Reveiw A Dream Within a Dream
Reveiw A Dream Within a Dream

Maaf ya, aku baru bisa nulis review-nya sekarang. Aku tuh termasuk telat nonton “A Dream Within a Dream.” Bukan karena dramanya nggak bagus ya, justru kebalikannya. INI SERU BANGET. Tapi waktu drama ini tayang, otakku lagi “dikunci” sama satu drama lain yang juga dibintangi Liu Yuning, yaitu “A Prisoner of Beauty.”

Dan kamu paham lah… kadang kita sebagai penonton itu suka “takut selingkuh” secara imajinasi. Aku nggak mau chemistry Yuning dan Song Zuer yang masih kebayang-bayang di kepala, tiba-tiba ketimpa vibe baru dari drama lain. Wkwkwk. Secara tampilan, aura, dan “posture” Liu Yuning di dua drama itu juga mirip banget. Dia tinggi, tajam, galak, aura pria yang kalau jalan kayak bawa angin sendiri.

Tapi ternyata… begitu aku beresin “A Dream Within a Dream” minggu lalu…

GILAAAAAAAAA.

Ini drama kolosal pertama yang bikin aku merasa 10 tahun lebih muda, karena dari episode awal sampai akhir tuh selalu ada bagian yang bikin ngakak. Entah ekspresi, entah dialog, entah timing komedinya, pokoknya aku ketawa terus. Dan itu jarang banget terjadi di drama kostum yang biasanya politik, balas dendam, darah, racun, rebutan tahta, dan kita ikut tegang kayak mau ikut ujian akhir semester.

Terakhir aku ngerasain vibe kayak gini adalah pas nonton “The Romance of Tiger and Rose” yang dibintangi Ding Yuxi dan Zhao Lusi. Plot-nya kurang lebih sama, tentang seorang penulis naskah yang masuk ke dunia naskahnya sendiri.

Nah di “A Dream Within a Dream” ini? Iya tetap ada politiknya, tetap ada bahaya, tetap ada plot twist… tapi dibungkus dengan komedi yang sadar diri. Dramanya tu ya emang drama, tapi nggak seserius itu. Kamu ngerti kan maksud aku?

Dan ya ampun… pasangan utamanya ini loh, Liu Yuning dan Li Yitong. Yang satu bisa jadi intimidatif banget, tapi sekaligus bisa ngelawak tanpa kehilangan wibawa. Yang satu lagi punya energi “cewek modern kelempar ke dunia kuno” yang reaksi-reaksinya tuh relatable, bikin aku pengen teriak, “LAH KOK AMBYAR GITU PLOTNYA?!”

Sinopsis A Dream Within a Dream

Tokoh utama alias female-lead kita adalah Song Xiaoyu (diperankan Li Yitong), seorang aktris yang posisinya bukan “top tier actrees” lah. Dia masih aktris kelas bawah yang seringnya cuma kebagian peran kecil sehingga harus kerja keras untuk bisa populer.

Nah, peluang itu datang, di mana dia dipasangkan dengan aktor papan atas bernama Nan Feng (diperankan Liu Yuning). Pas lagi ikut proses pembacaan naskah drama kolosal, Xiaoyu kesal dan nggak terima. Kenapa sih female-lead, Song Yimeng, dalam naskah itu kok kayaknya tragis banget nasibnya?

Karakter dia terus diperalat, disakiti, lalu mati mengenaskan demi mengangkat karakter cowok utama. Xiaoyu pun mengeluh soal ketidakadilan naskah itu dan somehow… seperti hukum alam dalam drama meta-fantasy, begitu dia melontarkan protes dan sumpah serapah, tiba-tiba… cling! Dia malah kesedot masuk ke dunia naskah itu.

Di dalam sana, Xiaoyu terbangun sebagai Song Yimeng, karakter yang harus dia perankan. Akan tetapi, jiwanya masih Song Xiaoyu. Plot waktunya adalah enam bulan sebelum pernikahan Song Yimeng dengan Nan Heng.

Sadar bahwa nasib Song Yimeng bakal kelam banget, Xiaoyu pun mikir keras. Intinya dia pengen kabur jauh dari karakter Nan Heng dalam cerita.

Song Yimeng dan Nan Heng
Song Yimeng dan Nan Heng

Bug Loop dan Mati Berkali-kali

Xiaoyu pun menyusun rencana kabur serapi mungkin. Mulai dari menghindari Nan Heng, cari aman, bahkan kalau bisa nikah sama second male-lead (Chu Guihong, diperankan Wang Youshuo) supaya dia bisa lepas dari jalur cerita utama.

Sayangnya, dunia tempat dia berada sekarang bukanlah dunia nyata. Ini adalah dunia skrip yang berpatokan pada mekanisme plot.

Alhasil, setiap kali Xiaoyu mencoba melawan garis cerita dan keluar dari plot, muncul “bug” atau semacam koreksi paksa dari sistem cerita yang akhirnya bikin dia balik lagi ke jalur takdirnya.

Mulailah “A Dream Within a Dream” ini mengocok perut penonton. Xiaoyu, yang kini menjadi Song Yimeng, mati berkali-kali dengan cara yang aneh-aneh, mulai dari sanggulnya nyangkut lah, lehernya patah, kebakar api, ketimpuk papan kayu, tergelincir, pokoknya absurd banget. 

Lalu, pada titik tertentu setelah mati dia hidup lagi, kemudian mati lagi. Begitu saja terus… sampai Xiaoyu sadar bahwa dia nggak punya kuasa keluar dari skrip.

Xiaoyu pun sadar aturan mainnya sebagai Song Yimeng, bahwa dia bukan harus belajar survive, melainkan memecahkan aturan dalam dunia cerita.

Song Yimeng ditakdirkan menikah dengan Nan Heng apa pun yang terjadi
Song Yimeng ditakdirkan menikah dengan Nan Heng apa pun yang terjadi

Nan Heng dan Identitas Keduanya

Pada skrip asli, Nan Heng adalah figur yang ditulis seperti villain male-lead. Dia antagonis, tapi male-lead. Biasanya kan protagonis male-lead ya. Sifatnya mengerikan, manipulatif, dan berbahaya.

Makanya, tiap kali Xiaoyu ngelihat Nan Heng, dia langsung refleks kabur. Tapi… makin lama, Xiaoyu menemukan hal-hal ganjil dalam dunia skrip yang dia masuki ini.

Nan Heng kok seperti punya sisi yang nggak ada dalam naskah awal? Dia nggak cuma “jahat” tapi seperti menyimpan kisah kelam serta punya banyak rahasia.

Tanpa sepengetahuan Song Yimeng, Nan Heng ternyata punya identitas lain yang bergerak di jalur bawah tanah, yaitu Li Shiliu.

Kalau Nan Heng dikenal sebagai Pangeran ke-7, putra kaisar, yang kesehariannya kalau nggak di medan perang ya di istana. Beda cerita dengan Li Shiliu ini semacam “pahlawan bertopeng.” Dia benar-benar hidup serta bergaul dengan rakyat. 

Dia juga punya jaringan rahasia di luar intrik istana, bernama “Dewa Patroli Malam.” Jaringan bawah tanah ini punya markas besar bernama Fading River Moon, tempat rakyat jelata, seniman bela diri, dan orang-orang pinggiran berkumpul.

Xiaoyu pun kepikiran buat melancarkan sebuah misi bernama “Kill Heng Plan.” Dia meminta Li Shiliu untuk membunuh Nan Heng. Secara konsep aja udah kocak, ya kan?

Layaknya hukum alam drama china, makin dekat dua karakter, makin kuatlah emosional mereka. Xiaoyu berujung simpati, kagum, kemudian jatuh cinta sama Li Shiliu, versi lain dari Nan Heng.

Song Yimeng jatuh cinta pada Li Shiliu, Nan Heng versi pahlawan bertopeng
Song Yimeng jatuh cinta pada Li Shiliu, Nan Heng versi pahlawan bertopeng

Lewat Li Shiliu, Xiaoyu melihat dunia yang nggak pernah ia bayangkan ada. Ketika dia akhirnya mengetahui Li Shiliu itu adalah Nan Heng, Xiaoyu pun mulai ragu pada penilaian awalnya.

Apa mungkin Nan Heng bukanlah villain male-lead satu dimensi seperti dalam skrip? Pada waktu bersamaan, Nan Heng pun tersadar bahwa Song Yimeng yang dia kenal sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Intrik Istana dan Chu Guihong Berubah Arah

Awalnya, Chu Guihong tampak seperti “jalan aman” bagi Xiaoyu untuk menghindari Nan Heng. Dia pun pada awalnya senang ketika kaisar berencana menikahkannya dengan Chu Guihong, second male-lead dalam cerita, karena terlihat secara emosi lebih stabil dan tidak sebrutal Nan Heng.

Akan tetapi, semakin berjalan cerita, Chu Guihong memperlihatkan sisi lain dirinya yang ambisius, obsesif, dan rela melakukan apa saja untuk meraih kemenangan.

Intrik dalam istana pun memanas. Ada drama perebutan kekuasaan, tuduhan palsu, penyiksaan saksi, dan permainan politik antara ayah dan anak, saudara, juga selir.

Pada fase ini, Xiaoyu mulai percaya dan berpihak pada Nan Heng, bahkan ketika seluruh istana menudingnya sebagai dalang kejahatan.

Inilah titik mula Xiaoyu berhenti bertindak berdasarkan skrip naskah. Ia pun mulai bertindah berdasarkan apa yang dilihat mata kepalanya sendiri.

Wang Youshuo sebagai Chu Guihong di A Dream Within a Dream
Wang Youshuo sebagai Chu Guihong di A Dream Within a Dream

Cinta di Dunia yang Melarang Jatuh Cinta

Hubungan Xiaoyu dan Nan Heng berkembang pelan. Xiaoyu takut karena ia tahu bagaimana ending cerita tersebut berakhir, bahwa Nan Heng akan mati setelah mereka menikah.

Karena sikap Xiaoyu, Nan Heng terluka lantaran cintanya selalu ditolak tanpa alasan. Dunia seolah menghukum setiap langkah mereka setiap mendekat.

Nan Heng beberapa kali mengorbankan diri, bahkan rela menanggung dosa yang bukan miliknya, demi melindungi Xiaoyu serta keluarganya. Xiaoyu pun sadar, bahwa yang berbahaya itu bukan Nan Heng, melainkan skrip itu sendiri.

Penulis Naskah Muncul dan Final Cerita

Mendekati klimaks, muncullah figur misterius yang mengaku bernama Raja Qianyu, sang raja misterius. Xiaoyu kenal betul bahwa Raja Qianyu itu merupakan penulis asli yang juga ikut masuk bersamanya ke dunia cerita. Dia menjelaskan aturan dunia, bahwa:

  • Setiap karakter punya jalur takdir
  • Mengubah nasib karakter akan memicu backlash
  • Dunia naskah bukan untuk “bebas” tapi untuk “ditampilkan”

Xiaoyu menantang konsep ini secara langsung. Di sana, ia berbicara bukan sebagai karakter Song Yimeng, melainkan sebagai manusia yang menolak dijadikan alat cerita.

Dunia pun mulai mengalami glitch. Beberapa adegan terjadi berulang. Kematian terasa seperti mimpi dalam mimpi.

Kebenaran besar terungkap. Dunia ini ternyata bertingkat. Xiaoyu sendiri ternyata bukan sepenuhnya “manusia bebas.” Nan Heng mungkin bukan sekadar karakter.

Chu Guihong di ujung jalan memutuskan bunuh diri. Sistem takdir pun melemah. Xiaoyu akhirnya bahagia di istana sebagai permaisuri, setelah Nan Heng diangkat menjadi kaisar. Akan tetapi, drama ternyata nggak berhenti di sana.

Dunia yang sebelumnya kita kenal hanya sebagai skrip tampaknya dibangun ulang. Dan Nan Heng, yang seharusnya hanya ada di dalam cerita, muncul dan tampak menyadari bahwa jiwanya tidak hanya milik Nan Heng, tetapi juga merangkap sebagai Nan Feng, aktor papan atas yang kita lihat di episode pertama.

Lalu datanglah twist terakhir yang bikin bengong.

Ternyata, di lapisan paling luar, ada seorang penulis perempuan di dunia modern yang baru saja menyelesaikan naskah cerita ini. Ia menutup laptopnya, menandai berakhirnya kisah tersebut. SURPRISE. Bukankah sejak awal kita dibuat percaya bahwa penulis naskah ini adalah seorang laki-laki?

Artinya jelas dong, penulis laki-laki yang kita kenal sebelumnya sesungguhnya juga hanyalah karakter atau tokoh fiksi yang diciptakan oleh penulis perempuan di lapisan realitas tertinggi.

Sebuah cerita di dalam cerita.

Skrip di dalam skrip.

Dan mimpi di dalam mimpi.

Persis seperti judul serial ini… “A Dream Within a Dream.”

Review A Dream Within a Dream

Secara produksi, ini drama keliatan budget-nya ada. Set, kostum, sinematografi, nggak ada yang terasa murahan. Dan musik? Ini salah satu drama yang terasa “paham kapan harus lucu dan kapan harus nyeri.” OST-nya juga lengkap dan digarap serius.

Salah satu hal paling menyenangkan dari “A Dream Within a Dream” itu, menurutku ya, dramanya satir banget. Dia ngetawain kebiasaan drama-drama kostum lain, termasuk adegan-adegan yang sering banget kita lihat dalam drachin, seperti karakter jatuh dari tebing tapi tetap hidup, ketemu penyelamat misterius bertopeng, adegan tabrakan takdir yang kebetulan banget, salah paham yang bisa selesai kalau ngobrol 10 detik, trus tokoh yang kayak kebal luka padahal udah ditusuk tiga kali. HAHAHAHA.

Bedanya, di sini… female-lead-nya sadar. Dia tahu ini dunia naskah. Jadi, reaksinya sering kayak penonton yang tiba-tiba nyemplung ke layar.

Ada momen-momen Xiaoyu mencoba “mengakali sistem” dengan logika modern, tapi sistemnya malah kayak nge-bully dia balik. Pokoknya, “Nggak bisa, kamu harus ikut jalur cerita.”

Dan bagian “diulang-ulang” itulah yang bikin “A Dream Within a Dream” punya bnyak adegan komedi absurd. Seakan semesta punya tombol rewind.

Liu Yuning sebagai Nan Heng/ Nan Feng

Liu Yuning di sini punya aura “god of death” tapi juga bisa jadi bahan ketawa. Nggak heran banyak orang bilang “Liu Yuning is on the roll” di serial ini. Karena di drama “A Dream Within a Dream” ini dia dapat ruang untuk main banyak lapisan karakter.

Secara garis besar, Nan Heng itu bukan tipe male-lead yang dari awal manis. Dia punya aura tajam, dingin, terukur, dan kalau ngomong tuh kayak kalimatnya bisa motong meja. Saking tajamnya.

Tapi… karena ini drama yang tone-nya bisa serius tapi juga komedi, Nan Heng jadi karakter yang sering berada di situasi “kok gue jadi korban kekonyolan cewek ini?” Dan itu lucu menurut aku.

Ada momen dia tegang, serius, politik, hidup-mati. Lima menit kemudian… dia harus menghadapi Song Yimeng yang lagi panik, salah strategi, atau ngeluarin teori naskah yang bikin orang lain, “Hah?”

Dan yang paling aku suka dari Liu Yuning itu satu, dia bisa jadi lucu tanpa harus nge-badut. Komedinya datang dari tatapan, dari rasa “capek tapi ditahan,” dari ekspresi isi kepalanya menghadapi Song Yimeng, “Ini perempuan kenapa sih?”

Liu Yuning sebagai Nan Heng/ nan Feng di A Dream Within a Dream
Liu Yuning sebagai Nan Heng/ nan Feng di A Dream Within a Dream

Li Yitong sebagai Song Yimeng/ Song Xiaoyu

Aku suka Li Yitong karena suaranya, timing komedinya, dan energi “cewek waras di dunia yang tidak waras” yang dia punya.

Suara Li Yitong itu loh, say, khas banget. Agak serak, agak berat, bisa terdengar dewasa tapi juga bisa jadi “kawaii” kalau lagi ngambek atau panik. Dan suara itu penting banget untuk drama yang banyak dialog cepat kayak “A Dream Within a Dream” ini.

Di drama ini, Li Yitong harus main dua layer. Pertama, Song Xiaoyu, aktris modern yang tahu ini naskah. Kedua, Song Yimeng, tokoh di dalam dunia naskah yang “punya peran” tertentu.

Jadi di satu sisi dia harus tetap “jadi karakter drama kostum” tapi di sisi lain harus memancarkan energi orang modern yang nge-batin di dunia kolosal. Misalnya, “Ini kok semua orang ngomongnya kayak puitis banget? Ini kok masalah kecil dibikin ribet banget? Kenapa semua orang gampang percaya fitnah?!”

Dan timing komedinya enak. Nggak maksa. Reaksinya natural. Kita jadi percaya seandainya kita jadi dia. “Iya, kalau gue yang nyasar ke dunia naskah, gue juga akan segitu stresnya, segitu sarkasnya, segitu pengen kaburnya.”

Li Yitong sebagai Song Yimeng/ Song Xiaoyu di A Dream Within a Dream
Li Yitong sebagai Song Yimeng/ Song Xiaoyu di A Dream Within a Dream

Chemistry Liu Yuning dan Li Yitong

Aku suka romance yang bukan sekadar tatap-tatapan lalu jatuh cinta. Pada “A Dream Within a Dream,” romance-nya dibangun dari situasi yang bikin mereka saling menguji.

Song Yimeng awalnya curiga dan ketakutan, karena dia memegang “spoiler” nasib buruk yang ditulis untuknya. Sementar itu, Nan Heng awalnya terlihat seperti “villain male-lead” klasik yang kalau kamu salah langkah, kamu bakal dihabisin sama dia.

Nah, dari tarik-ulur itu, tumbuh sesuatu yang lebih menarik antara Song Yimeng dan Nan Heng. Kepercayaan mereka dibangun pelan-pelan, dan rasa yang muncul bukan karena “wah kamu ganteng” atau “wah kamu cantik” doang.

“A Dream Within a Dream” juga punya momen-momen romantis yang bikin kita senyum, tapi dia tidak bergantung pada romance untuk jadi seru. Dia tetap jalan karena konflik naskahnya kuat.

Momen romantis dalam A Dream Within a Dream
Momen romantis dalam A Dream Within a Dream

Salah satu hal yang memang bisa bikin penonton kayak aku agak frustrasi adalah Song Yimeng itu kadang keras kepala banget dan lama banget untuk mengubah perspektifnya soal Nan Heng. Tapi kalau aku tarik dari logika ceritanya, aku bisa ngerti kenapa.

Karena Song Yimeng bukan penonton. Kita sebagai penonton dikasih akses ke sisi Nan Heng, makanya kita tahu luka dia, motif dia kenapa bisa kayak gitu, konflik internal yang dia alami. 

Sementara Song Yimeng? Yang dia lihat dari Nan Heng adalah ancaman, tekanan, takdir yang memaksanya dekat, dan naskah yang berkali-kali membuktikan bahwa kalau dia mendekati Nan Heng, ya dia celaka. Jadi buat Song Yimeng, mempercayai Nan Heng itu sama aja berarti dia mati. 

Dalam cerita yang pakai konsep “takdir naskah” dan “loop” seperti “A Dream Within a Dream” ini, trauma itu kebangun berkali-kali. Jadi ya… wajar kalau Song Yimeng butuh waktu lama buat percaya Nan Heng.

Supporting Cast Bikin Drama Hidup

Berdasarkan pengalamanku, drama komedi kostum yang sukses itu hampir selalu punya pola yang sama, yaitu supporting cast yang paham ritme komedi. Mereka tuh kayak membawa energi “ramai” yang bikin drama ini berkesan banget.

Biasanya di drama lain, karakter sampingan cuma jadi alat konflik, alat salah paham, alat plot twist. Tapi di “A Dream Within a Dream” ini, banyak setiap supporting cast-nya punya motif, punya perubahan, punya komedi kecil, punya arc. Itu bikin 40 episode berasa nggak hambar.

Aku harus angkat topi buat second couple, yaitu Shangguan He (diperankan Riley Wang) dan Song Yiting (diperankan Zhu Xudan).

Riley Wang sebagai Shangguan He

Shangguan He adalah tangan kanan Nan Heng di Fading River Moon. Dari luar, kelihatannya dia cuma ajudan yang setia, tipe karakter yang kalau disuruh maju ya maju dan kalau disuruh mundur ya mundur.

Tapi… makin lama kita nonton, makin kelihatan bahwa kesetiaan Shangguan He itu tidak buta. Dia setia karena memilih Nan Heng sebagai tuan sekaligus sahabatnya.

Di dunia drama kolosal di mana semua orang dikunci oleh peran, bahwa pangeran harus ambisius, selir harus licik, jenderal harus brutal, nah… Shangguan He justru bisa berpikir sendiri. Dia sering jadi suara paling rasional di tengah kekacauan politik dan emosi Nan Heng.

Riley Wang mainin karakter ini dengan gaya yang kalem tapi tegas. Nggak berisik, nggak mencuri spotlight, tapi tiap kali dia bicara, kita tahu dia tuh karakter paling waras di antara lainnya. Dialog dan tatapan matanya sering menunjukkan konflik batin, antara loyalitas ke Nan Heng dan nilai moral yang dia pegang sendiri.

Riley Wang sebagai Shangguan He di A Dream Within a Dream
Riley Wang sebagai Shangguan He di A Dream Within a Dream

Zhu Xudan sebagai Song Yiting

Selanjutnya kita bicara Song Yiting, karakter yang kemungkinan besar bikin banyak penonton emosi campur aduk. Dia bukan antagonis, tapi ya bukan karakter yang polos juga.

Dia berada di area abu-abu yang sangat khas drachin banget. Dia perempuan yang terluka, lalu diberi terlalu sedikit pilihan, sampai akhirnya membuat keputusan buruk.

Sebagai adik tiri Song Yimeng, Song Yiting hidup dalam bayang-bayang. Kakaknya cantik, baik, dan “ditakdirkan” berada di pusat cerita. Sementara Yiting? Dia cuma figuran dalam skrip hidupnya sendiri.

Cemburunya bukan datang dari kebencian semata, tapi dari rasa tidak pernah dipilih. Zhu Xudan memerankan Song Yiting dengan sangat efektif. Ada kepahitan di matanya, ada ambisi yang lahir dari rasa inferior, dan ada keputusasaan bahwa kalau saja dunianya nggak dikunci oleh skrip, mungkin nasibnya nggak bakalan kayak gitu.

Song Yiting adalah contoh karakter perempuan yang dipaksa menjadi “jahat” oleh struktur cerita. Dia hidup di dunia yang mengajarkan bahwa nilai perempuan ditentukan oleh siapa yang menikahinya, siapa yang memilihnya, dan seberapa dekat dia dengan kekuasaan.

Tragisnya, usaha Song Yiting untuk mengambil kendali atas hidupnya justru membuatnya semakin terjebak dalam peran antagonis. Semakin dia melawan skrip, semakin keras dunia menghukumnya.

Untung saja Song Yiting berkenalan dengan Shangguan He yang membuat dunianya berubah menjadi lebih baik.

Zhu Xudan sebagai Song Yiting di A Dream Within a Dream
Zhu Xudan sebagai Song Yiting di A Dream Within a Dream

Ending yang Rapi

Aku nggak akan pura-pura bilang semua penonton pasti puas setelah nonton “A Dream Within a Dream,” karena taste orang beda-beda. Tapi nih ya… dari kebanyakan drama China yang aku lihat, “A Dream Within a Dream” itu termasuk yang berusaha menutup cerita dengan rasa SELESAI. Benar-benar memuaskanku sebagai penonton.

Karena problem utama dramanya dari awal udah kelihata, apakah takdir naskah bisa dilawan? Dan kalau bisa… apa harga yang harus dibayar?

Yang bikin satisfying adalah drama ini nggak cuma ngasih jawaban “ya bisa” atau “nggak bisa,” tapi menunjukkan prosesnya. Mulai dari bagaimana karakter yang awalnya cuma ingin selamat, lama-lama berubah jadi orang yang berani memilih, berani menanggung akibat, dan berani “menulis ulang” jalan hidupnya sendiri.

Kalau kamu tanya aku, “A Dream Within a Dream” itu worth it ditonton atau nggak. Jawabannya VERY WORTH IT.

Terima kasih untuk seluruh kru  A Dream Within a Dream
Terima kasih untuk seluruh kru A Dream Within a Dream

Dan percayalah, nanti kamu bakal kayak aku, rasanya kayak balik muda 10 tahun. Soalnya ketawa itu memang bikin hidup lebih ringan.

Kalau kamu suka drama yang bisa bikin ngakak tanpa cringe, punya konsep meta/loop/transmigration, chemistry lead-nya kuat, dan tetap ada rasa “epik” ala drama kostum, “A Dream Within a Dream” wajib masuk list.

Bagaimana pendapatmu setelah membaca review ini? Silakan posting di kolom komentar ya…

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment