Review Love Between Lines
Review Love Between Lines

Konsep dua dunia, virtual reality (VR) dan dunia nyata, seperti yang diangkat dalam “Love Between Lines” sebenarnya cukup jarang diangkat bersamaan dalam drama China modern. Kalaupun ada elemen VR, biasanya fokusnya jatuh pada kompetisi tim atau dunia e-sport. Karena itu, konsep seperti ini sering terdengar berisiko yang menarik di awal, tapi mudah sekali jatuh menjadi gimmick jika tidak digarap dengan matang.

“Love Between Lines” memilih jalan yang lebih smooth. Di drama china ini, dunia VR dan dunia nyata tidak berdiri terpisah, melainkan saling memantulkan satu sama lain.

Di dunia VR, orang-orang berani menjadi versi dirinya yang lain lantaran tidak harus menanggung konsekuensi nyata. Identitas yang digunakan memang palsu, tetapi emosi yang muncul justru terasa paling jujur. Sementara di dunia nyata, setiap karakter berjalan dengan beban masing-masing, entah itu membawa nama keluarga, masa lalu yang kelam, luka yang belum sembuh, dan ketakutan untuk gagal sekali lagi.

Kurang lebih sama seperti cara kita bermedia sosial. Saat menggunakan akun dengan nama dan foto asli, kita cenderung lebih berhati-hati. Setiap kata dipikirkan, setiap ketikan dijaga. Tapi ketika berlindung di balik akun anonim atau fake account, kita sering kali lebih berani berkata jujur, entah itu tentang luka, kemarahan, atau perasaan yang tak pernah kita akui di dunia nyata.

Nah, di dunia VR dalam serial “Love Between Lines” ini, batas antara ilusi dan kenyataan pelan-pelan memudar. Yang semula hanya permainan berubah menjadi ruang aman untuk mengenal orang lain tanpa prasangka. Topeng yang dikenakan di dunia virtual justru membuka jalan menuju kejujuran yang sulit diucapkan di kehidupan nyata.

Di titik itulah “Love Between Lines” menemukan kekuatannya. Drama china ini mengisahkan dua orang yang belajar memahami diri sendiri, sebelum akhirnya berani mendekat dan mempercayai perasaan cinta antara mereka.

Dari sinilah kisah Xiao Zhiyu/ Qin Xiaoyi dan Hu Xiu dimulai.

Sinopsis Love Between Lines

Xiao Zhiyu (diperankan Chen Xingxu) dan Hu Xiu (diperankan Lu Yuxiao) pertama kali bertemu di Rong City, sebuah arena virtual reality (VR) murder mystery game. Setting-nya Republik China era lama, lengkap dengan identitas palsu, karakter fiktif, dan plot penuh intrik. Mereka berakting sebagai orang lain, memainkan peran yang tidak mereka hidupi di dunia nyata.

Menariknya, di tempat yang sepenuhnya palsu itu, dua karakter utama ini malah jadi saling kepo dan penasaran satu sama lain. Aku mau bilang, penulis naskah drama ini sangat cerdas bikin konsep. Sejak awal, “Love Between Lines” punya premis kira-kira begini, “manusia sering kali paling jujur ketika bersembunyi di balik sebuah topeng.”

Di dunia VR, Xiao Zhiyu tampil sebagai sosok panglima perang yang licik, dingin, selalu menang. Namanya Qin Xiaoyi. Tidak ada satu pun pemain yang pernah mengalahkannya. Dia adalah legenda di arena itu, pemain Grup A. Sementara Hu Xiu masuk ke dunia game itu pertama kali sebagai karakter Sun Jiaying.

Di dunia nyata, Hu Xiu sebenarnya dalam kondisi mental yang rapuh. Dia baru saja gagal menikah, kehilangan arah hidup, dan resign dari pekerjaan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Jadi, bisa dibilang Hu Xiu ini menjadikan arena VR sebagai tempat bersembunyi sementara dari rasa gagal.

Panglima Qin Xiaoyi (Xiao Zhiyu) dan Sun Jiaying (Hu Xiu) dalam dunia VR game
Panglima Qin Xiaoyi (Xiao Zhiyu) dan Sun Jiaying (Hu Xiu) dalam dunia VR game

“Kapan aku pernah benar-benar menang? Masa dalam permainan pun, aku tidak boleh menang sekali saja?”

Begitulah kira-kira tekad Hu Xiu. Setelah gagal mengalahkan Qin Xiaoyi dalam permainan pertama, Hu Xiu terus mencoba di permainan kedua, ketiga, dan seterusnya, hingga ia dikenal luas sebagai sosok terberat yang potensial mengalahkan Panglima Qin.

Identitas Ganda Xiao Zhiyu/ Qin Xiaoyi

Xiao Zhiyu (di dunia nyata) atau Qin Xiaoyi (di dunia VR game) adalah karakter laki-laki dengan luka masa lalu yang kompleks.

Di dunia nyata, Xiao Zhiyu adalah putra Qin Yuze, seorang arsitek ternama yang mendirikan firma design & build bernama Zhuling. Firma ini bukan sekadar perusahaan desain, melainkan juga bertanggung jawab penuh dari konsep sampai bangunan berdiri.

Sayangnya, sebuah insiden besar menghancurkan segalanya. Qin Yuze meninggal dalam kecelakaan konstruksi proyek pembangunan Stadion Kota yang dikerjakannya. Ia dicap sebagai dalang runtuhnya gedung tersebut yang menyebabkan banyak korban jiwa yang meninggal hingga cacat fisik.

Meski Qin Yuze sudah meninggal, kemarahan publik tidak ikut mati. Istri dan anaknya ikut menjadi sasaran. Disumpahi. Dibenci. Dipandang sebagai pewaris dosa.

Sang istri, Xiao Wanyu, memutuskan menikah lagi dengan Pei Kanghua yang tak lain adalah sahabat, salah satu orang kepercayaan suaminya semasa hidup.

Keputusan Xiao Wanyu untuk menikah lagi dengan Pei Kanghua bukan keputusan romantis. Alasannya demi bertahan hidup. Ia tahu, sebagai perempuan dengan anak kecil, ia tidak punya kapasitas menjalankan perusahaan sebesar Zhuling.

Pernikahan ini membawa konsekuensi lain. Qin Xiaoyi mengubah namanya menjadi Xiao Zhiyu, mengikuti marga ibunya. Ia ingin memutus hubungan dengan masa lalu. Menghapus identitas yang terlalu menyakitkan.

Pertanyaannya, apakah kita bisa benar-benar lari dari nama, darah, dan sejarah keluarga?

Pei Zhen dan Politik Keluarga

Saat menikahi Xiao Wanyu, Pei Kanghua berstatus duda. Dia juga membawa serta seorang anak laki-laki dari pernikahan sebelumnya, bernama Pei Zhen. Secara struktur keluarga, Pei Zhen adalah kakak Xiao Zhiyu, tapi mereka tidak ada hubungan darah.

Dan fakta lebih penting, hubungan mereka tidak pernah benar-benar hangat sejak kecil.

Da Xu sebagai Pei Zhen dalam "Love Between Lines"
Da Xu sebagai Pei Zhen dalam “Love Between Lines”

Pei Zhen tumbuh sebagai pewaris Zhuling. Dia CEO yang sangat rasional dan ambisius. Dia punya beban besar untuk menjaga nama perusahaan. Sementara Xiao Zhiyu tumbuh sebagai bayangan, anak yang “selamat” tapi memilih menjauh.

Ketegangan mereka bukan sekadar sibling rivalry. Ini adalah konflik antara dua cara memandang dunia, di mana Pei Zhen memilih stabilitas dan kelanjutan sistem, sementara Xiao Zhiyu memilih idealisme dan pembuktian diri dengan mendirikan perusahaan baru bernama Dynamism.

Dan di dunia nyata, konflik dua kakak adik itu juga melebar sampai ke perusahaan mereka, Zhuling vs Dynamism.

Review Love Between Lines

Hal yang membuat “Love Between Lines” terasa beda dari drama romansa biasa adalah mengangkat dunia arsitektur. Bukan sekadar latar profesi, tapi bahasa emosional karakter.

Xiao Zhiyu kuliah arsitektur di Amerika Serikat meski tak direstui ibunya. Ia keluar rumah, menjauh dari ibu dan saudara tirinya. Ia tetap memilih profesi yang membuat ibunya trauma lantaran serupa dengan mendiang suaminya.

Sebetulnya, Xiao Zhiyu bukannya keras kepala. Dia hanya percaya bahwa ayahnya tidak sejahat itu. Dia ingin mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi di masa lalu, dan apa penyebab sesungguhnya insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sang ayah. Jadi, Xiao Zhiyu ingin menyelesaikan cerita ayahnya dengan caranya sendiri.

Itulah alasan Xiao Zhiyu mendirikan Dynamism, firma arsitektur yang berani, progresif, dan eksperimental.

Hu Xiu pun sama. Ia adalah arsitek berbakat, bahkan mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri. Tapi ia memilih tinggal demi ayahnya yang sakit. Ia mengorbankan mimpinya, bekerja di posisi administratif, lalu di puncak karier justru memilih mundur.

Hu Xiu adalah contoh perempuan yang berani berhenti demi kembali ke diri sendiri.

Dan ketika dua arsitek dengan luka dan idealisme masing-masing bertemu… chemistry profesional mereka terasa sangat masuk akal.

Zhiyu dan Hu Xiu, dua arsitek jenius di Dynamism
Zhiyu dan Hu Xiu, dua arsitek jenius di Dynamism

Office Romance yang Dewasa

Suatu hari, Xiao Zhiyu ingin mendalami konsep hotel untuk kompetisi desain jaringan hotel ternama, Lymann. Proyek ini bukan main-main. Jika menang, Dynamism akan mendapatkan kontrak besar, eksposur luas, dan yang terpenting, mengalahkan Zhuling.

Demi memahami konteks sosial desainnya, Zhiyu memilih tinggal selama tiga bulan di kawasan padat penduduk. Dan rumah yang ia sewa… adalah rumah Hu Xiu.

Di titik ini, penonton mungkin tersenyum kecil. Bukan karena plot twist-nya mengejutkan ya, tapi ya karena terasa pas aja. Singkat cerita, Zhiyu dan Hu Xiu akhirnya bertemu kembali di dunia nyata, kali in tanpa topeng VR mereka.

Tak lama kemudian, Hu Xiu diterima bekerja di Dynamism. Dan di sinilah “Love Between Lines” benar-benar bersinar. Masih on going nih.

CEO Dynamism, Xiao Zhiyu
CEO Dynamism, Xiao Zhiyu

Office romance dua karakter ini benar-benar penuh hubungan profesional antara dua orang dewasa yang saling menghormati kapasitas masing-masing. Zhiyu dan Hu Xiu saling berdiskusi, berdebat, berkompromi, dan bertumbuh bersama.

Proses mereka merancang hotel antimainstream terasa hidup. Penonton bisa merasakan bagaimana ide keduanya berkembang, bagaimana satu konsep ditantang, dan bagaimana kepercayaan tumbuh di dalam sebuah kompetensi.

Satu momen penting yang bikin jumlah penonton “Love Between Lines” membludak, aku rasa, adalah pesta pernikahan mantan tunangan Hu Xiu yang tak lain adalah putri dari klien Dynamism.

Di sana, Hu Xiu melihat mantan tunangannya menikah dengan perempuan lain. Luka lama terbuka lagi. Rasa gagal kembali menghantam.

Dan di momen itu, Xiao Zhiyu hadir untuknya. Xiao Zhiyu mendengarkan Hu Xiu, bahkan membela, dan membantu “sedikit” membalaskan dendam untuk Hu Xiu.

Drama ini sangat paham bahwa cinta dewasa tidak selalu dimulai dari percikan besar, tapi dari kehadiran yang konsisten.

Salah satu office romance terbaik pembuka 2026
Salah satu office romance terbaik pembuka 2026

Akting Chen Xingxu dan Lu Yuxio

Chen Xingxu sebagai Xiao Zhiyu tampil sangat terkendali. Karakternya overachiever, pendiam, penuh rahasia. Emosinya di serial ini tidak pernah meledak-ledak. Pokoknya bikin kita penontonnya adem lihat dia.

Cerdas, satu kata buat akting Chen Xingxu di sini. Dia cuma pakai tatapan nnata, jeda bicara, dan pilihan kata. Udah deh, kita langsung klepek-klepek lihat dia.

Kalau Lu Yuxiao… jujur saja, ini adalah fase kariernya yang membanggakan. Dari spesialis second-lead female, kini ia tampil sebagai female lead yang utuh. Hu Xiu yang ia mainkan punya lapisan emosi, rapuh tapi tidak lemah, hangat tapi tidak naif. Chemistry mereka terasa natural.

"Love Between Lines" adalah puncak karier Chen Xingxu dan Lu Yuxiao versi aku
“Love Between Lines” adalah puncak karier Chen Xingxu dan Lu Yuxiao versi aku

Aku sebenarnya sudah mengenal Chen Xingxu sejak dia membintangi “Goodbye, My Princess” (2019). Drama china yang menurutku cukup ikonik, traumatis, dan meninggalkan jejak kuat di hati penonton. Tapi anehnya, waktu itu aku belum benar-benar “klik” sama dia.

Mungkin karena jujur saja, menurutku, Chen Xingxu kurang cocok di costume drama. Wajahnya terlalu Western-coded. Auranya lebih Eropa ketimbang Tiongkok klasik. Rasanya mirip seperti Dilraba Dilmurat yang cantik, karismatik, tapi tidak sepenuhnya menyatu dengan busana klasik Tiongkok.

Tapi justru karena itu, aku baru benar-benar melirik Chen Xingxu ketika dia main di drama modern “Our Interpreter” (2024), beradu akting dengan Victoria f(x). Di situ aku merasa, oh, this is his terrain. Sebagai pria modern yang tenang, rasional, emosional tapi tertahan. Akting Chen Xingxu di sana terasa pas banget dan natural. Dan di “Love Between Lines,” menurutku, ini adalah “peak” karier dia.

Sementara Lu Yuxiao… rasanya seperti menyaksikan proses seorang aktris menemukan rumahnya sendiri. Aku sudah mengikutinya sejak “The Longest Promise” (2023), saat ia masih berada di posisi support role. Lalu perlahan naik jadi spesialis second-lead female. Dan sekarang? Dia sudah mantap sebagai female lead.

Aktingnya konsisten paripurna. Tapi puncaknya bagiku memang di “My Journey to You” lalu berlanjut di “Love in the Clouds” bersama Hou Minghao. Di “Love Between Lines,” Lu Yuxiao tampil sangat apik.

Melihat Chen Xingxu dan Lu Yuxiao di drama ini seperti melihat dua aktor yang akhirnya bertemu di waktu yang tepat, peran yang tepat, dan versi terbaik diri mereka masing-masing. Chen Xingxu dan Lu Yuxiao benar-benar sedang berada di titik terbaik karier mereka. Dan sebagai penonton, rasanya aku merasa beruntung.

Review lengkap dariku akan menyusul setelah episode terakhir, episode 28, tayang. Masih ada banyak karakter yang belum sempat kubahas, terutama Pei Zhen, yang menurutku sama sekali tidak bisa diposisikan sebagai antagonis dalam cerita ini.

Aku juga punya dugaan pribadi. Ada benang merah antara kondisi kaki ayah Hu Xiu yang cacat dengan insiden kecelakaan kerja di masa lalu, yaitu insiden yang selama ini diduga disebabkan oleh kelalaian mendiang ayah Zhiyu.

Entah dugaanku benar atau tidak, kita tunggu saja bagaimana cerita ini akan membuka semua lapisannya. Just wait and see.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment