Pernah nggak kamu merasakan bau asap khas pembakaran sampah terbuka? Baunya serupa plastik hangus. Biasanya datang pagi hari, kadang sore menjelang maghrib. Mula-mula, asapnya tipis dulu… kemudian tebal… kemudian masuk ke rumah kamu tanpa permisi.
Pada banyak desa, termasuk di wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) https://dlhtulangbawangbarat.org/ membakar sampah adalah kegiatan harian. Hampir seperti rutinitas bersih-bersih. Halaman disapu, daun dikumpulkan, plastik disatukan, lalu disulut api.
Begitu semua sampah itu dibakar, warga yang menjadi pelaku merasa lingkungannya sudah bersih. Padahal sebenarnya mereka sedang mengotori udara yang mereka hirup sendiri.
Ketika sampah dibakar, ia tidak musnah, melainkan berubah bentuk. Dari yang semula terlihat menjadi tidak terlihat. Nah, masalahnya, asap hasil pembakaran sampah terbuka bukan hanya uap putih biasa.
Di dalamnya ada partikel sangat kecil bernama PM2.5. Ukurannya begitu halus sampai bisa masuk ke paru-paru, bahkan ke aliran darah. Paparan partikel ini bisa memicu iritasi hingga penyakit pernapasan kronis .
Belum lagi ketika pembakaran sampah terbuka ini membakar plastik, karet, atau popok sekali pakai. Pembakaran tidak sempurna menghasilkan karbon monoksida, hidrokarbon, dan berbagai polutan lain yang langsung dilepas ke udara .
Kita tidak melihatnya, tidak mencium semuanya, tapi tubuh kita menyimpannya. Penelitian juga menunjukkan pembakaran sampah terbuka dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti dioksin yang berisiko menyebabkan kanker dan gangguan pertumbuhan .
Jadi, halaman mungkin bersih, tapi udara jadi kotor.
Kenapa Warga Desa Suka Pembakaran Sampah Terbuka?
Saya rasa bukan karena masyarakatnya tidak peduli lingkungan. Justru mereka maksudnya pasti ingin bersih.
Pada banyak kampung Tulang Bawang Barat https://dlhtulangbawangbarat.org/ misalnya, sistem pengangkutan sampah belum menjangkau semua rumah.
Tempat Pembuangan Sampah (TPS) cukup jauh. Truk datang terbatas. Akhirnya warga memilih solusi paling praktis, bakar.
Pembakaran sampah terbuka ini lebih murah, cepat. Ditambah lagi, sebagian besar sampah dulu memang organik, entah itu daun, ranting, sisa dapur, yang relatif aman dibakar.
Tapi itu kan dulu. Pola hidup masyarakat zaman sekarang sudah jauh berubah. Sekarang ini, satu rumah menghasilkan sampah bungkus kopi, sachet minyak, popok sekali pakai, plastik makanan, styrofoam, masker, botol kemasan. Artinya, yang dibakar bukan lagi daun… tapi bahan kimia.
Inilah kenapa kebiasaan lama tidak lagi cocok dengan jenis sampah baru.
Efeknya tidak langsung besar, kita menganggapnya kecil. Sekali dua kali tetangga bakar sampah, dianggap biasa. Tapi kalau itu dilakukan 1-2 kali seminggu dan itu rutin?
Pembakaran sampah bukan racun sekali hirup. Ia racun sedikit-sedikit. Setiap hari. Setiap minggu. Setiap tahun. Dan dampaknya baru terasa setelah lama.
Ada anggapan udara desa pasti lebih bersih daripada kota. Iya sih, ini ada benarnya, tapi tidak selalu loh. Jika satu rumah tangga di desa membakar sampah tiap pagi, asapnya bisa menetap di udara, apalagi saat angin tenang. Polutan akan menggantung dekat permukaan tanah.
Bayangkan kalau ada 10 rumah di desa, masing-masing bakar sampah 15 menit. Udara satu kampung berubah jadi ruang pembakaran raksasa. Tanpa cerobong. Tanpa filter. Tanpa jarak aman.
Lingkungan desa itu bukan cuma sawah, kebun, sungai. Ada satu komponen yang paling sering kita lupakan, yaitu udara.
Udara adalah lingkungan yang langsung masuk ke tubuh. Tidak perlu diminum. Tidak perlu disentuh. Cukup bernapas.
Ketika sampah dibakar, polusi tidak berhenti di halaman. Ia berpindah ke seluruh kampung. Masuk rumah bayi. Masuk sekolah. Masuk warung. Masuk paru-paru orang tua. Ketika inilah lingkungan jadi persoalan bersama.
Dampak ke Anak Lebih Besar
Tubuh anak lebih rentan. Paru-parunya masih berkembang. Sistem imun belum matang. Paparan polusi udara bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan hingga penyakit kronis di kemudian hari .
Makanya sering kita lihat anak pilek berkepanjangan, batuk malam, sesak saat tidur. Kadang bukan karena hujan, melainkan asap pembakaran terbuka yang dianggap sepele.
Pembakaran sampah juga memengaruhi lingkungan lain loh. Abu sisa pembakaran jatuh ke tanah. Saat hujan, terbawa ke parit, masuk ke sungai kecil, akhirnya ke sawah. Artinya, masalah udara berubah jadi masalah tanah dan air.
Lingkungan itu kan satu sistem. Tidak bisa dipisah.
Pembakaran sampah terbuka di desa-desa kesannya sulit dihentikan lantaran membakar jauh lebih mudah, sedangkan mengelola sampah itu butuh proses.
Warga harus memilah, menyimpan, mengangkut, mengolahnya. Sementara api? Bisa memberi solusi instan. Padahal instan sering berarti memindahkan masalah ke masa depan.
Solusi Pembakaran Sampah Terbuka tak Harus Canggih
Tidak semua desa harus punya mesin mahal atau teknologi kota besar untuk menyelesaikan masalah sampah. Justru di banyak tempat, perubahan terbesar datang dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Sampah rumah tangga sebenarnya bukan musuh. Yang jadi masalah adalah cara kita memperlakukannya. Berikut langkah sederhana yang realistis dilakukan di lingkungan desa.
1. Pisahkan sampah sejak dari rumah
Langkah paling dasar tapi paling menentukan adalah pemilahan. Tanpa dipisah, semua sampah pasti berakhir dibakar atau dibuang ke kebun.
Cukup siapkan dua wadah. Pertama, wadah sampah organik, berisi sisa dapur, daun, kulit buah, nasi basi. Kedua, wadah anorganik, berisi plastik, sachet, botol, kaleng.
Kenapa penting? Karena 60–70% sampah rumah tangga sebenarnya organik. Artinya mayoritas tidak perlu dibakar sama sekali.
Begitu dipisah, volume sampah langsung berkurang drastis. Yang tersisa hanya plastik ringan yang bisa dikumpulkan, bukan dibakar tiap hari.
Pemilahan ini juga mengubah pola pikir. Rumah tangga jadi sadar bahwa tidak semua sampah sama.
2. Lubang biopori atau komposter sederhana
Banyak orang membakar daun karena dianggap menumpuk. Padahal daun adalah sampah paling mudah diolah.
Cukup buat lubang biopori berdiameter sekitar 10–15 cm, kedalaman 50–100 cm, lalu isi dengan daun dan sisa dapur.
Dalam beberapa minggu, isinya berubah jadi kompos alami. Manfaatnya tidak hanya menghilangkan sampah, tapi juga memperbaiki struktur tanah, menyerap air hujan, mengurangi genangan, menyuburkan tanaman. Artinya satu lubang menyelesaikan dua masalah, yaitu sampah dan drainase.
Di halaman rumah desa yang biasanya luas, metode ini jauh lebih masuk akal dibanding membakar setiap sore.
3. Bank sampah kampung
Masalah terbesar plastik adalah volumenya kecil tapi jumlahnya banyak. Karena ringan, orang memilih membakar. Padahal plastik punya nilai ekonomi.
Bank sampah tidak harus bangunan resmi. Cukup satu rumah jadi titik kumpul, jadwal setor mingguan, ditimbang dan dicatat. Hasilnya bisa ditukar uang, ditabung, atau jadi kas RT.
Ketika sampah punya harga, perilaku langsung berubah. Orang tidak lagi melihatnya sebagai beban, tapi sebagai barang. Di banyak desa, bank sampah justru lebih efektif daripada larangan membakar.
4. Hari tanpa bakar
Larangan sering gagal karena terasa memaksa. Tapi kesepakatan sosial biasanya lebih ditaati. RT bisa menentukan, misalnya Senin–Kamis tidak boleh bakar sampah.
Kenapa efektif? Karena warga tahu kapan aman menjemur pakaian, anak bermain, atau membuka jendela.
Perubahan bertahap lebih mudah diterima daripada larangan total. Lama-lama frekuensi pembakaran sampah terbuka berkurang sendiri karena orang sudah terbiasa mencari alternatif.
5. Lubang residu bersama
Tidak semua sampah bisa didaur ulang. Popok sekali pakai, pembalut, dan plastik multilayer tetap ada. Daripada dibakar tiap rumah, RT bisa membuat lubang residu bersama.
Syaratnya misalnya jauh dari sumur, ditutup tanah berkala, tidak terbuka ke udara. Metode ini jauh lebih aman daripada pembakaran sampah terbuka karena polutan tidak langsung masuk ke udara yang dihirup warga.
Tujuannya bukan menimbun selamanya, tapi menahan sampai ada pengangkutan atau solusi lanjutan.
6. Edukasi lewat kegiatan harian
Perubahan perilaku tidak datang dari kebiasaan. Contoh sederhana, kerja bakti tanpa bakar sampah, lomba halaman bebas asap, anak sekolah bawa pulang tugas pilah sampah.
Ketika anak mulai mengingatkan orang tua, perubahan biasanya lebih cepat terjadi. Lingkungan desa kuat karena interaksi sosialnya. Maka solusi juga harus sosial, bukan hanya teknis.
Selama kita masih menganggap membakar sampah sama dengan menjaga kebersihan, kebiasaan ini tidak akan berubah.
Padahal yang benar adalah membakar sampah artinya memindahkan sampah ke udara, sementara udara adalah milik bersama. Dan inti pengelolaan sampah tak melulu teknologi mahal, melainkan kebiasaan bersama.

Leave a Comment