Review Speed and Love, drama china 2025
Review Speed and Love, drama china 2025

Akhirnya, selesai juga maraton Speed and Love. Sebelum masuk ke ulasan panjang x lebar, aku mau bikin satu statement dulu. Kalau sebelumnya aku bilang “Love in the Clouds” adalah drama kostum China terbaik tahun ini, maka secara personal, “Speed and Love” aku nobatkan sebagai drama china modern terbaik versiku.

Bahkan, dari segi cerita, ia terasa lebih ngena dibanding “Love’s Ambition” Zhao Lusi. No offense. Ini murni soal selera dan bagaimana ceritanya beresonansi denganku sebagai penonton.

Menonton “Speed and Love” rasanya seperti menyaksikan sebuah feature-length movie yang dipecah menjadi 29 episode, bukan sekadar drama televisi biasa. Ada aroma film “Initial D” era 2005 yang dulu menemani masa remajaku. Aspal panas, raungan mesin, laki-laki muda yang marah pada hidup, dan cinta yang datang bukan untuk menyelamatkan lewat kata-kata, tapi lewat kehadiran.

So, are you ready to read my review? Semoga kamu betah, ya, karena kali ini, aku nulisnya agak panjang.

Sinopsis Speed and Love

Cerita ini bermula dari dua anak yang tumbuh di bawah atap yang sama. Jiang Mu/ Mu Mu (diperankan Yu Shuxin), gadis kecil yang hidupnya relatif terlindungi, dan Jin Zhao (diperankan He Yu), anak laki-laki pendiam yang masuk ke Keluarga Jiang bukan sebagai anak kandung.

Ayah kandung Jin Zhao dan ayah Jiang Mu sama-sama pembalap mobil. Ketika ayah Jin Zhao meninggal, ayah Jiang Mu membawa Jin Zhao tinggal bersama istrinya yang saat itu tengah mengandung Jiang Mu. Setelah kehilangan figur orang tua, Keluarga Jiang menerimanya dan membesarkannya bersama Jiang Mu.

Sejak kecil, dinamika mereka sudah jelas. Jin Zhao selalu berada setengah langkah di depan Jiang Mu. Ia melindungi, mengajari, dan menjadi bayangan yang diam-diam memastikan Mu Mu aman. Hubungan mereka benar-benar seperti abang dan adik kandung. Jin Zhao menjadi kakak sekaligus pelindung, pengawas, dan dunia kecil tempat Mu Mu merasa aman. Sayangnya hidup tidak memberi mereka waktu panjang untuk tetap bersama.

He Yu sebagai Jin Zhao
He Yu sebagai Jin Zhao

Ketika Jiang Mu berusia sembilan tahun, orang tuanya bercerai. Ayahnya memutuskan pindah ke Thailand, dan Jin Zhao ikut bersamanya. Tanpa banyak penjelasan, tanpa perpisahan baik-baik, dua anak yang saling bergantung itu dipisahkan oleh jarak dan waktu. Sejak hari itu, hidup mereka berjalan di dua jalur berbeda yang tidak pernah benar-benar bertemu.

Jiang Mu tumbuh di Tiongkok, dikelilingi pendidikan, keluarga, dan mimpi yang terstruktur. Setelah dewasa, ibunya bahkan menikah lagi dengan pebisnis sukses, bahkan berencana pindah ke Kanada. Jiang Mu berkembang menjadi gadis cerdas, penuh empati, dengan cita-cita besar di bidang kedirgantaraan. Hidupnya tidak sempurna, tapi stabil.

Sementara itu, Jin Zhao tumbuh di Thailand, di dunia yang jauh lebih kasar. Tanpa perlindungan keluarga yang sehat, ia belajar bertahan hidup lewat cara paling keras. Dunia Jin Zhao adalah dunia balap liar, tinju, dan jalanan. Kecepatan dan kekerasan menjadi caranya mengusir rasa tidak berguna yang terus menghantuinya sejak kecil.

Bertahun-tahun berlalu tanpa kabar. Suatu hari, Jiang Mu mengetahui fakta bahwa Jin Zhao ternyata bukan abang kandungnya, bukan pula anak angkat secara hukum yang sah, sesuai peraturan berlaku di China. Ia adalah anak pungut dari sahabat ayahnya yang dititipkan karena keadaan. Kebenaran ini mengguncang persepsi Jiang Mu tentang masa lalu mereka.

Tanpa banyak rencana, Jiang Mu terbang ke Thailand seorang diri untuk mencari Jin Zhao. Pertemuan mereka kembali bukan pertemuan manis yang penuh nostalgia. Jin Zhao yang ia temui bukan lagi anak laki-laki rapi, rajin belajar, dan pendiam yang ia kenal. 

Yu Shuxin sebagai Jiang Mu/ Mumu
Yu Shuxin sebagai Jiang Mu/ Mumu

Ia kini pria keras, penuh luka, dan hidup di dunia yang asing bagi Jiang Mu. Tinju, balapan, taruhan, dan bahaya adalah keseharian Jin Zhao, dunia yang ia bangun sebagai benteng agar tidak perlu berharap apa pun dari siapa pun.

Alih-alih mundur, Jiang Mu justru melangkah masuk ke dunia Jin Zhao. Ia berusaha memahami kehidupan Jin Zhao, beradaptasi dengan lingkungan barunya, bahkan mengambil peran penting dalam dunia balapnya sebagai navigator. Hubungan mereka perlahan berubah. Dari ikatan masa kecil yang protektif, menjadi ketegangan emosional yang tidak lagi bisa disangkal.

Akan tetapi, Jin Zhao menolak perasaan itu. Bukan karena ia tidak mencintai Jiang Mu, tapi justru karena terlalu mencintainya. Jin Zhao merasa dirinya kotor, rusak, dan berbahaya bagi masa depan Jiang Mu. Ia yakin bahwa dunia yang ia tinggali hanya akan menyeret Jiang Mu ke dalam kegelapan. Maka, ia memilih menjaga jarak dengan bersikap dingin, keras, dan menutup diri.

Fake-siblings romance, Speed and Love (2025)
Fake-siblings romance, Speed and Love (2025)

Di tengah tarik-ulur emosi itu, hubungan mereka diuji oleh berbagai konflik, mulai dari persaingan di dunia balap, kekerasan antar geng di Thailand, tekanan ekonomi, dan masa lalu Jin Zhao yang terus menghantui. Hingga sebuah kecelakaan besar terjadi, sebuah titik balik yang memisahkan mereka untuk kedua kalinya.

Kali ini, perpisahan kedua mereka tidak terjadi karena jarak geografis, melainkan karena kondisi fisik dan mental Jin Zhao yang hancur. Menghadapi kemungkinan hidup dengan keterbatasan dan ketidakpastian masa depan, Jin Zhao mengambil keputusan paling menyakitkan, menghilang dari hidup Jiang Mu selama enam tahun, tanpa penjelasan, tanpa perpisahan.

Ada yang bilang Jin Zhao di sini “kabur.” Tapi coba pikir deh. Bayangkan kamu berusia 23–24 tahun. Tubuhmu rusak. Masa depanmu gak jelas. Kamu miskin pula. Dan orang yang kamu cintai baru berusia 19–20 tahun, dengan mimpi besar di langit. Pertanyaannya, apakah kamu akan menyeretnya masuk ke hidup yang belum tentu bisa kamu jalani sendiri?

Jin Zhao pergi bukan karena tidak percaya Jiang Mu. Ia pergi karena tidak percaya dirinya sendiri. Dan ini yang membuat ceritanya terasa dewasa. Cinta tidak selalu berarti bertahan bersama. Kadang, cinta berarti memberi ruang. Ah, i’m crying.

Relationship karakter di Speed and Love
Relationship karakter di Speed and Love

Sementara dunia menilai kepergian Jin Zhao sebagai pengkhianatan, Jiang Mu harus menelan kehilangan itu sendirian. Ia mengambil tanggung jawab keluarga, melanjutkan pendidikan, dan mengejar mimpi kedirgantaraan, mimpi yang dulu mereka bagi bersama.

Jiang Mu tumbuh, tidak lagi sebagai gadis manis yang menunggu, melainkan sebagai individu mandiri yang membawa luka sekaligus harapan dalam hatinya.

Enam tahun kemudian, setelah lulus dan kembali ke China, Jiang Mu menetap di Nanjing, kota masa kecilnya bersama Jin Zhao. Dan di sanalah takdir mempertemukan mereka kembali.

Pertemuan ketiga mereka bukan lagi pertemuan anak-anak yang terpisah, atau remaja yang terjebak perasaan terlarang. Mereka kini adalah dua orang dewasa yang telah ditempa oleh waktu, kehilangan, dan pengorbanan. Jin Zhao tidak lagi lari. Jiang Mu tidak lagi mengejar dengan naif.

Hubungan mereka kini berdiri di atas pilihan sadar, bukan atas dasar kewajiban, bukan atas dasar rasa bersalah, melainkan cinta yang akhirnya mereka saling akui sepenuhnya.

“Speed and Love” menutup kisahnya dengan happy ending. Dua jiwa yang akhirnya berhenti berlari dan memilih berjalan bersama, setara, di jalur yang sama.

Happy ending dong...
Happy ending dong…

Thailand dan Sentuhan Sinematik dalam “Speed and Love”

Salah satu hal paling mengejutkan sekaligus paling menyenangkan dari “Speed and Love” buat aku pribadi adalah keberanian tim produksi untuk keluar dari zona nyaman ala drama china modern. Dan mereka ini bukan sekadar pindah lokasi syuting biar kelihatan “beda,” tapi keputusan kreatif yang benar-benar memengaruhi rasa, ritme, dan jiwa cerita.

Biasanya, drama china modern bermain aman. Kota besar, apartemen rapi, kantor kaca, kafe estetik, konflik emosional yang relatif steril. Tapi “Speed and Love” memilih jalan yang lebih berisiko dengan membawa ceritanya ke Thailand, dan bukan Thailand versi kartu pos yang keren dan indah itu.

Yang kita lihat di drama china ini bukan pantai eksotis atau resort mewah. Yang kita lihat adalah jalanan panas, bengkel berdebu, gang sempit, arena tinju yang kasar, dan malam-malam penuh suara mesin. Thailand di sini bukan Thailand dengan latar belakang cantik, tapi ruang hidup yang keras, tempat karakter bertarung untuk bertahan.

Gang sempitnya yang penuh tenda, kuil-kuil di pinggir jalan, patung Buddha, lampu-lampu kuning redup, suara pedagang campur musik, street food-nya, mobil-mobil tua modifikasi, pasar ramai. Keren! Sekali lagi, keren!!!

Suasana Thailand di Speed and Love
Suasana Thailand di Speed and Love

Honestly, ini jarang banget dilakukan drama china. Applause deh, buat tim produksinya!

Keputusan ini langsung memberi kesan bahwa “Speed and Love” tidak ingin jadi tontonan “aman” tapi ia ingin penonton merasakannya sangat nyata.

Yang membuat penggunaan Thailand terasa efektif adalah cara drama ini memperlakukannya sebagai ekstensi dari karakter Jin Zhao. Lingkungan di sekitarnya mencerminkan siapa dia dan bagaimana hidup membentuknya.

Panasnya cuaca, debu jalanan, suara bising, kerasnya latihan tinju, dan ritme hidup yang cepat, semuanya mempertegas bahwa Jin Zhao hidup di dunia yang tidak memberinya banyak pilihan. Ia tidak punya kemewahan untuk ragu, untuk lembut, atau untuk bermimpi terlalu jauh.

Setiap kali aku melihat Jin Zhao di lintasan balap liar atau di ring tinju, aku melihatnya sebagai mekanisme dia bertahan hidup. Kecepatan baginya bukan hobi, tapi cara untuk melupakan. Tinju bukan ambisi, tapi pelarian.

Thailand menjadi ruang di mana Jin Zhao belajar bahwa kalau kamu lambat, kamu kalah, dan kalau kamu lemah, kamu ditinggalkan. Dan itu menjelaskan kenapa dia tumbuh menjadi pria yang keras, irit kata, dan selalu siap melukai diri sendiri demi bertahan.

Ketika Jiang Mu datang ke Thailand, perbedaan dunia mereka terasa sangat kontras. Jiang Mu berasal dari lingkungan yang relatif aman, sedangkan Thailand versi Jin Zhao adalah kebalikannya.

Latar Thailand yang detail di Speed and Love
Latar Thailand yang detail di Speed and Love

Menariknya, drama china ini tidak membuat Jiang Mu “langsung cocok” dengan dunia itu. Ia sempat kikuk, sempat bingung, bahkan sempat takut juga. Dan itu penting.

Kebanyakan drama china lebih memilih shortcut dengan membuat female lead cepat beradaptasi agar cerita bergerak cepat. Tapi “Speed and Love” membiarkan Jiang Mu belajar pelan-pelan, sama seperti kita, para penonton. 

Kita ikut merasa tidak nyaman, ikut cemas, ikut menyadari betapa jauhnya jarak hidup mereka. And that’s why kenapa aku pribadi, gak bisa skip satu episode pun di iQIYI.

Chemistry mereka terasa organik. Jiang Mu tidak datang sebagai penyelamat instan untuk Jin Zhao. Ia masuk ke dunianya, menjadi navigator/ co-pilot di lintasan balap. Sementara di luar lintasan, Jiang Mu adalah jangkar emosional Jin Zhao.

Ia berada di sisi Jin Zhao karena ia memilih bertahan meski dalam dunia yang tak ia pahami sepenuhnya. Barulah perlahan, ia menemukan caranya sendiri untuk beradaptasi di dunia itu. Di sini, Jiang Mu sama sekali tidak mengubah dunia Jin Zhao, tapi mengisi bagian yang hilang dari dunia Jin Zhao.

Best c-drama romance 2025
Best c-drama romance 2025

Balap Liar dan Tinju bukan Gimmick!

Ini dia yang benar-benar patut diapresiasi besar-besaran dari “Speed and Love.” Adegan balap dan tinju di drama ini terasa serius banget, gak murahan, gak asal ditempelin aja.

Balap liar di “Speed and Love” punya intensitas yang mengingatkanku pada “Initial D” (2005). YTTA. Ada adrenalin, ada risiko, ada ketegangan nyata. Kamera tidak hanya fokus pada kecepatan mobil, tapi juga ekspresi Jin Zhao, seperti tatapan kosongnya, rahangnya yang mengeras, fokusnya yang obsesif.

Pas aku nonton dia di balik kendali kemudi, aku bisa ngerasain bahwa dia memang sedang melarikan diri dari rasa sakit. So, tujuan utamanya bukan buat menang.

Begitu juga dengan tinju. Setiap pukulannya terasa berat. Dia gak heroik, tapi brutal. Drama ini tidak meromantisasi kekerasan. Ia menunjukkannya sebagai harga yang harus dibayar Jin Zhao untuk bertahan hidup.

Secara keseluruhan, penggunaan Thailand membuat “Speed and Love” terasa lebih sinematik daripada drama china modern kebanyakan. Pacing-nya lebih berani. Visual-nya lebih mentah. Emosinya benar-benar real, gak dipoles.

Ada nuansa film indie di beberapa bagian. Ada keheningan yang dibiarkan panjang. Ada adegan tanpa dialog yang justru berbicara banyak. “Speed and Love” percaya pada visual dan emosi. Sekali lagi, aku salut banget sama tim produksinya.

Dengan memilih Thailand sebagai panggung utama di paruh awal cerita, “Speed and Love” gak cuma keluar dari zona nyaman drama china. Ia menciptakan identitasnya sendiri yang lebih dewasa, lebih berani, dan jauh lebih membekas.

Bagiku, keputusan kreatif ini adalah salah satu alasan kenapa drama ini terasa begitu “perfect” dari awal sampai akhir.

Adegan Ikonik yang Jadi Favorit

Judul “Speed and Love” setelah aku nonton full semua episodenya, benar-benar mencerminkan dua dunia karakter utamanya. “Speed” adalah dunia Jin Zhao yang cepat, brutal, berbahaya, tanpa masa depan jelas. “Love” adalah dunia Jiang Mu yang stabil, konsisten, mengarah ke masa depan.

Sinematografi, OST yang top-tier, dan nuansa ala film-nya, sekali lagi, bikin aku benar-benar kagum. Secara visual, drama ini indah tanpa berisik. Sejak Februari 2025 aku udah antisipasi drama ini, akhirnya Desember bisa dibayar TUNAI nontonnya. 

Ada terlalu banyak, tapi beberapa benar-benar imprinted di kepalaku, yaitu pelukan Jin Zhao untuk Jiang Mu di depan semua orang usai menang balap (Episode-3). Beuh, bikin semriwing. Adegan romancenya, mulai dari first drunk kiss, coffee kiss, garage kiss (Episode 15 dan 16). Gelooo, Yu Shuxin dan He Yu. Kalian luar biasa!

Ada juga adegan pas Jin Zhao gendong Jiang Mu naik tangga, lalu napakin kaki Jiang Mu di kakinya sendiri (Episode-13). Astaga, benar-benar ya chemistry mereka dibangun step by step. Adegan bed-scene-nya juga, jangan ditanya. Pengen teriak!!!

Dua Karakter Pendukung dengan Visual Dewa

Aku juga merasa perlu memberi standing ovation setinggi langit untuk dua aktor pendukung dari Thailand yang menurutku jadi elemen penting kenapa “Speed and Love” terasa hidup, autentik, dan jauh dari kesan “tempelan luar negeri.” Patrick Finkler dan Mike Angelo, kalian benar-benar luar biasa.

Mari mulai dari Mike Angelo (Pirat Nitipaisalkul). Jujur ya, begitu dia muncul di layar, auranya langsung beda. Karakternya punya big bad mafia boss vibe yang kuat, tapi tidak karikatural. Dia berwibawa, kadang dingin, kadang deep banget.

Dan yang paling aku suka, Mike tidak berusaha mencuri perhatian penonton dari He Yu sebagai karakter utama, meski secara visual dia bisa melakukannya. Kehadirannya sangat seimbang dalam cerita. Itu tandanya aktor matang.

Mike Angelo sebagai Lin Sui
Mike Angelo sebagai Lin Sui

Mungkin karena latar belakangnya yang panjang di industri hiburan, dari duo legendaris Golf-Mike, aktor, penyanyi, sampai CEO MDA Entertainment, pengalaman Mike benar-benar terasa di aktingnya. Cara dia berdiri, menatap, berbicara, semuanya ekonomis tapi menghantam. 

Ditambah lagi, kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin-nya, bahkan banyak penonton mungkin gak sadar kalo dia aslinya aktor Thailand, membuat interaksi lintas budaya di drama ini terasa natural, bukan dipaksakan. Dan knowing bahwa tahun 2004 kemarin dia juga mulai debut sebagai produser lewat VAMP The Series, rasanya makin respek. This man knows exactly what he’s doing.

Lalu Patrick Nattawat Finkler yang ternyata peranakan China juga, dengan nama Yin Haoyu . Masyaallah, ini paket lengkap. Visual dapet, akting dapet, latar belakang internasionalnya pun memberi warna sendiri. Ada sesuatu dari Patrick yang terasa sangat global tapi tetap grounded. Mungkin karena dia tumbuh di antara budaya Jerman, Thailand, lalu China, aktingnya terasa fleksibel dan gak kaku.

Patrick Nattawat Finkler sebagai Liang Yanfeng
Patrick Nattawat Finkler sebagai Liang Yanfeng

Sebagai aktor yang juga pernah debut idol lewat Produce Camp 2021 dan INTO1, Patrick punya kontrol tubuh dan ekspresi yang sangat baik. Dia tidak overacting, tapi juga gak datar. Emosinya tulus dan terukur. Dan fakta bahwa dia juga menempuh pendidikan di Beijing Film Academy? That explains a lot. Dia serius membangun karier aktingnya, bukan sekadar numpang lewat.

Kehadiran Mike Angelo dan Patrick Finkler buat aku lebih dari sekadar pemanis, tapi penguat cerita. Mereka bikin Thailand di “Speed and Love” terasa hidup, berlapis, dan kredibel. Tanpa mereka, atmosfer drama ini bisa jadi gak akan sekuat itu.

So, kita sudah sampai di pengujung ulasanku. “Speed and Love” hanya punya 29 episode, dan menurutku itu justru kekuatannya. Tidak bertele-tele, tidak memanjang demi rating. Setiap episode terasa perlu, setiap emosi punya ruang bernapas.

Kalau kamu mencari drama china dengan cinta dengan romance instan dan konflik cepat selesai, mungkin ini bukan untukmu. Tapi kalau kamu mencari cerita tentang cinta dengan romance yang bertahan dengan cara paling manusiawi, maka drama ini layak masuk watchlist-mu. 

Ritmenya pas, ceritanya matang, dan dijamin gak bikin bosan. Buatku, “Speed and Love” mirip kayak perjalanan emosi yang akan tinggal lama setelah episode terakhir berakhir. Hal sama seperti aku menonton “Hidden Love” dan “Will Love in Spring.” Terima kasih sudah membaca sampai selesai ya!

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

14 responses to “[Review] Speed and Love, Drama China Modern dengan Cerita Paling Berkelas Tahun 2025”

  1. omnduut Avatar

    Penggunaan Thailand membuat “Speed and Love” memang terasa lebih sinematik tapi juga nambahin budget produksi haha, tapi kalo hasilnya maksimal maka nggak sia-sia. Ah kebayang kalo drakor/dracin menjadikan Indonesia sebagai lokasi syutingnya, secara gak langsung akan berpengaruh ke kedatangan wisatawan juga kan ya. Kayak dulu Memories of Bali (2004) pernah syuting atau Eat, Pray, Love (2010)

  2. okti Avatar

    Wuih, puas sekali saya baca review dari Speed and Love ini.
    Beneran seolah saya diperlihatkan begini nih kelebihan drama China ini
    Gak menye2 ambil jalan pintas dalam setiap kisah, tapi step by step hingga jalan cerita dimengerti kita
    Salut bener ya drama ini memang jempol

  3. Diah Woro Avatar

    Jarang-jarang ada drakor atau drachin yang bahas soal dunia balap atau ‘speed’ gini ya? Biasanya kan CEO-CEO-an terus. Review Kak Muthia bikin aku penasaran, beneran seseru itu ya perkembangan karakternya?

  4. Annie Nugraha Avatar

    Ah mengharu biru baca ulasannya. Runut, details, dan mengajak para pembaca mengikuti jejak hidup Mu Mu dan Jin Zhao. Dari kecil bersama, terpisah karena urusan orang tua, bertemu kembali di masa menjelang dewasa, hingga akhirnya menutup cerita dengan value kebersamaan yang dinanti belasan tahun lamanya. What a great story.

    Ada serangkaian kalimat yang aku suka “Cinta tidak selalu berarti bertahan bersama. Kadang cinta berarti memberi ruang.” Duh makjleb betul ya. Tapi apalah daya jika Dia ternyata punya skenario yang lebih baik. No wonder jika serial ini bisa ditonton tanpa jeda. Pasti gak ngebosenin deh.

  5. Annisakih Avatar

    Mbak Muthe, saya skip reviewnya di beberapa part karena lagi nonton dan baru di episode belasan. Takut kepapar spoiler, soalnya saya juga sesuka itu.

    Yang bikin saya susah berpaling tu tatapan Jin Zhao ke Mu yang daleeeemmmm banget. Rasa sayangnya menembus layar. Mungkin karena awalnya mereka kakak-adik gitu ya.

  6. Maria G Soemitro Avatar

    Saya gak nonton Speed and Love karena gak suka Esther Yu hehehe

    gara-gara nonton aktingnya di Ski into Love yang nyebelin, saya gak mau nonton dramanya lagi

    tapi biasanya berubah sih, seperti dulu saya gak suka aktris Korea Shin Hae-Sun, sekarang udah gak sebel dan mau nonton dramanya lagi

    Mungkin karena Shin Hae-Sun menunjukkan kualitasnya dalam bidang akting ya?

    1. Mutia Ramadhani Avatar

      Aku juga gak suka Esther Yu ambuuuuu. Wkwkwkwk. Tapi aku lumayan ngikutin karier dia, soalnya dia selalu dipasangkan dengan aktor-aktor yang aq suka dan salah satunya ya He Yu ini. Menurut aku, akting Esther Yu di “My Journey to You” dan “Speed and Love” the best so far. “Ski into Love” akting Lin Yi sama Esther Yu sama-sama gagal menurutku. Wkwkwkwk. Ceritanya juga gak banget.

  7. Yuni Bint Saniro Avatar

    Lin Sui tuh lebih le Love rivalnya si Mumu dah. Doi sebenarnya ngejar-ngejar Zin Chao nggak sih. Hahaha…

    Aku cukup suka nih sama Speed and Love. Gegara nonton drama ini, aku juga hunting drama Esther Yu yang lain. Hehehe

    Cuma ya itu, aku nontonnya yang drama modernnya doang.

  8. Nanik Nara Avatar

    Mu Mu dan Jin Zhao, kecilnya satu melindungi, satu bergantung. Namun mendadak harus terpisah. Ketemu lagi di masa remaja, mulai ada benih cinta, tapi harus berpisah karena yang satu merasa tak ingin membawanya pada “kesengsaraan”

    Akhirnya bertemu lagi kala sudah sama-sama dewasa.
    dan happy ending

  9. Suci Avatar

    Hari ini, dua kali aku baca review speed and love. Di tulisan ini masih baca revirew awal aja udah bikin aku kepengen nonton banget2 deh.
    Apalagi ada syuting di Thailand yang kita tau negara cantik ini ngga pernah gagal di depan kamera.
    Fix, tontonan pertama awal tahun nih…

  10. Hida Avatar
    Hida

    Wuih lengkap banget ini reviewnya, jadi pengen nonton juga. Aku bukan penggemar drachin, tapi baca ulasannya jadi tertarik.

  11. YSalma Avatar

    Kalau dunia balap yang ditampilkan dalam speed and love emang sebikin deg-deg an yang nonton karena ngerasain adrenalinnya, dracin satu ini wajib ditonton juga setiap episodenya.
    Review-nya sukses membuat penasaran untuk menyaksikan setiap adegan tarik ulur emosi Mu Mu dan Jin Zhao.

  12. Fenni Bungsu Avatar
    Fenni Bungsu

    Unik juga jalan ceritanya, karena tentang balapan mobil, yang menurut daku kayaknya bukan drama yang membosankan.

    Terus serunya layar tempatnya jadi menambah daya tarik bagus ya, karena ada di Thailand juga.

    Serta yang peling penting sih soal make up nya, yang jangan keputihan, kayaknya gak asik aja kalau make up aktornya terlalu putih ketimbang make up yang aktrisnya.

  13. Myra Avatar

    Visual pemainnya kelihatan oke banget sih kalau lihat dari artikel ini. Kayaknya cocok buat jadi tontonan maraton pas weekend. Lagipula mulai bosan juga dengan kisah romance instan. Sesekali saya mau cari suasana cerita romance lain.

Leave a Comment