Kalau kamu lagi capek sama drama China modern yang isinya cuma salah paham 12 episode, mantan nyelonong di episode 13, lalu putus-nyambung sampai kredit terakhir… “Will Love in Spring” atau “Cinta di Musim Semi” sebaiknya jadi pilihan kamu.
Drama ini punya vibe yang hangat tapi juga “berat” karena menyinggung kehidupan dewasa. Tema besarnya bukan cuma cinta-cintaan, tapi juga kematian, kehilangan, trauma, dan cara orang bertahan hidup sambil tetap pengen dicintai.
Total 21 episode, tayang di CCTV dan WeTV sekitar akhir April 2024, dan juga dikenal dengan alternatif judul “There is a Lover in My Hometown.” Male-lead-nya salah satu aktor favoritku, Li Xian, sedangkan female-lead-nya adalah Zhou Yutong, salah satu aktris dengan kualitas akting nggak kaleng-kaleng, meski dalam kehidupan nyata kulihat sosoknya cukup kontroversial lantaran banyak berita sensasi seliweran melibatkan namanya.
Awal mula aku mutusin nonton ini dua tahun lalu, selain karena Li Xian, juga karena karakter yang dia perankan. Li Xian di sini bekerja sebagai funeral makeup artist/ mortician, yaitu orang yang merapikan wajah jenazah supaya keluarga bisa pamit dengan tenang. Ini jarang banget jadi profesi tokoh utama di romance modern.
Sinopsis Lengkap Will Love in Spring
Zhuang Jie (diperankan Zhou Yutong) adalah perempuan karier yang hidup dan bekerja di Shanghai sebagai medical sales. Ia mandiri, ambisius, cerewet, dan terlihat percaya diri. Namun di balik itu, Zhuang Jie menyimpan luka fisik dan emosional sejak remaja.
Sebuah kecelakaan mobil pada masa SMA merenggut sebagian kaki kanannya dan juga ayah kandungnya. Sejak saat itu, hidup Zhuang Jie berjalan dengan satu kaki prostetik dan satu trauma yang belum pernah benar-benar sembuh.
Suatu hari, Zhuang Jie pulang ke kota kecil Nanping, kampung halamannya, untuk liburan singkat. Di kota inilah ia kembali bertemu dengan Chen Maidong, teman sekolahnya dulu. Laki-laki yang dulu dikenal bandel, tertutup, dan kini berubah menjadi sosok tampan, dingin, tenang, serta nyaris tak tersentuh.
Chen Maidong bekerja sebagai funeral makeup artist, profesi yang jarang disorot dalam drama. Ia bertugas merias jenazah agar terlihat layak saat keluarga mengucapkan perpisahan terakhir. Bagi Maidong, kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Ia justru merasa lebih jujur berhadapan dengan orang mati daripada orang hidup.
Pertemuan mereka cukup canggung. Maidong bersikap dingin, menjaga jarak, bahkan seolah tidak tertarik mengingat masa lalu. Zhuang Jie yang terbiasa dominan dan blak-blakan justru terpancing. Ia penasaran, sekaligus masih menyimpan rasa yang belum sempat tumbuh di masa SMA.

Luka Lama yang Perlahan Terbuka
Hubungan mereka tidak langsung romantis. Awalnya lebih mirip tarik-ulur antara dua orang yang sama-sama takut membuka diri.
Zhuang Jie sering datang ke rumah Maidong karena “kebetulan” diatur sama nenek Maidong.
Sedari awal, nenek Maidong udah suka banget sama Zhuang Jie. Sang nenek adalah sosok hangat dan cerewet, yang diam-diam berperan sebagai mak comblang.
Di sisi lain, kehidupan keluarga Zhuang Jie juga diperlihatkan secara detail. Ia tinggal bersama ibu yang keras, adik laki-laki yang cuek tapi perhatian, dan adik perempuan yang sangat cerdas secara emosional.
Hubungan mereka penuh kehangatan sebagai saudara, tapi juga sesekali berkonflik, terutama dengan sang ibu yang kerap melontarkan kata-kata tajam dan kasar tanpa sadar melukai hati anak-anaknya.
Seiring waktu, Maidong dan Zhuang Jie mulai saling membuka diri. Maidong mengungkapkan masa lalunya, bahwa ia pernah menjadi remaja bermasalah, kehilangan sahabat terbaiknya, dan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi.
Profesi sebagai perias jenazah adalah bentuk penebusan rasa bersalah, cara baginya untuk “memperbaiki” cara perpisahan orang lain, meski ia tak bisa memperbaiki masa lalunya sendiri.
Zhuang Jie pun perlahan jujur tentang ketakutannya. Di balik semua pencapaiannya, ia menyimpan rasa rendah diri yang dalam. Ia takut dicintai sepenuhnya karena merasa “tidak utuh” sejak kehilangan separuh kaki. Meski begitu, ia ingin mandiri, tapi juga ingin disayangi tanpa dikasihani.
Hubungan yang tak Selalu Indah
Ketika hubungan mereka mulai berubah dari pertemanan menjadi cinta, konflik pun muncul, bukan karena pihak ketiga, melainkan karena luka batin masing-masing.
Zhuang Jie sering bersikap defensif. Ia beberapa kali mengatakan hal-hal yang melukai Maidong, terutama saat ia merasa terpojok atau tidak aman.
Salah satu konflik terbesar terjadi saat Zhuang Jie, dalam keadaan emosional, mengucapkan kata-kata yang mempertanyakan pilihan hidup Maidong dan pekerjaannya. Kata-kata itu menghantam harga diri Maidong.
Walau begitu, “Will Love in Spring” tidak membiarkan konflik berlarut demi rating. Zhuang Jie menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf. Ia menjelaskan alasannya, bukan untuk membenarkan diri, tapi untuk membuka luka yang selama ini ia sembunyikan.
Maidong, meski terluka, memilih mendengarkan Zhuang Jie. Hubungan mereka kemudian berkembang melalui komunikasi dewasa. Ya… sesekali tetap bertengkar, saling diam, tetapi kemudian mereka bisa saling meminta maaf, berdiskusi, lalu mencoba lagi. Dewasa banget kan?

Kehilangan dan Titik Balik
“Will Love in Spring” mencapai puncak emosional saat kematian Nenek Lin, sahabat nenek Maidong. Kepergian ini mengguncang semua karakter. Zhuang Jie melihat langsung bagaimana Maidong menghadapi duka dengan ketenangan yang menyayat hati.
Pada saat yang sama, keluarga Zhuang Jie kembali dilanda tragedi ketika ayah tiri mereka meninggal mendadak. Luka lama terbuka kembali. Zhuang Jie kembali terjebak dalam pola lama, di mana dia terbiasa menahan emosi, berpura-pura kuat, dan menjauh.
Konflik memuncak ketika Zhuang Jie memutuskan kembali ke Shanghai tanpa menjelaskan rencananya secara jujur kepada Maidong. Ia memilih karier dan meninggalkan Maidong. Bukan karena ia tidak mencintai Maidong lagi, tapi karena takut mencintai Maidong terlalu dalam.
Maidong pun terluka, bukan karena ditinggalkan Zhuang Jie, tapi karena tidak diajak bicara.
Pada akhirnya, Zhuang Jie dipaksa menghadapi kenyataan. Ia tidak bisa terus lari dari cinta dengan dalih kemandirian. Ia menyadari bahwa mencintai tidak sama dengan menjadi lemah.
Di stasiun Nanping, terjadi percakapan paling jujur antara mereka. Zhuang Jie akhirnya membuka seluruh isi hatinya, tentang ketakutan, rasa tidak layak, dan keinginannya untuk dicintai tanpa syarat.
Maidong menerima Zhuang Jie apa adanya. Dia tak ingin menjadi penyelamat Zhuang Jie, tapi sebagai pasangan sejajar. Mereka memilih untuk tidak lagi terpisah dan memutuskan bersama selamanya.
Review Will Love in Spring
Aku suka banget ada drama China modern yang mengambil setting di kota-kota kecil seperti Nanping ini. Nggak melulu kota besar terus, seperti Shanghai, Chongqing, Guangzhou, Shenzhen, atau Chengdu.
Ritme hidup di Nanping ini terlihat slow living banget. Kita bisa ketemu tetangga-tetangga yang kepo tapi juga peduli. Ketemu warung, gang, rumah tua, dan rutinitas yang terasa real.
Di tengah gaya hidup metropolitan Zhuang Jie di Shanghai, di mana kerjanya pakai target dan ambisi, karakternya langsung seperti “nabrak kaca” pas dia pulang kampung. Ternyata, ada bagian dirinya yang belum “selesai” di rumah. Di sanalah berdiri Chen Maidong yang diam-diam membantunya healing dan berdamai dengan diri sendiri.
Li Xian sebagai Chen Maidong
Aku paham kenapa banyak orang bilang Chen Maidong itu green flag. Dia sabar, tegas seperlunya, dan ketika marah pun… marahnya nggak pake drama.
Chen Maidong itu tipe cowok yang dari luar kelihatan tenang, profesional, dan agak susah ditembus. Dingin banget. Tapi semakin kamu masuk, kamu sadar, dia bukan dingin karena sok cool… dia dingin karena ada trauma, ada rasa bersalah, ada kesepian yang pengen dia atasi sendiri.
Dan semakin bertambah episodenya, karakternya makin “hidup” tanpa harus berubah jadi manusia baru. Kamu bisa lihat transisi Maidong, dari awalnya yang selalu menahan diri, jadi laki-laki yang berani mengejar juga memiliki.

Dan profesinya itu loh… perias jenazah. Pekerjaan yang bikin dia akrab sama hal yang kebanyakan orang hindari, yaitu perpisahan dan kematian.
Pekerjaan Maidong sebagai mortician bukan gimmick dalam cerita. Profesi ini menjadi fondasi karakter Maidong. Ia terbiasa menghadapi akhir, kehilangan, dan kesedihan orang lain.
Ia tahu kapan harus diam, kapan harus lembut, dan kapan harus berdiri sedikit lebih jauh agar tidak mengganggu prosed duka.
Li Xian memainkan karakter ini dengan penahanan emosi yang konsisten. Tidak ada ledakan emosi berlebihan. Bahkan, ketika ia terluka, bertengkar dengan Zhuang Jie, sampai harga dirinya juga diremehkan kekasihnya sendiri, Maidong tetap tidak berapi-api.
Ya Allah, ada ya cowok se-green-flag ini.
Zhou Yutong sebagai Zhuang Jie
Zhuang Jie ini kebalikan dari Chen Maidong. Dia terlihat hidup ceria, cerewet, berani, dan punya energi “aku bisa ngelakuin apa aja, kok.” Tapi dia juga hidup dengan disabilitas. Kakinya amputasi karena kecelakaan masa remaja.
Kondisi fisik itu membentuk banyak hal dalam cara dia mencintai seseorang. Kadang overthinking, kadang defensif, kadang pengen kabur duluan sebelum ditinggalin.
Ada sisi insecure dari Zhuang Jie. Dia kuat karena kalau nggak kelihatan kuat, orang-orang bakal gampang remehin dia, dan pegang kendali atas dirinya.
Makanya, Zhuang Jie ini adalah karakter yang sering memecah penonton menjadi dua kudu, yang empati dan gemas setengah mati.
Dia pintar, sukses, mandiri. Tapi… keras kepalanya itu loh, sering melukai orang lain, terutama Maidong.

Zhuang Jie sama sekali nggak menjadikan disabilitasnya sebagai alat untuk minta simpati orang lain. Justru sebaliknya, Zhuang Jie menolak belas kasihan.
Dia mau diperlakukan setara. Tapi dalam prosesnya, dia sering lupa bahwa setara juga berarti membiarkan orang lain peduli sama dia.
Aku akui, Zhou Yutong memerankan karakter Zhuang Jie dengan sangat natural.
Dia nggak heroik, tapi nggak lembek juga. Benar-benar perempuan dewasa yang masih belajar mengelola trauma. Aku aja sampai lupa kalau dia itu disabilitas, saking nggak kelihatan sama sekali dalam auranya.
Drama Mature, Nggak Cuma karena Best Kiss Scene
Yes, “Will Love in Spring” memang punya romansa yang terasa modern. Ada sentuhan, pelukan, dan kiss scene yang nyata, tidak kaku, tidak awkward, dan tidak dibuat malu-malu setengah hati seperti “fish kiss” klasik drama Asia.
Adegan ciuman di terowongan jalan, ketika Maidong “menculik” Zhuang Jie ketika ikut mengantarkan mantan pacarnya ke stasiun kereta. Ciuman mereka spontan, penuh emosi, jadi salah satu momen paling berkesan bagi penonton.
Bukan karena sensualnya, tapi karena terasa seperti dua orang dewasa yang akhirnya berhenti menahan diri setelah sekian lama menimbang perasaan masing-masing.
Lalu ada malam pertama mereka di apartemen Maidong. Malam Tahun Baru yang seharusnya menjadi momen intim itu gagal total. Penyebabnya adalah trauma Zhuang Jie muncul begitu Chen Maidong mulai menyentuh kaki prostetiknya.
Di titik ini, drama tidak menjadikan adegan tersebut sebagai konflik murahan atau drama berlebihan. Justru sebaliknya, kamera memilih diam, tidak ada musik dramatis, tidak ada paksaan emosi. Yang ada hanya keheningan, jarak, dan rasa bersalah yang menggantung.

Chen Mai Dong tidak marah, tidak berapi-api, ketika Zhuang Jie meninggalkannya begitu saja. Ini penting. Karena jarang sekali drama memperlakukan intimasi, tubuh, dan trauma dengan kehati-hatian seperti ini.
Malam kedua mereka jauh lebih bermakna. Bukan karena adegannya lebih “panas” tapi karena keduanya sudah sampai pada titik yang sama, mengakui bahwa mereka saling membutuhkan, saling ingin, dan, yang paling sulit, bersedia hadir satu sama lain sepenuhnya.
Intimasi di malam itu bukan sekadar kontak fisik ya, lebih ke statement mereka, bahwa “Aku tahu lukamu. Aku tahu ketakutanmu. Tapi aku tetap di sini.”
Ah, pokoknya yang udah nonton pasti paham di mana letak sisi dewasa “Will Love in Spring” ini. Dua karakter utamanya sama-sama tahu kapan harus berhenti, kapan harus menunggu, dan kapan mereka memang siap melangkah bersama. Scene mesra-mesranya itu cuma bonus.
Second-Lead dan Support-Roles
Harus diakui, karakter-karakter pendukung dalam “Will Love in Spring” benar-benar menambah warna dalam cerita. Mereka bukan tempelan, tapi benar-benar hidup dalam cerita.
Yang paling mencuri hatiku adalah Nenek Chen Maidong. Dia mode-nya mak comblang tapi juga bijak dan nggak sok suci, dengan bilang, “cucuku terbaik, pantas mendapatkan perempuan cantik, tidak cacat.” Tidak sama sekali. Nenek Chen Maidong suka sama Zhuang Jie justru karena kepribadiannya, sehingga bisa mengabaikan cacat fisiknya.

Next, adik-adik Zhuang Jie. Duh, manis banget Zhuang Yan dan He Niaoniao. Mereka bukan “anak kecil tempelan” tapi justru sering jadi suara paling waras di rumah.
He Niaoniao padahal tidak ada hubungan darah sama Zhuang Jie dan Zhuang Yan, karena dia adalah anak dari pernikahan kedua sang ibu. Tapi, sayangnya Zhuang Jie dan Zhuang Yan ke adik kecil mereka benar-benar luar biasa.
Second-lead female dalam “Will Love in Spring” yang tak lain adalah bestie Zhuang Jie juga nggak main-main. Wang Xixia (diperankan Wan Peng) ini tipikal temen yang nggak cuma iya-iya aja, tapi berani negur Zhuang Jie kalau semisal udah kelewat keras kepala.
Layak Tonton atau Nggak?
Aku juga harus fair, “Will Love in Spring” bukanlah drama buat semua orang. Kamu mungkin nggak cocok nonton ini kalau kamu pengen romcom ringan tanpa tema kematian. Kamu nggak disarankan nonton ini kalau kamu cepat capek sama karakter female-lead yang kadang self-sabotage dan mood-swing banget.
Kamu nggak cocok nonton “Will Love in Spring” kalau kamu pengen drama dengan plot cepat tiap episode. Karena ritmenya memang slice-of-life. Ada episode yang fokusnya bukan plot twist, tapi perasaan dan proses.
Buatku, “Will Love in Spring” ini drama rom-com yang terlalu nyata dan sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Saking real-nya.
Chen Maidong dan Zhuang Jie itu dua orang dewasa yang sama-sama punya “ketidaksempurnaan” dan yang mereka lakukan bukan mencari orang yang sempurna, tapi mencari orang yang bisa menerima, bisa bertahan, bisa memaafkan, dan bisa menjadi tempat “pulang.” Kalau kamu suka sama ini, drama ini layak kamu coba tonton.

Leave a Comment