Terapi tanam benang pada anak autis
Terapi tanam benang pada anak autis

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi orang tua yang fasih membicarakan terapi alternatif. Awalnya saya bahkan termasuk kelompok yang cukup konservatif, patuh pada rujukan dokter, mengikuti jalur terapi yang lazim, dan sebisa mungkin menghindari hal-hal yang terdengar terlalu eksperimental, seperti terapi tanam benang, salah satu prosedur akupuntur, pada anak autis.

Akan tetapi, faktanya hidup dengan anak Autism Spectrum Disorder (ASD) mengajarkan saya satu hal yang sangat penting, bahwa tidak ada satu jalan lurus yang sama untuk semua anak. Setiap anak punya peta sendiri. Orang tuanya, seperti saya, hanya berusaha membaca peta itu sebaik mungkin, sering kali sambil tersesat.

Putra saya, Rashif. Ia berada dalam spektrum autisme dan memiliki tantangan kognitif yang, berdasarkan tes IQ, masuk kategori di bawah rata-rata, yaitu mild intellectual disability atau keterbatasan intelektual ringan dengan kisaran 60–70. Angka-angka ini penting secara klinis, tapi sebagai ibu, saya lebih sering melihat Rashif sebagai kumpulan ekspresi kecil.

Sejak menjalani terapi, diet, dan pengobatan tahun 2020, saya menemukan banyak sekali kemajuan-kemajuan mikro putra saya yang mungkin sering luput dari mata orang lain. Mulai dari tatapan matanya yang dulu kosong kini sudah berisi. Tawanya yang dulu lebih sering muncul tanpa alasan, kini sudah memiliki alasan sendiri. Caranya mengekspresikan keinginan yang sudah banyak kemajuan ketimbang lima tahun lalu.

Kali ini, saya ingin bercerita ketika saya menjalani terapi tanam benang sebagai terapi komplementer untuk Rashif selama kurang lebih satu tahun di Bandung, tepatnya dari Agustus 2024 hingga pertengahan 2025. Ini bukan kisah mukjizat. Akupuntur dan tanam benang tidak menyembuhkan Rashif. Tapi ia memberi sesuatu yang, bagi kami, terasa sangat berharga, berupa stimulasi yang konsisten pada kognisi dan emosi yang pelan-pelan stabil dalam dirinya.

Saya menulis ini bukan untuk mengajak, apalagi meyakinkan orang tua yang membaca tulisan saya ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman, siapa tahu, bisa menjadi satu referensi tambahan bagi orang tua lain yang juga sedang berjalan sambil bertanya-tanya.

Pertama Kali Terapi Tanam Benang Disebut, Saya Justru Menolak

Menariknya, ide terapi tanam benang ini bukan datang dari dokter pertama Rashif. Justru sebaliknya. Dokter tumbuh kembang pertama Rashif secara tegas tidak menyarankannya. 

Alasannya masuk akal, risiko trauma. Anak ASD punya sensitivitas sensorik yang tinggi. Jarum, rasa sakit, dan proses medis bisa memicu ketakutan mendalam yang justru kontraproduktif.

Saat itu saya mengangguk setuju. Dalam kepala saya, akupuntur atau pun terapi tanam benang, identik dengan jarum-jarum tipis yang menembus kulit. Rasanya terlalu ekstrem untuk anak batita kala itu, yang bahkan masih kesulitan mengelola emosi dasarnya.

Namun seperti banyak keputusan dalam hidup orang tua anak berkebutuhan khusus, posisi kita jarang statis. Ia bergerak mengikuti informasi, pengalaman, dan intuisi yang tumbuh perlahan.

Saya mulai membaca berbagai jurnal, laporan medis, praktik-praktik di negara lain, terutama Tiongkok, yang sudah lama menggunakan akupuntur dan terapi tanam benang sebagai terapi komplementer pada anak ASD, khususnya dalam bentuk scalp acupuncture dan teknik lain yang berfokus pada stimulasi sistem saraf pusat.

Di sana saya mulai memahami bahwa terapi tanam benang untuk ASD tidak diposisikan sebagai pengganti terapi utama, melainkan sebagai pelengkap, sejajar dengan terapi wicara, okupasi, perilaku, dan diet.

Mengapa Akhirnya Saya Mencoba Terapi Tanam Benang?

Keputusan mencoba terapi tanam benang bukan keputusan impulsif saya. Saya merasa perlu mencoba satu jalur tambahan untuk Rashif, bukan karena terapi sebelumnya gagal, tetapi karena kami ingin memperluas stimulasi. Terlebih, Rashif sudah tidak pernah lagi mengonsumsi obat kimia dan suplemen apa pun sejak dia berusia 4 tahun.

Ada tiga pertimbangan utama saya saat itu. Pertama, Rashif sudah menjalani diet ketat sejak usia 18 bulan. Diet ini (bebas gluten, kasein, dan beberapa pemicu lainnya) membuat regulasi emosinya relatif lebih baik dibandingkan banyak anak ASD lain yang tidak diet, yang saya temui.

Target kami tahun 2024 itu sederhana saja, atensi Rashif lebih baik, emosi lebih stabil, dan kemampuan mengikuti instruksi yang meningkat. Sebab harapan kami Rashif bisa masuk Sekolah Dasar (SD) Inklusi tahun 2025. Jadi, kami siapkan terapi tanam benang ini setahun penuh untuknya sampai hari-H itu tiba.

Terapi tanam benang ini dilakukan sebulan sekali. Tanam benang tidak sama dengan prosedur akupuntur harian dengan jarum lepas-pasang.

Tanam benang ini menggunakan benang medis yang ditanam di titik-titik tertentu untuk memberikan stimulasi jangka panjang. Dalam satu sesi, Rashif menerima 20 titik tanam.

Terdengar mengerikan? Jujur saja, iya. Bahkan saat menuliskannya sekarang, saya masih bisa mengingat degup jantung saya di ruang praktik dokter hari pertama.

Tes IQ dan Realitas yang Harus Diterima

Sebelum prosedur pertama dilakukan, dokter menyarankan Rashif menjalani tes IQ. Tes ini sama sekali bukan untuk melabelinya, tapi untuk mengetahui baseline kognitif putra kami.

Hasilnya sudah kami duga. IQ Rashif di bawah rata-rata. Aneh rasanya. Sebagai ibu, saya sudah hidup dengan realitas itu setiap hari. Tapi melihatnya tertulis dalam angka di atas kertas, tetap memberi efek emosional yang berbeda.

Namun dokter menjelaskan sesuatu yang membuat saya semangat. Angka ini bukan vonis akhir. Ia adalah titik awal. Dan stimulasi yang tepat, termasuk stimulasi sensorik dan neurologis, dapat membantu anak autis memaksimalkan potensi yang ia miliki.

Penelitian memang menunjukkan bahwa pada anak ASD, terutama yang non-verbal atau memiliki keterbatasan kognitif, akupuntur dapat memberi dampak pada aspek tertentu seperti adaptability, fine motor, dan regulasi emosi, meskipun bukti ilmiah masih membutuhkan studi skala besar dan metodologi yang lebih kuat.

Saya mencatat satu kalimat dokter hari itu, “Kita tidak mengejar skor. Kita mengejar fungsi.”

Prosedur Tanam Benang Pertama

Saya sengaja tidak ingin terlalu detail membahas drama tanam benang sesi pertama. Cukup saya katakan, bahwa YA,  Rashif takut. Ia menangis. Ia menolak. Tubuh kecilnya menegang. Dan sebagai ibu, saya ada di sana, memeluknya sambil bertanya dalam hati, apakah saya melakukan kesalahan? Apakah keputusan saya memberikan terapi tanam benang ini sudah benar?

Alhamdulillah, prosedur pertama itu selesai. Dan kami pulang dengan hati yang masih bertanya-tanya.

Yang mengejutkan justru terjadi di bulan-bulan berikutnya. Pada bulan kedua, titik balik itu langsung terjadi seketika. Saya seperti diperlihatkan keajaiban oleh Allah.

Rashif tidak lagi menangis saat masuk ruang praktik pertama. Ia lebih patuh. Ia mengikuti instruksi dokter. Ia duduk, diam, sambil memeluk saya. Tubuhnya saat jarum tanam benang pertama, tetap tegang. Tetapi hingga 20 jarum selesai, dia tidak menangis sama sekali.

Padahal prosedurnya sama, benangnya sama, titiknya sama. Dua puluh titik. Secara logika, seharusnya trauma bertambah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Saya tidak ingin mengklaim sebab-akibat secara gegabah. Bisa jadi ini kombinasi banyak hal. Karena Rashif sudah diet sejak lama, usianya sudah 6 tahun, terapi ABA sudah tiga tahun lebih, rutinitas yang konsisten. Tapi faktanya, akupuntur tidak menjadi sumber trauma bagi Rashif, dan itu sendiri sudah merupakan pencapaian besar.

Dalam literatur medis, hal ini sejalan dengan temuan bahwa banyak anak ASD dapat beradaptasi dengan akupuntur atau tanam benang setelah beberapa sesi, terutama bila dilakukan oleh praktisi berpengalaman dan dengan pendekatan yang sensitif terhadap kebutuhan sensorik anak.

Perubahan Kecil yang Bagi Saya Tidak Kecil

Sepanjang tahun 2024 hingga pertengahan 2025, saya mencatat perubahan-perubahan kecil pada Rashif setelah menjalani terapi tanam benang dua bulan pertama. 

  • Rashif lebih tenang secara emosional
  • Tantrum berkurang intensitasnya
  • Kontak mata sedikit lebih konsisten
  • Respons terhadap instruksi meningkat
  • Waktu fokus bertambah, meski tidak drastis. Kami sangat merasakan perbedaan pada kemampuan membaca Rashif yang meningkat drastis.

Apakah ini bisa diukur dengan satu angka? Tidak.

Apakah ini berarti Rashif “sembuh”? Jelas belum

Tapi bagi kami, ini berarti hari-hari yang sedikit lebih bisa diprediksi. Dan bagi orang tua anak ASD, itu bukan hal sepele.

Akupuntur dalam Konteks Ilmiah

Ilmu pengetahuan belum sepenuhnya selesai membuktikan efektivitas akupuntur untuk ASD. Ini fakta. Banyak studi menunjukkan hasil positif pada aspek tertentu, seperti kognisi, motorik halus, adaptabilitas, dan sosial, tetapi juga mengakui keterbatasan metodologi, ukuran sampel kecil, dan potensi bias orang tua.

Artinya apa?

Artinya akupuntur bukan obat ajaib, tapi juga bukan sekadar placebo kosong. Ia berada di wilayah abu-abu yang, bagi sebagian keluarga, justru layak dieksplorasi dengan sikap kritis dan realistis.

Diet Bukan Tren, Tapi Fondasi

Sebelum bicara lebih jauh soal akupuntur, ada satu konteks penting yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, yaitu diet. Saya selalu percaya, dan pengalaman saya menguatkan keyakinan itu, bahwa intervensi apa pun pada anak ASD akan bekerja lebih optimal jika fondasi biologisnya relatif stabil.

Rashif sudah menjalani diet ketat sejak usia 18 bulan. Jauh sebelum kata “akupuntur” atau “tanam benang” masuk ke kamus kami. Diet ini bukan diet coba-coba, apalagi ikut tren. Ia adalah diet eliminasi yang kami jalani dengan disiplin, naik-turun, jatuh-bangun, dan tentu saja, banyak air mata.

Saya tidak akan merinci semua jenis diet di sini karena saya sudah menuliskan di postingan sebelumnya. Setiap anak ASD punya respons yang berbeda soal diet. Yang ingin saya tekankan hanya satu, bahwa diet membantu regulasi sensorik Rashif jauh sebelum jarum tanam benang ini masuk.

Artinya, saat pertama kali Rashif menjalani prosedur tanam benang di usia enam tahun, tubuh dan sistem sarafnya tidak liar lagi. Ia relatif lebih siap menerima rangsangan.

Bagaimana jika Rashif belum diet, lalu langsung akupuntur? Jujur, saya tidak tahu jawabannya. Tapi berdasarkan pengalaman dokter yang menangani Rashif, akupuntur dan tanam benang ini tidak berdiri sendiri. Ia bekerja dalam ekosistem terapi. Ketika anak sudah diet, prosedurnya jauh lebih mudah.

Keajaiban dalam Tubuh Anak ASD

Banyak orang melihat anak ASD hanya dari perilaku luarnya saja, seperti tantrum, sulit fokus, tidak patuh. Jarang yang benar-benar membayangkan bagaimana rasanya hidup di dalam tubuh mereka.

Bagi banyak anak ASD, tubuh itu seperti radio dengan terlalu banyak frekuensi menyala bersamaan. Suara kipas bisa terdengar seperti teriakan. Lampu bisa terasa menyakitkan. Sentuhan ringan bisa mengganggu, tapi tekanan kuat justru menenangkan.

Rashif adalah salah satunya. 

Maka sejak kecil, fokus kami bukan hanya “membuatnya pintar” tapi membantunya merasa aman di tubuhnya sendiri.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa banyak literatur menyebutkan bahwa akupuntur, terutama yang berfokus pada sistem saraf pusat, dapat membantu regulasi, bukan sekadar fungsi kognitif. 

Beberapa penelitian mencatat perbaikan pada aspek adaptabilitas, motorik halus, dan stabilitas emosi setelah intervensi akupuntur pada anak ASD, meski dengan catatan metodologis yang ketat.

Bagi saya, kata kuncinya adalah regulasi.

Mengapa Rashif bisa tenang saat ditusuk jarum?

Ini pertanyaan yang sering muncul, bahkan dari saya sendiri. Secara teori, anak ASD dengan sensitivitas sensorik tinggi seharusnya bereaksi keras terhadap prosedur tanam benang dengan 20 jarum. 

Tapi faktanya, setelah sesi pertama yang penuh drama, Rashif justru menunjukkan adaptasi yang benar-benar membuat saya terheran-heran.

Saya tidak ingin terdengar mistis atau sok tahu. Tapi jika saya boleh menjawab secara jujur, kemungkinan besar jawabannya adalah kombinasi:

  • Diet yang sudah lama membantu stabilitas sensorik
  • Rutinitas yang konsisten
  • Pendekatan dokter yang sabar dan tidak memaksa
  • Dan mungkin, stimulasi saraf yang justru memberi efek menenangkan

Dalam beberapa literatur, disebutkan bahwa stimulasi titik tertentu dapat memengaruhi sistem saraf otonom, termasuk respons stres dan emosi. Ada juga hipotesis mengenai keterlibatan mirror neuron system dan jalur neurologis yang berhubungan dengan atensi dan regulasi emosi pada anak ASD.

Sekali lagi, ini bukan klaim pasti. Tapi pengalaman kami berjalan searah dengan teori-teori tersebut.

Menyesal atau Tidak?

Saya tidak pernah berharap Rashif tiba-tiba berubah menjadi anak neurotipikal. Yang saya inginkan jauh lebih sederhana, seperti dia bisa lebih nyaman dengan tubuhnya, dia bisa lebih mampu mengelola emosinya, dan dia bisa punya kesempatan belajar sesuai kapasitasnya.

Terapi tanam benang, dalam konteks ini, bukan alat untuk mengubah identitas Rashif. Ia hanyalah salah satu cara untuk membuka sedikit ruang agar Rashif bisa berfungsi lebih optimal di dunia yang tidak selalu ramah bagi anak ASD.

Setelah hampir setahun menjalani terapi tanam benang sebagai terapi komplementer, saya bisa mengatakan bahwa saya tidak menyesal.

Bukan karena Rashif sembuh, bukan karena ada lonjakan IQ, bukan karena simsalabim dia bisa tiba-tiba melakukan hal yang spektakuler. Saya tidak menyesal karena ternyata terapi tanam benang sama sekali tidak melukai Rashif secara psikologis. Ia tidak menambah beban emosional kami. Ia memberi tambahan stimulasi yang terasa nyata bagi putra kami. 

Saya selalu percaya bahwa keputusan orang tua anak ASD seharusnya tidak diukur dari hasil instan, tapi dari apakah keputusan itu diambil dengan niat baik, informasi yang cukup, dan kesadaran akan batasannya.

Terapi tanam benang memenuhi ketiga kriteria itu bagi kami. Meski begitu, saya ingin kasih catatan penting untuk orang tua anak ASD, bahwa tidak semua anak akan toleran dengan terapi ini, terlebih anak yang tidak diet sama sekali. 

Tidak semua praktisi akupuntur punya pengalaman dengan anak berkebutuhan khusus. Oleh sebab itu, cek dan riset mendalam sebelum memilih praktisi atau dokter dengan kapabilitas bagus yang akan menangani anak kita. Tidak semua keluarga berada pada kondisi yang memungkinkan mencoba terapi komplementer, terutama ditilik dari faktor ekonomi.

Dan itu tidak apa-apa. Pesan terakhir saya, jangan pernah merasa gagal hanya karena memilih jalan yang berbeda dari orang lain. Lakukan yang menurut kamu baik karena “ketidakpastian” adalah kata yang bersahabat dengan kita, para orang tua anak ASD.

Tidak ada peta jangka panjang yang pasti. Tidak ada janji hasil yang pasti. Bahkan rekomendasi profesional pun sering datang dengan banyak catatan kaki.

Dulu, ketidakpastian ini membuat saya cemas. Sekarang, saya belajar hidup bersamanya.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment