Diary Mainaka-4: Menuju Kota Kesembuhan

Saya memutuskan pindah ke Bekasi bersama anak-anak, tinggal sementara di sana setidaknya 1-2 tahun ke depan. Alhamdulillah rumah mertua lokasinya tidak jauh dari Klinik KID ABA, tempat praktik dr Rudy Sutadi di Grand Wisata Blok AA11, Tambun Selatan.

Suami tetap di Surabaya karena harus bekerja. Ini kali kedua kami menjalani long distance marriage (LDM), setelah 2014 lalu.

LDM kali ini lebih berat. Kalo dulu saya kangen suami, saya tinggal terbang nyusul ke kotanya, atau mas yang datang ke Jakarta. Kalo sekarang, kondisinya tak memungkinkan. Terpaksa mas yang harus bolak balik Surabaya-Bekasi sekali sebulan atau dua kali sebulan.

Saya juga harus siap membiasakan anak-anak, khususnya Maetami tanpa kehadiran papanya di sampingnya setiap hari. Bagian paling beratnya ketika si kakak bertanya setiap saat, “Papa mana? Kok lama kali kerjanya, bun?” Ini nih yang bakal bikin saya mbrebes mili nanti.

Jumat pagi, 31 Juli 2020, selepas Shalat Idul Adha kami berangkat ke Bekasi. Saya, mas, ketiga anak kami, serta papa dan mama mertua yang dua minggu sebelumnya datang ke Surabaya berpamitan kepada tetangga-tetangga terdekat.

Sedih sekali karena saya harus meninggalkan rumah di saat sedang nyaman-nyamannya tinggal di F25 Rungkut Menanggal Harapan ini. Bikin nangis saat pamitan ke Bu Anton, Bu Yudhono, Bu Irul, dan lainnya.

Kakak Mae lebih kasihan lagi. Dia sedang akrab-akrabnya sama teman-teman barunya. Setelah hari itu Kakak Mae gak bakal ketemu Qia, Gretha, Kresna, Khansa, Hud, Urem, dan teman-teman lainnya dalam waktu cukup lama.

Mulai Diet Intensif

Perjalanan kami alhamdulillah lancar, meski diiringi dengan rewel si kembar yang memang sudah mulai menjalani diet khusus autisme.

Rashif dan Rangin sepenuhnya stop minum susu karena segala macam sumber makanan dan minuman mengandung kasein, termasuk susu dan produk turunannya haram untuk mereka.

Si kembar juga menjalani diet gluten yang artinya mereka tidak boleh mengonsumsi segala jenis makanan berbahan tepung-tepungan. Ada sembilan jenis diet yang mereka jalani, termasuk di dalamnya diet gula, soya, jagung, bahan kimia, fenol, dan diet elektronik.

Diet ini adalah bagian terberat yang anak saya jalani, terlebih saat mengharuskan mereka berhenti mengonsumsi susu formula 100 persen tanpa bertahap. Seminggu pertama seperti neraka rasanya. Abang tidak boleh ngedot lagi. Kalo haus, ya minum air putih dari gelas.

Tiga hari pertama Rashif tantrum. Dia mengamuk, menangis tanpa henti, terlebih di malam hari karena tidak lagi diberikan susu. Dia melempar dotnya yang berisi air putih. Saya dan mas nyaris gak bisa tidur. Untungnya ada mama mertua menemani sementara, sehingga kami bisa bergantian menggendong dan menenangkan Rashif.

Ini sangat berat. Sangat berat, tapi demi kesembuhan Rashif, saya rela melakukan apa saja.

Berita baiknya dr Rudy mengatakan diet ini tidak berlaku seumur hidup. Apalagi Rashif mulai terapi autisme sejak usianya belum dua tahun. Insya Allah memasuki usia belasan tahun anak-anak autis yang menjalani diet dengan benar umumnya tidak perlu diet lagi.

Mengapa sih anak-anak penyandang autisme (autisi) tidak boleh mengonsumsi segala bentuk susu, gluten, dan produk turunannya?

Alasannya panjang sekali. Namun, intinya dr Rudy mengatakan kasein atau protein pada susu serta gluten atau protein pada tepung dan gandum membahayakan jaringan saraf anak autisi.

Kasein dan gluten pada tubuh anak autisi tidak dapat dicerna sempurna. Dua jenis protein ini pada tubuh normal dicerna menjadi asam amino, tapi pada tubuh anak autisi keduanya malah berubah menjadi peptida morfin yang masuk ke aliran darah dan menimbulkan gejala morfinis.

Gejala morfinis ini ya sama saja seperti anak terpapar morfin, narkoba yang berbahaya itu. Anak bisa ketawa sendiri, suka memutar-mutar badan, sering tantrum, hiperaktif, dan perilaku aneh lainnya. Ini saya saksikan langsung dialami Rashif.

Sering banget saya mendapati Rashif tertawa tanpa sebab. Dia tersenyum, bahkan cekikikan, padahal tidak ada hal lucu di sekitarnya. Sampai-sampai saya dan suami pernah mengira anak saya bisa melihat makhluk halus.

Gula juga sama, di mana terfermentasi menjadi alkohol. Ini yang membuat perilaku anak autisi sering tidak terkendali, seperti sedang dalam keadaan mabuk.

Semua alasan ini menyebabkan saya harus menghentikan total asupan kasein dan gluten pada anak saya. Alhamdulillah wa syukurillah, apa yang dr Rudy katakan benar adanya.

Sejak Rashif menjalani diet kasein dan gluten mulai 26 Juli lalu, perilakunya berubah drastis. Abang jauh lebih tenang, tidak pernah atau jarang banget ketawa sendiri gak jelas, dan nyaris tidak pernah berlari-lari berkeliling memutar-mutar badannya lagi.

Bersih-Bersih Rumah

Kami sampai di Bekasi sekitar pukul 21.00 WIB. Keesokan harinya kami langsung bersih-bersih rumah dan menyiapkan segala keperluan Rashif dan Rangin yang akan memulai sembilan diet intensif Senin, 3 Agustus 2020. Insya Allah pada postingan berikutnya saya akan bercerita soal ini.

Kakek nenek Rashif mulai merapikan rumah, menjauhkan barang-barang dan perabotan yang berpotensi membahayakan cucu-cucunya. Maklum, si kembar sedang aktif banget, kepo banget. Ada barang baru pengen megang, ada gundukan dikit pengen manjat. Saluran listrik diamankan. Pokoknya rumah di-sweeping total.

Semprotan nyamuk disingkirkan. Sekarang kalo mau ngusir nyamuk di kamar ya pakai raket nyamuk. Sabun cuci piring dan sabun cuci pakaian mereka diganti sama sabun colek. Saya pun dilarang menggunakan kosmetik berlebihan karena anak autisi sangat sensitif sama bahan-bahan kimia.

Saya tak hanya mendietkan Rashif, tapi juga Rangin. Bagaimana pun mereka adalah saudara kembar. Meski mereka kembar non-identik, tetap saja sedikit banyaknya mereka berbagi genetik yang sama.

Ciri-ciri anak autisme salah satunya mengalami regresi (kemunduran) tumbuh kembang pada usia 18-24 bulan. Anak yang tadinya mulai pandai merangkai kata, tiba-tiba kemampuanya berhenti. Perilaku anak mulai berubah, menunjukkan gejala-gejala autisme, seperti 12 kelompok gejala autisme yang dijelaskan dr Rudy pada saya sebelumnya.

Autisme 80 persennya adalah genetik, sehingga lebih baik saya mengantisipasi Rangin sedini mungkin. Toh, terapi Smart ABA dan Smart BIT yang dijalankan ala dr Rudy sama sekali tidak berbahaya jika dijalani anak-anak non-autisi. Malahan jadi sehat banget loh.

Anak stop mengonsumsi tepung-tepungan, diharuskan makan makanan sehat, mengurangi paparan gawai, dan menjalani terapi untuk mengasah keterampilan berbicara, berbahasa, berinteraksi sosial, dan mandiri.

Sebagai seorang ibu dari anak yang memiliki autisme, saya tak akan menyerah begitu saja. Saya melahirkannya, saya melihatnya setiap hari, saya menatap kedua mata indahnya. Saya tahu, suatu hari nanti dunia bisa melihat apa yang saya lihat.

Memiliki anak autisi mengajarkan saya memupuk kesabaran jauh lebih besar dari apa yang pernah orang-orang pikirkan. Saya yakin, insya Allah, jalan yang kami pilih ini adalah yang terbaik. Harapan saya tertanam di Kota Kesembuhan ini.

bundalogy

2 thoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.