Owner Pod Bali Chocolate, IGAA Inda Trimafo Yudha: Menduniakan Cokelat Bali

inda-7125 (1).jpg
Owner Pod Bali Chocolate, IGAA Inda Trimafo Yudha

Bali salah satu daerah penghasil kakao di Indonesia. Meski produksi bahan baku cokelat ini tak sebesar Sumatra dan Sulawesi, namun pabrik-pabrik cokelat popular skala kecil menengah justru terbanyak berada di Bali.

Popularitas Pulau Dewata sebagai destinasi dunia secara tak langsung menjadikan produk olahan cokelat di Bali ikut mendunia. Salah satu pemain utamanya adalah Pod Bali Chocolate. Produk-produknya sangat familiar dan selalu dicari kalangan turis mancanegara yang berkunjung ke Bali.

IGAA Inda Trimafo Yudha adalah sosok di balik kesuksesan Pod Bali Chocolate Factory. Bersama suaminya yang seorang Australia, Tobias Challenger Garitt, Inda memulai bisnis ini dari nol dengan misi menduniakan cokelat Bali. Berikut petikan wawancara bersama beliau di Denpasar beberapa waktu lalu. 

Sejak kapan terjun ke dunia bisnis?

Setelah menyelesaikan kuliah di Australia, sekitar 1999-2000 saya kembali ke Bali untuk menikah dan membangun usaha. Awalnya saya bekerja di perusahaan keluarga, True Bali Experience yang mengelola usaha jasa wisata, seperti arung jeram, cycling tour, jungle tracking, hingga berkuda.

Pada 2005, kami dipercaya Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali sebagai salah satu lembaga konservasi yang mengelola taman satwa di Desa Carangsari bernama Bali Elephant Camp. Saat itu ada sekitar 60 ekor gajah yang harus dikonservasi yang tentu saja membutuhkan biaya cukup besar, terutama pakan. Semua gajah yang dikonservasi di sini berasal dari Sumatra.

Kami menjadikan taman gajah ini untuk ekowisata yang memadukan sisi konservasi, wisata, dan budaya. Saya percaya satwa-satwa langka seperti gajah bisa lestari selama ada resolusi ekonomi di dalamnya. Dengan ekowisata, kita bisa melestarikan dan mengontrol supaya tidak terjadi kehancuran.

Kami pun terus berusaha mengembangbiakkan gajah-gajah ini. Sekarang ada tiga bayi gajah sumatra di Bali Elephant Camp yang baru lahir dan salah satunya kami beri nama Saraswati, sebab lahir di pekan perayaan Hari Saraswati di Bali.

Jadi, Pod Bali Chocolate bagian dari True Bali Experience?

Ya. Selain Pod Chocolate, bidang usaha lain yang juga kami kelola adalah Bali Elephant Camp, Ayung River Rafting, Bali Horse Riding, Ayung Cycling, Ayung Trekking, dan Safari Go Topless!

Mengapa memilih cokelat?

Kami ingin berinovasi untuk menjamin keberlanjutan usaha. Suami saya mencoba beberapa bisnis untuk menemukan passionnya, mulai dari yang berbasis lingkungan, agen perjalanan wisata, hingga suatu hari kami menyadari inovasi yang selama ini kami cari ada di kampung kami sendiri, Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung.

Desa Carangsari adalah salah satu penghasil cokelat terbaik di Bali. Suatu hari saya dan suami jalan-jalan ke Eropa, berkunjung ke pabrik dan toko cokelat yang ada di Paris. Betapa terkejutnya saya ketika menghampiri sebuah toko yang nyaris seluruh produk cokelatnya berbahan baku kakao dari Indonesia.

Kami berpikir, Eropa sama sekali tidak memiliki kebun cokelat, tapi mengapa negara-negara di sana bisa menjadi produsen cokelat terbaik dunia? Produk-produk cokelat Eropa semuanya berkualitas dan benua ini memasok bahan baku dari negara-negara luar, seperti Brasil dan Indonesia.

Saya pun teringat gajah-gajah di Bali Elephant Camp setiap tur sering menginjak tanaman-tanaman kakao yang waktu itu belum terlalu diseriusi. Saya bilang ke suami, kita harus menyeriusi cokelat-cokelat ini agar bernilai tambah tinggi.

Kenapa tidak? Kita punya bahan baku yang pastinya jauh lebih murah. Pemerintah waktu itu juga gencar mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk pertanian dan perkebunan.

Suami saya pun melakukan riset untuk mengolaborasikan pengolahan cokelat dengan konsep wisata yang sudah kami geluti bertahun-tahun. Desa kami punya sumber daya manusia (SDM) cukup, seperti komunitas petani kakao. Hal yang kurang adalah sentuhan teknologi dan alat produksi.

Langkah pertama yang diambil setelah itu?

Kami benar-benar mulai dengan trial dan error. Setelah riset, kami identifikasi mesin produksinya bagaimana, pengolahan biji kakao sebelum diolah menjadi cokelat itu bagaimana, konsepnya jika digabungkan dengan produk-produk wisata yang sudah dikembangkan di True Bali Experience nantinya seperti apa.

Itulah awal mula berdirinya Pod Bali Chocolate Factory, koor bisnis kami di Desa Carangsari yang lokasinya menyatu dengan Bali Elephant Camp. Kami memberikan pengunjung kesempatan melihat proses pembuatan cokelat langsung mulai dari proses pemetikan di lahan perkebunan, hingga mencicipi produk akhir. Prosesnya dari hulu ke hilir bisa dilihat di sini. Pengunjung juga bisa mengendarai gajah dan berinteraksi dengan satwa lainnya.

Bagian tersulit ketika pertama kali menjalankan usaha?

Kami cukup kesulitan merangkul petani. Kebanyakan mereka trauma dengan tengkulak. Mereka pernah menjual cokelat hanya Rp 10 ribu per kilogram (kg), sedangkan tengkulak bisa menjualnya hingga Rp 30 ribu per kg.

Petani-petani Carangsari alhasil waktu itu banyak yang menelantarkan kebun cokelatnya. Itu karena mereka secara hitung-hitungan tidak untung. Harga cokelat murah, sementara pemeliharaan tanaman dari hama dan pemupukan berbiaya mahal.

sorgt5.jpg
Foto: Pod Bali

Kami pun akhirnya mengambil satu contoh kebun petani yang kemudian dikelola dan diintensifkan untuk paket wisata Pod Chocholate Tour. Ketika program ini berjalan cukup baik, barulah petani-petani yang tadinya enggan  menjadi tertarik. Kami mulai menggerakkan mereka untuk merawat kebun dan menjual hasil kakaonya ke pabrik.

Cara memberdayakan petani ke depannya?

Kami akan membentuk koperasi tani cokelat agar hasil pertanian petani-petani di desan kami semakin tertampung dan lebih didukung pemerintah. Basisnya tetap agrowisata, ekowisata, dan konservasi.

Kapasitas produksi?

Kapasitas pabrik di lokasi True Bali Experience tak lagi mencukupi, hanya lima ton per produk per bulan. Kami membutuhkan pabrik baru lebih besar yang akhirnya dibangun di Mengwi, Badung Tengah, sekitar 2016. Kapasitas produksinya sembilan kali lebih besar dari pabrik pertama.

Lokasinya juga strategis karena berada di jalan lintas Denpasar-Bedugul. Banyak spot wisata yang dilalui, sehingga tamu tidak akan bosan.

Jenis-jenis produk yang diproduksi Pod?

Kami memiliki cokelat batangan (chocolate bar) 22 rasa. Secara umum kami mengelompokkannya ke dalam classic bar, nectar bar, nectar pouches, pod cubes, truffles & pralines, dan for chocolatiers & patissiere.

Bars-in-ROC.jpg
Foto: Pod Bali

Classic bar dibagi lagi menjadi 80 persen extra dark chocolate tanpa susu. Ini adalah produk healthy living yang juga bagus untuk kaum vegan. Ada juga 64 persen dark chocolate, 44 persen milk chocolate, dan 29 persen white chocolate.

Nectar bar kami ramu dengan tambahan komposisi rempah khas Indonesia, seperti kayu manis, daun mint, jahe, kunyit, cabai, bahkan pisang dan rosella yang seluruhnya diproduksi di Bali. Kami juga memproduksi chocnut spread.

Pemasarannya seperti apa?

Awalnya kami memasarkan cokelat pod ke hotel-hotel berbintang, seperti Alila dan Ritz Carlton. Berikutnya kami berkembang ke commercial kitchen, dan terus mengembangkan rasa dengan campuran komposisi hasil bumi Indonesia.

1-sdomi2.jpg
Foto: Pod Bali

Selain di Carangsari dan Mengwi, Pod Shop & Café juga ada di Sunset Road dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Bali cokelat juga bisa ditemukan di Carefour Bali, Pepito Canggu, Popular Hayam Wuruk, Pepito Express Bualu, serta di Dufry Duty Free Bandara Ngurah Rai.

Profit bisnis perusahaan?

Profit kami masih belum terlalu besar, rata-rata Rp 10 miliar per tahun, ini angka tahun lalu. Tahun ini perekonomian sedikit lesu yang ikut memengaruhi kinerja industri juga properti. Harapannya kondisi segera membaik.

Kunci mengembangkan usaha?

Kunci utama yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan (sustainability), produk, pelayanan, dan pemasaran.

SDM adalah aset terbesar. Kami sebagai pemilik hanya mengonsep dan mengevaluasi. Perusahaan ini tak akan berjalan sendiri tanpa SDM. Secara keseluruhan bisnis yang dijalankan harus ada class and taste sehingga pod menjadi salah satu leading product.

Target ke depan?

J: Ekspor. Saya bermimpi Pod Bali Chocolate menjadi ikon produk Bali yang lebih mendunia. Kami saat ini tengah mengurus perizinan dari pihak berwenang.

inda-9194.jpg
Owner Pod Bali Chocolate, IGAA Inda Trimafo Yudha

Perempuan Bisa Jadi Pembuat Kebijakan

Sukses berbisnis tak membuat wanita yang akrab disapa Gung Inda ini puas begitu saja. Jauh di lubuk hati dirinya masih menyimpan mimpi mengabdikan diri untuk Indonesia, Bali khususnya sebagai bagian dari pembuatan kebijakan.

Wanita pertama yang menjadi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bali ini ingin merangkul masyarakat luas untuk giat berwirausaha, memberdayakan mereka, dan membangun daerah untuk membesarkan negara.

Itu juga salah satu cara Gung Inda melanjutkan perjuangan mendiang kakeknya yang juga pahlawan nasional, I Gusti Ngurah Rai di era sekarang yang serba kekinian. Wanita yang hobi berkuda ini menilai perempuan harus dilibatkan dalam pembuatan kebijakan demi Indonesia yang lebih baik.

“Kita harus bisa melihat kekuatan dan kelemahan daerah kita dan menjadikan semua itu sebagai potensi yang dapat dikembangkan,” katanya.

Gung Inda mewarisi semangat pantang menyerah dari sang kakek yang direfleksikan dalam kegigihannya menduniakan produk lokal. Sibuk berbisnis tak membuatnya lupa hakikatnya sebagai istri dan ibu dari dua anak.

Mantan Presiden Junior Chamber International (JCI) Bali ini memotivasi seluruh ibu Indonesia untuk menjadi ibu yang pintar (smart mom). Ibu Indonesia harus melek politik, sosial, kewirausahaan, dengan tetap menjalankan perannya dalam rumah tangga.

“Semuanya harus sinkron, meski awalnya pasti butuh waktu untuk memanajemen waktu,” ujar Gung Inda.

Wanita yang berbakat mendesain baju ini mengutamakan waktu berkualitas bersama anak-anaknya di setiap kesempatan. Dia menyadari, menjadi ibu pekerja mau tak mau tidak bisa selalu hadir untuk anak secara kuantitas.

Gung Inda senantiasa memantau kegiatan anak-anaknya langsung dan tidak langsung. Seorang ibu di matanya perlu memahami kesehatan anak, tumbuh kembang anak, hobi anak, dan membangun komunikasi.

“Boleh galak, tapi tidak boleh main fisik,” katanya.

Mantan Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Pariwisata ini juga pernah terjun ke dunia politik pada pemilihan umum (pemilu) legislatif 2014. Gung Inda menjadi bakal calon legislatif perempuan dari sebuah partai besar.

Meski perolehan suaranya tidak cukup, putri dari Puri Carangsari ini menjadikannya sebagai pengalaman dan aktualisasi diri. Dia tak menutup kemungkinan mencoba lagi di lain kesempatan. Jatuh bagun dalam kehidupan, termasuk saat berbisnis dan berpolitik tak pernah membuatnya patah arang.

“Bagi saya, grafik hidup harus naik turun. Jika lurus terus, sama saja dengan mati,” katanya.

inda-6884.jpg
Owner Pod Bali Chocolate, IGAA Inda Trimafo Yudha

Biodata

Nama                                      : I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha

Tempat Tanggal Lahir        : Denpasar, 18 Desember 1976

Agama                                    : Hindu

Suami                                     : Tobias Challenger Garitt

Anak                                       : Anastasya Apsara Garitt dan Jayden Challenger Garitt

Hobi                                       : Yoga, membaca buku filosofi, travelling.

Pendidikan                           : International College Hotel Management South Australia

Organisasi                            :

  • Ketua Umum Hipmi Bali 2013-2016
  • Ketua Partai Golkar Kabupaten Badung
  • JCI Bali Local President (2009)
  • Ketua Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) 2017-2022

Bisnis                                     :

  • Pod Bali Chocolate
  • True Bali Experience ( Ayung River Rafting, Bali Elephant Camp, Ayung Cycling)
  • Bali Horse Riding
  • Linggayoni Butik, Seminyak Village
REPUBLIKA, BINCANG BISNIS BERSAMA GUNG INDA.jpeg
Harian Nasional Republika, edisi 7 Mei 2018
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s