Selektif Pilih Mainan Make Up Anak

Saat beranjak tiga tahun, Maetami putri kecilku sudah minta dibelikan perlengkapan make up anak. Tak kupungkiri si kakak mungkin terobsesi karena sering melihatku berdandan saat keluar rumah.

Maetami juga kerap menonton channel YouTube anak yang memperlihatkan tutorial make up ‘acakadut’ dari youtuber-youtuber cilik itu.

Selain bermake-up ria, si kakak juga senang mewarnai kuku. Awalnya dia menggunakan spidol gambar, lalu diam-diam mengecat kuku tangannya dengan cara bersembunyi di bawah meja atau membelakangi kursi.

Hasilnya? Kukunya sukar dibersihkan. Warnanya juga tidak rapi, lebih mirip kuku penyihir ketimbang kuku tuan putri. Aku pun akhirnya berinisiatif membelikan si kakak cat kuku anak yang mudah dibersihkan.

Bagaimana dengan mainan make up? Sebagai seorang ibu, wajar aku masih bingung mengedukasi Maetami untuk memahami kapan usia tepat untuk berdandan, bagaimana caranya supaya dia paham perbedaan riasan anak dan riasan orang dewasa.

Duh, anakku masih tiga tahun #sambilgelenggelengkepala.

Tips Memilih Mainan Make Up Anak

Akhirnya aku luluh juga. Satu set mainan kosmetik anak dikirim Abang Gojek ke rumah. Awalnya kupikir tak masalah si kakak main dandan-dandanan selama item yang dipakai sudah SNI, disertifikasi halal, dan lulus BPOM.

Toh, melukis wajah sama saja dengan melukis di kertas gambar, atau saat dia mencoret dinding rumah kami. Bukankah itu dapat meningkatkan kreativitas si kakak?

Tapi kan itu yang dicoret wajah? Gak takut muka si kakak gatal, atau iritasi? Iya juga ya? Trus, gimana dong? Berikut beberapa tips sebelum membelikan mainan kosmetik untuk anak.

1. Cocokkan dengan umur

Ini adalah hal pertama yang harus dipastikan saat orang tua membelikan mainan apapun untuk anak, tak terkecuali mainan make up. Ini juga penting diperhatikan ketika kita berniat membelikan mainan untuk hadiah anak saudara atau anak sahabat.

2. Cek keamanan produk

Rata-rata semua mainan yang dijual di rak mainan aman untuk bayi, diembel-embeli label khusus, seperti food grade, SNI, BPOM, label halal, dan sebagainya. Memang benar, sebagian besar mainan itu aman, namun ada hal-hal pribadi yang perlu diperhatikan.

Lihat komponen yang terdapat dalam mainan make up anak. Apakah kaca riasnya mudah lepas dan akhirnya bisa melukai si kecil? Apakah tutup pensil alisnya terlampau runcing sehingga bisa melukai bayi, misalnya tercolok ke mata?

Apakah ada sekrup kecil yang mudah lepas dan tertelan? Apakah catnya terlalu mudah mengelupas, sehingga bisa termakan oleh anak?

3. Cek komposisi bahan pembuat produk

Komposisi ini penting mengingat beberapa anak memiliki riwayat kulit sensitif. Sebagian besar mainan make up mungkin tidak mencantumkan komposisi, namun ada baiknya ibu mencari tahu lebih  banyak soal ini, terlebih jika mainan make up anak tersebut diimpor.

Komposisi yang dimaksud khususnya pewarna.  Apakah bahan pewarna untuk kosmetik anak tersebut aman? Pastikan bahan pewarna tersebut tidak mengandung zat kimia berbahaya.

4. Beli yang mudah dibersihkan

Produk kosmetik anak usahakan yang mudah dibersihkan, baik itu cat kuku, lipstik, lipgloss, dan sebagainya. Kosmetik yang mudah dihapus biasanya jarang sekali menimbulkan iritasi kulit pada anak.

Beberapa koleksi mainan make up Maetami

Saya bersyukur saat ini produsen kosmetik lokal, Purbasari sudah memproduksi mainan make up yang aman untuk anak dengan brand Amara.

Setidaknya saya lebih tenang karena ini asli buatan Indonesia yang sudah disertifikasi halal juga lulus uji BPOM. Sejauh ini Maetami bermain dengan beauty kit dari Amara, demikian juga nail polish-nya.

5. Sesuaikan dengan karakter anak

Sekarang banyak sekali produk kosmetik tematik untuk anak. Maetami misalnya senang dengan tema-tema Princess Disney, khususnya Elsa Frozen.

Kosmetik tematik ini membuat anak tidak cepat bosan memainkannya. Mereka juga lebih telaten untuk menyimpan dan menghemat penggunaannya, sehingga mainan tidak cepat rusak.

Manfaat Bermain Make Up dengan Anak

Segala sesuatu terlepas dari pro kontra pasti mengandung manfaat. Ada beberapa manfaat bisa dipetik dari bermain make up dengan anak.

1. Memanjakan rasa ingin tahu anak

Si kakak sering sekali bertanya, “Bun, ini apa?” (sambil menunjukkan kuas bulu blush on). “Bun, ini dipakai di mana?” (sambil menunjukkan pensil alis). Pokoknya semua dia ingin tahu.

Anak-anak sangat ingin tahu tentang produk kecantikan. Saya juga sering mengamati si kakak menggunakannya di tempat salah, misalnya maskara untuk bibir  😆  🙄 Sesering apapun si kecil bertanya, manjakan rasa ingin tahunya.

2. Bersenang-senang dengan anak

Biarkan anak bermain dengan alat make up. Terlalu banyak melarang ini itu hanya membuat mereka kesal dan akhirnya menutup jalur komunikasi. Kita sebagai ibu juga kehilangan kesempatan untuk mengajarkan anak beberapa hal sambil bersenang-senang.

Bermain salon kecantikan adalah cara terbaik supaya terlibat langsung dengan anak. Banyak pesan-pesan positif bisa disisipkan ke anak yang tengah bermain dengan gembira. Pesan-pesan ibu lebih mudah diterima saat otak dan hati anak sedang bahagia.

3. Mempererat bonding ibu dan anak

Seperti halnya berkumpul dengan teman-teman sehobi, demikian juga saat bermain make up dengan anak. Gunakan momen ini untuk memperat ikatan (bonding) antara ibu dan anak perempuan.

Bermain salon kecantikan salah satu cara menghabiskan waktu berkualitas dengan anak. Momen ini sangat manis dan bertahan lama dalam ingatan anak.

4. Mengajarkan anak menjadi diri sendiri

Pelan tapi pasti ibu mengajarkan anak bahwa make up memang bisa mempercantik diri. Namun, kecantikan sesungguhnya berasal dari hati.

Make up tidak boleh mengubah kepribadian anak terlalu obsesif, namun menjadi wadah anak untuk mengekspresikan diri supaya lebih percaya diri.

Biakan anak berkreasi, misalnya mengoleskan lipstik biru atau ungu ke bibir mungilnya selama mereka merasa dirinya cantik. “Luar biasa!” Saya pun tetap memuji si kakak demikian.

Perang Pinkfikasi

Pokok bahasan terakhir ini sedikit menyimpang dari topik utama, namun menarik untuk diketahui. PinkStinks.org adalah sebuah organisasi berbasis di Inggris yang mengampanyekan larangan penjualan dan pemasaran alat make up mainan untuk anak di bawah delapan tahun.

Founder PinkStinks, Abi Moore dan Emma Moore menilai tren mainan anak perempuan yang berpusat pada riasan dan kaca ini sangat mengganggu. Menjadikan kecantikan sebagai tujuan utama anak-anak gadis abad ke-21 secara tak langsung merusak generasi.

Mereka menyebut ini dengan fenomena pinkifikasi di mana anak-anak perempuan dibatasi stereotip pink adalah warna terbaik untuk anak perempuan. Jika ingin cantic, pakai pink. Ada juga cuitan “Smart like Daddy, Pretty like Mommy” yang dinilai keliru.

Saat ini semakin ramai produk-produk kosmetik untuk anak di bawah tiga tahun dijual di pasaran. Selain make up wajah dan cat kuku, ada kuku palsu, bulu mata palsu, hingga anting dan kalung. Produsen bahkan mengiming-imingi manfaatnya untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Bagi saya pribadi, saya tak masalah Maetami bermain make up. Saya melihatnya sebagai  bagian dari permainan peran, misalnya saat dia menjadi super model sambil mengenakan heels ibunya yang kebesaran, bermain dokter-dokteran dengan boneka, atau saat dia berpura-pura menjadi koki professional dengan bermain masak-masakan di dapur. Saya pikir itu normal.

Ibu-ibu yang lain mungkin mempunyai pandangan berbeda. Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar. Terima kasih.

Advertisements

2 thoughts on “Selektif Pilih Mainan Make Up Anak

  1. Hai, Mbak…
    Aku setuju2 saja ya anak2 “play role” karena emang baik buat anak. Malahan ada yang nyaranin, misal.main dokter-dokteran ajak juga ketemu dokter beneran biar anak-anak dpt exeprience. Pun, yang make up ini ya? Kebetulan sih anakku cowok, tp ponakanku beberapa kali minta cuma belum kubeliin karena aku ga faham mainan make up ini beneran bisa dipake, ya? Hahaha
    Salam buat si kecil ya, Mbak…

    1. Iya mba, bermain peran itu penting untuk meningkatkan daya imajinasi anak. Makanya saya oke oke saja kalo si kakak jadi make up artist cilik. Hehehe. Apalagi di masa depan pekerjaan yang dibutuhkan itu adalah pekerja kreatif di industri kreatif. Jadi, punya hobi segudang sejak kecil tak masalah.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.