Buku FANATSTIC XX BIGBANG
Buku FANATSTIC XX BIGBANG

FANTASTIC XX bukan sekadar buku yang kebetulan aku edit. Prosesnya makan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan bagian yang tidak ada di job description editor, yaitu air mata. Yes. Aku beberapa kali nangis saat mengedit buku ini.

Beberapa cerita di dalamnya terlalu dekat dengan kehidupanku. Dan karena aku juga VIP, mengedit buku ini rasanya lebih personal, nggak seperti aku mengeditori buku-buku penulis lain yang pernah aku bimbing.

Sudah dua puluh tahun. Duduk berjam-jam di depan laptop, membaca cerita orang tentang BIGBANG, lalu menemukan begitu banyak cerita yang entah bagaimana bisa membuka laci kenanganku sendiri. Padahal tadinya niat cuma memperbaiki typo doang.

Awalnya kupikir pekerjaan ini akan cukup straightforward. Edit tulisan, rapikan struktur kalimat, cek fakta, betulkan typo, samakan gaya, susun foto, pastikan caption benar, cek nama lagu, tahun, album, timeline. Selesai.

Ternyata ya… ampun. 

Awal Mula Fantastic XX

Maret 2026, aku mulai bisik-bisik dengan beberapa sahabat di BIGBANG Dynasty. “Buat ulang tahun ke-20 BIGBANG, kita mau bikin project apa, nih?”

LED sudah pasti, di Korea dan Jakarta. Itu mah wajib, ya kan? Tapi setelah LED, apa lagi?

Kami mulai lempar-lempar ide. Merchandise? Sudah biasa. Lalu apa? Kalau bisa ada yang bisa jadi kenang-kenangan untuk diberikan kepada para member, tapi kalau bisa kenang-kenangan yang memang dibuat oleh VIP sendiri, bukan beli siap jadi.

Sampai akhirnya ada yang nyeletuk soal buku. Beberapa teman kemudian bilang, “Muthe, bikin buku tentang BIGBANG, dong.”

Aku pikir, ya boleh juga. Tapi kepikiran, kalau aku yang menulis semuanya sendiri, kok malah kurang seru?

BIGBANG sudah menemani VIP selama dua puluh tahun. Masa semua ceritanya cuma datang dari satu kepala? Akhirnya aku komporin anak-anak. “Gimana kalau kita nulisnya keroyokan?”

Hayuk.

Dari situ, obrolan kecil mulai punya bentuk, meski bentuknya belum langsung kelihatan juga. Saat itu fanbase grup sedang ramai. Masing-masing fanbase solo juga punya project sendiri. 

Belum lagi kami sedang sibuk nge-hype BIGBANG yang akhirnya bakal kembali tampil di Coachella. Fokus kami kepecah ke banyak hal.

Baru pada Mei 2026 proyek bukunya benar-benar mulai jalan. Sejak itu, rutinitasku kurang lebih berubah menjadi buka laptop, edit naskah, buka dokumen lain, cek fakta, baca cerita, cari foto, edit lagi, baca lagi… lalu sadar-sadar sudah tengah malam.

Mungkin ada dua bulanan aku benar-benar nggak terima job menulis dulu demi fokus ke buku ini. Aku benar-benar menikmati semua itu.

Salah satu hal yang kusukai dari menjadi VIP memang ini. Ketika ada sesuatu yang menyangkut BIGBANG, fanbase grup dan fanbase solo bisa duduk bareng dan kerja sama.

BIGBANG Dynasty Indonesia bekerja sama dengan GDynasty_Indonesia, TaeyangID, dan Daeina. Masing-masing ikut mengirimkan perwakilan penulis untuk buku ini.

Sejak awal, kami juga sepakat bahwa FANTASTIC XX harus punya ruang untuk berbagai generasi VIP. Jangan sampai buku ini hanya berisi cerita VIP yang sudah mengikuti BIGBANG sejak zaman baheula dan kemudian seolah-olah yang datang belakangan tidak punya sejarah.

Memang kebanyakan dari kita adalah VIP yang sudah bersama BIGBANG sejak lama. Tapi kan ada juga yang baru jadi VIP ketika era MADE. Bahkan ada juga yang baru benar-benar jatuh cinta setelah melihat mereka tampil di MAMA 2024.

Menurutku, semua VIP punya tempat. Jadi VIP kan nggak punya batas waktu pendaftaran. Nggak ada istilahnya belum cukup lama untuk punya cerita dan kesan tentang BIGBANG.

Setiap orang punya pintu masuk masing-masing. Lagu pertamanya pun beda-benda. Ada yang suka BIGBANG karena Lies. Ada yang lewat Haru-Haru atau Fantastic Baby atau Bang Bang. Ada yang jatuh cinta setelah era MADE, dan ada pula yang pertama kali melihat mereka ketika formasinya sudah tidak lagi berlima.

Akhirnya terkumpullah 34 penulis dari berbagai angkatan VIP. Begitu tulisan-tulisan mereka mulai masuk, aku semakin yakin bahwa keputusan untuk membuat buku ini secara keroyokan memang tepat.

Cerita tentang BIGBANG yang aku edit hampir tidak pernah benar-benar hanya tentang BIGBANG. Semua rata-rata berisi kenangan mereka saat pertama kali mengenal BIGBANG hinga melabeli diri sebagai VIP.

Ada yang mengenal BIGBANG saat masih SMP atau SMA. Ada yang bertemu musik mereka ketika kuliah. Ada yang punya kenangan tentang lagu tertentu dari masa jatuh cinta, menikah, punya anak, atau melewati masa hidup yang tidak mudah.

Ada pula yang justru mengingat seseorang yang sudah tidak ada setiap kali lagu tertentu terdengar. Aku membaca semua cerita itu sebagai editor, satu per satu.

Kupahami akhirnya, buku ini akan jauh lebih personal daripada yang kami bayangkan ketika pertama kali ngobrol.

Hal-hal kecil dalam proses pengerjaannya juga ikut dikerjakan ramai-ramai. Cover dipercayakan kepada Ariana. Barcode dikerjakan Keke. Barcode-nya VIP-coded banget.

Buku ini hadir dalam dua versi, bahasa Indonesia dan Inggris. Khusus edisi bahasa Inggris, aku dibantu oleh Meii, Kak Vani, Keke, dan Gita.

Ketika pembaca menemukan barcode di setiap judul cerita, dan melakukan scan, mereka bisa langsung terhubung dengan lagu yang berkaitan dengan cerita yang sedang dibaca.

Pembaca bisa scan, putar lagunya, lalu kembali membaca. Ah, nostalgia banget pastinya. Sebuah kenangan ditemani soundtrack.

Juli 2026, akhirnya tercatat 358 halaman setelah final editing. Buku ini ditulis 34 VIP, dikerjakan kurang lebih 4 bulan, diisi foto, cerita, lagu, nostalgia, dan tentu saja sedikit drama khas proyek buku.

Lahirlah FANTASTIC XX: VIP Stories for BIGBANG’s 20th Anniversary, buku tentang orang-orang yang pernah disentuh oleh musik dan perjalanan BIGBANG.

Chapter 1: The First Light

Bagian ini berisi perjalanan BIGBANG sejak awal. Dari lima anak muda dnegan latar belakang berbeda, sampai akhirnya mereka menjadi salah satu nama yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah K-pop.

Aku suka menyebutnya “halaman pertama” meski sebetulnya cerita BIGBANG jauh lebih panjang dari sekadar satu bab. Pada 19 Agustus 2006, BIGBANG debut.

G-Dragon dan Taeyang sudah lama menjadi trainee YG. T.O.P datang dari dunia hip-hop underground. Daesung masuk dengan pengalaman yang masih minim. Sementara Seungri harus berjuang keras untuk mendapatkan tempatnya.

Kalau melihat mereka sekarang, rasanya mudah untuk lupa bahwa BIGBANG juga pernah menjadi sekelompok anak muda yang sedang mencari bentuk dan rupanya. Mereka belum tahu akan sejauh apa perjalanan mereka.

Kita yang menjadi VIP bertahun-tahun kemudian juga tentu tidak tahu. The First Light mencoba membawa pembaca kembali ke titik awal itu.

BIGBANG Timeline dibuka dengan perkenalan tiga member dan dua eks-member. Lanjut cerita tentang bagaimana fandom VIP terbentuk. Konser-konser kecil mereka, hingga tur dunia. Diskografi grup dan solo member. Kita tidak hanya mengingat apa yang mereka lakukan, tapi setelah 20 tahun, apa yang terjadi pada kita, para penggemarnya?

The First Light, FANTASTIC XX
The First Light, FANTASTIC XX

Chapter 2: Made in Memories

Inilah yang terjadi pada kita, tertulis begitu detail di Made in Memories. Kalau ditanya bagian mana yang paling terasa seperti jantung buku, chapter kedua inilah jawabannya.

Ada 34 cerita VIP di dalamnya, dan masing-masing datang dari pintu yang berbeda. Ada yang mengenal BIGBANG lantaran melihat video klip Haru Haru. Ada yang awalnya tertarik karena G-Dragon, ada yang langsung terpikat T.O.P, ada yang kemudian menemukan keluarga lewat fandom.

Judul-judulnya pun sudah memberi gambaran itu. Rumah yang Kembali Bernapas, BIGBANG: Tempat Kenangan Berlabuh, BIGBANG Got Me the Power, Kesalahan Terindah dalam Playlist Hidupku, Melodi yang Melintasi Generasi, The Men Who Taught Me How to Survive, Lagu yang Menemani Kehilangan, Rumah Itu Bernama VIP FAM, sampai BIGBANG Mengajarkanku Bahagia Lagi.

Kubaca semuanya. Semakin jauh kubaca, semakin terasa seperti sedang membuka arsip kehidupan.

Sebagai editor, aku terbiasa memberi tanda di naskah. Koma kurang, typo, kalimat kepanjangan, paragraf perlu dipindah, bagian ini repetitif, yang ini bisa dipotong, yang itu perlu ditambah.

Begitu sudah menjadi pekerjaanku sehari-hari di dunia penerbitan dan kepenulisan. Tapi ya tetap saja ada saat ketika tanganku berhenti di keyboard, baca beberapa kali kalimat yang sama, ketika menemukan bagian yang harus disentuh dengan sangat hati-hati.

Salah satunya adalah cerita tentang kehilangan. Seorang VIP yang kehilangan suaminya ketika BIGBANG kembali bernyanyi. Saat itu ia sedang mengandung anak mereka. Tidak lama kemudian, ia melahirkan seorang putri.

Lalu Still Life dirilis, menemaninya saat kehilangan. Kubayangkan bagaimana rasanya menerima lagu itu pada waktu seperti itu. Kelahiran dan kematian datang berdekatan. Bahagia datang bersamaan dengan kehilangan.

Bagi sebagian VIP, Still Life mungkin sebuah lagu comeback dalam format empat member. Tapi bagi dia, penulis itu, lagu tersebut membawa cerita berbeda. Ia bahkan baru sanggup benar-benar mendengarkan lagu tersebut lagi pada 2024.

Sebagai editor, aku rasanya nggak sedang membaca naskah. Seseorang sedang membuka pintu ke kamar yang selama ini ia tutup rapat-rapat, lalu mempersilakanku masuk sebentar.

Aku jadi ekstra hati-hati. Karena tugasku sebagai editor bukan cuma mempercantik tulisan mereka. Aku harus tahu bagian mana yang tidak perlu terlalu banyak dipercantik.

Kalimat yang terlalu rapi sometime bisa menghilangkan luka. Kalimat yang terlalu puitis pun bisa membuat kesedihan seperti ornamen. Feel-nya hilang, dan aku nggak mau itu kejadian.

Jadi, beberapa kali aku berhenti mengedit. Bengong sebentar, mungkin peregangan, tarik napas, in-hale ex-hale, ngeteh atau ngopi dulu, baru lanjut lagi.

Pernah juga kupaksakan lanjut sambil nangis. Namanya juga editor, ya. Harus profesional. Saking profesionalnya, sambil lap air mata.

Cerita lain yang membuatku cukup menyayat hati adalah betapa dalamnya MADE album bagi penulis. Album itu ikut berjalan bersamanya melewati banyak fase hidupnya.

Dia jatuh cinta pada seorang pria, kemudian mereka menikah, lalu si penulis mengetahui dirinya hamil, menjadi ibu, sampai akhirnya menghadapi kenyataan bahwa pernikahannya berakhir tidak harmonis.

Coba pikirkan bagaimana satu album bisa menyimpan luka sebanyak itu. MADE Album punya wajah, tempat, umur, hubungan, dan versi yang berbeda bagi si penulis yang juga VIP ini.

Begitu lagu yang sama diputar lagi bertahun-tahun kemudian, yang kembali bukan cuma melodinya. Orang-orang yang pernah ada dalam hidupnya bisa jadi ikut muncul. 

Ya, beberapa cerita dalam buku FANTASTIC XX ini memang pukulan kecil. Kita membaca pengalaman orang lain, tapi diam-diam malah mengingat hidup sendiri.

VIP dan Seni Menunggu

Satu tema yang kalau boleh kusimpulkan sebagai editor, berkali-kali muncul di buku ini. Apa itu? Dia adalah tema “menunggu.”

Sebagai VIP, kita sebenarnya sudah cukup terlatih dengannya. Masa-masa kita menunggu album baru BIGBANG, menunggu comeback mereka, konsernya, menunggu kabarnya, menunggu member selesai wajib militer. 

Tak kalah penting, setelah 2019, kita menunggu kemungkinan yang bahkan belum tentu menjadi kenyataan.

Hidup juga sering meminta kita menunggu sambil mengerjakan hal lain. Beberapa VIP mengenal BIGBANG sejak remaja, tetapi berkali-kali harus melewatkan konser mereka di Indonesia.

Alive World Tour lewat. MADE World Tour juga lewat. Tur solo G-Dragon di Jakarta pun lewat.

Bukan karena nggak cinta BIGBANG, tapi memang karena hidup pada masa itu sedang punya prioritas lain. Entah itu kuliah, pekerjaan, rumah tangga, tagihan dan cicilan, segala macam urusan yang tidak bisa ditunda hanya demi satu tiket konser.

Menurutku, ini penting untuk dikenang dan menjadi pelajaran bagi penggemar-penggemar yang lebih muda, bahwa menjadi fan bukan berarti hidup berhenti hanya karena nggak bisa nonton konser idola kita.

Kita justru tumbuh sambil menjadi fan. Kita kuliah, bekerja, menikah, punya anak, pindah rumah, berganti pekerjaan, menghadapi masalah sendiri. Kadang tiket konser memang harus kalah dengan kebutuhan hidup, tapi itu tidak otomatis membuat seseorang menjadi VIP yang “kurang cinta” sama BIGBANG.

Tidak semua cinta harus dibuktikan dengan jumlah konser yang didatangi atau seberapa banyak merchandise resmi grup yang dibeli.

Bentuk-bentuk lain begitu banyak, misalnya tetap menyimpan lagu mereka di playlist, tetap support mereka lewat voting online, lalu suatu hari ketika hidup sudah lebih longgar, akhirnya bisa datang juga ke konsernya.

BIGBANG Setelah 20 Tahun

Kemudian 2025–2026 datang dengan segala kekacauannya. BIGBANG muncul lagi.

MAMA 2024, MAMA 2025, Coachella, kabar album baru grup, kabar solo album, GD dengan Ubermensch dan tur dunianya, Taeyang dengan Quintessence, Daesung dengan D’s WAVE. Tak lupa, T.O.P dengan Squid Game dan Another Dimension. 

Puncaknya adalah bocoran dari GD soal kabar tur dunia untuk merayakan dua puluh tahun BIGBANG.

Timeline mendadak berubah. Foto-foto lama bermunculan. Video lama dibuka lagi. Folder lama di laptop dan ponsel kembali dicari. Lightstick dikeluarkan. Album dibongkar dari tempat penyimpanan. Lagu-lagu lama diputar.

VIP yang selama bertahun-tahun sibuk menjadi orang dewasa mendadak fangirling lagi, termasuk aku.

Lucu sekaligus mengharukan, melihat orang-orang yang dulu masih sekolah sekarang sudah punya pekerjaan, keluarga, bahkan anak, tapi begitu mendengar kabar BIGBANG, reaksinya masih seperti dulu.

Apalagi, buku FANTASTIC XX ini kebetulan dikerjakan di tengah momentum itu. Ceritanya masih bergerak ketika kami menulisnya.

Daesung, Taeyang, dan GD, formasi BIGBANG saat ini
Daesung, Taeyang, dan GD, formasi BIGBANG saat ini

Lalu Aku Harus Mengedit Ceritaku Sendiri

Di antara 34 cerita itu, aku harus mengedit ceritaku sendiri. Cukup menyebalkan untuk diedit.

Kesalahan Terindah dalam Playlist Hidupku.

Dulu aku pernah sangat yakin pada dua hal, aku akan lulus kuliah tepat waktu dan aku tidak akan suka K-pop. Begitulah kira-kira prolognya.

Well. Aku ngakak sendiri. Hal pertama saja sudah tidak sesuai rencana, aku tetap agak terlambat lulusnya, 4 tahun sekian bulan. Apalagi yang kedua, bahkan lebih parah.

Buktinya, aku masih VIP sampai sekarang. Dalam tulisanku, aku cerita tentang bagaimana aku mengenal BIGBANG ketika masih mahasiswa jelang semester akhir tahun 2007. 

Waktu itu aku datang ke kamar Jojo, sahabatku, mula-mula cuma mau minta copy episode terbaru drama Korea, Coffee Prince. Tapi hidup memang suka bercanda. Tiba-tiba saja di copy-an Jo itu nyelip MV Lies BIGBANG.

Pas aku dengerin, eh suka. Begitulah singkat cerita bagaimana aku menjadi VIP. Dua puluh tahun kemudian, cerita itu masuk ke sebuah buku yang justru aku edit sendiri.

Kalau ini bukan plot twist, aku juga tidak tahu apa namanya.

BIGBANG tidak Lagi Sama, Kita Juga tidak

Nggak seperti biasanya, agak aneh ketika melihat halaman copyright buku ini. Nama penyunting adalah namaku sendiri, Mutia Ramadhani.

Secara profesional, ya memang itu pekerjaanku, tapi konteksnya aku sedang mengedit buku tentang sesuatu yang ikut menemani sebagian hidupku.

Sebagai VIP purba yang bias pertamanya adalah T.O.P, tentu ada beberapa bagian dari tulisan teman-teman yang membuat pertahananku sebagai editor gampang jebol.

Salah satunya ketika membaca cerita tentang bagaimana mereka ikut sedih dengan kepergian T.O.P meski sekarang sudah jauh lebih legawa melepaskannya.

Kalau harus memilih satu lagu yang paling banyak disebut selama proses mengedit buku ini, itu adalah Still Life.

Setelah dua puluh tahun, kita tidak lagi mendengarkan lagu BIGBANG dengan telinga yang sama. Sekarang kita sudah membawa terlalu banyak pengalaman.

VIP kini telah menjadi broken home family. Dua kali kehilangan member yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri. Saat kita mendengarkan lagu yang sama, dulu dan sekarang, feel-nya sedikit beda.

Selama mengedit buku ini, aku beberapa kali memikirkan hal sama. Kita sering bilang ingin BIGBANG kembali seperti dulu, padahal jujur aja, kita sendiri sebagai penggemar mereka juga sudah tidak seperti dulu.

Aku yang mengenal BIGBANG bertahun-tahun lalu bukan orang yang sama dengan aku sekarang. VIP yang dulu masih SMP atau SMA mungkin sekarang sudah menjadi ibu, ayah, profesional, pengusaha, guru, dokter, editor, fotografer, atau menjalani kehidupan yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan ketika pertama kali mendengar lagu mereka.

Di tahun ke-20 ini, mungkin yang kita cari sebenarnya bukan BIGBANG tahun 2008 pas Haru Haru, atau BIGBANG 2015 pas MADE yang harus diulang persis seperti dulu.

Mungkin kita hanya sedang mencari perasaan yang pernah muncul pada masa itu. Perasaan itu tidak harus hilang hanya karena bentuk kehidupan sudah berubah.

BIGBANG berubah. Kita juga berubah. Tapi yang namanya kenangan, tetap boleh tinggal.

Menjadi VIP, buatku, tidak harus memegang masa lalu erat-erat. Kita bisa membawa beberapa bagian dari masa lalu itu ikut berjalan bersama kita sekarang ini, tapi nggak mungkin kita membawa semuanya.

Setelah selesai mengedit 358 halaman, aku masih kesulitan mengategorikan ini buku apa. Aapalagi, buku yang terdiri dari dua versi (Bahasa Indonesia dan Inggris) ini juga dikirimkan pada ketiga member, GD, Taeyang, dan Daesung.

Fanbook? Iya.

Memoir? Iya juga.

Kumpulan cerita atau antologi? Iya.

Catatan kecil perjalanan BIGBANG dan VIP Indonesia? Bisa.

Pas bikin tulisan di blog ini, aku menemukan istilah baru untuk mewakili buku ini. Aku menyebut FANTASTIC XX ini sebagai kotak kenangan.

Isinya macam-macam. Makanya aku berharap buku ini tidak dibaca terburu-buru. Kalau ada cerita yang terasa familiar buatmu, berhenti sebentar, nikmati.

Kalau ada lagu yang disebut, scan barcode-nya. Putar lagunya, nostalgia sejenak.

Kalau ada cerita yang tiba-tiba membuatmu ingat seseorang, mungkin kirim pesan ke orang itu. Siapa tahu orangnya masih VIP juga. Hehehe.

Untuk 34 VIP yang menulis buku ini, aku ingin sampaikan terima kasih karena sudah mau menitipkan cerita kalian kepada BIGBANG Dynasty.

Nggak semua cerita gampang ditulis. Yakin banget aku. Pastilah ada kenangan yang menyenangkan, lucu, bahkan bikin malu kalau diingat lagi. Ada juga yang sebenarnya sudah lama disimpan dan tidak pernah benar-benar selesai.

Beberapa cerita mungkin masih terasa sakit, tapi kalian tetap menulisnya. Sekarang cerita itu menjadi bagian dari buku yang suatu hari nanti mungkin akan dibaca orang lain yang tidak pernah kalian kenal.

Bisa jadi sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun dari sekarang ada VIP yang membuka buku ini dan menemukan satu cerita yang terasa sangat dekat dengan hidupnya.

Dua Puluh Tahun Itu Lama

Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam dua puluh tahun, seseorang bisa lahir, tumbuh, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, punya anak, kehilangan orang yang dicintai, pindah kota, berganti pekerjaan, dan menemukan versi dirinya yang sama sekali berbeda.

BIGBANG juga melewati banyak hal. Debut, album grup, album solo, Alive World Tour, Made World Tour, wajib militer, Flower Road, Still Life, MAMA, Coachella, lalu ulang tahun ke-20.

Kita sebagai VIP juga melewati dua puluh tahun itu. Bedanya, panggung kita bukan stadion sebagaimana BIGBANG, melainkan ya hidup sendiri.

Terima Kasih, BIGBANG. Sebagai editor, aku bangga dengan buku ini. Sebagai penulis, aku senang akhirnya bisa memasukkan ceritaku sendiri ke dalamnya. Sebagai VIP selama dua puluh tahun, terima kasih karena aku masih bisa berkumpul dengan sahabat-sahabat VIP-ku hingga konser anniversary mereka di Jakarta, 16 Januari 2027 nanti.

Once a VIP, forever a VIP. See you on the next chapter.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment