Kalau kamu nonton “Love You Seven Times” dengan ekspektasi ini bakal jadi drama china xianxia paling dewasa, dark, dan filosofis secara tema, sepertinya kamu tidak akan menemukannya.
Akan tetapi, kalau kamu nonton serial ini karena siap jatuh cinta tujuh kali dengan orang yang sama, kemudian tertawa, gemas, kesal, dan diam-diam tersentuh dengan tujuh karakter male-lead dan female-lead, kamu pasti akan mendapatkannya.
Meski terlihat manis, ceritanya relatif ringan dibanding seri-seri xianxia lainnya, “Love You Seven Times” sebetulnya drama china yang sangat mengiris hati, menurut pendapatku ya. Premisnya, tentang bagaimana dua jiwa bisa terus saling menemukan, bahkan ketika mereka sendiri “lupa ingatan” tentang siapa diri mereka sebenarnya di setiap fase reinkarnasi.
Sebetulnya, aku udah pernah menulis review ini sebelumnya. Tapi karena blog ini baru saja berganti web hosting tahun 2025 kemarin, cukup banyak tulisanku tentang ulasan drama china yang hilang, sehingga aku harus posting ulang.
Selamat membaca ya, teman-teman.
Sinopsis “Love You Seven Times”
“Love You Seven Times” adalah drama fantasi romantis bergenre xianxia yang mengisahkan cinta tak terpisahkan antara dua jiwa yang terikat oleh takdir, kesalahan, dan pengorbanan yang melintasi tujuh kehidupan.
Cerita berpusat pada Xiang Yun (diperankan Yang Chaoyue), seorang peri muda yang dulunya hanyalah awan biasa. Ia diubah menjadi peri oleh Red Thread Master, dewa yang bertanggung jawab atas jodoh dan benang merah takdir, dan kemudian bekerja di Paviliun Pernikahan, sebuah tempat di Kerajaan Langit di mana takdir cinta para makhluk hidup ditentukan.
Xiang Yun dikenal ceroboh, polos, dan sering bertindak tanpa berpikir panjang, tetapi hatinya tulus dan penuh empati. Sementara itu, Chu Kong adalah Dewa Perang Kerajaan Langit, sosok kuat, dingin, jujur, dan sangat berpegang pada prinsip. Ia ditugaskan melindungi alam surgawi dari ancaman, termasuk serangan Klan Mouluo.
Berbeda dengan Xiang Yun yang ceria dan spontan, Chu Kong adalah pribadi yang serius dan kaku, terutama dalam urusan emosi dan cinta.
Takdir mempertemukan mereka ketika Xiang Yun secara sukarela membantu gurunya mencarikan pasangan bagi Chu Kong. Namun, karena kesalahpahaman dan keluguannya, Xiang Yun justru terlibat dalam sebuah insiden besar.
Ia tanpa sengaja melelang pernikahan Chu Kong. Insiden ini memicu pertengkaran hebat di antara mereka, dan dalam kekacauan tersebut, benang merah takdir mereka rusak.
Akibat kesalahan itu, Xiang Yun dan Chu Kong harus menerima hukuman dari Surga, di mana mereka terikat dalam tujuh kehidupan reinkarnasi sebagai pasangan. Nah, pada setiap kehidupan reinkarnasi mereka itu, pasti selalu berakhir dengan tragedi.
Pada setiap reinkarnasi, mereka terlahir kembali sebagai makhluk berbeda, mulai dari hewan, manusia biasa, iblis, hingga bangsawan. Endingnya akan selalu ditarik satu sama lain oleh perasaan yang sama, meski tanpa ingatan akan kehidupan sebelumnya.
Seiring berjalannya waktu, cinta di antara mereka tumbuh semakin kuat. Chu Kong, yang awalnya kaku dan tertutup, perlahan belajar memahami emosi dan arti pengorbanan.
Xiang Yun pun tumbuh dari peri ceroboh menjadi sosok yang berani menghadapi takdirnya sendiri. Namun, setiap kebahagiaan yang mereka rasakan selalu dibayangi oleh perpisahan dan kematian yang tak terhindarkan.

Di balik tujuh kehidupan tersebut, perlahan terungkap sebuah masa lalu yang jauh lebih tua. Takdir Xiang Yun dan Chu Kong sebenarnya sudah terikat jauh sebelum itu, 30.000 tahun lalu, dalam kenangan yang bahkan tidak mereka ingat lagi. Saat itu, Xiang Yun masih bernama Cang Hai.
Sebuah tragedi besar di masa lalu menjadi akar dari seluruh penderitaan dan hukuman yang mereka alami, serta alasan mengapa Chu Kong kehilangan ingatan penting tentang dirinya sendiri.
Saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Xiang Yun dan Chu Kong harus menghadapi pilihan terbesar dalam hidup mereka. Apakah mereka akan terus tunduk pada takdir, atau berani melawannya demi cinta yang telah teruji oleh waktu dan reinkarnasi?
Review Love You Seven Times
Oke, sekarang aku bakal bahas review “Love You Seven Times” dari sejumlah aspek, terutama karakter dan cerita.
Reinkarnasi Tujuh Kehidupan
Mortal tribulation dalam drama china bergenre xianxia itu adalah fase ketika karakter abadi/dewa harus turun ke dunia manusia, hidup sebagai manusia biasa, merasakan penderitaan manusia (cinta, kehilangan, sakit, pengkhianatan), lalu kembali naik tingkat secara spiritual.
Dalam konsep xianxia ini, untuk naik level jadi dewa sejati, mereka harus melewati ujian. Nah, salah satu ujian terberat ya mortal tribulation ini. Artinya, jika dewa diturunkan ke tubuh manusia, ingatan masa lalu mereka biasanya disegel. Mereka hidup sebagai manusia biasa dan harus bisa merasakan kegagalan cinta, kematian orang terkasih, kemiskinan, pengkhianatan, dan ketidakadilan.
Kalau berhasil dan tidak jatuh ke “dark side” atau dikuasai sifat iblis, ya mereka bisa naik level. Tapi kalau gagal? Mereka bisa mati permanen, jadi iblis, atau kehilangan kemampuan kultivasinya.
Masalahnya adalah… karena mortal tribulation ini sering jadi alat penyiksa karakter utama dalam drama, ini biasanya bikin penonton kayak aku TRAUMA. Hahahaha. Ya kek mana nggak trauma? Lihat Xiang Yun dan Chu Kong di “Love You Seven Times” ini misalnya, mereka awalnya jatuh cinta, tiba-tiba dipaksa membunuh orang yang dicintai, mati tragis, menderita lagi, dikhianati lagi, dan kemudian DIULANG LAGI DARI AWAL.

Ini ujian spritual apa lomba menumpuk trauma sih?
Mortal tribulation ini juga nggak mengubah apa-apa. Soalnya, setelah Xiang Yun dan Chu Kong balik lagi ke alam dewa, ya… karakter mereka masih sama, konfliknya masih sama, kepribadiannya masih sama.
Yang berubah cuma… jumlah episode sama jumlah air mata penonton yang makin banyak. Wkwkwkwk. Jadinya kan kita mikir, ngapain nonton tujuh episode mereka di alam manusia kalau efeknya nihil?
Oke, kita balik lagi ke “Love You Seven Times” ini. Setiap kehidupan Xiang Yun dan Chu Kong punya tema, warna, dan dinamika sendiri. Pokoknya ujung-ujungnya itu adalah potongan puzzle dari sebuah cerita besar.
Reinkarnasi-reinkarnasi Xiang Yun dan Chu Kong dalam “Love You Seven Times” bekerja secara paralel. Mulai dari awal banget mereka jadi hewan. Ini part yang kocak meski absurd banget, tapi surprisingly efektif secara emosi. Voice acting-nya bagus, timing komedinya pas, dan ini jadi pembuka yang bikin aku sebagai penonton ngerasa, “Oh, oke, xianxia satu ini gak mau terlalu serius dulu.”
Reinkarnasi berikutnya yang aku suka dari Xiang Yun dan Chu Kong adalah ketika mereka ada dalam kehidupan iblis. Ini sih “arc” terbaik mereka menurutku. Pas Chu Kong jadi siluman kucing putih. Ya ampun, imut banget.

Ding Yuxi bisa ya.. secerdas itu mengubah gestur, tatapan, bahkan ritme bicaranya untuk karakter siluman kucing ini. Jadi, bukan cuma kostumnya doang yang beda, tapi sampai ke detail karakternya dia bisa bikin beda.
Next, saat mereka ada dalam reinkarnasi sekte yang mempersatukan tiga karakter yang di dunia langit sebetulnya adalah musuh, tetapi di bumi mereka malah jadi sahabat. Luar biasa.

Kehidupan Chang Hai yang mengajak kita flashback ke 30.000 tahun lalu juga tidak boleh di-skip, sebab ini adalah akar dari segalanya. Mungkin ini part paling menyakitkan secara emosional, tapi bagaimana pun, penonton tidak boleh melewatkan bagian ini.

Reinkarnasi Xiang Yun jadi putri perdana menteri dan putri jenderal, menurutku biasa aja. Bobot emosionalnya di sini agak kurang sih menurutku, mungkin karena banyak yang dipotong ya… kira-kira begitu yang aku baca sedikit di forum penggemar.
Ding Yuxi sebagai Chu Kong
Ding Yuxi adalah alasan utama kenapa drama ini bekerja. Aku bukan tipe yang otomatis memuja aktor karena visual. Yang aku lihat adalah range, kontrol emosi, dan konsistensi karakternya.
Dan harus aku akui… Ding Yuxi memberikan itu semua. Keren!!!
Chu Kong adalah karakter yang bisa dengan mudah jatuh ke kategori “dingin dan membosankan.” Tapi Ding Yuxi membuatnya jujur, lugas, dan penuh kehangatan tersembunyi.
Yang paling aku suka dari Chu Kong versi drama ini adalah pertama, dia jujur sama perasaannya. Kebanyakan karakter xianxia kan sifatnya tu “aku menyembunyikan kebenaran demi melindungimu.” Tapi Ding Yuxi nggak sama sekali. Menurutku ini fresh banget.
Kedua, setiap inkarnasi dia tuh beda-beda. Bukan cuma beda kostum aja, Ding Yuxi begitu apik bikin beda segala aspek. Cara berdirinya, cara dia melihat Xiang Yun, cara dia menahan emosinya. Pokoknya semuanya bisa berubah.
Ketiga, ekspresi mikro Ding Yuxi di “Love You Seven Times” ini sukses. Banyak adegan di mana dialognya minimal, tapi emosinya penuh. Itu cukup modal tatapan matanya doang. Duh, Yuxi, keren.

Yang Chaoyue sebagai Xiang Yun/ Chang Hai
Aku paham kenapa Yang Chaoyue sering jadi sasaran kritik. Di awal drama, dia memang terasa kaku, terutama di bagian yang membutuhkan emosi berat.
Akan tetapi, seiring bertambahnya episode, dia menunjukkan perbaikan karakter. Paruh kedua drama menunjukkan perkembangan nyata karakter dan kualitas aktingnya.
Cang Hai adalah versi terbaik Yang Chaoyue di drama ini. Dia berani, dia blak-blakan, sedikit shameless, tapi juga sangat ber-power.
Padahal kita bisa jawablah, apakah Yang Chaoyue aktris top-tier? Kurasa belum (mohon maaf buat penggemar Yang Chaoyue, ini hanya sudut pandangku saja).
Lalu, apakah Yang Chaoyue cukup untuk peran utama di “Love You Seven Times” ini? Menurutku IYA.
Dan chemistry-nya dengan Ding Yuxi? I like it. Natural, nggak dibuat-buat.
Produksi Mahal
Satu hal yang tidak bisa diperdebatkan dari “Love You Seven Times” adalah produksinya yang mahal dan niat banget.
Pertama, CGI-nya keren banget, terutama yang berlatar Kerajaan Langit. Kedua, kostumnya sangat detail. Bahkan, aku lihat mahkota-makotanya aja seperti hasil cetak 3D yang apik banget.
Ketiga, musiknya. Duh, pilihan-pilihan lagu dan musiknya jadi senjata emosional banget sepanjang “Love You Seven Times” berlangsung. Sukses mengangkat suasana hati penonton.
Satu-satunya kelemahan teknis yang cukup terasa adalah sound design. Beberapa momen kehilangan efek suara yang seharusnya memperkuat adegan para karakter di sini.

Happy Ending
Akhirnya sampai juga di akhir ulasanku. Bagaimana endingnya?
Ending “Love You Seven Times” harus diakui bukan yang paling memuaskan secara durasi yaaa, tapi secara emosional menurutku cukup jelas.
Chu Kong kembali. Tatapannya mengingat pasangannya. Gerakannya, menghapus air mata Xiang Yun, itu buat aku bicara lebih banyak ketimbang ada dialog.
Ini happy ending, meskipun singkat. Dan di dunia xianxia yang gemar menyiksa penonton, ending kayak gini tuh patut diapresiasi loh.
“Love You Seven Times” sungguh perjalanan romantis yang mengajarkan kita bahwa cinta sejati itu selain bergantung takdir, juga bergantung sama keberanian untuk memilih satu sama lain, lagi dan lagi.

Leave a Comment