Petuah Ogoh-Ogoh Paksi Ireng

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.53.39.jpeg
Paksi Ireng (Foto: ST Gemeh Indah)

Ogoh-ogoh salah satu seni patung tradisional Bali yang terus ada dari masa ke masa. Ini merupakan representasi dari kreativitas anak-anak muda di Pulau Dewata.

Ogoh-ogoh berasal dari Bahasa Bali ogah-ogah, berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Tradisi ini erat dengan Hari Raya Nyepi.

Pemuda-pemudi desa berkumpul di depan banjar. Laki-laki bertugas mengangkat ogoh-ogoh, sedangkan perempuan dan anak-anak membawa obor. Setelah diarak berkeliling desa, ogoh-ogoh dilebur atau dipralina dengan api atau air pada malam pengerupukan. 

Peleburan ogoh-ogoh mengingatkan kita akan tri kona, tiga alur kehidupan yang dipercaya umat Hindu. Pertama, kelahiran (utpati) ketika ogoh-ogoh dibuat atau diciptakan. Kedua, kehidupan (stiti) ketika ogoh-ogoh sudah berwujud dan diarak bersama. Ketiga,  pralina (kematian) ketika ogoh-ogoh dibakar.

Pawai ogoh-ogoh yang dimulai sejak 1980-an menjadi hiburan tersendiri, tak hanya bagi umat Hindu, namun juga non-Hindu. Tak jarang ini juga dilombakan, sehingga menjadi atraksi wisata menarik bagi turis domestik dan mancanegara.

Perawakan ogoh-ogoh menggambarkan kepribadian Bhuta Khala bertubuh raksasa berwajah menyeramkan. Figurnya terinspirasi dari banyak sumber, mulai dari hewan, tumbuhan, tokoh pewayangan, hingga ogoh-ogoh modern yang meniru sosok superhero fiksi juga tokoh-tokoh dunia nyata.

Sehari menjelang Nyepi, saya menyempatkan diri berkeliling Kota Denpasar. Jalanan sangat padat pagi itu. Tak kurang 688 ogoh-ogoh dipamerkan di ibu kota Provinsi Bali. Secara keseluruhan ada 6.374 ogoh-ogoh diarak di sembilan kabupaten kota.

Pengguna jalan menyempatkan diri berswafoto di depan ogoh-ogoh yang dipajang di sejumlah ruas jalan. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah ogoh-ogoh raksasa setinggi 6,3 meter yang berdiri tegap di pertigaan Jalan Kapten Sutoyo.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.53.40.jpeg
Foto: ST Gemeh Indah

Itu adalah Paksi Ireng, ogoh-ogoh kebanggaan masyarakat Banjar Gemeh, Kota Denpasar. Ogoh-ogoh raksasa ini bersayap hitam dengan gagak-gagak kecil di sekitar kakinya. Wajahnya menyeramkan, mata merah menyala, kepala bermahkotakan tengkorak burung, tangan kanannya menggenggam sebilah pisau pengentas, dan dari punggungnya bermunculan tangan-tangan mudra berwarna keemasan.

Paksi Ireng seperti memiliki daya magis untuk menghipnotis pengguna jalan yang melintas. Pengendara motor, sepeda, pejalan kaki, bahkan pengemudi mobil nekat berhenti untuk berfoto sejenak di depannya tanpa peduli kendaraan mereka menimbulkan kemacetan parah.

Berbekal informasi dari seorang teman, saya bisa bertatap muka langsung dengan maestro Paksi Ireng, Putu Marmar Herayukti (34 tahun). Dia seorang undagi – arsitek tradisional Bali – yang sangat mahir membuat ogoh-ogoh.

Paksi Ireng dibuat selama dua bulan dengan biaya mencapai Rp 13 juta. Ogoh-ogoh ini membawa pesan dan kritik sosial tentang kondisi masyarakat Bali saat ini yang terinspirasi dari cerita rakyat Bali berjudul sama.

Legenda Paksi Ireng

Dahulu kala lima orang pemuda Bali merantau ke pesisir barat pulau untuk membuka lahan pertanian. Mereka di sana melihat sudah banyak masyarakat bersawah dan berkebun, sehingga kelimanya memutuskan mencari lahan baru ke pegunungan di dekat hutan.

Tanpa minta izin terlebih dahulu, pemuda tersebut masuk begitu saja, namun tak kunjung menemukan lahan subur yang diinginkan. Sejauh mata memandang mereka hanya menjumpai lahan tandus, gersang, dan berbatu.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.50.10.jpeg
Foto: ST Gemeh Indah

Seorang di antara mereka yang usianya paling muda habis kesabaran dan mengumpat tanah tandus di hadapan mereka telah dikutuk. Kakaknya menegur adiknya untuk jangan berkata-kata kotor di tanah keramat.

Tak lama kemudian entah dari mana datangnya angin dan petir menerbangkan seluruh tumbuhan dan bebatuan di sana. Seekor burung garuda hitam raksasa (Paksi Ireng) berkepala seram muncul mengelilingi pemuda tadi.

Sang Garuda Hitam marah dan menyebut pemuda tadi tak berhak memaki tanah yang bukan haknya. Paksi Ireng pun murka, kemudian mengutuk pemuda itu menjadi burung gagak yang gagu, yang kehadirannya tidak akan disukai manusia karena menyampaikan kabar kematian.

Si kakak sempat memohon ampun atas kesalahan adiknya, namun Paksi Ireng tak sudi mencabut kutukannya. Sebagai gantinya, Paksi Ireng akan mengabulkan satu permintaan lain pemuda baik tadi.

Pemuda baik itu meminta agar lahan tandus dan gersang di hadapannya menjadi lahan subur untuk pertanian bagi keturunannya nanti. Paksi Ireng mengepakkan sayapnya. Pemuda itu pun melihat tanah yang tadinya kering seketika menjadi hutan lebat dan lahan gembur, subur, dan lembab. Wilayah tersebut konon sekarang dikenal dengan nama Desa Kedisan.

Berkaca pada legenda Paksi Ireng, Marmar menilai banyak orang saat ini terlalu mendewakan uang. Segala sesuatu diukur dari materi, bahkan silaturahmi dengan kawan kerabat pun terputus karena alasan bekerja dan mencari penghasilan.

“Hidup memang butuh makan, tapi hati kita juga butuh makan,” kata Marmar.

Pria yang juga dikenal sebagai tatto artist di Denpasar itu mengatakan banyak orang sekarang kerap menyalahkan alam. Gunung Agung yang selama ini diagungkan dianggap merusak stabilitas pariwisata Bali ketika erupsi. Padahal, erupsi Gunung Agung bukan lah sebuah bencana, melainkan siklus alam yang sudah seharusnya terjadi.

“Mereka menyangkalnya hanya demi kepentingan ekonomi,” kata Marmar.

Paksi Ireng adalah penggambaran alam semesta yang sarat petuah dan memberi manusia dua pilihan. Jika manusia baik, Paksi Ireng akan menggunakan tangan-tangan mudranya untuk memberi kehidupan agar manusia menjalaninya dengan penuh kebaikan. Jika manusia jahat, Sang Garuda Hitam akan menggunakan pisau pengentas di tangannya untuk memutus kehidupan manusia menuju alam kematian.

Selain hewan, Marmar juga pernah menuangkan kreasi ogoh-ogoh terinspirasi dari tumbuhan, yaitu Taru Pule (Pohon Pulai). Ogoh-ogoh ini mengirim pesan kepada manusia untuk lebih peka dan lebih mengerti cara berkomunikasi dengan alam. Pulai masuk ke dalam 100 tanaman berkayu yang memberi manfaat bagi manusia, sebagaimana dituliskan dalam Lontar Taru Permana.

98c3af90a2a902c92a9fe95c43a9839c.jpg
Taru Pule (Foto: ST Gemeh Indah)

Pulai adalah pohon sakral dan suci yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan tapel tapakan Ida Batara, pratima, dan topeng pelawat penari Bali. Pulai adalah tanaman berumur panjang, bisa mencapai ratusan tahun, melampaui umur manusia. Pulai tak ubahnya seperti guru yang menyimpan banyak sekali memori dan energi yang  menceritakan kehidupan manusia-manusia sebelumnya.

e846118837cea2081e7775cbc047a1f7.jpg
Taru Pule di Malam Pawai Ogoh-Ogoh (Foto: ST Gemeh Indah)

“Kepekaan manusia sekarang semakin berkurang. Jangankan berkomunikasi dengan tanaman atau hewan, dengan sesamanya saja sulit dan rumit. Manusia cenderung terjebak dalam pikirannya sendiri,” papar Marmar.

Favorit Marmar lainnya adalah Baruna Murti yang terinspirasi dari Dewa Baruna, penguasa samudera. Sosok Dewa Baruna yang murka (murti) dalam ogoh-ogohnya digambarkan bertubuh raksasa, ada tentakel gurita di wajahnya, sembari mengendarai gajah mina atau ikan berkepala gajah.

Ogoh-ogoh satu ini menceritakan kondisi manusia sekarang yang haus kekuasaan. Manusia membangun peradaban, industri, dan menghalalkan perang untuk memenuhi kekuasaan. Sampah-sampah peperangan dan hasil kerakusan manusia itu ujung-ujungnya dibuang ke luat, mulai dari sampah industri, sampah bekas peperangan, jasad manusia, dan puing-puing kerusakan lainnya.

“Ini mengotori kesucian laut dan akhirnya membuat Dewa Baruna murka,” kata Marmar.

Marmar aktif membuat ogoh-ogoh sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD). Awalnya dia mengkreasikan ogoh-ogoh dari botol minuman kemasan, botol sampo, dan botol plastik lain pada zaman itu. Setiap Sabtu malam di Gang III Dauh Puri Kangin tempat tinggalnya, Marmar bersama teman-temannya menggelar parade ogoh-ogoh mini.

Saat duduk di kelas enam SD, Marmar berhasil membuat ogoh-ogoh tengkorak setinggi dua meter. Kecintaan pada ogoh-ogoh membuat Marmar tak puas belajar di lingkungan banjarnya saja. Dia pun mengeksplorasi ogoh-ogoh dari banjar lain, khususnya Banjar Kedaton Kesiman dan Banjar Gerenceng. Sejak itu Marmar aktif membuat satu hingga dua ogoh-ogoh raksasa per tahun.

Ramah lingkungan

Ogoh-ogoh dibuat secara tradisional dengan teknik mengulat. Bahan utamanya adalah ulatan bambu atau gulungan bambu yang sudah diiris tipis-tipis, gedeg, potongan besi, kertas koran dan kertas semen bekas, cat, bahan untuk rambut. Bahan penunjang adalah kain, kayu balok, tali, dan amplas.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.51.jpeg
Ulatan Kepala Paksi Ireng (Foto: ST Gemeh Indah)
WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.52.03.jpeg
Ulatan Tangan Mudra Paksi Ireng (Foto: ST Gemeh Indah)
WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.47.jpeg
Ulatan Tubuh Paksi Ireng (Foto: ST Gemeh Indah)
WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.53.jpeg
Ulatan Sayap Paksi Ireng (Foto: ST Gemeh Indah)

Potongan besi digunakan untuk membuat dasar ogoh-ogoh. Semua bagian tubuh, termasuk kepala, badan, tangan, paha, dan kaki dirangkai dari ulatan bambu yang dianyam beramai-ramai. Seluruh bagian ini ditempeli kertas koran, kemudian kertas semen supaya kuat dan tidak mudah robek. Proses selanjutnya adalah pengecatan.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.57.jpeg
Foto: ST Gemeh Indah
WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.51 (1)
Foto: ST Gemeh Indah
WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.58.jpeg
Foto: ST Gemeh Indah
WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.58 (1).jpeg
Foto: ST Gemeh Indah

Setelah diwarnai dan dihias, ogoh-ogoh kemudian dipasangi atribut sesuai karakternya, seperti pedang, pisau, tongkat, gada, atau panah. Aksesoris kain dan perhiasan lain, seperti mahkota dan kalung juga bisa ditambahkan. Terakhir, beri dasar bambu sebagai alasan atau sanan supaya ogoh-ogoh bisa diarak bersama.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.50.17.jpeg
Undagi Paksi Ireng, Putu Marmar Herayukti (Foto: ST Gemeh Indah)

Marmar adalah penggagas kampanye stop gabus (styrofoam) untuk ogoh-ogoh di Bali. Sejak akhir 2012, dia terus menyosialisasikan hal tersebut dengan tujuan mengembalikan budaya pembuatan ogoh-ogoh tradisional dengan teknik mengulat.

Ayah dari Putu Air Bhuana Pangrukti (3 tahun) ini menyusun seminar, menjadi tamu pembicara, dan berkampanye dari desa ke desa tanpa bayaran. Aksi positifnya tersebut berbuah manis dengan dikeluarkannya peraturan stop penggunaan gabus untuk lomba ogoh-ogoh di seluruh Kota Denpasar, diikuti kabupaten lainnya di Bali.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.48.03.jpeg
Anggota ST Gemeh Indah (Foto: ST Gemeh Indah)

Biaya pembuatan ogoh-ogoh dengan teknik mengulat lebih murah dibanding gabus. Paksi Ireng dibuat dari 15 batang bambu atau setara tiga balok gabus. Satu balok gabus dihargai Rp 800 ribu, sementara satu batang bambu cukup Rp 15 ribu ditambah dua ikat anyaman bedeg Rp 50 ribu.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.47.59.jpeg
Foto: ST Gemeh Indah

Proses pembuatan ogoh-ogoh dengan teknik mengulat memang lebih lama dari teknik gabus. Namun, ogoh-ogoh yang dihasilkan tentu saja tidak mencemari lingkungan.

Robotik

Transformasi ogoh-ogoh Bali bukan hanya dari figur saja. Undagi ogoh-ogoh dari Banjar Tainsiat, Denpasar Utara, I Nyoman Gede Sentana Putra alias Kedux tahun ini memasukkan seni robotik ke dalam ogoh-ogoh buatannya, Sang Hyang Aji Ratu Sumedang.

Kedux tak hanya dikenal sebagai maestro ogoh-ogoh Bali, namun juga jago membuat motor custom. Keahliannya ini salah satunya dituangkan ke dalam konsep ogoh-ogoh robotik.

Banjar Tainsiat setiap tahunnya selalu memberi sentuhan baru pada ogoh-ogohnya. Sang Hyang Aji Ratu Sumedang kali ini bisa bergerak ke atas dan bawah dengan teknik tertentu, menggunakan kabel dan rangka besi elektrik, sehingga ogoh-ogoh terkesan hidup. Kedux mengangkat tema ilmu pengeleakan dengan memvisualisasikan tokoh Sang  Hyang Aji Ratu Sumedang.

“Ini adalah semua rangkuman ilmu pengiwa bernama ajian Ratu Sumedang. Sang Hyang Aji Ratu Sumedang adalah dewa dari segala ilmu pengiwa yang sangat susah dan sangat angker untuk dipelajari dan dipuja,” ulas Kedux.

Kekuatan Sang Hyang Aji Ratu Sumedang menjadikan Bumi dan langit tempatnya tak terlihat. Semua desti, bhuta kala, dan seluruh leak terlahir dari spermanya yang hitam dan putih berkumpul menjadi satu.

Leak adalah ilmu kuno warisan nenek moyang umat Hindu Bali. Zaman sekarang orang cenderung memandang leak sebagai ilmu untuk menyakiti. Padahal, leak secara umum tidak menyakiti karena memiliki etika tersendiri, di antaranya hormat dan taat kepada ajaran yang diberikan, tidak boleh digunakan untuk menyakiti, tidak boleh memamerkan ilmu jika tidak dalam kondisi terdesak, dan selalu menjalankan dharma.

Hidup

Saat seluruh banjar di Bali sibuk membuat ogoh-ogoh, Banjar Pekan di Desa Pakraman Renon, Denpasar sepi dari aktivitas tahunan tersebut. Warga desa ini pantang membuat ogoh-ogoh karena dalam beberapa kesempatan patung raksasa itu hidup dan menakuti pengaraknya. Jika pun ada yang membuat, ogoh-ogoh di sini tidak diarak, melainkan langsung dibakar.

WhatsApp Image 2018-03-23 at 10.50.19.jpeg
Paksi Ireng Dipralina (Foto: ST Gemeh Indah)

Bandesa Adat Desa Pakraman Renon, I Made Sutama mengatakan pada 1986 masyarakat Renon terkejut karena ogoh-ogoh mereka hidup dan berjalan ketika diarak, disusul beberapa pengarak yang kesurupan.

“Pada 1995, masyarakat kembali mencoba membuat ogoh-ogoh, namun hal sama terulang kembali. Ogoh-ogoh tersebut akhirnya langsung dibakar begitu selesai diupacarai,” katanya.

WhatsApp Image 2018-03-16 at 16.58.30 (1)
Pawai ogoh-ogoh di Kawasan Legian, Kuta
WhatsApp Image 2018-03-16 at 11.53.09
Pawai Ogoh-Ogoh di Kawasan Gadjah Mada, Denpasar
WhatsApp Image 2018-03-16 at 11.53.09 (1)
awai Ogoh-Ogoh di Kawasan Gadjah Mada, Denpasar

Sebagai ganti ogoh-ogoh di malam Pengerupukan, masyarakat Renon membawa janur kuning, obor, kentungan, dan gamelan. Sebagian besar masyarakat Renon juga berkunjung ke desa lain jika ingin menyaksikan pawai ogoh-ogoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s