Review Our Interpreter
Review Our Interpreter

Tahun 2024 lalu, aku sempat nonton “Our Interpreter.” Tapi jujur aja, waktu itu aku lagi super sibuk kerja sebagai editor di sebuah media online, jadi blog ini agak keteteran. Banyak tontonan bagus cuma lewat di kepala, tanpa sempat kutuliskan jadi ulasan.

Nah, belakangan ini Chen Xingxu tiba-tiba viral lagi lewat “Love Between Lines.” Dan dari situ, aku jadi keinget, “eh, aku pernah nonton ‘Our Interpreter’ loh.” Akhirnya muncul keinginan buat balik, ngulik lagi drama-drama lama dia, dan menuliskannya satu-satu.

Anggap saja tulisan ini sebagai bentuk apresiasi dariku untuk Chen Xingxu, sekalian nostalgia, untuk sebuah drama yang ternyata masih enak ditonton sampai sekarang.

Sinopsis “Our Interpreter”

Lin Xi (diperankan Victoria Song) dan Xiao Yicheng (diperankan Chen Xingxu) bukan mantan kekasih biasa. Delapan tahun lalu, mereka berpisah bukan karena tidak cinta lagi, bukan karena ada orang ketiga, tapi karena pilihan hidup.

Lin Xi memutuskan hubungan mereka demi memenuhi harapan ibunya dan mimpinya sendiri, menjadi interpreter profesional kelas dunia, bahkan menargetkan bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan itu terdengar dingin, kejam, bahkan egois, dan drama ini tidak berusaha membungkusnya jadi sesuatu yang romantis.

Delapan tahun kemudian, Lin Xi telah menjadi chief interpreter termuda di Huasheng, perusahaan penerjemahan dan interpretasi ternama. Sementara Xiao Yicheng menjelma menjadi CTO perusahaan teknologi komunikasi, dengan visi besar mengembangkan AI interpreter yang suatu hari bisa menyaingi, bahkan menggantikan manusia, termasuk profesi interpreter itu sendiri.

Dan tentu saja, takdir mempertemukan mereka lagi. Kali ini bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai mitra bisnis potensial.

Lin Xi (Victoria Song) dan Xiao Yicheng (Chen Xingxu) bertemu lagi setelah 8 tahun
Lin Xi (Victoria Song) dan Xiao Yicheng (Chen Xingxu) bertemu lagi setelah 8 tahun

Second Chance Romance Chen Xingxi dan Victoria Song

Second chance romance itu agak tricky. Penonton harus percaya mereka dulu dua karakter utama benar-benar saling cinta. Next, penonton harus bisa menerima dan memahami alasan perpisahan mereka, kemudian barulah penonton merasa pantas ketika mereka kembali bersama. Menurutku, “Our Interpreter” berhasil di ketiganya, meski tidak selalu mulus.

Xiao Yicheng awalnya jelas masih menyimpan luka. Ia sinis, dingin, dan tampak ingin “membalas” Lin Xi lewat profesionalisme ekstrem. Tapi drama ini cukup cerdas karena ia tidak membuat Yicheng menjadi karakter yang terlalu kejam. Alasannya sebab sejak awal kita tahu, lelaki ini tidak pernah benar-benar bisa move on dari mantan kekasihnya itu.

Adegan kecil seperti Yicheng yang masih mengeluarkan bumbu sup sesuai selera Lin Xi di makan malam pertama mereka bertemu kembali adalah detail emosional yang sangat efektif. Tanpa dialog berlebihan, kita tahu bahwa perasaan itu tidak pernah pergi.

Lin Xi sendiri bukan female-lead yang mudah disukai. Dia kaku, perfeksionis, penuh kontrol, dan sering terlihat tidak empatik. Tapi justru itu yang membuat kita sebagai penonton penasaran pengen menggali karakternya lebih dalam.

Barulah kita menemukan bahwa ternyata dia adalah perempuan dengan anxiety, inferiority complex, dan beban keluarga yang sangat berat, terutama bayang-bayang sang kakek, legenda di dunia interpretasi.

Dunia Interpretasi sebagai Jantung Cerita

Drama China “Our Interpreter” naik kelas karena mengangkat tema dunia interpretasi, atau dalam keseharian kita akrab sebagai penerjemah bahasa. Padahal, pekerjaan seorang interpreter jauh lebih rumit loh.

Penerjemah bahasa bekerja dengan teks. Mereka punya waktu untuk berpikir, membuka kamus, dan menyunting ulang bahasa. Kalau interpreter, dia tidak punya kemewahan itu. Mereka harus menerjemahkan secara langsung, nyaris tanpa jeda, sambil membaca emosi, konteks budaya, dan maksud tersembunyi pembicara.

Salah satu kata saja bisa mengubah makna, bahkan arah pembicaraan. Di situlah letak tekanannya. Interpreter bukan sekadar memindahkan bahasa, misalnya dari tadinya berbahasa China ke bahasa Inggris, tapi menjembatani manusia dengan manusia lain secara real time.

Kita melihat bagaimana Lin Xi mempersiapkan diri sebelum bertugas. Dia disiplin latihan, tepat memilih diksi, memahami konteks budaya, bahkan beberapa kali menghadapi tekanan mental saat menerjemahkan di situasi genting.

Drama ini juga berani mengangkat perdebatan besar zaman modern, apakah mesin bisa menggantikan manusia?

Yicheng percaya AI interpreter adalah masa depan. Lin Xi percaya manusia, dengan empati, intuisi, dan konteks budaya, tidak akan bisa tergantikan.

Konflik ini bukan sekadar teknis. Ini ideologis. Inilah yang membuat hubungan Lin Xi dan Yicheng menarik. Mereka tidak hanya berbeda sebagai pasangan, tapi juga sebagai pemikir.

Chen Xingxu sebagai Xiao Yicheng

Aku harus jujur, Chen Xingxu adalah alasan utama drama ini tetap sangat watchable, bahkan di bagian-bagian yang lemah.

Yicheng adalah karakter yang bisa dengan mudah jatuh jadi klise. Dia tech genius, arogan, dingin. Tapi Chen Xingxu memberinya lapisan emosional.

Chen XIngxu sebagai Xiao Yicheng dalam "Our Interpreter"
Chen XIngxu sebagai Xiao Yicheng dalam “Our Interpreter”

Tatapan matanya selalu “bercerita” terutama saat menatap Lin Xi. Ada kelembutan, ada luka, sekaligus ada cinta yang ditahan. Ingat scene saat Yicheng menarik Lin Xi dan menciumnya di samping mobil, kemudian dia jujur bilang meski sudah delapan tahun tetap saja masih gugup bersikap romantis pada mantan kekasihnya itu? Melting abisss…

Ini dia scene-nya, salah satu yang paling romantis di "Our Interpreter"
Ini dia scene-nya, salah satu yang paling romantis di “Our Interpreter”

Banyak adegan yang seharusnya terasa cringey diselamatkan oleh akting Chen Xingxu. Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan cukup dengan ekspresi kecil saja.

Victoria Song sebagai Lin Xi

Akting Victoria Song mungkin akan memecah penonton. Ada yang merasa ia terlalu dingin, terlalu kaku, terlalu “sama” dengan peran-perannya yang lain.

Tapi kalau kita lihat lebih dalam, Lin Xi memang ditulis sebagai perempuan yang sulit dicintai di awal. Ia tidak pandai mengekspresikan emosi. Ia sering menyakiti orang tanpa sadar. Tapi ia bukan orang jahat.

Lin Xi berkorban berkali-kali untuk keluarganya, untuk pekerjaannya, bahkan untuk Yicheng, meski caranya salah.

Perkembangan Lin Xi setelah episode 19 terasa signifikan. Ia mulai belajar berdiri untuk dirinya sendiri, menghadapi ibunya, dan memahami bahwa ambisi tidak harus selalu berarti mengorbankan kebahagiaan.

Victoria Song sebagai Lin Xi dalam "Our Interpreter"
Victoria Song sebagai Lin Xi dalam “Our Interpreter”

Plus Minus Cerita “Our Interpreter”

Salah satu aspek paling realistis dari “Our Interpreter” adalah konflik kepentingan profesional. Huasheng membantu perusahaan Yicheng melakukan IPO, padahal produk mereka bertujuan menyaingi Huasheng sendiri.

Ini agak absurd, tapi juga menarik. Lin Xi sendiri sadar betul dilema ini dan meminta dirinya dikeluarkan dari loop proyek tertentu.

Drama ini berani menunjukkan bahwa loyalitas korporat tidak selalu adil dan perempuan profesional sering harus membuktikan diri dua kali lipat. HR nightmare itu nyata, gaes.

Tidak semua subplot dalam drama China ini bekerja dengan baik. Second dan third couple terasa seperti pengisi durasi.

Beberapa konflik sebetulnya bisa diselesaikan dalam lima menit saja, tapi faktanya dipanjangkan sampai ber-episode-episode. Makanya, menurutku, “Our Interpreter” ini terlalu panjang untuk format 36 episode.

Ending-nya juga terasa setengah hati. Pernikahan Lin Xi dan Yicheng tidak diperlihatkan. Ada karakter penting yang absen dengan alasan lemah. Ini jelas keputusan produksi, bukan cerita.

Next, ada propaganda juga. Ya, ada glorifikasi “berkontribusi untuk negara” diselipkan dalam serial ini. Tapi ya… ini khas drama China modern. Selama tidak mendominasi cerita utama, aku pribadi masih bisa menerima, apalagi karena konteksnya dunia interpretasi internasional.

Review “Our Interpreter”

Drama China “Our Interpreter” bukan drama sempurna. Ia terlalu slow, kadang bertele-tele di beberapa episode, dan punya keputusan naratif yang bisa diperdebatkan.

Akan tetapi, serial ini jujur karena berani membahas isu-isu sensitif, seperti ambisi perempuan, harga sebuah mimpi, cinta yang harus menunggu, serta yang terpenting membahas perang manusia dengan mesin.

Setelah menonton “Our Interpreter,” ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepala kita. Sebenarnya, apa sih yang paling sulit diterjemahkan dalam hidup? Kata-kata? Kalimat? Atau justru… perasaan yang tidak pernah selesai?

Karena kalau kita tarik benang merahnya, drama ini bukan sekadar tentang Lin Xi yang jago interpretasi dan Xiao Yicheng yang jenius teknologi. Drama ini berkisah tentang dua orang yang sama-sama keras kepala, sama-sama ambisius, sama-sama punya “misi hidup” dan di tengah semua itu, mereka mencoba menawar satu hal yang paling tricky, second chance dalam kehidupan asmara mereka.

Second chance itu tidak semanis yang kita bayangkan di novel-novel romance ya. Di dunia nyata, kesempatan kedua sering datang dengan syarat berat, yaitu kita harus siap melihat masa lalu mantan pasangan kita tanpa filter. Kita siap mengakui bahwa dulu kita pernah salah, atau setidaknya… pernah memilih sesuatu yang menyakiti orang lain.

Dan yang lebih berat sih menurutku… second chance di dunia nyata artinya kita harus menerima kenyataan bahwa orang yang kita tinggalkan dulu mungkin sudah berubah, atau luka yang kita tinggalin dulu masih menempel di tubuhnya.

Lin Xi adalah contoh paling nyata. Banyak penonton yang geregetan sama dia, bahkan marah. “Kenapa sih dulu kamu ninggalin Yicheng?” “Kenapa sekarang jadi sedingin itu?”

Tapi kalau kita benar-benar mengamatinya, Lin Xi bukan perempuan yang tidak punya hati. Ia perempuan yang terlalu lama hidup dalam mode bertahan.

Ia dibentuk oleh ekspektasi keluarga, bayang-bayang pencapaian orang lain, dan rasa takut yang sangat manusiawi. Lin Xi itu takut gagal, takut mengecewakan, takut hidupnya tidak berguna.

Kadang, orang seperti Lin Xi tidak tahu cara mencintai dengan hangat karena dia tidak pernah belajar caranya. Dia belajar sukses. Dia belajar disiplin. Dia belajar menjadi “berguna” tapi dia tidak diajarkan cara mengelola luka. Makanya wajar kalau second chance baginya terasa lebih menakutkan ketimbang kehilangan.

Di sisi lain, Xiao Yicheng adalah tipe lelaki yang kalau di drama lain mungkin dijadikan “pendendam.” Tapi drama ini memilih membuatnya lebih realistis. Dia marah, iya. Dia dingin, iya. Tapi dia tidak sanggup benar-benar kejam sama Lin Xi.

Karena ada jenis cinta yang tidak bisa berubah jadi kebencian sepenuhnya. Bahkan saat terluka, yang tersisa tetap rasa sayang, meskipun bentuknya kaku, canggung, dan kadang menyebalkan.

Dan buatku, di situlah second chance dalam drama ini terasa masuk akal. Mereka nggak “balikan” karena takdir, tapi karena mereka akhirnya punya versi diri yang lebih dewasa untuk memahami alasan perpisahan mereka di masa lalu.

Interpretasi itu bukan sekadar menerjemahkan kata. Interpreter menerjemahkan makna. Mereka harus memahami konteks, nada bicara, kultur, situasi emosional, bahkan jeda yang tidak diisi kata-kata. Dan sering kali, kesalahan terbesar bukan salah menerjemahkan kata… tapi salah membaca niat.

Persis seperti hubungan Lin Xi dan Yicheng. Delapan tahun lalu, Lin Xi meninggalkan Yicheng dengan maksud “aku melakukan ini demi masa depan.” Akan tetapi, yang diterima Yicheng adalah “kamu memilih kariermu, dan membuang aku.”

Ketika niat di hati dan makna di ucapan tidak bertemu, bahasa mereka menjadi tidak sinkron. Makanya ketika mereka bertemu lagi, interaksi Lin Xi dan Yicheng ini mengingatkan kita bahwa kadang yang perlu diperbaiki bukan hubungan, tapi penerjemahan kita terhadap masa lalu.

Dan ini menarik karena relevan banget dengan hidup kita. Berapa banyak dari kita yang kehilangan seseorang bukan karena tidak cinta, tapi karena salah paham yang dibiarkan terlalu lama? Berapa banyak keputusan besar yang akhirnya terasa “kejam” hanya karena tidak sempat dijelaskan dengan utuh?

Bahkan dalam keluarga pun, sering terjadi. Orang tua merasa “aku melakukan ini demi anak,” sementara anak merasa “orang tua tidak pernah mengerti aku.”

Di situlah bahasa, dalam arti paling luas, jadi pusat cerita ini. Bahasa bukan cuma kata-kata di mulut. Bahasa itu cara kita hadir, cara kita meminta maaf, cara kita menjelaskan, cara kita mendengar.

Human interpreter (Lin Xi) vs Ai interpreter (Xiao Yicheng)
Human interpreter (Lin Xi) vs Ai interpreter (Xiao Yicheng)

Konflik “AI interpreter vs human interpreter” sebenarnya adalah metafora yang cantik. Mesin mungkin bisa menerjemahkan teks dengan cepat. Tapi apakah mesin bisa menangkap rasa malu yang disembunyikan di balik tawa? Apakah mesin bisa membaca kalimat yang tidak jadi diucapkan? Apakah mesin bisa memahami bahwa seseorang bilang “aku baik-baik saja” padahal matanya habis nangis?

Drama “Our Interpreter” ini jelas berpihak pada manusia. Bukan karena anti-teknologi, tapi karena manusia punya sesuatu yang tidak bisa diprogram. Namanya adalah EMPATI.

Lalu, soal pilihan hidup. Ini bagian yang diam-diam paling nyangkut buatku. Lin Xi memilih karier. Yicheng memilih membangun perusahaan. Mereka sama-sama punya ambisi, dan ambisi itu valid.

Tapi drama ini juga mengingatkan bahwa pilihan hidup tidak pernah benar-benar hitam-putih. Kadang kita memilih A, dan kehilangan B. Kadang kita memilih B, dan dihantui A. Dan kita sering baru mengerti harga sebuah pilihan setelah waktunya lewat.

Kalau kamu tanya aku, apakah drama ini sempurna? Nggak. Tapi dia punya sesuatu yang bisa membuat kita pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang terasa personal. Dan untukku, itu tanda drama yang layak diapresiasi.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment