Jangan Foya-Foya Pakai THR

Gak punya duit? Itu biasa. Gak bisa ngatur duit? Ini nih yang bikin celaka. Apalagi sebentar lagi banyak karyawan bakal menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Jangan sampai kita berfoya-foya pakai THR. Ingat, krisis Covid-19 masih di depan mata dan kita belum melihat di mana ujungnya.

Beberapa waktu lalu saya beruntung bisa mengikuti diskusi online bersama sahabat saya yang juga Kepala Perwakilan Bisnis Indonesia di Bali, Mas Feri Kristianto. Beliau adalah senior saya sewaktu masih bergulat sebagai jurnalis ekonomi, khususnya pasar modal di Jakarta dulu.

Mas Feri menghadirkan seorang pakar keuangan yang jam terbangnya sudah tinggi, Mas Agus Helly. Beliau juga founder Ngopi Pintar, tempat para pemikir muda ngobrolin topik panas sambil menikmati kopi manis bersama. Base-nya di Bali.

Inti dari diskusi ini adalah bagaimana caranya kita bisa lebih bijak mengatur duit meski pun sedikit selama Covid-19. Saya senang banget bisa dapat gambaran dan tips-tips kece dari mereka berdua.

Kali ini saya tertarik membahas tentang bijak menggunakan THR di tengah situasi pandemi yang masih kita hadapi sampai hari ini. Gak ada yang tahu sampai kapan Covid-19 ini berakhir. Cina saja yang dinyatakan sudah steril dari virus ini lagi-lagi melakukan lock down di wilayah bagian timur laut akibat munculnya kembali klaster penularan lokal.

Tips Bijak Gunakan THR

Buat teman-teman yang tahun ini masih menerima THR, bersyukurlah. Banyak teman-teman kita di luar sana yang tak lagi mendapatkannya. Entah karena mereka dirumahkan sementara, atau di-PHK.

Mas Agus mengingatkan kita bahwa pada prinsipnya THR adalah uang tambahan, bukan income tambahan. Dulu THR disiapkan untuk berbagai kebutuhan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Ada yang menggunakannya untuk membeli tiket pesawat pulang kampung, beli baju baru, beli sepatu baru, rata-rata dialokasikan untuk hiburan (entertainment). Nah, sekarang ini justru penggunaan THR untuk tujuan tersebut perlu diminimalisir. Bagaimana caranya agar kita bijak mengelola THR?

1. Jangan lupa tunaikan zakat

Bagi kita umat Muslim, zakat adalah kewajiban dan bentuk takwa kita kepada Allah SWT. So, jangan lupa mengeluarkan zakat setelah menerima THR ya.

Zakat bukan hanya berkontribusi dalam pemerataan ekonomi dan pembangunan, melainkan juga menyucikan harta. Mau lagi pandemi atau gak, zakat perlu dikeluarkan. Biar rezeki kita berkah.

2. Alokasikan THR untuk dana darurat

Banyak orang menyepelekan dana darurat, sehingga lupa menyisihkannya setiap bulan. Ada pula yang sudah mengalokasikan, tapi selalu tergoda mengalihkannya untuk pengeluaran lain yang kebanyakan buat gaya hidup.

Dana darurat sebetulnya kunci kenyamanan, meski tidak ada angka atau persentase khusus tentang berapa besar alokasi untuk pos yang satu ini. Buat saya pribadi, dana darurat sebaiknya bisa menopang hidup keluarga setidaknya selama enam bulan.

Lebih bagus lagi jika kita punya dana darurat sampai 12 kali alias setahun. Kalo lebih besar dari itu ya kurang bagus juga, sebab uang yang menganggur terlalu gede.

Jauh lebih baik kita alokasikan kelebihannya untuk investasi lain kan? Beda cerita kalo ayah atau suami kita sultan. Sultan mah bebas, mau punya dana darurat untuk tujuh turunan pun silakan. Hehehe.

Cara menghitung dana darurat itu gimana? Misalnya nih, gaji kita Rp 6 juta per bulan, sementara kebutuhan sehari-hari kita Rp 3 juta per bulan. Dana darurat yang perlu kita siapkan adalah Rp 3 juta x 6 bulan, yaitu Rp 18 juta. Sudah paham kan?

Gimana kalo kita gak punya dana darurat? Nah, mumpung tahun ini masih nerima THR, ya alokasikan sebagian besar THR untuk dana darurat. Setelah dana darurat dikeluarkan dan masih ada sisa, baru deh boleh dipakai belanja ini itu.

3. Puasa dulu beli barang branded

Sembari bercanda Mas Feri bilang, mulai hari ini ada baiknya kita uninstall aplikasi belanja online di ponsel. Godaannya sungguh berat, bahkan lebih berat dari rindunya Dilan. Ini berlaku untuk kita yang tidak punya dana darurat, tidak punya penghasilan tetap, apalagi baru saja kehilangan pekerjaan.

Kalo dipikir-pikir, iya juga ya? Buat apa kita beli barang branded, toh gak bakal kepakai juga di Lebaran tahun ini. Jika kita sudah punya dana darurat, baru deh boleh membelanjakan THR sebagian untuk membeli barang yang disuka, tapi jangan berlebihan ya.

4. Sisihkan THR untuk instrumen investasi

Mas Agus menyarankan kita menyisihkan sebagian THR untuk investasi baru. Instrumen terbaik yang relatif aman adalah deposito satu bulanan di bank-bank kredibel, atau reksa dana pasar uang.

Saya pun langsung tertarik membeli reksa dana pasar uang melalui aplikasi Tokopedia. Kemarin-kemarin alhamdulillah ada sedikit rezeki dari menang lomba blog. Dari pada uang nganggur, sebab pengeluaran bulanan sudah disediakan suami, saya tertarik berinvestasi kecil-kecilan di reksa dana. Sayang tak kunjung terealisasi karena kurang motivasi. Untungnya abis dengerin Mas Agus dan Mas Feri, jadi langsung berani eksekusi.

reksa dana

Sekarang ini gampang banget kan mau berinvestasi di instrument apapun, mau deposito, reksa dana, obligasi, saham. Cukup bermodalkan ujung jari yang menari di atas ponsel.

Kenapa pilih reksa dana, bukan deposito?

Memang, deposito itu dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), tapi imbas hasil alias returnnya kecil banget. Paling gede itu enam persen, tapi belum dipotong pajak.

Reksa dana memang gak dijamin LPS, tapi investasinya terjamin. Kok bisa? Saya mencontohkan pilihan saya yang jatuh pada reksa dana pasar uang.

Reksa dana pasar uang itu instrumen investasi jangka pendek, kurang atau maksimal setahun. Aset dasarnya bisa berupa  surat utang negara, surat utang perusahaan, atau deposito bank. Terjamin kan?

Ada lagi jenis reksa dana lain yang bisa menjadi pilihan, yaitu reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham.

Emangnya reksa dana saham terjamin juga? Bukannya main saham itu riskan? Ya lihat-lihat dulu dong emitennya. Apakah itu saham-saham perusahaan plat merah alias dimiliki negara? Kalo ya, ya secara gak langsung reksa dana saham kita ikut terjamin dong.

5. Lakukan re-investasi

Opsi ini berlaku bagi mereka yang selain ada dana THR, juga punya tabungan berlebih. Idealnya, instrumen investasi seperti saham saat ini tengah anjlok karena isu Covid-19. Turunnya menyentuh 25-30 persen loh.

Duh, jadi autoingat pengalaman saham saya anjlok 2014 lalu karena persepsi negatif pemilu presiden. Waktu itu anjloknya 3,5-5 persen dan segitu aja udah bikin stres, apalagi sekarang yang udah puluhan persen kan? Untungnya setelah nama presiden keluar, pelan-pelan IHSG rally lagi.

Salah satu cara untuk mengimbangi kerugian investasi dalam jangka pendek adalah melakukan re-investasi di instrumen lain. Prinsipnya kita re-investasi untuk mengimbangi nilai investasi kita sebelumnya yang turun.

Sederhananya, ketimbang tabungan kita belikan barang diskon, mendingan beli saham (IHSG) yang kebetulan lagi diskon 25-30 persen kan?

Seperti Mas Ferry bilang, di situasi seperti sekarang ini kita tidak sedang belajar menjadi orang kaya. Kita tidak sedang belajar bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Kita sedang susah. Sekarang itu masa ekonomi kita lagi seret. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana caranya bijak mengatur pengeluaran dan bijak berinvestasi. Perilaku kita dalam memanajemen keuangan pribadi atau keuangan keluarga menentukan nasib kita di masa depan.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selayaknya mengajarkan kita untuk hidup lebih sederhana, membangun empati terhadap sesama, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Semoga Covid-19 segera hilang berkat usaha dan doa kita. Amin.

bundalogy

14 thoughts

  1. beberapa tahun terakhir ini mengalokasikan thr ke dana darurat, apalagi nggak nyangka situasi covid ternyata sampe segini ‘parahnya’.
    investasi kecil kecilan ke reksadana juga oke

    Like

  2. Reminder banget ini, Uni… jadi THR itu jangan jor2an utk kebutuhan konsumtif ya, tp disisihkan untuk instrumen investasi saham IHSG. Lagi diskon 30 sd 40% ya, wah mantap tuh.

    Like

  3. Apalagi dimana situasi seperti ini, mesti bijak menggunakan keuangan, apalagi dengan THR. Karena memang sangat kurang pantas jika dipakai berlebihan dan membeli barang tidak diperlukan.

    Like

  4. Aku pun menyesal nggak mengenal istilah dana darurat sejak pertama kali bekerja. Kalau iya, mestinya lebih banyak dana darurat yang bisa disiapkan di masa krisis begini. Penting banget deh ini buat yang masih punya penghasilan tetap.

    Yes, kita bisa pertimbangkan investasi di pasar modal. Kondisi saham saat ini memang bisa dibilang buruk, penurunannya lebih tajam dari krisis tahun 2008 lalu. Tapi dari analisa fundamental, sesungguhnya masih lebih kuat. Artinya, penguatan kembali akan lebih baik dibandingkan tahun 2008. Bagi yang ingin investasi jangka panjang, sekarang waktu yang tepat. Jangka panjang ya. Jangan diusik setiap hari.

    Like

  5. kyknya harus memberanikan diri nih sy untuk investasi saham.. belajarnya sama mba Mutia aja boleh ya ..klo sy skrg baru berani investasi di LM mba krna wujud brngnya kliatan dan trendnya naik.. heheh

    Like

  6. THR yang aku terima nggak segede tahun lalu, tapi bisa disave sebagian untuk dana darurat. Lihat banyak kejadian org berkerumun, saya sanksi pandemik ini akan cepat berakhir. Makanya perlu simpan dana darurat.

    Like

  7. Kalau kata mamak-mamak milenial, jangan gunakan kata jangan *eh 😀
    Alhamdulillah tahun ini kami nggak foya-foya pakai tehaer, soalnya nggak dapat tehaer hahahaha.

    Tapi bener ya, saya kadang nyesal, dulu waktu single, kalau pas terima tehaer, udah deh ngemol, beliin sesuatu buat mama, bapak dan ponakan, dan akhirnya nggak bisa nabung hehehe

    Tapi Alhamdulillah, rezekiNya begitu luas 🙂

    Like

  8. Berbahagialah mereka yang punya THR…. Saya tidak pernah dapat. Hihihi.
    Lha pancene tidak ngantor. WKwkwk.

    SAya setuju. Jangan hambur-hamburkan uang THR. Perjalanan masih panjang. APalagi banyak keponakan yang menanti.
    Eh….

    Like

  9. Betul tuh, mengatur keuangan itu harus cermat, kalau salah pasti ga balance, dan yg paling susah itu menahan godaan untuk belanja, hehehe

    Like

Leave a Reply to bunda sugi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.