“The Blood of Youth” (2022-2023) adalah kisah perjalanan anak-anak muda di dunia persilatan yang awalnya cuma ingin jadi jagoan, tapi tanpa sadar terseret ke pusaran takdir, kekuasaan, dan sejarah berdarah sebuah kerajaan.
Ini bukan wuxia yang isinya cuma jurus-jurus silat. Di dalamnya sarat tentang kisah persahabatan, pilihan hidup, harga dari kekuatan, dan bagaimana masa muda yang polos pelan-pelan harus berhadapan dengan kenyataan dunia yang kejam.
Sinopsis The Blood of Youth
Cerita dibuka dengan Lei Wujie (diperankan Ao Ruipeng), bocah berapi-api dari Klan Lei. Tipikal karakter shonen banget. Dia punya semangatnya besar, emosinya cepat meledak, dan cita-citanya simpel, pengen menjadi pahlawan sejati dunia persilatan.
Dengan membawa pedang dan mimpi besar, Lei Wujie memulai perjalanannya menuju Xueyue City, salah satu pusat kekuatan dunia jianghu.
Di tengah perjalanan, dia singgah di sebuah penginapan bobrok bernama Villa of Fallen Snow, yang nyaris bangkrut dan dikelola oleh seorang pria dingin, sinis, dan super perhitungan bernama Xiao Se (Li Hongyi).
Masalahnya, Lei Wujie yang ceroboh dan terlalu bersemangat ini, secara nggak sengaja merusak penginapan itu. Hasilnya? Dia terikat utang besar.
Xiao Se, yang kelihatannya cuma penjaga penginapan miskin, langsung menagih ganti rugi. Karena nggak punya uang, Lei Wujie mengajak Xiao Se ikut perjalanan ke Xueyue City. Dari sinilah duo paling ikonik di drama “The Blood of Youth” terbentuk.
Awalnya, hubungan mereka aneh tapi lucu. Lei Wujie cerewet dan polos, Xiao Se tenang, dingin, dan kelihatan malas-malasan. Dari kontras inilah dinamika persahabatan mereka terasa hidup.
Peti Emas dan Biksu Misterius
Dalam perjalanan menuju Xueyue City, mereka bertemu banyak orang penting. Tang Lian, murid elit dari Tang Clan, yang sedang mengawal sebuah peti mati emas misterius.
Peti ini ternyata bukan barang biasa. Isinya adalah Wu Xin (Liu Xueyi), seorang biksu muda dari Tian Wai Tian, sekte terlarang yang punya reputasi mengerikan di dunia persilatan.
Begitu peti dibuka, konflik langsung meledak. Banyak pihak mengincar Wu Xin, karena identitas dan kekuatannya bukan main-main.
Wu Xin sendiri adalah karakter yang… sulit dijelaskan dengan satu kata. Dia tenang, penuh misteri, manipulatif, tapi juga punya empati. Dia bisa tersenyum sambil membuat orang lain ketakutan.
Wu Xin bahkan sempat menculik Xiao Se dan Lei Wujie, lalu menyelamatkan mereka lagi. Dari sini, trio utama terbentuk, yaitu Lei Wujie si bocah , Xiao Se si pemikir, dan Wu Xin si bayangan.
Kalau bahas “The Blood of Youth,” nggak semua jagoannya cowok. Ada juga cewek, namanya Sikon Qianluo (diperankan Lin Boyang). Tanpa dia, sama aja kayak kita bahas The Avengers tapi lupa nyebut karakter Black Widow. Hehehe.
Qianluo adalah putri Sikon Changfeng, salah satu penguasa Xueyue City. Secara status, dia adalah bangsawan dunia persilatan. Tapi secara ekspektasi, hidupnya sudah ditentukan, yaitu menikah demi aliansi, menjaga stabilitas kota, dan jadi simbol politik.
Hebatnya Qianluo menolak hidup sebagai pion. Dia ingin bertarung, memilih jalannya sendiri. Dan dia ingin diakui bukan karena siapa ayahnya, tapi karena siapa dirinya.
Kelak, Qianluo dan Xiao Se akan menjalani romansa paling natural di drama ini. Xiao Se sering kali nggak sadar sama perasaan Qianluo. Dan… Qianluo pun nggak pernah memaksakan perasaannya pada Xiao Se.

Xiao Se si Pangeran Terbuang
Salah satu kekuatan utama “The Blood of Youth” adalah reveal identitas karakternya. Pelan-pelan terungkap bahwa tidak satu pun dari mereka orang biasa.
Xiao Se yang kita kenal sebagai penjaga penginapan, ternyata adalah pangeran yang terbuang. Ternyata dia menyimpan masa lalu kelam. Nama aslinya adalah Xiao Chuhe, seorang pangeran kerajaan Tianqi, bergelar Pangeran Yong An.
Pada masa lalu, ia adalah kandidat kuat pewaris tahta. Tapi karena sebuah insiden besar di istana, yang melibatkan intrik politik, pengkhianatan, dan kesalahan fatal, ia dihukum, dilucuti kekuatannya, dan dibuang dari ibu kota.
Ilmu bela dirinya dihancurkan. Status kerajaannya dicabut. Dia dipaksa hidup sebagai rakyat jelata.
Dan sejak saat itu, Xiao Chuhe dianggap mati, yang tersisa hanyalah Xiao Se, pria dingin yang tidak mau lagi berurusan dengan takdir. Inilah kenapa Xiao Se selalu kelihatan “setengah hidup.” Dia pintar, strategis, tapi seolah tidak mau berharap apa-apa.

Menara Dengtian
Sementara Xiao Se menolak masa lalunya, Lei Wujie justru tumbuh pesat sebagai pendekar. Dia menantang Menara Dengtian, simbol ujian kekuatan para pendekar muda.
Dalam prosesnya, dia bertemu Sword Deity Li Hanyi, yang kemudian terungkap sebagai kakak kandungnya sendiri. Dari sinilah kita tahu bahwa Lei Wujie bukan bocah sembarangan. Dia adalah anak dari dua legenda dunia persilatan, yaitu Lei Mengsha dan Li Xinyue.
Lei Wujie mewarisi Heart Sword, pedang yang kekuatannya bergantung pada kemurnian hati dan tekad penggunanya. Ini penting, karena berbeda dengan pedang lain, Heart Sword tidak bisa dipakai oleh orang yang ragu atau hatinya penuh kebencian.
Xueyue City
Ketika identitas Xiao Chuhe mulai terendus, istana Tianqi bergerak. Kaisar mengirim utusan, bahkan dekrit pengampunan, agar Xiao Chuhe kembali sebagai pangeran. Tapi… Xiao Se menolak.
Xiao Se sudah tidak dendam lagi. Dia hanya sadar diri, bahwa kembali ke istana berarti menyeret semua temannya ke dalam perang kekuasaan. Sayangnya, dunia tidak membiarkan dia bersembunyi selamanya.
Intrik politik semakin panas. Para pangeran di istana Tianqi, seperti Pangeran Bai, Pangeran Chi, dan Pangeran Lang Ya, saling berebut dukungan untuk naik tahta. Eunuch, jenderal, dan klan besar mulai memilih keberpihakan masing-masing. Sementara itu, organisasi pembunuh Dark River mulai bergerak. Mereka diperalat oleh pihak tertentu untuk menciptakan kekacauan.
Salah satu turning point emosional terbesar adalah ketika Xiao Se rela mengorbankan dirinya demi melindungi teman-temannya dalam konflik besar di Klan Lei.
Xiao Se bukan lagi orang yang lari dari takdir. Dia mulai memilih, meski itu berarti menderita. Wu Xin pun menghadapi tragedinya sendiri. Ia kehilangan kebebasan. Ibunya bahkan dipaksa menjadi pion politik.
Lei Wujie, yang dulu cuma ingin jadi pahlawan, akhirnya memahami bahwa menjadi kuat berarti siap kehilangan.

Saat Takdir tidak Bisa Ditolak
Pada akhirnya, Xiao Se memutuskan kembali ke istana Tianqi. Niatnya bukan untuk merebut tahta, tapi untuk menghentikan kekacauan.
Perjalanan ke ibu kota adalah klimaks emosional drama ini. Teman-temannya bertarung di berbagai penjuru untuk membuka jalan baginya. Ada yang gugur. Ada yang terluka. Ada yang tidak pernah sampai di pusat kota.
Di Tianqi, Xiao Se menggunakan otak, strategi, dan pengaruh, bukan sekadar pedang. Dia mengatur jamuan, membalik opini pejabat, dan menjatuhkan musuh tanpa perlu menghunus senjata.
Saat akhirnya tahta ditentukan, Xiao Se membuat pilihan yang paling mencerminkan karakternya sejak awal. Dia… akhirnya berdamai dengan siapa dirinya.
Review The Blood of Youth
Kalau kamu suka drama tentang persahabatan, pertumbuhan karakter, dan intrik politik yang tidak berisik, “The Blood of Youth” layak banget masuk watchlist. Next, aku mau ulas lengkap ya.
Li Hongyi sebagai Xiao Se
Xiao Se adalah jiwa drama ini. Pada paruh awal “The Blood of Youth,” dia haampir nggak bertarung sama sekali.
Xiao Se lebih banyak berpikir, 10-20 langkah ke depan. Dia selalu punya rencana cadangan untuk rencana cadangannya. Jenius kan?
Karakter Xiao Se juga sarkastik, dingin, tapi selalu melindungi orang yang dia anggap sahabatnya atau miliknya.
Li Hongyi memainkan Xiao Se dengan sangat tenang, nggak overacting, nggak meledak-ledak. Tapi… meski begitu, aku (mungkin kamu juga) tahu bahwa karakter Xiao Se ini berbahaya banget kalau dipancing. Hahaha.
Ketika akhirnya terungkap bahwa Xiao Se adalah Xiao Chuhe, pangeran keenam yang dibuang, “The Blood of Youth” tensinya naik dari petualangan wuxia menjadi kisah harga diri, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan hidup.

Ao Ruipeng sebagai Lei Wujie
Kalau Xiao Se adalah otak, Lei Wujie adalah hatinya. Iya sih… dia emang ceroboh, berisik, suka ribut, sering ngomong dulu mikir belakangan, tapi… karakternya penting banget.
Lei Wujie percaya pada keadilan, persahabatan, janji, dan dia percaya bahwa kebaikan pasti menang. Di dunia wuxia yang penuh abu-abu, Lei Wujie adalah warna merah terang. Ao Ruipeng memerankan karakter ini dengan sempurna.
Dia bikin karakter ini nggak bodoh, tapi polos. Bukan tolol ya, tapi tulus. Emang sih, banyak penonton bilang Lei Wujie kurang berkembang secara karakter, tapi menurutku ya, konsistensinya itu justru jadi kekuatan utamanya. Dirinya nggak pernah berubah meski dunia sekitarnya berubah.

Liu Xueyi sebagai Wuxin
Ah… Wu Xin. Aku sukaaa banget sama karakter ini. Sayangnya cuma satu, dia kurang screen time di “The Blood of Youth” ini.
Wu Xin adalah biksu un-official ya. Dia punya senyum menggoda, celetukan sarkastik, dan kekuatan menakutkan. Masa lalunya juga strategis.
Liu Xueyi mencuri perhatian setiap kali muncul, bahkan ketika dia cuma berdiri, auranya udah beda. Wu Xin adalah karakter yang tahu siapa dirinya, tahu dosa dan asal-usulnya, tapi dia memilih tidak disukai oleh masa lalu.
Hubungan Wu Xin dengan Xiao Se instan tapi masuk akal. Dua orang yang punya masa lalu kelam tapi bisa saling mengerti sebagai sahabat.
Sayangnya Wuxin ini terlalu sering datang dan pergi, muncul lalu menhilang. Itu bikin penonton kehilangan salah satu pilar emosional dalam drama ini.

Lin Boyang sebagai Sikong Qianluo
Ini karakter yang bisa memecah penonton. Banyak yang bilang karakternya terlalu childish, menyebalkan, nempel terus ke Xiao Se, kostumnya juga dinilai nggak cocok, plus tombaknya kebesaran untuk ukuran tubuhnya.
Hahaha. Yang terakhir benar banget sih menurutku. Sebagian kritik penonton ini valid.
Tapi ya… Qianluo ini belum matang aja, makanya dia keras kepala dan emosional. Karakternya berkembang paling terasa setelah kehilangan, mengalami pertempuran demi pertempuran, sampai pilihan hidupnya nggak bisa ditarik kembali.
Romansanya dengan Xiao Se memang lemah. Chemistry mereka nggak pernah benar-benar menyala. Tapi Qian Luo bersinar di momen keberanian, bukan di romansa.

Brotherhood dalam “The Blood of Youth”
Kalau kamu nonton “The Blood of Youth” buat cari romance atau kisah cinta-cintaan, kamu salah tempat. Serial ini tuh lebih tentang persahabatan, brotherhood.
Xiao Se, Lei Wujie, Wuxin, mereka bukan tim, tapi lebih ke keluarga. Selain mereka bertiga, ada banyak lagi karakter-karakter lain yang memegang peran penting dalam “The Blood of Youth,” salah satunya Tang Lian (diperankan Li Xinze).

Ada part dari serial ini di mana Xiao Se kehilangan Tang Lian. Plot twist ini kayak tampak nyata dengan kehidupan realita, bahwa di dunia ini, orang paling baik justru sering pergi lebih dahulu.
Sejak awal muncu, Tang Lian kebawa vibe martial brother yang selalu bisa diandalkan. Dia punya aura senior meski usianya nggak jauh-jauh amat dibanding lainnya. Refleksnya selalu melindungi lebih dahulu. Dia yang paling sering jadi orang pertama yang maju saat situasi bahaya.
Tang Lian itu punya sense of duty, kebiasaan yang ditanamkan dari klan atau keluarganya. Makanya, kesetiaan dan loyalitasnya nggak perlu diraguin. Pokoknya, dia karakter paling dewasa. Makanya, kematian dia menjadi salah satu pukulan paling pahit dalam “The Blood of Youth.”
Biasanya, aku benci politik istana di drama-drama wuxia. Tapi dalam “The Blood of Youth,” serial ini berhasil menyeimbangkannya.
Politik emang penting, tapi tidak menelan jianghu. Intrinya relevan.
Perebutan tahta antara Pangeran Bai dan Pangeran Chi terasa pahit, kejam, tapi juga manusiawi. Xiao Se tidak ingin jadi kaisar, tapi dia ingin menuntut kebenaran.
Untuk ukuran serial budget, “The Blood of Youth” menurutku keren loh. Fight choreography-nya solid, CGI-nya konsisten, dan senjata-senjatanya punya karakter. Hebatnya nih yang aku sorot ya, setiap klan atau aliran bela diri, itu gaya silatnya beda. Kerasa banget itu. Makanya wuxia-nya hidup banget.
Dan jujur ya… kalau ada season 2-nya sih, aku bakal duduk nonton di barisan paling depan. Sukses banget ini serialnya!

Leave a Comment