Review The Legend of Zang Hai
Review The Legend of Zang Hai

“The Legend of Zang Hai” adalah salah satu serial yang paling diantisipasi penonton global, terutama karena dibintangi oleh Xiao Zhan. You know lah… dia siapa.

Meski frekuensi main dramanya terbilang jarang, setahun paling satu, maksimal dua judul, posisi Xiao Zhan di industri tetap nggak tergeser. 

Bayarannya tinggi, proyeknya selektif, dan hampir selalu dipasangkan dengan pemain-pemain papan atas. Bandingkan dengan aktor lain yang mungkin harus jungkir balik ambil dua sampai tiga proyek setahun demi tetap relevan.

Inilah salah satu alasan kenapa setiap drama Xiao Zhan selalu bikin ekspektasi naik sebelum tayang. Tapi ya… aku nggak mau pura-pura objektif juga. Dari awal, aku agak kurang sreg sama female-lead-nya. 

Aku memang bukan penggemar Zhang Jingyi. Nggak ada drama personal sih, cuma selera aja. Jadi, bisa dibilang “The Legend of Zang Hai” ini adalah drama pertama Zhang Jingyi yang benar-benar aku tonton dengan niat, dan alasannya satu, karena dia dipasangkan dengan Xiao Zhan. Hahaha.

Awalnya mindset aku ya… lihat aja dulu. Tanpa ekspektasi berlebihan ke romance, tanpa harapan besar ke dinamika pasangan. Fokusku cuma satu, apakah cerita dan karakter Xiao Zhan sebagai Zang Hai cukup kuat buat bikin aku bertahan?

Dan ternyata… jawabannya ada dalam ulasanku kali ini. Kalau kamu sudah siap membaca ulasan lengkap “The Legend of Zang Hai” versi aku, review jujur, agak subjektif, tapi aku berusaha detail, silakan lanjut baca sampai habis ya.

Sinopsis The Legend of Zang Hai

“The Legend of Zang Hai” adalah serial 40 episode tentang kisah balas dendam yang tumbuh jadi permainan politik besar, di mana kecerdasan, kesabaran, dan luka masa lalu jauh lebih mematikan daripada sebilah pedang.

Zang Hai, yang dulu bernama Zhi Nu (diperankan Xiao Zhan), adalah putra dari Kuai Duo, Astronomer Kerajaan yang sangat dihormati. Hidupnya sebenarnya tenang, bahkan bisa dibilang bahagia. Sampai suatu malam, semua itu runtuh.

Kuai Duo menemukan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui. Penelitiannya tentang makam, feng shui, dan pergerakan langit rupanya menyentuh rahasia besar kekuasaan. Malam itu, rumah mereka dibakar. Keluarga Zhi Nu dibantai tanpa sisa. Dan Zhi Nu kecil menyaksikan semuanya.

Zhi Nu tidak mati, diselamatkan oleh sosok misterius bertopeng, yang menariknya keluar dari lautan api dan membawanya pergi. Di atas perahu, setelah tangisnya habis, Zhi Nu hanya punya satu jawaban ketika ditanya apa yang ia inginkan dalam hidup, yaitu BALAS DENDAM.

Sepuluh tahun kemudian, Zhi Nu tidak dilatih untuk menjadi pendekar. Ia tidak diasah dengan jurus atau tenaga dalam. Ia dididik untuk menjadi arsitek, ahli perang, pembaca peta kekuasaan, dan pengatur manusia.

Selama 3.325 hari, ia belajar di bawah bimbingan dua guru berbeda. Satu mengajarinya membangun dan menghancurkan. Satu lagi mengajarinya membaca niat manusia, menyusun perangkap, dan bersabar.

Ketika ia kembali ke ibu kota, Zhi Nu sudah “mati.” Yang datang adalah seorang pria baru dengan nama baru, Zang Hai.

Masuk ke Sarang Musuh

Zang Hai kembali ke ibu kota bukan sebagai penantang terbuka, melainkan sebagai penasihat kekaisaran. Dia bahkan akhirnya menjadi tangan kanan dari musuh utamanya, Marquis Ping Jin (diperankan Huang Jue). Drama balas dendam pun dimulai.

Zang Hai menyusup, sengaja tampak menonjol di saat yang tepat, dan merendah di saat yang lebih tepat. Ia membiarkan dirinya diuji, dijebak, bahkan nyaris dibunuh, termasuk saat dikubur hidup-hidup di makam kekaisaran.

Alih-alih mati, Zang Hai justru menghentikan praktik penguburan hidup, menyelamatkan orang lain, dan membuat Marquis Ping Jin berhutang nyawa padanya. Sejak saat itu, Zang Hai resmi menjadi orang kepercayaan bangsawan tersebut.

Marquis Ping Jin, musuh utama Zang Hai dalam "The Legend of Zang Hai"
Marquis Ping Jin, musuh utama Zang Hai dalam “The Legend of Zang Hai”

Sebagai penasihat, Zang Hai perlahan naik kewenangan, dari awalnya cuma Scholar Hall, masuk ke urusan perbendaharaan negara, perbaikan makam kekaisaran, sampai akhirnya menyentuh inti kekuasaan istana.

Semakin tinggi ia melangkah, semakin jelas bahwa Marquis Ping Jin bukan satu-satunya pelaku pembantaian keluarganya. Ada dua sosok lain di balik layar.

Ada juga jaringan korupsi yang melibatkan Cao Jingxian (diperankan Zhao Ziqi), pejabat istana, bahkan hubungan rahasia dengan Dongxia, negeri asing yang menyimpan rahasia berbahaya bernama Gui Seal, artefak terkutuk yang bisa mengendalikan pasukan undead. Sejak itu, balas dendam Zang Hai tidak lagi sederhana.

Menjadi tangan kanan Marquis Pingjin
Menjadi tangan kanan Marquis Pingjin

Xiang Antu: Kawan, Lawan, atau Cinta?

Muncullah Xiang Antu atau Putri Rouyuan (diperankan Zhang Jing Yi). Ia adalah perempuan cerdas, tajam, dan berbahaya dengan caranya sendiri.

Awalnya, hubungan Zang Hai dan Rouyuan murni transaksional. Mereka saling memanfaatkan, saling menguji, tapi pelan-pelan, ada rasa saling percaya, bahkan sesuatu yang lebih dari itu.

Masalahnya, Rouyuan bukan orang biasa. Ia adalah sandera politik Dongxia, dan putri dari pihak yang sangat terkait dengan Gui Seal.

Cinta Zang Hai dan Rouyan dalam “The Legend Zang Hai” menjadi semakin rentan. Dan Zang Hai tahu betul, kalau dia mencintai Rouyuan, itu bisa menghancurkan semua rencananya.

Putri Rouyuan alias Xiang Antu, kekasih Zang Hai di "The Legend of Zang Hai"
Putri Rouyuan alias Xiang Antu, kekasih Zang Hai di “The Legend of Zang Hai”

Sekutu Tak Terduga dan Perang Tiga Arah

Zang Hai membentuk aliansi tak terduga, termasuk dengan Zhuang Zhixing (diperankan Zhou Qi), putra Marquis Ping Jin sendiri. Dari hubungan yang dipenuhi kecurigaan, mereka menjadi dua orang sahabat yang disatukan oleh dendam.

Zang Hai ingin membalaskan dendam keluarganya, sedangkan Zhixing ingin membalas kematian ibunya yang diracun. Perang tidak lagi satu arah, melainkan menjadi konflik tiga lapis, yaitu istana dan kekuasaan, Dongxia dan Gui Seal, dendam pribadi yang berlapis-lapis.

Saat Zang Hai akhirnya menemukan Gui Seal, semua kepingan bersatu. Ia mengetahui siapa pelaku ketiga, dalang sesungguhnya dari pembantaian keluarganya. Namun kebenaran datang bersama harga mahal.

Zang Hai ditangkap. Ia dihukum mati dengan metode paling kejam, yaitu lembaran kertas basah yang menutup napas perlahan. Ia seharusnya mati. Namun sekali lagi, Zang Hai membuktikan bahwa ia selalu selangkah lebih maju.

Dengan kode rahasia bersama Rouyuan, jebakan terakhir dipasang. Pelarian dirancang. Konspirasi dibalikkan. Meski begitu, balas dendam Zang Hai belum selesai. Karena kekuatan Gui Seal masih hidup, dan musuh terakhir belum sepenuhnya jatuh.

Review The Legend of Zang Hai

Kalau biasanya revenge drama itu identik dengan tebas-tebasan dan utang nyawa dibayar nyawa, Zang Hai justru kebalikannya. Dia tumbuh dari trauma paling brutal.

Keluarganya disapu habis, lalu dia terpaksa menghilang, ganti identitas, belajar hal-hal yang kelihatannya kurang keren untuk seorang male-lead drama. Bukannya jadi ahli pedang atau jago silat, Zang Hai justru jadi arsitektur, ahli strategi perang, mekanisme bangunan, logika perang politik, dan cara membaca manusia. 

Jadi, ketika dia balik ke ibu kota, dia nggak datang sebagai petarung… tapi sebagai “the mastermind” yang pelan-pelan masuk ke sarang musuh. Vibe sama aku rasakan ketika nonton “The Ingenious One.” Silakan kamu klik link-nya untuk baca review aku yang lain.

“The Legend of Zang Hai” itu kalau ditonton, secara fisik, Zang Hai bisa kalah kapan aja. Tapi secara mental, dia bisa bikin lawan-lawan berjatuhan satu per satu. Dia pakai trik, pengaruh, bukti, dan permainan posisi.

Kalau kamu suka vibe permainan papan catur raksasa, “The Legend of Zang Hai” ngasih itu… tapi lebih gelap dan lebih realistis dalam rasa pahitnya.

Xiao Zhan sebagai Zang Hai

Aku paham kenapa banyak penonton bilang ini salah satu peran Xiao Zhan yang paling nempel dan berkesan. Soalnya Zang Hai itu bukan karakter yang teriak-teriak atau pamer keren. Dia tipe yang ngomong pelan, nahan emosi, senyumnya bisa manis banget… tapi mata dan gesturnya bilang, “Sebentar lagi gue bakal ngancurin hidup lo.”

Zang Hai itu nggak pernah jadi robot balas dendam. Ada sisi lembutnya yang masih hidup, dan justru itu yang bikin sakit. Karena setiap kali dia harus memilih, kita melihat harga yang dia bayar. Makin dekat dia ke tujuan balas dendamnya, makin jauh karakternya dari dirinya yang dulu.

Buatku, akting Xiao Zhan di role kayak gini enak karena dia kuat di mikroekspresi. Tatapan ragu sepersekian detik, napas yang ketahan, atau jeda sebelum dia jawab, hal-hal kecil yang bikin tegangnya kerasa.

Xiao Zhan sebagai Zang Hai
Xiao Zhan sebagai Zang Hai

Zhang Jingyi sebagai Xiang Antu

Yang aku suka, Rouyuan atau Antu ini bukan female-lead buat tempelan romance doang. Dia punya aura “gue bisa lindungin diri gue sendiri” bahkan seringnya… dialah yang jadi keamanan hidup si Zang Hai. 

Dinamikanya jadi seru karena Zang Hai unggul di strategi, Antu unggul di eksekusi lapangan. Kombinasi ini memuaskan banget, lantaran male-lead punya otak licin, female-lead punya eksekusi tajam. Ketika plotnya padat dan penuh ancaman fisik, karakter Antu itu kayak jawaban logis kenapa Zang Hai masih bisa hidup.

Chemistry mereka juga cenderung hangat-diam-diam, nggak lebay, lebih ke dua orang yang sejatinya sama-sama “hancur” tapi bersatu dan merasa menjadi rumah satu sama lain.

Zhang Jingyi sebagai Xiang Antu
Zhang Jingyi sebagai Xiang Antu

Sinematografi dan Bertabur Visual

Banyak yang muji visual “The Legend of Zang Hai” dan aku ngerti kenapa. Drama ini emang niat banget, mulai dari set, pencahayaan, sampai komposisi adegan. 

Beberapa lokasi yang sering disebut penonton ikonik, kayak area Zhen Tower dan momen-momen pemakaman/adegan malam,  bikin drama “The Legend of Zang Hai” terasa “mahal” dan punya identitas.

Vibenya juga bukan warna-warna glossy cantik, tapi lebih ke warna-warna elegan, kelam, penuh bayangan, cocok banget sama tema-tema rahasia, seperti kuburan, artefak, dan politik busuk khas drama politik.

Bahkan saat dialognya berat, mata kita sebagai penonton tetap dimanjakan visualnya. Intrik politiknya enak, tapi kamu harus siap “fokus” karena ini tuh tipe drama yang kalau kamu skip satu part aja, kamu bakal kehilangan motif, bingung siapa kerja sama sama siapa, trus mendadak kaget, “Loh, kok dia jadi musuh sih?” Hehehe.

Ada permainan jaringan kekuasaan dalam “The Legend of Zang Hai.” Sekutunya berubah-ubah. Rahasia masa lalu yang ditutup berlapis-lapis. Semakin lama, ceritanya makin menunjukkan bahwa pembantaian keluarga Zang Hai itu sangat terencana.

Zhang Hai merangkak dari bawah hingga menjadi penasihat kekaisaran
Zhang Hai merangkak dari bawah hingga menjadi penasihat kekaisaran

Pro Kontra The Legend of Zang Hai

Biar adil, drama model “The Legend of Zang Hai” ini biasanya memecah penonton jadi dua kubu. Pertama, ada yang suka karena ceritanya rapi dan serius, tapi ada juga yang merasa beberapa bagian terlalu padat dialog, terlalu muluk-muluk strateginya, lalu kecewa karena bagian akhir kok kesannya dikebut banget. Ya… menurutku ini keluhan klasik drama intrik politik.

Kedua, kalau kamu mencari romansa yang manis dan banyak skinship, kamu mungkin nggak bakal menemukannya di “The Legend of Zang Hai.” Ayooo… siapa yang komentar adegan romance Zang Hai dan Rouyuan dengan, “Udah? Segini doang?” Hehehehe.

Nah… kalau kamu suka romance yang cuma jadi bumbu penyelamat jiwa di tengah intrik politik balas dendam… justru pas nonton serial ini.

Sebagian penonton suka tokoh yang selalu selangkah di depan. Sebagian lagi maunya male-lead lebih sering gagal biar tensinya makin brutal. Di drama ini, Zang Hai memang sering terlihat “si paling siap” walau tetap ada momen dia kepepet dan harus diselamatkan situasi/orang.

Romance slow burn Zang hai dan Putri Ruoyan
Romance slow burn Zang hai dan Putri Ruoyan

Karakter Pendukung Curi Perhatian

Kita bicara tentang Zhuang Zhixing. Dia itu siapa sih?

Kalau di awal kamu lihat dia, Zhixing tuh tipikal anak pejabat besar yang hidupnya santai, boros, banyakan gaya, dan kelihatan nggak punya arah. Bahkan ada review yang ngebahas dia sebagai sosok yang “cari seru” dan menghabiskan uang keluarga tanpa tujuan jelas.

Dia anak kedua Marquis Ping Jin, keluarga yang jadi pusat pusaran kekuasaan, jadi dari start aja auranya udah “privilege walking” gitu. 

Zhou Qi sebagai Zhuang Zhixing
Zhou Qi sebagai Zhuang Zhixing

Kenapa karakternya menarik padahal ngeselin?

Karena Zhi Xing itu bukan villain murni, bukan juga good boy dari awal. Dia tuh produk lingkungan sekitar dia. Dia hidup di rumah besar yang isinya intrik dan power game. Jadi sifatnya campur aduk, kadang sombong dan defensif lantaran terbiasa semua orang nurut sama dia. Kadang dia juga impulsif karena selama ini kalau dia bikin masalah selalu ada yang beresin.

Akan tetapi di balik itu… dia juga sebetulnya kesepian dan gampang “ketarik” ke orang yang ngasih dia arah. Makanya pas Zang Hai masuk, Zhixing itu kayak kertas kosong yang sudah lecek, bisa mudah dibentuk walau ada banyak bekas lipatannya.

Jadi, Layak Tonton Nggak?

Menurutku, “The Legend of Zang Hai” layak tonton kalau kamu suka karakter utama yang balas dendam dengan cara pintar juga penuh manuver. Kamu suka serial penuh politik istana dan konspirasi. Kamu pengen drama China yang vibe-nya gelap, misterius. Atau suka karakter antihero yang moralnya abu-abu.

“The Legend of Zang Hai” kurang direkomendasikan buat penoton yang butuhnya nonton serial penuh action dan martial arts yang intens tiap episode. Kalau kamu gampang capek sama plot padat, aku rasa nggak bakal suka nonton ini. Apalagi kalau kamu pengennya romance jadi menu utama, makin nggak cocok lagi.

Gimana? Apakah kamu niat buat lanjut nonton serial ini sampai habis? Kasih tahu di kolom komentar ya.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment