Alasan pertama aku nonton “The Ingenious One”? Tentu saja karena male-lead-nya Chen Xiao. Hehehe. Aku termasuk tim yang agak telat jatuh cinta sama aktingnya. Baru benar-benar “ngeh” sejak dia main di “A Dream of Splendor” bareng Liu Yifei.
Tapi begitu kena pesona Chen Xiao… ya sudah, susah balik. Aku malah balik mundur, nonton ulang hampir semua drama China yang pernah dia bintangi. Sesuka itu aku sama akting dia.
Secara visual, mungkin ada banyak aktor yang lebih muda, lebih tinggi, atau lebih memenuhi standar gagah dibanding Chen Xiao. Tapi… Chen Xiao bukan tipe yang langsung bikin kamu suka sama dia karena tampangnya. Dia punya sesuatu yang lebih susah dijelasin, yaitu karisma yang tenang dan senyum yang manis banget.
Chen Xiao ini tipe aktor yang bikin kamu betah nonton meski dia cuma duduk, diam, dan ngomong pelan. Kalau kamu masih ragu, serius deh, coba tonton “A Dream of Splendor” dan rasakan sendiri.
“The Ingenious One” adalah salah satu serial Chen Xiao yang aku suka. Bukan cuma soal ceritanya, tapi juga soal karakternya yang licin, abu-abu, dan jauh dari template hero wuxia pada umumnya. Jadi ya… mari kita ulas soal “The Ingenious One” yang tayang pada 2023 ini.
Sinopsis The Ingenious One
Kalau harus dirangkum dalam satu kalimat, “The Ingenious One” adalah drama China tentang kisah balas dendam yang dijalani bukan dengan pedang, tapi dengan otak.
Yunxiang (diperankan Chen Xiao) adalah murid Aliran Yuntai yang turun gunung setelah 15 tahun mengasingkan diri. Tujuannya satu, mencari kebenaran dan membalas tragedi pembantaian keluarganya di Desa Luo.
Beda dengan tokoh wuxia lainnya, Yunxiang ini tidak memiliki kemampuan bela diri mumpuni meski sudah belasan tahu berguru. Dia nggak bisa berkelahi, nggak jago pedang, bahkan sering terlihat rapuh secara fisik. Tapi jangan salah, senjatanya adalah kecerdasan, strategi, dan kemampuan membaca pikiran manusia.
Dalam perjalanannya menyelamatkan sahabat lamanya, Wen Cong, Yunxiang mulai masuk ke pusaran konflik dunia persilatan, ekonomi, dan politik. Dari sinilah ia membentuk pertemanan untuk mewujudkan balas dendam bersama.

Pertama, Yunxiang bertemu Shu Yanan (diperankan Mao Xiaotong), perempuan dingin dan tangguh dengan ilmu bela diri tinggi, yang ternyata juga menyimpan rahasia besar tentang masa lalunya sendiri.
Hubungan mereka sejak awal nggak pernah sederhana. Kadang kerja sama, kadang saling curiga, saling menebak, saling waspada, tapi juga perlahan tumbuh rasa saling percaya. Kemudian ada Jin Biao (diperankan Liu Guanlin), pendekar pedang dengan prinsip keadilan versinya sendiri.

Ketiga, Su Mingyu (diperankan Tang Xiaotian), pewaris keluarga pedagang yang tampak lembut tapi menyimpan kemampuan luar biasa. Dia bisa mengenali hampir semua aliran bela diri hanya dengan melihatnya sekali.

Keempat orang ini akhirnya membentuk tim yang solid, dan masing-masing punya kepentingan, luka, juga rahasia.
Awalnya, konflik berpusat pada Yan Luoyang dan Aliran Cao yang kejam, lalu merembet ke permainan uang, rumah judi Liansheng, manipulasi harga sutra, dan perebutan kekuasaan antar keluarga besar seperti Tang, Su, dan Cao.
Yunxiang pelan-pelan menunjukkan bahwa ia bukan pion, tapi pemain. Ia mengatur utang, pelelangan, harga pasar, bahkan konflik antarsekte seolah semuanya bagian dari papan catur raksasa yang ada dalam pikirannya.
Tapi semakin dalam Yunxiang menggali masa lalunya, semakin jelas bahwa tragedi Desa Luo bukan kejahatan tunggal. Ada banyak tangan yang terlibat.
Ada kepentingan aliran, bisnis, dan bahkan kekuasaan negara. Dan yang paling menyakitkan adalah Yuntai, tempat Yunxiang dibesarkan dan dilatih, ternyata tidak sesuci yang ia kira.
Hubungan Yunxiang dan Yanan juga semakin rumit. Cinta mereka tumbuh di tengah saling curiga. Belakangan terungkap bahwa Yanan berasal dari Aliran Lingyuan dan terjebak konflik antara kesetiaan pada keluarganya, sekte/ alirannya, dan perasaannya pada Yunxiang.
Sementara Yunxiang sendiri mulai sadar bahwa setiap langkah balas dendamnya selalu mengorbankan orang lain, dan itu bertentangan dengan prinsip yang ingin ia pegang.
Masuknya tokoh-tokoh besar seperti Nan Gongfang, Pangeran Fu, Putri Mingzhu, dan para pejabat kerajaan membuat cerita “The Ingenious One” ini naik level.

Kisahnya bukan lagi sekadar dendam pribadi, tapi permainan kekuasaan skala nasional. Upeti kerajaan hilang, bisnis disita, alira-aliran saling menjatuhkan, dan Yunxiang berada tepat di tengah-tengahnya.
Yang bikin “The Ingenious One” beda adalah caranya memperlihatkan konflik. Hampir semua kemenangan Yunxiang datang dengan harga mahal. Banyak rencananya berhasil, tapi selalu menyisakan korban, entah itu temannya terluka, kepercayaan runtuh, dan hubungan hancur.
Bahkan saat kebenaran tentang Desa Luo mulai terkuak, rasanya pahit. Karena musuh Yunxiang sebenarnya bukan cuma satu orang, tapi sistem yang dibangun dari keserakahan, ketakutan, dan kompromi moral.
Di bagian akhir, Yunxiang harus memilih, antara menyelesaikan balas dendamnya sampai tuntas dengan mengorbankan segalanya, atau berhenti sebelum ia menjadi monster yang sama dengan orang-orang yang ia benci.
Hubungannya dengan Yanan kembali diuji, kepercayaannya pada Yuntai runtuh, dan identitas “orang pintar yang selalu memegang kendali” mulai retak.
Review The Ingenious One
Dari awal aku nonton “The Ingenious One,” aku udah tahu kalau ini tuh bukan drama wuxia tipe silat hajar-hajaran 10 menit tiap episode. Wuxia-nya tuh lebih ke strategi otak.
Vibenya mirip permainan judi liar’s poker dan catur tiga dimensi, di mana semua orang punya agenda, semua orang bisa jadi pion, dan satu kalimat bisa berarti “iya” sekaligus “nggak.”
Bahkan ada semacam mantra yang berulang banget disebutkan dalam serial ini, yaitu “shi, ye bu shi” yang artinya “ya, tapi juga bukan.” Ambigu, licin, dan bikin susah percaya siapa pun.
Dan yes, kalau kamu suka cerita yang penuh intrik, pengkhianatan, dan permainan strategi di dunia jianghu dengan bumbu ekonomi, bisnis, dan politik, “The Ingenious One” bakal bikin kamu ketagihan. Tapi kalau kamu tipe yang butuh pace cepat dan jawaban instan, bisa jadi kamu bakal capek nonton serial ini.
Chen Xiao sebagai Yunxiang
Yunxiang itu antihero yang nggak bisa kelahi tapi sangat berbahaya dibanding pesilat yang memakai pedang. Untuk standar serial wuxia, dia ini karakter yang unik banget.
Biasanya kan tokoh utama wuxia itu jago silat, punya jurus pamungkas, kalau kesel tinggal tebas. Nah Yunxiang? Dia nggak bisa berantem. Serius. Skill utamanya cuma jurus KABUR, itu pun maksimal cuma bisa 10 detik. Harus pause, baru lanjut kabur lagi.
Tapi jangan salah… otaknya jalan terus. Dia itu produk dari Yuntai, sekte atau aliran persilatan yang fokusnya bukan bela diri, tapi… aku bilangnya… “ilmu tipu-tipu.” Semua orang Yuntai pandai membaca situasi, memanipulasi lawan, menekan dengan informasi, dan bikin orang bergerak sesuai skenario.

Yang bikin Yunxiang menarik adalah dia bukan pahlawan putih bersih. Dia moralnya abu-abu. Tujuannya emang mulia, mencari kebenaran dan membalas pembantaian Desa Luo yang menghabiskan seluruh keluarganya. Tapi caranya itu loh, kadang bikin aku gemes karena dia bisa memanfaatkan orang, nge-set trap pakai perasaan orang, bikin kerusakan dulu, baru “nanti ditambal.”
Jadi kalau kamu datang ke drama ini berharap male-lead yang gentle dan lurus-lurus aja… kamu bakal kaget. Yunxiang itu charming, iya. Tapi kadang vibe-nya beneran kayak “antagonis yang kebetulan kita ikutin POV-nya.”
Karisma Chen Xiao di “The Ingenious One” ini natural banget. Dia bisa bikin karakter “lemah fisik” tetap terasa dominan. Banyak adegan dia cuma berdiri, ngomong pelan, tapi auranya kayak, “gue udah tahu lo bohong dari 10 menit lalu.”
Mikro-ekspresi dia saat ngukur lawan, nada bicara yang tenang tapi mengancam, vibe capek/letih yang justru cocok karena Yunxiang itu hidupnya berat. Aku suka semua.
Ada momen-momen di mana ekspresinya terlihat “tired” dan agak kosong, tapi menurutku itu nyambung sama karakternya yang dididik untuk menekan emosi.
Mao Xiaotong sebagai Shu Yanan
Aku nggak peduli orang mau bilang apa soal visual female-lead yang kurang. Buatku Yanan itu karakter yang tegas, punya aura, dan fight scene-nya believable.
Yanan itu tipe karakter yang kelihatannya “dingin dan rapi” tapi sebenarnya paling penuh konflik di drama “The Ingineous One” ini. Di permukaan, Yanan adalah pendekar perempuan yang skill bertarungnya gila. Geraknya cepat, tegas, dan kelihatan banget dia bukan tipe yang banyak buang energi buat basa-basi.
Kalau ada masalah, dia selesaikan dengan aksi. Justru yang bikin dia menarik bukan cuma karena jago silat dan pedang, melainkan karena dia hidup dengan dua wajah, yang satu adalah Yanan yang kita lihat di jalanan jianghu, dan yang satunya lagi adalah Yanan yang membawa masa lalu dan identitas yang dia sembunyikan rapat-rapat, seorang putri dari pimpinan Lingyuan, salah satu aliran paling ditakuti di dunia persilatan.

Karakter Yanan itu seperti tembok berjalan. Dia susah percaya orang, refleksnya selalu curiga, dan setiap keputusan yang dia ambil terasa seperti hasil latihan bertahun-tahun untuk bertahan hidup. Wajar sih, sebab dia bukan tumbuh dari lingkungan hangat, tapi dari dunia yang ngajarin kalau lengah sedikit, dia bakal dihabisi.
Nah, begitu ketemu Yunxiang, dinamika Yanan jadi makin kompleks. Di satu sisi, dia melihat Yunxiang itu berbahaya lantaran bisa menggerakkan orang dengan kata-kata dan skenario di kepala. Di sisi lain, Yanan juga sadar dia butuh orang seperti Yunxiang kalau mau selamat di permainan besar yang lagi mereka hadapi.
Jadi hubungan mereka itu dari awal bukan cinta-cintaan yang sweet, tapi lebih ke aliansi yang dibangun dari saling uji dan saling jaga.
Yang paling kerasa dari Yanan, menurutku, adalah dia keras, tapi bukan tanpa hati. Dia cuma terbiasa menyembunyikan sisi rapuhnya. Ada momen-momen kecil di mana kamu bisa lihat dia sebenarnya pengen hidup normal, pengen berhenti jadi alat, pengen memilih jalannya sendiri, tapi realitanya dia terus ketarik balik ke urusan klan keluarganya, rahasia keluarganya, dan konflik lama keluarganya.
Secara akting, Mao Xiaotong membawakan Yanan dengan cara yang tepat banget. Karismanya nggak meledak-ledak, tapi stabil. Tatapannya tajam, gesturnya terkontrol, dan pas adegan emosional, dia nggak melodramatis. Lebih ke nahan sakit yang bikin penonton ikut sesak.
Kalau Yun Xiang adalah otak yang licin, maka Shu Yanan adalah pedang yang tajam, tapi pedang ini punya luka di gagangnya.
Plot Balas Dendam, Nyasar ke Konspirasi Besar
Dari awal, premis “The Ingineous One” ini sebetulnya udah jelas banget. Yunxiang turun gunung setelah 15 tahun, nyari dalang pembantaian desanya.
Tapi begitu dia masuk Nandu, cerita melebar jadi perang pengaruh antar aliran (Yuntai vs Lingyuan), perebutan bisnis (bank, port, kasino, sutra), permainan Chamber of Commerce (Kamar Dagang), kasus uang upeti hilang, sampai politik istana dan pemberontakan.
Aku suka bagian ini karena… fresh. Jarang wuxia yang beneran ngulik uang dan bisnis se-detail ini. Ada sensasi “wuxianomics,” serial wuxia tapi ekonomi. Hehehe.
Yunxiang itu literally kayak main Monopoly. Dia main strategi soal kontrol bank, kontrol aliran uang, kontrol pasar sutra, kontrol kasino. Dan semua dilakukan pakai strategi, bukan jurus.
Tapi konsekuensinya juga ada. Fokus balas dendamnya kadang ketarik mundur, dan misteri awal yang harusnya jadi “motor” cerita, malah seperti ketutup konspirasi lain,
Beberapa pertanyaan penting baru dijawab belakangan. Jadi, pas di tengah kamu mungkin ngerasa, “eh ini sebenarnya si Yunxiang ngejar apa sih?”
Buatku ini bukan jelek, tapi memang gaya penulisan plotnya aja. Makin jauh kamu masuk, makin kamu sadar problemnya bukan satu orang, tapi sistem.
Chemistry Romance Yunxiang dan Yanan
Shu Yanan itu tipe female-lead yang aku suka. Kayak Li Changge (Dilraba Dilmurat di serial “The Long Ballad“). Dia bisa berantem, karismatik, dan punya misteri.
Romansa Yunxiang dan Yanan itu menarik karena premise-nya Romeo-Juliet versi jianghu. As we know, aliran mereka ternyata musuh bebuyutan.
Yuntai dan Lingyuan itu musuhan. Dan kamu bayangkan bagaimana berada di posisi Yunxiang ketika mengetahui perempuan yang kamu cintai ternyata putri dari aliran perguruan silat yang berseberangan. Mereka beda kubu dan masing-masing menyimpan rahasia sendiri.

Di awal, hubungan mereka fun. Ada tensi curiga, saling uji, saling “gue percaya tapi setengah.” Tapi memang ada titik di tengah drama yang terasa romance-nya kebanyakan porsi galau, trust issue-nya panjang, momentumnya jadi agak turun.
Aku paham maksud penulis, mungkin mau menunjukkan bahwa Yunxiang yang 15 tahun dididik pakai prinsip “jangan punya keterikatan dengan siapa pun, termasuk dilarang jatuh cinta,” akhirnya runtuh karena cinta. Secara tema itu masuk. Tapi eksekusinya bikin kita sebagai penonton pengen dia fokus ke konspirasinya.
Kalau kamu penonton yang suka romance, kamu mungkin enjoy. Tapi kalau kamu datang untuk intrik full gas, bagian yang satu ini bisa terasa seperti rem mendadak.

Karakter Pendukung Curi Spotlight
Applause dulu deh! Supporting cast di drama ini kuat banget. Bahkan beberapa karakter sampingan terasa lebih “hidup” motivasinya dibanding tokoh utama yang kadang ditulis terlalu misterius.
Yang paling mencolok, pertama, Jin Biao. Dia ini kayak hitman yang kasar-kasar tapi penyayang. Jin Biao itu “tampang preman, hati marshmallow.”
Dia lucu, setia, tapi juga tragis karena kamu bisa lihat dia berjuang antara uang, prinsip, dan rasa sayang, terutama soal anak-anak panti.
Kedua, Mo Bufan dan Kang Qiao. Relasi mereka bikin nyesek. Mo Bufan itu karakter yang kalau di tangan aktor yang salah bisa annoying, tapi di sini jadi menarik banget.
Dia materialistis, tajam, tapi manusiawi. Dan relasinya dengan Kang Qiao itu… haduh, bagian ini bikin sedih beneran. Drama ini lumayan jahat soal “menghabisi” karakter yang kita sayang. Hiks.

Ketiga, Su Mingyu dan Ke Menglan. Ini mah side couple yang stabil. Mingyu itu menarik karena dia “anak orang kaya yang dipaksa jadi dewasa,” dan arc-nya tentang trauma dan tanggung jawab cukup kerasa. Menglan juga fungsional banget sebagai penggerak plot bisnis.
Keempat, Liu Gongquan. Pas karakter ini masuk ke cerita, tensi langsung naik. Aku suka banget. Energi plot kerasa beda. Ada tekanan baru, ada “pihak ketiga” yang bikin papan catur Yunxiang makin rumit.
Aku jadi sadar, dalam “The Ingenious One” ini bukan cuma Yunxiang doang yang otaknya licin. Ada banyak karakter punya otak dan agenda.
Visual, Kostum, dan Atmosfer
Aku suka palet warna yang dipakai sepanjang 36 episode “The Ingenious One” ini. Toned down, nggak norak, dewasa.
Banyak drama wuxia yang terlalu glossy. Nah, “The Ingenious One” ini lebih earthy dan tenang. Setting kota, bank, rumah judi, pasar sutra, kerasa hidup sebagai dunia yang berputar karena uang dan kekuasaan.
Fight scene-nya juga enak. Nggak lebay, koreografinya rapi, terutama karena banyak karakter memang petarung beneran dan pandai silat, bukan cuma Chen Xiao doang.
OST? Ballad-balladnya pas. Nggak ganggu, tapi bisa ngangkat mood.
Yang agak kurang menurutku cuma ending-nya yang terlalu dikebut. Apalagi cara mengungkap “The Mastermind” itu juga agak kelamaan disimpan sampai episode-episode akhir, jadinya akhirnya ketebak.

Layak Tonton atau Tidak?
Meski begitu, “The Ingenious One” aku rekomendasikan kalau kamu suka wuxia dengan fokus intrik, strategi, dan pengkhianatan. Kamu suka karakter moral abu-abu (nggak ada yang 100% baik). Apalagi kalau kamu suka plot “wuxianomics” yang tadi aku bilang.
Serial ini kurang cocok, kalau kamu butuh drama wuxia dengan action nonstop, kamu tipe penonton yang nggak sabar dengan dialog strategi dan permainan informasi, atau alergi romance yang lumayan panjang di tengah.
Kalau aku pribadi? Aku menikmati banget karena Chen Xiao, karena vibe “battle of schemers” dia, dan karena karakter pendukungnya bikin dunia drama ini terasa hidup. Meski aku juga nggak bisa bohong kalau ada plot hole, ada pacing yang goyang, dan ada bagian romance yang harusnya bisa lebih ringkas.
Pokoknya… “The Ingineous One” ngajarin kita bahwa kebenaran tidak selalu membebaskan, dan balas dendam tidak selalu memberi kepuasan. Oke deh, sekian dulu ulasanku. Selamat menonton ya! Cek serialnya di iQIYI atau Viki.

Leave a Comment