Juli 2023. Tiga pekan doang, selesai. Cepet banget sampai terasa kayak dikejar-kejar takdir, dan buat yang nggak kuat nunggu, ya siap-siap… karena empat episode terakhirnya masuk paket express. Penggemar harus merogoh kocek ekstra kalau mau ikut “finish bareng” tanpa spoiler berseliweran duluan.

Penonton awalnya agak skeptis, tapi pelan-pelan membalikkan keraguan itu. Begitu cerita masuk ke fase yang lebih serius, terutama sekitar episode 18 sampai 36, penonton baru terasa enjoy-nya. Plotnya makin padat, konfliknya makin tajam, dan chemistry dua pemeran utamanya, Xiao Zhan dan Ren Min makin kebentuk.

Nah… sekarang udah siap baca ulasan lengkapku?

Sinopsis The Longest Promise

“The Longest Promise” adalah kisah cinta yang sejak awal sudah ditakdirkan penuh ujian karena cinta tersebut datang pada waktu yang salah. Serial 40 episode ini berlatar di Benua Kong Sang, dunia xianxia yang penuh klan, kekuatan spiritual, dan intrik politik.

Di sinilah kisah antara Zhu Yan (diperankan Ren Min), putri keras kepala dari Suku Chi Yi, dan Shi Ying (Xiao Zhan), putra mahkota Kerajaan Kong Sang, dimulai.

Shi Ying seharusnya menjadi penerus tahta. Hidupnya berubah drastis ketika ibunya, sang ratu, dijebak dan difitnah. Demi menyelamatkan putranya dari pusaran istana yang kejam, ratu memilih jalan ekstrem dengan membuat Shi Ying “mati” secara politis. Ia diasingkan ke Gunung Jiuyi untuk berkultivasi, hidup sebagai pertapa, dan memutus seluruh ikatan duniawi.

Sementara itu, Zhu Yan tumbuh sebagai putri yang cerdas, ceria, dan keras kepala. Ia menolak tunduk pada takdir perempuan bangsawan yang harus menikah demi politik. Usahanya melarikan diri dari pernikahan yang tidak diinginkan justru mempertemukannya kembali dengan Shi Ying, sahabat masa kecil yang ia kira telah lama menghilang.

Sayangnya pertemuan ini tidak romantis seperti yang ia bayangkan. Shi Ying kini adalah seorang master dan calon guru agung yang dingin, tenang, dan nyaris tanpa emosi, terikat sumpah kultivasi dan aturan ketat. Saat Zhu Yan akhirnya menjadi murid di Gunung Jiuyi, hubungan mereka berubah menjadi guru dan murid, sebuah status yang secara mutlak melarang perasaan pribadi.

Ironisnya, justru dalam hubungan inilah benih cinta antara mereka tumbuh. Shi Ying, yang selama ini hidup dengan prinsip menekan emosi, mulai goyah. Zhu Yan, dengan kehangatan dan ketulusannya, perlahan menembus dinding yang Shi Ying bangun selama bertahun-tahun. 

Setiap rasa itu muncul, Shi Ying terus menahannya. Bagi Shi Ying, jatuh cinta bukan sekadar tabu, melainkan dosa.

Shi Ying yang jatuh cinta pada muridnya, Zhu Yan
Shi Ying yang jatuh cinta pada muridnya, Zhu Yan

Takdir semakin kejam ketika konflik politik mulai memanas. Kerajaan Kong Sang terancam dari berbagai sisi, mulai dari pemberontakan, klan-klan yang saling bermusuhan, perjanjian damai yang rapuh, dan munculnya kekuatan gelap yang ingin menghancurkan keseimbangan dunia. 

Shi Ying dan Zhu Yan, tanpa sadar, berdiri di dua sisi yang berseberangan dalam konflik besar ini. Zhu Yan terikat pada bangsanya dan keluarganya. Shi Ying terikat pada sumpah dan tanggung jawabnya sebagai pelindung Kong Sang.

Di tengah semua itu, muncul Zhi Yuan (diperankan Alen Feng), sosok penting yang membawa rahasia masa lalu dan menjadi kunci konflik besar antara cinta, pengkhianatan, dan pengorbanan. 

Hubungan Shi Ying dan Zhi Yuan bukan sekadar rivalitas, melainkan luka lama yang belum sembuh. Ketika kebenaran tentang masa lalu mereka mulai terkuak, pilihan Shi Ying semakin berat, antara membalas dendam atau melindungi dunia yang pernah mengkhianatinya.

Zhu Yan sendiri tak berhenti berjuang. Ia bukan tipe female-lead yang hanya menangis menunggu diselamatkan. Demi orang-orang yang ia cintai, ia berani menantang aturan klannya, melawan pernikahan politik, menyusup ke wilayah berbahaya, bahkan mempelajari sihir terlarang dengan risiko kehilangan dirinya sendiri.

Hubungan mereka terus diuji oleh perpisahan, kesalahpahaman, dan pilihan yang tak pernah hitam-putih. Ada masa di mana Zhu Yan harus pergi, ada masa Shi Ying memilih menjauh demi melindunginya. Mereka terus bertemu dan berpisah, selalu saling menjaga dari kejauhan.

Puncaknya, ancaman terbesar terhadap Kong Sang muncul. Dunia berada di ambang kehancuran. Ramalan lama bahwa Zhu Yan adalah sosok yang ditakdirkan “membunuh” Shi Ying kembali menghantui. 

Shi Ying dan Zhu Yan akhirnya harus menghadapi satu pertanyaan yang sejak awal mereka hindari, “apakah cinta layak diperjuangkan jika harganya adalah dunia?”

Dalam pertarungan terakhir melawan kekuatan gelap dan konspirasi lama, rahasia besar terbongkar. Identitas, masa lalu, dan takdir masing-masing akhirnya terungkap. 

Zhu Yan harus mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Shi Ying. Shi Ying, yang selama ini hidup menekan perasaan, akhirnya harus memilih, tetap menjadi pelindung tanpa emosi, atau menjadi manusia yang bisa mencintai sepenuh hati. 

Review The Longest Promise

Premis “The Longest Promise” ini sebetulnya simpel. Ada putra mahkota dibuang, kemudian dia jadi pendeta, lalu punya murid perempuan, kemudian jatuh cinta sama muridnya. Mirip kayak cerita Bibi Lung dan Yoko ya, bedanya yang jadi guru di sini male-lead.

Barulah makin lama, aku sadar ceritanya tuh bukan perkara Shi Ying sama Zhu Yan pacaran atau nggak, tapi seberapa jauh seseorang bisa menahan perasaannya demi tanggung jawab… sebelum akhirnya rasa itu tumpah ruah dan pecah.

Xiao Zhan sebagai Shi Ying

Shi Ying bukan male-lead yang dingin, nyebelin, atau sombong. Dia emang udah terlatih begitu. Dia lembut, tapi menahan perasaan. Dia sayang, tapi menyangkal perasaan. Dia melindungi, tapi nggak mau mengakui kalau itu bentuk cinta.

Di “The Longest Promise” ini, karakter Xiap Zhan benar-benar introvert abis. Dia suka kesunyian, kalem, penuh luka. Dia bukan cuma “orang suci tampan” tapi orang yang hidupnya dipaksa berhenti di titik trauma.

Yang bikin sedih, Shi Ying sering memilih opsi paling menyakitkan jika menyangkut Zhu Yan. Dan itu, menurut dia paling benar. Pilihan yang sama berkali-kali dia lakukan dan sering bikin Zhu Yan terluka.

Xiao Zhan sebagai Shi Ying di "The Longest Promise"
Xiao Zhan sebagai Shi Ying di “The Longest Promise”

Ren Min sebagai Zhu Yan

Nah, Zhu Yan ini jadi sumber perdebatan penonton. Aku paham kenapa ada yang awalnya skeptis sama Ren Min lantaran dia bukan aktris yang punya nama besar. Coba deh lihat pasangan Xiao Zhan di drama-drama sebelumnya, ada Yang Zi, Meng Ziyi, Zhao Lusi, Li Qin. Tiba-tiba di serial ini dia dipasangkan sama Ren Min. 

Apalagi, Zhu Yan adalah female-lead yang impulsif, keras kepala, emosinya gampang kelihatan. Meski ini cuma akting, tapi penonton, terlebih fans fanatik Xiao Zhan pasti kurang berkenan.

Buat aku pribadi, Zhu Yan punya sisi yang menyenangkan. Dia bukan tipe female-lead yang pura-pura cuek atau main tarik ulur gengsi. Kalau dia sayang, ya kelihatan sayang. Kalau dia marah, ya kelihatan marah. Kalau dia berani melawan tekanan, dia tunjukkn dan fight meski dia sendirian.

Masalahnya, penonton kesal karena motivasi Zhu Yan ini sering naik turun. Ada beberapa momen yang bikin penonton mikir, “Loh, tadi kan dia bilang A, kok sekarang jadi B?” Ini nih yang bikin sebagian orang ngerasa Ren Min ini nggak cocok jadi pasangan Xiao Zhan di “The Longest Promise” ini.

Syukurnya semakin bertambah episodenya, penonton terhibur lantaran Zhu Yan ini punya kualitas. Dia nggak cuma ngekorin Shi Ying, tapi beberapa kali, dia juga menyelamatkan Shi Ying.

Ren Min sebagai Zhu Yan di "The Longest Promise"
Ren Min sebagai Zhu Yan di “The Longest Promise”

Alen Fang sebagai Zhi Yuan

Kalau harus jujur, Zhi Yuan itu salah satu karakter paling tragis di “The Longest Promise,” bahkan mungkin lebih tragis dari pasangan utamanya.

Zhi Yuan bukan tipikal second male-lead yang hadir cuma buat bikin cemburu. Dia masuk cerita membawa beban waktu, yaitu cinta yang bertahan ratusan tahun, janji yang tak pernah lunas, dan identitas yang selalu harus disembunyikan. 

Dari awal, aura Zhi Yuan itu lembut, tenang, dan penuh kesabaran. Dia bukan karakter yang meledak-ledak. Justru karena terlalu menahan, luka dia terasa lebih dalam.

Yang bikin Zhi Yuan menyayat itu adalah posisinya. Dia mencintai Yao Yi, leluhur Zhu Yan, dan saat melihat Zhu Yan, dia tahu betul bahwa perempuan ini bukan orang yang sama, tapi perasaan tidak bisa diatur sesederhana logika. 

Zhi Yuan sadar dia tak punya hak menuntut apa pun. Dia tetap memilih melindungi Zhu Yan, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai penjaga. Dan itu pilihan yang sunyi banget.

Alen Fang memainkan Zhi Yuan dengan ketenangan yang konsisten. Ekspresinya jarang dramatis, tapi setiap tatapan dan jeda dialognya terasa penuh emosi yang ditahan. Ada kesan “lelaki yang sudah terlalu lama hidup untuk berharap bahagia.”

Bahkan ketika Zhi Yuan mulai terseret ke keputusan-keputusan fatal, kita sebagai penonton nggak bisa sepenuhnya membenci dia, karena kita tahu, semua itu lahir dari cinta dan rasa bersalah yang menumpuk terlalu lama.

Yang paling nyesek buatku adalah bagaimana Zhi Yuan selalu memilih jalan yang paling menyakitkan untuk dirinya sendiri. Dia rela jadi musuh, rela disalahpahami, bahkan rela mati, selama orang-orang yang ia lindungi tetap selamat.

Alen Fang sebagai Zhi Yuan di "The Longest Promise"
Alen Fang sebagai Zhi Yuan di “The Longest Promise”

Li Mingde sebagai Chong Ming

Chong Ming adalah makhluk roh tua yang mengambil wujud pemuda ceroboh, cerewet, dan sering bikin geleng-geleng kepala. Tapi jangan salah, di balik kelakuannya yang nyebelin dan suka ngomel, Chong Ming itu loyal dan cerdas sama Shi Ying. Dia tipe karakter yang ngomel karena peduli.

Li Mingde memainkan Chong Ming dengan pas. Timing komedinya kena, tapi dia nggak jatuh jadi badut. Ada momen-momen di mana Chong Ming berhenti bercanda dan kamu bisa lihat bahwa dia sebenarnya mengerti penderitaan Shi Ying lebih dari siapa pun. 

Dia adalah saksi hidup perjalanan Shi Ying, dari pangeran kecil, guru muda, sampai lelaki yang akhirnya runtuh karena cinta. Chong Ming juga berfungsi sebagai suara logika sekaligus suara hati Shi Ying. Dia sering jadi orang pertama yang menyadari perasaan Shi Ying, memperingatkan bahaya emosional, atau mempertanyakan keputusan-keputusan ekstrem yang diambil gurunya.

Dan yang aku suka, Chong Ming bukan sekadar pelayan setia yang bilang “iya” ke semua perintah. Dia berani membantah Shi Ying ketika itu harus. Dia berani marah, dan berani kecewa. Itu bikin relasi dia dan Shi Ying terasa dalam.

Li Mingde sebagai Chong Ming di "The Longest Promise"
Li Mingde sebagai Chong Ming di “The Longest Promise”

Wang Churan sebagai Bai Xuelu

Bai Xuelu itu tipe karakter yang gampang disalahpahami kalau dilihat cuma dari permukaan. Awalnya, dia terlihat seperti putri bangsawan yang elegan, lembut, dan penuh tata krama, bahkan sempat kelihatan seperti kandidat second female-lead klasik yang bakal iri, licik, dan nyebelin.

Tapi semakin cerita jalan, makin jelas bahwa Xuelu bukan sekadar karakter pemanis konflik cinta. Xuelu tumbuh sebagai anak perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang status. 

Ibunya diperlakukan tidak adil, posisinya rapuh, dan sejak kecil ia sudah paham, kalau ingin bertahan, dia harus naik ke atas sistem, bukan melawannya dari luar. Itulah kenapa ambisi Xuelu bukan ambisi kosong. 

Dia ingin jadi Permaisuri bukan semata karena cinta atau gengsi, tapi karena itu satu-satunya cara baginya untuk mendapatkan keadilan dan keamanan.

Menariknya, Xuelu bukan karakter yang bertindak impulsif. Dia hitungannya rapi, sabarnya panjang, dan jarang meledak-ledak secara emosional. Bahkan ketika dia melakukan hal-hal yang morally questionable, penonton bisa melihat alasan di baliknya, bukan langsung nge-judge “dia jahat”.

Wang Churan membawakan Xuelu dengan sangat elegan. Ekspresi wajahnya minim, gerak tubuhnya tenang. Aku bisa merasakan bagaimana Xuelu menekan rasa sakit, rasa iri, dan rasa lelah bertahun-tahun demi bertahan di dunia istana yang dingin.

Dan yang aku suka, Xuelu tidak dipaksa jadi villain total. Dia diberi ruang untuk refleksi dan penebusan. Perjalanan karakternya terasa manusiawi, mulai dari perempuan yang terlalu lama bertahan sampai lupa kapan harus berhenti.

Wang Churan sebagai Bai Xuelu di "The Longest Promise"
Wang Churan sebagai Bai Xuelu di “The Longest Promise”

Wang Ziqi sebagai Qing Gang

Kalau Bai Xuelu itu simbol ambisi yang dibentuk luka, maka Qing Gang adalah simbol loyalitas yang terlalu patuh. Qing Gang sejak awal digambarkan sebagai prajurit yang lurus, jujur, dan taat aturan. Dia tipe orang yang kalau sudah berjanji, akan dipegang sampai titik darah penghabisan. 

Secara karakter, dia kontras banget dengan Shi Ying yang sering menekan emosi dan memikul beban sendirian. Masalahnya, Qing Gang hidup di dunia yang nggak pernah sesederhana hitam dan putih.

Perasaannya pada Xuelu berkembang pelan. Bukan dari cinta pada pandangan pertama, tapi dimulai dari rasa kasihan, empati, dan kebersamaan.

Sayang sekali, hubungan mereka selalu terganjal politik, status, dan intrik keluarga. Qing Gang sering berada di posisi serba salah, antara ingin melindungi Xuelu, tapi juga tidak bisa melawan sistem yang membentuk mereka.

Yang bikin Qing Gang kadang terasa frustratif buat penonton adalah sifatnya yang terlalu reaktif. Dia sering bergerak setelah krisis terjadi, bukan sebelum. Tapi justru itu konsisten dengan karakternya, dia bukan perencana besar, dia pelaksana yang setia.

Wang Ziqi memerankan Qing Gang dengan aura ksatria klasik. Tatapannya tegas, emosinya tertahan, dan ketika dia harus memilih antara tugas dan hati, konflik batinnya kelihatan jelas. 

Karakternya mungkin tidak sekompleks Shi Ying, tapi fungsinya penting sebagai cerminan, bahwa orang baik pun bisa terseret konflik ketika dunia di sekitarnya rusak.

Wang Ziqi sebagai Qing Gang di "The Longest Promise"
Wang Ziqi sebagai Qing Gang di “The Longest Promise”

Romansa Shi Ying dan Zhu Yan

Kalau kamu tipikal penonton drama xianxia yang suka romansa manis-manis dan sering skinship, maaf, “The Longest Promise” bukan tipe itu.

Romansanya justru sunyi, banyak ditahan. Mesranya dalam bentuk lain, misalnya cara Shi Ying melindungi Zhuyan, tatapan-tatapan tanpa kata, atau ketika Zhu Yan sering kali balik lagi menemani sang guru ketika dia sudah berkata-kata pedas.

Simpelnya, Shi Ying dan Zhu Yan ini lebih ke pasangan yang saling menjaga, bukan sibuk flirting.

“The Longest Promise” bukan cuma cerita Shi Yingn dan Zhu Yan doang. Hubungan antarkarakter di serial ini cukup berisi. Ada persahabatan dan dinamika murid-murid di Gunung Jiuyi. Kisah karakter sampingannya juga bertumbuh. Karakter-karakter seperti Chong Ming (diperankan Li Mingde) jadi comic relief, nggak cuma pajangan. Dari yang aku baca, banyak penonton suka sama karakter-karakter pendukung di sini, sebab mereka bikin dunia Kong Sang terasa ramai.

Aku suka sama fight scene di “The Longest Promise” yang kelihatan kuatnya. Nggak patah-patah gitu, tapi scene berkelahinya lebih sering diperlihatan berkesinambungan.

CGI-nya ada yang bagus banget, tapi ada juga yang masih kelihatan green screen banget. But, overall, masih enak dilihat.

Romansa guru murid, Shi Ying dan Zhu Yan di "The Longest Promise"
Romansa guru murid, Shi Ying dan Zhu Yan di “The Longest Promise”

Sad Ending? Apa Iya?

Banyak penonton “The Longest Promise” kecewa sama ending-nya. Mereka bahkan skip episode terakhir karena sad ending.

Shi Ying mati lagi, dan Zhu Yan sendiri lagi. Reuni mereka dalam satu adegan sunyi di bawah pohon berbunga, itu sepertinya hanya dalam khayalan Zhu Yan doang.

Tapi aku sendiri menganggap “The Longest Promise” sebetulnya happy ending. Kuncinya ada pada tema besarnya, bahwa takdir tidak selalu bisa dihindari, tapi maknanya bisa diubah.

Sejak awal, “The Longest Promise” kan menekankan bahwa ramalan bukan vonis mutlak. Shi Ying adalah karakter yang paling keras menentang cara pandang fatalistik tersebut. Pada episode pertama pun, dia sudah mendeklarasikan keinginannya untuk “membunuh dewa.” Cukup ekstrem, lantaran ini tuh simbol penolakan terhadap langit dan nasib yang ditentukan.

Ramalan utama “The Longest Promise” adalah Zhu Yan adalah perempuan yang akan membunuh Shi Ying. Secara literal, ramalan tersebut memang menjadi kenyataan. Zhu Yan menusukkan pedang terakhir untuk mengalahkan Xu Yao, energi jahat yang menguasai tubuh Shi Ying. 

Nah, hal yang sering kelewatan adalah ramalan ini kan nggak pernah bilang kalau Zhu Yan hanya akan membawa penderitaan bagi Shi Ying. Itu kan cuma asumsi orang-orang sekitar Shi Ying, bukan fakta sebenarnya.

Sebaliknya, Zhu Yan adalah alasan Shi Ying kembali menjadi manusia seutuhnya. Cintanya memberi Shi Ying pengalaman hidup bahagia, meski juga ada sisipan penderitaan, dan dia mencapai ketenangan batin ketika bersama Zhu Yan. Semua itu mengantarkan Shi Ying pada kondisi ideal seorang kultivator, bahwa dia tidak terikat, tidak menyesal, dan sepenuhnya berdamai dengan dirinya sendiri.

Dalam konteks xianxia, kondisi ini sangat dekat dengan pencapai “real state,” tingkat tertinggi kultivasi yang memungkinkan seorang manusia melampui batas hidup dan mati.

Pengorbanan Shi Ying di akhir cerita bukan tindakan sia-sia atau hukuman takdir. Itu adalah pilihan sadar. Berbeda dengan kematian pertamanya yang impulsif dan penuh rasa bersalah, kematian terakhirnya adalah keputusan yang diambil bersama Zhu Yan, dengan kepercayaan penuh satu sama lain, demi menyelamatkan dunia. Di titik ini, Shi Ying tidak melihat kematian sebagai akhir, melainkan sebagai penyempurnaan misinya.

Adegan terakhir, Shi Ying muncul kembali di bawah pohon berbunga, itu menurutku emang sengaja dibikin ambigu. Tapi nyadar nggak penonton, bahwa itu simbolismenya kuat loh.

Adegan terakhir Shi Ying di "The Longest Promise"
Adegan terakhir Shi Ying di “The Longest Promise”

Shi Ying tidak meninggalkan jasad, melainkan berubah menjadi kelopak bunga. Snowy Rosa, bunga yang sejak awal dikaitkan dengan Shi Ying, akhirnya menjadi medium kembalinya dia. Dalam dunia xianxia, ini membuka kemungkinan bahwa Shi Ying tidak mati secara absolut, melainkan telah melampaui wujud fana.

Maka, kebahagiaan Shi Ying tidak diukur dari hidup panjang bersama Zhu Yan sebagai manusia biasa, melainkan dari kenyataan bahwa dia sudah menyelamatkan dunia, mencintai tanpa penyesalan, mengubah makna takdirnya sendiri, dan tetap kembali pada orang yang ia cintai dalam wujud baru.

Ending ini menantang ekspektasi penonton tentang “bahagia” yang konvensional, bahwa happy ending itu ya menikah, punya anak, menua bersama. So, kalau kamu sama kayak aku, memilih ending yang kedua, maka “The Longest Promise” sejatinya memiliki akhir yang bahagia. Tulis pendapatmu di kolom komentar ya.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment