Review The Vanishing Beauty
Review The Vanishing Beauty

Kalau suamimu ketahuan selingkuh, itu saja cukup bikin migrain. Apalagi kalau suamimu ketahuan selingkuh plus sekalian mengincar harta keluargamu, mengutak-atik keuangan kantormu, dan berusaha merebut perusahaan keluargamu, itu suami apa binatang? Selamat datang di The Vanishing Beauty.

Drama China satu ini ngajarin kita semua bahwa sebelum menikah, periksa latar belakang calon suami. Jangan-jangan yang dia cintai bukan kamu, melainkan saldo rekening, aset keluarga, dan peluang menjadi CEO gratisan di tempatmu.

Yu Meng adalah perempuan kaya yang tidak beruntung itu. Dia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pria yang tidur di sebelahnya ternyata punya agenda lebih panjang daripada daftar belanja bulanan. 

Suaminya, Di Liren bukan cuma jago berselingkuh. Dia juga lihai memanipulasi keadaan demi ambisinya sendiri. Kalau kebohongan bisa dikonversi menjadi uang, barangkali Di Liren ini sudah masuk daftar orang terkaya di dunia.

Aku sendiri menonton The Vanishing Beauty ini sambil naik darah, mengomel, dan berkali-kali ingin menghapus dia dari muka bumi pakai Infinity Stones. HAHAHA.

Nah, apakah menurutmu drama ini sebagus itu? Mari kita bahas!

Sinopsis dan Rekap The Vanishing Beauty

Dari luar, rumah tangga Yu Meng dan Di Liren nyaris terlihat sempurna. Suaminya perhatian, kehidupan mereka berkecukupan, dan kemesraan keduanya kerap dipamerkan di media sosial. Siapa sangka, laki-laki yang selama ini ia percaya justru menyimpan rencana untuk menguasai harta keluarganya sendiri?

Itulah awal masalah Yu Meng, diperankan Li Yitong dalam drama China The Vanishing Beauty yang tayang di WeTV. Ia bukan perempuan yang kekurangan apa-apa. Yu Meng adalah putri pemilik Jiali Cosmetics, perusahaan kosmetik yang dirintis ayahnya dari nol. Setelah lima tahun menikah, ia pun masih percaya bahwa Liren adalah pasangan yang tepat untuknya.

Sayangnya, kepercayaan itu membuat Yu Meng tak menyadari banyak hal yang terjadi di belakangnya. Liren, diperankan Qiao Zhenyu. Selain berselingkuh, Liren juga mengatur keuangan keluarga, membangun pengaruh di Jiali, dan perlahan mengambil alih kendali yang seharusnya tidak pernah lepas dari tangan keluarga Yu.

Begitu satu kebohongan terbongkar, kebohongan lain menyusul. Yu Meng pun harus menghadapi kenyataan bahwa masalah rumah tangganya jauh lebih rumit daripada sekadar kehadiran perempuan lain.

Foto Perselingkuhan Liren

Kecurigaan Yu Meng bermula dari sebuah foto yang memperlihatkan Liren bersama perempuan lain. Saat dimintai penjelasan, Liren kasih alasan yang terdengar meyakinkan. Perempuan itu, katanya, hanya membantu seorang rekan bisnis yang sedang mabuk. Yu Meng masih percaya kepadanya, jadi penjelasan itu sempat meredakan kecurigaannya.

Sejak itu, beberapa hal kecil mulai janggal. Catatan olahraga Liren tidak sesuai dengan rutinitas yang biasa ia ceritakan. Keanggotaan klub tenisnya ternyata baru dibuat, meskipun ia mengaku sudah berlatih di sana selama berbulan-bulan. Yu Meng juga menemukan petunjuk tentang kendaraan lain yang selama ini disembunyikan suaminya.

Dengan bantuan sahabatnya, Liu Zi, diperankan Zeng Mengxue, dan adik Liu Zi yang gemar cerita detektif, Yu Meng mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

Penyelidikan itu membawanya pada perubahan di Jiali Cosmetics. Banyak posisi penting kini diisi orang-orang baru, sementara Yu Meng sendiri tak lagi benar-benar memahami apa yang berlangsung di perusahaan keluarganya.

Nama Wen Xiaoxiao, diperankan Yu Mengling, kemudian muncul dalam penyelidikan tersebut. Xiaoxiao bekerja di bagian keuangan Jiali dan juga berprofesi sebagai instruktur helikopter. Yu Meng mengenalinya sebagai petugas keselamatan dalam penerbangan yang menjadi bagian dari perayaan ulang tahun pernikahan mereka.

Saat bertemu langsung, Yu Meng akhirnya mendapat jawaban yang selama ini ia cari. Xiaoxiao memang menjalin hubungan dengan Liren.

Bagi Xiaoxiao, hubungan itu adalah peluang untuk memperbaiki posisi dan kariernya di Jiali. Ia mengincar jabatan penting, termasuk direktur keuangan. Situasi semakin menyakitkan lantaran Xiaoxiao tahu Liren tetap bersikap manis kepada istrinya. 

Sebetulnya, Xiaoxiao tidak sedang menunggu Liren menceraikan Yu Meng. Hubungan mereka berjalan sementara Liren tetap mempertahankan citra suami ideal di depan keluarga dan publik.

Yu Meng tidak langsung membongkar perselingkuhan itu. Ia justru mengajak Xiaoxiao membuat kesepakatan. Jika perempuan itu bersedia membantunya membuka kebohongan Liren, Yu Meng akan mempertimbangkan permintaannya untuk mendapat posisi yang lebih baik di perusahaan.

Maka dimulailah kerja sama yang tak biasa ini. Di depan Liren, Yu Meng tetap memainkan perannya sebagai istri yang percaya kepada suami. Di belakangnya, ia mulai mengumpulkan bukti.

Liren Incar Harta Keluarga Yu

Semakin jauh Yu Meng mencari tahu, semakin jelas bahwa perselingkuhan hanyalah satu bagian dari masalah rumah tangganya. Liren rupanya telah mengatur keuangan keluarga tanpa sepengetahuannya. 

Ia menonaktifkan pemberitahuan transaksi rekening, menjual investasi, dan memindahkan uang dalam jumlah besar dari rekening bersama. Rumah dan kendaraan yang dibeli dengan uang Yu Meng pun bisa menjadi persoalan ketika mereka mulai membicarakan perceraian dan pembagian harta.

Di sinilah Yu Meng meminta bantuan Jiao Xu, diperankan Chang Huasen, pengacara perceraian yang membantunya memahami posisi hukum dan keuangannya. 

Jiao Xu menjelaskan bahwa ke Yu Meng bahwa membuktikan perselingkuhan tidak otomatis membuat Liren kehilangan semua hak atas harta perkawinan. Selama ini, Yu Meng juga terlalu jauh dari pengelolaan Jiali sehingga tidak mengetahui seluruh transaksi yang dilakukan suaminya.

Penyelidikan mereka kemudian mengarah ke Chuangyi, sebuah galeri seni yang memiliki kaitan dengan Liren. Pembelian lukisan berharga jutaan yuan diduga menjadi bagian dari cara memindahkan dan menyamarkan uang. 

Dari luar, transaksi itu tampak seperti pembelian karya seni biasa. Namun, ada aliran dana lain yang membuat transaksi tersebut patut dicurigai.

Yu Meng bahkan mencoba menelusuri mekanismenya melalui seorang perantara. Dari situ, ia mendapat gambaran bagaimana pembelian lukisan bisa digunakan untuk menyamarkan perpindahan uang, lalu mengembalikan sebagian dana melalui jalur tersembunyi.

Jadi, Liren bukan hanya memanfaatkan uang istrinya. Ia juga memakai kepercayaan keluarga Yu untuk membangun kekuasaan yang lebih besar bagi dirinya sendiri.

Yu Meng mulai memikirkan hidupnya di luar pernikahan itu. Ia mencoba mencari penghasilan melalui siaran langsung dan penjualan daring. 

Selama ini, publik mengenalnya sebagai Lucky Beauty Yu, perempuan yang identik dengan kemewahan dan rumah tangga romantis. Sekarang, ia ingin punya sumber penghasilan dan pijakan sendiri, bukan sekadar hidup dari nama keluarga atau bergantung pada suaminya.

Li Ren dan Yu Meng, pasangan suami istri di ambang perceraian

Lu Hui dan Masa Lalu Liren

Di tengah semua penyelidikan itu, Yu Meng mulai mencurigai Lu Hui, diperankan Esther Wang, pengasuh yang bekerja di rumah orang tuanya. 

Lu Hui terlihat telaten dan perhatian. Ia bahkan pernah menyelamatkan ayah Yu Meng ketika laki-laki itu mengalami keadaan darurat medis. Namun, kedekatan Liren dengan Lu Hui agak ganjil, terlebih karena mereka berasal dari kota yang sama.

Kecurigaan Yu Meng akhirnya terjawab dengan sebuah fakta mengejutkan bahwa Lu Hui adalah mantan istri Liren. Mereka juga memiliki seorang putra bernama Harry.

Dahulu, Liren menggunakan nama Fang Yong dan bekerja sebagai tenaga penjualan. Ia dan Lu Hui menikah serta memiliki anak laki-laki dengan kelainan jantung bawaan yang membutuhkan operasi mahal. 

Demi mencari biaya pengobatan, Liren pergi mencari uang. Kesempatan untuk masuk ke kehidupan Yu Meng datang setelah ia menolong perempuan itu dalam sebuah kecelakaan mobil.

Yu Meng berasal dari keluarga kaya. Kedekatan dengannya membuka jalan bagi Liren untuk mengubah nasibnya. Ia berjanji kepada Lu Hui akan kembali setelah memiliki cukup uang, tetapi janji itu tak kunjung ditepati. 

Empat tahun berlalu. Lu Hui akhirnya bekerja di rumah keluarga Yu, berharap bisa tetap dekat dengan laki-laki yang masih dicintainya.

Latar belakang Lu Hui membuat posisinya cukup rumit. Ia pernah berjuang menyelamatkan anaknya dan hidup dalam kesulitan ekonomi. Namun, penderitaan masa lalu tidak serta-merta membenarkan pilihannya. 

Lu Hui tetap terlibat dalam kebohongan Liren, bahkan ketika laki-laki itu mulai merencanakan cara untuk menyingkirkan Yu Meng. Ia masih berharap suatu hari nanti mereka bisa pergi ke luar negeri bersama Harry setelah urusan Liren di Jiali selesai.

Bagi Yu Meng, pengkhianatan Liren rupanya belum berhenti sampai di situ. Selama bertahun-tahun, ia menjalani pengobatan, suntikan, dan berbagai upaya agar bisa hamil. Ia mengira kesulitan itu mungkin berasal dari kondisi tubuhnya sendiri. Belakangan, ia mengetahui bahwa Liren sengaja menghalangi keinginannya untuk memiliki anak.

Sulit membayangkan bagaimana rasanya mengetahui bahwa selama ini kita berjuang untuk sesuatu yang ternyata diam-diam digagalkan oleh pasangan sendiri. Di mata Yu Meng, pengakuan itu menghancurkan kepercayaannya yang masih tersisa.

Perlawanan Yu Meng

Setelah mengetahui apa yang dilakukan Liren, Yu Meng tak bisa lagi hanya duduk menunggu kebohongan berikutnya terbongkar. Ia mulai terlibat kembali dalam pengelolaan Jiali Cosmetics dan belajar memahami bisnis yang selama ini lebih banyak diurus suaminya.

Liren tentu tidak menyambut langkah itu dengan senang hati. Ia berusaha membuat Yu Meng terlihat tidak kompeten, lalu menempatkannya dalam peran simbolis sebagai duta merek. Di mata sejumlah karyawan, Yu Meng dianggap hanya pewaris kaya yang terbiasa hidup nyaman dan tidak mengerti urusan perusahaan.

Masalahnya, Liren sudah lebih dulu membangun reputasi. Banyak orang melihatnya sebagai sosok yang berjasa mengembangkan Jiali. Yu Meng harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa ia mampu memahami bisnis keluarganya sendiri.

Dengan bantuan Xiaoxiao, Jiao Xu, Liu Zi, dan orang-orang yang mulai memercayainya, Yu Meng mempelajari berbagai hal dalam perusahaan. Ia memberi perhatian pada pengadaan bahan baku dan proyek produk baru bernama Jinghua. Ia juga berusaha mengenal para pegawai dan memahami bagaimana keputusan diambil.

Pelan-pelan, Yu Meng menyadari bahwa memiliki saham saja tidak cukup untuk mengendalikan perusahaan. Ia perlu tahu siapa yang memegang informasi, bagaimana pekerjaan dijalankan, dan di mana keputusan bisnis bisa disalahgunakan demi kepentingan pribadi.

Di saat yang sama, Liren terus berusaha meyakinkan keluarga Yu agar menyerahkan kendali perusahaan kepadanya. Kesehatan ayah Yu Meng yang memburuk membuat keadaan semakin sulit. 

Sang ayah masih memegang kepemilikan penting di Jiali, sedangkan aturan perusahaan bisa menghambat Yu Meng mengambil alih kendali jika ia tidak memenuhi persyaratan tertentu.

Liren ingin mendapatkan saham dan mengamankan posisinya. Ia telah menikmati kekayaan keluarga Yu, tetapi itu belum cukup. Ia ingin menjadi orang yang menentukan arah perusahaan, seolah-olah semua yang dibangun keluarga itu memang miliknya sejak awal.

Yu Meng dibantu Jiao Xu menyusun rencana

Han Guang Ikut Bermain

Konflik semakin melebar ketika Yu Meng berhadapan dengan Han Guang, diperankan Peter Ho, rekan bisnis Liren yang juga mengincar Jiali. Di luar urusan perusahaan, Han Guang menyimpan persoalan rumah tangga yang tak kalah kelam.

Istrinya, Weng Xin, diperankan Mei Yi, pernah menjadi perempuan cerdas dengan pendidikan hukum. Setelah menikah, kondisi mentalnya memburuk dan keluarganya menganggap ia sakit. 

Han Guang sendiri tampil sebagai suami sabar yang setia merawatnya. Namun, ada banyak hal yang membuat Yu Meng curiga bahwa keadaan Weng Xin tidak sesederhana yang terlihat.

Yu Meng merasa ada kemiripan antara dirinya dan Weng Xin. Liren berusaha membuat orang lain meragukan penilaiannya ketika ia mulai mengungkap kebohongan suaminya. Han Guang pun diduga memanipulasi kondisi istrinya agar Weng Xin sulit melawan atau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Bersama Weng Yue, adik Weng Xin, Yu Meng berusaha mengumpulkan bukti. Mereka menemukan petunjuk tentang pengobatan yang tidak wajar, dugaan penyalahgunaan obat, dan keberadaan anak Han Guang dari hubungan di luar pernikahan.

Konflik ini membuat cerita The Vanishing Beauty bergerak jauh melampaui urusan perselingkuhan. Yu Meng harus menghadapi orang-orang yang memakai uang, reputasi, bahkan kondisi psikologis pasangan mereka untuk mempertahankan kendali.

Jiali pun sedang tidak baik-baik saja. Produk Jinghua menghadapi masalah, sementara perusahaan pesaing meluncurkan produk serupa dengan harga jauh lebih murah. Penjualan menurun dan permintaan pengembalian dana meningkat. Nilai perusahaan ikut terancam.

Han Guang melihat kesempatan untuk membeli saham Jiali dengan harga rendah. Liren yang semula ingin menyingkirkan Yu Meng kini harus menghadapi rekan bisnisnya sendiri. Ia mengira bisa mengatur permainan sesuai keinginannya, tetapi Han Guang punya ambisi yang sama besar, dan tidak berniat sekadar menjadi penonton.

Gagalnya Rencana Liren

Menjelang akhir cerita, tujuan Yu Meng semakin jelas. Ia ingin mengungkap pengalihan aset, menyelamatkan Jiali, dan menghentikan Liren menggunakan orang lain untuk melindungi dirinya.

Harry, putra Liren dan Lu Hui, mulai mengetahui lebih banyak tentang masa lalu kedua orang tuanya. Ia juga menyadari bahwa dana yang disimpan untuk masa depannya berkaitan dengan uang yang dialihkan dari keluarga Yu. 

Harry masih menyayangi ayah dan ibunya, tetapi ia tidak mau masa depannya dibangun dari sesuatu yang bukan hak keluarganya. 

Ia kemudian mengalihkan haknya atas dana perwalian kepada Yu Meng sebagai bentuk pengembalian uang tersebut. Harry bahkan meminta Yu Meng agar tidak menghancurkan kedua orang tuanya, meski ia tahu mereka telah berbuat salah.

Keputusan itu membuat hubungannya dengan Lu Hui memburuk. Selama ini, Lu Hui mempertahankan uang tersebut karena takut Harry kembali mengalami kesulitan biaya pengobatan. Namun, Harry ingin menentukan jalan hidupnya sendiri. Ia tidak mau dijadikan alasan untuk membenarkan kesalahan orang tuanya.

Di sisi lain, Yu Meng membantu mengungkap perlakuan Han Guang terhadap Weng Xin. Rekaman percakapan dan bukti yang terkumpul membuat keluarga Weng mulai melihat sisi Han Guang yang selama ini tersembunyi. 

Ia kehilangan dukungan keluarga istrinya, menghadapi proses hukum, dan akhirnya ditahan polisi sebelum sempat menyelesaikan kesepakatan saham dengan Liren.

Jatuhnya Han Guang turut menggagalkan rencana Liren. Setelah berulang kali gagal memenuhi target kinerja, Liren kehilangan jabatan ketua Jiali. Saham yang sempat dikuasai Han Guang kemudian kembali kepada Yu Meng. Laki-laki yang selama ini berusaha mengambil alih perusahaan itu akhirnya kehilangan kendali atas bisnis yang ingin ia rebut.

Hubungan Liren dan Lu Hui pun berakhir. Lu Hui akhirnya melihat bahwa laki-laki yang bertahun-tahun ia tunggu tetap menempatkan ambisinya di atas keluarga. Ia tak ingin terus menanggung akibat dari keputusan Liren. Bersama Harry, ia memilih pergi ke luar negeri.

Lu Hui dan Yu Meng juga menyelesaikan konflik di antara mereka. Keduanya pernah berada di posisi berbeda dalam kehidupan Liren, tetapi sama-sama menjadi korban kebohongannya. Itu tidak menghapus keterlibatan Lu Hui dalam rencana Liren, tetapi Yu Meng memilih untuk tidak terus hidup dalam lingkaran masa lalu yang sama.

Setelah semua yang terjadi, Yu Meng mulai membangun kehidupan baru. Bersama Liu Zi dan Jiao Xu, ia mengembangkan sebuah kafe yang juga menyediakan konsultasi hukum bagi orang-orang yang menghadapi persoalan keluarga, pernikahan, dan hubungan. Weng Xin yang perlahan pulih pun ingin ikut membantu orang lain melalui layanan tersebut.

Pada akhirnya, Yu Meng tidak hanya berhasil melawan suaminya dan mempertahankan haknya atas Jiali. Ia juga belajar mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. 

Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa kehidupan yang aman berarti memiliki keluarga harmonis, uang, dan pasangan yang mencintainya. Pengalaman bersama Liren memaksanya melihat bahwa semua itu bisa runtuh ketika kepercayaan diberikan kepada orang yang salah.

Review The Vanishing Beauty

Jujur, hampir setiap hari kutonton The Vanishing Beauty ini, hampir setiap hari pula aku dibuat kesal. Untungnya suami lagi tugas ke luar negeri, jadinya nggak ikutan baper.

Beberapa karakter rasanya ingin kumarahi habis-habisan. Ya ampun, kenapa sih harus begini? Tapi besoknya, aku balik lagi nonton episode terbarunya. HAHAHAHA. Penasaran juga bagaimana semua kekacauan ini akan berakhir.

Bukan semata-mata karena plot twist-nya ya. Alasan yang lebih fix sebetulnya lantaran beberapa konflik rumah tangganya dekat dengan kehidupan nyata. 

Kita mungkin tidak menikah dengan laki-laki seperti Di Liren, tidak punya perusahaan kosmetik sebesar Jiali, dan tidak hidup semewah Yu Meng. Namun, pasangan yang berbohong, memutarbalikkan fakta, atau membuat kita meragukan penilaian sendiri bukan cuma ada di dunia drama China doang. Begitu pula keluarga yang justru tidak percaya ketika seorang perempuan meminta pertolongan.

Inilah kenapa The Vanishing Beauty bisa bikin stres siapa saja yang menontonnya. Ceritanya bikin penasaran, tetapi pada saat yang sama bisa menguras emosi karena kita mungkin pernah melihat pola serupa di sekitar kita, atau bahkan mengalaminya sendiri.

Karena itu, aku mau kasih peringatan dulu, terutama buat kamu yang punya trauma pernikahan atau sedang berjuang dengan kondisi kesehatan mental, jangan memaksakan diri menonton drama ini. Serius, say. 

Kamu tidak perlu membuktikan bahwa dirimu kuat dengan menuntaskan serial yang mungkin membuka kembali luka lamamu. Kalau sebuah tontonan malah membuatmu gelisah atau kehilangan ketenangan, berhenti saja. Tidak apa. Masih banyak drama China lain yang bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan diri sendiri.

Berikut aku mau ulas kesan-kesanku terhadap sejumlah karakter di serial The Vanishing Beauty ini.

Li Yitong sebagai Yu Meng

Awalnya Yu meng ini menyebalkan di mataky, tapi lama-lama bikin salut. Yu Meng ini bukan tipe female lead yang langsung membuatku jatuh hati. 

Dia kaya, terbiasa hidup nyaman, dan senang memamerkan kemewahan serta kemesraan rumah tangganya sebagai influencer. Tapi… dalam urusan kecil, seperti ketika pembantu nggak sengaja mecahin cangkir kesayangannya, terlihat bahwa dia bisa bersikap arogan dan kurang peka terhadap orang lain.

Jadi, ketika masalah rumah tangganya mulai terbongkar, aku tidak serta-merta menganggap Yu Meng sebagai perempuan sempurna yang sedang dizalimi. Ia punya kekurangan dan selama ini hidup dengan banyak kemudahan. Tapi kok… menarik ya melihat apa yang terjadi ketika kenyamanannya itu mulai runtuh.

Ternyata Yu Meng bukan perempuan yang hanya bisa menangis saat mengetahui suaminya berselingkuh. Ketika sadar bahwa pernikahannya dibangun di atas kebohongan, ia mulai mempelajari hal-hal yang selama ini diserahkan kepada Di Liren. 

Ia mencari bantuan hukum, menelusuri urusan keuangan, mempelajari bisnis keluarganya, dan mencoba memahami bagaimana suaminya bisa punya kendali begitu besar atas hidup serta perusahaan mereka.

Perubahannya nggak simsalabim terjadi dalam semalam. Yu Meng sempat salah langkah, masih harus menghadapi orang-orang yang meremehkannya, dan tidak selalu langsung tahu apa yang mesti dilakukan. 

Dia belajar sambil menghadapi masalah yang terus berdatangan. Buatku, inilah kenapa perkembangan karakternya menarik.

Selama ini, dia punya uang dan akses terhadap banyak hal, tetapi itu tidak otomatis membuatnya paham bagaimana melindungi dirinya sendiri. Ketika kepercayaan kepada suaminya ternyata salah tempat, ia harus mengejar pengetahuan yang semestinya bisa ia miliki sejak awal.

Yu Meng ini kasih kita pelajaran penting, bahwa kita sebagai perempuan sering kali nggak bisa menguasai banyak hal karena sudah merasa ada suami. Semangat untuk mandiri lesu setelah menikah. 

Tapi begitu keadaan rumah tangga berantakan, kita baru sadar betapa banyak keputusan penting yang selama ini kita serahkan kepada orang lain. Kalau kamu termasuk tipe perempuan seperti Yu Meng, semoga tercerahkan dan mau belajar serta berani mengambil kembali kendali atas hidup sendiri.

Tentu, perjalanan Yu Meng juga punya keuntungan yang tidak dimiliki semua perempuan. Ia punya sumber daya, akses ke bantuan hukum, dan orang-orang yang bersedia mendukungnya. 

Tidak semua perempuan yang mengalami pengkhianatan punya kesempatan serupa. Jadi, aku tidak melihat kisahnya sebagai resep yang bisa diterapkan semua perempuan di dunia ini, melainkan perjalanan seorang perempuan yang mencoba menggunakan apa yang ia punya untuk bangkit.

Satu hal lagi, styling Yu Meng juara, sih. Di tengah urusan perselingkuhan, perceraian, dan perebutan perusahaan, penampilannya tetap on point. Kalau urusan fashion, aku nggak banyak protes. Keren!

Li Yitong sebagai Yu Meng di The Vanishing Beauty

Qiao Zhenyu sebagai Di Liren

Sumpah ya, Di Liren ini tipe suami yang bikin istri hipertensi. Tekanan darah bisa naik, mungkin bisa stroke karena dia.

Kalau ada penghargaan untuk karakter yang paling ingin kulenyapkan pakai cincin Thanos untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Di Liren sudahlah pasti masuk nominasi utama.

Liren bukan orang yang tidak punya kemampuan. Ia ambisius, pintar membaca situasi, dan tahu cara membangun citra sebagai suami yang baik sekaligus sosok penting bagi Jiali Cosmetics. 

Ia merasa sudah bekerja keras membesarkan perusahaan keluarga istrinya dan pantas mendapat pengakuan atas kontribusinya. Seandainya ia memperjuangkan haknya secara terbuka, mungkin konflik ini nggak perlu ada.

Masalahnya, ia tidak berhenti di situ. Ambisinya berubah menjadi keserakahan. Ia berselingkuh, menyembunyikan transaksi keuangan, memanfaatkan kepercayaan keluarga Yu, dan berusaha mengendalikan orang-orang di sekitarnya demi kepentingannya sendiri.

Hal yang paling bikin aku kesal adalah caranya menghadapi kebohongan yang mulai terbongkar. Bukannya mengakui kesalahan, ia sibuk mengatur keadaan agar dirinya tetap terlihat benar. 

Yu Meng dibuat seolah-olah menjadi sumber masalah, sementara dia sendiri berusaha mempertahankan citra sebagai suami teladan dan orang yang selama ini paling berjasa.

Nah, pola seperti ini yang membuatku sulit menikmati konfliknya. Nggak bisa santai aku nontonnya sejak itu.

Dalam hubungan yang tidak sehat, seseorang bisa menyakiti pasangannya, lalu ketika diminta bertanggung jawab, malah membuat pasangannya sibuk membela diri. Pembicaraan beralih dari apa yang telah ia lakukan menjadi soal apakah orang yang terluka terlalu sensitif, terlalu curiga, atau tidak tahu berterima kasih.

Tentu, tidak semua pertengkaran rumah tangga berarti ada manipulasi psikologis. Namun, kalau kebohongan, pengendalian, dan kebiasaan melempar kesalahan terus berulang, itu bukan hal yang sebaiknya diabaikan.

Liren menyebalkan karena dia jahat, dan ya… karena dia karakter antagonis sehingga memang boleh melakukan hal buruk. Pengin kucakar rambutnya rasanya setiap kali dia selalu menemukan pembenaran untuk tindakannya sendiri. Seolah-olah selama ia punya alasan, orang lain tidak berhak mempersoalkan akibat yang mereka tanggung.

Aku ingin melihat konsekuensi yang benar-benar setimpal untuk laki-laki ini. Akhir ceritanya mungkin cukup memuaskan, tetapi sebagian diriku masih merasa ia seharusnya menerima akibat yang lebih berat setelah semua kerusakan yang ditimbulkannya.

Maaf, aku belum cukup bijaksana untuk memaafkan Di Liren secepat itu. HAHAHA.

Qiao Zhenyu sebagai Di Liren di The Vanishing Beauty

Esther Wang sebagai Lu Hui

Hei, perempuan durjana! Kalau kamu punya luka, bukan berarti apa pun cara yang kamu gunakan untuk mengobati lukamu itu bisa dianggap benar.

Lu Hui ini mula-mula aku masih sulit menilainya hitam atau putih. Dia ini mantan istri Liren sekaligus ibu Harry. Dia pernah menghadapi kesulitan ekonomi dan berjuang menyelamatkan anaknya yang memiliki kelainan jantung bawaan. 

Dalam keadaan terdesak, ia membiarkan Liren mendekati Yu Meng demi memperoleh akses ke kehidupan yang lebih baik.

Aku bisa memahami keputusasaan seorang ibu yang membutuhkan biaya pengobatan anaknya, apalagi ketika pilihan yang tersedia terasa sempit. Lu Hui berharap Liren bisa mengumpulkan uang, kembali kepada keluarganya, dan memperbaiki kehidupan mereka. 

Harapan itu mungkin terasa masuk akal baginya saat itu, meskipun caranya membawa masalah besar bagi orang lain. Tapi ya… memahami latar belakangnya tidak berarti aku bisa membenarkan semua pilihannya. 

Lu Hui tahu Liren sudah menikahi Yu Meng, tetapi tetap memelihara harapan bahwa mereka akan kembali bersama. Ini kan kuntilanak namanya! 

Ketika kebohongan Liren mulai merugikan Yu Meng, ia pun tidak langsung mengambil jarak. Lu Hui ini bisa menjadi korban dalam satu bagian hidupnya, tetapi pada saat yang sama ikut menyakiti orang lain. 

Masa lalu yang menyakitkan dapat menjelaskan mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu, tetapi tidak otomatis membuat keputusan itu benar.

Aku senang cerita akhirnya memberi Lu Hui ruang untuk menghadapi kesalahannya sendiri. Ia tidak lagi sekadar tampil sebagai mantan istri yang ikut merusak rumah tangga orang lain. Kita juga melihat perempuan yang punya masa lalu rumit dan harus menanggung akibat dari pilihannya.

Bagiku, menyikapi karakter Lu Hui ini, aku nggak bisa kasih pembenaran penuh buat dia hanya karena aku sudah tahu kisah sedihnya. Memahami alasan seseorang berbuat salah berbeda dengan membebaskannya dari tanggung jawab.

Toh, kita bisa berempati tanpa harus menyetujui semua yang ia lakukan. Ya kan?

Esther Wang sebagai Lu Hui di The Vanishing Beauty

Chang Huasen sebagai Jiao Xu

Karakter ini cukup bikin aku geleng-geleng kepala sih. HAHAHA. Di tengah kekacauan rumah tangga Yu Meng, ada Jiao Xu, pengacara perceraian yang membantunya menghadapi persoalan hukum dan keuangan. 

Kehadirannya memberi cerita ruang untuk membahas hal-hal yang sering luput dari drama perceraian, seperti pembagian aset, kepemilikan perusahaan, dan hak yang perlu diperjuangkan ketika sebuah pernikahan berakhir.

Aku suka cara sutradara menggambarkan hubungan Yu Meng dan Jiao Xu. Dua karakter ini tidak buru-buru diarahkan menjadi pasangan romansa baru. Mereka bisa bekerja sama dan saling mendukung tanpa setiap interaksi harus berujung pada tatapan penuh arti atau adegan romantis. Kalau begitu, Yu Meng kan jadi kurang dapat simpati dari penonton. Hehehe.

Sayangnya, kisah Jiao Xu sendiri kurang tergarap. Sebagai pengacara, aku berharap ia lebih banyak menunjukkan kemampuan profesionalnya. 

Beberapa langkah penting justru datang dari Yu Meng, sedangkan peran Jiao Xu dalam persoalan hukum tidak sekuat yang diharapkan. Ia punya potensi menjadi karakter yang menarik, tetapi cerita belum sepenuhnya memanfaatkannya.

Chang Huasen sebagai Jiao Xu di The Vanishing Beauty

Cheng Hongxin sebagai Harry

Harry juga mengalami perkembangan yang menurutku tidak selalu mulus. Hubungannya dengan Yu Meng, sikapnya terhadap kedua orang tuanya, dan kedekatannya dengan Jiao Xu kadang membutuhkan penjelasan lebih kuat agar perubahan sikapnya terasa wajar.

Selain Harry, ada juga keluarga dan orang-orang di perusahaan yang tampaknya terlalu mudah mempercayai Liren. Sebetulnya ya sah-sah saja, Li Ren yang pandai memanipulasi mampu mengecoh karyawan-karyawan di Jiali. Namun, ketika terlalu banyak karakter seolah kehilangan akal sehat hanya supaya konflik berlanjut, aku mulai hilang kesabaran. Serius.

Beberapa masalah sebetulnya bisa selesai lebih cepat kalau karakternya mau bertanya, mencari informasi, atau berkomunikasi dengan lebih masuk akal. Aku tahu ini drama, bukan simulasi kehidupan nyata. Konflik memang dibutuhkan, tetapi bukan berarti setiap masalah harus diperpanjang dengan membuat orang-orang di dalamnya mengambil keputusan yang sulit dipahami.

Tokoh toxic boleh membuat penonton marah. Tokoh manipulatif boleh bikin kita gemas. Tokoh utama pun tidak harus selalu menyenangkan. Aku malah suka karakter yang punya kekurangan. Cuma… boleh dong kalau aku berharap tindakan mereka tetap masuk akal sesuai kepribadian dan situasi yang dibangun cerita.

Anehnya, meski banyak mengeluh, aku tetap ingin tahu kelanjutannya. Apakah Yu Meng bisa menyelamatkan perusahaan keluarganya? Apakah Liren benar-benar harus mempertanggungjawabkan perbuatannya? Bagaimana akhirnya perceraian mereka diselesaikan?

Cheng Hongxin sebagai Harry di The Vanishing Beauty

Cerita Sampingan yang Ancam Mental Health

Cerita tentang Han Guang dan istrinya, Weng Xin, termasuk yang paling menggangguku. Di depan orang lain, Han Guang terlihat seperti suami sabar yang penuh perhatian. Namun, perlahan muncul gambaran bahwa ia memanipulasi kondisi Weng Xin, termasuk persoalan pengobatan dan upayanya membuat sang istri sulit melawan. 

Situasi ini memperlihatkan betapa berbahayanya ketika seseorang memegang kendali besar atas kehidupan pasangannya, sementara suara orang yang sedang mengalami masalah justru tidak dipercaya.

Aku punya catatan terhadap cara drama ini menangani aspek medisnya. Sejumlah bagian agak kurang meyakinkan dalam menggambarkan kondisi kesehatan mental dan proses penanganannya. 

Ketika penilaian terhadap seseorang seolah bisa diterima begitu saja berdasarkan cerita pasangannya, penonton berisiko mendapat gambaran yang keliru tentang kesehatan mental dan hak pasien.

Orang yang mengalami gangguan mental tetap punya martabat, kebutuhan, dan hak untuk mendapatkan penanganan yang layak. Kondisi mereka bukan alasan untuk mengabaikan suara mereka, apalagi merampas kendali atas hidupnya. 

Penanganan medis seharusnya kan nggak boleh jadi alat bagi pasangan untuk menguasai atau membungkam seseorang.

Paham sih, The Vanishing Beauty ini kan drama fiksi, bukan dokumenter medis. Cerita tentu punya kebebasan untuk membangun ketegangan. Namun, kalau yang diangkat adalah isu seserius ini, cara penggambaran sutradara semestinya tetap perlu dipikirkan. Penderitaan seseorang sebaiknya tidak sekadar bikin penonton kaget doang.

Makanya, aku nggak rekomendasiin The Vanishing Beauty ini ditonton sama orang-orang yang punya trauma pernikahan atau yang sedang berjuang dengan kesehatan mental. Hati-hati ya say. 

Adegan pengkhianatan, manipulasi, dan pengendalian pasangan bisa terasa sangat dekat dengan pengalaman pribadimu. Kamu nggak akan selalu tahu bagian mana yang akan mengusik kenangan atau perasaan yang sedang berusaha kamu hindari.

Kalau kamu tetap ngotot mau kelarin serial ini, kamu lewatkan saja adegan-adegan tertentu.

Pelajaran Rumah Tangga dari The Vanishing Beauty

Di balik berbagai kekurangannya, ada beberapa hal dari drama China, The Vanishing Beauty yang masih kupikirkan setelah menonton.

1. Jangan menyerahkan seluruh kendali hidup kepada pasangan

Pernikahan memang membutuhkan kepercayaan, tetapi percaya bukan berarti kita harus menutup mata terhadap urusan keuangan, aset, pekerjaan, atau keputusan besar yang memengaruhi masa depan keluarga.

Kita tidak perlu mencurigai pasangan setiap saat. Namun, mengetahui kondisi keuangan keluarga, memahami hak sendiri, dan ikut mengambil keputusan bukan tanda bahwa kita tidak percaya kepadanya. Itu bagian dari tanggung jawab bersama. 

Keterbukaan semestinya berlaku untuk kedua belah pihak, bukan hanya ketika salah satu pasangan merasa perlu menjelaskan sesuatu.

2. Cinta bukan alasan untuk terus memaklumi kebohongan

Liren punya banyak alasan untuk membenarkan tindakannya. Lu Hui pun bertahan pada harapan bahwa laki-laki itu suatu hari akan kembali kepada keluarganya. Akan tetapi, perasaan cinta tidak otomatis membuat hubungan menjadi sehat.

Kita bisa menyayangi seseorang sekaligus menyadari bahwa perilakunya merugikan kita. Kita bisa memahami kesulitannya tanpa harus mengorbankan keselamatan, harga diri, atau masa depan sendiri demi menyelamatkannya.

3. Jangan gampang menghakimi orang yang sedang berusaha keluar dari hubungan toxic

Dari luar, gampang sekali orang bilang, “Kenapa kamu nggak cerai aja?” atau “Kenapa baru sekarang kamu melawan?” 

Padahal, kita belum tentu tahu persoalan keuangan, tekanan keluarga, ketergantungan emosional, atau risiko yang harus dihadapi orang tersebut.

Yu Meng memiliki akses terhadap bantuan hukum dan sumber daya yang membuatnya lebih leluasa mengambil langkah. Orang lain mungkin tidak punya pilihan serupa. 

Itulah kenapa informasi yang tepat dan dukungan tanpa penghakiman bisa jauh lebih berarti daripada mendesak seseorang mengambil keputusan sesuai standar kita.

4. Perempuan tidak membutuhkan pasangan baru untuk membuktikan bahwa trauma pernikahannya sudah sembuh

Aku menyukai ruang yang diberikan cerita kepada Yu Meng untuk membangun kembali kehidupannya. Hubungannya dengan Jiao Xu memang menarik dan menyisakan kemungkinan romantis, tetapi keberhasilan Yu Meng tidak semestinya diukur dari apakah ia akhirnya mendapatkan laki-laki baru.

Ia perlu menemukan kembali kepercayaan kepada dirinya sendiri, membangun kemandirian, dan menentukan apa yang ingin dilakukan setelah pernikahannya berakhir. 

Kalau kelak ia menjalin hubungan baru, tentu itu bisa menjadi bagian menyenangkan dari hidupnya. Namun, ia tidak harus punya pasangan untuk mendapatkan akhir yang bahagia.

5. Dukungan dari perempuan lain bisa sangat berarti

Bantuan Liu Zi dan orang-orang yang akhirnya percaya kepada Yu Meng membuatnya tidak harus menghadapi semua masalah sendirian. 

Kita tidak perlu selalu punya pengalaman yang sama untuk memahami kesulitan orang lain. Selama kita bersedia mendengarkan, tidak buru-buru menghakimi, dan tetap berani mengingatkan ketika teman perempuan kita mengambil keputusan kurang tepat, itu bagus.

Persahabatan tidak harus berarti selalu membenarkan satu sama lain. Dukungan terbaik justru datang dari orang yang membantu kita melihat keadaan dengan lebih jernih.

Apakah The Vanishing Beauty Layak Ditonton?

Menurutku, menarik, tetapi bukan tanpa catatan. Aku kasih nilainya 8/10. Aku suka perkembangan Yu Meng, konflik perebutan Jiali Cosmetics, dan gambaran tentang manipulasi yang tidak selalu terlihat dari luar. 

Pesan mengenai kemandirian perempuan dan pentingnya mempertahankan hak sendiri juga terasa kuat. Namun, ada karakter yang kurang tergarap, konflik yang terasa dipaksakan, dan penggambaran kesehatan mental yang menurutku masih perlu diperbaiki. 

Kesan yang paling membekas selama aku menonton serial ini adalah rumah tangga yang terlihat sempurna dari luar belum tentu baik-baik saja di dalamnya. Foto mesra di media sosial tidak bisa dijadikan bukti bahwa sebuah pernikahan sehat. 

Begitu juga reputasi seseorang yang terlihat sukses, ramah, dan dihormati banyak orang bukan jaminan bahwa ia memperlakukan pasangannya dengan baik.

Tidak semua kejadian dalam drama ini realistis. Beberapa bahkan cukup sulit dipercaya. Namun, pola kebohongan, pengalihan kesalahan, dan upaya mengendalikan pasangan yang ditampilkan ceritanya bisa kita temui dalam kehidupan nyata. Itu yang membuat serial ini melelahkan sekaligus sulit diabaikan.

Kalau kamu suka drama rumah tangga yang penuh perselingkuhan, manipulasi, dan perebutan kekuasaan, The Vanishing Beauty mungkin akan membuatmu penasaran sampai episode terakhir. 

Tapi… kalau tema-tema itu terlalu dekat dengan pengalamanmu, kamu tidak perlu memaksakan diri. Tujuan kita sebenarnya nonton drama kan buat mencari hiburan. Kalau ternyata ceritanya malah bikin kita tertekan, JANGAN TONTON!

Pesanku untukmu yang membaca ulasan ini, memperjuangkan pernikahan bukan berarti harus bertahan dalam segala keadaan. Kita juga berhak memperjuangkan diri sendiri. Semangat untuk seluruh perempuan dan istri di luar sana!

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment