Saat menonton “The Starry Love” pada 2023, aku sudah menangkap drama ini adalah xianxia dengan mood yang nggak biasa. Padahal, xianxia umumnya identik dengan nuansa serius, sebab penuh konspirasi besar yang melibatkan Tiga atau Empat Alam, takdir, dan pertarungan kosmis.
Bedanya, “The Starry Love” tetap setia pada dunia xianxia, tetapi berani menertawakan formula-formula yang biasanya diperlakukan sangat serius. Penasaran? Baca ulasanku sampai selesai ya.
Sinopsis The Starry Love
Drama China “The Starry Love” berkisah tentang dua saudari kembar jelmaan dua bintang yang ditakdirkan jatuh ke Alam Manusia melalui rahim seorang permaisuri. Satu dicap “anak pembawa keberuntungan” (Liguang Qingkui, diperankan He Xuanlin) dan satu lagi dicap “anak pembawa sial” (Liguang Yetan, diperankan Landy Li).
Meski bersaudara kandung, nasib dua gadis ini bagaikan bawang putih dan bawang merah. Qingkui tumbuh bergelimang kemewahan di istana, sementara Yetan justru menjadi anak buangan dan dikurung selama 18 tahun di paviliun dan penjara.
Meski demikian, ikatan persaudaraan mereka tak pernah terputus. Keduanya seperti cermin. Ketika yang satu merasakan sakit, literally beneran sakit ya, yang lain bakal merasakan sakit juga. Inilah yang menjadi pertimbangan utama ayah mereka, Sang Kaisar, mengapa ia tak bisa begitu saja membuang atau melukai Yetan, karena dampaknya akan kembali pada Qingkui.
Setelah cukup umur, keduanya harus menikah untuk menjaga keseimbangan Empat Alam. Yang satu dijodohkan ke Pangeran Langit/Heavenly Realm yang penuh kedamaian, yang satu lagi ke Pangeran Jurang Bawah/Abyss Realm yang penuh kegelapan. Lalu di hari H… tandu pengantin mereka ketuker.
BOOM!
Qingkui yang seharusnya menjadi Dewi Langit malah diboyong ke Jurang Bawah, sementara Yetan yang seharusnya menjadi Dewi Jurang Bawah malah diboyong ke Langit. Dari situlah roda cerita mereka berputar.
Perdamaian dan Peperangan Empat Alam
Drama China “The Starry Love” berlatar dunia Empat Alam (Four Realm). Tak seperti drama xianxia pada umumnya yang hanya menyebutkan tiga alam (Three Realm), yaitu alam dewa, manusia, dan roh, “The Starry Love” memakai konsep Empat Alam?
Apa saja itu?
Empat Alam versi “The Starry Love” terdiri dari Alam Langit (Heavenly Realm), Alam Manusia (Mortal Realm), Alam Binatang (Beast Realm), dan Alam Jurang bawah (Void Realm).
Alam Langit adalah dunia para dewa dan makhluk-makhluk yang tinggi derajatnya. Alam Manusia adalah dunia manusia biasa.
Alam Binatang adalah alam yang berisi ras makhluk non-manusia, terutama binatang. Alam Dunia Bawah adalah semacam alam kegelapan.
Penghuni Jurang Bawah ini tidak berasal dari Alam Manusia dan tidak terikat usia, reinkarnasi, atau karma manusia. Mereka juga bukan berasal dari Alam Binatang, sehingga bukan siluman.
Siluman biasanya berasal dari hewan atau tumbuhan yang berkultivasi. Jurang Bawah lahir langsung dari energi di sana yang lebih tua, lebih liar, dan lebih destruktif.
Secara fungsi cerita, mereka mirip ras terbuang. Kekuatannya tidak sepenuhnya jahat, tapi berbahaya bila tak seimbang.
Makanya Jurang Bawah ini sering diposisikan sebagai ancaman kosmis, bukan sekadar alam yang penuh kejahatan saja. Mereka berada di luar tatanan normal Tiga Alam, dan itulah yang bikin mereka diwaspadai para dewa.
Sekarang, kita kenalan sama karakter-karakter penting dari Empat Alam tersebut.
Chen Xingxu sebagai Shaodian Youqin
Shaodian Youqin adalah Pangeran Langit sekaligus pelindung Empat Alam. Dia sosok yang sejak kecil dibesarkan dengan satu prinsip, bahwa tugas lebih penting daripada emosi.
Hidupnya rapi, terjadwal, nyaris steril dari kehangatan manusiawi akibat berkultivasi selama 300 tahun, hanya ditemani pengikut setianya, Fei Chi (diperankan Cao Jie). Bahkan hal-hal kecil seperti makan, tidur, dan berinteraksi pun terasa seperti kewajiban, bukan kebutuhan.
Youqin bukan dingin karena sok keren. Dia dingin karena dibentuk begitu. Trauma, tekanan, dan ekspektasi sebagai “Penjaga Empat Alam” membuatnya menekan rasa takut, cinta, bahkan keinginan untuk hidup normal.
Meski berada di posisi tertinggi, Shaodian Youqin sejak awal “ditakdirkan” untuk mati. Dia bukan sekadar Pangeran Surga, melainkan pilar penyeimbang Empat Alam, senjata hidup yang diciptakan untuk mengorbankan diri, anak yang sejak kecil tidak diberi pilihan untuk memilih jalan hidupnya. Secara takdir kosmis, kematian Youqin adalah bagian dari desain alam semesta.

Landy Li sebagai Liguang Yetan
Yetan adalah karakter putri yang berisik, cerewet, licik, suka ngajak ribu, dan nggak mau kalah. Tapi jangan salah, semua itu bukan tanpa alasan.
Sejak lahir, Yetan dicap sebagai “pembawa sial.” Ia tumbuh tanpa kasih sayang, selalu disalahkan, dijauhkan, dan dianggap beban. Maka Yetn membangun pertahanan, sehingga dia tumbuh dengan mulut tajam, otak cepat, dan sikap superior bahwa dia nggak butuh siapa-siapa.

He Xuanlin sebagai Liguang Qingkui
Qingkui adalah kebalikan Yetan dalam hampir semua hal. Ia lahir sebagai anak yang diberkati, dicintai, dan dihormati. Lembut, sopan, dan penuh empati.
Kalau dalam drama kebanyakan, Qingkui ini seharusnya tipe putri yang sering kali jatuh ke dalam jebakan karakter, yaitu putri yang “terlalu baik sampai membosankan.” Tapi di “The Starry Love,” dia benar-benar tumbuh sebagai putri terhormat, beradab, dan disayangi semua orang.

Luke Chen sebagai Chao Feng
Chao Feng adalah Pangeran Ketiga Jurang Bawah yang mengalami krisis identitas karena lahir dari rahim seorang harem. Dia licik, manipulatif, penuh perhitungan, dan jelas punya agenda pribadi.
Sebagai Pangeran Ketiga, Chao Feng tumbuh di dunia yang keras, tempat kelicikan adalah alat bertahan hidup, bukan dosa moral. Dia belajar bahwa cinta itu mahal dan harus diperjuangkan sejak Qingkui masuk ke dalam hidupnya.

Qin Tianyu sebagai Lan Jue
Lan Jue berasal dari Alam Binatang. Dia adalah jelmaan srigala putih, merupakan Pangeran Alam Binatang. Dia bersahabat dekat dengan Yetan, bahkan jatuh cinta pada sang putri.
Lan Jue memiliki pesuruh bernama Man Man, seekor burung yang diutus untuk menjaga dan menemani Yetan di tempat pengasingan.
Sepanjang cerita “The Starry Love,” Empat Alam senantiasa berdamai dan berperang, terutama Alam Langit dan Alam Jurang Bawah. Alam Manusia dan Alam Binatang berada di antara keduanya.
Konfrontasi ini tujuannya membuktikan, siapa yang berhak mengendalikan nasib dunia?

Review The Starry Love
Sejak episode awal, alih-alih membuat dahi berkerut karena alur rumit, drama ini justru mengajak penonton tertawa lewat interaksi para karakternya, terutama Shaodian Youqin dan Yetan.
Bahkan tokoh-tokoh dari Jurang Bawah yang semestinya tampil sangar dan mengintimidasi pun tetap berhasil menghadirkan humor yang segar dan menghibur.
Komedinya menyelip di momen-momen tak terduga. Bahkan halaman Youku pun menekankan tone “romantis + komedi + salah nikah” sebagai mesin utama premisnya.
Buatku, komedinya bukan sekadar slapstick. Banyak yang bentuknya dialog nyeleneh tapi tepat, reaksi karakter yang meta, situasi absurd ala xianxia yang dipelintir. Hasilnya, kamu bisa habis sedih, tiba-tiba ketawa. Dan ini bikin 40 episode nggak terasa udah habis aja.
Di tangan drama lain, trope “salah nikah” sering jadi alat tarik-ulur misunderstanding berpuluh episode. Tapi di sini, salah nikahnya bukan cuma buat lucu-lucuan, tapi menjadi pintu masuk dua cerita.
Pertama, romansa dua pasangan yang tertukar, tapi kok malah cocok?
Kedua, konspirasi besar yang menyenggol Empat Alam tentang rahasia kelahiran si kembar, Qingkui dan Yetan.
The Honey Trilogy
Secara produksi, “The Starry Love” adalah drama 40 episode yang menjadi bagian dari rangkaian serial “The Honey Trilogy.” Ini adalah tiga drama berbeda genre yang punya vibe romantis, manis, dan emosional khas tim produksi yang sama.
Kamu tahu siapa sutradaranya? Dia adalah Chu Yuibun, sutradara kawakan di balik judul-judul drama China yang jadi favorit penonton sedunia:
- Eternal Love of Dream (2020)
- The Long Ballad (2021)
- Story of Kunning Palace (2023)
- Blossoms in Adversity (2024)
- Moonlight Mystique (2025)
- Fated Hearts (2025)
So, kalau kamu suka judul-judul di atas, percayalah, kamu pasti bakal suka juga dengan “The Starry Love” meski pun serial ini diproduksi 2023.
Balik lagi ke “The Honey Trilogy” tadi. Berikut adalah tiga judul di dalamnya:
Ashes of Love (2018)
Salah satu drama xianxia fantasy romance terpopuler sepanjang masa. “Ashes of Love” berkisah tentang cinta antara Jin Mi (diperankan Yang Zi) dan Xu Feng (diperankan Deng Luan) dari Empat Alam. Kisah mereka penuh tragedi, takdir, dan romansa epik.

Skate Into Love (2020)
Drama ini keluar dari setting fantasi, beralih ke romance sporty, kisah cinta dan perjuangan dua sahabat di dunia ice skating. Serial ini dibintangi Zhang Xincheng sebagai Li Yubing dan Wu Qian sebagai Tang Xue.
Meski genre-nya berbeda dari “Ashes of Love,” produksi dan vibe emosinya kuat sehingga diposisikan sebagai bagian kedua “The Honey Trilogy.”

The Starry Love (2023)
Nah, baru deh “The Starry Love” masuk sebagai bagian ketiga “The Hony Trilogy” yang kembali ke setting xianxia fantasy romance. Hanya saja, produksi satu ini memiliki unsur komedi, cinta antar alam, dan tema cinta serta takdir yang lebih kuat.
Meski pun cerita-cerita dalam “The Honey Trilogy” tidak saling terkait langsung, ketiga judul ini punya tim kreatif yang sama, terutama sutradara dan penulis skripnya. Inilah kenapa gaya visual, tone emosional, dan karakterisasi romance-nya konsisten.

Yin Yang dalam Kelahiran Putri Kembar
Salah satu hal paling menarik dari “The Starry Love” dan sering luput dibahas, karena orang keburu fokus romance-nya, adalah bagaimana xianxia ini bermain dengan konsep yin dan yang lewat kelahiran dua putri kembar.
Dalam kosmologi Tiongkok klasik, CMIIW, Yin dan Yang bukanlah konsep hitam dan putih yang saling meniadakan. Yin tidak berarti jahat dan Yang tidak otomatis baik. Mereka adalah dua energi yang saling melengkapi, saling mengoreksi, dan justru tidak bisa hidup sendiri-sendiri.
“The Starry Love” mengambil konsep ini, kemudian “menubuhkannya” ke dalam dua karakter perempuan, Qingkui dan Yetan.
Ytan (yin), dia bukannya jahat, bukan evil-coded character. Dia adalah anak yang tidak pernah diberi ruang untuk menjadi baik dan tenang. Sementara Qingkui (yang), adalah cahaya yang dirawat. Dia diberi validasi, pendidikan, cinta, dan kepercayaan.
Meski begitu, Qingkui sadar betul bahwa dirinya bukan boneka suci. Dia sadar bahwa kebaikannya sebagian besar lahir dari previlage. Inilah kenapa dia tidak pernah menggunakan cahayanya untuk menghakimi adik kembarnya.
Yin tidak pernah mengalahkan Yang. Hal terindah dari hubungan mereka adalah tidak ada kompetisi moral. Qingkui tidak pernah merasa lebih baik dari Yetan, dan Yetan pun tidak pernah iri pada kesempurnaan Qingkui. Mereka saling menutup celah satu sama lain.
Yetan melindungi Qingkui dengan kecerdikan dan keberaniannya. Qingkui melindungi Yetan dengan kelembutan dan ketenangannya.
Saat Yetan bertindak impulsif, Qingkui menjadi jangkar. Saat Qingkui terjebak dalam idealisme, Yetan menariknya kembali ke realitas. Mereka menjadi satu sistem.

Baik dan buruk bukan bawaan lahir, sehingga tidak bisa disebut takdir, karena keduanya dibentuk oleh cara dunia memperlakukanmu.
Kontras Yin dan Yang secara textbook mungkin bisa terlihat dari Alam Langit dan Alam Jurang Bawah dalam cerita. Alam Langit terlihat terang, putih, rapi, dan bersih. Dunia yang terlihat sempurna, tertib, dan kesannya selalu benar.
Beda hal dengan Alam Jurang Bawah yang gelap, kasar, penuh intrik, dan survival mode. Dunia yang dicurigai, ditakuti, dan dicap sebagai “salah.”
Kalau kamu penonton cerdas, kamu nggak akan berhenti di estetika yang terlihat oleh mata saja. “The Starry Love” menyadarkan kita bahwa dunia yang terang bisa saja kejam, dan dunia gelap bisa saja menyimpan kehangatan.
Heavenly Realm, dengan segala cahaya dan moralitasnya, justru menjadi tempat penindasan yang halus. Aturan dipakai untuk membenarkan kekerasan. “Kebaikan” dipakai sebagai tameng untuk kontrol.
Sementara Void Realm, yang sejak awal dicap jahat, justru memperlihatkan dinamika emosional yang lebih jujur. Kamu bisa lihat cinta yang tulis dari Chao Feng untuk Qingkui. Iya, konflik di sana kasar, tapi mereka tidak munafik kan?

Takdir yang Salah Bukan Kesalahan
Pernikahan yang tertukar dan nasib yang melenceng bukan sekadar trope romantis “The Starry Love.” Sebetulnya, ini metafora loh.
Qingkui ditempatkan ke dunia gelap, dan Yetan dilempar ke dunia terang. Lalu, apa yang terjadi?
Cahaya Heavenly Realm justru retak ketika Yetan masuk. Void Realm mulai berubah ketika Qingkui hadir.
Yin masuk ke wilayah Yang, dan sebaliknya, Yang masuk ke wilayah Ying. Apa yang terjadi setelah itu bukanlah kehancuran, melainkan koreksi. Keseimbangan baru tercipta karena dua alam ini dipaksa melihat dunia dari sudut pandang lain.
Chemistry Couple Pertama dan Kedua
Couple pertama adalah Yetan dan Shaodian Youqin. Nah ini pasangan yang jadi magnet besar.
Shaodian Youqin yang dingin, kaku, dan saklek sama aturan ternyata setelah mengenal Yetan lapisan kepribadiannya bisa lebih banyak dan lebih cair.
Di awal, Youqin itu prototipe male-lead yang kaku dan serba awkward ketika bersinggungan dengan hal-hal di luar kebiasaan. Seiring waktu, Youqin berkembang melalui fase-fase lapisan manusia yang selama ini dia tekan.
Mungkin karena Yetan ngajarin Youqin bahwa dewa pun boleh merasa takut dan boleh manusiawi. Youqin ngajarin Yetan bahwa siapa pun pantas dicintai. Chemistry mereka itu tipe yang bikin kamu senyum sendiri, karena banyak momen kocak yang nggak dibuat-buat.

Couple kedua kita adalah Qingkui dan Chao Feng. Ini mah bad boy ketemu good girl ya. Pasangan kedua “The Starry Love” ini sangat disukai penonton lantaran emosinya lebih menggigit.
Chao Feng datang dari Void Realm, dunia yang keras dan politiknya bengis. Dia punya sisi manipulatif (jelas), tapi dramanya juga kasih konteks bahwa di tempat dia hidup, kalau kamu nggak licik, kamu habis.
Qingkui di sisi lain jadi semacam kompas moral buat Chao Feng. Kehadirannya bikin Chao Feng pelan-pelan mempertanyakan, sampai kapan dia mau hidup begitu terus?

Secara produksi, “The Starry Love” emang niat sih. Set megah, kostum rapi, CGI yang indah untuk seukuran tahun 2023 itu. Dan dari sumber Wikipedia, dramanya diproduksi oleh Perfect World Pictures dan tayang 2023 di TV China serta sinkron di Youku.
Untuk OST, “The Starry Love” ini banyak disebut punya lagu-lagu yang kuat (dan beberapa dinyanyikan penyanyi yang sering jadi langganan xianxia). Sebut saja Sa Dingding, Mao Buyi, dan Liu Yuning.
Ending dan Nasib Para Karakter
Kamu pasti penasaran dong, gimana ending-nya? Sebagian penonton bilang, ending-nya ambigu. Oleh sebab itu, aku coba jelaskan.
Secara naratif, Shaodian Youqin memang mati dan dia mengorbankan diri untuk menutup kembali Tanah Keruntuhan atau Guixu, sebuah kekuatan atau bahaya besar dalam dunia xianxia. Ia mati demi menstabilkan Empat Alam.
Kematian Youqin memaksa Yetan untuk kembali ke berbagai alam (realm) demi mencari bagian-bagian jiwa (shards) Youqin. Mereka menghadapi kebenaran-kebenaran lain tentang takdir dan eksistensi mereka.
Yang mati adalah Youqin versi lama, yaitu yang tanpa emosi, tidak punya pilihan, dan tidak punya hak untuk hidup. Melalui pecahnya jiwa, empat fragmen kepribadian Youqin, dia belajar menjadi manusia. Alam Langit diteruskan oleh adiknya, Qing Heng (diperankan Zhou Zhan).

Pada akhir cerita, Qingkui dan Yetan tidak kembali sebagai manusia, dewi, atau putri dari alam mana pun. Mereka terlahir kembali sebagai bunga kembar di Taman Empat Alam, tempat yang berfungsi sebagai zona penyangga (kalau di kita istilahnya, zona demiliterisasi), sehingga makhluk-makhluk dari Empat Alam boleh masuk ke dalamnya secara damai.
Baik Shaodian Youqin dan Chao Feng memutuskan meninggalkan alam asal mereka untuk menjaga bunga kembar ini. Tepat pada waktunya, Qingkui dan Ye Tan akan lahir sebagai jiwa bunga kembar dengan kekuatan khusus yang secara kosmik punya peran besar dalam keseimbangan Empat Alam.
Secara fisik, Chao Feng dan Youqin masing-masing kehilangan Qingkui dan Yetan sebagai pasangan hidup. Namun, mereka tidak kehilangan makna cinta itu sendiri.
Meski kekasih-kekasih mereka terlahir kembali dalam wujud bunga kembar yang menyegel Empat Alam, Chao Feng dan Youqin belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Itulah pelajaran termahal dalam hidup mereka.

So, ini happy ending atau sad ending?
Jawabannya NEITHER.
Tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan fisik. Tidak semua pengorbanan diberi hadiah manis. Akan tetapi, setiap pilihan itu bermakna.
Ending bunga kembar artinya dunia ini hanya bisa seimbang karena ada orang-orang yang rela tidak bahagia demi yang ain. Qingkui dan Yetan sudah melampaui konsep menang dan kalah. Mereka selamanya dikenal sebagai inti dari keberlangsungan Empat Alam.

Leave a Comment