Siapa yang nggak kenal serial Fangs of Fortune? Apalagi kalau kamu penggemar My Journey to You dan Veils of Shadow. Kemungkinan besar kamu sudah akrab dengan nama Edward Guo alias Guo Jingming, sutradara yang hobi memanjakan mata penonton sekaligus menguji kewarasan kita.
Sutradara satu ini awalnya dikenal lewat novel populer, termasuk Tiny Times, sebelum merambah dunia film dan drama. Sekarang, kalau melihat Zhang Linghe dan Cheng Lei di My Journey to You, atau jajaran visual menawan di Fangs of Fortune, kita tahu standar kegantengan dan kecantikan dia memang nggak bisa ditawar.
Kostumnya niat, sinematografinya cakep, karakternya misterius. Belum lagi hubungan antartokohnya yang bikin kita sibuk menyusun teori sampai berasa lagi ngisi teka-teki.
TAPI, ADA SATU MASALAH BESAR: ENDING-NYA!
Entah kenapa, Edward Guo ini kayak alergi sama kebahagiaan penonton. Kita sudah rela menghabiskan puluhan episode, jatuh cinta sama karakter-karakternya, ikut tertawa, ikut baper, bahkan mulai menganggap mereka keluarga sendiri. Eh, begitu sampai penghujung cerita, jadi ubi.
Pilihan dia cuma dua, open ending atau sad ending. Siapa yang masih trauma sama episode terakhir My Journey to You? Hayo, angkat tangan! HAHAHA. Luka lama belum sembuh tahun 2023, setahun kemudian sudah diuji lagi dengan Fangs of Fortune. Cek trailernya di sini.

Sinopsis dan Rekap Fangs of Fortune
Kira-kira, kalau kamu harus bekerja sama dengan siluman yang pernah merenggut nyawa salah satu anggota keluargamu, bagaimana? Konfliknya adalah makin lama kamu kerja bareng sama siluman ini, meski pun awalnya terpaksa, pikiran jelek kamu soal dia perlahan berubah.
Sosok yang awalnya kamu curigai jahat itu ternyata punya sisi lain yang bikin kamu susah membencinya. Kurang lebih, begitulah perjalanan Wen Xiao, diperankan Chen Duling, dalam drama China Fangs of Fortune.
Ia harus bekerja sama dengan sesosok siluman bernama Zhao Yuanzhou/ Zhu Yan/ Ying Long, diperankan Hou Minghao. Awalnya, misi mereka adalah memburu siluman, mencari Jimat Baize, lalu mengembalikan keseimbangan dunia manusia dan dunia siluman. Namun, makin jauh mereka menyelidiki berbagai kasus, makin banyak pula rahasia yang terbongkar.

Zhao Yuanzhou Menyerahkan Diri
Cerita dimulai setelah Dewi Baize meninggal. Sosok ini punya peran penting dalam menjaga keseimbangan dunia manusia dan siluman. Masalahnya, Jimat Baize yang berkaitan dengan kekuatannya ikut menghilang.
Tanpa penjaga keseimbangan yang semestinya, para siluman mulai berkeliaran dan kekacauan pun terjadi di mana-mana.
Di tengah situasi tersebut, Zhao Yuanzhou, pemimpin siluman yang wujud aslinya adalah Zhu Yan, malah menyerahkan diri. Bukan karena tiba-tiba insaf, ya. Ia menawarkan bantuan untuk membentuk kembali Biro Penyelidikan Siluman dan mencari Jimat Baize.
Tentu saja, tawaran itu nggak langsung diterima banyak pihak. Zhuo Yichen, diperankan Tian Jiarui, pendekar pengguna pedang sakti Yun Guangjian, punya alasan pribadi untuk membenci Zhu Yan.
Peristiwa delapan tahun sebelumnya meninggalkan luka yang belum sembuh. Buat Zhuo Yichen, bekerja sama dengan siluman yang satu ini jelas bukan perkara mudah.
Di sisi lain, ada Wen Xiao, murid Dewi Baize yang juga sedang mencari Jimat Baize. Selain kunci untuk memulihkan keseimbangan dunia, Wen Xiao sendiri membutuhkan benda itu untuk memulihkan diri dan mengembalikan kekuatannya.
Zhao Yuanzhou tahu kondisi Wen Xiao terus memburuk. Karena itu, mereka sepakat bekerja sama. Misi pencarian Jimat Baize pun mempertemukan lima orang dengan kepentingan yang berbeda-beda.
Selain Zhao Yuanzhou, Wen Xiao, dan Zhuo Yichen, ada Pei Sijing, diperankan Cheng Xiao, pemanah andal yang meninggalkan Kamp Chongwu setelah sebuah pembantaian desa.
Ia juga menyimpan persoalan pribadi tentang kakaknya, Pei Siheng, diperankan Lai Weiming.
Lalu ada Bai Jiu, diperankan Lester Lin, tabib muda yang pintar meracik obat, tetapi gampang gugup dan sering merasa dirinya nggak cukup hebat.
Lima orang ini berkumpul dalam satu tim tapi punya tujuan pribadi masing-masing. Ada yang ingin membalas dendam, ada yang hendak memulihkan kekuatan, ada yang mencari keluarganya, dan ada pula yang cuma ingin menyelamatkan orang yang disayangi.
Mereka jelas bukan kelompok yang langsung akur sejak hari pertama. Namun, kasus demi kasus membuat mereka perlahan saling mengenal.



Penculikan Pengantin sampai Siluman Bucin
Kasus-kasus awal membawa tim ini berhadapan dengan Water Ghost, siluman air yang berkaitan dengan penculikan para pengantin. Penyelidikan mereka membuka berbagai kejanggalan.
Beberapa informasi seperti sengaja disembunyikan, lantaran ada keluarga yang lebih sibuk menjaga kepentingan sendiri, dan ada korban yang seolah cuma dianggap bagian dari sebuah rahasia besar.
Mereka kemudian menghadapi Ran Yi, diperankan Riley Wang, siluman yang bisa memanipulasi mimpi. Dia bisa membuat ketakutan terbesar seseorang berubah menjadi sesuatu yang terasa nyata dan bikin korbannya nggak bisa keluar dari sana. Itulah teror yang dihadapi para korbannya.
Dari satu kasus ke kasus lain, tim ini mulai memahami bahwa label manusia dan siluman nggak otomatis menentukan siapa yang baik dan siapa yang jahat. Manusia pun bisa tega mengorbankan orang lain demi keuntungan sendiri.
Sebaliknya, siluman pun punya perasaan, alasan, bahkan luka yang membuat kita bisa memahami tindakan mereka, meskipun nggak selalu membenarkannya.
Salah satu kasus yang paling berkaitan dengan urusan hati adalah Chenghuang, diperankan Cheng Lei. Makhluk ini memanfaatkan obsesi manusia dan mengubah orang-orang yang terperangkap dalam keinginan mereka menjadi boneka.
Pei Sijing ikut terseret karena kakaknya, Pei Siheng, ternyata sudah berubah menjadi siluman. Selama ini, Pei Siheng merasa dirinya lemah dan selalu berada di bawah bayang-bayang sang adik. Ia ingin menjadi lebih kuat supaya Pei Sijing nggak harus terus melindunginya.
Sayangnya, keinginan itu justru dimanfaatkan Chenghuang. Pei Siheng melakukan berbagai tindakan buruk, sementara Pei Sijing harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa orang yang ingin ia lindungi sudah berubah menjadi sosok yang sulit ia kenali.
Ketika pertarungan berakhir, Pei Siheng tewas di tangan Chenghuang. Namun, Zhao Yuanzhou menggunakan kekuatannya untuk mempertahankan kesadaran Pei Siheng dalam tubuh boneka. Jadi, meskipun sudah meninggal, Pei Siheng masih bisa menemani adiknya untuk sementara waktu.
Kasus siluman boneka, Chenghuang ini cukup menarik. Di balik semua tindakannya, ternyata tersimpan kisah cintanya dengan Dewi Baize di masa lalu. Chenghuang ingin menyelamatkan sang dewi yang jatuh sakit, bahkan sampai tega membantai orang dan berusaha memutar waktu agar bisa mengulang masa lalu mereka.
Niatnya mungkin berawal dari cinta. Namun, ketika keinginan menyelamatkan seseorang membuatnya merasa berhak mengorbankan orang lain, cinta itu berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Wen Xiao dan Zhao Yuanzhou akhirnya harus bekerja sama untuk menghentikannya.




Ujian Persahabatan Fei dan Qing Geng
Perjalanan tim berlanjut ke Sinan Water Town, kota yang dilanda wabah. Di sana, mereka bertemu Qing Geng dan Fei, masing-masingnya diperankan Ai Mi dan Zuo Ye, dua makhluk yang hubungannya ikut terseret dalam kekacauan.
Fei tanpa sengaja membawa wabah ke kota. Ia takut keberadaannya justru membahayakan orang lain, sehingga memilih menjauh dan hidup dalam kesepian. Qing Geng sempat melindungi masyarakat, tetapi hubungannya dengan Fei akhirnya terganggu oleh campur tangan Li Lun, diperankan Yan An.
Li Lun memanfaatkan keadaan untuk menanamkan kecurigaan di antara mereka. Qing Geng menjauh, sementara Fei memilih mengorbankan diri demi menyelamatkan orang yang disayanginya.
Sebetulnya, Fei bukan nggak peduli sama Qing Geng. Ia merasa dirinya sumber bahaya. Sementara itu, Qing Geng harus menghadapi kenyataan setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Di tengah wabah, Bai Jiu bekerja keras mencari ramuan untuk membantu warga. Kemampuannya sebagai tabib semakin terlihat andal. Ia memang masih penakut, tetapi ketika orang lain membutuhkan pertolongan, ia terus berusaha melakukan sesuatu.
Hubungan Bai Jiu dengan Zhuo Yichen juga semakin dekat. Zhuo Yichen yang biasanya serius perlahan menjadi sosok yang bisa diandalkan sebagai sahabat.
Sementara itu, kedekatan Wen Xiao dan Zhao Yuanzhou juga makin terasa. Zhao Yuanzhou memang suka menggoda Wen Xiao, tetapi di balik sikap santainya, dia menyimpan kesedihan mendalam.
Ia sudah hidup begitu lama, menyaksikan banyak orang datang dan pergi, sekaligus menanggung akibat dari kekuatan besar yang ada dalam dirinya.
Kebersamaan dengan Wen Xiao dan anggota tim lainnya membuat Zhao Yuanzhou mulai melihat manusia dengan cara berbeda. Dulu, siluman sepertinya punya banyak alasan untuk menjauh dari dunia manusia. Sekarang, justru ada orang-orang yang ingin ia lindungi.
Sayangnya, menemukan alasan untuk bertahan hidup nggak berarti masa lalu bisa begitu saja dilupakan.

Rahasia Wen Zongyu dan Bai Jiu
Semakin jauh mereka menyelidiki berbagai kasus, semua kekacauan itu rupanya bukan kejadian yang berdiri sendiri. Tenryata ada seseorang yang bergerak di balik layar, menyusun rencana untuk mendapatkan kekuatan besar.
Namanya Wen Zongyu, diperankan Liu Huan. Ia terlibat dalam eksperimen yang mengubah manusia menjadi makhluk mirip siluman dan bekerja sama dengan Kamp Chongwu. Targetnya adalah kekuatan Zhao Yuanzhou, termasuk kekuatan yang berkaitan dengan Kayu Ilahi.
Wen Zongyu juga ternyata punya hubungan dengan Bai Jiu. Tabib muda yang selama ini ikut membantu tim itu diam-diam menjadi mata-mata. Ia melakukan semua itu karena Wen Zongyu menjanjikan kesembuhan bagi ibunya.
Belakangan, terungkap bahwa ibu Bai Jiu, Bai Yan, bukan manusia biasa. Ia adalah Kayu Ilahi itu, yang berperan penting menjaga keseimbangan dunia. Rupanya, delapan tahun sebelumnya, Bai Yan terluka dan berubah menjadi pohon belalang demi mempertahankan keberadaannya.
Bai Jiu pun terjebak dalam situasi yang menyakitkan. Ia mengkhianati orang-orang yang selama ini memperlakukannya dengan tulus, tetapi semua itu dilakukan karena ingin menyelamatkan ibunya. Teman-temannya tentu kecewa, tetapi mereka juga tahu Bai Jiu telah dimanfaatkan.
Di balik pengkhianatan tersebut, Wen Zongyu ternyata sedang menjalankan rencana lebih besar. Ia menyegel kelima indra Zhao Yuanzhou satu per satu. Tujuannya memicu amarah dan membangkitkan kekuatan Kayu Ilahi di dalam tubuhnya.
Ketika rencana itu berhasil, Zhao Yuanzhou kehilangan kendali. Pada saat yang sama, Wen Xiao dituduh membunuh Perdana Menteri dan terpaksa melarikan diri.
Di sisi lain, Li Lun semakin menunjukkan permusuhannya terhadap Zhao Yuanzhou. Padahal, mereka dulunya adalah sahabat. Li Lun merasa Zhao Yuanzhou telah mengkhianati kaumnya sendiri, yaitu kaum siluman, karena memilih berpihak kepada manusia.
Bagi Li Lun, manusia sudah berkali-kali menyakiti siluman. Ia nggak bisa memahami mengapa Zhao Yuanzhou justru mulai menyayangi manusia dan menganggap tim pemburu siluman sebagai keluarganya.
Li Lun pun gelap mata. Sekarang, dia bukan sekadar ingin mengalahkan Zhao Yuanzhoul melainkan juga ingin membuat sahabat lamanya itu merasakan kesepian yang selama ini ia tanggung.

Pengorbanan Demi Pengorbanan
Jelang akhir cerita, satu per satu anggota tim harus menghadapi kehilangan. Ying Lei, diperankan Xu Zhenxuan, lebih dahulu mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Bai Jiu. Ia meninggalkan kenangan berupa puding almond, makanan yang mengingatkan Bai Jiu pada ibunya.
Hadiah sederhana itu terasa menyakitkan karena menjadi salah satu kenangan terakhir Bai Jiu bersama sosok yang memperlakukannya seperti adik sendiri.
Pei Sijing juga harus menerima kenyataan bahwa ia nggak bisa mempertahankan kakaknya selamanya. Tubuh boneka yang menampung kesadaran Pei Siheng akhirnya rusak dan nggak bisa diperbaiki lagi.
Setelah sempat mendapatkan kesempatan untuk bersama sang kakak, Pei Sijing kembali harus kehilangan dirinya.
Sementara itu, Zhao Yuanzhou berusaha menyelamatkan Wen Xiao dari racun. Ia rela menyerahkan inti kekuatannya agar pedang Yun Guangjian bisa diperbaiki.
Keputusan ini membuat kekuatannya jauh berkurang, padahal ia masih harus menghadapi ancaman yang jauh lebih besar.
Pertarungan terakhir melibatkan Zhao Yuanzhou, Zhuo Yichen, Li Lun, dan Wen Zongyu. Di tengah pertarungan itu, Li Lun akhirnya memilih membantu dua orang yang selama ini ia lawan.
Ia membagi kekuatan silumannya kepada Zhao Yuanzhou dan Zhuo Yichen, lalu menggunakan dirinya sendiri untuk menarik energi Kayu Ilahi dan melemahkan Wen Zongyu.
Pengorbanan Li Lun memberi mereka kesempatan untuk menyerang titik kelemahan Wen Zongyu. Zhao Yuanzhou membantu Zhuo Yichen menembus inti kekuatan musuh yang tersembunyi di sikunya.
Wen Zongyu sempat berhasil dikalahkan. Namun, ia masih punya kemampuan untuk bangkit kembali dari abu, seperti burung phoenix. Jadi, pertarungan belum benar-benar selesai.
Bai Jiu kemudian menemukan altar yang menjadi sumber kemampuan Wen Zongyu untuk hidup kembali. Ia menghancurkan tempat itu, memutus kemungkinan sang penjahat bangkit lagi. Namun, tindakan tersebut membuat Bai Jiu tewas.
Ketika Zhuo Yichen menemukan tubuh Bai Jiu, tabib muda itu sudah tak bisa diselamatkan. Ia masih menggenggam lonceng pemberian Zhuo Yichen. Pemandangan itu menjadi pukulan telak bagi Zhuo Yichen, yang selama ini melihat Bai Jiu sebagai teman yang perlu dilindungi.
Ironisnya, Bai Jiu yang dulu mudah panik dan sering meragukan dirinya sendiri justru berani mengambil keputusan yang menyelamatkan banyak orang.
Wen Zongyu akhirnya tak bisa lagi menggunakan sumber kekuatannya untuk bangkit. Namun, kematiannya bukan akhir dari semua masalah. Di Tiandu, banyak penduduk jatuh koma dan terancam berubah menjadi siluman. Dunia masih membutuhkan satu pengorbanan lagi.






Zhao Yuanzhou Menjadi Hujan
Setelah semua kejadian itu, Wen Xiao menemukan cara untuk menyelamatkan penduduk Tiandu. Ia berencana menggunakan kekuatan Dewi Baize dan mengubahnya menjadi hujan yang bisa memulihkan warga.
Akan tetapi, cara itu membawa risiko besar bagi dirinya sendiri. Zhao Yuanzhou mengetahui bahwa racun yang ada dalam tubuh Wen Xiao bisa membuatnya kehilangan nyawa jika ia memaksakan diri.
Di sinilah ramalan lama kembali muncul. Zhao Yuanzhou mengetahui bahwa ia memang ditakdirkan mati di bawah pedang Yun Guangjian untuk mengaktifkan Jimat Baize dan memulihkan keseimbangan dunia.
Wen Xiao tentu nggak mau menerima kenyataan itu. Setelah kehilangan begitu banyak orang, ia masih harus menghadapi kemungkinan kehilangan Zhao Yuanzhou juga yang sangat dia cintai. Namun, Zhao Yuanzhou sudah mengambil keputusan.
Ia mengikat Wen Xiao agar perempuan itu nggak bisa menghentikannya. Ia juga menyerap racun dari tubuh Wen Xiao, memilih menanggung akibatnya sendiri supaya Wen Xiao tetap hidup.
Keputusan Zhao Yuanzhou bukan sekadar menyelamatkan orang yang dicintainya. Ia juga ingin menyelamatkan penduduk Tiandu dan mengakhiri kekacauan yang selama ini menghantui dunia manusia serta siluman.
Ketika Wen Xiao akhirnya berhasil membebaskan diri, Zhao Yuanzhou sudah berada dalam kondisi yang sangat lemah. Ia tak lagi punya banyak waktu. Tubuhnya perlahan menghilang menjadi asap hijau.
Penduduk Tiandu akhirnya selamat dari ancaman tersebut. Namun, Wen Xiao harus menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini berjalan di sisinya sudah pergi.
Wen Xiao kembali teringat, dulu, dia pernah bertanya kepada Zhao Yuanzhou, kelak ingin menjadi apa. Jawaban Zhao Yuanzhou adalah dia ingin menjadi hujan.
Sekarang, hujan menjadi pengingat bagi Wen Xiao tentang sosok yang pernah hadir dalam hidupnya. Zhao Yuanzhou memang tak lagi bisa menemaninya dalam wujud manusia, tetapi keinginannya untuk melindungi dunia akhirnya terwujud.

Review Fangs of Fortune
Bagaimana pemirsa? Ubi juga akhirnya kan? Male lead kita metong. Emang si Raja Tega sutradara satu ini.
Begitu banyak karakter tercinta yang mati. Li Lun mengorbankan dirinya setelah konflik panjang dengan Zhao Yuanzhou. Bai Jiu gugur ketika menghancurkan sumber kebangkitan Wen Zongyu.
Pei Sijing kehilangan kakaknya untuk kedua kalinya. Puncaknya, Zhao Yuanzhou memilih pergi demi menyelamatkan Wen Xiao serta penduduk Tiandu. Mereka berhasil menghentikan ancaman besar, tetapi nggak semua orang bisa pulang bersama.
Yah, walau pun endingnya ubi, tapi ubi yang ini masih bisa aku terima lah. Lukanya nggak berdarah terus kayak My Journey to You.
Jadi, apakah Fangs of Fortune cuma menang visual, atau memang punya cerita yang layak diikuti sampai akhir? Ini alasanku memberi drama fantasi ini nilai 9/10, meski ada beberapa hal yang masih mengganjal.



Hou Minghao sebagai Zhao Yuanzhou
Ini orang emang biang keroknya, tapi bikin susah move on. Kalau harus memilih satu pemeran yang paling mencuri perhatianku, jawabannya ya pastilah Zhao Yuanzhou.
Reputasinya sebagai siluman besar sudah cukup membuat orang gentar. Kekuatannya bukan main, masa lalunya panjang, dan kehadirannya nggak bisa dianggap enteng.
Tapiii… begitu masuk ke cerita, kita malah sering melihat sisi usilnya. Dia suka menggoda Wen Xiao, mengusili orang-orang di sekitarnya, dan kadang bertingkah seolah tidak ada masalah serius yang sedang menunggunya di depan.
Zhao Yuanzhou punya bakat membuat suasana jadi ramai. Sayangnya, kalau sudah mulai serius, auranya bisa berubah dalam sekejap.
Meski kelihatannya santai, hidupnya sebetulnya kesepian dan dihantui rasa bersalah yang sudah lama dia bawa. Hou Minghao memainkan dua sisi ini dengan meyakinkan.
Adegan pertarungan di Fangs of Fortune ini NO DEBAT. Gerakan-gerakan Zhao Yuanzhou anggun, tetapi berbahaya. Dia sudah hidup begitu lama dan menguasai kekuatannya dengan sangat baik.
Pada awal cerita, Zhao Yuanzhou seperti seseorang yang sudah menerima kemungkinan kematiannya sendiri. Hidup panjang tidak serta-merta membuatnya punya alasan untuk terus bertahan. Lalu dia bertemu Wen Xiao dan anggota tim lainnya. Perlahan, dia mulai menemukan sesuatu yang ingin dipertahankan.
Sejak mereka berkumpul bersama nih, hatiku mulai nggak aman. Zhao Yuanzhou akhirnya punya orang-orang yang membuatnya ingin hidup lebih lama. Sayangnya, ketika dia merasakan itu, takdir malah menetapkan sebaliknya.
Kita melihat seseorang yang semula seolah tidak takut kehilangan apa pun, kemudian punya begitu banyak hal yang tidak ingin dia tinggalkan.

Chen Duling sebagai Wen Xiao
Sebagai murid Dewi Baize, Wen Xiao membawa tanggung jawab besar. Kondisi fisiknya tidak selalu mendukung, sementara nasibnya sendiri berkaitan erat dengan Jimat Baize.
Aku suka lantaran Wen Xiao punya tujuan dan keberanian mengambil keputusan. Dia bukan sekadar karakter perempuan yang menunggu Zhao Yuanzhou datang menyelamatkan keadaan.
Ketika tim menghadapi masalah, dia ikut mencari jalan keluar dan berusaha menjaga misi mereka tetap berjalan.
Hubungannya dengan Zhao Yuanzhou penuh dinamika tapi menyenangkan. Mereka bisa saling menggoda, berdebat, lalu mendadak berbicara serius tentang sesuatu yang selama ini dipendam.
Chemistry mereka tumbuh lewat percakapan dan kebersamaan, bukan lewat adegan romantis yang sengaja dibuat manis.
Aku suka romansa yang tumbuh di tengah konflik seperti ini. Dua orang bisa saling menyayangi, tetapi mereka tetap harus berhadapan dengan dunia di luar hubungan mereka.

Tian Jiarui sebagai Zhuo Yichen
Zhuo Yichen, yang diperankan Tian Jiarui, awalnya tampak kaku dan serius. Dia juga sulit menerima Zhao Yuanzhou.
Kalau melihat masa lalu mereka, sikap itu cukup bisa dimengerti. Kita sama-sama tahu bahwa luka dan ketidakpercayaan tidak mungkin hilang hanya karena kita terpaksa bekerja dalam satu tim dengan orang yang kita benci.
Hanya saja, semakin jauh cerita berjalan, kita melihat sisi lain Zhuo Yichen. Dia memang bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan perasaan. Kalau peduli, dia lebih mungkin menunjukkannya lewat tindakan daripada mengucapkan kalimat manis.
Hubungannya dengan Zhao Yuanzhou salah satu bagian yang paling kunikmati. Jadi teringat, chemistry Zhang Linghe dan Tian Jiarui pas di My Journey to You.
Awalnya saling curiga, kemudian belajar bekerja sama, sampai akhirnya mereka bisa mengandalkan satu sama lain. Kita sebagai penonton mengikuti prosesnya.
Kamu ngerasain juga nggak, bromance mereka lebih bikin baper daripada romansa FL ML di Fangs of Fortune ini? Itulah keunggulan Edward Guo.
Dia bisa bikin dua karakter bromance yang punya banyak alasan untuk tidak saling percaya akhirnya rela mempertaruhkan nyawa demi satu sama lain.

Chen Xiao sebagai Pei Sijing
Pei Sijing seorang pemanah tangguh yang membawa luka masa lalu dan persoalan keluarga. Dia terbiasa terlihat kuat dan tidak gampang memperlihatkan kelemahan. Namun, urusan kakaknya, Pei Siheng, berkali-kali menggoyahkan pertahanan itu.
Di balik sikap kerasnya, dia takut kehilangan seseorang yang ingin dia lindungi. Untuk adegan emosional, penampilan Cheng Xiao lebih meyakinkan di bagian akhir, ketika konflik Pei Sijing semakin berat. Aku bisa merasakan perkembangan karakternya dibandingkan beberapa adegan awalnya.
Meski begitu, aku masih merasa ada ruang untuk pendalaman karakter yang lebih jauh. Latar belakang dan konflik keluarga Pei Sijing punya potensi besar. Aku ingin melihat lebih banyak sisi dirinya, bukan hanya ketika dia harus bertahan atau menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi.

Lester Lin sebagai Bai Jiu
Jangan tertipu kelucuan dia, permisa! Bai Jiu, yang diperankan Lester Lin, awalnya terlihat seperti anggota tim yang paling gampang panik. Dia punya kemampuan mengobati orang, tetapi sering merasa dirinya tidak sehebat anggota tim lain.
Dia mudah disukai gara-gara itu. Dia tidak langsung berubah menjadi sosok pemberani yang bisa menghadapi semuanya tanpa ragu. Dia tumbuh seiring bertambahnya pengalaman, intensitas melakukan kesalahan, rasa bersalah, dan keinginannya untuk menyelamatkan orang-orang yang berarti baginya.
Di tengah konflik yang semakin berat, Ying Lei membawa warna berbeda. Interaksi keduanya punya kehangatan yang membuat suasana cerita tidak terus-menerus terasa muram.

Ying Lei bisa menjadi sosok yang melindungi, sementara Bai Jiu perlahan belajar bahwa dirinya pun mampu melakukan sesuatu untuk orang lain. Kekeluargaan tumbuh dari kebersamaan mereka.
Salah satu detail yang paling membekas buatku adalah puding almond buatan Ying Lei. Cuma makanan, tapi… di dalam cerita, detail itu membawa kenangan tentang kasih sayang, rumah, dan seseorang yang ingin membuat Bai Jiu merasa lebih baik.
Cukup dengan melihat bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain, aku sudah punya alasan untuk berharap mereka baik-baik saja. Sayangnya, nasib mereka tidak happy ending.

Yan An sebagai Li Lun
Selain hubungan dengan Wen Xiao, hubungan Zhao Yuanzhou dengan Li Lun juga punya daya tarik sendiri.
Li Lun bukan penjahat yang tiba-tiba muncul dengan niat menghancurkan dunia tanpa alasan. Dia punya sejarah panjang dengan Zhao Yuanzhou.
Persahabatan mereka yang berubah menjadi permusuhan punya alasan lebih personal. Li Lun tidak bisa menerima keputusan Zhao Yuanzhou untuk berpihak kepada manusia.
Dari sudut pandangnya, Zhao Yuanzhou seperti meninggalkan kaumnya sendiri demi manusia yang mungkin suatu hari akan menyakiti mereka.
Kalau dipikir-pikir, konflik mereka memang tidak sesederhana siapa yang benar dan siapa yang salah. Kekecewaan Li Lun sudah menumpuk. Sekarang, dia dan Zhao Yuanzhou punya perbedaan pilihan. Itulah yang membuat sakitnya sukar sembuh.
Li Lun ingin Zhao Yuanzhou memahami apa yang selama ini dia rasakan. Masalahnya, cara mereka memandang dunia sudah berbeda. Persahabatan di masa lalu tidak otomatis membuat mereka bisa menerima keputusan satu sama lain.

Yan An berhasil memberikan karakter yang menarik pada Li Lun. Dia bisa terlihat tenang dan penuh perhitungan, tetapi ketika berhadapan dengan Zhao Yuanzhou, kemarahan serta kekecewaannya langsung berapi-api.
Aku suka hubungan mereka karena ada sejarah di balik setiap pertentangan. Ketika akhirnya mereka kembali berada di sisi yang sama, rasanya campur aduk ya.
Lega karena mereka bisa bekerja sama lagi, tetapi juga sedih karena dua-duanya terpisah nyawa.

Visual, Kostum, dan OST
Kalau kamu sudah pernah menonton karya Edward Guo, kamu mungkin tahu bahwa visual adalah salah satu hal yang paling mudah menarik perhatian. Fangs of Fortune juga punya ciri khas itu.
Banyak adegannya terasa seperti lukisan. Perpaduan warna, pencahayaan, kostum, dan latar dibuat dengan perhatian besar terhadap komposisi. Hutan, rumah bunga, bangunan kuno, hujan, hingga adegan pertarungan punya suasana visual yang berbeda.
Aku paling menikmati bagaimana unsur-unsur itu membantu membangun dunia fantasinya. Perbedaan antara manusia, siluman, dan makhluk berkekuatan khusus juga diperkuat lewat desain kostum para tokoh.
Pakaian mereka selain pemanis, juga ikut membantu membangun identitas masing-masing. Adegan pertarungannya pun punya gaya tersendiri. Gerakan karakter dipadukan dengan efek visual dan kekuatan gaib, menghasilkan pertarungan dramatis. Beberapa gerakan sengaja slow motion agar terlihat lebih indah.
Kalau kamu lebih suka koreografi cepat dan realistis, gaya seperti ini mungkin tidak selalu cocok. Beberapa adegan mementingkan komposisi visual daripada kecepatan aksi. Ini sih pilihan estetika drama ya.
Kostum dan visual memang gampang membuat orang terpikat sejak awal. Namun, musiknya juga layak dikasih jempol.
OST Fangs of Fortune manjur banget menghidupkan suasana. Lagu-lagunya juga bisa membawa ingatan kita sebagai penonton kembali pada karakter atau kejadian tertentu setelah drama selesai.









Kekurangan Fangs of Fortune
Aku menikmati Fangs of Fortune, tetapi bukan berarti semua bagiannya bekerja sempurna. Beberapa hal yang menurutku bisa dibuat lebih baik.
Pertama, alurnya. Drama ini punya banyak kasus, karakter, dan rahasia masa lalu yang perlahan terhubung.
Kalau kamu nonton sambil sibuk main HP, dijamin, kamu berisiko kehilangan detail penting. Beberapa hubungan antartokoh dan kejadian sebelumnya perlu diingat agar konflik berikutnya tetap mudah diikuti.
Buat penonton yang suka cerita berlapis, ini bisa menjadi hal menarik. Namun, kalau kamu lebih suka alur yang langsung dan sederhana, beberapa bagian mungkin agak melelahkan.
Kedua, peralihan dari komedi ke tragedi kadang terlampau tajam. Misalnya nih, pas ada tingkah anggota yang bikin ketawa, lalu sedetik kemudian cerita membawa mereka ke konflik berat. Perubahan suasananya bisa terlampau mendadak.
Aku pribadi masih bisa menikmati perpaduan ini karena sudah biasa. Hehehe. Namun, aku bisa memahami kalau ada penonton yang merasa peralihannya terlalu cepat.
Ketiga, beberapa karakter pendukung layak mendapat porsi lebih besar. Ada loh karakter yang bikin aku penasaran, tetapi kisah mereka belum digali sejauh potensinya. Aku ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang, alasan di balik keputusan mereka, dan bagaimana mereka berubah setelah menghadapi berbagai konflik.
Ketika sebuah karakter sudah menarik perhatian, kan rasanya sayang kalau kita hanya mendapat sebagian kecil dari kisahnya sebelum cerita kembali berfokus pada konflik utama.
Keempat, visual cantik kadang mengalahkan tempo aksi. Ini lebih soal selera sih, tetapi beberapa pertarungan terasa sengaja diperlambat untuk menonjolkan keindahan gerakan. Hasilnya memang memanjakan mata, tetapi tidak selalu memberi sensasi aksi yang cepat dan intens.
Kalau kamu menyukai pertarungan fantasi yang lebih artistik, kemungkinan besar kamu akan menikmati gaya ini. Kalau yang dicari adalah koreografi ringkas dan realistis, mungkin perlu sedikit penyesuaian.
Dan soal ending… siapkan hati. Fangs of Fortune tidak memberikan akhir manis untuk semua karakter. Pengorbanan menjadi bagian penting dari penyelesaian cerita, dan penonton harus siap dengan kehilangan.
Jadi, kalau kamu berharap semua karakter bisa pulang bersama dan hidup bahagia setelah petualangan selesai, drama ini tidak akan pernah mengikuti keinginan penontonnya. HAHAHA.
Jadi, Fangs of Fortune Layak Ditonton Nggak?
Jawabanku sangat layak, terutama kalau kamu suka drama fantasi yang memadukan mitologi, misteri, persahabatan, dan romansa tipis-tipis.
Kekuatan Fangs of Fortune ada pada hubungan antarkarakternya. Mereka sepanjang cerita terus berprasangka, diuji kesetiaannya, ditantang rasa bersalah, dan harus membuat pilihan terbaik ketika kepentingan pribadi bertabrakan dengan keselamatan orang lain.
Siapa yang sebenarnya pantas disebut jahat? Apakah seseorang bisa membenarkan tindakan kejam hanya karena merasa punya alasan yang benar? Bagaimana seseorang menjalani hidup ketika merasa nasibnya sudah ditentukan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus membayangi kita sampai episode terakhir selesai. Aku kasih skor 9.0/10. Bagaimana kesanmu setelah menontonnya? Bagi di kolom komentar ya.

Leave a Comment