Konsep tiga alam dalam drama china genre xianxia
Konsep tiga alam dalam drama china genre xianxia

Kalau kamu pecinta drama China genre xianxia, pasti ada satu pola yang lama-lama terasa familiar. Entah ceritanya tentang cinta lintas kehidupan, dewa dingin yang jatuh cinta sama manusia biasa, atau perang besar yang taruhannya kehancuran dunia, ujung-ujungnya kita akan ketemu tiga alam.

Kadang tiga alam ini memang disebut terang-terangan. Kadang cuma disinggung doang. Kadang malah baru muncul setelah belasan episode tayang. Dan… ketiga alam itu adalah mortal realm (alam manusia), spiritual realm (alam roh/ spirit), dan immortal realm (alam dewa/ langit).

Hampir semua konflik besar di xianxia itu lahir dari gesekan antar-alam ini. Bukan cuma soal perang antaralam doang, tapi juga soal cinta, pilihan hidup, pengorbanan, dan harga yang harus dibayar karena “berbeda level eksistensi” karakter-karakter di ketiga alam tadi.

Next, kita bahas satu-satu ya.

1. Mortal Realm (Alam Manusia)

Kita mulai dari yang paling dekat dengan kita bernama mortal realm. Ini dunia kita, dunia manusia. Tempat kita lahir, tumbuh, jatuh cinta, kecewa, sakit, menua, lalu mati. Nah, dalam drama xianxia, mortal realm sering kali dipandang rendah oleh para immortal. 

Mortal realm dalam drama xianxia hampir selalu dipakai sebagai: tempat mortal tribulation (ujian hidup bagi dewa/ immortal), titik awal cinta terlarang, ruang pembelajaran emosi untuk makhluk abadi, dan latar tragedi yang membentuk karakter.

Contohnya, di serial “Ashes of Love,” Jin Mi hidup sebagai makhluk setengah immortal tapi dibesarkan dengan emosi yang disegel. Saat ia turun ke dunia manusia dan merasakan kehilangan, cemburu, dan cinta, di situlah segalanya mulai berubah.

Pada “Love Between Fairy and Devil,” kehidupan mortal jadi ruang di mana Dongfang Qingcang, yang selama ribuan tahun dingin dan kejam, mulai retak.

Mortal realm punya karakteristik yang sangat jelas. Di alam ini, umur pendek, manusia bisa mati kapan saja. Karena penyakit, perang, atau takdir yang kejam.

Alam ini tidak punya kekuatan spiritual, kecuali kultivator alias manusia biasa yang mempelajari kekuatan dewa. Di sini, manusia ya hidup di bawah takdir manusia. Mereka harus berhadapan dengan ujian kemiskinan, hierarki sosial, intrik keluarga, peperangan, wabah.

Mortal realm juga dipenuhi emosi mentah manusia. Makanya, cinta di alam ini tuh cenderung cepat, dalam, dan seringnya nekat. Akan tetapi, justru karena waktunya terbatas, cinta di mortal realm terasa sangat kuat.

Manusia mencintai seolah hari ini adalah hari terakhir. Dan itu yang bikin para immortal, yang hidup ribuan tahun, sering kali kalah telak saat bersentuhan dengan emosi manusia.

2. Spiritual Realm (Alam Roh)

Kalau mortal realm itu dunia yang perasaan, spiritual realm adalah dunia penuh tanggung jawab. Ini alam transisi. Penghuni spiritual realm bukan manusia biasa, tapi juga belum sepenuhnya dewa.

Mereka bisa berupa spirit, siluman, phoenix, naga, klan roh, jenderal perang spiritual, makhluk kuno penjaga alam. Dalam kebanyakan drama xianxia modern, spiritual realm justru menjadi alam paling sibuk.

Kenapa? Karena alam ini merupakan garis pertahanan pertama melawan kejahatan kuno. Ini adalah alam dengan sistem militer dan politik, tempat konflik kepentingan klan terjadi, juga medan ujian kesetiaan dan pengorbanan.

Contoh paling segar tentu saja “The Legend of Shen Li” yang diperankan Zhao Liying. Shen Li bukan manusia. Ia juga bukan dewi langit. Ia adalah jenderal dari spiritual realm yang hidupnya bergantung pada perintah atasan, keamanan alam, kewajiban terhadap rakyat dan klannya.

Beberapa ciri khas spiritual realm adalah penghuninya berumur panjang, tapi masih bisa mati. Mereka tidak rapuh seperti manusia, tapi juga tidak abadi seperti dewa immortal.

Punya kekuatan spiritual dan senjata magis. Oleh sebab itu, alam ini penuh dengan pertempuran-pertempuran epik. Sebab hidup mereka berdasarkan tugas dan klan, kepentingan pribadi sering harus disingkirkan.

Emosi makhluk-makhluk di dunia spiritual realm masih ada, tapi dikekang. Mereka boleh mencintai asal tidak mengganggu tugas. Jadi, cinta sering kalah oleh “kewajiban.”

Makanya banyak karakter dari alam ini tampak tegas, dingin, dan serius. Bukan karena mereka tidak bisa mencintai, tapi karena mereka tahu harga dari pilihan pribadi bisa sangat mahal.

3. Immortal Realm (Alam Dewa)

Nah, kita sampai ke alam puncak, immortal realm. Inilah tempat para dewa, immortal, dan ancient gods tinggal. Tempatnya indah, megah, tenang, tapi… dingin. Immortal realm bukan cuma berisi kekuatan abadi, tapi juga hukum kosmik.

Immortal Realm biasanya berperan sebagai penjaga keseimbangan semesta, pengambil keputusan besar, sumber konflik karena aturan yang kaku, dan penghalang cinta lintas alam.

Di “Ten Miles of Peach Blossoms” misalnya, immortal realm jelas banget memperlihatkan bagaimana cinta bisa menjadi urusan politik kosmik. Pernikahan dilakukan tidak berdasarkan pilihan hati, melainkan mana yang paling bagus untuk stabilitas tiga alam. 

Ciri khas immortal realm antara lain hampir abadi. Makhluk-makhluk di dalamnya sulit mati, bahkan saat terluka parah. Kekuatannya luar biasa. Mereka bisa mencipta, menghancurkan, atau mengubah takdir.

Emosi harus dikontrol. Cinta, cemburu, amarah dianggap gangguan.

Mereka yang tinggal di alam dewa ini terikat hukum langit. Jika hukum langit dilanggar, ada konsekuensi kosmik di sana. Inilah kenapa di immortal realm, cinta itu bukan dosa, tapi bisa saja jadi bencana. Karena satu keputusan emosional dari seorang dewa bisa menghancurkan banyak alam.

Itulah kenapa banyak tokoh immortal terlihat dingin. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka tidak punya kemewahan untuk ceroboh secara emosional.

Lalu, Kenapa Tiga Alam Ini Sering Berkonflik?

Pola klasik xianxia itu adalah cinta dimulai di mortal realm, kemudian diuji di spiritual realm, kemudian dilarang dan dikorbankan di immortal realm. Makanya konflik xianxia terasa begitu besar karena yang dipertaruhkan bukan cuma dua hati, tapi struktur semesta.

Apakah perasaan pribadi lebih penting daripada keseimbangan semesta? Jawabannya ya… tergantung.

Pertama, tergantung apakah kamu adalah manusia, spirit, atau dewa. Kedua, tergantung apakah kamu hidup sehari, seratus tahun, atau ribuan tahun. Ketiga, tergantung apakah kamu mencintai sebagai individu, atau bertanggung jawab sebagai penjaga dunia. Silakan pilih!

Itulah kenapa penonton genre xianxia sering kali terbelah. Ada yang membela cinta. Ada yang membela tugas. Ada yang nangis karena dua-duanya benar. Kalau kamu sudah nonton cukup banyak drama xianxia, pasti ada momen kamu mikir:

“Kenapa sih tokoh immortal kok dingin banget? Nggak ada senyumnya.”

“Kok cinta manusia rasanya lebih tulus, lebih nyesek, lebih berani?”

“Kenapa female lead-nya kuat, hebat, disegani… tapi hidupnya sepi?”

Ini bukan kebetulan. Ini pola tematik yang disengaja dalam xianxia. Semuanya balik lagi ke perbedaan alam tempat mereka berdiri.

Tokoh immortal tidak hidup untuk dirinya sendiri. Mereka tidak punya kemewahan untuk lemah. Seorang immortal, seperti Dewa Xing Yun di The Legend of Shen Li, dia bertugas menjaga keseimbangan alam, menahan kehancuran dunia, menegakkan hukum langit, memikirkan akibat ribuan tahun ke depan.

Satu keputusan emosional bisa berdampak ke runtuhnya satu klan, hancurnya satu alam, atau lahirnya bencana besar. Makanya, emosi bukan hal personal bagi immortal. Emosi adalah potensi risiko.

Mereka terlihat dingin lantaran mereka dipaksa untuk menekan rasa suka, mengubur rasa sedih, menunda kebahagiaan pribadi, menempatkan “keseimbangan” di atas segalanya.

Coba lihat karakter seperti Bai Zihua (Journey of Flower), Ye Hua (Ten Miles of Peach Blossoms), dan Xu Feng versi immortal (Ashes of Love). Mereka bukan tidak punya perasaan. Mereka terlalu sadar akan konsekuensi dari perasaan itu.

Sekarang kita pindah ke sisi sebaliknya. Kenapa cinta di mortal realm selalu terasa lebih tulus, lebi membekas, tapi juga lebih menyakitkan?

Jawabannya karena manusia hidup dengan kesadaran akan akhir. Manusia tahu, mereka bisa mati besok, mereka bisa kehilangan segalanya dalam sekejap, tidak ada “nanti ribuan tahun lagi.”

Itulah kenapa cinta manusia sering digambarkan seperti api yang cepat menyala, terang, tapi bisa habis kapan saja. Kalau bagi immortal, cinta bisa ditunda. Namun, bagi manusia, cinta itu sekarang atau tidak sama sekali.

Cinta manusia terasa lebih kuat karena dipertaruhkan dengan hidup yang singkat. Makanya di banyak drama China, immortal jatuh cinta justru setelah hidup sebagai manusia, atau setelah kehilangan cinta manusianya. Karena baru saat itu mereka benar-benar “merasakan” perasaan itu.

Siapa yang suka baper abis tiap nonton drama xianxia? Mungkin karena kita manusia, jadi kita sering memosisikan diri di posisi karakter-karakter ini. Akibatnya, kita sering diberikan akhir OPEN ENDING. 

Karena dunia xianxia tidak pernah memberi jawaban hitam atau putih. Kadang cinta yang menang. Kadang dunia langit yang menang. Kadang malah dua-duanya hancur. That’s why kita ketagihan pengen terus nonton, terus nangis, dan terus jatuh cinta lagi pada genre yang sama. Hehehe.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment