Mangrove untuk ketahanan pangan dan ekonomi Raja Ampat
Mangrove untuk ketahanan pangan dan ekonomi Raja Ampat

Oktober nanti, jajaran pejabat, peneliti, sampai aktivis iklim berkumpul lagi di Bangkok Climate Action Week 2026. Mereka akan berdiskusi soal cara menyelamatkan bumi. Pada saat bersamaan, kawasan mangrove di berbagai pesisir Indonesia sudah lebih dulu kerja keras menahan gempuran ombak dan naiknya permukaan air laut.

Kalau dipikir-pikir, kita sebenarnya tak melulu menunggu jawaban dari ruang konferensi yang formal. Di kampung-kampung pesisir, masyarakat lokal kita sudah berhadapan langsung sama urusan ini setiap hari. Salah satu cerita menarik datang dari Kampung Friwen di Raja Ampat, Papua Barat Daya. 

Di sana, mangrove memang sudah jadi bagian dari rutinitas harian warga setempat. Bagi masyarakat Friwen, mangrove itu ibarat benteng alami sekaligus lumbung pangan. Cerita ini dibagikan oleh Wawiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), melalui diskusi soal ketahanan pangan lokal bareng Eco Blogger Squad.

Lewat dukungan The Asia Foundation di Program PAPeDA, PKPRA bareng warga mulai merancang cara mengelola mangrove dengan pendekatan-pendekatan sederhana. Mereka paham banget, kalau cuma modal teriak “Jangan tebang mangrove!” cara itu tidak bakal mempan buat masyarakat.

Pendekatan yang dipakai PKPRA langsung fokus ke masalah utama. Kalau masyarakat diminta menjaga mangrove, lalu apa manfaat nyata yang bisa mereka dapatkan buat kehidupan sehari-hari?

Perempuan Tahu Isi “Tas” Hutan

Dalam cerita Wawiyai, perempuan mendapat tempat yang cukup penting dalam Progra PAPeDA. Secara adat, keputusan mengenai kepemilikan dan pengelolaan sumber daya alam di sejumlah wilayah Papua banyak berada di tangan laki-laki. Akan tetapi, kalau kita melihat kehidupan sehari-hari di kampung pesisir, ceritanya berbeda.

Laki-laki bisa pergi melaut berhari-hari, sementara perempuan dan anak-anak tetap berada di kampung. Mereka yang setiap hari bersentuhan dengan kebun, pesisir, hutan, dan mangrove.

Mereka tahu tanaman apa yang bisa dimanfaatkan. Tahu lokasi tumbuhnya. Tahu kapan bisa dipanen. Bahkan perubahan kecil di lingkungan sekitar pun sering kali lebih cepat mereka sadari karena memang merekalah yang paling sering berada di sana.

Wawiyai punya perumpamaan yang menarik untuk menjelaskan hal ini. Perempuan, katanya, seperti orang yang tahu isi sebuah tas. Mereka tahu apa saja yang ada di dalamnya.

Pengetahuan tentang mangrove tersimpan dalam ingatan, kebiasaan, resep masakan, cerita orang tua, dan pengalaman yang diulang bertahun-tahun. Itulah yang kemudian coba diperkuat di Friwen.

Dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang dikembangkan di Friwen, sekitar 80–90 persen anggotanya adalah perempuan. Kelompok patroli mangrove bahkan sebagian besar beranggotakan perempuan.

Mereka ikut memetakan kawasan, mengawasi kondisi hutan, mengolah hasilnya, membuat produk, sampai memikirkan bagaimana produk tersebut bisa dijual. Jadi, perempuan tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima manfaat program. Mereka ikut menjadi pelaku.

Perempuan, garda terdepan mangrove Raja Ampat
Perempuan, garda terdepan mangrove Raja Ampat

Saat Mangrove Mulai Terdesak

Sebelum bicara tentang produk dan inovasi, masyarakat Friwen lebih dulu berhadapan dengan persoalan cukup serius. Mangrove di wilayah mereka mengalami tekanan.

Berdasarkan pemetaan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, dalam periode 2009–2019 sekitar 57 persen dari 233 hektare kawasan mangrove mengalami kerusakan. Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan kayu untuk pembangunan homestay dan resort.

Raja Ampat adalah wilayah kepulauan. Ketersediaan kayu di daratan tidak selalu mudah, sementara pariwisata terus berkembang. Mangrove pun ikut dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku. Di sini ada persoalan yang tidak gampang dijawab.

Pariwisata membutuhkan lingkungan yang sehat dan indah. Akan tetapi, ketika pertumbuhannya tidak diikuti pengelolaan sumber daya yang baik, sektor yang sama juga bisa memberikan tekanan kepada lingkungan.

Masyarakat Friwen mencoba mencari cara supaya hutan tetap ada, tetapi masyarakat juga tetap mendapatkan manfaat. Mereka melakukan pemetaan partisipatif, identifikasi jenis-jenis mangrove, pemetaan ruang kelola, pembibitan hingga penanaman kembali di kawasan yang rusak.

Zonasi kawasan konservasi di Raja Ampat (Sumber: The Asia Foundation)
Zonasi kawasan konservasi di Raja Ampat (Sumber: The Asia Foundation)

Ketika Mangrove Masuk Dapur

Hal yang tak kalah penting, ternyata mangrove juga bisa menjadi sumber pangan. Bagi masyarakat Papua, buah dari jenis mangrove tertentu telah dimanfaatkan sebagai pangan secara turun-temurun.

Wawiyai menceritakan bahwa masyarakat Suku Biak mengenal pemanfaatan mangrove sebagai makanan sejak lama. Bahkan, dalam sejarah perjalanan mereka, pangan dari mangrove ikut dibawa sebagai bekal ketika masyarakat melakukan perjalanan antarpulau. Masalahnya, pengetahuan tersebut perlahan mulai hilang.

Generasi muda semakin jarang mengenal makanan yang dahulu akrab dengan meja makan orang tua dan kakek-nenek mereka. Beras dan pangan dari luar kampung menjadi pilihan yang lebih umum.

Padahal untuk wilayah kepulauan seperti Raja Ampat, mendatangkan bahan pangan bukan perkara murah. Perjalanan dari kampung ke pusat kabupaten dilakukan melalui laut. Ongkos transportasi, jarak, cuaca, dan berbagai persoalan logistik harus diperhitungkan.

Karena itu, menghidupkan kembali pangan lokal tidak cukup dilihat sebagai upaya bernostalgia dengan makanan masa lalu. Di sana ada misi ketahanan pangan. Kalau sebagian kebutuhan bisa dipenuhi dari sumber pangan yang tersedia di sekitar kampung, masyarakat memiliki pilihan yang lebih beragam.

Tentu bukan berarti mangrove kemudian boleh dipanen sesuka hati. Pemanfaatannya harus mengikuti batas kemampuan ekosistem untuk pulih. Sebab kalau semua buah mangrove misalnya diambil hari ini, besok atau di masa depan mau mengambil dari mana?

Aneka olahan mangrove Raja Ampat (Sumber: The Asia Foundation)
Aneka olahan mangrove Raja Ampat (Sumber: The Asia Foundation)

Produk dari Pangan Kampung

Program PAPeDA bersama PKPRA kemudian mencoba membawa pengetahuan tersebut selangkah lebih jauh. Bahan pangan dari mangrove tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan keluarga. Masyarakat juga didorong mengembangkan produk turunannya agar memiliki nilai ekonomi.

Buah mangrove dapat diolah menjadi tepung. Daniel Kbarek, Program Officer The Asia Foundation, mengatakan jenis Bruguiera gymnorrhiza alias lindur, misalnya, ternyata bisa diolah menjadi tepung karbohidrat lokal pengganti gandum.

Tepung alternatif ini bisa diolah lagi jadi aneka kue kering sampai keripik renyah yang punya nilai jual tinggi di pasar ekonomi kreatif. 

Sari buah mangrove juga bisa disulap jadi sirup dan minuman kesehatan alami yang kaya antioksidan. Bayangkan, bahan baku yang tadinya cuma dibiarkan jatuh begitu saja, sekarang bisa naik kelas jadi produk kuliner unik yang menyehatkan. 

Ada pula pengembangan mi mangrove. Produk-produk tersebut kemudian dikemas lebih menarik.

Urusan kemasan ternyata punya pengaruh besar. Makanan yang enak belum tentu langsung membuat orang ingin membeli. Apalagi jika calon pembeli sama sekali tidak tahu bahan yang digunakan atau cerita di balik makanan tersebut.

Sebaliknya, kemasan yang menarik bisa membuat orang melirik kemudian tertarik. Produk hasil kelompok masyarakat kemudian dipasarkan melalui galeri kampung, homestay, dan resort.

Ada pula upaya membangun kerja sama dengan pemilik usaha pariwisata agar produk lokal bisa masuk ke pasar wisatawan. Dengan begitu, orang yang datang ke Raja Ampat juga bisa mencicipi hasil hutan yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Satu lagi potensi yang jarang terpikirkan orang awam. Nektar bunga mangrove ternyata adalah “tambang emas” buat para peternak lebah. 

Bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang ranting mangrove menyajikan nektar melimpah yang disukai lebah madu. Hasilnya? Madu mangrove murni dengan rasa manis-gurih yang khas, serta kaya akan kandungan antioksidan spesifik yang sangat baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

Mengembangkan budidaya madu mangrove ini bisa dibilang sebagai strategi pelestarian yang sangat cerdas. Kenapa? Karena lebah butuh bunga yang sehat untuk menghasilkan madu berkualitas, dan bunga yang sehat cuma bisa tumbuh kalau hutan mangrovenya tetap terjaga rapat. 

Secara tidak langsung, usaha madu ini memaksa dan memotivasi warga untuk terus merawat benteng pesisir mereka. Ekosistemnya tetap rimbun terlindungi, sementara warganya bisa memanen madu manis yang punya harga jual sangat menjanjikan.

Berbagai inisiatif olahan pangan dari mangrove ini jelas jadi bukti nyata kalau kekayaan alam pesisir bisa mendatangkan kemandirian pangan sekaligus membuka peluang bisnis baru buat masyarakat sekitar. 

Pidada, Tanaman Sejuta Cerita

Pengalaman Friwen mengingatkanku pada salah satu tumbuhan mangrove dari kampung halaman sendiri di Pasaman Barat. Namanya pidada atau Sonneratia caseolaris.

Aku sering menemukannya di kawasan mangrove yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir Pasaman Barat, mulai dari Nagari Maligi, Nagari Katiagan, dan Air Bangis, sampai pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Taming, Pulau Harimau, dan Pulau Panjang.

Kalau sedang melihat kawasan mangrove, mungkin kita tidak langsung menganggap pidada sebagai sesuatu yang istimewa. Padahal tanaman ini punya fungsi ganda loh.

Ia bagian dari ekosistem pesisir, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Cerita pidada ini berkaitan dengan apa yang terjadi di Friwen.

Kita sering membicarakan tumbuhan dari satu sisi saja. Sebagai tanaman yang harus dilindungi, atau sebaliknya sebagai bahan yang bisa dimanfaatkan. Padahal bisa saja keduanya berjalan bersamaan, misalnya pidada ini.

Buah pidada (Sonneratia caseolaris)
Buah pidada (Sonneratia caseolaris)

Setidaknya ada empat alasan pidada menarik untuk dilirik.

1. Punya Fungsi Ekologis

Kita tak bisa lepas dari peran pidada sebagai tumbuhan mangrove di garis pantai. Tumbuhan ini salah satu benteng utama di dalam ekosistem mangrove. 

Akar-akarnya yang kuat itu kerja keras tiap hari menahan gempuran abrasi, mengikat lumpur pesisir, sampai jadi rumah yang aman buat anak-anak ikan dan kepiting kecil. Jadi, pas kita heboh bahas potensi bisnis atau olahan buahnya, fungsi penjaga alam ini tetap wajib nomor satu untuk diperhatikan.

Jangan sampai nih, gara-gara buahnya enak dan laku dijual, pohon pidada malah ditebangi secara berlebihan. Seharusnya, makin kita tahu buah pidada ini ada harganya, makin besar alasan kita buat menjaga hutan mangrove tempat dia tumbuh. 

2. Bisa Jadi Jus dan Sirup

Jujur aja, kadang susah ya mengenalkan bahan pangan lokal baru ke masyarakat luas kalau bentuknya kelihatan terlalu aneh. Nah, uniknya buah pidada ini, dia sangat gampang diolah jadi jus atau sirup. 

Menurutku, ini langkah yang sangat taktis. Kita tak perlu repot-repot mengedukasi orang dari nol cuma buat kasih tahu cara minumnya, soalnya sirup dan jus kan memang sudah jadi bagian dari keseharian kita.

Kalau biasanya pas belanja di minimarket kita cuma ketemu sirup rasa jeruk, stroberi, atau markisa, sirup dari buah mangrove ini membawa sensasi berbeda. 

Pidada itu punya rasa manis-asam segar yang khas banget ala pesisir. Mengubah buah lokal jadi minuman populer kayak gini tuh cara yang smart untuk mengenalkan kekayaan alam pesisir ke lidah orang kota, tanpa bikin mereka merasa asing sama rasanya.

3. Bisa Dibikin Sambal

Kalau ditanya apa makanan yang paling bikin orang Indonesia bersatu, jawabannya pasti sambal! Makanya, mengolah buah pidada jadi racikan sambal itu ide yang jenius banget. 

Kita tak perlu panjang lebar lagi menjelaskan cara makannya bagaimana, wong negara kita ini kan memang “Negeri Sambal.” Apapun bahannya, kalau sudah diulek bareng cabai, pasti langsung habis di meja makan.

Sambal itu bukti betapa fleksibelnya kuliner Nusantara kita. Karakter buah pidada yang cenderung asam segar justru pas banget pas ketemu gurihnya terasi dan pedasnya cabai rawit. 

Ini contoh nyata hasil alam dari ekosistem mangrove bisa masuk ke menu harian.

4. Bisa Jadi Bahan Rujak

Siapa sih yang bisa menolak godaan rujak buah saat siang bolong? Campuran buah segar disiram bumbu gula jawa yang pedas manis itu selalu berhasil bikin liur menetes. 

Nah, hadirnya rujak pidada ini membuktikan kalau buah dari pohon mangrove sebenarnya sudah lama masuk ke dalam tradisi kumpul-kumpul warga pesisir, bukan cuma teori olahan yang dibuat-buat di laboratorium.

Tekstur buah pidada yang renyah dan rasanya yang asam pekat itu ternyata pas banget pas dicocol bumbu rujak kacang yang legit. Kerennya lagi, kita tak butuh teknologi tinggi atau mesin canggih buat menikmati buah ini. 

Cukup dipotong-potong, masuk piring rujak, dicampur buah-buahan lain, langsung bisa dinikmati bareng-bareng.

Aku yakin, buah pidada ini juga ada di Raja Ampat juga daerah lain yang punya kawasan mangrove di Indonesia. Kalian bisa melakukan hal sama.

Salah satu buku edukasi lingkungan tentang mangrove yang kutulis dan diterbitkan di IPB Press (Sumber: Mutia Ramadhani)
Salah satu buku edukasi lingkungan tentang mangrove yang kutulis dan diterbitkan di IPB Press (Sumber: Mutia Ramadhani)

Masyarakat Friwen Jaga Hutan

Kembali ke Friwen. Salah satu perkembangan penting dalam perjalanan masyarakat di sana adalah lahirnya legalitas pengelolaan hutan desa seluas 1.025 hektare.

Bagi masyarakat, legalitas memberi kepastian tentang ruang yang mereka kelola dan jaga. Di dalam kawasan tersebut, ruang kemudian dibagi berdasarkan fungsi. 

Ada ruang lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan berbasis konservasi yang berkaitan pula dengan kawasan-kawasan yang memiliki nilai adat dan spiritual. Tidak semua tempat bisa dibuka dan tidak semua sumber daya bisa diambil.

Masyarakat Papua memiliki aturan adat, seperti sasi untuk mengatur kapan suatu wilayah boleh dimanfaatkan dan kapan harus dibiarkan beristirahat. 

Sasi, aturan adat masyarakat Raja Ampat dalam menjaga hutan (Sumber: The Asia Foundation)
Sasi, aturan adat masyarakat Raja Ampat dalam menjaga hutan (Sumber: The Asia Foundation)

Simpelnya, alam diberi kesempatan untuk pulih. Manusia mengambil sesuai kebutuhan, lalu mengambil lagi ketika waktunya tiba. Prinsip seperti ini terasa semakin relevan ketika perubahan iklim membuat kondisi pesisir semakin sulit diprediksi.

Mangrove menyimpan lebih banyak jawaban daripada yang kita kira. Tinggal bagaimana kita mau melihat, menggali, dan mengubah potensinya menjadi solusi.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment