Review Blood River
Review Blood River

Nonton “Blood River” rasanya de javu lantaran vibe-nya mirip banget “My Journey to You” tapi versi klan hitam. Kalau MJTY kan “klan putih” ya, walau busuknya tetap ada.

Kalau “Blood River,” yang namanya aturan, moral, batas, itu ibarat ditulis di atas air. Hari ini kamu jadi saudara, besok kamu jadi target. Hari ini kamu sepakat, besok kamu ditusuk dari belakang.

Orang-orang di “Blood River” itu kayak nyemplung ke sungai gelap. Yang namanya manusia memang tidak dilahirkan untuk membunuh, tapi hidup memaksa mereka belajar jadi pisau pembunuh.

Drama China 38 episode ini tayang di Youku. Aku senang banget karena ini merupakan serial yang “menyelamatkan” karier Gong Jun setelah beberapa tahun terakhir kurang beruntung lantaran serial-serialnya kurang diapresiasi.

Kalau kamu penasaran sama ulasannya, silakan baca tulisanku ini sampai habis ya.

Sinopsis Blood River

Blood River atau An He adalah organisasi pembunuh bayaran nomor satu dan paling ditakuti di dunia persilatan. Mereka bisa membunuh pejabat istana dan bangsawan di pemerintahan tanpa meninggalkan jejak, bisa menghancurkan klan-klan besar di dunia persilatan yang berada di luar pemerintahan layaknya menyapu debu. 

An He tidak membedakan benar dan salah. Mereka tidak peduli baik atau buruk. Ironisnya, orang-orang yang tergabung dalam organisasi paling mematikan ini tidak pernah benar-benar bebas.

“Blood River” adalah drama tentang orang-orang yang hidupnya terlalu lama berada dalam bayangan orang lain, sampai lupa rasanya memilih jalan hidup sendiri. Mereka kumpulan pesilat dunia hitam yang sulit membedakan antara kebijakan dan kejahatan.

Serial ini tidak menentukan siapa yang paling kuat, melainkan monolog dengan diri mereka sendiri. “Kalau aku sudah terlalu lama jadi pedang pembunuh, apakah aku masih bisa menjadi manusia sejati?” 

An He dijalankan oleh tiga klan besar, yaitu Su, Mu, dan Xie. Ketiganya adalah klan pembunuh dengan sistem sosial lengkap yang dipimpin seorang ketua besar atau grandmaster. Saat ini, yang menjadi ketua besar adalah dari Klan Mu, yaitu Mu Mingce (diperankan Geng Le). Dia sudah memimpin An He selama 30 tahun.

Di dalam An He setidaknya ada 12 unit bayangan atau “kui” dengan penugasan berbeda. Mereka masing-masing mengenakan simbol topeng shio.

Menariknya, An He tidak digambarkan sebagai organisasi penuh chaos. Justru sebaliknya, mereka rapi banget, terstruktur, dan efisien. 

Masalah dimulai ketika Mu Mingce terluka karena diracun saat bertarung dengan Master Kedua Klan Tang di Desa Liuluo. Racun itu tidak langsung membunuhnya, tapi membuatnya sekarat.

Geng Le sebagai Mu Mingce, Grandmaster An He
Geng Le sebagai Mu Mingce, Grandmaster An He

Su Muyu: Penjahat Ingin Tobat

Su Muyu (diperankan Gong Jun) adalah seorang  “kui” yang memimpin unit paling mematikan di An He, bernama Spider-Shadow. Tugas utama unit ini adalah melindungi ketua besar dari ancaman pembunuhan. Anggota-anggotanya bekerja dalam senyap, cepat, dan tanpa ampun membunuh target yang ingin menyakiti tuannya.

Mu Mingce yang sekarat menolak dibawa kembali ke An He. Alasannya sederhana, dalam hukum tak tertulis organisasi pembunuh mana pun, ketika ketua besar melemah, perpecahan antarklan dan ambisi merebut posisi tertinggi hampir pasti muncul. 

Semua orang akan memperebutkan Pedang Mianlong miliknya, sebagai simbol penting bahwa barang siapa yang memiliki pedang itu, dialah ketua besar An He yang baru. Dari titik inilah konflik internal dalam serial “Blood River” mulai bergulir.

Selanjutnya, Mu Mingce memerintahkan Su Muyu untuk pergi ke Kota Qiantang meminta bantuan Guru Muda Lembah Obat, Bai Hehuai (diperankan Yang Yutong), satu-satunya tabib yang diyakini masih memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya.

Keputusan ini secara politik berbahaya, karena ketidakhadiran ketua muda di markas An He berarti menunda perebutan kekuasaan. Dan di “Blood River,” menunda perebutan kekuasaan berarti memberi waktu bagi orang lain untuk menikam dari belakang.

Dalam perjalanannya ke Kota Qiantang, Su Muyu mulai merasakan hal berbeda. Dia mulai sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia setia pada ketua besar lantaran berutang nyawa. Jadi, dia menjadi penjahat bukan karena haus kekuasaan.

Kesetiaannya kepada An He bukan ambisi, melainkan rasa tanggung jawab yang berat. Dan ini penting, Su Muyu tidak pernah terlihat menikmati kekerasan. Ia menjalankannya seperti kewajiban, bukan kesenangan.

Su Muyu, generasi penerus terkuat di An He
Su Muyu, generasi penerus terkuat di An He

Su Changhe: Ingin Mengubah Dunia

Kalau Su Muyu masih berpihak pada pemimpin lama lantaran kesadaran moral, Su Changhe (diperankan Chang Huasen) motivasinya adalah revolusi. Dia adalah “kui” dari Klan Su yang cerdas, karismatik, dan punya visi besar.

Visinya itu lahir dari luka lama bahwa An He selama ini hanya menjadi alat bagi kekuatan besar. Su Changhe percaya, selama An He terus dipakai sebagai pedang pembunuh oleh pihak luar, mereka akan selamanya jadi pion. Su Changhe menginginkan An He berdiri sendiri tanpa terikat dengan dunia mana pun.

Berbeda dengan Su Muyu yang ingin melindungi ketua besar mereka, Su Changhe ingin menghancurkan sistem itu dari dalam, lalu membangunnya ulang. 

Hubungan Su Muyu dan Su Changhe adalah salah satu kekuatan utama “Blood River.” Mereka bukan sekadar rival. Mereka pernah berteman, saling percaya, bahkan saling memahami. Lantaran itu pula, konflik mereka terasa menyakitkan. Mereka berduel, yang satu loyal pada masa lalu, sementara satunya lagi ambisi pada masa depan.

Su Changhe, inginkan revolusi di An He
Su Changhe, inginkan revolusi di An He

Mu Yumo, si Cantik dari Klan Mu

An He kebanyakan diisi para pembunuh, pengkhianat, dan lelaki-lelaki yang hidupnya ditentukan oleh pedang. Beda hal dengan Mu Yumo, jadi anomali yang menarik.

Dia adalah karakter perempuan dari Klan Mu yang hidup dengan cara bertahan, bukan mendominasi. Di An He, bertahan sebagai perempuan tanpa menjadi monster seperti laki-laki itu sudah prestasi besar.

Mu Yumo ini bukan tipe female-lead yang kuat dan sangar. Dia nggak jago berkelahi, tapi punya inner power. Dia cerdas, observatif, dan sangat sadar posisi.

Dia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus menyimpan emosi demi bertahan hidup. Inilah strategi survival dia.

Di An He, perempuan sering menjadi alat tawar menawar, korban politik, atau collateral damage. Mu Yumo tidak bisa bebas keluar masuk wilayah organisasi. Salah langkah saja, bisa berakibat fatal. 

Bedanya, dia tidak menormalisasi kekejaman. Meski begitu, dia tidak blak-blakan menunjukkannya. Dia tahu, di dunia pembunuh, emosi yang terlalu jujur bisa menjadi tiket kematian.

Mu Yumo, wanita kuat dari Klan Mu
Mu Yumo, wanita kuat dari Klan Mu

Su Zhe: Ingin Memimpin An He

Qiao Zhenyu sebagai Su Zhe memberi bobot emosional yang kuat pada generasi lama An He. Ia adalah simbol kekuasaan konservatif yang penuh perhitungan, manipulatif, dan percaya bahwa kekuatan harus dijaga dengan cara-cara lama. Ia adalah Master Kedua An He yang semestinya naik ke kursi ketua besar jika Mu Mingce meninggal.

Su Zhe tidak sepenuhnya jahat. Ia adalah contoh klasik dari seseorang yang percaya bahwa menjaga stabilitas lebih penting daripada membuat perubahan, meskipun stabilitas itu dibangun di atas darah.

Konflik Su Zhe dengan sesama klannya membenturkan dua generasi. Dia ingin mempertahankan kendali, sementara sebagian anggota klannya mempertanyakan, “sampai kapan An He mau begini terus?”

Dan yang menyakitkan, Su Zhe tidak pernah benar-benar percaya pada Su Muyu, meski Su Muyu setia padanya sampai akhir.

Su Zhe, Master Kedua An He yang ambisius
Su Zhe, Master Kedua An He yang ambisius

Bai Hehuai: Tabib Perempuan Sakti

Masuklah Bai Hehuai (diperankan Peng Xiaoran). Berkat dia, dunia An He yang gelap mendapat cahaya samar. Dia adalah tabib sekaligus penyeimbang moral dalam cerita ini.

Di dunia yang menganggap nyawa sebagai komoditas, Bai Hehuai memandang tubuh manusia sebagai sesuatu yang harus diselamatkan, bukan dimanfaatkan.

Hubungannya dengan Su Muyu dibangun pelan-pelan, tanpa romansa instan murahan. Awalnya, mereka saling mengamati, saling curiga, lalu saling menghormati.

Bai Hehuai melihat sisi rapuh Su Muyu. Amarah yang dipendam, kesedihan yang tidak pernah diucapkan. Dan Su Muyu, untuk pertama kalinya bersyukur bisa bertemu seseorang yang tidak melihatnya sebagai senjata. Ini penting, karena berkat Bai Hehuai juga, Su Muyu mau berubah ke arah lebih baik.

Bai Hehuai, tabib muda sakti
Bai Hehuai, tabib muda sakti

Berubah atau Bertahan?

Setelah Ketua Besar An He wafat, organisasi ini terpecah. Su Changhe akhirnya naik menjadi pemimpin baru. Su Muyu sendiri memimpin Klan Su. Dan alih-alih mengulangi siklus lama, mereka mencetuskan sesuatu yang radikal, yaitu Other Shore Plan.

Rencana ini pada dasarnya adalah upaya An He untuk keluar dari peran sebagai pembunuh bayaran, dan menjadi kekuatan yang menentukan nasib sendiri. Tapi rencana besar selalu punya harga mahal. Dan harga itu adalah konflik internal, pengkhianatan, dan darah yang lebih banyak.

Di titik ini, “Blood River” berubah dari cerita tentang organisasi pembunuh menjadi cerita tentang revolusi organisasi. 

Salah satu lapisan emosional paling kuat di “Blood River” adalah tema warisan kekerasan. Anak-anak An He sejatunya tidak pernah memilih dilahirkan di sana. Akan tetapi, sejak lahir mereka harus mewarisi pisau, darah, dan reputasi pendahulunya.

Su Muyu dihantui oleh bayangan ayahnya. Su Changhe dihantui oleh kegagalan generasi sebelumnya. Dan hampir semua karakter di sini punya pertanyaan sama ke dirinya, “Apakah kita ditakdirkan mengulang dosa para pendahulu kita?”

Jawabannya nggak sesimpel itu. Beberapa karakter mencoba keluar dari An He, tapi gagal. Beberapa mencoba mengubah sistem An He, tapi mati berdarah. Beberapa memilih bertahan di An He, tapi hancur perlahan.

Review Blood River

“Blood River” langsung nyangkut sejak episode awal karena dunia yang dibangun di dalamnya tidak banyak basa-basi. Nggak ada gaya pakai cerita sejarah panjang, silsilah ratusan tahun, dan sebagainya. Nggak. Penonton langsung disuruh dijejelin fakta hitam dan putih. Ini dunia pembunuh, ini aturannya, ini pengkhianatnya, sekarang kamu harus pilih ikut yang mana?

Problemnya adalah pemimpin besar yang mempersatukan tiga klan (Su, Mu, dan Xie) diracun dan sekarat. Akibatnya apa? Anak buahnya di bawah saling sikut pengen menggantikan posisi pemimpin.

Nonton “Blood River” itu seperti ngupas bawang. Kalau kamu pikir musuhnya itu Su Zhe? Ternyata di atas Su Zhe ada orang-orang yang lebih atas.

Kamu pikir yang ngasih misi itu cuma tiga tetua dari Klan Su, Mu Xie? Ternyata ada tangan-tangan tak terlihat lain.

Kamu pikir An He itu “pemain utama”? Ternyata mereka juga… pion.

Dari awal, fokusnya internal klan, yaitu perebutan kursi ketua besar. Lalu melebar ke luar, seperti konflik dengan klan lain, orang-orang istana, sampai organisasi bayangan yang lebih tua dan lebih kotor.

“Blood River” nggak cuma menceritakan organisasi serikat pembunuh bayaran. Ceritanya tentang bagaimana organisasi hitam mencoba berganti haluan ke arah terang? Sayangnya, dunia terang itu punya aturan lebih kejam.

Gong Jun sebagai Su Muyu

Ada yang kritik bilang ekspresi Gong Jun kadang aneh atau terlalu datar. Tapi aku juga paham bahwa Su Muyu memang karakter yang tersumpal emosinya. Dia tipe yang hidup dari disiplin, bukan dari ledakan perasaan.

Su Muyu itu bukan tipe hero flamboyan. Dia orang yang sudah lama menahan sesuatu sampai kebas. Di dunia An He, kalau kamu terlalu banyak memendam rasa, kamu pasti mati cepat. Jadi, dia belajar jadi tenang, jadi rapi.

Salah satu ucapan Su Muyu yang aku suka dan berkali-kali jadi napas cerita adalah, “No one is born to kill.” Tidak ada yang lahir untuk jadi pembunuh.

Su Muyu tetap jadi anchor cerita karena dia membawa sesuatu yang jarang dimiliki dunia gelap, yaitu prinsip. Dia pembunuh, tapi dia masih punya garis moral. Itulah yang bikin dia paling tersiksa dibanding “kui” yang lain.

Gong Jun sebagai Su Muyu di Blood River
Gong Jun sebagai Su Muyu di Blood River

Chang Huasen sebagai Su Changhe

Ini menarik. Banyak penonton merasa Su Changhee “lebih hidup” daripada Su Muyu. Beuh, persis kayak aku melihat Cheng Lei yang bisa ngalahin pesona Zhang Linghe di “My Journey to You.”

Su Changhee itu jenis karakter yang dinamis. Dia bisa lucu, bisa menakutkan, bisa hangat, bisa mematikan, dan dia melakukan itu dalam satu tarikan napas. Dia tipe orang yang mudah disukai, tapi juga mudah ditakuti penonton.

Yang bikin Su Chang He jadi magnet adalah konflik internalnya. Dia punya visi membawa An He ke tempat di mana mereka tidak lagi jadi “pedang pembunuh” orang lain.

Masalahnya, jalan yang dia pilih bikin kita ragu, ini dia melakukannya demi kebebasan An He atau cuma egoisnya doang?

Aku suka dinamika Su Muyu dan Su Changhe di “Blood River” ini. Mereka tuh kayak dua saudara yang saling sayang tapi membawa luka yang beda. Su Muyu ingin “membenahi” dunia gelap tanpa menghancurkan semuanya, sedangkan Su Changhe ingin “membakar” struktur lama supaya An He yang baru bisa lahir.

Chang Huasen sebagai Su Changhe di Blood River
Chang Huasen sebagai Su Changhe di Blood River

Qiao Zhenyu sebagai Su Zhe

Su Zhe itu tipikal politisi internal An He. Dia bukan petarung paling keren, tapi dia paham permainan. Dan dalam cerita seperti “Blood River,” orang seperti ini lebih berbahaya daripada pendekar dengan jurus dewa.

Su Zhe itu bukan sekadar jahat, tapi jahatnya dia tu rapi banget. Dia bikin kamu merasa kalau kamu bunuh dia sekarang, kamu jadi orang salah. Kalau kamu biarkan dia hidup, dia akan menggerogoti semuanya lagi pelan-pelan. Su Zhe adalah simbol dari “racun” berupa ambisi yang dibungkus loyalitas.

Peng Xiaoran sebagai Mu Yumo

Posisi Peng Xiaoran di poster dan kredit ternyata tidak memenuhi ekspektasiku. Mu Yumo ini terasa seperti karakter yang datang, memberi bumbu romance, lalu menghilang.

Mu Yumo seharusnya bisa jadi jembatan moral, atau jadi representasi bagaimana perempuan bertahan di struktur dunia kekerasan. Tapi drama memilih membuat dia lebih banyak berada di orbit cinta. Jadi, wajar kalau ada yang merasa kalau dia nggak ada pun, nggak akan mengurangi kualitas cerita. Ya, naskah “Blood River” tidak memberinya banyak ruang.

Inilah problem klasik wuxia modern. Karakter perempuan sering dijadikan fungsi, bukan manusia. Entah fungsi romantis, fungsi korban, fungsi motivasi. Jarang yang diberi proyek hidup sendiri.

Mu Yumo dan Su Muyu di Blood River
Mu Yumo dan Su Muyu di Blood River

Yang Yutong sebagai Bai Hehuai

Banyak orang jatuh cinta pada Bai Hehuai. Dia bukan healer yang cuma berdiri, menangis, dan nggak bisa apa-apa. Bai Hehuai itu punya karakter unik, agak eksentrik, punya cara bicara yang khas. Kostum-kostumnya juga cantik banget.

Bai Hehuai punya fungsi naratif yang mengingatkan Su Muyu bahwa hidup tidak harus selalu jadi pembunuh atau ahli strategi.

Tapi ya… romance-nya dengan Su Muyu nggak semuanya menyala. Karena drama ini lebih kuat di bromance, intrik, dan aksi. 

Su Muyu dan Bai Hehuai di Blood River
Su Muyu dan Bai Hehuai di Blood River

Aksi dan Visual

Aku yakin semua orang setuju kalau visual “Blood River” itu kaya banget. Dark-nya nggak murahan, sebab kita sebagai penonton bisa merasakan serunya, mulai dari bau lembap lorong, dinginnya malam, dan langkah assassin. Fight scene-nya banyak yang keren. Bahkan ketika ada CGI, wuxia-nya masih kental.

Yang membuat “Blood River” terasa lebih dewasa dibanding beberapa wuxia yang lain adalah temanya yang tidak romantis berlebihan. Kalau di “The Blood of Youth” dan “Dashing Youth” itu semuanya menceritakan kehidupan dunia putih persilatan, “Blood River” menceritakan dunia gelapnya.

Mereka adalah orang-orang ini tidak sedang mengejar ketenaran. Mereka mengejar hak untuk hidup sebagai manusia biasa. Mereka ingin keluar dari label “anjing pembunuh” yang disuruh pihak lain.

Aku agak kurang suka ending-nya doang sih. Cara penyajiannya pakai subtitle doang. Agak bikin frustrasi, karena penonton sudah investasi emosi dan waktu. Kita maunya payoff, bukan sekadar dapat informasi doang.

Ending serial-serial wuxia itu memang seringnya bittersweet. Tapi di sisi lain, ketika kamu sudah membangun luka panjang, kamu harus memberi ruang resolusi yang layak dong buat ending-nya. Minimal 10 menit kek. Minimal pelukan kek. Minimal ada dialog yang benar-benar selesai. Kalau nggak ada, kita sebagai penonton juga capek kan nebak-nebak sendiri. Hehehe

Persahabatan Su Changhe dan Su Muyu
Persahabatan Su Changhe dan Su Muyu

Jadi, “Blood River” Bagus Nggak?

“Blood River” itu memikat, tapi eksekusinya nggak selalu rapi. Suasananya sih kaya, konsepnya kuat, dan punya bromance yang menarik. Dunia assassin-nya punya rasa. Fight scene-nya memanjakan mata. Intriknya bikin penasaran.

Tapi dia juga punya kelemahan. Beberapa karakter (terutama perempuan) kurang diberi napas. Romance-nya nggak selalu meyakinkan. Ending-nya kurang “dimasak” padahal potensi emosinya besar loh. Walau begitu, “Blood River” tetap berhasil karena sukses bikin penonton bisa benar-benar peduli sama orang-orang dari sisi “gelap.” Ini keren loh! 

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment