Pertengahan September 2025, banjir Sorong Pertengahan September 2025, banjir Sorong https://dlhkabsorong.org/struktur/ muncul di linimasa berbagai media online. Tujuh distrik tergenang. Ratusan rumah terdampak. Angkanya mungkin terlihat “kecil” jika dibandingkan banjir di kota-kota besar di Jawa, apalagi Sumatra. Tapi buatku, kabar ini tetap terasa menohok.
Kenapa? Karena ini Papua. Banjir Sorong itu terjadi di Papua. Wilayah yang selama ini kita sebut-sebut sebagai benteng terakhir hutan tropis Indonesia. Wilayah yang dalam imajinasi kolektif kita selalu hijau, basah oleh hutan, dan “aman” dari bencana yang sering kita asosiasikan dengan kota padat dan beton.
Dan tiba-tiba, air naik. Masuk rumah. Menggenangi distrik. Mengusir rasa aman. Banjir di Sorong bukan peristiwa cuaca biasa, melainkan tanda dari alam yang penting untuk kita baca.
Kota Sorong Tumbuh, Alamnya Menyusut
Dalam laporan resmi, banjir Sorong ini dipicu oleh hujan deras dengan durasi panjang. Itu benar. Hujan memang turun. Tapi hujan tidak pernah bekerja sendirian.
Air hujan akan selalu mencari jalan pulang. Pertanyaannya, apakah tanah masih memberi ruang untuk menyerapnya?
Kajian akademis dan pengamatan lapangan menunjukkan bahwa Sorong, seperti banyak wilayah lain di Papua, sedang mengalami perubahan besar dalam tata guna lahan. Hutan yang dulu rapat, kini terbuka di beberapa titik. Lahan yang dulu menyerap air, kini mengeras. Sungai yang dulu punya ruang bernapas, kini menyempit.
Ketika hujan turun ke tanah yang lelah, air tak lagi meresap. Ia berlari. Ia mengalir. Ia berkumpul. Dan akhirnya, ia meluap. Banjir Sorong bukan datang sebagai bentuk akumulasi dari banyak keputusan kecil yang diambil bertahun-tahun sebelumnya.
Sorong hari ini bukan Sorong dua atau tiga dekade lalu. Ia tumbuh. Ia menjadi simpul logistik, pintu masuk Papua, pusat ekonomi, pusat pergerakan manusia.
Pertumbuhan itu sendiri bukan sesuatu yang salah. Semua wilayah ingin maju. Semua masyarakat ingin hidup lebih baik. Masalah muncul ketika pertumbuhan tidak diselaraskan dengan daya dukung lingkungan.
Pembangunan permukiman, jalan, kawasan ekonomi, sering kali mengorbankan ruang resapan. Drainase dibangun, tapi tidak selalu mengikuti karakter alam setempat. Sungai diperlakukan sebagai saluran air biasa, bukan sistem hidup.
Di banyak kota di Indonesia, pola ini sudah lama terjadi. Bedanya, Papua baru mulai merasakannya sekarang. Dan ketika Papua mulai banjir, itu seharusnya membuat kita semua mikir.
Ketika Hutan Tak Lagi Jadi Penyangga
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem penyangga air atau drainase alami paling canggih. Kanopi pohon menangkap sebagian air hujan duluan sehingga airnya tidak jatuh sebagai pukulan keras ke tanah.
Akar-akar menahan butiran tanah supaya tidak gampang longsor. Lalu, ada juga humus, lapisan spons yang menyerap air, menyimpannya, dan melepasnya pelan-pelan ke mata air hingga sungai.
Hutanlah yang membantu mengatur aliran air, mengurangi erosi, dan menjaga kualitas air. Masalahnya, begitu tutupan hutan itu berkurang, siklus itu patah. Air hujan turun tanpa rem, lalu lari sebagai limpasan permukaan.
Tanah yang tidak lagi diikat akar-akar pohon besar mulai tergerus dan lumpurnya ikut masuk ke sungai. Lama-lama, sungai makin dangkal karena sedimentasi. Kapasitas tampungnya menyusut.
Drainase kota yang sudah sempit makin kewalahan, terlebih kalau daerah resapan berubah menjadi permukaan keras, entah itu jalan, bungan, timbunan tanah. Begitu hujan berikutnya datang, yang dulu mungkin hanya bikin air naik sedikit, sekarang lebih cepat meluap ke permukiman.
Itulah kenapa Papua yang sering disebut benteng terakhir hutan tropis Indonesia tidak otomatis kebal banjir. Selama ini, banyak wilayah “terasa aman” karena hutannya masih bekerja. Tapi saat ada pembukaan lahan, degradasi, atau tata ruang yang menutup daerah resapan, efeknya bisa terasa cepat.
Di level nasional saja, analisis yang dikutip dari Global Forest Watch menunjukkan Indonesia kehilangan lebih dari 240.000 hektare hutan primer pada 2024, dan para peneliti menekankan hilangnya hutan memperbesar risiko banjir.
Alarm yang Terlambat Tapi Masih Bisa Didengar
Kita sudah biasa bilang, “ah banjir lagi…!” Saat banjir terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, atau Medan, kita hampir tidak lagi kaget. Itu sudah masuk dalam rutinitas musim hujan tiap tahun. Tapi ketika banjir terjadi di Papua, daerah yang selama ini dianggap “surganya hutan” ini sudah di luar nalar.
Papua bukan wilayah sembarang. Dulu, provinsi ini punya hutan primer paling luas di Indonesia, dengan jutaan hektare hutan hujan tropis yang jadi penyangga alami komunitas lokal dan ekosistem yang kompleks. Namun dalam beberapa dekade terakhir, deforestasi meningkat signifikan.
Antara 2001 dan 2023, Forest Watch Indonesia (FWI) mendata Papua kehilangan sekitar 1,1 juta hektare tutupan pohon, area seluas wilayah kecil yang kini berubah fungsi menjadi lahan lain.
Deforestasi itu memengaruhi sistem hidrologi, sebagaimana yang aku jelasin di atas. Kalau kita mundur sedikit, Sorong dan sekitarnya sebenarnya sudah tidak asing dengan banjir. Pada Agustus 2024, banjir juga menenggelamkan luas wilayah hingga ±2.000 kepala keluarga di 20 distrik akibat hujan berkepanjangan.
Ini pola yang serupa dengan apa yang sudah dialami wilayah lain di Indonesia, di mana kombinasi perubahan tata guna lahan dan curah hujan ekstrem menghasilkan dampak bencana yang berat, termasuk banjir besar di Sumatra yang menelan ribuan korban meningal dunia dan ratusan ribu kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan infrastruktur secara masif.
Dampaknya tidak pernah sederhana. Lalu, kita sebagai masyarakat bisa apa?
Kita selalu merasa kecil dan tidak berdaya. Padahal, perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil.
1. Berhenti Menganggap Banjir sebagai “Takdir Cuaca”
Kalimat seperti “namanya juga hujan” atau “memang sudah musimnya” terdengar pasrah, tapi diam-diam berbahaya. Ia menormalisasi bencana. Padahal hujan adalah peristiwa alam, sementara banjir adalah hasil interaksi hujan dengan cara manusia mengelola ruang hidupnya.
Ketika kita berhenti menyebut banjir sebagai takdir, kita mulai melihatnya sebagai konsekuensi. Dari situ, kita seharusnya bertanya dong, apa yang berubah di sekitar kita sehingga air tak lagi punya ruang? Mengubah narasi ini penting, karena cara kita berbicara tentang masalah sering menentukan seberapa serius kita menanganinya.
2. Menghormati Sungai
Sungai bukan saluran pembuangan, bukan halaman belakang kota. Bukan tempat “yang toh airnya akan membawa pergi semuanya.” Sungai adalah sistem hidup yang menghubungkan hulu dan hilir, manusia dan alam.
Menghormati sungai dimulai dari hal paling dasar, yaitu tidak membuang sampah ke sungai, tidak menutup aliran sungai, tidak mempersempit bantaran sungai. Pada banyak tempat, sungai yang dibiarkan bernapas, artinya punya ruang limpasan alami, justru menjadi penyelamat saat hujan ekstrem datang.
3. Mendukung Tata Ruang yang Berpihak pada Alam
Sering kali ruang hijau dianggap penghambat pembangunan. Hutan kota https://dlhkabsorong.org/struktur/ dianggap lahan menganggur. Sempadan sungai dianggap “potensi” yang belum dimanfaatkan. Padahal justru di situlah fondasi ketahanan lingkungan berada.
Ketika ada rencana ruang hijau, kawasan lindung, atau pembatasan pembangunan di area rawan, dukungan publik sangat penting. Kita tidak menolak pembangunan, tapi memastikan pembangunan tidak memakan masa depan. Kota yang ramah alam seharusnya kota yang punya visi misi panjang soal lingkungan.
4. Membangun Kesadaran di Lingkar Kecil
Tidak semua perubahan harus dimulai dari kebijakan besar. Banyak yang tumbuh dari obrolan kecil. Dari meja makan keluarga. Dari diskusi di komunitas. Dari sekolah, gereja, masjid, atau balai kampung.
Mengajak anak-anak bicara soal air, sampah, dan hutan adalah investasi jangka panjang. Membiasakan tidak membuang sampah sembarangan, mengenalkan fungsi sungai, atau sekadar mengajak jalan menyusuri alam sekitar, semua itu membentuk cara pandang generasi berikutnya.
5. Mendengar Suara Lokal
Papua bukan wilayah kosong. Ia dihuni oleh masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan hutan, sungai, dan tanah selama ratusan tahun. Pengetahuan mereka tentang musim, aliran air, dan tanda-tanda alam merupakan hasil pengalaman panjang.
Mendengar suara lokal berarti membuka ruang dialog. Menghargai kearifan yang sudah ada. Solusi paling berkelanjutan seringnya lahir dari mereka yang hidup paling dekat dengan alamnya.
Aku percaya, Sorong belum terlambat, Papua belum tamat. Sebagian besar hutannya masih ada. Sungainya masih hidup. Ekosistemnya masih bekerja meski mulai tertekan.
Banjir di Sorong bisa menjadi titik refleksi dan kita harus mau belajar membaca tanda-tanda itu. Tugas kita hari ini bukan mencari siapa yang salah, tapi memastikan kita tidak terus mengulang kesalahan yang sama. Setuju?

Leave a Comment