Kesan awalku saat mau nonton drama china “Shine on Me,” aku sempat mikir, “ini bakal slow banget, nggak sih?” Soalnya 36 episode, dan sepemahaman aku, drama China modern, idealnya itu cuma 24-29 episode aja.
Dan ternyata benar… dramanya slow, tapi ternyata menyenangkan. Nonton “Shine on Me” memang butuh fokus, sebab kekuatannya ada di dialog-dialog kecil para karakter di dalamnya.
Buat kamu yang baru mau nonton (dan suka spoiler) atau masih on going nonton serial ini, silakan lanjut baca review dari aku. Selamat membaca!
Sinopsis Drama China “Shine on Me”
“Shine on Me” berlatar beberapa wilayah di Delta Sungai Yangtze, yaitu Wuxi, Shanghai, Nanjing, dan Suzhou. Semuanya merupakan kota megapolis paling maju secara ekonomi di China, terutama Shanghai yang merupakan pusat finansial utama Tiongkok bagian timur.
Kisahnya mengikuti perjalanan Nie Xiguang (dibintangi Zhao Jinmai), putri tunggal keluarga kaya yang berusaha menutupi latar belakang keluarganya dari publik.
Suatu hari, Xiguang jatuh cinta pada pandangan pertama pada tutor sepupunya yang ternyata teman kuliahnya, Zhuang Xu (dibintangi Lai Weiming). Demi bisa bertemu crush-nya lebih sering, Xiguang rela pindah ke asrama mahasiswi.
Di bangku kuliah, Xiguang adalah tipikal gadis baik hati, sedikit naif, dan ekspresif. Dia bahkan terang-terangan mengungkapkan perasaannya pada Zhuang Xu.
Zhuang Xu sebenarnya menyukai Xiguang, tetapi terjebak dalam rasa rendah diri, ego, dan ketidakmampuan berkomunikasi. Tipikal mahasiswa jenius tapi bodoh dalam urusan cinta.
Hasilnya? Cinta mereka tidak pernah benar-benar diberi kesempatan. Seakan selalu ada tembok pembatas antara keduanya, terutama kehadiran Ye Rong, teman sekamar Xiguang yang juga mencintai Zhuang Xu jauh lebih lama, bahkan rela memfitnah Xiguang.
Setelah lulus, Xiguang melangkah ke dunia kerja dan bergabung dengan Guangyu Photovoltaic, sebuah perusahaan energi surya berkantor di Suzhou. Tak disangka, ibunya memiliki 51 persen saham di sana yang artinya Xiguang sejatinya adalah pewaris.
Akan tetapi, demi membuktikan diri, Xiguang lagi-lagi menutupi latar belakang dirinya. Ia bekerja sebagai karyawan biasa di Divisi Keuangan dan menjalani kehidupan kerja sebagaimana karyawan biasa.
Di sanalah hidup Xiguang berisisan dengan Lin Yusen (diperankan Song Weilong). Ia adalah cucu dari Sheng Xianmin, pemilik 49 persen saham di Guangyu Photovoltaic.
Lin Yusen sebenarnya mantan dokter ahli bedah saraf (neurosurgeon) yang jenius, sosok elite medis yang hidupnya berubah drastik akibat kecelakaan mobil yang merusak tangannya.
Cedera tersebut memaksa Lin Yusen meninggalkan dunia kedokteran, dunia yang ia cintai, lalu masuk ke bisnis keluarga di industri energi surya.
Bisnis ini menjadi “medan baru” bagi Lin Yusen untuk membangun ulang dirinya. Di titik inilah “Shine on Me” mulai benar-benar bersinar.
Lalu, bagaimana kisah cinta dua pewaris kaya ini akhirnya sampai ke happy ending? Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan Lin Yusen dari Xiguang sampai ia rela mengejar cintanya habis-habisan, alias bucin abis? Silakan kamu nonton aja serial 36 episode ini di aplikasi iQIYI atau Netflix.
Review Drama China “Shine on Me”
Kalau aku harus merangkum “Shine on Me” dalam satu kalimat, mungkin aku menuliskannya begini…
“Shine on Me” adalah drama tentang dua orang yang belajar berhenti mengejar bayangan masa lalunya, kemudian memilih cahaya yang benar-benar hadir di depan mata mereka.
Kalau begitu, aku mau kenalin kamu dulu sama dua karakter utama serial ini.
1. Nie Xiguang
Zhao Jinmai benar-benar menjadi roh dalam drama ini. Nie Xiguang bukan karakter perempuan yang sempurna. Dia pernah naif, pernah membiarkan dirinya diremehkan, pernah salah memilih orang.
Dari sana, pelan-pelan dia belajar untuk tumbuh dan tidak kehilangan sinarnya, terutama ketika dunia mencoba meredupkannya.
Yang aku suka dari Xiguang adalah dia bertumbuh organik. Meski kecewa dengan Zhuang Xu, dia nggak serta merta berubah menjadi sosok perempuan yang “keras” sama cinta. Justru, dia menjadi lebih sadar akan value dirinya sendiri.
Perubahan Xiguang dari mahasiswa ke perempuan pekerja juga mengalir seperti air. Zhao Jinmai menurutku sukses memainkan fase-fase ini dengan halus, tidak overacting, tidak dramatisasi berlebihan.

2. Lin Yusen
Lin Yusen adalah definisi green forest male-lead. Song Weilong cukup mengejutkanku di sini, in a good way.
Aku bukan penggemarnya. Hehehe. Aku menonton serial ini karena Zhao Jinmai, di mana menurutku akting dia di serial sebelumnya, “Amidst a Snowstorm of Love” bersama Leo Wu cukup sukses.
Song Weilong, menurutku, di beberapa drama sebelumnya terasa “visual dulu, emosi belakangan.” Nggak masuk aja feel-nya aku nonton drama-drama dia. Pasti aku selalu percepat 2x. Hahaha.
Tapi pengecualian di “Shine on Me” ini. Dia benar-benar memberi nyawa untuk karakter ini.
Lin Yusen mencintai Xiguang bukan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dia benar-benar melihat siapa Xiguang itu dan memang jatuh cinta dengan kepribadiannya.
Selama mengejar cinta Xiguang, bahkan setelah mereka jadian, Lin Yusen tidak berubah sama sekali. Dia tidak memanfaatkan kelembutan Xiguang, tidak pernah membatasinya, tidak pernah mau mengambil alih apa pun dari Xiguang.
Jujur aja, tipe laki-laki kayak gini di dunia nyata rasanya makin langka. Ya nggak sih?

Karakter-Karakter Pendukung “Shine on Me”
Kalau “Shine On Me” isinya cuma Lin Yusen dan Nie Xiguang saling tatap-tatapan manis, mungkin dramanya B aja ya. Ceritanya nggak akan se-“hidup” itu tanpa kehadiran dua karakter bernama Zhuang Xu dan Ye Rong.
Dua sosok ini yang menjadi pemicu konflik sebagian besar cerita, bikin aku pengen teriak, “Ya Allah, ini orang kenapa sih?!”
1. Zhuang Xu
Aku paham kenapa banyak penonton ngerasa gemes sama Zhuang Xu. Dia tuh bukan cowok jahat sebenarnya. Bahkan… secara moral, dia nggak seburuk itu. Masalahnya adalah… dia PASIF kalau urusan cinta.
Zhuang Xu itu tipe orang yang pintar, ambisius, punya luka dan kompleks, tapi nggak bisa ngomong jujur. Dan karena nggak jujur itulah, dia jadi bikin orang lain tersakiti tanpa dia “niat” melukai.
Karakter Zhuang Xu ini penting dalam “Shine on Me” karena dia mewakili satu tipe cinta yang sering banget terjadi di dunia nyata.
“Aku suka kamu, tapi aku belum siap.”
“Aku sayang kamu, tapi aku nggak bisa ngasih kamu apa-apa.”
“Aku pengen kamu nunggu, tapi aku nggak berani minta kamu nunggu.”

Padahal mah ya, buat Xiguang, itu rasanya kayak Xuang Zhu ini terus menerus nyuruh Xiguang duduk di ruang tunggu tanpa kepastian. Siapa juga yang bisa diginiin terus?
No excuse sih, Zhuang Xu buat aku. Terutama bagian di mana dia sering loh lihat Xiguang “diserang” sama Ye Rong dan “disalahpahami” sama banyak orang… tapi dia malah memilih diam.
Paling nyelekit itu bagian saat Xiguang difitnah di kampus (urusan “telepon interview” itu), Zhuang Xu sebenarnya tahu ada yang nggak beres. Dia bukan orang bodoh. Tapi dia nggak melindungi, nggak membela, dan bahkan nggak memberi klarifikasi yang layak. Itu mah… red flag yang halus tapi menyakitkan.
Tapi aku juga ngerti sisi tragisnya. Zhuang Xu merasa rendah diri. Ia merasa Xiguang terlalu “besar” untuknya. Dia hidup dalam logika bahwa dia harus sukses dulu baru layak mencintai Xiguang.
Nah masalahnya, cinta kan semestinya nggak harus nunggu kita sukses dulu. Makanya saat dia akhirnya “sadar” semuanya sudah telat, baru penyesalannya dalam banget.
Dari Zhuang Xu, kita belajar bahwa kalau kamu suka seseorang, jangan mengandalkan waktu untuk menyampaikan hal yang seharusnya kamu katakan sekarang.
2. Ye Rong
Wah… ini mah RED FLAG bangettt. RACUN DUNIA. Kalau ada karakter yang paling bikin aku capek, ya itu Ye Rong. Dia tipe karakter yang menjadikan orang lain musuh hanya karena dia merasa insecure, iri, merasa kalah, padahal belum tanding.
Ye Rong memosisikan Xiguang sebagai “rival” di kepalanya sendiri. Dan dari situ dia melakukan hal-hal yang… ya, klasik banget lah, mulai dari memelintir fakta, memanfaatkan situasi, main psikologis.
Paling nyebelin tuh dia melakukan semua itu tanpa dasar yang kuat, cuma karena ingin terlihat unggul dari Xiguang.

Tapi meski aku nggak suka, Ye Rong punya fungsi penting dalam cerita ini. Dialah yang memicu Xiguang untuk belajar mandiri di dunia nyata.
Kalau di kampus Xiguang masih bisa lolos dari konflik karena circle kampusnya masih “bisa dihindari,” di dunia kerja, orang kayak Ye Rong itu nggak bisa dihindari. Kita harus belajar menghadapi orang-orang kayak Ye Rong ini.
3. Jiang Rui
Jiang Rui adalah cowok ter-GREEN FLAG nomor 1 buat aku, bahkan ngalahin Lin Yusen. Wkwkwk. Levelnya udah “adik kayak abang kandung.” Aku suka banget karakter dia.
Dia semacam “jangkar emosi” buat Xiguang. Di drama romansa kayak “Shine on Me” ini, sering banget keluarga atau sepupu cuma jadi tempelan lucu. Tapi Jiang Rui terasa kayak manusia beneran yang protektif, kocak, tapi tetap waras menghadapi kakak sepupunya.
Jiang Rui ini juga penyeimbang dalam drama. Alasannya karena dia penghubung keluarga, sekaligus shipper nomor satu. Aku suka dinamika hubungan Jiang Rui dan Xiguang karena interaksi mereka nggak dibuat berat.
Mereka nggak harus selalu deep talk satu sama lain. Kadang cukup dengan candaan, kita penonton udah terhibur banget. Kehadiran Jiang Rui itu benar-benar bikin “Shine on Me” tuh benar-benar series keluarga.
4. Keluarga Nie Xiguang
Kalau ngomongin keluarga Xiguang, aku langsung keingat ibu (Jiang Yun) dan ayahnya (Nie Chengyuan) yang udah bercerai. Ibunya Xiguang, ini salah satu sosok ibu yang aku suka di drama China modern. Dia bukan ibu yang sempurna, tapi ibu yang bertumbuh meski single parent.

Ada fase dia terlihat “lepas” dan seperti nggak peduli sama sama sekitarnya. Tapi lama-lama kita paham bahwa dia sedang menyembuhkan dirinya sendiri setelah luka pernikahan.
Kalau ayah Xiguang… nah, ini… capek deeeh. Ayahnya Xiguang adalah tipe ayah yang gampang terjebak ilusi. Dia lebih percaya omongan orang lain daripada omongan anak sendiri.

Adegan ketika Xiguang akhirnya meledak dan ngomong dari hati ke hati sama ayahnya? Itu salah satu momen paling menyayat, karena rasanya real banget. Benar ya… kadang konflik terbesar perempuan bukan cinta, tapi validasi dari rumah.
5. Keluarga Lin Yusen
Aku bersyukur banget drama ini nggak bikin keluarga Lin Yusen jadi monster. Ibunya Lin Yusen (Sheng Weiai) itu hangat, suportif, dan memberi ruang kebebasan untuk putranya.
Bahkan ayah tirinya juga bukan tipe antagonis. Dia menghormati Lin Yusen sebagai individu, bukan sebagai “anak yang harus nurut” sama dia.
Di drama China, keluarga kaya sering digambarkan toxic yang suka ngatur hidup, ngatur jodoh, ngatur masa depan anaknya. Tapi di “Shine on Me” ini, kita melihat versi keluarga kaya yang sangat manusiawi.
Masing-masing, keluarga Nie Xiguang dan keluarga Lin Yusen, punya punya luka sendiri, berantakan sendiri, tapi tetap bisa mencintai anak-anak mereka dengan cara sehat.
Dan itulah yang bikin hubungan Lin Yusen dan Xiguang terasa makin “aman” dari awal sampai akhir episode.
Drama China “Shine on Me” Bangkitkan Nasionalisme
Meski aku bukan warga negara China, jujur aku merinding pas nonton episode 25. Dunia kerja di industri solar panel di “Shine on Me” ternyata bukan sekadar tempelan latar cerita.
Drama ini cukup niat masuk ke ranah energi surya beserta istilah-istilah teknisnya. Riset tim produksinya terasa serius sampai aku benar-benar angkat topi.
Di sini kita dikenalkan dengan BAPV (Building Attached Photovoltaic), yaitu panel surya yang dipasang menempel pada bangunan yang sudah ada. Ada juga BIPV (Building Integrated Photovoltaic), panel surya yang sejak awal menjadi bagian dari desain bangunan yang lebih terintegrasi, lebih futuristik.
Yang aku suka, semua pembahasan ini nggak disajikan seperti kuliah kaku. Ia mengalir natural, tetap relevan dengan konflik dan pertumbuhan karakter, terutama perjalanan profesional Nie Xiguang dan Lin Yusen.
Puncaknya ada di episode 25, saat Profesor Lu Shuanghang melakukan presentasi. Aku sampai refleks mencatat kutipan beliau, karena rasanya ngena banget.
Ia mengatakan bahwa dulu, bahan baku, teknologi, pasar, hingga penetapan harga industri energi surya dikuasai negara asing. Dari hulu ke hilir, China hanya menjadi pekerja bagi negara lain.
Namun sejak 2006 hingga sekarang, China berhasil membangun kemandirian produksi dan menjelma menjadi pemain nomor satu dunia di industri fotovoltaik.
Lalu ditutup dengan kalimat yang menurutku indah dan nasionalis banget:
“Matahari itu adil. Ia menyinari seluruh bumi. Ia tidak akan menyia-nyiakan setiap negara dan rakyat yang berkeringat di bawahnya.”
Beuh. Closing si Profesor benar-benar bikin merinding.
Adegan Paling Berkesan
Fase kampus Xiguang cukup bikin aku geregetan ya. Mulai dari crush sepihak Xiguang ke Zhuang Xu sampai pas dia dikonfrontasi tanpa bukti soal urusan interview itu. Ye Rong benar-benar bikin dadaku sesak.
Yang bikin sakit hati itu nggak cuma tuduhannya, tapi ketika Xiguang melihat orang yang dia suka diam melihat reputasinya dirusak tanpa kesempatan membela diri. Ini titik awal retaknya kepercayaan Xiguang pada Zhuang Xu.
Begitu Xiguang masuk dunia kerja, tone dramanya udah geser nih. Aku melihat Xiguang yang mulai lebih realistis, belajar survive, dan pelan-pelan membangun harga dirinya.
Lin Yusen masuk sopan banget di sini. Awalnya… awkward. Mereka berjarak, Lin Yusen dingin, dan Xiguang suka salah paham sama bosnya itu.

Fase pas Lin Yusen terang-terangan menyatakan dia mau ngejar Xiguang, ini mah paling sweet. Menurutku, Xiguang yang baru saja keluar dari trauma cinta sepihak yang melelahkan, begitu ketemu cowok tipe Lin Yusen, otomatis langsung sembuh sendiri.
Fase misunderstanding Lin Yusen tentang fakta kecelakaannya di masa lalu ini juga punya bobot emosional buat aku. Di sini kita melihat sisi Lin Yusen yang rapuh.
Cowok yang kita lihat tenang itu ternyata punya luka dalam lantaran pernah merasa ditinggalkan. Lin Yusen separuh jalan cerita meyakini bahwa Xiguang “meninggalkannya” saat dia kecelakaan dan itu jadi luka besar dalam hidupnya.
Terakhir, aku suka banget keputusan Xiguang untuk memberi dirinya waktu untuk menyadari apa yang paling dia butuhkan. Yang aku highlight adalah Xiguang dengan kesadaran sendiri akhirnya memilih Lin Yusen. Benar-benar cinta yang dewasa.
Bagian yang Kurang
Karena ini review lengkap, aku mau jujur juga. Mungkin nggak cuma aku doang. Mungkin ada penonton lain yang merasa fase Xiguang dan LIn Yusen sebelum jadian itu kepanjangan. Malah fase pacarannya terlalu singkat.
Padahal, chemistry mereka bagus banget. Aku sebetulnya pengen banget lihat lebih banyak momen sehari-hari mereka sebagai pasangan.
Aku pengen juga lihat interaksi keluarga mereka setelah menikah. Mungkin juga ada dinamika-dinamika kecil yang memperkaya hubungan mereka. Sayangnya, itu nggak aku dapatkan di sini.
Minus berikutnya adalah beberapa karakter yang menyakiti Xiguang kok kesannya lolos “terlalu mudah.” Mereka benar-benar nggak bertanggung jawab loh menurutku, terutamaaaaaaaa YE RONG.
Bukan berarti harus ada balas dendam yaaaa. Bukan gitu. Seharusnya ada closure yang lebih tegas untuk karakter-karakter seperti Ye Rong ini. Gitu loh.
Episode terakhirnya juga menurutku terlalu cepat dan sedikit ngeganggu ritme emosionalku sebagai penonton. Aku suka endingnya, tapi transisinya kurang halus.

Pelajaran Hidup Setelah Nonton “Shine on Me”
Pertama, kalau kamu terus merasa menunggu, meragukan diri sendiri, atau merasa harus “lebih pantas” dulu baru merasa berhak jatuh cinta, percayalah… itu bukan cinta yang sehat. Hubungan kamu ujung-ujungnya pasti TOXIC.
Kedua, healing itu nggak melulu bergantung waktu. Statement “time will heal” nggak sepenuhnya tepat.
Xiguang itu bisa sembuh bukan karena waktu berlalu. Dia sembuh karena dia dikelilingi orang-orang positif yang terus mendukung dia, terutama keluarga dia. That’s the point!

Coba lihat karakter Xiguang ini, dia sangat terbuka sama ibunya. Pas ibunya lagi butuh waktu menyembuhkan diri dari luka perceraian, dia membebaskan ibunya.
Pas ibunya butuh dia, dia selalu ada. Selalu rutin berkunjung ke rumah kakek neneknya dari pihak ayah, meski orang tuanya sudah divorce. Benar-benar positive vibes banget lingkungannya Xiguang.
Ketiga, kamu nggak harus menjadi matahari sepanjang waktu. Intinya, jangan sok jagoan karena kamu manusia.
Siapa pun boleh lelah. Nggak apa-apa kok kalau kamu memilih orang yang kamu anggap tepat untuk menjadi sandaran. Jangan terlalu keras pada diri sendiri.
Kalau kamu merasa terus-terusan menjadi matahari buat orang lain, tapi orang itu jelas-jelas nggak butuh cahayamu… TINGGALKAN. Percayalah, bahwa suatu hari nanti, matahari sepertimu akan bertemu hutanmu sendiri. Seperti Xiguang, si matahari yang akhirnya menemukan Lin Yusen sebagai hutannya.

Leave a Comment