Review Fall in Love, Chen Xingxu dan Zhang Jingyi
Review Fall in Love, Chen Xingxu dan Zhang Jingyi

“Fall in Love” adalah salah satu drama China yang dibintangi Chen Xingxu dan sempat aku skip. Alasannya, waktu itu aku lagi nggak terlalu berminat sama serial berlatar era Republik.

Tapi ternyata, cukup banyak juga yang minta aku buat nge-review drama ini. Jadi, pekan lalu aku akhirnya menyempatkan diri nonton sampai tuntas, 36 episode, dong. Dan ya, aku jadi bisa melihat performa Chen Xingxu di usia 25 tahun. Hihihi.

Meski aku bukan penggemar berat drama Republik, harus diakui kalau genre ini punya aesthetic advantage yang kuat. Mulai dari seragam militer, mantel panjang, ballroom, lampu-lampu kota era lama, sampai senjata dan mobil-mobil tua, semuanya terasa sinematik.

Kalau kamu juga penasaran dengan “Fall in Love,” yuk lanjut baca ulasanku sampai habis.

Fall in Love, dibintangi Chen Xingxu dan Zhang Jingyi
Fall in Love, dibintangi Chen Xingxu dan Zhang Jingyi

Sinopsis Fall in Love

Drama China “Fall in Love” sekilas awal-awal kelihatan seperti romance ringan berlatar era Republik yang cantik, penuh banter, dan flirting halus. Tapi pelan-pelan, ia berubah jadi cerita tentang politik, pengkhianatan, strategi perang, dan generasi muda yang dipaksa dewasa lebih cepat dari seharusnya.

Tahun 1926, Shanghai bukan kota yang ramah. Kota ini penuh intrik, senjata, dan perebutan kekuasaan.

Di tengah situasi genting itu, Mu Wanqing (Zhang Jingyi) kembali ke Tiongkok membawa abu ibunya yang meninggal di Jepang. 

Secara resmi, ia pulang untuk pemakaman. Tapi sebenarnya, Wanqing punya tujuan lain, mengungkap kebenaran di balik perpisahan orang tuanya dan kematian kakaknya yang penuh kejanggalan.

Wanqing bukan perempuan naif. Ia cerdas, terdidik di luar negeri, menguasai banyak bahasa, dan terbiasa berpikir beberapa langkah ke depan. Ia tahu, kalau ingin bertahan di Shanghai, ia harus bermain peran.

Takdir mempertemukannya dengan dua laki-laki yang sama-sama berbahaya… dengan cara yang sangat berbeda, yaitu Tan Xuanlin (diperankan Chen Xingxu) dan Xu Gianyao (diperankan Lin Yanjun).

Pertemuan Berdarah dengan Tan Xuan Lin

Tan Xuan Lin (Chen Xing Xu) adalah seorang jenderal muda yang licik, berani, dan tidak segan mengotori tangan demi bertahan hidup.

Pertemuan pertamanya dengan Wanqing sangat jauh dari romantis. Di kapal yang tengah berlayar ke Shanghai, Wanqing memergoki Xuanlin sedang membuang mayat Xu Man, seorang perempuan pengkhianat yang membocorkan kepulangannya ke musuh.

Wanqing secara spontan mengaku sebagai orang Jepang dan hendak melarikan diri, tapi Xuan Lin dengan cepat menyadari bahwa Wanqing berbohong dan dia ternyata paham bahasa Mandarin.

Sejak saat itu, Xuan Lin tahu Wanqing bukan perempuan biasa.

Shanghai, Kota yang tak Pernah Netral

Di saat yang sama, Shanghai diguncang kudeta. Tan Xuanlin berhasil naik ke tampuk kekuasaan militer, menjadi Komandan Shanghai, tapi posisinya itu rapuh. Ia dikelilingi musuh, pengkhianat, dan “sekutu” yang siap menikam dari belakang.

Sementara itu, ada Xu Guangyao, putra seorang Panglima Perang terpandang yang menguasai Shanghai, Xu Bojun. Guangyao adalah kebalikan Xuan Lin. Dia pendiam tapi idealis, lurus, tidak suka intrik politik seperti ayahnya. Dan… ia ternyata adalah tunangan Wanqing.

Bagi Wanqing, Guangyao adalah sahabat masa kecilnya, pelindungnya, tameng keluarganya, dan alat bertahan hidup di lingkungan yang memusuhi perempuan secerdas dirinya.

Panglima Perang Xu Bojun, penguasa Shanghai
Panglima Perang Xu Bojun, penguasa Shanghai

Intrik Keluarga Mu

Masalah Wanqing tidak berhenti di luar rumah. Di dalam keluarga Mu, ia harus menghadapi ibu tirinya, Cui Lianfeng, dan adik tirinya, Mu Wanting. Sepanjang cerita, Wanting dan ibunya terus-menerus berusaha menjatuhkan Wanqing.

Konflik memuncak saat Tan Xuan Lin datang tanpa undangan ke pesta Keluarga Mu dan menciptakan kekacauan. Wanqing akhirnya mengungkap identitasnya sebagai putri sulung keluarga Mu dan calon istri Xu Guangyao.

Alih-alih meredakan situasi, pengakuan ini justru membuat Wanqing disandera oleh Xuanlin. Guanyao pun datang ke Tan Mansion untuk menyelamatkannya. Guangyao mencoba bernegosiasi dengan Xianlin yang ternyata lihai bermain politik kekuasaan.

Setelah serangkaian kejadian yang hampir menghancurkan hidupnya, Wanqing akhirnya membuat keputusan besar, bekerja sama dengan Xuanlin.

Ia menawarkan sejumlah bayaran untuk Xuanlin, yang sedang butuh support untuk pasukannya. Xuanlin harus membantu Wanqing mengungkap siapa dalang di balik pembunuhan kakaknya, juga menaklukkan perempuan yang telah mengambil kedudukan ibunya dalam keluarga.

Wanqing melawan dengan kecerdasan, logika, dan keberanian. Setiap jebakan Cui Lianfeng dia balas. Setiap penghinaan dipatahkan dengan elegan. 

Cinta di Tengah Tipu Daya

Xuanlin adalah karakter yang menarik. Ia sering bercanda saat situasi genting, menggoda saat berbahaya, dan menyembunyikan kecerdasan luar biasa di balik sikap santainya.

Wanqing melihat semua itu dan mulai terpesona. Xuanlin adalah satu-satunya orang yang benar-benar melihat kemampuannya.

Dua manusia yang awalnya adalah partner ini berubah menjadi pasangan kekasih. Siapa sangka, setelah Wanqing berhasil mencapai tujuannya, tantangan berikutnya yang tak kalah besar terungkap.

Xuanlin menduga ayah Wanqing terlibat dengan peristiwa kematian ayahnya, Panglima Tan, di masa lalu. Bagaimana Xuanlin menghadapi Wanqing?

Cinta di tengah intrik politik era Republik
Cinta di tengah intrik politik era Republik

Review Fall in Love

Cerita “Fall in Love” secara garis besar dibagi ke dalam tiga fase. Ini bisa bantu kamu buat nikmatin serialnya.

Pertama, fase Wanqing vs Keluarga Mu. Di sini bakal ada drama keluarga, intrik rumah besar, anak tiri vs anak kandung, reputasi, uang, dan rahasia.

Kedua, fase Xuanlin vs politik Shanghai. Di sini berkisah tentang taktik, diplomasi, ancaman dari dalam yang dihadapi Xuanlin, dan bagaimana cara dia bertahan di kursi panas ketika menjabat Komandan Shanghai.

Ketiga, fase perang. Skala membesar lantaran berlatar 1926, di mana China kala itu sedang perang revolusi. Musuh makin jelas dan Xuanlin harus berada di garis depan.

Fase satu dan dua menurutku paling solid. Plotnya cukup banyak, kayak lagi “main catur” dan kita sebagai penonton dituntut harus bisa paham peta permainannya. Fase tiga sama menariknya, tapi ada beberapa momen yang terasa terlalu kilat lantaran benang merahnya mau diungkap, dan beberapa plot yang muncul mendadak.

Karakter utama dan pendukung di serial "Fall in Love"
Karakter utama dan pendukung di serial “Fall in Love”

Karakter Utama dan Pendukung

Jujur aja ya. Ada satu masa kalau aku ngelihat Chen Xingxu sebagai Komandan Tan, Lin Yanjun sebagai Jenderal Muda Xu, Yuan Ruohang sebagai Jenderal Muda Pei, dan Cai Yuhang sebagai Jenderal Muda Hu,  rasanya kayak lagi lihat F4 versi era Republik. 

Ganteng semua, karismanya beda-beda, dan masing-masing punya ciri khas yang bikin gampang diingat. Hubungan keempatnya berkembang menjadi sahabat.

Mereka bukan cuma sekadar pemanis layar, tapi representasi generasi muda yang lahir dari keluarga para jenderal, anak-anak penguasa yang sejak kecil sudah akrab dengan senjata, strategi, dan intrik kekuasaan. 

Dinamika mereka terasa hidup. Ada yang cerdas dan licik, ada yang idealis, ada yang kalem tapi berbahaya. Satu kesamaannya, mereka mengalami transformasi karakter luar biasa, sebab menolak untuk menjadi pemimpin-pemimpin ambisius seperti para ayah mereka.

Itulah kenapa setiap kemunculan mereka di layar selalu memberi warna, baik dalam urusan politik, perang, maupun relasi personal.

Chen Xingxu sebagai Tan Xuanlin/ Komandan Tan

Tan Xuanlin tipikal male-lead yang kalau masuk frame, auranya langsung jadi leader. Tapi… dia memang ngeselin dengan cara yang charming.

Xuanlin kelihatan santai, kadang kelihatan kayak main-main, tapi itu sesungguhnya hanya topeng. Di belakang, dia pintar banget baca situasi, tahu kapan harus kejam, tahu kapan harus pura-pura bodoh, dan dia juga punya garis moral sendiri.

Chen Xingxu, as usual, menjual karakter ini pakai mikro-ekspresi yang rapi. Tatapan iseng dia bisa geser jadi dingin, trus balik lagi ke senyum yang bikin orang lengah. Tahu-tahu, DUAR!!! Dia udah menang aja.

Chen Xingxu sebagai Tan Xuanlin/ Komandan Tan
Chen Xingxu sebagai Tan Xuanlin/ Komandan Tan

Zhang Jingyi sebagai Mu Wanqing

Wanqing bukan female-lead yang cantik tapi lemah. Dia nggak perlu ditolongin lantaran dia punya misi sendiri, punya otak, keberanian, dan tentunya kaya raya.

Sebagai putri tunggal dari seorang saudagar di Shanghai, Wanqing terbiasa hati-hati dalam segala langkah. Dia bisa lembut tanpa jadi lemah, bisa tegas tanpa jadi galak, dan yang paling memuaskan, dia nggak gampang dibodoh-bodohi.

Wanqing juga bukan tipe female-lead yang kalau dihina, balasnya bukan nangis, tapi dia balas pakai kata-kata atau kalimat yang bikin mental lawannya rontok. Inilah yang bikin “Fall in Love” jadi drama yang terasa modern, meski setting-nya era 1920-an.

Zhang Jingyi sebagai Mu Wanqing
Zhang Jingyi sebagai Mu Wanqing

Lin Yanjun sebagai Xu Guanyao/ Jenderal Muda Xu

Second male-lead yang definisinya baik, rapi, terhormat, tapi hidupnya penuh dengan pilihan pahit lantaran terlahir sebagai anak Panglima Perang Xu Boujun yang licik.

Guanyao awalnya seperti anak yang nurut sama orang tua. Masih ideal dan agak naif soal busuknya politik sang ayah.

Tapi seiring drama ini berjalan, Guangyao tumbuh. Karakternya berkembang dan makin enak diikuti.

Kalau kamu tipe penonton yang serung kena second lead syndrome, tenang, di sini kamu mungkin bakal kasihan sama dia, tapi kamu nggak bakal berharap dia tetap berjodoh dengan Wanqing. Sebab Wanqing sedari awal emang sudah dapat chemistry-nya sama Xuanlin.

Lin Yanjun sebagai Xu Guanyao/ Jenderal Muda Xu
Lin Yanjun sebagai Xu Guanyao/ Jenderal Muda Xu

Cai Yuhang sebagai Su Hongchen/ Jenderal Muda Su

Su Hongchen ini karakter yang sering jadi “bumbu penyedap” yang bikin “Fall in Love” terasa rame. Dia loyal sama sahabatnya, terutama Guangyao. Tapi… dia juga gampang kebawa arus, serta punya romansa tragis sendiri.

Su Hongchen punya kontribusi dalam konflik, terutama di beberapa episode terakhir, terkait dengan hubungannya dengan Gu Yueshuang.

Cai Yuhang sebagai Su Hongchen/ Jenderal Muda Su
Cai Yuhang sebagai Su Hongchen/ Jenderal Muda Su

Chen Xinyu sebagai Gu Yueshuang

Gu Yueshuang ini menarik karena hadir sebagai romansa yang lebih dewasa. Dia dan Su Hongchen nggak seheboh couple utama, tapi chemistry mereka terasa realistis banget.

Kalau kamu suka karakter perempuan yang nggak cuma jadi penonton konflik, Yueshuang salah satunya. Sayang, nasibnya berakhir tragis.

Yuan Ruohang sebagai Pei Shaojun/ Jenderal Muda Pei

Nah, ini karakter kulkas dua pintu juga ni. Dia muncul sebagai karakter penting di jalur konflik, terutama ketika adik dari Tan Xuanlin, Tan Sangyu jatuh cinta padanya.

Pei Shaojun tipe karakter yang bikin peta politik di “Fall in Love” jadi makin kompleks. Sebagai putra tunggal dari Panglima Perang Pei yang menguasai wilayah Beijing, masa depan China era revolusi salah satunya bergantung pada keluarganya.

Yuan Ruohang sebagai Pei Shaojun/ Jenderal Muda Pei
Yuan Ruohang sebagai Pei Shaojun/ Jenderal Muda Pei

Dai Yaqi sebagai Tan Sangyu

Tan Sangyu ini karakter yang reaksinya bisa dua, buat sebagian orang menggemaskan, dan buat sebagian lagi… bikin geleng-geleng kepala.

Tapi fungsi karakternya di sini jelas banget. Kadang dia kontras, antara impulsif dengan kebakar realita.

Cintanya yang dalam kepada Pei Shaojun membuat penonton merasa drama ini punya sisi manis yang lain.

Dai Yaqi sebagai Tan Sangyu
Dai Yaqi sebagai Tan Sangyu

“Fall in Love” di Warlord Era

Kalau kita tarik sedikit ke belakang, “Fall in Love” ini sebenarnya berdiri di atas fondasi sejarah cukup solid. Setelah nonton serial ini, aku coba searching dan menemukan beberapa informasi menarik. Aku nggak mengklaim apa yang aku tuliskan berikut ini 100 persen benar, tapi setidaknya ini adalah dari sudut pandang aku.

Drama ini berlatar tahun 1926, masa yang dalam sejarah China dikenal sebagai Era Panglima Perang (Warlord Era). Ini adalah periode paling kacau, paling berdarah, tapi juga paling menentukan dalam pembentukan China modern.

Pada era ini, China tidak punya pemerintahan pusat yang benar-benar kuat. Setelah Dinasti Qing runtuh, negara terpecah menjadi wilayah-wilayah yang dikuasai panglima perang, masing-masing dengan tentara, seragam, dan ambisi sendiri.

Beijing, yang secara simbolis adalah pusat kekuasaan, terus-menerus diperebutkan oleh faksi militer besar. Situasi ini terasa sangat relevan dengan gambaran Panglima Pei di Beijing yang senantiasa merasa terancam oleh Panglima Xu yang menjadi penguasa Shanghai. 

Era ini memungkinkan para penguasa saling menjatuhkan, bersekutu sementara, lalu berkhianat demi bertahan hidup. Mereka tak melihat siapa yang mereka khianati, tak peduli keluarga atau sahabat, selama bisa mengamankan kekuasaannya.

Generasi tua mempertahankan kekuasaan. Generasi muda mempertanyakan segalanya. Kalau kamu lihat menjelang episode terakhir, Xu Guangyao dan Su Hongchen memutuskan bergabung dengan tentara revolusi di Guangzhou, garda selatan China. Mereka yang masing-masingnya adalah Jenderal Muda pewaris kekuasaan ayahnya memutuskan hengkang dari politik busuk keluarga.

"Fall in Love" di Warlord Era
“Fall in Love” di Warlord Era

Berdasarkan catatan sejarah, Guangzhou punya posisi unik. Kota ini menjadi markas Kuomintang (KMT) di bawah pimpinan Sun Yat-sen, yang berambisi menyatukan China dan mengakhiri kekuasaan para panglima perang. Pada tahun 1926, KMT melancarkan Northern Expedition, sebuah kampanye militer besar untuk merebut wilayah-wilayah utara.

Nuansa ini terasa jelas dalam “Fall in Love” lewat kehadiran pasukan revolusioner, wacana “menyelamatkan negara,” dan konflik antara generasi lama dan generasi baru.

Lalu ada Shanghai, kota yang jadi titik temu semua kepentingan, mulai dari perdagangan, modal asing, kekuatan militer, dan intrik politik. Dalam sejarah nyata, siapa pun yang menguasai Shanghai akan punya keuntungan finansial dan pengaruh internasional.

Tidak heran jika di drama, Shanghai digambarkan sebagai wilayah yang rawan kudeta, perebutan kekuasaan, dan permainan strategi tingkat tinggi, tempat di mana Tan Xuanlin naik ke tampuk kekuasaan, tapi sekaligus menjadi sasaran empuk musuh-musuhnya.

Hal menarik lainnya saat menonton “Fall in Love” adalah kehadiran para imigran Jepang di latar cerita. Memang drama ini tidak menjadikan Jepang sebagai antagonis utama yang eksplisit, tapi kalau kita paham konteks sejarahnya, keberadaan Jepang di China tahun 1920-an itu sangat nyata dan signifikan.

Pada tahun 1926, Jepang bukan lagi “tamu asing biasa” di China. Sejak akhir Dinasti Qing dan awal Republik, Jepang sudah aktif menanamkan pengaruh lewat imigran, konsesi dagang, sekolah, bank, hingga jaringan intelijen. Kota-kota seperti Shanghai, Tianjin, dan Beijing menjadi pusat aktivitas mereka.

Shanghai khususnya adalah kota kosmopolitan dengan wilayah konsesi asing, tempat orang Jepang hidup berdampingan dengan warga China, Inggris, Prancis, Rusia, dan negara lain. Tapi tentu saja, mereka hidup berdampingan dengan agenda tersembunyi masing-masing.

Di “Fall in Love,” kita melihat betapa mudahnya identitas bisa dipalsukan, aliansi bisa berubah, dan seseorang bisa “datang dari luar” dengan tujuan yang tidak sepenuhnya jelas. Ini sangat relevan dengan realitas sejarah saat itu. Banyak agen Jepang menyamar sebagai pedagang, penerjemah, guru, atau konsultan militer, sementara diam-diam mengumpulkan informasi tentang panglima perang, jalur logistik, dan kekuatan militer regional.

Menariknya, Mu Wanqing sempat mengaku sebagai orang Jepang di awal pertemuannya dengan Tan Xuanlin. Secara dramatis ini memang strategi bertahan hidup, tapi secara historis, ini masuk akal. Pada era itu, orang Jepang punya posisi “istimewa” sekaligus berbahaya.

Di satu sisi, mereka relatif dilindungi oleh status internasional dan kekuatan militer Jepang. Di sisi lain, keberadaan mereka selalu dicurigai sebagai mata-mata.

Banyaknya seragam berbeda dalam drama “Fall in Love” ini juga bukan kebetulan. Pada Era Panglima Perang, setiap faksi memang punya identitas visual sendiri. Itu sebenarnya cara untuk menunjukkan betapa terfragmentasinya China saat itu.

Panglima Perang Pei, penguasa Beijing
Panglima Perang Pei, penguasa Beijing

Worth It Ditonton atau Tidak?

Paruh akhir “Fall in Love,” dramanya makin serius. Politik mendominasi, romance mundur selangkah. Untungnya happy ending, karena jujur aja, aku hampir teriak pas lihat Xuanlin bergelimang darah setelah ditembak oleh pamannya sendiri yang ternyata jadi dalang utama pembunuh ayahnya.

Cerita bergeser dari “siapa mencintai siapa” menjadi siapa yang pantas memimpin, dan siapa yang benar-benar peduli pada rakyat.

Wanqing dan Xuan Lin akhirnya memutuskan mereka tidak bisa terus bermain aman dengan berpihak pada salah satu jenderal penguasa. Mereka akhirnya berdiri di sisi perubahan dengan bergabung dalam gerakan revolusi meski harus membayar mahal, salah satunya kehilangan harta dan sahabat sendiri.

Empat episode terakhir memang terasa padat dan agak berantakan. Banyak karakter baru muncul. Banyak konflik yang ingin diselesaikan sekaligus.

Romance sedikit terpinggirkan demi pesan nasionalisme dan revolusi. Ini bukan pilihan yang sempurna, tapi masih masuk akal dalam konteks ceritanya.

Aku tetap merekomendasikan serial ini karena “Fall in Love” adalah drama China yang cerdas dan penuh kejutan, terutama karena punya female-lead yang benar-benar berdiri sejajar dengan male-lead. Bukan drama yang sempurna, tapi jujur dengan apa yang ingin diceritakan.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment