Review Fated Hearts
Review Fated Hearts

Sebenarnya aku tuh awalnya nggak ada niat sama sekali buat nonton “Fated Hearts.” Serius. Alasannya cukup personal, sih. Sebelumnya aku baru selesai nonton “The White Olive Tree” yang juga dibintangi Chen Zheyuan, dan jujur aja, aku kurang puas sama eksekusi ceritanya, bahkan belum ada mood buat bikin review-nya. Akhirnya aku mutusin buat “puasa” dulu dari serial yang ada Yuan Yuan-nya dan pindah ke judul lain. Hehehe.

Sampai akhir Desember 2025 kemarin, kalau nggak salah sekitar 2,5 bulan setelah “Fated Hearts” tayang, aku baru sempat nonton drama ini. Tapi ya gitu, aku belum langsung nulis review-nya. Judul-judul drama China yang kutonton kebanyakan, sementara waktu buat nulis di blog… ya segitu-gitu aja. Kekeke.

Lucunya, pas aku iseng cek statistik blog-ku, ternyata cukup banyak yang mampir ke sini buat nyari review “Fated Hearts.” Nah, dari situ aku langsung ngerasa, “Oke, kayaknya ini memang sudah saatnya ditulis.” Jadi, terima kasih ya buat kalian yang sudah sabar menunggu.

Ya sudah, tanpa basa-basi lagi, mari kita mulai bahas “Fated Hearts,” drama yang dibintangi Chen Zheyuan dan Li Qin ini.

Sinopsis Fated Hearts

“Fated Hearts” adalah kisah cinta yang tumbuh di antara darah, kebencian, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan yang selalu muncul di waktu yang salah. Semua bermula dari Perang Pingling, pertempuran yang menentukan nasib dua negara yang bertikai, Jinxiu dan Susha.

Fu Yixiao (diperankan Li Qin), komandan militer perempuan dari Jinxiu, pemanah terbaik berbaju merah sekaligus ahli strategi perang di kerajaan, melepaskan satu anak panah yang tepat sasaran, mengenai Feng Suige (diperankan Chen Zheyuan), pangeran sekaligus putra mahkota Susha.

Suige adalah sosok yang selama ini menjadi momok bagi Jinxiu. Dengan jatuhnya Suige, pasukan Susha goyah dan Jinxiu menang.

Hanya saja, kemenangan Jinxiu dibayar mahal. Tak lama setelah itu, Yixiao disergap. Ia terluka parah, terdesak hinga tepi jurang. Dalam kekacauan itu, ia terjatuh, tapi tidak mati. Dia lupa ingatan dan sejak itu menjadi Fu Yixiao yang baru, tanpa ingatan masa lalu.

Di sisi lain, Suige juga berhasil melarikan diri dari kematian. Luka parah akibat panah Yixiao membuatnya nyaris tak sadarkan diri. Ia juga diselamatkan oleh tabib Zhengnian Villa, tempat yang sama dengan Yixiao dirawat. Zhengnian Villa ini adalah zona netral antara kerajaan-kerajaan yang bertikai, semacam “Doctors Without Borders” versi wuxia. Di sinilah takdir mulai mempermaikan nasib mereka.

Sinopsis Fated Hearts, dibintangi Chen Zheyuan dan Li Qin
Sinopsis Fated Hearts, dibintangi Chen Zheyuan dan Li Qin

Jenderal Perempuan Lupa Ingatan, Pangeran yang Selamat.

Dua orang yang beberapa waktu lalu saling membunuh, kini dipertemukan kembali dalam kondisi yang satu hilang ingatan, dan satu lagi tersembunyi identitasnya. 

Suige adalah orang pertama yang menyadari kejanggalan Yixiao, mulai dari cara bertarungnya, refleksnya, juga tatapannya saat melihat busur panah. Dari situ, Suige tahu Yixiao ini bukan perempuan biasa. Dan dia akhirnya tahu, Yixiao adalah pemanah yang bikin dia hampir mati.

Yixiao tidak tahu siapa dirinya, siapa musuhnya, atau mengapa begitu banyak orang hendak membunuhnya. Yang dia tahu hanya dia harus bertahan hidup. Sebaliknya, Suige tahu terlalu banyak tentang Yixiao. 

Alih-alih membunuh Yixiao, Suige malah memanfaatkan Yixiao dengan cara menahannya, menginterogasinya, bahkan memaksanya untuk mengungkap informasi tentang Perang Pingling, juga memastikan siapa yang sebenarnya yang menginginkan kematian mereka berdua. Sebab faktanya, Suige pun hampir dibunuh oleh orang-orangnya sendiri. 

Di sinilah hubungan mereka terbentuk berlandaskan kepentingan bersama. Yixiao butuh perlindungan, Suige butuh mengungkap kebenaran. Mereka sepakat bekerja sama.

Suige membawa Yixiao yang hilang ingatan ke Susha
Suige membawa Yixiao yang hilang ingatan ke Susha

Rahasia di Yujing City

Perjalanan membawa Suige dan Yixiao ke Yujing City, ibu kota Susha. Kota itu terlihat megah, tapi dipenuhi intrik dan permainan kekuasaan.

Suige mendapati dirinya terjebak dalam tekanan istana. Ayahnya, Sang Kaisar, mulai menjaga jarak. Perdana Menteri Zhuang Sen (diperankan Eddie Cheung), melakukan banyak hal di balik layar. Adiknya, Putri Feng Xiyang (diperankan Xia Meng), mulai dijadikan pion politik oleh istana.

Sementara itu, Yixiao mulai mengingat samar tentang tragedi yang menimpanya. Dia tiba-tiba merasa familiar dengan kemunculan sosok Pangeran Xia Jingshi (diperankan Chen Heyi).

Hanya saja, entah kenapa, hati Yixiao selalu merasa sedih juga sakit setiap kali melihat atau mendengar nama tersebut. 

Rupanya, Jingshi sesungguhnya adalah Pangeran Jinxiu. Ia mencintai Yixiao dengan tulus meski sangat posesif. Namun masalahnya, Jingshi juga terlibat dalam Perang Pingling, peristiwa yang berujung pada jatuhnya Yixiao dari tebing yang membuatnya lupa ingatan.

Jingshi menyembunyikan semua peristiwa itu di balik wajahnya yang lembut. Dia datang ke Yujing Xity demi membawa Yixiao pulang entah dengan cara apa pun.

Pernikahan Politik dan Awal Cinta Segitiga

Sebagai upaya menghentikan perang, Negara Jinxiu dan Susha menyepakati pernikahan politik. Jingshi akan menikahi Putri Xiyang, adik dari Suige. 

Ironisnya, Xiyang sudah jatuh cinta pada Jingshi sejak lama. Sedangkan Jingshi? Hatinya hanya untuk Yixiao.

Suige marah besar karena adiknya dijadikan alat politik, dan karena ia juga tahu Jingshi bukan pria yang bisa dipercaya.

Yixiao, yang ingatannya mulai pulih sedikit demi sedikit, berada di tengah-tengah. Dia harus memilih antara masa lalu yang memanggilnya pulang, atau masa kini yang membuatnya kian dekat dengan Suige. 

Pernikahan politik Putri Xiyang (Negara Susha) dan Pangeran Jingshi (Negara Jianxu)
Pernikahan politik Putri Xiyang (Negara Susha) dan Pangeran Jingshi (Negara Jianxu)

Potongan Ingatan dan Awal Kebenaran

Setiap kali Yixiao bertemu Jingshi, ingatannya tersentak. Setiap kali dia megang busur panah, tubuhnya mengingat apa yang pikirannya lupakan.

Yixiao mulai menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah Susha, melainkan orang-orang yang ia anggap teman, bahkan keluarga di Jinxiu.

Suige tahu, semakin lama Yixiao mengingat masa lalunya, semakin besar kemungkinan ia akan meninggalkannya. 

Alih-alih menyesatkan Yixiao, Suige bilang bahwa dia akan membantu Yixiao menemukan kebenaran, meski kebenaran itu mungkin akan menghancurkan segalanya. Sikap Suige inilah yang akhirnya bikin Yixiao untuk pertama kalinya percaya pada seseorang.

Persaudaraan dan Cinta yang Retak

Ingatan Yixiao akhirnya pulih. Dia teringat bahwa dia jatuh dari tebing karena didorong seseorang, dan orang itu adalah… orang-orang Jinxiu, rekan senegaranya. 

Kebenaran tersebut terungkap perlahan melalui konfrontasi dengan Xiao Weiran (diperankan Sheng Yinghao) dan Ning Fei (diperankan Zhang Chenglang).

Ning Fei akhirnya menyadari Weiran adalah dalang sebenarnya, tapi semua sudah terlambat. Ning Fei tumbang dan nyaris mati saat perkelahian pecah. Pada titik itu, Yixiao membuat keputusan tegas bahwa dia memutus sumpah persaudaraan dengan Weiran.

Sementara itu, Pangeran Jingshi akhirnya mengakui perannya dalam Perang Pingling kepada Yixiao. Dia menceritakan bagaimana rencana besarnya, ambisinya terhadap kekuasaan, dan ketakutannya kehilangan Yixiao yang membuatnya memilih jalan kotor.

Jingshi memang mencintai Yixiao. Namun cintanya itu selalu berdampingan dengan ambisi kekuasaan. Bagi Yixiao, itu tidak bisa dimaafkan.

Sejak saat itu, Yixiao hanya menganggap Pangeran Jingshi sebagai musuh. Jingshi pun berubah menjadi ancaman untuk Yixiao dan Suige.

Dalang Kematian di Istana Susha

Sementara Yixiao menghadapi masa lalunya, Suige juga dipaksa menghadapi luka yang tak kalah perihnya. Kematian ibunya, Permaisuri Susha, yang selama ini dia kira kecelakaan, ternyata adalah hasil dari konspirasi istana.

Apa yang paling menghancurkan hatinya? Sang Kaisar, ayah Suige, ternyata tahu itu tapi memilih diam.

Saat Suige menuntut keadilan, ia justru dihukum. Gelarnya sebagai putra mahkota dicopot dan digantikan oleh adiknya yang dianggap lebih patuh. Suige juga disingkirkan dari upacara leluhur. Di mata istana, Suige sudah menjadi masalah.

Yixiao melihat semuanya. Dia akhirnya menyadari bahwa Suige, yang selama ini di matanya pangeran dingin dan penuh perhitungan, ternyata adalah anak yang dibesarkan oleh pengkhianatan ayahnya.

Dalang di balik kematian permaisuri ternyata berada di lingkaran kekuasaan. Saat konspirasi mulai terbongkar, istana gempar. Perdana Menteri Zhuang Shen bergerak cepat, Kaisar jatuh sakit, faksi-faksi saling menjatuhkan. 

Suige juga dijebak. Ia dituduh sebagai penyebab kematian Kaisar, dicap pengkhianat, dan diburu hidup atau mati.

Di sisi lain, Putri Feng Xiyang, yang selama ini hidup dalam bayang-bayang kakaknya, akhirnya membuka mata. Pernikahannya dengan Jingshi adalah neraka yang sunyi.

Ia menyadari suaminya tidak mencintainya, pernikahannya hanya alat politik, ayah dibunuh dan saudara laki-lakinya menjadi buronan orang-orang sama yang memanfaatkannya. 

Xiyang pun memilih bercerai. Dan sejak saat itu, dia bukan lagi putri manja.

Bertahan Hidup di Storm Alliance

Dalam pelarian, Yixiao membawa Suige ke Storm Alliance, organisasi yang secara historis memusuhi keluarga Feng. Suige berada di ambang kematian, dan Yi Xiao melakukan hal yang paling nekat sepanjang hidupnya.

Dia menantang prinsip Storm Alliance dengan berbicara tentang keadilan, sumpah lama, dan arti melindungi nyawa tanpa memandang nama keluarga. Dan untuk pertama kalinya… aturan dilanggar.

Suige bisa diselamatkan meski tubuhnya tak pernah kembali utuh. Dalam masa pemulihan, muncul ketakutan baru di hati Yixiao. Bagaimana nasib Suige yang hilang ingatan? Yixiao mempertaruhkan nyawanya, secara harfiah, untuk menguji satu hal, apakah cinta bisa bertahan tanpa memori? 

Jawabannya… iya. Bahkan tanpa ingatan penuh, Suige tetap memilih Yixiao.

Kudeta Terakhir dan Runtuhnya Kejahatan

Sementara itu, di Susha dan Jinxiu, Kaisar baru naik tahta. Keluarga Murong mencoba mempertahankan kekuasaan. Jingshi melancarkan serangan terakhir ke Susha demi balas dendam.

Pertarungan final terjadi. Yixiao dan Suige berdiri di sisi yang sama, bukan sebagai jenderal dan pangeran, tapi sebagai dua orang yang menolak diwariskan kebencian. Jingshi kalah. Dia akhirnya sadar, Yixiao tidak pernah bisa dia miliki.

Putri Feng Xiyang mengambil alih urusan pemerintahan di Susha. Waktu terus berlalu dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Suige memilih berkabung selama tiga tahun untuk ibunya juga dirinya. Sementara itu, Yixiao menunggu Suige sampai hari mereka bersatu kembali.

Suige, jenderal perang sekaligus putra mahkota Susha
Suige, jenderal perang sekaligus putra mahkota Susha

Review Fated Hearts

Kalau kamu suka trope “enemies to lovers,” di mana male-lead dan female-lead benar-benar musuh dan ingin saling membunuh, “Fated Hearts” pasti bikin kamu ketagihan.

Setelah dua episode pertama tayang, aku aja nyaris nggak percaya, gimana bisa serial ini jadi punya genre romance? Karena segitu mereka benar-benar musuh, mulai dari musuh negara, musuh perang, sampai musuh hidup dan mati.

Meski 38 episode, “Fated Hearts” bisa dikatakan punya tempo cepat. Di awal saja kita sudah dilempar ke medan Perang Pingling. Feng Battalion, pasukan Kerajaan Susha yang dipimpin Feng Suige, hampir memukul telak pasukan Jinxiu. Lalu muncul Fu Yixiao yang membidik Suige dengan panahnya.

Li Qin sebagai Fu Yixiao

Li Qin aku nobatkan sebagai female general drama China terbaik tahun 2025. No debat. 

Dia set the standar. Fierce-nya nggak dibuat-buat. Tatap matanya punya bobot, gerakannya di medan perang meyakinkan. Dalam waktu bersamaan, dia tetap elegan.

Li Qin sebagai Fu Yixiao di Fated Hearts
Li Qin sebagai Fu Yixiao di Fated Hearts

Chen Zheyuan sebagai Feng Suige

Oh God! Aku nggak nyangka Yuan Yuan bisa memerankan jenderal perang sekaligus putra mahkota Susha sekejam ini. Visual setampan itu ternyata garang, harimau di medan perang.

Ruthlessness-nya terasa lahir dari kebutuhan bertahan hidup. Kita sebagai penonton tahu kalau Suige ini menyimpan luka nyata.

Chen Zheyuan sebagai Feng Suige di Fated Hearts
Chen Zheyuan sebagai Feng Suige di Fated Hearts

Chen Heyi sebagai Xia Jingshi

Dia adalah pangeran obsesif yang menyamarkan perasaannya sebagai cinta. Cheng Heyi tampil sangat baik secara visual dan aura.

Chen Heyi sebagai Xia Jingshi di Fated Hearts
Chen Heyi sebagai Xia Jingshi di Fated Hearts

Xia Meng sebagai Feng Xiyang

Karakter Feng Xiyang ini punya potensi besar, tapi sayang eksekusinya mengecewakan.

Xia Meng aktingnya nggak jelak. Dia cuma apes aja nggak dapat skrip bagus. Jadi, masalahnya ada di penulisan sehingga karakter Xi Yang kurang berkembang.

Coba lihat, dia jatuh cinta sama laki-laki yang sejak awal sudah jujur tidak mencintainya. Kemudian, dia memilih balas dendam yang bahkan nggak jelas objek balas dendamnya itu siapa. Akhirnya, karakternya “mati” di tangan pria yang ia cintai mati-matian.

Xia Meng sebagai Putri Feng Xiyang di Fated Hearts
Xia Meng sebagai Putri Feng Xiyang di Fated Hearts

Romance Suige dan Yixiao

Hubungan Suige dan Yixiao di “Fated Hearts” ini adalah romance yang menjadi poros cerita. Tanpa bumbu romance ini, trope “Fated Hearts” mungkin bakalan runtuh menjadi sekadar drama politik berdarah.

Cinta Suige dan Yixiao, meski keduanya nggak bar-bar menunjukkan romantisnya, sebagai penonton, kita bisa melihat mereka punya cinta yang terlampau besar satu sama lain. 

Bisa dilihat dari cara mereka mengatasi “kehilangan” saat keduanya terpaksa berpisah. Belum lagi pilihan-pilihan moral mereka karena dua negaranya musuh perang. Lalu, sampai akhirnya Suige dan Yixiao berani untuk berdiri di sisi yang benar, meski harus melawan dunia.

Kita bisa melihat Suige bukan karakter utama pria yang awalnya kuat lalu tiba-tiba jadi bodoh demi cinta. Mereka benar-benar tetap jadi diri mereka sendiri.

Suige tetap cerdas, strategis, dan dingin saat dibutuhkan. Yixiao tetap berani, tajam, dan berprinsip sebagai jenderal perempuan.

Suige tahu Yixiao kuat. Jadi, dia membiarkan kekasihnya itu bertarung di medan perang. Sebaliknya, Yixiao tahu Suige memikul beban sehingga dia berdiri di sampingnya, bukan di belakangnya.

Romance Suige dan Yixiao di Fated Hearts
Romance Suige dan Yixiao di Fated Hearts

Visual Cantik dan Sinematografi Apik

As usual ya, serial-serial besutan Chu Yuibun selalu punya visual-visual cantik, glossy, warna-warna muted, framing yang intim, ah pokoknya sekeren itulah.

Sinematografinya disusun hati-hati banget. Sutradara agaknya nggak mau membocorkan emosinya terlalu cepat, dibocorin sedikit demi sedikit jadi penonton bisa dapat feel-nya.

Visual dan sinematografi Fated Hearts yang apik
Visual dan sinematografi Fated Hearts yang apik

Ending-nya? Indah tapi Kurang Maksimal

Semua pengkhianat mendapat ganjaran. Semua luka sudah dilalui. Feng Suige akhirnya membalas semua yang menghancurkan hidupnya.

Secara emosional, ending “Fated Hearts” ini memuaskan.

Tapi… sebetulnya sih aku berharap ending-nya tuh lebih meledak. Contoh saja, perangnya bisa lebih epik dan konsekuensi politiknya bisa lebih terasa.

Hal yang aku soroti adalah, menyerahkan negara pada karakter yang tidak pernah menunjukkan kapasitas memimpin? Itu sebuah keputusan yang nggak bisa aku maafkan.

So, ending “Fated Hearts” ini nggak sempurna, tapi sangat berkesan.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment