The First Frost baru aku review sekarang? Iya, saudara-saudara. HAHAHAHA. Bukan karena aku nggak suka dramanya. Pas tayang Februari–Maret 2025 itu, aku masih jadi editor di salah satu media online yang ngurusin berita showbiz dan Asian drama.
Kebayang, kan? Hampir tiap hari ketemu Sang Yan dan Wen Yifan. Hari ini bikin artikel episode 7-8, besok bahas lagi episode 9-10, lusa ketemu lagi sampai spin-off Hidden Love ini tamat. Bai Jingting dan Zhang Ruonan tuh sudah kayak rekan sekantorku aja.
Lama-lama, sesuatu yang kita suka pun bisa bikin enek kalau tiap hari harus dibahas demi pekerjaan. Sampai giliran mau nulis review di blog sendiri, aku malah hilang selera. Serius. Sekali lagi, bukan dramanya yang bikin ilfeel, ya. Aku cuma sudah terlalu kenyang sama materi yang sama.
Baru sekarang akhirnya ada waktu buat nulis. Toh, sampai hari ini masih banyak yang nonton ulang The First Frost atau baru mau mulai. Jadi, buat kalian yang masih kesengsem sama Bai Jingting alias Sang Yan, sini merapat!

Sinopsis dan Rekap The First Frost
Seandainya kamu bertemu lagi dengan cinta pertamamu setelah enam tahun berpisah. Belum sempat membereskan perasaan lama, kalian malah harus tinggal di apartemen yang sama pula. Inilah yang terjadi pada Wen Yifan dan Sang Yan dalam drama China The First Frost.
Mereka berlagak seperti dua orang asing, meski masa lalu masih membekas di antara keduanya. Sang Yan, diperankan Bai Jingting, masih suka menggoda dan bertingkah seolah tak ada yang bisa membuatnya kehilangan kendali. Wen Yifan, diperankan Zhang Ruonan, lebih pendiam dan sulit ditebak.
Di antara mereka, ada cerita yang belum selesai. Keputusan Wen Yifan meninggalkan Sang Yan saat SMA rupanya menyisakan pengalaman pahit yang membuat gadis itu memilih menjauh, bahkan dari orang yang paling ingin melindunginya.

Berawal dari Teman Sebangku
Wen Yifan pertama kali bertemu Sang Yan saat mencari ruang kelas di hari pertama SMA. Bukannya langsung membantu, cowok itu malah menyuruhnya mencari sendiri. Tak lama kemudian, mereka justru menjadi teman sebangku.
Sang Yan dikenal percaya diri, jahil, dan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya kepada Wen Yifan. Ia mencari alasan untuk pulang bersama, naik bus yang sama, atau sekadar berada di dekat gadis itu. Bahkan, ia pernah memanfaatkan bantuan adiknya, Sang Zhi, untuk membuat pertemuan mereka terlihat seperti kebetulan.
Di balik kebiasaannya yang suka menggoda, Sang Yan cukup peka terhadap keadaan Wen Yifan. Ia tahu gadis itu ingin terus menari, tetapi biaya les menjadi masalah setelah ayahnya meninggal. Ketika ibu Wen Yifan memintanya berhenti mengejar impian tersebut, Sang Yan berusaha mencarikan tempat agar ia tetap bisa berlatih.
Kehidupan Wen Yifan memang berubah setelah ayahnya tiada. Ia harus tinggal bersama keluarga bibinya di Beiyu, sementara ibunya, Zhao Yuandong, membangun keluarga baru. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menyimpan persoalan yang sulit ia ceritakan kepada siapa pun.
Sang Yan berusaha hadir ketika Wen Yifan membutuhkan bantuan. Ia mendampinginya menghadapi ujian seni dan berusaha memastikan gadis itu baik-baik saja. Namun, Sang Yan tak sepenuhnya mengetahui kehidupan Wen Yofan. Perempuan itu ternyata menyimpan pengalaman traumatis yang membuatnya takut membuka diri, bahkan kepada orang yang sangat ia sayangi.


Perpisahan tanpa Penjelasan
Menjelang kelulusan SMA tahun 2018, Wen Yifan dan Sang Yan sempat berencana melanjutkan kuliah di Nanwu University. Bagi Sang Yan, rencana itu berarti mereka masih bisa bersama setelah lulus. Ia sudah membayangkan masa depan yang melibatkan Wen Yifan di dalamnya.
Sayangnya, Wen Yifan justru memilih Yihe University, jauh dari Nanwu. Sang Yan tentu tak mengerti. Selama ini, ia merasa sudah menunjukkan keseriusannya. Mengapa Wen Yifan tiba-tiba mengubah rencana dan menjauh darinya?
Ketika mereka akhirnya membicarakan pilihan itu, Wen Yifan meminta Sang Yan berhenti mencarinya. Ia tak ingin laki-laki itu terus mengejarnya. Sang Yan yang terbiasa menghadapi banyak hal dengan percaya diri mendadak tak tahu harus berbuat apa.
Pada suatu malam saat hujan turun, pertengkaran mereka berujung pada perpisahan. Sang Yan bertanya apakah selama ini dirinya hanya menjadi pilihan kedua bagi Wen Yifan? Percakapan itu menyisakan luka bagi keduanya. Sang Yan pergi, sementara Wen Yifan harus menanggung keputusan yang ia buat sendiri.
Sang Yan tak tahu alasan sebenarnya di balik sikap Wen Yifan. Gadis itu bukan tiba-tiba hilang rasa sama dia. Pengalaman buruk di rumah bibinya membuatnya takut jika kedekatannya dengan Sang Yan justru menyeret laki-laki itu ke dalam masalah yang sama. Menjauh mungkin satu-satunya jalan yang bisa ia ambil saat itu.
Enam tahun berlalu. Mereka melanjutkan hidup masing-masing, tetapi tak pernah benar-benar membereskan apa yang terjadi di antara mereka.

Bertemu Lagi di Nanwu
Wen Yifan akhirnya kembali ke Nanwu untuk bekerja sebagai reporter di Nanwu TV. Sebelumnya, ia bekerja di media cetak Yihe Daily. Kini, ia harus menyesuaikan diri dengan ritme kerja televisi yang lebih cepat dan tuntutan liputan lapangan.
Dalam salah satu tugasnya, Wen Yifan menghadapi situasi berbahaya ketika menyelidiki pelaku usaha ilegal. Ia juga menunjukkan keberanian saat membantu korban kecelakaan di jalan. Sikapnya itu mendapat apresiasi di tempat kerja.
Kejutan yang lebih besar menunggunya di luar urusan pekerjaan. Wen Yifan bertemu kembali dengan Sang Yan di Overtime, sebuah gastropub yang dikelola laki-laki itu bersama teman-temannya.
Pertemuan yang seharusnya nostalgia malah berlangsung canggung. Sang Yan bersikap seolah tak mengenalnya. Wen Yifan mengikuti sikap yang sama.
Tak ada sapaan hangat atau obrolan tentang masa lalu antara keduanya. Mereka seperti dua asing yang kebetulan pernah bertemu, padahal masing-masing tahu betul siapa yang berdiri di hadapannya.
Urusan tempat tinggal kemudian membuat hidup Wen Yifan semakin rumit. Seorang penghuni rumah sewa mengancam keselamatannya. Setelah kejadian itu, ia tak lagi nyaman tinggal di sana. Sang Yan kembali turun tangan, membantu Wen Yifan mengambil barang-barangnya dan memastikan ia bisa pergi dengan aman.
Belum lama berselang, apartemen Sang Yan kebakaran akibat insiden di unit tetangga. Ia pun membutuhkan tempat tinggal sementara selama apartemennya direnovasi.
Akhirnya, Sang Yan pindah ke apartemen yang ditempati Wen Yifan. Setelah bertahun-tahun tak berhubungan, mereka kini harus berbagi ruang, dapur, dan rutinitas sehari-hari.
Tinggal Serumah, tapi Masih Gengsi
Wen Yifan awalnya keberatan tinggal bersama laki-laki. Ia menginginkan teman serumah perempuan dan tak ingin kehidupan pribadinya terganggu. Sang Yan sendiri berusaha terlihat santai. Ia bahkan mengaku sudah tak punya perasaan kepadanya.
Tentu saja, tindakannya berkata lain. Saat memilih kamar, Sang Yan mengambil kamar yang lebih kecil meski bersedia membayar lebih mahal. Ia juga memikirkan kenyamanan Wen Yifan, termasuk menyediakan pohon kucing untuk Dian Dian, hewan peliharaan gadis itu.
Perhatian Sang Yan memang sering muncul dalam hal-hal kecil. Ia tak selalu bertanya apakah Wen Yifan baik-baik saja, tetapi diam-diam memastikan perempuan itu punya tempat tinggal yang aman dan nyaman.
Wen Yifan pun mulai melihat kembali sisi Sang Yan yang dulu ia kenal. Cowok itu masih suka menggoda dan kadang menyebalkan, tetapi kepeduliannya tak benar-benar hilang.
Kehidupan serumah membuat mereka semakin sering berinteraksi. Mereka berbagi makanan, mengobrol, dan mulai mengenali kebiasaan satu sama lain.
Teman-teman lama seperti Zhong Siqiao, Xiang Lang, dan Su Hao’an juga kembali hadir dalam kehidupan mereka. Kehadiran Xiang Lang bahkan sempat membuat Sang Yan cemburu, meski ia terus menyangkal masih menyukai Wen Yifan.
Masalahnya, tinggal serumah tak otomatis menghapus luka lama. Wen Yifan masih menyimpan banyak hal, sedangkan Sang Yan belum sepenuhnya pulih dari perpisahan mereka saat SMA.


Luka Lama Wen Yifan
Wen Yifan terlihat tenang, tetapi ia masih mengalami dampak dari kejadian traumatis ketika tinggal bersama keluarga bibinya di Beiyu. Pengalaman itu merampas rasa amannya dan terus memengaruhi kehidupannya hingga dewasa.
Ia kerap mengalami mimpi buruk dan berjalan dalam tidur. Keadaan ini juga membuatnya sulit mempercayai orang lain. Bahkan, ketika seseorang tulus ingin membantunya, Wen Yifan belum tentu bisa menerima perhatian itu dengan mudah.
Sang Yan perlahan menyadari bahwa sikap Wen Yifan bukan sekadar watak pendiam atau introvert. Perempuan itu selalu waspada dan sulit merasa aman. Pasti ada alasannya.
Ketika mengetahui kebiasaan Wen Yifan berjalan dalam tidur, Sang Yan menyiapkan lampu dan memasang pelindung pada sudut-sudut tajam di apartemen. Ia ingin mengurangi risiko Wen Yifan terluka saat tak sepenuhnya sadar.
Ia tak membuat perhatian itu menjadi persoalan besar. Sang Yan hanya melakukan apa yang menurutnya bisa membantu.
Sementara itu, Wen Yifan mulai menyadari bahwa perasaannya kepada Sang Yan ternyata belum hilang. Selama ini, ia berusaha meyakinkan diri bahwa menjauh adalah pilihan terbaik. Namun, hidup bersama laki-laki itu membuatnya kembali melihat apa yang pernah mereka miliki, dan apa yang masih mungkin mereka perbaiki.
Kesempatan Kedua
Saat mereka kuliah di dua kota berbeda, Sang Yan rupanya beberapa kali datang ke Yihe untuk mencari Wen Yifan, bahkan pernah pulang tanpa berhasil bertemu dengannya.
Wen Yifan pun rupanya diam-diam mencari jalan untuk mendekatinya lagi. Salah satunya melalui gim daring yang disukai Sang Yan.
Mereka kembali terhubung lewat permainan itu. Sang Yan bahkan berusaha menaikkan level karakternya agar bisa menjadi mentor bagi Wen Yifan.
Hubungan yang sempat terputus mulai menemukan jalannya kembali. Kali ini, Wen Yifan perlahan berani menunjukkan perasaannya, sementara Sang Yan tak lagi hanya mengandalkan sikap cuek untuk menutupi kerinduannya.
Setelah melewati sejumlah kesalahpahaman, Sang Yan akhirnya menyampaikan perasaannya dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan bersedia menempuh perjalanan antarkota untuk mengatakan apa yang selama ini tertahan. Mereka pun kembali menjalin hubungan.
Sisi Sang Yan yang lain terlihat setelah mereka bersama. Cowok yang biasanya penuh percaya diri itu bisa cemburu, manja, dan mencari perhatian Wen Yifan. Sementara itu, Wen Yifan mulai belajar menerima kasih sayang tanpa merasa harus menyelesaikan semua persoalan sendirian.
Sayangnya, kesempatan kedua ini tak membuat masa lalu langsung berhenti mengusik mereka. Masalah yang selama ini berusaha dihindari Wen Yifan kembali muncul dan mengancam hubungan kedua yang baru mereka bangun.



Che Xingde Mengusik Wen Yifan
Flashback, setelah lulus kuliah, Wen Yifan kembali berhadapan dengan Che Xingde, diperankan Li Hongchen, saudara laki-laki bibinya. Pria itu berkaitan erat dengan pengalaman traumatis yang dialaminya ketika tinggal di Beiyu.
Kemunculan Che Xingde membuat Wen Yifan kembali merasa terancam. Alih-alih menceritakan semuanya kepada Sang Yan, ia memilih pergi ke Hong Kong tanpa memberi tahu laki-laki itu secara langsung. Kebiasaan lamanya muncul lagi: ketika keadaan terasa terlalu berat, ia memilih menghadapinya sendirian.
Sang Yan kebingungan saat Wen Yifan menghilang. Ia mencari ke berbagai tempat, termasuk Nanwu, Yihe, dan Beiyu. Dari pencarian itu, ia mulai memahami bahwa kepergian Wen Yifan bukan sekadar penolakan terhadap dirinya. Perempuan itu sudah terlalu terbiasa menanggung masalah tanpa meminta bantuan.
Di Hong Kong, Wen Yifan kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah membantunya, termasuk petugas polisi Chen dan putrinya, Chen Xi. Dukungan mereka membantunya menghadapi masa lalu sekaligus terlibat dalam penyelidikan terhadap Che Xingde.
Sang Yan juga berhadapan langsung dengan pria itu. Konflik tersebut membuatnya terluka, tetapi turut membuka jalan bagi terungkapnya kejahatan yang selama ini tersembunyi.
Wen Yifan kemudian membantu mengungkap fakta-fakta penting dalam kasus tersebut. Che Xingde terbukti membunuh Guo Ling, sedangkan Che Yanqin terlibat dalam upaya menutupi kejahatan itu. Che Xingde akhirnya dijatuhi hukuman mati, sementara Che Yanqin menerima hukuman penjara.
Kasus tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan Wen Yifan. Ia tak lagi sekadar berusaha menjauh dari orang yang membuatnya takut. Kali ini, ia ikut menghadapi persoalan yang selama bertahun-tahun membayangi hidupnya.
Terima Bantuan, Tentukan Pilihan
Setelah melalui berbagai kejadian, Wen Yifan dan Sang Yan kembali berusaha membangun hubungan mereka. Keduanya harus belajar memahami hal-hal yang dulu tak sempat mereka bicarakan.
Sang Yan pun meninjau kembali sikapnya saat SMA. Ia selama ini mengingat perpisahan mereka dari sudut pandangnya sendiri, bahwa ia sudah berusaha keras, tetapi Wen Yifan tetap pergi.
Kini, ia mulai memahami bahwa ada persoalan besar yang tak pernah diketahui dan tak bisa ia nilai hanya dari keputusan perempuan itu. Ia ingin menjaga Wen Yifan, tetapi juga perlu belajar bahwa melindungi seseorang berbeda dengan mengambil alih semua keputusan hidupnya.
Wen Yifan menghadapi pelajaran yang tak kalah sulit. Ia mulai belajar menerima pertolongan yang selama ini ia artikan lemah. Ia sadar, tak harus menghilang setiap kali menghadapi masalah, apalagi mengorbankan kebahagiaannya demi menjaga orang lain tetap aman.
Hubungannya dengan sang ibu, Zhao Yuandong, juga perlahan membaik. Zhao Yuandong akhirnya menyadari bahwa ia pernah gagal melindungi putrinya saat Wen Yifan membutuhkan bantuan. Namun, pengakuan dan permintaan maaf tak serta-merta menghapus luka yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Wen Yifan tetap harus menentukan sendiri sejauh mana ia bersedia membuka kembali hubungan dengan ibunya. Ia tak bisa memulihkan masa lalu dalam sekejap, tetapi kini ia memiliki ruang untuk memilih apa yang ingin ia lakukan selanjutnya.
Dalam kariernya, Wen Yifan semakin mantap menjalani pekerjaan sebagai jurnalis. Ia juga tetap terhubung dengan dunia tari, impian yang pernah ia perjuangkan saat masih muda.
Sang Yan mendukung langkahnya. Ia tak ingin Wen Yifan kembali mengesampingkan keinginannya sendiri hanya demi memenuhi harapan orang lain.



Rumah Baru untuk Berdua
Jelang ending, hubungan Sang Yan dan Wen Yifan kian matang. Mereka tak lagi hanya sibuk mengurai kesalahpahaman masa SMA. Keduanya mulai memahami kebutuhan satu sama lain dan belajar menghadapi masalah tanpa harus saling menjauh.
Sang Yan merancang rumah baru untuk mereka. Ia mempertahankan sejumlah unsur dari apartemen tempat mereka pernah tinggal bersama, supaya Wen Yifan tetap merasa nyaman. Rumah itu menjadi awal kehidupan yang mereka bangun berdasarkan pilihan sendiri.
Wen Yifan juga akhirnya bersedia menghabiskan malam Tahun Baru Imlek bersama keluarga Sang Yan. Orang tua Sang Yan menyambutnya dengan hangat. Bagi Wen Yifan, penerimaan semacam ini sungguh berarti setelah pengalaman keluarga yang selama ini begitu rumit.
Cerita kemudian membawa mereka kembali ke SMA Nanwu dalam acara peringatan ulang tahun sekolah yang ke-100. Di tempat mereka pertama kali bertemu, Sang Yan dan Wen Yifan bisa menengok perjalanan panjang yang membawa mereka sampai ke titik ini.
Dulu, mereka hanyalah dua teman sebangku yang saling menyukai. Lalu, sebuah kejadian memisahkan mereka selama bertahun-tahun. Kini, mereka akhirnya punya kesempatan untuk membangun masa depan bersama.



Review The First Frost
Diadaptasi dari novel Nan Hong karya Zhu Yi, The First Frost menawarkan kisah cinta yang tumbuh kembali setelah sekian lama terpendam. Kalau kamu menyukai romance dengan proses pendekatan yang pelan, interaksi manis, dan konflik emosional, drama China ini layak masuk daftar tontonan.
Bai Jingting sebagai Sang Yan
Karakter yang diperankan Bai Jingting di The First Frost ini benar-benar bikin standar pacar penonton naik lagi. Salah satu alasan orang betah menonton serial ini ya memang karena dia.
Sang Yan itu jahil, percaya diri, suka menggoda, dan kadang menyebalkan. Namun, ia tahu kapan harus berhenti bercanda. Saat Wen Yifan membutuhkan bantuan, Sang Yan bisa diandalkan tanpa sibuk menunjukkan bahwa dirinya sedang berbuat baik.
Perhatian Sang Yan, mulai dari memastikan Wen Yifan makan, memperhatikan perubahan sikapnya, dan berusaha membuat apartemen mereka lebih aman ketika perempuan itu mengalami gangguan tidur hingga berjalan dalam tidurnya.
Bai Jing Ting memainkan dua sisi karakter ini dengan enak ditonton. Saat menggoda Wen Yifan, ekspresinya usil dan menghibur. Begitu suasana berubah serius, tatapannya ikut berubah. Di matanya ya jelas masih tersisa kecewa dan sakit hati kaena ditinggal pergi tanpa pesan.
Emosionalnya Bai Jingting keren. Dia nggak pernah menangis tersedu-sedu untuk menggambarkan perasaan Sang Yan. Ketika Wen Yifan kembali menjauh, perubahan kecil pada ekspresi wajahnya sudah cukup menunjukkan bahwa perpisahan mereka dulu meninggalkan bekas yang belum hilang.
Tentu saja, Sang Yan bukan karakter tanpa cela. Ia tumbuh dalam keluarga penuh kasih sayang dan punya kehidupan yang relatif nyaman. Karena itu, ia tidak selalu memahami mengapa Wen Yifan begitu sulit terbuka sama dia.
Pengalaman mereka berpisah membuatnya belajar bahwa mencintai seseorang tidak otomatis membuatnya mengerti semua ketakutan pasangan.
Meski terkadang terasa terlalu ideal sebagai pasangan, Sang Yan tetap punya sisi manusiawi. Ia bisa cemburu, gengsi, kecewa, dan terluka. Bagian-bagian itulah yang membuat karakternya menarik ketimbang fokus mencapnya laki-laki sempurna yang selalu tahu harus berbuat apa.


Zhang Ruonan sebagai Wen Yifan
Pendiam bukan berarti lemah, itulah karakter Wen Yifan. Kalau Sang Yan cenderung menunjukkan perasaannya lewat tindakan, Wen Yifan terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
Zhang Ruonan tipikal karakter tenang, bisa terlihat baik-baik saja ketika sebenarnya sedang ketakutan. Ia juga kerap menolak bantuan lantaran terlalu lama terbiasa menghadapi masalah sendirian.
Tantangan terbesar dalam memerankan karakter seperti ini adalah menjaga agar sikap tertutupnya tidak membuat ekspresinya terlihat datar. Menurutku, Zhang Ruonan cukup berhasil membedakan momen ketika Wen Yifan sedang bersikap biasa, merasa canggung di dekat Sang Yan, atau berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Adegan ketika ia mabuk memperlihatkan sisi yang jarang muncul dalam kesehariannya. Wen Yifan menjadi lebih spontan dan sedikit lebih lepas. Kontras ini bikin gemas karena kita bisa melihat sisi lain dari perempuan yang biasanya begitu berhati-hati.
Hal lain yang aku suka, Wen Yifan tidak hanya digambarkan sebagai seseorang yang terluka. Ia tetap punya pekerjaan, impian, pertemanan, dan keputusan yang harus diambil. Pengalaman traumatis memang memengaruhi caranya menjalani hidup, tetapi tidak menjadi satu-satunya hal yang mendefinisikan dirinya.
Proses pemulihannya pun tidak berjalan mulus. Ia masih bisa ketakutan, membuat keputusan yang keliru, bahkan kembali menggunakan cara lama untuk menghadapi masalah. Mungkin sebagian penonton kesal ketika ia memilih menjauh lagi, tetapi reaksi itu bisa dipahami jika kita melihat kebiasaan yang sudah lama terbentuk dalam dirinya.
Memahami alasan Wen Yifan bertindak demikian bukan berarti membenarkan semua keputusannya. Kita bisa memahami ketakutan seseorang sekaligus berharap ia belajar menghadapi masalah dengan cara yang berbeda.
Chemistry Sang Yan dan Wen Yifan
Tidak banyak gombalan, begitulah kesanku melihat chemistry dua karakter ini. Sang Yan dan Wen Yifan tidak hanya cocok ketika berada dalam adegan romantis. Percakapan sehari-hari mereka pun hidup.
Sang Yan mengusili Wen Yifan, sementara perempuan itu sering membalas dengan ekspresi datar atau jawaban singkat. Sesekali, reaksi Wen Yifan yang minim itulah yang membuat tingkah Sang Yan semakin lucu.
Kehidupan serumah memberi ruang bagi hubungan mereka untuk berkembang tanpa harus terus-menerus membicarakan cinta. Mereka berbagi makanan, bertengkar soal hal kecil, dan berada di ruangan yang sama tanpa perlu mengisi setiap jeda dengan percakapan.
Selain keakraban, muncul juga kecanggungan sebab masa lalu mereka belum selesai. Sang Yan masih menyimpan sakit hati akibat perpisahan mereka, sedangkan Wen Yifan belum sepenuhnya berani menerima kedekatan itu.
Karena prosesnya dibangun perlahan, perkembangan hubungan mereka memuaskan kita sebagai penonton. Tidak sekadar disuguhi adegan manis, lalu diminta percaya bahwa kedua tokoh sudah saling mencintai, kita melihat sendiri bagaimana perhatian kecil, kebersamaan, dan percakapan mereka membuka jalan untuk kembali dekat.
Beberapa adegan yang menurutku menjadi kekuatan The First Frost, anatra lain adegan WenYifan berjalan dalam tidur, pengakuan perasaan di Kedai Mi Beiyu, Sang Yan merawat Wen Yifan pas mabuk, kotak kenangan Sang Yan, sampai adegan lamaran.
Visual dan OST
Secara visual, The First Frost punya nuansa melankolis yang cocok dengan kisahnya. Pencahayaan lembut, pantulan di cermin, dan komposisi gambar yang sendu membantu membangun suasana.
Kenangan masa SMA membawa nostalgia, sedangkan kehidupan mereka sebagai orang dewasa sangat menenangkan. Meski begitu, masa lalu tetap membayangi hubungan mereka. Perbedaan suasana ini membuat perjalanan waktu dalam cerita bisa dirasakna penonton, bahkan tanpa harus selalu dijelaskan lewat dialog.
Penataan busana para pemeran utama juga mendukung karakter masing-masing. Penampilan Sang Yan, terutama dengan pakaian bernuansa gelap, jadi daya tariknya. Aku tidak banyak menonton serial-serial Bai Jingting, sebab ini perkara selera, tapi kali ini harus kuakui inilah serial terbaik di puncak kariernya.
Visual yang bagus semakin efektif ketika menyatu dengan cerita, dan drama ini cukup berhasil melakukannya. Musiknya pun membantu membangun emosi. Lagu-lagu seperti Willful, It’s You, Like a Sunny Day, Like a Rainy Day, dan I’m So Into You, memperkuat suasana kerinduan, kecanggungan, hingga kebahagiaan yang dirasakan kedua tokoh utama. OST dan musiknya meninggalkan kesan lebih lama di hati penonton.
Kekurangan The First Frost
Tentu saja, drama China ini bukan tanpa cela. Pertama, kisah second lead couple kurang konsisten, yaitu antara Su Haoan (diperankan Edward Chen) dan Zhong Siqiao (dipernakan Zhang Miaoyi).
Su Haoan adalah sahabat Sang Yan sekaligus rekan pemilik bar Overtime. Di balik sifatnya yang terlihat santai, Haoan menyimpan luka kehilangan keluarganya.
Zhong Siqiao adalah sahabat Wen Yifan yang kelihatannya kekanak-kanakan, tetapi sebenarnya cukup dewasa dalam memahami hubungan. Dia juga punya cerita lama dengan Xiang Lang, teman masa kecilnya.
Perkembangan hubungan mereka kurang mendapat ruang yang cukup. Tapi… kalau kamu menonton The First Frost cuma untuk mengikuti Sang Yan dan Wen Yifan, bagian ini mungkin tidak terlalu mengganggu ya.
Namun, bagiku, tetap dong… aku ingin semua karakter pendukung mendapat penyelesaian cerita yang seimbang supaya alurnya rapi.
Kedua, keputusan Wen Yifan pergi ke Hong Kong agak kurang bisa kuterima sebenarnya. Kenapa sih ia masih memilih menjauh ketika hubungannya dengan Sang Yan sudah berkembang sejauh itu?
Dari sisi karakter, kepergian tersebut memang berkaitan dengan trauma dan kebiasaannya melarikan diri saat merasa terancam. Namun, dari sisi Sang Yan, keputusan itu tetap menyakitkan. Ia sudah pernah mengalami perpisahan serupa, sehingga wajar jika penonton merasa Wen Yifan seharusnya mencoba berbicara lebih terbuka.
Bagian ini bisa dipahami secara emosional, tetapi belum tentu mudah diterima semua orang, mungkin termasuk aku. Apalagi, perkembangan karakter yang panjang membuat kita berharap Wen Yifan mulai mengambil keputusan berbeda ketika menghadapi masalah.
Ketiga, Sang Yan terlalu ideal sebagai pacar. HAHAHA. Ia sabar terus, perhatian, setia, dan cukup peka membaca perubahan suasana hati kekasihnya. Karakter seperti ini kayaknya “terancam punah” di dunia nyata ya.
Memang menyenangkan untuk ditonton, tetapi sesekali membuat hubungan mereka terasa timpang. Sang Yan lebih mudah menunjukkan kepedulian, sementara Wen Yifan lebih sering menarik diri.
Meski begitu, The First Frost tetap memberi ruang bagi Sang Yan untuk kecewa dan terluka. Ia tidak selalu bisa menyelesaikan persoalan mereka, dan rasa sayangnya tidak membuat semua masalah lenyap begitu saja.
Terakhir, jangan terkecoh oleh nuansa romantisnya. Kisah Wen Yifan memuat persoalan trauma dan ancaman terhadap keselamatan perempuan. Drama ini, kalau benar-benar kita dalami, bukan tontonan ringan dari awal sampai akhir. Setuju nggak?

Apakah The First Frost Layak Ditonton?
Menurutku, iya, terutama kalau kamu suka drama romantis yang memberi waktu bagi karakternya untuk berkembang.
Kekuatan The First Frost ada pada cara Sang Yan dan Wen Yifan membangun kembali hubungan mereka.
Drama ini juga tidak menggambarkan cinta sebagai obat ajaib bagi trauma. Wen Yifan tetap perlu menghadapi masa lalunya dan belajar memahami kebiasaan yang selama ini ia gunakan untuk bertahan, sembari perlahan mecoba memperbaikinya.
Kalau kamu menikmati slow-burn romance, interaksi yang manis, akting emosional, visual yang cantik, dan happy ending, yang memberi ruang bagi pasangan utama untuk bahagia, drama ini patut dicoba.
Sekali lagi, Bai Jingting punya andil besar membuat serial ini menyenangkan untuk diikuti. One of the best C-drama ever lah pokoknya. Bagaimana denganmu?

Leave a Comment