10 Kenangan Indah tak Terlupakan Saat Menjadi Ibu

Kenangan indah bersama anak tak mungkin bisa diulang. Dunia mereka terus maju, tak pernah mundur. Menjadi ibu pun tak mengenal kata selesai. Tak ada habisnya, terus berubah, terus berkembang. Siap tak siap, kita harus siap menjalaninya.

Beberapa hari lalu seperti biasa aku mengeloni Kakak Mae tidur siang. Matanya mengantuk, aku datang menghampiri, lalu kupeluk tubuhnya dari belakang. Kubelai rambutnya, kucium pipinya, dia tenang, hingga beberapa menit kemudian aku mendengar sederet kalimat yang dia ucapkan. Kalimat yang tiba-tiba membuatku sangat sedih, jadi mellow, galau kayak lagu-lagu Teh Melly Goeslow.

“Bun, Mae mau bobok sendiri.”

My little girl is growing up! Mengapa semua terjadi begitu cepat? Rasanya baru semalam Kakak Mae masih sebuntal bayi lucu yang ingin kupeluk dan kususui. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya kemana-mana, tahu-tahu sekarang udah bisa main kejar-kejaran dan tingginya udah hampir semester.

10 Kenangan Indah Ibu Tentang Anaknya

Kenangan indah itu tinggal kenangan. Waktu telah mengubahnya. Itu membuatku berpikir lagi, berapa banyak waktu yang kuhabiskan duduk di sofa atau berbaring di kasur sambil menyusuinya? Padahal aktivitas ini  bagiku dulu sangat menguras tenaga.

Berapa ratus jam kuhabiskan untuk menidurkannya di malam hari? Padahal dulu dalam hati aku tak henti bertanya, sampai kapan aku harus begini? Kapan aku bisa tidur nyenyak malam hari? Kapan gedenya ini bayi? Aku merasa hari-hari menyusui bayi itu sangat panjang dan bikin baper hati.

Sekarang, empat tahun kemudian aku sedih mengakui diam-diam aku harus mengucap selamat tinggal pada hari-hari itu, hari-hari bersama puteri kecilku dulu. Berikut 10 kenangan indah tak terlupakan saat aku menjadi ibu dari puteri kecilku nan lucu.

1. Tendangan pertama si kecil di perut

Pertama kali Kakak Mae menendangku di dalam perut, rasanya seperti ada teman baru menyapaku. Teman setia yang menyertaiku kemana pergi selama sembilan bulan penuh.

View this post on Instagram

20 minggu anak kacangku πŸ™‚ love you dear

A post shared by Mutia Ramadhani (@muthe_bogara) on

Momen itu membuatku merasa sempurna menjadi ibu. Momen penuh haru yang menguatkanku hingga hari lahirnya tiba.

Tidak semua ibu melahirkan normal. Ada yang harus sesar. Namun, percayalah, yang namanya fase kehamilan berlaku sama untuk seluruh perempuan di dunia. Rasanya tiada dua dan tak akan terlupa.

2. Masa-masa menyusui

Kakak Mae alhamdulillah lulus S3 ASI. Perjuangan menyusuinya dengan keras kepala sungguh tak bisa kulupa. Aku pun tak tahu dapat tenaga dari mana untuk terus mencukupkan ASI Mae mengingat aku merangkap ibu bekerja.

Bangun dua kali di malam hari hanya untuk memompa ASI. Kadang mata terpejam, tapi tangan tak berhenti pumping. Diam-diam mengendap-endap buka kulkas karena perut mendadak lapar. Semua pejuang ASI pasti pernah mengalaminya.

Produksi ASI-ku tidak berlebih, cukupan saja. Beberapa kali aku harus kejar setoran untuk stok ASIP di kulkas supaya bisa tenang meninggalkan Maetami dan pengasuhnya di rumah ketika harus liputan.

Ada momen di mana aku mengalami mastitis. Payudara membatu kanan dan kiri. Saking frustasinya ASI banyak tapi tak kunjung keluar, aku pernah mengambil garam kristal di dapur dan menusuk beberapa lubang putingku, supaya saluran ASI yang mampet bisa lancar lagi. Sungguh itu rasanya sangat menyiksa. Khusus yang ini jangan dicontoh ya. Aku sekadar  berbagi pengalaman saja, saking frustasinya waktu itu.

Tak peduli seberapa lelah aku pulang kerja, aku selalu bahagia menyusui Mae. Tangan mungilnya menyentuh dadaku, seakan ingin membantu memperlancar ASI ibunya. Dua pasang mata indahnya sesekali mendongak menatapku serius, seakan memintaku sabar karena dia masih haus dan ingin mimik lebih lama.

Pernah juga Mae megap-megap dan berhenti mengisap karena aliran ASI-ku terlalu deras. Dia berusaha meminum setiap tetesnya, tanpa ingin ada tetesan yang terbuang percuma. Momen-momen menakjubkan ini jelas tak akan terulang.

3. Sibuk di dapur mengurus MPASI

Maetami adalah guru terbaikku. Tanpa dia aku tak akan belajar apa saja nutrisi dan gizi yang dibutuhkan bayi. Aku tak akan tahu apa itu menu empat bintang.

Maetami yang mengajarkanku rajin bangun pagi untuk membuat bubur bayi. Kulkas yang biasanya tak penuh menjadi  penuh dengan bahan-bahan MPASI.

Dari Mae aku belajar apa itu makan lahap, apa itu momen GTM yang membuat setiap ibu seperti ingin salto dan nangis jerit seketika.

Senyumku mengambang saat melihat Mae begitu lahap menghabiskan makanan di mangkoknya. Kadang dia ingin nambah, kemudian kekenyangan, dan langsung tertidur lelap.

Perjalanan MPASI Mae bak roller coaster bagiku. Laporan berat badannya setiap bulan membuatku deg-degan. Jika dia banyak makan, beratnya bisa bertambah 500-800 gram per bulan. Jika kurang, berat badannya stagnan atau cuma naik sedikit.

Setiap malamnya aku tak pernah absen memikirkan besok bikin menu apa lagi ya? Aku tak ubahnya seperti koki baru di Master Chef Indonesia yang ingin terus meningkatkan keahlian.

#MPASIMaetami

Momen saat aku bisa sharing menu-menu MPASI Mae di Instagram juga tak kalah berkesan. Lewat tagar #MPASIMae dan #MPASIMainaka banyak sekali yang menyambut positif menu-menuku. Ada yang DM di Instagram menyampaikan terima kasih atas contekan menunya. Ada yang DM tanya-tanya soal menu tertentu dan masalah makan anak. Duh, berasa jadi konselor dadakan.

4. Langkah pertama puteriku

Yes, she walked. She took her first steps. Pertama kali Kakak Mae berjalan tanpa bantuan ibun dan papanya. Pertama kali Kakak Mae lepas dari baby walker-nya.

Setiap akhir pekan membawa dia ke taman kota, melatihnya berjalan. Mae sangat takut menjejakkan kakinya di rumput dan pasir pantai. Entah kenapa. Beberapa kali kami membawanya ke Pantai Kuta, Kakak Mae menjerit sejadi-jadinya saat pasir dan air laut menyentuh kakinya.

Langkah kecilnya hari ini adalah awal dari ribuan langkahnya di depan. Boleh jadi hari ini aku ada di setiap langkahnya, namun di masa depan ada jutaan langkah akan dia jelang tanpa ibun dan papanya.

5. Dia panggil aku mama

Kakak Mae belum bisa memanggilku ibun pertama kali. Dia memanggilku mama. Sesungguhnya bukan mama kata pertama yang diucapkannya, melainkan papa. Duh, menang banyak deh si papa.

Papa, mama, mbak, kakak. Kakak Mae cepat menghapal empat kata itu. Tentu saja, karena sejauh penglihatannya hanya ada empat orang di planetnya, yaitu aku, suami, pengasuhnya, dan anak pengasuhnya.

Dada, baba, mama, papa, bukan kebetulan Mae pandai berbicara seiring bertambah usianya. Kecerdasannya berkembang pesat. Dia mulai menghapal banyak kosakata, semakin girang bertepuk tangan, bersenandung mengikuti lagu, mencoba menghapal nyanyian dengan bahasa bayinya, hingga akhirnya bisa menyanyikan lagu-lagu anak secara utuh.

Begitu kuluangkan waktu sejenak merenungkan karunia Allah ini, aku merasa hidupku penuh berkah luar biasa. Terima kasih Ya Allah.

6. Bayiku mandiri dengan caranya sendiri

Ibu adalah support system pertama putera-puterinya. Saat pertama kali melihat Kakak Mae makan sendiri dengan tangan atau sendok, aku kerap bersorak seperti anak ABG abis nonton konser K-Pop. Senang sekali.

Hari demi hari Kakak Mae menjadi sosok anak pemberani. Dia berani berinteraksi dengan hewan sekelilingnya, mulai dari anjing, kucing, domba, kelinci, kuda, burung. Dia tidak takut sama sekali.

Hari demi hari bayiku mandiri dengan caranya sendiri. Dia belajar memakai kaos kaki sendiri, memakai sandal sendiri, menyisir rambut sendiri, memakai baju sendiri, aku tak sangka rasanya bisa sebahagia ini. Kakak Mae mengembangkan keterampilan luar biasa.

7. Tak mau pisah dari ibun dan papa

Lenganku sering mati rasa karena menggendong Kakak Mae sepanjang hari saat berada di fase growth spurt. Ada momen di mana puteriku mulai menandai orang-orang sekitarnya. Dia yang biasanya mau digendong siapa saja,  mendadak menjadi pemilih.

Dia terus menggelayut manja tak mau lepas dariku. Nempel kayak perangko. Aku pun tak punya pilihan selain membawanya kerja sejauh yang aku bisa.

Setelah berusia tiga tahun dan aktif bermain, kakak mulai rajin protes. “Papa kok kerja? Ibun kok kerja?” Sekarang begitu ibunnya udah gak kerja lagi, pertanyaan sama masih dilontarkan pada papanya, bahkan lebih ekstrem melarang, “Papa gak boleh kerja!”

8. Kejutan dan hadiah kecil dari si kakak

Aku begitu terharu ketika Maetami gemar memberikan hadiah untuk ibun juga papanya, mulai dari gambar, rumah-rumahan kertas, susunan lego, atau hiasan-hiasan abstrak. Wajah Kakak Mae begitu bercahaya saat menarasikan karya-karyanya.

“Ini papa, ini ibun, ini adek Rashif, ini adek Rangin,” kata Mae sambil memberikan secarik kertas bergambar padaku. Hari berikutnya dia menggambarkanku sebuah rumah besar. Kakak Mae bilang itu rumah untukku dan kedua adik kembarnya.

View this post on Instagram

Makasih kakak β€οΈπŸ’•

A post shared by Mutia Ramadhani (@muthe_bogara) on

Pernah juga Kakak Mae menggambar hati sambil membisikkan, “I love you, ibun” di telingaku Hati ibu mana yang gak mengharu biru melihat anaknya seromantis itu.

9. “Aku bisa, aku pintar!”

Pernah tidak mendengar anak kita berteriak mengatakan dia bisa dan dia pintar saat berhasil melakukan sesuatu? Ada deru rasa bangga di dada mendapati anak kita begitu percaya diri dan berhasil menaklukkan hal yang pada mulanya dia anggap susah.

Pertama kali Kakak Mae bisa sikat gigi sendiri. Pertama kali Kakak Mae bisa membedakan sandal kiri dan sandal kanan. Pertama kali dia bisa memakai kaos kaki dengan benar. Pertama kali dia berani pergi ke kamar mandi sendiri dan pipis sendiri.

Pertama kali dia bisa membuka bungkusan snack makanan  ringan kesukaannnya. Pertama dia bisa menghapal ABCD, membuat menara lego aneka bentuk, membuat gradasi warna di gambar-gambarnya.

10. Melepas anak kesayangan menikah

Aku belum berada di tahapan ini, namun semoga aku ada bersama puteriku saat hari bahagia itu tiba. Aku merasakan bagaimana perasaan ayah dan ibuku saat aku dan mas meminta restu mereka untuk menikah. Ayah yang biasanya santai dan tegar, tiba-tiba menangis bahagia.

Ayah berpesan padaku, β€œBahagia itu adalah pilihan, sehingga pertahankan apa yang sudah kamu pilih.” Dan aku memilih mas, sehingga aku akan mempertahankannya selamanya

Sejauh aku merindukan hari-hari yang telah lalu, pada saat sama aku tak menyangkal aku juga menikmati kebebasan kecil yang kembali seiring bertambah dewasanya si kakak. Aku bisa membuka laptop dan nge-blog lagi. Aku bisa mengalihkan waktu yang biasa dihabiskan mengurus si kakak untuk mengurus si kembar.

Perjalananku sebagai ibu masih sangat panjang, sebab sejatinya ini adalah pekerjaan seumur hidup. So, jatuhnya kayak paradoks gitu ya?

Di satu sisi kita masih ingin dibutuhkan anak, sementara di sisi lain kita merindukan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Saat rasa seperti itu tiba, hendaknya kita kembali mengingatkan diri, bukankah doa kita selama ini adalah putera-puteri kita tumbuh menjadi anak soleh soleha, cerdas, penyayang, percaya diri, mandiri, dan kelak berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama? Sebagai orang tua, bukankah itu harapan kita terhadap anak-anak kita?

Sekarang kita hanya bisa menikmati kerinduan itu. Rindu si kecil bergelayut manja di dekapan kita. Rindu suara tangisnya minta digendong dan dipeluk. Rindu suara kecilnya saat memanggil ibu atau mama begitu bagun di pagi hari.

Yuk, peluk bayi kita saat ini. Cium dia sebanyak mungkin, sambil menyanyikannya lagu-lagu pengantar tidur di malam hari. Suatu hari masa-masa itu tak akan ada lagi. Suatu hari anak-anak kita akan pergi. Suatu hari rumah yang biasa ramai akan bergeming, sepi. Apakah kita sudah siap saat hari itu tiba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.