Kajian Al Hijrah: Sempurnakan Bersucimu

45383171_10212923427383699_3926938751065915392_n.jpg

Alhamdulillah awal November 2018 kembali diberi kesehatan oleh Allah SWT untuk ikut pengajian bareng emak-emak Periskasel di rumah Mba Nety. Masih bersama Ustaz Zainuddin, kali ini beliau membahas tentang bersuci (thaharah). Penting banget iniiiiii. Hihihi.

Ibadah itu tidak boleh seenak kita. Dasarnya semua Alquran dan hadis. Ibadah bukan pula masalah enak atau gak enak, melainkan sebuah kewajiban yang harus dipatuhi mengikuti ketentuan yang berlaku dalam Islam.

Ketika ada perdebatan mengenai perkara akidah, semua harus dibawa ke Alquran dan sunnah. Dasar Muslim menyikapinya adalah sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami patuh). Akal harus di bawah Alquran dan hadis. Meski kalimat di atas cuma ada dalam Islam, namun menurutku apapun agama di dunia ini pasti mengharuskan umatnya patuh pada aturan-aturan dalam agama tersebut. Ya kan?

Bersuci masuk dalam perkara akidah, sebab kaitannya dengan shalat, tiang agama kita. Shalat menyangkut hubungan antara Rab dan hamba yang menjadi kewajiban kedua dalam Rukun Islam setelah bersyahadat.

Shalat adalah patokan seorang mukmin dan kafir. Kedua golongan ini dibedakan dari shalatnya. Orang mukmin pasti menunaikan shalat, dan orang kafir pasti meninggalkan shalat. Jadi, meski seseorang mengaku Muslim, namun meninggalkan shalat, maka dia tetap saja masuk golongan kafir.

Shalat adalah amalan pertama manusia yang dihisab Allah. Jika shalatnya baik, maka amalan lain akan mengikuti.

Penyejuk hati Nabi Muhammad SAW adalah shalat. Rasulullah pada zamannya sering meminta Bilal bin Rabah untuk mengistirahatkannya dengan shalat, yang berarti Nabi meminta Bilal untuk azan saat waktu shalat fardhu telah tiba.

Masya Allah ya? Bagi Nabi SAW, istirahat itu adalah shalat. Bagi kita sekarang? Istirahat itu ya tidur, ngemil, nonton, atau me time. Shalat pun kadang jarang tepat waktu. Astaghfirullah, semoga bisa lebih disiplin ke depannya.

Shalatnya Muslim tidak akan sah kecuali didahului bersuci dengan benar. Yuk, tanya lagi diri kita, apakah sudah bersuci dengan benar?

Kadang tidak semua adab bersuci, mulai dari berwudhu, membersihkan hadas dan najis kita ketahui dengan baik. Kadang kita masih ragu atau tanpa sadar melakukan kesalahan yang akhirnya mengurangi pahala shalat kita.

Ustaz Zainuddin mengatakan bersuci itu ada dua, secara fisik (indrawi) dan secara istilah (maknawi). Jika bersuci secara istilah tak terpenuhi, maka terhapuslah sucinya.

Bersuci secara istilah adalah mengangkat hadas dan menghilangkan najis. Hadas adalah proses pembatalan wudhu, sedangkan najis adalah zat yang dihasilkan.

Contoh kasus, kita setelah berwudhu dan ingin menunaikan shalat ke masjid, di tengah jalan tanpa sengaja menginjak kotoran kucing. Wudhu kita dalam kondisi ini tidak batal, sehingga cukup bersihkan saja najisnya. Hal sama berlaku dalam kasus lain, seperti baju ibu yang terkena kencing anak. Dalam kondisi ini, wudhunya tak batal dan tidak harus mengulang wudhu. Hanya saja, si ibu berkewajiban membersihkan najisnya dengan mengusap dengan air atau bertayamum.

So, udah clear yaaa, menyentuh najis (yang berasal dari luar tubuh sendiri) itu tidak membatalkan wudhu. Menghilangkan najis tidak wajib berniat, sedangkan menghilangkan hadas wajib berniat.

Hadas adalah mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh, misalnya hadas kecil (kentut, buang air kecil, buang air besar) dan hadas besar (haid atau nifas, bersetubuh lalu mengeluarkan sperma atau air mani). Hadas kecil adalah hadas yang mewajibkan wudhu, sedangkan hadas besar adalah hadas yang mewajibkan mandi wajib (junub).

Junub juga harus disertai niat terlebih dahulu. Jika tidak berniat, maka orang tersebut dianggap mandi biasa dan tidak akan sah ibadah shalat yang dilakukannya setelah itu. Hayoooo, siapa yang suka lupa berniat saat mandi junub? Semoga bisa menjadi bahan koreksi masing-masing. Adab dan tata cara junub ini akan dibahas dalam kajian Al Hijrah bulan berikutnya, masih dengan Ustaz Zainuddin.

Air adalah media utama untuk bersuci. Bentuknya bisa berupa air yang muncul dari langit (hujan, embun, salju), atau air yang muncul dari bumi (air tanah, air sungai, air laut, air danau, mata air). Semua air ini hukumnya suci.

Bagaimana dengan air yang sudah bercampur dengan zat tertentu digunakan untuk bersuci? Air galon, air di bak mandi yang kecipratan busa sabun, air bak mandi yang kecipratan air kencing, air sungai yang mengalir di mana masyarakat juga mencuci baju di sana, maka air-air seperti ini masih boleh digunakan untuk bersuci. Beda kondisinya dengan air teh, air kopi, atau air sirup yang jelas tidak bisa digunakan untuk bersuci.

Ustaz Zainuddin menyebut selama air tersebut tidak kehilangan dominasinya, dalam hal ini tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berubah warna maka tetap dianggap air suci dan mensucikan.

Advertisements

2 thoughts on “Kajian Al Hijrah: Sempurnakan Bersucimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s