Siapa yang udah nerima CSHIndo Merch batch-1? Aku mau big thanks dulu buat Dear Choi. Bener-bener big thanks. Dalam hidup sebagai VIP yang sudah terlalu lama menunggu sesuatu dari seorang Choi Seung-hyun ini, bisa beli merch dia lewat fanbase aja rasanya udah kayak dikasih oksigen.
Karena kita semua tahu, berharap T.O.P bikin akun b.stage sendiri kayak tiga adeknya, atau update fanbase official, atau sekadar muncul rutin di platform medsos yang “normal” itu sama aja kayak nunggu Bumi punya dua bulan tambahan kayak Phobos dan Deimos-nya Mars. Jangan tanya kapan karena cuma dia dan Tuhan yang tahu. Wkwkwk.
Makanya, ketika paket CSHIndo Merch akhirnya mendarat dengan selamat di rumahku, rasanya tuh bukan cuma nerima barang. Rasanya hati tuh kayak taman kering disiram air lagi. Rasanya kayak, oh, ternyata masih ada begitu banyak dari kita yang setia sama dia, yang nungguin dia. Dan ternyata semesta dia sama kita masih bisa sinkron sedikit hari ini.
Pas unboxing, aku dapat:
- Premium totebag size A3 dengan muka dia gede banget (iya, muka penuh, bukan setengah-setengah). Luar biasa Dear Choi, tahu aja pengennya kita muka dia segede gaban ya.
- Kalender 2026 yang isinya juga muka dia semua (no complaint)
- dan… satin silk scarf motif Mondrian ukuran 70×70 cm

Target awalku sebenernya kalender. Karena ya, sebagai VIP fosil realistis aja. Kalender itu fungsional. Bisa dipajang di meja kerja. Bisa jadi pengingat hari sambil liat muka dia. Produktif dan fangirling bisa jalan bareng.
Tapi ternyata, begitu box dibuka, yang bikin aku bengong dan kayak di-hipnotis sebentar itu justru scarf-nya.
Satin silk, halus, beratnya pas, warnanya tegas. Motif Mondrian yang langsung bikin otak ini lompat ke satu memori kolektif, DOOM DADA Era.
Mondrian Suit: Trauma Visual T.O.P yang Jadi Legenda
Buat VIP lama, Mondrian suit mengingatkan kita salah satu outfit panggung paling ikonik dari T.O.P. Di era DOOM DADA dan MADE, T.O.P cukup rutin tampil solo dengan suit motif blok warna primer ala Piet Mondrian. Merah. Kuning. Biru. Garis hitam tebal, dasar putih. Bersih. Kaku. Bold. Dan… yah, kamu pasti sepakat, terlalu kuat untuk diabaikan.
Tanpa bermaksud mengecilkan Piet Mondrian sama sekali (serius), tapi faktanya emang begini adanya. Banyak VIP baru kenal Mondrian gara-gara T.O.P. Setelah dia pakai suit itu, fandom dulu langsung berubah jadi detektif seni karena ya itu T.O.P. Because he’s always unique, always different.
Ini referensi dia apa?
Siapa Mondrian?
Kenapa warna dominannya cuma tiga?
Kenapa kelihatannya gonjreng tapi kalo T.O.P yang make kok jadi seksi?
Oh. Choi Seung-hyun ini benar-benar tahu apa yang dia pakai.

Aku pikir, hype Mondrian ini udah kelar sejak MADE 10 tahun lalu. Toh, kita udah move on ke begitu banyak hal lain. Ternyata tidak.
Dari cerita Dear Choi, permintaan satin silk scarf motif Mondrian ini meledak di luar ekspektasi. Bukan cuma di Indonesia. Tapi juga ke luar negeri.
Fanbase sampai harus produksi ulang. Dan mereka nggak sekadar reprint, tapi dibuat versi lebih premium.
VIP Itu Kreatifnya Kadang Ngeri
Yang bikin aku ngakak sekaligus kagum adalah cara VIP pakai scarf ini tuh nggak ada habisnya. Adaaa… aja idenya.
Aku lihat ada yang dijadiin sling bag, dijadiin scarf ala POWER GD, jadi ikat pinggang, jadi aksesoris tas laptop, bahkan dipakai ke kantor pake baju resmi tapi nggak kelihatan sebenernya VIP tuh lagi fangirling. HAHAHAHA.

Sudahlah, ini scarf bakal jadi artefak budaya VIP. Orang-orang yang lihat scarf itu langsung ingat sama T.O.P.
Secara teknis, itu kan jiwanya Mondrian. Tapi ya udahlah. Aku yakin Mondrian pun, kalau masih hidup, mungkin bakal senyum dan semringah melihat karyanya hidup lagi, dan dicintai jutaan manusia lintas generasi dan benua.

Mondrian dan Estetika T.O.P
Piet Mondrian (1872-1944) adalah seniman, lebih tepatnya pelukis dari Belanda. Kalau kita searching dan cari tahu pada fase awal kariernya, Mondrian ini sebetulnya masih sering melukis pohon, lanskap, dan bentuk-bentuk alam.
Tapi makin ke sini, dia merasa representasi lukisan-lukisan natural seperti itu terlalu ramai, terlalu personal, dan terlalu banyak cerita. Akhirnya, dia memutuskan untuk stop menggambar dunia apa adanya. Dia mau mencari struktur paling dasar dari yang namanya realitas.
Makanya dia sampai pada garis vertikal dan horizontal, kotak, warna primer, hitam dan putih. Nggak ada gradasi emosi dalam unsur-unsur tersebut. Nggak ada bentuk lain selain garis dan kotak. Semua unsur diletakkan dengan jelas, dengan presisi, nggak ada unsur netral sama sekali, tapi dari sana lahirlah harmoni baru. Nah, gaya ini dikenal sebagai Neo-Plastisisme.

Nah, di poin inilah aku bisa bilang, PoV seorang Mondrian itu T.O.P banget…
Dalam kajian budaya visual, karena uri-T.O.P was the visual of his group, estetika tidak pernah netral. Yang namanya pilihan visual pasti selalu berkaitan dengan identitas, posisi subjek, dan bagaimana seseorang menempatkan diri dalam struktur kolektif.
Dalam BIGBANG, posisi T.O.P itu unik. Dia bukan center karena so far yang aku lihat center itu kebanyakan di-handle Taeyang dan GD. T.O.P juga bukan “jembatan ke fans” karena dia introvert banget. T.O.P bukan juga creative-center kayak GD.
Dia tuh di mata aku kayak balok kayu eboni, tahu nggak? Mau dibanting berapa kali, bahkan dibakar pun, bentuknya ya gitu-gitu aja. T.O.P sejak awal hadir sebagai figur yang kaku, terkontrol, dan secara visual cenderung konfrontatif.
Karakter ini jadiin dia member yang paling “bold” di BIGBANG. Bukan dalam arti flamboyan, tapi lebih ke berani mempertahankan jarak dan intensitas dengan dunia luar.
Suaranya bariton. Ekspresinya minim. Malas gerak. Jarak emosionalnya jelas. Nah, di sinilah Mondrian masuk dengan sangat pas ke visual T.O.P.
T.O.P bukan tipe yang sering menumpahkan isi kepalanya ke publik. Dia jarang menjelaskan dirinya. Jarang klarifikasi. Jarang “meluruskan narasi” soal dirinya. Bahkan di masa-masa paling ribut dalam hidupnya, dia lebih memilih diam.
Banyak orang menganggapnya dingin, terlalu cuek, atau tidak peduli. Tapi buat aku, itu adalah bentuk kontrol atas dirinya.
Ketika T.O.P pakai suit Mondrian, kamu pasti setuju, kesan awal melihatnya ini outfit-nya nggak ramah banget. Warnanya nabrak, garisnya tegas, siluetnya kaku banget. Nggak semua orang aku rasa bisa kelihatan oke pakai baju kayak gitu.
Tapi kenapa ketika T.O.P yang make, kesannya langsung beda? Dia sukses menyelaraskan diri dengan prinsip estetikanya sendiri, yaitu semua terkontrol, disiplin, dan menolak sentimental. Ini cocok banget dengan persona panggungnya yang dingin dan intens.
Kalau Mondrian mengontrol kanvasnya dengan disiplin. T.O.P mengontrol kehadirannya dengan cara yang sama.
Penyeimbang Ekstrem dalam BIGBANG
Dalam teori performativitas dunia K-pop, sebuah grup besar butuh diferensiasi identitas. Dan T.O.P berfungsi sebagai penyeimbang ekstrem dan berani melakukan hal-hal di luar sistem idol kebanyakan.
Di saat yang lain cair, dia kaku. Di saat yang lain hangat, dia dingin. Di saat yang lain naratif, dia struktural. Relate nggak kalian, duhai VIP-deul?
Suit Mondrian memperkuat ini. T.O.P itu seperti satu bidang warna primer di tengah komposisi besar BIGBANG. Dia tidak semudah itu menyatu dengan yang lain, tapi justru karena itu, dia tidak bisa digantikan. Bukan gimmick ya, lebih ke cultural capital dia.
Artinya apa? Art atau seni bukanlah tempelan pada diri T.O.P. Itu adalah bagian dari konstruksi identitasnya.
Dunia mengakuinya sebagai kolektor seni kontemporer, bahkan idol K-pop pertama yang didapuk jadi kurator lelang Sotheby’s. T.O.P bicara soal seni dengan cara yang tidak performatif. Hubungan T.O.P dengan seni nggak berhenti di panggung solo atau BIGBANG doang. Dia idol, tapi dia juga subjek artistik.

Warna Primer dalam Suit Mondrian T.O.P
Sedikit fun fact, bahwa Mondrian hanya pakai warna-warna primer dalam karyanya, yaitu merah, kuning, biru, plus hitam dan putih.
RYB terutama, atau Red, Yellow, Blue, adalah warna paling fundamental dalam sistem pencampuran warna yang biasa dipakai pelukis. Dari tiga warna ini, semua warna lain bisa dibuat. Misalnya:
- Merah + kuning jadi oranye
- Kuning + biru jadi hijau
- Biru + merah jadi ungu
Jadi Mondrian sengaja pakai “bahan paling dasar” warna supaya karyanya terasa murni dan universal.
Efeknya apa kalau dilihat orang? Kontrasnya tinggi, langsung ke retina, nggak butuh ornamen lain selain dia.
Makanya pas T.O.P terinspirasi hal itu, kemudian mengkreasikan ke dalam suit panggung, dia jadi kelihatan bold, artistik, maskulin, larger than life.

Balik ke scarf Mondrian…
Kenapa aku bisa segitu excited sama sehelai kain 70×70 ini? Soalnya scarf ini entah kenapa mancing aku buat buka memori-memori kolektif aku tentang T.O.P, my ultimate bias in K-pop. Tentang sosok yang jarang muncul, jarang bicara, tapi sekali memberi tanda, aku langsung tahu itu dia.
Scarf ini bukti bahwa seseorang yang pernah aku kagumi dengan sepenuh hati tidak menghilang, hanya berjalan di ritmenya sendiri. Dan aku, entah kenapa, masih memilih menunggunya, tanpa diminta dan tanpa menuntut apa-apa. Sebab tidak semua hal perlu dirasionalisasi, pun tidak semua cinta perlu dibuktikan.
T.O.P dan Mondrian bertemu di satu titik yang sama, yaitu berani untuk menyederhanakan.
Dan scarf Mondrian ini? Dia pengingat kecil bahwa keberanian itu masih ada pada dirinya, juga pada diri kita, penggemarnya yang yang masih setia.
Dalam budaya idol K-pop yang sering menuntut kehangatan, eye contact, senyum, fanservice, T.O.P datang dengan suit Mondrian ini. Suit itu jadi kayak armor buat dia yang bilang, “I’m here for you, but don’t touch me.”
Mondrian tidak berubah demi zaman. T.O.P juga tidak.
Yang namanya “kesetiaan” bagi VIP, terutama Queens, bukanlah dibuktikan dengan tuntutan-tuntutan kayak gitu. Justru bukti kesetiaan kita teruji lewat jarak dan waktu.

Leave a Comment