Liburan akhir tahun ke Bali, aku dan suami memutuskan untuk menginap selama tiga hari di area Kuta. Bukan area yang ramai dekat Pantai Kuta itu, tapi Kuta yang relatif dekat dengan bandara, tepatnya sekitar Pantai Jerman.
Pertimbangan kami praktis, pokoknya orang tua banget. Pesawat kepulangan kami sangat pagi. Kami tidak ingin berjudi dengan hujan lebat atau macet Bali yang kadang suka muncul tanpa aba-aba.
Jadi, kami memilih menginap di Sulis Hotel Beach and Spa, hotel yang jaraknya hanya sekitar lima ratus meter dari Pantai Jerman. Jalan kaki lima menit saja, kalau langkahnya santai. Dan… keputusan itu ternyata sangat tepat.
Tak Sesibuk Pantai Kuta
Pantai Jerman, atau nama resminya Pantai Segara, terletak di Desa Wana Segara, Tuban, Kuta, Bali. Mengakses pantai ini tidak sulit sama sekali.
Dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, jaraknya hanya sekitar sepuluh menit berkendara. Bahkan mungkin lebih cepat dari itu kalau tidak macet. Tapi entah kenapa, meski lokasinya sedekat itu dengan bandara, Pantai Jerman tidak pernah terasa sesibuk Pantai Kuta.
Banyak orang mengenal Pantai Kuta, Legian, atau Seminyak, sementara Pantai Jerman sering luput dari daftar. Padahal, pantai ini bisa dibilang adalah pantai terujung yang benar-benar berdampingan langsung dengan area bandara. Dan justru di situlah daya tariknya.
Menginap di sekitar Pantai Jerman memberi sensasi yang agak berbeda, terutama kalau kamu datang bersama anak-anak. Anak-anakku, yang memang sedang di fase sangat suka pesawat dan beragam moda transportasi, bahagianya bukan main.
Letak Pantai Jerman persis di sebelah utara landasan pacu Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Jadi jangan kaget kalau lagi duduk santai, tiba-tiba ada pesawat lewat rendah banget di depan mata.
Pemandangan laut biru dengan latar belakang pesawat-pesawat domestik dan mancanegara yang take off dan landing, jadi semacam hiburan tambahan. Laut, pasir, dan pesawat. Kombinasi yang rada aneh, tapi menyenangkan buat budak-budak kecik ini.
Soal biaya masuk, Pantai Jerman sangat bersahabat. Tidak ada tiket masuk pantai dan tidak ada pungutan aneh-aneh. Kita hanya membayar parkir, Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil. Mirip seperti di Pantai Sanur atau Pantai Matahari Terbit. Di kawasan Bali Selatan, sekitar Nusa Dua, Jimbaran, dan Uluwatu, yang banyak pantainya rata-rata sudah “dikavling” hotel dan beach club, rasanya menyenangkan menemukan pantai yang masih bisa diakses bebas.
Pantai Jerman memiliki garis pantai yang panjang sekali. Pasirnya berwarna kecokelatan, bukan putih bersih seperti di Nusa Dua. Ombaknya tenang. Tidak ada karang-karang tajam. Karakter pantainya mengingatkanku pada Pantai Legian yang panjang, landai, dan terbuka.

Pantai ini jelas bukan tempat untuk surfing atau olahraga air ekstrem. Inilah alasan kenapa pantai ini ramah untuk keluarga. Cocok untuk berenang ringan, bermain air, atau sekadar duduk-duduk memandangi laut.
Anak-anakku betah berlama-lama di sini. Mereka mandi air laut, berdiri menunggu ombak kecil menyentuh kaki, mencari serpihan kerang, dan memperhatikan deretan perahu jukung yang tertambat rapi di bibir pantai. Sangat ikonik.
Pantai Jerman juga dikenal lengang. Tidak banyak pohon peneduh. Jadi kalau datang siang hari, pasirnya akan terasa hangat, bahkan cenderung panas. Pohon rindang hanya ada di beberapa titik. Kalau ingin benar-benar santai tanpa kepanasan, kamu perlu menyewa payung pantai atau datang pagi dan sore hari.
Karakter pantainya yang landai dan luas membuatnya cocok untuk aktivitas ringan seperti bermain bola atau voli pantai. Tapi kami lebih sering memilih duduk santai, membiarkan waktu berjalan pelan. Di usia seperti sekarang, rasanya itu sudah cukup.
Jejak Maritim Eropa di Pantai Jerman
Nama “Pantai Jerman” sering memancing rasa penasaran. Banyak yang bertanya-tanya, memangnya Jerman punya pantai? Tentu saja bukan itu maksudnya. Nama ini ternyata berangkat dari sejarah.
Jauh sebelum dikenal dengan nama Pantai Jerman, kawasan ini merupakan bagian dari Pelabuhan Kuta. Pada pertengahan abad ke-19, Kuta adalah pusat perdagangan internasional yang sangat sibuk di Bali Selatan.
Sekitar 1830-an, seorang pedagang asal Denmark bernama Mads Lange mendirikan pangkalan dagang di Kuta. Ia menjadi perantara antara raja-raja Bali dengan pedagang luar negeri.
Saat itu, kapal-kapal besar dari Eropa, Cina, dan Bugis berlabuh di sekitar wilayah yang sekarang menjadi Pantai Jerman untuk memuat komoditas seperti beras, ternak, dan kopi.
Nah, nama “Pantai Jerman” mulai berakar pada periode 1930-an. Berdasarkan catatan sejarah lisan warga lokal Tuban, wilayah ini dulunya merupakan lahan pesisir yang cukup luas dengan vegetasi pohon kelapa yang rimbun. Keasrian ini menarik minat warga negara Jerman untuk bermukim di sana.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa pada masa sebelum dan sesudah Perang Dunia II, sekelompok warga Jerman membangun rumah-rumah tinggal dan penginapan sederhana di pinggir pantai. Salah satu tokoh yang sering disebut adalah para seniman dan pengembara Eropa yang mencari ketenangan.
Sebab mayoritas pemukim di titik tersebut berkebangsaan Jerman, masyarakat lokal pun secara alami menyebut area tersebut sebagai “Griya Jerman” atau pemukiman orang Jerman.
Memasuki 1970-an, perubahan alam yang drastis mulai terjadi. Proyek perluasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang dimulai secara masif pada tahun 1960-an (diresmikan menjadi bandara internasional pada tahun 1969) diduga mengubah pola arus laut di wilayah tersebut.
Puncaknya terjadi antara tahun 1975 hingga 1980, di mana abrasi air laut mengikis daratan pesisir Tuban dengan sangat parah. Bangunan-bangunan milik warga Jerman tersebut perlahan-lahan hancur diterjang ombak. Daratan yang dulunya merupakan pemukiman warga asing itu pun tenggelam dan kini menjadi bagian dari dasar laut.
Para penghuninya terpaksa meninggalkan lokasi, tapi kenangan masyarakat terhadap “rumah-rumah orang Jerman” itu tidak pernah hilang. Nama “Pantai Jerman” pun resmi menggantikan (atau mendampingi) nama aslinya, Pantai Segara.

Daya Tarik Utama Pantai Jerman
Soal fasilitas, Pantai Jerman cukup lengkap. Ada tempat parkir, toilet, kamar bilas, warung makan, kursi pantai, payung, penyewaan perahu, kano, bahkan surfing meski jarang dipakai. Pantai ini mungkin tidak sepopuler Pantai Kuta, tapi ia tahu cara melayani pengunjung dengan tenang.
Berikut adalah delapan daya tarik Pantai Jerman yang bisa jadi pertimbangan kamu berkunjung ke sini.
1. Lautnya Tenang, Bikin Hati Ikut Tenang
Kalau dibandingkan dengan Pantai Kuta yang ombaknya sering besar juga ramai peselancar, Pantai Jerman terasa jauh lebih bersahabat. Ombaknya kecil, airnya dangkal di bagian tepi, dan relatif aman buat berenang santai atau main air bareng anak-anak.
Yang paling aku suka, suasananya nggak berisik. Kamu bisa duduk, denger suara ombak, dan nggak perlu sikut-sikutan cari tempat. Rasanya lebih privat, lebih adem, dan jauh dari hiruk pikuk Bali Selatan yang biasanya penuh sesak.
2. Bisa Ikut Naik Perahu Nelayan
Kalau berani nanya, kamu bisa loh ikut naik perahu nelayan. Salah satu pemandangan paling ikonik di Pantai Jerman adalah deretan jukung, perahu nelayan tradisional yang berjajar rapi di bibir pantai. Ini perahu kayu sederhana yang memang dipakai nelayan buat melaut.
Kalau kamu ramah dan mau ngobrol, biasanya nelayan nggak keberatan ngajak kamu berlayar sebentar. Nggak jauh-jauh, cuma muter di sekitar pantai. Tapi sensasinya beda. Lihat Bali dari laut, pelan-pelan, pasti deh bakal menjadi pengalaman yang susah dicari di pantai lain.
3. Melihat Langsung Kehidupan Nelayan
Pantai Jerman juga pantai nelayan. Ada bangunan koperasi nelayan di sini. So, ada aktivitas harian yang jalan apa adanya. Kalau datang di waktu yang pas, kamu bisa lihat nelayan baru pulang melaut, bongkar hasil tangkapan, atau sekadar duduk sambil ngobrol sama mereka.
Tapi kalau cuaca lagi nggak bersahabat seperti Desember ini, para nelayan nggak maksa dan lebih pilih nggak melaut. Waktu mereka dipakai buat benerin jaring, ngecat perahu, atau duduk-duduk di bawah pohon. Sebagian nelayan juga mempunyai warung-warung pinggir pantai dengan menu-menu sederhana dan tentunya ramah di kantong.
4. Golden Sunset dengan Bonus Pesawat
Sore hari adalah waktu paling juara buat datang ke Pantai Jerman. Matahari pelan-pelan turun, langit berubah warna, pasir masih hangat, dan angin mulai bersahabat.
Yang bikin beda, ada siluet pesawat dan patung Triratna Amreta Bhuwana nan megah. Saat sunset, kamu bisa lihat pesawat landing atau take off dengan latar langit jingga. Kombinasi alam dan teknologi yang aneh tapi indah. Jujur, ini salah satu sunset paling unik yang pernah aku lihat di Bali.

5. Patung Triratna Amreta Bhuwana yang Megah
Di Pantai Jerman ada patung besar yang langsung mencuri perhatian. Namanya Patung Triratna Amreta Bhuwana yang sudah mempercantik pantai ini sejak 2022. Tingginya belasan meter, dan terdiri dari tiga figur penting, yaitu Dewa Baruna (Penguasa Laut), Dewi Kwan Im (Dewi Kasih Sayang), dan Kanjeng Ratu Manik Kencana Sari Dewi.
Pas sore hari, patung ini kelihatan sakral banget. Cahaya matahari jatuh di belakangnya, bikin siluet yang dramatis. Buat kamu yang suka foto-foto, spot ini wajib masuk galeri.

6. Gorengan Pantai yang Legend
Oke, ini penting. Pantai Jerman punya gorengan khas Bali Selatan yang juara. Seperti halnya di Pantai Sanur, di sini terdapat pedagang gorengan yang aromanya sangat menggoda.
Campuran lumpia renyah, potongan tempe, tahu, dan bakwan hangat dipotong kecil-kecil, diberi tambahan cabai rawit bagi pencinta pedas, lalu disiram dengan saus kacang kental yang gurih dan sedikit manis. Rasanya benar-benar juara!
Harganya sekarang sekitar Rp7.000 per porsi. Murah, enak, dan bahaya kalau lagi laper. Aku sendiri nambah. Dua kali. Nggak nyesel. Gorengan ini adalah teman terbaik sambil duduk di atas pasir menunggu matahari tenggelam.
7. Mau Makan Murah atau Fancy, Ada!
Kalau gorengan nggak cukup, pilihan makan di sekitar Pantai Jerman banyak banget. Dari restoran mahal sampai warung sederhana ada semua.
Kalau mau yang rasanya Indonesia banget dan harganya masuk akal, aku saranin Warung Segara. Lokasinya nggak jauh dari pantai, searah Hotel Holiday Inn. Makan nasi campur tapi harganya rupiah banget, bukan dolar-oriented. Simple, tapi nikmat.

8. Lokasinya Strategis, Nggak Ribet
Pantai Jerman gampang banget diakses. Dekat bandara, dekat Kuta, tapi suasananya jauh lebih tenang. Cocok buat kamu yang baru datang atau justru mau pulang dan pengen “pamitan” sama Bali dengan cara yang santai.
Kamu juga bisa jalan kaki lewat paving di pinggir pantai dari arah Kuta. Jalannya enak, pemandangannya terbuka, dan rasanya pas buat nutup hari.
Bagi kami, Pantai Jerman bukan pantai yang “wah” dan tidak instagramable berlebihan. Tidak penuh musik keras sebagaimana deretan music club di Kuta. Itulah kenapa pantai ini terasa ramah, jadi tempat untuk berhenti sejenak, untuk bernapas, untuk menutup liburan kami dengan perasaan tenang sebelum pulang.

Leave a Comment