Review How Dare You
Review How Dare You

Dear pembaca setiaku dan sesama pejuang “In Cheng Lei we trust.” Aku kali ini mau nulis soal drama yang lagi bikin aku susah move on tiap hari, HOW DARE YOU.

Sumpah ya, ini salah satu fantasi historical drama paling satisfying buat stress relief di awal 2026 ini. Kalau hidup lagi chaos, kerjaan numpuk, mantan tiba-tiba muncul di IG story, atau apa ajalah, tonton ini.

“How Dare You” itu paket lengkap. Transmigrasi, politik istana, fake identity, slow-burn romance, komedi absurd, sampai plot twist seru, gila banget pokoknya.

Dan sebagai penggemar akut Cheng Lei, ya ampun, tiap lihat dia angkat alis aja, aku bawaannya udah mau bikin tiga paragraf analisis. So, drama ini tuh kayak hadiah dari surga. Wang Churan juga cantik banget di sini, elegan tapi kocak. Chemistry mereka? Jangan ditanya. Udah kayak api dalam sekam.

Oke kita bahas ya, meski serialnya sendiri belum tamat di iQiyi.

Sinopsis How Dare You

Tokoh utama kita adalah Wang Cuihua (diperankan Wang Churan), seorang karyawan kantoran level rookie yang hidupnya… ya begitulah. Ditekan atasan, kerja lembur, ulang tahun pun masih disuruh bikin laporan. Dia diberi waktu SATU HARI untuk menyusun rencana adaptasi dan evaluasi sebuah web novel klise berjudul “Transmigrated: The Devil’s Beloved Consort.”

Dan sebagai pembaca waras, Cuihua kesel dong. Plot ceritanya kok nggak masuk akal. Karakter villain terlalu jahat, male lead terlalu manipulatif, heroine terlalu polos. Tapi karena deadline is deadline, dia tetap lembur sampai malam ulang tahunnya.

Seorang rekan kerja bercanda, “Make a wish dong.” Cuihua, dengan nada sarkastik, berharap bisa masuk ke dalam novel itu dan menanyai langsung para karakter kenapa mereka bertingkah seabsurd itu.

Dan… boom.

Wang Churan sebagai Yu Wanyin, Selir Agung Yu
Wang Churan sebagai Yu Wanyin, Selir Agung Yu

Dia bangun sebagai Yu Wanyin, selir di istana Kerajaan Xia. Bukan cuma pakai hanfu mahal dan dikelilingi pelayan, tapi benar-benar terjebak di dunia yang semalam dia maki-maki habis-habisan. 

Dan yang lebih bikin syok? Dia bukannya jadi tokoh utama perempuan yang disayang semua orang. Dia adalah karakter yang di novel aslinya sering jadi pion politik, kadang terlihat antagonis, kadang cuma korban keadaan.

Cuihua sekarang berubah menjadi Yu Wanyin. Dia langsung sadar satu hal, ini bukan mimpi lucu-lucuan. Ini dunia yang kalau salah langkah sedikit saja, bisa mati. Dia benar-benar masuk ke dalam cerita novel itu sendiri.

Istana Kerajaan Xia tidak seindah set drama di dunia nyata. Di balik tirai sutra dan taman bunganya, semua orang punya agenda. Setiap senyum bisa berarti jebakan. Setiap undangan makan bisa berarti racun.

Belum sempat mencerna situasi, Yu Wanyin sudah harus menghadapi pusat dari semua kekacauan dalam novel itu, yaitu Kaisar Xiahou Dan (diperankan Cheng Lei).

Xiahou Dan, kaisar tiran sekaligus kaisar kesepian
Xiahou Dan, kaisar tiran sekaligus kaisar kesepian

Xiahou Dan muncul pertama kali dengan aura yang… aneh. Dalam novel yang dibaca Cuihua, kaisar ini digambarkan manipulatif, dingin, dan menjadikan Yu Wanyin sebagai umpan untuk melawan Ibu Suri dan Raja Duan/ Xiahou Bo (diperankan Tang Xiaotian). Tapi… kenapa pria yang menjadi kaisar di hadapannya sekarang terlihat berbeda?

Di depan para pejabat dan keluarga kekaisaran, Xiahou Dan tampak seperti kaisar muda yang emosional, gampang tersinggung, bahkan terkesan belum matang. Ia menunduk hormat pada Ibu Suri, meminta maaf atas “temperamennya” dan terlihat seperti penguasa yang belum sepenuhnya memegang kendali.

Melihat gaya bicara Kaisar Dan yang tidak seperti manusia sejarah lampau, di situlah insting modern Cuihua mulai bekerja. Ia percaya sang kaisar tidak sesederhana yang terlihat.

Untuk memastikan, ia melontarkan sapaan sederhana dalam bahasa Inggris, “How are you?”

Ketika Xiahou Dan tanpa ragu menjawab, “Fine, thank you, and you?” dunia Wanyin berhenti seketika.

Mereka sama-sama menyadari bahwa mereka adalah transmigran, manusia biasa yang masuk ke dalam dunia novel. Keduanya pun memutuskan menjadi sekutu.

Mencari Sekutu

Sebagai pendatang baru di dunia ini, Yu Wanyin dan Xiahou Dan mencoba mencari sekutu. Ia ingat di novel ada satu karakter penting bernama Xie Yong’er (diperankan Hu Yixuan), selir yang nasibnya juga rumit. Maka Yu Wanyin memberanikan diri mengunjungi Istana Kunyu.

Yang tidak Wanyin sangka, Xie Yong’er juga seorang transmigran. Namun bukannya saling berpelukan bahagia, pertemuan mereka justru penuh curiga. Dalam versi novel asli, Yu Wanyin pernah mendorong Xie Yong’er ke kolam. Yong’er masih mengingat plot itu dan memandang Wanyin dengan waspada.

Wanyin mencoba berbicara sebagai sesama perempuan modern yang terjebak di dunia patriarki kuno. Tapi Yong’er tetap menjaga jarak. 

Puncaknya, Wanyin dan Xiahou Dan menguji keterampilan seluruh selir. Dari sanalah mereka mengetahui bahwa Yong’er benar-benar seorang transmigran yang sudah tergila-gila sama Raja Duan, musuh sang kaisar di Istana Xia.

Melihat reaksinya, Wanyin dan Xiahou Dan menyimpulkan bahwa menjadi transmigran bukan berarti otomatis jadi sekutu. Xie Yong’er bukanlah orang yang tepat untuk mereka ajak bersatu menyelesaikan cerita ini dengan akhir yang baik.

Xie Yong’er (diperankan Hu Yixuan)
Xie Yong’er (diperankan Hu Yixuan)

Kebakaran Perpustakaan

Konflik pertama yang benar-benar mengguncang dua karakter utama kita adalah kebakaran perpustakaan yang disengaja oleh Raja Duan yang sejak awal ingin menggulirkan tahta Xiahou Dan. Api membakar rak-rak buku, asap memenuhi ruangan, dan Wanyin terjebak di lantai atas. 

Dalam kepanikan, ia memilih melompat ke kolam di bawah demi menyelamatkan diri. Tubuhnya menghantam air keras, membuatnya terluka dan demam tinggi.

Raja Duan/ Xiahou Bo (diperankan Tang Xiaotian)
Raja Duan/ Xiahou Bo (diperankan Tang Xiaotian)

Dalam kondisi setengah sadar, Wanyin teringat pesan Xiahou Dan, untuk tetap hidup dan jangan percaya siapa pun.

Nyaris saja menjadi korban Raja Duan, Xiahou Dan berjanji kelak tidak akan pernah meninggalkan Wanyin sedetik pun. Ia memerintahkan tabib mengobatinya, menunggu di sisi tempat tidurnya, dan untuk pertama kalinya memperlihatkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan melihat penderitaan Wanyin.

Xiahou Dan berjanji tidak akan membiarkan siapa pun melukai Wanyin selama dia menjadi kaisar. Dari situ, hubungan mereka berubah sedikit demi sedikit.

Yu Wanyin setelah kebakaran perpustakaan
Yu Wanyin setelah kebakaran perpustakaan

Bertemu Paman Bei

Ancaman terhadap Kaisar semakin nyata. Raja Duan terus berupaya membunuh Xiahou Dan. Dalam satu penyergapan mendadak, seorang pemilik kedai minum yang tampak biasa saja bergerak dengan kecepatan mencengangkan dan menyelamatkan Xiahou Dan serta Yu Wanyin dari pembunuh.

Belakangan terungkap bahwa ia adalah Bei Zhou, ahli penyamaran yang selama bertahun-tahun hidup sebagai perempuan untuk menyembunyikan identitasnya. Ia menguasai teknik perubahan tulang dan seni menyamar tingkat tinggi.

Keberadaan Bei Zhou membuka lapisan baru dalam permainan ini. Xiahou Dan ternyata telah membangun jaringan perlindungan jauh sebelum Yu Wanyin datang ke dunia novel ini.

Ibu Suri, ibu kandung Xiahou Dan
Ibu Suri, ibu kandung Xiahou Dan

Di tengah semua itu, badai politik menghantam keluarga Yu. Beberapa pejabat, dipengaruhi Ibu Suri, mulai mengajukan memorial untuk menjatuhkan ayah Yu Wanyin, Menteri Yu. 

Tuduhan demi tuduhan muncul, memaksa Wanyin memahami bahwa hidupnya kini tidak hanya untuk mempertahankan posisinya sebagai selir, tapi juga melindungi keluarganya dalam versi cerita.

Paman Bei (tengah) di How Dare You
Paman Bei (tengah) di How Dare You

Korupsi dan Politik Istana

Tak lama kemudian, Xiahou Dan menemukan kenyataan pahit, kas negara Kerajaan Xia kosong. Ia memanggil Menteri Keuangan baru, Chen Danian, dan mempertanyakan ke mana perginya upeti yang telah diberikan rakyat untuk kerajaan mereka. 

Pertemuan itu tegang. Chen Danian mencoba mengalihkan kesalahan ke pejabat sebelumnya, tapi jelas ada sesuatu yang lebih dalam, yaitu korupsi yang sudah mengakar lama di Kerajaan Xia.

Dunia yang Cuihua anggap “novel klise” ternyata penuh lubang gelap yang nyata. Di sela intrik besar, ada momen-momen kecil yang hampir terasa konyol.

Seperti ketika Yu Wanyin mencoba membuat Xie Yong’er mabuk demi mengorek informasi tentang para sarjana yang terlibat konspirasi. Rencananya terdengar cerdas di kepala… sampai akhirnya ia sendiri yang terlalu banyak minum.

Alih-alih mendapatkan rahasia, Wanyin malah membocorkan kegelisahan dan strategi bertahan hidupnya sendiri kepada Xiahou Dan.

Keesokan paginya ia bangun dengan kepala berdenyut dan rasa malu yang luar biasa lantaran baru saja mengungkapkan perasaan sesungguhnya pada Xiahou Dan dalam kondisi tidak sadar.

Tragedi Gunung Bei

Ketegangan memuncak ketika delegasi Negara Yan datang menghadiri perayaan ulang tahun Ibu Suri. Di balik pesta mewah, perdebatan tentang perdamaian dan pergerakan pasukan berlangsung sengit.

Hubungan antara Negara Xia dan Negara Yan ternyata rumit. Ibu Suri pernah menjebak Xiahou Dan agar tidur dengan selir utusan Yan bernama Shanyi. Dari hubungan itu lahirlah Putra Mahkota. Namun bagi Xiahou Dan, anak itu hanyalah alat politik Ibu Suri, bukan hasil pilihan pribadinya.

Shanyi sendiri sejatinya adalah kekasih Pangeran Tu’er dari Negara Yan. Sejak kejadian itu, Tu’er bersumpah membunuh Xiahou Dan.

Raja Duan memanfaatkan situasi ini dan merancang rencana pembunuhan di Gunung Bei, menggunakan kunjungan Kaisar ke makam kekaisaran sebagai jebakan. Sebagian besar pengawal kekaisaran meninggalkan ibu kota untuk mengawal Kaisar.

Di Gunung Bei, pertumpahan darah tak terhindarkan. Paman Bei menghadapi Pangeran Tu’er dalam duel brutal. Yu Wanyin datang membawa bala bantuan dan menemukan Xiahou Dan terluka parah.

Ia memeluknya erat, memastikan sang kaisar masih hidup. Di tengah kekacauan itu, mereka berbagi ciuman pertama. Momen itu menegaskan bahwa di balik semua strategi dan konspirasi, perasaan mereka tetaplah nyata.

Ciuman pertama Xiahou Dan dan Yu Wanyin di Gunung Bei
Ciuman pertama Xiahou Dan dan Yu Wanyin di Gunung Bei

Namun malam itu belum berakhir. Di ruang bawah tanah makam, Ibu Suri melakukan upaya terakhir untuk membunuh Xiahou Dan. Rencananya digagalkan oleh Paman Bei.

Kebenaran pun terungkap. Selama bertahun-tahun, Xiahou Dan diracuni perlahan oleh ibu kandungnya sendiri.

Karena terlalu sering diracuni, tubuhnya kini kebal terhadap racun umum. Namun efek sampingnya berat, berupa sakit kepala hebat dan emosi yang tak stabil. Dari sinilah reputasinya sebagai Kaisar Tiran bermula.

Dipenuhi amarah dan kekecewaan, Xiahou Dan memerintahkan agar Ibu Suri dipaksa meminum racun yang akan membunuhnya secara perlahan. Sejak malam itu, arah kekuasaan di Istana Xia berubah.

Hingga episode 24, permainan belum benar-benar selesai. Aliansi di Kerajaan Xia bergeser. Musuh lama runtuh, musuh baru muncul. Identitas para transmigran semakin sulit disembunyikan. Ramalan kelam tentang masa depan masih menggantung.

Yu Wanyin yang dulu hanya karyawan stres kini berdiri di tengah pusaran sejarah, berdampingan dengan “raja gila” yang menyimpan rahasia sedalam makam kekaisaran.

Dan kisah mereka… masih terus berjalan.

Bagaimana endingnya kira-kira?
Bagaimana endingnya kira-kira?

Review How Dare You

Kita bahas dulu yang paling gampang, yaitu visual. Sumpah ya, semua frame yang ada di serial “How Dare You” ini benar-benar extra. Kalau kata penonton yang udah baca ceritanya dan nonton anime-nya, APPROVED.

Set-nya dramtis, warnanya kaya, loghting cantik, hanfu-hanfu-nya bagus banget, style rambutnya benar-benar presisi surgawi banget.

Aku suka banget bagaimana drmaa ini ternyata benar menghormati versi anime adaptasinya tanpa terkesan meniru. Vibenya terasa seperti tribute, bukan copy-paste. Ngerti kan maksudku?

“How Dare You” versi live action (long drama) benar-benar punya identitas sendiri. Lebih grounded, lebih emosional, tapi tetap playful.

Visual Cheng Lei dan Wang Churan? Come on, nggak usah tanya aku lagi. They understood the assignment.

Energi utama drama ini tuh bukan tragic royal romance-nya, bukan juga dark political thriller-nya. 

Energinya tuh dari dua manusia modern masuk dunia novel dan secara tidak sengaja bikin kekacauan… sambil diam-diam menyelamatkan negara tersebut. Aku benar-benar having fun banget nontonnya. 

Xiahou Dan dan Yu Wanyin bukan couple yang langsung melodrama gitu. Mereka lebih kayak partner in crime. Kayak besties yang nyengir bareng setelah berhasil memanipulasi situasi satu istana tanpa ketahuan.

Refreshing banget akting mereka tuh. 

Visual Cheng Lei dan Wang Churan di How Dare You
Visual Cheng Lei dan Wang Churan di How Dare You

Transmigrasi Multiverse

Secara premis, “How Dare You” memang cerita tentang transmigrasi. Tapi… yang bedain serial ini dari serial lain yang sejenis, seperti “A Dream Within a Dream,” transmigrasinya itu bukan satu lapis doang. Ada multiverse-nya sendiri.

Pas awal-awal aku nonton, kesannya kayak ringan aja gitu ceritanya. Mereka main-main. Almost parody lah kalau kata aku mah.

Aku pikir, “Oh, ini drama santai, tahu dirinya klise, dan emang sengaja dibikin absurd.” Eh alah, pelan-pelan seiring bertambahnya episde, layering-nya mulai kelihatan.

Aku mulai sadar bahwa “How Dare You” itu bukan cuma cerita dua orang manusia dari dunia modern masuk ke novel hostorical. Ada hint tentang:

“Apakah Xiahao Dan dan Yu Wanyin ini sebenarnya karakter fiksi yang sadar diri?” 

“Apakah mereka ini cerita dalam cerita?”

“Atau apakah mereka dimensi alternatif?”

“Atau apakah mereka narrative inception?”

Nah, “How Dare You” ini main di area itu. Cuma, ceritanya dibikin cukup pintar, nggak bikin sakit kepala. So, aku suka banget ketika cerita yang awalnya terasa ringan ternyata punya kedalaman emosional yang pelan-pelan aku rasain sebagai penonton.

Cheng Lei sebagai Kaisar Dan/ Xiahao Dan

Oke sekarang kita bahas kedua karakter utama. Pertama, Cheng Lei. Kalau kalian sudah pernah nonton dia sebelumnya, kalian pasti tahu paket lengkapnya seorang Cheng Lei.

Tatapan membara matanya, rahang tegangnya, luka batin terpendam dari mimik wajahnya, belum lagi kemampuan silent sacrifice-nya, di mana dia bisa “menderita dalam diam” demi melindungi orang yang dia cinta.

Dalam “How Dare You,” Cheng Lei memerankan seorang kaisar tiran yang magnetis banget. Karakternya intens, terluka, sedikit tidak stabil, tapi tetap bisa bucin dan manusiawi.

Dan ya, dia yang jatuh cinta duluan sama Yu Wanyin. Dia rela jatuh lebih keras demi Wanyin. Ah, pokoknya premium angst subscription tier activated.

Setiap kali dia menatap Yu Wanyin dengan campuran tatapan marah, capek, tapi tetap nggak berkurang kasih sayangnya, nggak bisa dia ucapkan pula, aduh… aku bisa banget mengerti kenapa aku pun bisa ikut-ikutan nggak waras lihat karakternya itu.

Cheng Lei berhasil membuat karakter yang secara konsep bisa jadi toxic atau terlalu dingin… terasa hangat dan bisa dipahami. Itu skill.

Cheng Lei sebagai Kaisar Dan/ Xiahao Dan
Cheng Lei sebagai Kaisar Dan/ Xiahao Dan

Wang Churan sebagai Yu Wanyin

Aku juga harus kasih kredit besar ke Wang Churan. Karakter Yu Wanyin bisa saja jatuh ke trope “FL cerewet yang cuma jadi comic relief.” Tapi dia berhasil bikin Wanyin keren banget di versi live action ini.

Dia cerdas tanpa sok jenius, takut tapi tetap berani, lucu tapi nggak bodoh. Interaksi Wanyin dan  Xiahao Dan terasa natural. Dialognya ngalir banget, ritmenya enak. Perkembangan hubungan mereka benar-benar slow-burn, nggak maksa. 

Romancenya pelan, tapi organik. Kita bisa lihat kenapa mereka saling percaya. Dan itu penting banget untuk drama yang premisnya sudah fantastis begini.

Wang Churan sebagai Yu Wanyin
Wang Churan sebagai Yu Wanyin

Stupid Drama yang Bikin Ketagihan

Jujur ya, aku nggak sekali dua kali baca review yang bilang “How Dare You” itu stupid drama. Banyak banget seliweran komentar kayak gini di Thread.

Awal-awal sih aku ngakak bacain komentar mereka. Aku ngerti sih, perasaan mereka yang bisa dikategorikan “penonton drachin serius” yang mungkin berharap ketemu historical drama yang berat dan politiknya murni, eh malah ketemu komedi.

Ya emang, kalau kamu nonton dengan mindset “aku mau nonton drama serius plus realistis,” kamu sudah bisa dipastikan bakal frustrasi nonton “How Dare You.”

Tapi kalau kamu kayak aku, nonton buat having fun? It works. Dan menurutku menyebutnya “stupid” itu terlalu lebayyy. Lebih tepat mungkin nyebutnya self-aware escapist fantasy.

The Big Question: Kenapa Nggak Balik ke Dunia Modern?

Mungkin sebagian dari kamu bertanya, pertanyaan yang valid banget nih.

Kalau Xiahou Dan dan Yu Wanyin ini sudah tahu mereka berada di dunia novel, kenapa nggak cari cara buat keluar aja dari dunia cerita itu? Kenapa nggak balik ke dunia nyata aja dan pacaran aja di sana? Kenapa repot-repot menghabiskan energi membenahi politik di dunia fiksi?

Aku pun sempat mikir kayak gitu pas awal-awal. Tapi lama-lama aku mulai melihatnya begini.

Bagi Xiahou Dan dan Yu Wanyin, dunia ini mungkin awalnya fiksi. Tapi semakin jauh mereka melangkah, semakin nyata konsekuensinya.

Orang-orang di sekeliling mereka bukan lagi karakter dua dimensi. Mereka hidup, punya perasaan, dan mereka bisa mati.

Baik-baik kalian sampai akhir, semoga happy ending
Baik-baik kalian sampai akhir, semoga happy ending

Ketika kamu sudah menyelamatkan orang, memimpin negara, mencintai seseorang dalam dunia itu… apakah itu masih bisa dianggap tidak nyata? Jawab deh kalau kamu jadi mereka.

So far, “How Dare You” ini mungkin ceritanya nggak akan memuaskan semua orang. Tapi sebagai paket hiburan? Solid banget. 

“How Dare You” mungkin bukan masterpiece, tapi genre transmigration ini memang escapist fantasy sih menurutku. Selama kita masuk dengan ekspektasi yang tepat, pengalaman menontonnya menyenangkan. 

Aku genuinely enjoying the ride. “How Dare You” sukses bikin aku senyum, ketawa, sesekali nahan napas sampai mau pingsan lihat tatapan Cheng Lei, plus bengek kalo udah lihat tingkah mereka berdua. Kita lihat aja finalnya nanti ya.

Cheers,

Dan buat kamu yang masih single lagi baca ulasanku ini, semoga kamu bisa menemukan seseorang yang menatap kalian seperti Cheng Lei menatap Yu Wanyin. Eaaaa….

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment