Review Affinity
Review Affinity

Aku tuh terpapar “Affinity” (2026) awalnya nggak sengaja. Semula gara-gara mau nggak mau aku harus download aplikasi Youku demi bisa nonton “Blood River”-nya Gong Jun, yang dari tahun lalu udah masuk daftar “wajib tonton” di kepalaku.

“Blood River” kelar, aku masih scroll-scroll. Eh, tiba-tiba “Affinity” nongol di trending nomor 1. Langsung refleks mikir, “Ini apaan lagi?” Aku cek cast-nya. Male lead-nya Cui Yuxin, female lead-nya Fang Jin. Jujur aja, dua-duanya bukan nama yang aku ikuti selama ini. Hahaha.

Terus… oh. Short drama ternyata. Pantesan. Durasi per episodenya cuma sekitar 18–20 menit. Oke, ini masuk kategori “masih aman buat dicoba” untuk penonton perdana.

Sebelum benar-benar nonton, aku kepo dulu dong. Nyari spoiler di Threads. Dan dari situ baru ngeh, di kalangan pecinta short drama, Fang Jin tuh udah populer banget. Katanya, kalau Fang Jin yang main, dramanya pasti laris manis. Debutnya 2017, udah lama juga ya, berarti kayak seangkatan Wang Churan atau Zhang Ruonan di long-drama kali ya. Ohhh… pantes rame.

Aku juga sempat ngecek male lead-nya. Ternyata Cui Yuxin pernah muncul sebagai supporting role di “Lighter & Princess,” salah satu drama China populer juga. Yaudah, dengan rasa penasaran setengah niat setengah iseng, aku bakal coba nonton. 

Lanjuttt… terus aku baca premis dan sinopsisnya.

Dan…

WOW.

Gelooooo.

Langsung kebayang ini drama bakal penuh adegan-adegan 17+, dan bukan tipe yang malu-malu. Aku ketawa sendiri. Ini nih jenis short drama yang nggak bisa ditonton sambil duduk di ruang tamu, apalagi sambil momong anak. Wkwkwkwk.

Akhirnya aku nonton juga. Dengan ekspektasi yang nggak tinggi-tinggi amat, karena aku nggak punya attachment sama pemainnya. Aku fokus ke ceritanya dulu. Dan ternyata… cukup mind-blowing.

Kalau mau dibilang, “Affinity” ini kayak romansa yang dikasih sentuhan science fiction, tapi vibe-nya tuh bikin aku keinget sama serial Netflix “You” (2018). Ya nggak plek-ketiplek sama “You” juga sih, tapi ada aura obsesif, posesif, dan nggak sehatnya di situ.

Gimana ya jelasinnya…

Pokoknya gini… kamu tonton dulu, baru kamu paham maksudku.

“Affinity” ini rasanya kayak campuran Alpha x Omega, sci-fi, psikologis, dan dark romance. Genre-nya tuh campur aduk, tapi bisa bikin nagih. Romance-nya jelas bukan yang manis-manis aman buat semua umur. Ini tipe romance antara cinta dan obsesi.

Di jagat C-dramaland, sejujurnya aku jarang banget nemu drama model begini, apalagi versi long drama. Entah memang ini baru, atau aku aja yang kurang jauh mainnya. Hehehe. CMIIW ya.

Karena serialnya sendiri baru jalan separuh dari total 40 episode, so… ulasanku kali ini mungkin belum bisa ceritain ending-nya ya.

Drama China "Affinity" (2026)
Drama China “Affinity” (2026)

Sinopsis Affinity

Cerita “Affinity” dibuka dengan framing yang cukup menarik dan agak “beda” untuk ukuran short drama China pada umumnya. Tahun 2051, sebuah robot eksplorasi antariksa menemukan artefak misterius yang menyimpan rekaman sejarah sebuah planet mirip Bumi, bernama Planet Y (Star Y).

Planet ini terlihat seperti versi alternatif Bumi, tapi dengan satu perbedaan besar. Manusia di Planet Y ini hidup berdampingan dengan virus biologis yang sudah menjadi bagian dari evolusi mereka.

Vorus ini menentukan status sosial, peran biologis, bahkan kemungkinan hidup seseorang. Jadi, virus ini bukan kayak penyakit biasa ya, yang kalau kita kasih obat, bisa sembuh. BUKAN.

Virus di Planet Y dibagi menjadi dua, Tipe A dan Tipe B. Dua tipe virus ini saling terhubung satu sama lain, tidak bisa hidup seimbang sendirian seperti kita, manusia di Bumi.

Sistem Virus dengan Ikatan Hidup

Di Planet Y, manusia tidak bisa bertahan hidup hanya dengan kekuatan individual. Mereka harus menemukan pasangan biologis yang cocok berdasarkan virus dalam tubuh mereka.

Ikatan ini mutlak sebgaai ikatan biologis dan genetis, bukan cuma ikatan emosional doang seperti kita jatuh cinta, bikin jantung deg-degan. BUKAN ya.

Secara garis besar, virus Tipe A berfungsi sebagai penyembuh dan pemandu. Virus Tipe B berfungsi sebagai penjaga dan penyerang.  Ini tanpa memandang jenis kelamin. Bukan perarti virus Tipe A itu perempuan dan Tipe B itu laki-laki. 

Keduanya saling mengisi. Tanpa ikatan, tubuh perlahan akan rusak, emosi menjadi tidak stabil, dan akhirnya… mati.

Ikatan ini disebut sebagai “perjanjian hidup.” Dalam konteks biologis Planet Y, ikatan ini harus disempurnakan melalui kedekatan fisik. Di sinilah “Affinity” sering disalahpahami sebagai drama “jualan adegan dewasa,” padahal sebenarnya ini adalah mekanisme dunia ceritanya.

Manusia-manusia di Planet Y harus melakukan perjanjian dan ikatan hidup ini dengan pasangannya maksimal 25 tahun. Jika lebih dari itu, si pemilik tubuh perlahan bisa mati. So, mereka harus menikah.

Fang Jin sebagai Wo Nongyu

Wo Nongyu adalah karakter perempuan utama. Ia adalah mahasiswi pascasarjana rekayasa genetika, cerdas, lembut, dan punya empati tinggi.

Hal yang membuatnya istimewa adalah kekuatan penyembuh dalam tubuhnya berfungsi maksimal hingga 100 persen. Nah, di Planet Y, seseorang bisa memiliki kekuatan penyembuhan 100 persen itu nyaris mitos.

Artinya apa? Tubuh Nongyu bisa menstabilkan virus orang lain. Emosinya bisa menenangkan pasangan ikatannya. Secara biologis, dia adalah anchor sempurna. Intinya, siapa pun yang bisa melakukan ikatan dengan  Nongyu, bakal jadi orang paling beruntung sedunia. Berikut profil Wo Nongyu:

Fang Jin sebagai Wo Nongyu
Fang Jin sebagai Wo Nongyu
  • Virus: Tipe A
  • Status: Penyembuh & Pemandu
  • Kekuatan penyembuh: 100 (maksimal)
  • Tubuh spiritual: Kelinci

Karena itulah sejak kecil, hidup Nongyu tidak pernah benar-benar bebas. Dia adalah aset biologis, bukan manusia biasa.

Profil lengkap Wo Noyung
Profil lengkap Wo Noyung

Cui Yuxin sebagai Xie Xinxu

Masuk ke karakter paling problematik sekaligus paling magnetis di “Affinity.” Dia adalah Xie Xinxu. Berikut profilnya:

  • Virus: Tipe B
  • Status: Penjaga & Penyerang
  • Kekuatan penyembuh: 0
  • Tubuh spiritual: Naga
  • Kepribadian: antisosial, defisit emosi
Cui Yuxin sebagai Xie Xinxu
Cui Yuxin sebagai Xie Xinxu

Xinxu adalah produk sempurna dari dunia yang terlalu lama mengagungkan rasionalitas. Ia sangat cerdas, sangat dingin, minim empati, memandang relasi sebagai fungsi, bukan berdasarkan perasaan.

Nah, masalahnya, sebagai pemilik virus Tipe B tanpa kemampuan penyembuhan, hidup Xinxu berada di ujung tanduk. Tubuhnya perlahan rusak. Emosinya makin tumpul. Dan waktunya hampir habis.

Satu-satunya cara bertahan hidup adalah mengikatkan diri pada penyembuh Tipe A dengan kompatibilitas maksimal. Dan satu-satunya kandidat itu adalah… Wo Nongyu.

Profil lengkap Xie Xixun
Profil lengkap Xie Xixun

Wang Yijun sebagai Wu Siyuan

Wu Siyuan adalah kakak laki-laki Nongyu. Dia adalah Kepala Biro Pertahanan Nasional Planet Y.

Ia protektif, rasional, dan sangat sadar bahwa adiknya adalah target empuk dalam sistem dunia mereka. Siyuan paham betul bahwa Nongyu akan diincar, bukan dicintai tulus oleh pasangannya. Oleh sebab itu, Siyuan sejak awal sudah menyiapkan Tipe B yang kelak akan menjadi pasangan Nongyu.

Wang Yijun sebagai Wu Siyuan
Wang Yijun sebagai Wu Siyuan

Berikut profil Siyuan:

  • Virus: Tipe A
  • Status: Komandan & Pemandu
  • Kekuatan penyembuh: 60
Profil lengkap Siyuan
Profil lengkap Siyuan

Gao Weiman sebagai Li Xiang

Li Xiang dalam “Affinity” adalah pasangan Wo Siyuan, kakak Wo Nongyu. Dia memiliki kekuatan penyembuh tinggi, mencapai angka 85. Ia stabil secara emosional, mampu bekerja sama, dan masih memelihara relasi sosial yang sehat.

Li Xiang menunjukkan bahwa Virus Tipe B tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kendali atau nurani. Ia tetap rasional tanpa harus terputus dari perasaan. Berikut profilnya:

Gao Weiman sebagai Li Xiang
Gao Weiman sebagai Li Xiang
  • Status: Penjaga & Penyerang
  • Kekuatan penyembuh: 85
  • Lebih stabil secara emosional dibanding Xinxu
Profil lengkap Li Xiang
Profil lengkap Li Xiang

Wu Fei sebagai Lin Juan

Lin Juan sedari awal adalah “penjaga” atau “bilah” yang disiapkan oleh Wo Siyuan untuk menjadi pasangan Wo Nongyu. Sayangnya, saat bertanding, Lin Juan kalah dari Xinxu. Hehehe.

Lin Juan hadir ebagai figur yang lebih membumi. Dengan kekuatan penyembuh 60, ia merepresentasikan Virus Tipe B yang masih sangat manusiawi, punya empati, rasa takut, dan peduli pada orang lain. Berikut profilnya:

Wu Fei sebagai Lin Juan
  • Status: Penjaga & Pengawal
  • Kekuatan penyembuh: 60
  • Representasi Virus B yang “masih manusiawi”
Profil lengkap Lin Juan
Profil lengkap Lin Juan

Arena “Gladiator” Ikatan Hidup

Di Planet Y, ikatan hidup tidak selalu lahir dari cinta atau ketertarikan personal. Selain jalur sukarela, atas dasar cocok, suka sama suka, atau relasi tumbuh pelan layaknya orang pacaran, ada satu mekanisme lain yang keras dan primitif. Namanya pertandingan arena, semacam gladiator versi biologis.

Sistemnya begini. Pemilik virus Tipe A , para pemandu dan penyembuh, tidak ikut bertarung. Mereka ditempatkan sebagai penonton. Sistem menganggap mereka terlalu berharga untuk dilukai. Tubuh mereka adalah sumber daya hidup.

Sebaliknya, pemilik virus Tipe B, yaitu para penjaga dan penyerang, harus bertarung di arena. Pertarungan ini bukan sekadar adu fisik, tapi juga adu kekuatan virus, stamina, kecerdikan, dan ketahanan mental. Semakin kuat seseorang di arena, semakin besar peluangnya untuk bertahan hidup… dan mendapatkan pasangan ikatan.

Nah, penting untuk digarisbawahi bahwa hak memilih bukan berarti hak memiliki.

Dalam sistem Planet Y, seorang pemandu secara teori tetap punya hak penuh untuk menolak penjaga yang memilihnya. Tidak ada hukum tertulis yang memaksa pemandu harus menerima siapa pun, bahkan pemenang arena sekalipun.

Pada titik ini, “Affinity” menunjukkan gap antara hak di atas kertas dan realitas biologis. Sebab faktanya usia maksimal pemandu untuk melakukan ikatan ideal adalah 25 tahun. Setelah itu, peluang bertahan hidup menurun drastis. Virus bakal menggerogoti tubuhnya lebih cepat dan akhirnya mati dengan sendirinya.

Makanya, dalam praktiknya, penolakan jarang terjadi. Bukan karena pemandu tidak punya kehendak, tapi karena opsinya sangat terbatas. So.. kebanyakan hasilnya adalah jatuh cinta itu nomor ke sekian, alasan pertamanya adalah survival.

Contohnya, dalam pertarungan arena, Xia Yuyan (diperankan Su Jieman) menolak pemenang arena yang memintanya menjadi pemandunya. Alasannya karena Xia Yuyan berharap Xinxun yang bakal melakukan ikatan dengannya.

Hubungan obsesif Nongyu dan Xunxi
Hubungan obsesif Nongyu dan Xunxi

Dari Ikatan Biologis ke Ikatan Emosional

Seiring cerita berjalan, hubungan Xinxu dan Nongyu berkembang. Nongyu tidak “menyelamatkan” Xinxu dengan cinta instan. Mereka awalnya membuat perjanjian pra-ikatan bahwa… oke mereka menikah, tapi untuk membuat “ikatan” (dikonotasikan dengan hubungan seksual layaknya suami istri) itu nggak bakalan semudah itu.

So, teknik penyembuhan untuk Xinxu ya sebatas kontak fisik di luar hubungan seksual, seperti ciuman, aroma tubuh, dan menyuntikkan insenator.

Bagaimana akhir hubungan Nongyu dan Xinxu? Akankah relasi mereka yang terasa begitu problematik di awal berubah? Mari kita lihat ending-nya setelah episode terakhir tayang.

Review Affinity

Sejak awal kenal, Nongyu dan Xinxu tidak berjumpa di dunia yang netral. Mereka berjumpa di dunia yang sejak awal tidak akhir.

Ketika mengincar Nongyu, Xinxu tidak punya hasrat romantis. Dia tahu Nongyu adalah pemandu dengan kekuatan penyembuh 100 persen. Kompatibilitas biologis mereka hampir sempurna. Tanpa ikatan dengan Nongyu, Xinxu bisa dikatakan tak punya masa depan.

“Affinity” meminta kita, sebagai penonton, memahami konteksnya.

Nongyu, bagaimana pun, adalah manusia yang punya kehendak, empati, dan batas. Apakah cinta masih mungkin lahir di sistem yang menjadikan tubuh sebagai alat survival?

Affinity, yang totalnya 40 episode ini, mencerikan tentang bagaimana sistem bisa membajak relasi manusia, dan bagaimana sebagian orang tetap mencoba mencintai dengan tulus di tengah itu semua.

Trope Alpha-Omega di Affinity

Trope alpha-omega sering disebut berasal dari subgenre fiksi spekulatif yang sering disebut Omegaverse (Alpha-Beta-Omega/ A-B-O). Awalnya populer di fanfiction Barat, kemudian menyebar ke novel, komik, sampai serial-serial tertentu.

Konsep dasar di dunia Omegaverse atau humanoid ini, ada tiga tipe biologis. Pertama, Alpha, yang dominan, kuat, sering jadi pemimpin. Kedua, Omega, yang sensitif secara emosi dan insting dan punya daya tarik alami ke Alpha. Ketiga, Beta, ini yang paling normal, tidak terlalu dipengaruhi dorongan biologis yang ekstrem.

Trope seperti ini menarik lantaran ceritanya bermain dalam kisah tarik-menarik antara insting vs pilihan pribadi. Cintanya terasa “ditakdirkan.” Ada konflik kontrol diri antara Alpha (pemandu/A) dan Omega (penjaga/B). Makanya sering terasa intens, primal, dan emosional.

Trope ini nggak selalu erotis, walau memang banyak versi dewasa. Kalau aku bilang “Affinity” ini punya vibe alpha-omega, maksudku di sini adalah hubungan mereka “nggak bisa dihindari” bahkan tubuh mereka bisa saling mengenali sebelum hati mereka ikut.

Ciri-ciri trope alpha-omega dalam “Affinity”:

  • Ada klasifikasi biologis (A dan B)
  • Ada ketimpangan kekuatan fisik antara A dan B
  • Ikatan hidup A dan B berbasis kompatibilitas tubuh
  • Seks sebagai mekanisme survival
  • Relasi sering dimulai dari kebutuhan, bukan cinta.
Trope Alpha-Omega dalam Affinity
Trope Alpha-Omega dalam Affinity

Meski golongan pemandu, seperti Nongyu dan Siyuan adalah Alpha di sini, sebetulnya mereka juga korban, bukan pihak yang berkuasa. Banyak orang yang melihat Tipe A punya kekuatan penyembuh, Tipe A jadi yang dipilih, sehingga mereka tidak pernah bertarung. Kemudian, disimpulkan bahwa mereka privileged. Padahal kenyataannya nggak begitu. Ada empat alasan.

Pertama, tubuh Tipe A adalah sumber daya publik.

Pemandu virus A tidak dilihat sebagai individu sepenuhnya. Mereka adalah alat penyembuh, penstabil sistem, kunci survival orang lain. Nilai mereka melekat pada fungsi, bukan pada kehendak. Logikanya, kalau kami dianggap bernilai karena bisa “digunakan,” itu kan bentuk objektifikasi.

Kedua, Tipe A “dilindungi” justru karena mudah dikontrol.

Mereka tidak dilatih untuk bertarung, tidak didorong mandiri secara fisik, dan hidup dalam perlindungan. Akibatnya apa? Sejatinya mereka lebih rapuh secara sistemik, lebih terkurung, dan lebih bergantung.

Ketiga, hak menolak bersifat simbolik.

Iya, secara teori mereka boleh menolak Tipe B yang mengajukan diri menjadi pasangan mereka. Tapi… batas usia produktif Tipe A ini hanya sampai 25 tahun. Lewat batas umur itu, jika mereka tak kunjung melakukan pengikatan, virus bakalan terus menggerogoti tubuh mereka sampai mereka mati.

Waktu terus berjalan, tekanan sosial kian besar. Kalau Tipe A terus menolak, mereka akan mempertaruhkan nyawa sendiri.

Keempat, Tipe A jadi aset berharga.

Nongyu adala contoh paling jelas di antara semuanya. Sejak kecil, dia sudah menjadi objek eksperimen ayahnya sendiri. Darah Nongyu terus diambil berkala untuk diteliti bagaimana caranya mendapatkan efek penyembuhan hingga 100 persen?

Nongyu punya kekuatan penyembuh 100, kompatibilitas tinggi, dan tubuh spiritual langka. Artinya, dia aset paling berharga. Nah, karena aset paling berharga, dia akan menjadi rebutan hingga membahayakan nyawa sendiri.

So Bad, but So Good

Oke, akhirnya sampai ke inti review jujur aku nih. Are you ready, readers?

Harus diakui, “Affinity” bisa jadi gateway drug ke dunia short drama yang sama sekali nggak pernah aku sentuh sama sekali selama nyelam ke C-dramaland. Satu-satunya short drama yang pernah aku tonton adalah “Decreed by Fate.” Itu pun karena terdistraksi sama second male-lead-nya, Wu Chengxu (sebagai Jenderal Lin Xie), setelah terhipnotis nonton akting dia di serial “Unforgettable Love.”

Jadi, aku nonton “Affinity” tuh yah mungkin karena lagi iseng, kemudian klik satu episode, lalu tiba-tiba nonton semua, kemudian tiba-tiba “mempertanyakan” standar tontonan sendiri. Wkwkwk.

Jadi, nonton “Affinity” tuh kayak kamu iseng minta minuman temanmu seteguk, trus ending-nya ternyata semua minuman temanmu yang sebotol itu kamu habisin sendiri. Begitulah kira-kira.

Trus, maksudnya apa aku nulis sub-judulnya “So Bad, but So Good?”

Menurutku ya, lagi-lagi ini personal opinion, mohon jangan di-bully. “Affinity” tuh nggak masuk kategori “bagus” secara konvensional.

Pertama, masalah plot. “Affinity” kayak nggak menghormati hukum logika dan transisi emosi manusia. Hahaha. Kecepatan plot-nya segitu lompat-lompatnya. Mungkin inilah kekurangan short drama pada umumnya.

Satu menit kamu lagi nonton soal rekayasa genetika dan virus tipe A–B, menit berikutnya ada konfrontasi absurd, lalu tiba-tiba… BOOM kita langsung masuk ke trope “pemandu-penjaga” ala manhwa antara Nongyu dan Xinxu, di mana dua karakter secara literal nggak bisa hidup tanpa satu sama lain.

“HAH? NGAPAIN SIH? KOK GITU?”

Kira-kira begitulah kira-kira kesan pertamaku menontonnya. Sampai pada titik di mana aku kayak nontonin ada cowok lihatin cewek dengan intens, lebih mirip kriminal, dan itu alasannya karena ada kompatibilitas genetik mereka tinggi.

Pas nonton, duh rasanya aku malu banget. Aku udah kayak apa ya… sadar ini tuh “trash” tapi “trash”-nya itu rasa Michelin bintang lima. HAHAHAHA. Otak rasionalku langsung pamit, kemudian hatiku jungkir balik tiap kali lihat Xinxu seperti mau ngelakui hal-hal ekstrem ke Nongyu. You know what I mean, ya…

Pertama, chemistry mereka out of control

Ini faktor utama. Chemistry Cui Yuxin dan Fang Jin itu liar, mentah banget, dan nyaris nggak disaring. Ditambah lagi penggunakaan sistem dubbing khas drachin kebanyakan, dooooh emosinya udah panas bahkan sebelum si Xinxu kissing si Nongyu.

Kedua, pacing tanpa ampun.

Tiap 15-20 menit episode baru pasti isinya mostly kokop-kokopan. Belum lagi ditambah konflik utama, ketegangan, dan twist baru.

Sebagai penonton, aku udah kayak nggak dikasih ruang bernapas. Tapi… tetap saja mau nonton episode berikutnya.

Ketiga, male-lead red flag tapi…

Xinxu adalah pabrik red flag berjalan. Antisosial, obsesif, dingin, dan jelas menyimpan sesuatu yang nggak beres. Tapi… dalam dunia “Affinity,” ini tidak sama dengan mengglorifikasi kejahatan, karena dia adalah produk sistem dan virus.

Dia bukan “hot psikopat” tanpa alasan. Karakter dia dikondisikan oleh dunia yang memaksa manusia bertahan hidup lewat ikatan ekstrem. Oke, i’m rooting him, tapi bukan karena dia “benar,” lebih karena dalam serial ini dia berhasil bikin penonton paham kenapa dia kayak gitu.

Keempat, zero shame energy.

Sumpah deh, “Affinity” ini nggak punya urat malu. Tim produksi aku yakin banget tahu serial ini agak berlebihan dari drachin kebanyakan, agak absurd juga. Tapi… alih-alih minta maaf, tim produksi kayak makin nge-gas. HAHAHA. 

Aku nggak bakal menguraikan detail skinship atau detail fisik apa pun, tapi aku rasa kita semua sepakat bahwa banyak adegan di “Affinity” ini memang berani untuk ukuran drama China. Ayo ngaku aja, kamu juga refleksi replay episode-7, terutama scene di kereta kan? JUJUR!

Episode-episode setelahnya juga konsisten menjaga atmosfer sama. Kadang terlalu intens, tapi selalu efektif menjaga adrenalin penonton. 

Kalau kamu anti forced proximity, ini jelas bukan tontonan aman. Tapi kalau kamu paham bahwa ini adalah dark sci-fi romance, kamu tahu jenis apa dunia yang kamu masuki.

Apakah Affinity cheesy?

Iya.

Apakah berlebihan?

Banget.

Apakah aku akan nonton ulang?

Mungkin

Di era ketika banyak drama terlalu hati-hati, terlalu rapi, dan terlalu takut dinilai, “Affinity” justru melompat ke jurang dan bilang ke kita, “Jangan lupa pegangan ya!” Wkwkwkwk.

Kalau kamu belum pernah coba short drama kayak aku karena merasa “terlalu lebay,” abis nonton “Affinity” jam tidurmu bakal berantakan.

So, nonton ini tuh jangan dicari logikanya. Soalnya emang sejak episode-1 tujuannya cari sensasi.

Jujur, aku nggak nyesal sama sekali nonton serial ini. Mungkin juga beberapa brain cells aku hilang (hahahaha), tapi at least aku dapat hiburan murni yang nggak sok suci. Oke deh, sekian review dari aku. Silakan drop komentar kamu di bawah ya!

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment