Review Love on the Turquoise Land
Review Love on the Turquoise Land

Drama China “Love on the Turquoise Land” adalah campuran misteri, thriller, dan fantasi dengan bumbu romance slow-burn. Tayang 32 episode di WeTV dan Youku, serial yang dibintangi Dilraba Dilmurat dan Chen Xingxu ini diadaptasi dari novel karya Wei Yu.

Hal yang bikin aku tertarik nonton serial ini adalah genre-nya xianxia, tapi modern. Biasanya kan kalau xianxia itu pasti melekat dengan costume drama yang terjadi di Tiga Alam. Tapi xianxia yang satu ini setting-nya serba modern, tetapi tetap terhubung dengan dunia gelap dan primitif, terhubung dengan klan pemburu, makhluk yang menyamar menjadi manusia, dan rahasia yang nyambung ke legenda kuno era Dinasti Qin.

Penasaran dengan review “Love on the Turquoise Land” ala aku? Silakan baca terus sampai habis ya.

Sinopsis Love on the Turquoise Land

Pada masa Dinasti Qin, Kaisar Qin Shihuang terobsesi dengan keabadian. Ia mengirim sekelompok pemburu rahasia ke pegunungan selatan untuk menelusuri sumber kehidupan abadi. Pasukan ini kemudian dikenal sebagai Nanshan Hunters.

Sayangnya, pencarian tersebut membawa mereka pada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ramuan keabadian, yaitu makhluk misterius bernama Di Xiao (Burung Hantu Tanah). Di Xiao adalah entitas yang lahir dari energi aneh bumi dan mampu berevolusi, menyusup, bahkan meniru manusia.

Seiring waktu, kisah para pemburu ini menghilang dari sejarah. Yang tersisa hanyalah garis keturunan, sumpah, dan perang sunyi yang terus berlanjut hingga masa modern.

Di masa kini, Nie Jiuluo (diperankan Dilraba Dilmurat) hidup sebagai pematung perempuan. Hidupnya terlihat tenang, tertutup, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia. Namun, identitas aslinya adalah penerus salah satu peran paling berbahaya dalam Nanshan Hunters, yaitu Mad Blade alias Feng Dao alias si Pisau Gila, eksekutor yang bertugas membunuh Di Xiao secara langsung.

Jiuluo tumbuh dalam trauma. Ibunya menghilang secara misterius saat menjalankan misi. Ayahnya bunuh diri karena tekanan dan rasa bersalah. Sejak kecil, Jiuluo dilatih bukan untuk hidup normal, tapi untuk bertarung dan bertahan. Karena itu, ia membenci identitas pemburu dan berusaha menjauh dari takdirnya. Namun, dunia tidak membiarkannya bebas memilih keinginan hidupnya.

Dilraba Dilmurat sebagai Nie Jiuluo, the Mad Blade
Dilraba Dilmurat sebagai Nie Jiuluo, the Mad Blade

Di sisi lain, ada Yan Tuo (diperankan Chen Xingxu) adalah pewaris Rou Shan Group, perusahaan farmasi besar yang amat prestisius. Namun, perusahaan ini dikendalikan oleh Lin Xirou, wanita elegan yang mengambil alih hidup Yan Tuo sejak kecil setelah orang tuanya meninggal secara misterius.

Yan Tuo tumbuh dalam kontrol ketat. Ia diawasi, dimanipulasi, dan “dipelihara” oleh Lin Xirou. Meski tampak patuh, Yan Tuo diam-diam menyimpan curiga bahwa kematian orang tuanya tidak wajar, dan Lin Xirou bukan manusia biasa.

Yan Tuo mulai menyelidiki masa lalunya sendiri, dan penyelidikan itu membawanya bertabrakan dengan Nie Jiuluo.

Chen Xingxu sebagai Yan Tuo dalam Love on the Turquoise Land
Chen Xingxu sebagai Yan Tuo dalam Love on the Turquoise Land

Musuh atau Sekutu?

Pertemuan pertama Nie Jiuluo dan Yan Tuo diwarnai kecurigaan dan konflik. Jiuluo melihat Yan Tuo sebagai orang berbahaya yang terlalu dekat dengan sumber kejahatan. Yan Tuo melihat Jiuluo sebagai perempuan misterius yang menyembunyikan sesuatu.

Akan tetapi, rangkaian insiden hidup-mati memaksa mereka bekerja sama. Mereka diserang oleh Di Xiao, diburu oleh pihak yang tak terlihat, dan terjebak dalam situasi di mana satu-satunya cara bertahan hidup adalah percaya satu sama lain.

Dari sinilah hubungan mereka berkembang, bukan dari ketertarikan romantis instan, melainkan dari kepercayaan yang dibangun di tengah bahaya.

Rahasia Di Xiao dan Lin Xirou

Terungkap bahwa Lin Xirou ternyata adalah Di Xiao tingkat tinggi, makhluk yang telah berevolusi jauh melampaui bentuk awalnya. Ia membangun Rou Shan Group sebagai kedok untuk meneliti cara “memanusiakan” Di Xiao, membuat mereka stabil, cerdas, dan mampu hidup di dunia manusia.

Yan Tuo adalah bagian dari eksperimen itu. Ia dibesarkan di sekitar Lin Xi Rou karena darahnya memiliki nilai khusus, darah yang bisa digunakan sebagai penyeimbang bagi Di Xiao.

Meski demikian, Lin Xirou sejatinya benar-benar menyayangi Yan Tuo dengan caranya sendiri. Hubungan mereka bukan sekadar antagonis–korban, melainkan relasi kompleks antara manipulasi, kasih sayang, dan obsesi.

Nie Jiuluo kembali terlibat penuh dengan Nanshan Hunters, sebuah kelompok yang semakin kecil, lelah, dan terpecah. Mereka bukan pahlawan super, melainkan sekumpulan mereka manusia biasa yang mewarisi perang ratusan tahun.

Satu per satu anggota gugur. Pengkhianatan terjadi. Rahasia lama terbongkar. Para pemburu sadar bahwa perang ini mungkin adalah pertempuran terakhir mereka.

Zhang Li sebagai Lin Xirou/ Li Shuangxiu
Zhang Li sebagai Lin Xirou/ Li Shuangxiu

Romansa di Tengah Kekacauan

Di tengah kekacauan itu, hubungan Nie Jiuluo dan Yan Tuo berubah menjadi cinta. Tapi cinta mereka bukan cinta ringan.

Jiuluo takut kehilangan. Yan Tuo takut dikendalikan lagi. Mereka sama-sama trauma, sama-sama keras kepala, dan sama-sama sadar bahwa bersama berarti mengambil risiko besar. Namun, justru karena itu, mereka memilih satu sama lain.

Untuk menghadapi Lin Xirou dan Di Xiao sepenuhnya, Nie Jiuluo menggunakan obat peningkat kemampuan Mad Blade, senjata terakhir para pemburu. Obat ini meningkatkan kekuatan fisik dan regenerasi, tetapi harus dibayar dengan harga mahal, yaitu memutus emosi dan ingatan.

Setelah pertarungan klimaks, Lin Xirou akhirnya dikalahkan. Nie Jiuluo selamat dengan konsekuensi besar, ia kehilangan ingatan tentang Yan Tuo dan sebagian besar hidupnya sebagai pemburu.

Yan Tuo memilih untuk tetap berada di sisi Nie Jiuluo, meski ia tidak lagi mengenalnya. Ia tidak memaksa ingatan Jiuluo kembali. Ia menunggu.

Romansa Nie Jiuluo dan Yan Tuo dalam Love on the Turquoise Land
Romansa Nie Jiuluo dan Yan Tuo dalam Love on the Turquoise Land

Perlahan, fragmen kenangan muncul karena emosi tidak sepenuhnya bisa dihapus. Nie Jiuluo kembali tertarik pada Yan Tuo, tetapi dengan sosoknya yang baru, bukan karena teringat masa lalu.

“Love on the Turquoise Land” berakhir bittersweet. Dunia belum sepenuhnya aman. Nanshan Hunters mungkin akan lenyap. Namun, Nie Jiuluo dan Yan Tuo memilih hidup sebagai manusia biasa, membawa luka lama, cinta baru, dan harapan bahwa takdir tidak selalu harus dimenangkan dengan darah.

Review Love on the Turquoise Land

Drama China “Love on the Turquoise Land” main di dua jalur, yaitu masa lalu (mitos) dan masa kini (modern). Keduanya terhubung Nanshan Hunters, pemburu yang dulunya dikirim untuk urusan immortality.

Nah, pada masa kini, legenda itu hidup lagi lantaran muncul kejadian mengarah ke makhluk/ entitas bernama Di Xiao. Ini tuh monster, tapi punya sistem hierarki dan cara menyusup ke dunia manusia.

Jujur ya, “Love on the Turquoise Land” itu hidup karena karakternya, bukan karena plot ceritanyang serba cepat dengan twist beruntun. 

Inilah kenapa sedari awal, beban terbesar drama ini jatuh ke dua pemeran utamanya, dalam hal ini Dilraba Dilmurat dan Chen Xingxu. Untungnya, akting mereka berdua benar-benar sukses mengangkat cerita. 

Akting Dilraba Dilmurat dan Chen Xingxu sempurna
Akting Dilraba Dilmurat dan Chen Xingxu sempurna

Dilraba Dilmurat sebagai Nie Jiuluo

Nie Jiuluo adalah salah satu peran paling tailor-made untuk Dilireba dalam beberapa tahun terakhir.

Jiuluo bukan tipe karakter cerewet atau emosional secara verbal. Dia lebih banyak diam, mengamati, menahan diri, dan di sanalah tantangannya.

Buat aku, yang paling kerasa dari akting Dilireba di sini adalah kontrolnya. Gerak tubuhnya minim, tapi presisi. Tatapan matanya sering lebih “berbicara” ketimbang dialog. Emosinya nggak tumpah ruah sekaligus, tapi tipikal yang disimpan trus bocor perlahan.

Sebagai Mad Blade atau Feng Dao, Jiuluo itu mematikan. Namun sebagai manusia, dia rapuh. Dan Dilireba berhasil menampilkan dua sisi itu tanpa terlihat kontradiktif.

Nie Jiuluo si Pisau Gila (Mad Blade)
Nie Jiuluo si Pisau Gila (Mad Blade) dalam Love on the Turquoise Land

Aku bisa melihat ada perbedaan jelas antara Jiuluo saat bertarung dengan Jiuluo saat sendirian. Ketika bertarung, dia tajam, efisien, dan nyaris tanpa ragu. Ketika sendirian, dia kosong, lelah, seolah hidupnya berhenti di masa lalu.

Salah satu kekuatan akting Dilireba di sini adalah kemampuannya menahan ekspresi. Banyak adegan di mana Jiuluo hanya berdiri, mendengar, atau melihat, tapi aku sebagai penonton tahu kepalanya sedang penuh konflik.

Ini penting, sebab karakter Jiuluo itu adalah perempuan yang kehilangan orang tua sejak kecil, dipaksa memikul warisan kekerasan dengan menjadi eksekutor, dan dia ingin hidup normal tapi tak bisa mendapat kesempatan itu.

Kalau Dilireba main terlalu emosional, karakter Jiuluo di “Love on the Turquoise Land’ ini jatuhnya jadi melodramatis. Inilah kenapa Dilireba berakting jauh lebih banyak menekan emosinya. Dan itu berhasil.

Kalau kamu terbiasa sebelumnya menonton Dilireba dengan peran-peran manis dan glamor atau romansa tumpah-tumpah, versi “Love on the Turquoise Land” adalah Dilireba yang lebih dewasa dan grounded.

Love on the Turquoise Land bikin Dilraba Dilmurat keluar dari zona nyaman
Love on the Turquoise Land bikin Dilraba Dilmurat keluar dari zona nyaman

Chen Xingxu sebagai Yan Tuo

Yan Tuo ini perannya jauh lebih sulit dari kelihatannya. Di permukaan, dia tampak seperti anak konglomerat, pewaris kaya yang agak lembek dan penurut. Tapi sebenarnya, dia hidup dalam mode survival alias bertahan.

Chen Xingxu harus memainkan dua lapisan karakter Yan Tuo di “Love on the Turquoise Land.” Pertama, Yan Tuo dengan topeng lemah dan penurut di depan Lin Xirou. Kedua, Yan Tuo asli yang penuh amarah, trauma, dan amat cerdas. Overall, menurutku Chen Xingxu juga sukses besar dengan keduanya.

Yang menonjol dari akting Chen Xingxu di “Love on the Turquoise Land” adalah permainan mikro-ekspresinya. Dia emang jagonya di sini. Makanya aku bilang, Chen Xingxu ini seperti titisan Vic Zhou, idolaku zaman F4 “Meteor Garden” dulu. Nggak tahu ya, secara perawakan, attitude, akting, mikro-ekspresi, mereka itu kayak kakak adik banget. Ingat Vic Zhou pas main “Mars” bareng mendiang Barbie Hsu? Beuh… mikro-ekspresinya juara banget di sana.

Mikro-ekspresi Chen Xingxu dalam Nie Jiuluo si Pisau Gila (Mad Blade) dalam Love on the Turquoise Land
Mikro-ekspresi Chen Xingxu dalam Nie Jiuluo si Pisau Gila (Mad Blade) dalam Love on the Turquoise Land

Balik lagi ke Chen Xingxu, beberapa mikro-ekspresinya yang aku suka, antara lain dia senyum sopan tapi tidak pernah sampai ke mata. Ada juga tatapan kosongnya yang tiba-tiba berubah dingin. Trus, nada suaranya yang bisa berubah saat dia sedang pura-pura patuh.

Dia berhasil membuat Yan Tuo terlihat seperti karakter yang sedang menghitung langkah, bahkan ketika sedang diam.

Begitu identitas aslinya terbongkar, perubahan karakternya juga terasa natural. Yan Tuo nggak tiba-tiba jadi heroik. Dia tetap jadi Yan Tuo yang sama, hanya saja sekarang dia nggak perlu berpura-pura lagi.

Aku suka banget pilihan Chen Xingxu yang tidak memerankan karakter Yan Tuo sebagai pria super kuat secara fisik. Faktanya, dia sering kalah, sering terluka, sering bergantung pada kecerdikan dan timing. Tapi itulah yang bikin karakternya relevan banget dengan dunia cerita “Love on the Turquoise Land” yang kejam.

Chemistry Dilraba Dilmurat dan Chen Xingxu

Chemistry mereka bukan tipe romantis manis atau playful. Jiuluo dan Yan Tuo membangun chemistry dari rasa saling curiga, kemudian kerja sama dalam situasi hidup serta mati, lalu barulah kepercayaan antara mereka tumbuh perlahan. Hubungan mereka pun terasa dewasa dan solid.

So, nggak ada tuh adegan cinta pada pandangan pertama, gombalan klise, dan overacting romantis. Sebaliknya, mereka lebih sering tatap-tatapan lama tanpa kata, gestur-gestur kecil yang menunjukkan kepercayaan satu sama lain, misalnya adegan saling menyerahkan senjata, berdiri membelakangi satu sama lain ketika berhadapan dengan musuh. So sweet-nya mereka tuh di sana.

Dilraba dan Chen Xingxu punya ritme emosi yang seimbang. Menurutku nggak ada yang si paling mendominasi layar. Saat satu menahan, yang lain mengisi. Saat satu hancur, yang lain diam tapi hadir.

Romansa yang tumbuh perlahan antara Yan Tuo dan Nie Jiuluo
Romansa yang tumbuh perlahan antara Yan Tuo dan Nie Jiuluo

Scene-scene mereka yang paling kuat bukan adegan romantisnya (walaupun aku tahu banyak yang menunggu ini. wkwkwk). Contoh romantis ala Jiuluo dan Yan Tuo itu, antara lain saat Yan Tuo menyadari Jiu Luo siap mati demi misi, saat Jiu Luo melihat Yan Tuo memilih kebenaran meski harus melawan “keluarga”-nya sendiri, dan saat mereka berpisah tanpa janji, tapi saling percaya.

Aku makasih banget sama sutradara yang sudah mempertemukan mereka berdua. Dilireba dan Chen Xingxu adalah contoh casting yang tepat untuk cerita yang tepat.

“Love on the Turquoise Land” Layak Tonton atau Nggak?

“Love on the Turquoise Land” cocok banget kalau kamu suka mystery thriller yang dibalut fantasi, suka female lead kuat, suka romance yang nggak cengeng, suka drama yang punya “dunia” dan mitologi sendiri.

Serial ini kurang cocok kamu lagi nyari romcom ringan, atau kamu tipe penonton yang gampang capek sama plot investigasi dan istilah-istilah berat dalam dunia drama. Apalagi kalau kamu tipe penonton yang nggak tahan sama suasana tontonan yang terlalu “dark,” ini mah nggak cocok banget buat kamu. Kamu bisa capek sendiri nanti.

“Love on the Turquoise Land” mungkin bukan tipe drama yang “ramah” untuk semua penonton. Ini hanya menghargai penonton yang mau sabar, mau memperhatikan detail, dan mau merasakan emosi tumbuh perlahan.

Buatku pribadi, drama ini meninggalkan rasa hampa yang tenang setelah tamat. Bukan karena ceritanya belum selesai, tapi karena ia menutup kisahnya dengan cara yang nggak sempurna, tapi berasa real banget. Ya… memang begitulah seharusnya ending-nya, nggak perlu dipaksakan.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment