Main ke rumah saudara, biasanya kita sering plot twist perkara makan. Akhir pekan kemarin, aku, suami, dan anak-anak main ke rumah adik ipar di Bintaro bareng bumer dan pakmer juga. Jelang makan siang, kami sebenarnya belum terlalu lapar. Rencananya cari camilan, eh malah belok ke Menya Uki.
Menya Uki ini adalah restoran ramen yang berada di deretan Ruko Sentra Menteng, Bintaro Sektor 7. Letaknya agak masuk ke belakang, tepatnya di belakang Hari Hari Swalayan dan tidak jauh dari Bintaro Xchange.
Kalau tidak tahu tempatnya, kemungkinan besar kita memang bisa lewat begitu saja. Dari jalan, Menya Uki bukan tipe restoran yang langsung menarik perhatian dengan papan nama besar. Letaknya sedikit tersembunyi dan itulah yang membuatnya terasa seperti temuan kecil alias hidden gem.
Si adek sudah beberapa kali makan di sana dan bilang restorannya sering penuh. Jadi sebelum sampai lokasi, ia menelepon lebih dulu untuk memastikan masih ada tempat.
Kami datang sekitar pukul 11.00 WIB. Belum terlalu siang, tetapi restoran sudah mulai ramai. Akhirnya bisa dapat meja makan buat tujuh orang.

Ramen Halal Menya Uki
Aku pesan Gekikara Hotto Ramen. Suami memilih Aka Ramen. Si kakak pesan sushi, sementara si adek kembar memilih Ebi Cha Han, yang sederhananya bisa dibayangkan sebagai nasi goreng ala Jepang. Dari jenis pesanan saja sudah kelihatan bahwa selera kami tidak seragam.
Gekikara Hotto yang aku pilih bukan ramen yang mengandalkan cabai semata untuk membuat lidah sibuk. Kuahnya gurih dengan sensasi pedas yang muncul kemudian. Katanya sih ini pakai cabai terpedas di dunia, tapi sumpah, di lidahku kok biasa saja ya. Mungkin karena aku orang Minang yang sudah biasa makan cabai segala rupa. Hehehe.
Pedasnya sih cukup berani ya, tetapi tidak sampai menenggelamkan rasa kuah ramennya. Buatku, ini penting. Ramen pedas gampang sekali jatuh ke perangkap pedas, sehingga simpelnya ya kita kayak makan cabai, susah menikmati kuahnya dan lainnya.
Nah, Gekikara Hotto punya Menya Uki ini, rasa pedasnya masih punya tempat di dalam keseluruhan kuah. Gurihnya tetap terasa, sensasi asin tetap ada, lalu pedas datang sebagai aksen yang membuat kita ingin menyendok lagi kuah demi kuahnya.
Mienya juga punya tekstur yang enak. Kenyal, tetapi tidak sampai membuat rahang bekerja terlalu keras buat ngunyaj. Saya suka kuahnya seperti melekat pada mie. Jadi, mie dan kuahnya memang terasa seperti pasangan gitu.
Aka Ramen yang dipilih suami punya karakter berbeda. Rasanya lebih lembut dan kalem dibanding Gekikara Hotto. Gurihnya bulat dengan rasa yang terlalu kuat, tapi lembut bukan berarti hambar.
Chef Uki, pemilik Menya Uki, sebelumnya dikenal lewat usaha sushi halal, Umaku Sushi. Dalam podcast bersama Ray Janson Radio, ia pernah cerita bahwa ketertarikannya pada ramen sebenarnya sudah muncul jauh sebelum Menya Uki berdiri.
Saat pertama kali pergi ke Jepang pada 2013 untuk belajar sushi, Chef Uki sempat terpikat pada kedai-kedai ramen. Suasana kedai dengan pelanggan yang sudah mengantre sejak pagi membuatnya penasaran. Namun saat itu fokusnya tetap sushi.
Ramen baru benar-benar kembali masuk ke pikirannya beberapa tahun kemudian, ketika ramen halal mulai semakin dikenal di Indonesia. Daripada sekadar penasaran, Chef Uki memilih mencicipinya.

Dia mencoba ramen di berbagai tempat, mulai dari ramen lokal sampai ramen yang dibuat menggunakan resep atau teknik yang dibawa dari Jepang. Ia ingin memahami kenapa sebuah ramen bisa terasa enak di lidah banyak orang.
Dari berbagai pengalaman itu, Chef Uki menemukan bahwa ada bagian-bagian ramen yang menurutnya masih bisa dibuat lebih baik. Dia pun bereksperimen di rumah.
Awalnya, Chef Uki tidak ada rencana langsung membuka restoran. Ia hanya ingin tahu, kenapa kaldu ramen yang satu terasa berbeda dari ramen yang lain? Apa yang terjadi kalau komposisinya diubah, bahan tertentu ditambahkan atau dikurangi?
Eksperimen itu berlangsung lama juga loh. Chef Uki menyebut pengembangan ramen dimulai sekitar dua tahun sebelum restoran dibuka. Awalnya dilakukan sesekali, lalu semakin intens hingga sekitar dua minggu sekali.
Chef Uki membuat ramen karena memang ingin mendapatkan ramen yang sesuai dengan seleranya sendiri. Dari situlah Menya-Uki berkembang.
Rahasia Kuah Menya Uki
Membuat kuah ramen yang punya rasa dalam memang tidak bisa dikerjakan dengan sistem buru-buru. Di Menya Uki, kaldu ayam dibuat dari kombinasi tulang ayam dan ceker ayam, kemudian dipadukan dengan ikan teri serta bahan-bahan lain untuk membangun rasa umami.
Kaldu itu dimasak dalam waktu panjang. Dalam proses yang diperlihatkan di podcast, Chef Uki menyebut kaldunya dimasak sekitar lima jam.
Lima jam untuk sesuatu yang pada akhirnya kita habiskan dalam satu mangkuk. Luar biasa!
Kalau dipikir-pikir, memang agak lucu. Di meja, yang terlihat hanya mie, kuah, telur, dan topping. Selesai dimakan mungkin dalam 10 atau 15 menit. Padahal sebelum sampai ke meja, ada berjam-jam proses yang tidak ikut terlihat.



Komposisi harus dicoba berkali-kali. Rasanya harus dievaluasi. Belum lagi persoalan restoran ramen kebanyakan, yaitu bagaimana membuat ramen tetap punya karakter ketika bahan-bahan yang lazim dipakai dalam ramen Jepang tidak bisa digunakan?
Menya Uki sedari awal sudah memilih jalur halal. Mirin dan sake tidak digunakan sama sekali. Chef Uki tentu menghadapi tantangan mencari pengganti satu bahan dengan bahan lain. Alih-alih pusing, Chef Uki belajar memahami fungsi setiap bahan terhadap rasa.
Kalau ingin menghasilkan karakter manis tertentu, dari mana rasa itu dibangun? Kalau membutuhkan gurih dan umami, apa yang bisa memberikan kedalaman? Bagaimana supaya kuah tetap kaya tanpa kehilangan keseimbangan?
Chef Uki bahkan berdiskusi dengan chef Jepang yang menjadi gurunya. Satu momen tak terlupakan, ketika sang guru mencoba ramen buatannya dan diberi tahu bahwa ramen tersebut tidak menggunakan mirin dan sake.
Responsnya kurang lebih heran, bagaimana bisa rasanya tetap enak seperti itu? Nah, buat Chef Uki, tentu saja itu bukan pujian kecil.
Selain karena ramen buatannya dipuji chef Jepang, Chef Uki berhasil menunjukkan bahwa ramen halal tidak harus berhenti pada standar “yang penting bisa dimakan.”
Ramen halal bisa dikerjakan dengan serius. Tekniknya diperhatikan, bahannya dipilih, rasanya diuji, dan identitas makanannya tetap dijaga.

Kenapa Harganya Bisa Relatif Ramah?
Serius, ini juga menjadi pertanyaan suami ketika berada di meja kasir. Bagaimana mungkin ramen dengan topping sebanyak ini, dengan rasa seotentik ini, dan porsi sebanyak ini, bisa dijual dengan harga di bawah Rp100.000?
Kamu harus tahu bahwa menu-menu ramen di Menya Uki tersedia mulai sekitar Rp35.000 untuk menu tertentu. Kalau mengingat kaldunya saja dimasak sekitar lima jam, angka ini tentu jadi tanda tanya, bagaimana hitung-hitungannya?
Dalam podcast, Chef Uki menjelaskan cara pandangnya terhadap harga. Ia membawakan ke dirinya sendiri sebagai pelanggan.
Kalau ia makan sesuatu, ia ingin makanan itu enak dan ingin menghabiskannya. Setelah konsep makanannya sudah terasa pas, barulah perhitungan bisnis dilakukan, mulai dari bahan baku, operasional, staf, target penjualan, dan kebutuhan lainnya.
Jadi tetap ada hitung-hitungan bisnis. Namanya juga restoran. Tetapi titik berangkatnya bukan semata-mata mengejar margin.
Satu prinsip yang kurang lebih dirangkum Chef Uki dengan kalimat, “Enak dulu, baru ngomong cost.” Barulah aku bisa memahami logikanya.
Orang mungkin datang sekali karena penasaran. Bisa karena melihat konten, tertarik dengan topping, atau sekadar sedang mencari tempat makan baru. Tapi keputusan untuk kembali ke tempat makan yang sama, biasanya berangkat dari alasan makanannya enak atau tidak? Kalau enak, orang punya alasan untuk datang lagi.

Ramen dengan Topping Bisa Dipilih
Chef Uki menggunakan sekitar 100 gram mie untuk satu porsi ramen. Menurut pengalamannya sebagai pelanggan, jumlah tersebut sudah cukup. Daripada menambah karbohidrat, pelanggan bisa memilih menambah topping.
Dengan begini, pengalaman makan jadi lebih fleksibel. Mau ramen saja, silakan. Mau menambah topping, bisa. Dan kalau memang sedang tidak ingin makan ramen, restoran ini masih punya cukup banyak pilihan.
Ada donburi seperti Oyakodon, Beef Chasu Don, dan Tori Nan. Untuk makanan pendamping, tersedia Gyoza, Tori Karaage, Torikawa Karage, Baby Crab, Shisamo Karaage, dan beberapa pilihan lain.
Ramen-nya juga cukup beragam, mulai dari Toripaitan Ramen, Aka Ramen, Moyashi Ramen, Beef Chasu Goma Ramen, Volcano Ramen, Gyu Kotu Ramen, Yuzu Shio Ramen, Wakame Ramen, Yaki Ramen, dan lainnya.
Buat yang datang bersama keluarga, pilihan seperti ini lumayan menyelamatkan keadaan. Di meja kami, si kakak memilih sushi, sedangkan si adek kembar memilih Ebi Cha Han.
Ebi Cha Han secara sederhana bisa kita bayangkan sebagai nasi goreng ala Jepang, meskipun tentu saja rasanya tidak persis seperti nasi goreng yang biasa dibuat di rumah.
Buat keluarga, menu yang beragam seperti ini cukup membantu. Orang tua bisa makan ramen. Anak bisa memilih nasi,dan yang lain ingin sushi.
Tidak perlu mencari restoran kedua hanya karena satu anggota keluarga tidak suka mie. Kelihatannya memang sepele, tapi siapa pun yang pernah makan di luar bersama anak-anak pasti tahu bahwa agenda makan keluarga sering kali ditentukan oleh hal-hal seperti ini.




Jangan Lupa Gyoza dan Karaage
Kalau saya datang ke restoran ramen bersama beberapa orang, biasanya saya lebih suka memesan side dish untuk dibagi.
Selain bisa mencicipi lebih banyak, makanan pendamping kadang justru memberi gambaran lain tentang dapurnya.
Di Menya Uki ada gyoza yang dimasak dengan cara dipanggang, juga tori karaage.
Chef Uki punya teknik membuat karaage yang cukup menarik. Ayam dimarinasi dengan bahan seperti jahe dan bawang putih, kemudian digoreng dua kali.
Penggorengan pertama membuat bagian luar ayam mulai matang. Setelah ditiriskan, ayam digoreng kembali pada suhu yang lebih tinggi supaya permukaannya lebih renyah dan warnanya lebih bagus.
Hasil akhirnya seperti yang kita harapkan dari karaage, luarnya renyah, dalamnya tetap juicy.
Chef Uki juga punya cara sendiri menikmati karaage. Ia menyarankan mencobanya dengan saus yakiniku, bukan langsung dicocol ke sambal seperti yang mungkin lebih akrab bagi banyak orang Indonesia.
Cara ini sebenarnya sejalan dengan pendekatannya terhadap makanan Jepang secara umum.
Viral Bukan Tujuan Utama
Sekarang rasanya membuka restoran hampir selalu beriringan dengan obrolan soal makanan viral.
Faktanya, tak jarang sebuah makanan ramai dibicarakan karena penampilannya menarik, tetapi ketika dimakan ternyata rasanya biasa saja.
Sayang sekali kalau berhenti di situ. Pelanggan pada akhirnya kan tidak makan foto. Tampilan memang bisa membuat orang berhenti scrolling dan penasaran datang, tapi rasa yang membuat mereka memutuskan untuk kembali.
Saat baru dibuka, Menya Uki tidak langsung mengejar semua kanal delivery. Chef Uki ingin pelanggan datang langsung ke restorannya.
Ia ingin memastikan pengalaman pertama pelanggan sesuai dengan yang dirancang dapur. Ramen dibuat, langsung disajikan, lalu dimakan saat masih panas.
Mie berada pada tekstur yang diinginkan, kuah masih mengepul, dan pelanggan bisa menikmati makanan dalam kondisi terbaiknya.
Ramen memang agak rewel kalau dibawa bepergian. Soalnya kan mie terus menyerap kuah. Teksturnya berubah saat suhunya turun. Sesuatu yang terasa pas ketika baru keluar dari dapur belum tentu memberikan pengalaman yang sama setelah menempuh perjalanan.
Di sinilah Chef Uki mempertahankan kualitas ramennya. Ia ingin memastikan produknya cukup kuat dulu sebelum pengalaman makan tersebut diperluas ke luar restoran.
Hidden Gem yang Layak Dicoba
Buatku, Menya Uki pantas disebut hidden gem di kawasan Bintaro.Dari cerita adik ipar saya, pelanggan restoran ini sudah cukup ramai dan beberapa orang memang sudah menjadi pelanggan tetap.
Kesannya seperti hidden gem lebih kepada lokasinya. Restoran berada di area Ruko Sentra Menteng, di bagian belakang dan menghadap ke arah Rumah Sakit Premier Bintaro. Jadi kalau baru pertama kali datang, memang perlu sedikit memperhatikan arah.
Jam operasionalnya juga cukup bersahabat. Restoran mulai buka sekitar pukul 10.00 sampai sekitar pukul 22.00 WIB. Silakan datang berkunjung. Dijamin kamu tidak akan menyesal.

Leave a Comment