Benarkah anak autis jenius? Tidak, tidak semua anak autis jenius. Dan ya, anak autis tetap berhak mendapatkan penanganan yang serius, bahkan ketika ia terlihat “pintar.”
Narasi tentang “anak autis jenius” terdengar indah, optimistis, dan lebih mudah diterima daripada kenyataan yang sering kali melelahkan, penuh kecemasan, dan tidak Instagramable.
Aku menulis ini bukan sebagai pakar. Aku menulis sebagai ibu. Ibu yang sudah tujuh tahun berjalan bersama anak autis, dari fase denial, harapan palsu, terapi yang naik-turun, sampai akhirnya berdamai dengan kenyataan.
Aku mau meluruskan mitos tentang “anak autis jenius.”
Mitos Anak Autis Jenius
Kalau kita tarik ke belakang, banyak orang mengenal autisme lewat film, misalnya “Rain Man” atau drama Korea “Good Doctor” dan “Extraordinary Attorney Woo.”
Belum lagi berita-berita tentang anak autis yang jago matematika, musik, atau hafalan luar biasa. Plus, konten viral di media sosial yang menunjukkan anak kecil yang belum bisa bicara tapi bisa menyebut nama-nama planet, bintang, hingga nama latin dinosaurus.
Semua itu nyata. Tapi ada satu kata kunci yang sering hilang dari narasi tersebut, yaitu LANGKA. Anak autis dengan kemampuan savant, kemampuan luar biasa di satu bidang, itu minoritas kecil dalam spektrum autisme.
Mayoritas anak autis itu berjuang dengan komunikasi, kesulitan meregulasi emosi, memerlukan bantuan untuk kemandirian sehari-hari, membutuhkan intervensi dini agar kualitas hidupnya membaik. Tapi cerita-cerita fakta begini jarang viral karena emang nggak “menghibur.”
Autisme Itu Spektrum, Bukan Cetakan Seragam
Masih banyak terdapat kesalahpahaman masyarakat memahami autisme, terutama menganggapnya seperti satu kotak dan satu bentuk, semuanya sama. Padahal autisme itu kumpulan spektrum. Artinya ciri-cirinya banyak, cakupannya luas, beragam, dan tidak bisa disamaratakan.
Ada anak autis yang non-verbal. Ada pula yang verbal tapi kurang komunikatif, seperti anakku. Ada yang pintar secara akademik tapi kesulitan interaksi sosial. Ada pula yang kesulitan kognitif tapi sangat afektif. Dan ada yang mandiri secara intelektual tapi rapuh secara emosional.
Aku cuma bisa senyum-senyum saja, ketika orang tua lain yang tahu anakku autis, menghiburku dengan kalimat, “Anak autis itu jenius loh, Bu. Sabar saja, nanti pas besar pasti pintar.”
Dalam hati, aku cuma bisa mengamini. Bagaimana pun, doa yang baik-baik harus diterima dan disyukur dengan lapang hati, begitu kan?
Bahaya Narasi “Jenius” bagi Orang Tua Baru
Sesungguhnya, menyebut “anak autis jenius” tanpa konteks sama saja seperti kita bilang, “Duh, anaknya tinggi, pasti jadi atlet basket.”
Apakah orang tinggi pasti bisa main basket atau jadi atlet basket? Bisa iya, tapi mayoritas ya tidak.
Aku pengen banget menekankan hal ini, terutama untuk ibu-ibu yang mungkin anaknya baru saja didiagnosis autism spectrum disorder (ASD).
Ketika seorang anak baru terdiagnosis autisme, orang tua biasanya berada di fase paling rentan. Mereka pasti kaget, takut, sedih, bingung, cari berbagai cara pengobatan dan terapi di mana saja. Aku pernah berada di fase ini kurang lebih tiga bulan lamanya.
Lalu tiba-tiba datanglah kalimat yang terdengar seperti pelukan itu, “Tenang, anak autis itu biasanya nanti besarnya jenius.” Kalimat-kalimat serupa ini bisa berbahaya kalau kita telan mentah-mentah.
Kenapa?
Karena harapan palsu sering membuat orang tua menunda terapi, meremehkan intervensi dini, menganggap “nanti juga bisa sendiri” sebagai penghibur hati. Mereka lebih fokus mencari bakat tersembunyi, bukan kebutuhan nyata anak sesuai jenjang usianya.
Padahal, usia emas perkembangan anak autis itu sangat sempit. Apa yang tidak distimulasi hari ini, bisa jauh lebih sulit dikejar nanti, seiring pertambahan usia mereka.
Pintar Bukan Berarti Tidak Butuh Bantuan
Aku pernah ada pada fase ketika membawa anakku ke tempat umum atau bicara sama ibu-ibu lain di sekolah misalnya, mereka pada bilang, “Rashif kelihatan pintar kok, Mbak. Nggak kelihatan autisnya sama sekali loh ini.”
Komentarnya lalu lanjut membandingkan Rashif dengan anak-anak autis lain yang pernah mereka lihat dan mungkin spektrumnya lebih banyak dari Rashif.
Memang benar, anakku memiliki kecerdasan di beberapa bidang. Salah satunya adalah kecerdasan auditori. Saat usianya baru menginjak enam tahun, ia sudah mampu menghafal banyak ayat pendek dalam Juz 30 Al-Qur’an hanya dengan mendengarkan. Lagu-lagu anak pun mudah ia hafal cukup melalui metode listening.
Selain itu, anakku sangat pandai memadukan warna saat menggambar. Pilihan dan kombinasi warnanya terlihat harmonis dan indah, misalnya memadukan hijau dengan kuning, lalu memberi sentuhan ungu di beberapa bagian. hasil karyanya tampak hidup dan enak dipandang.
Anakku juga dikenal rapi dan disiplin. Ia terbiasa membersihkan kelas dengan tertib, menyusun buku dengan teratur, dan memastikan setiap barang berada di tempatnya. Dalam keseharian, ia konsisten menjaga kebiasaan baik, seperti menutup lubang closet toilet, menjemur handuk pada tempatnya, serta mematikan lampu yang tidak diperlukan pada malam hari.
Tapi kepintaran itu tidak otomatis menyelesaikan kesulitan komunikasi, ledakan emosi, ketidakmampuan dia mengekspresikan kebutuhan, dan ketergantungan dalam aktivitas harian.
Aku tak ingin romantis dengan anakku. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa kecerdasan tanpa keterampilan hidup tidak cukup.
Anak boleh pintar, tapi kalau dia tidak bisa mengungkapkan perasaan, meminta tolong, mengelola frustrasi, berinteraksi dengan dunia, maka ia tetap membutuhkan pendampingan.
Narasi “anak autis jenius” sering menggeser fokus orang tua ke satu hal saja, yaitu prestasi. Padahal, tujuan utama penanganan autisme bukan membuat anak menang lomba, trus jadi viral, sehingga membuktikan bahwa autisme bukan hambatan.
Iya, itu semua mungkin ada benarnya. Namun tujuan utama penanganan autisme adalah supaya anak spesial kita bisa hidup dengan lebih nyaman, bisa memahami dan dipahami, bisa mandiri sesuai kapasitasnya, dan bisa bahagia dengan caranya sendiri. Semua itu tidak otomatis datang dari yang namanya kecerdasan atau potensi hebatnya.
Mengabaikan Terapi di Usia Emas
Satu kesalahan orang tua dengan anak autis yang paling banyak terjadi adalah mengabaikan terapi pada usia emas anak. Mereka lambat merespons ciri-ciri berbeda pada anaknya. Padahal, gejala-gejala autisme mulai bisa terdeteksi sejak anak berumur 1-1,5 tahun.
Banyak orang tua, termasuk aku di awal, pernah berpikir, “Oh, anakku pintar, mungkin nggak perlu terapi terlalu intens.” Padahal terapi bukan hukuman buat anak. Terapi adalah alat untuk membantu otak anak membangun jalur komunikasi, melatih regulasi emosi, mengembangkan keterampilan sosial, menyusun fondasi kemandirian.
Usia emas itu bukan mitos. Plastisitas otak anak di usia dini itu nyata. Menunda terapi karena berharap “kejeniusannya muncul sendiri” adalah taruhan besar dan sering kali merugikan anak.
Salah kaprah. Kenapa sih anak autis harus jenius dulu supaya dianggap “bernilai”? Kenapa seolah-olah autisme baru bisa diterima kalau anaknya super pintar, bisa menghibur orang lain, atau punya bakat luar biasa.
Bagaimana dengan anak autis yang tidak jenius, tidak viral, tidak “wow.” Apakah mereka kurang layak diperjuangkan?
Sebagai ibu, aku ingin anakku dihargai bukan karena dia hebat, tapi karena dia manusia. Yang anak autis butuhkan dari orang tuanya bukanlah label jenius, bukan ekspektasi besar, apalagi perbandingan dengan anak lain.
Mereka tuh butuh orang tua yang hadir buat mereka, mau belajar buat mereka, orang tua yang realistis tapi membangun harapan masa depan. Orang tua yang tidak menutup mata demi mimpi indah semata.
Autisme itu perjalanan panjang. Saat Rashif mulai intensif terapi sejak usia 18 bulan, aku pernah kok merasa bahwa Rashif hanya butuh dua tahun terapi, setelah itu dia akan mandiri.
Dan ternyata? Sampai tahun ini dia akan menginjak usia 7 tahun, ternyata Rashif masih butuh terapi intensif untuk mengejar kemampuan kognitifnya.
Tidak semua hari itu baik dan tidak semua progres terlihat. Tapi setiap usaha kecil kita hari ini adalah investasi besar untuk masa depan anak spesial kita.
Pesan untuk Ibu-Ibu yang Baru Menerima Diagnosis Anak
Kalau kamu membaca ini sambil menahan air mata, aku ingin bilang satu hal, kamu tidak gagal menjadi ibu atau ayah. Anakmu tidak rusak. Kamu tidak harus menemukan “kejeniusannya” untuk membuktikan apa pun.
Fokuslah pada apa yang anakmu butuhkan hari ini. Beri dia dukungan dengan apa yang bisa kamu berikan sekarang. Beri dia bantuan yang realistis dan konsisten, seperti terapi dan diet sehat.
Kalau nanti anakmu punya bakat luar biasa, syukuri. Kalau tidak, tetap syukuri. Sebab nilai anak tidak diukur dari seberapa hebat dia terlihat di mata orang lain.
Realistis Bukan Berarti Pesimis
Pernyataanku bahwa “anak autis jenius itu langka” bukan berarti mematahkan harapanku. Justru sebaliknya, itu membantuku menyusun ekspektasi yang sehat, mengambil keputusan yang tepat, tidak mengorbankan masa depan anakku demi mitos.
Realistis bukan berarti pesimis, tapi sebagai bentuk tanggung jawab. Aku berharap ibu-ibu dan bapak-bapak di luar sana tidak terbuai oleh narasi yang manis ini. Autisme bukan kisah dongeng. Ia kisah nyata, kompleks, dan membutuhkan keberanian untuk dihadapi apa adanya.
Yakinlah, Pak, Bu, mencintai anak autis dengan cara yang realistis adalah salah satu bentuk cinta paling dewasa yang pernah ada.

Leave a Comment