Ancaman pencemarna sumur air
Ancaman pencemarna sumur air

Kita sering mengira lingkungan hidup itu urusan hutan, sungai besar, atau satwa liar. Sesuatu yang jauh dari rumahlah pokoknya. Padahal, lingkungan hidup paling dekat justru ada di halaman sendiri, entah itu di samping dapur, dekat kamar mandi, atau di belakang rumah, berupa sumur air.

Sumur air bukan sekadar lubang berisi air. Di sinilah titik temu antara manusia dan alam. Air tanah yang kita ambil hari ini sebenarnya adalah air hujan yang meresap bertahun-tahun, melewati lapisan tanah, batuan, akar tanaman, mikroorganisme, dan berbagai proses alami lainnya. Artinya, kualitas air di sumur kita selalu mencerminkan kondisi lingkungan di sekitar kita.

Pentingnya Inspeksi Sumur Air

Inilah mengapa inspeksi sumur bor tidak hanya bicara soal kesehatan, tetapi juga soal keberlanjutan lingkungan hidup.

Hal itu salah satunya tampak dalam kegiatan yang dilakukan Puskesmas Way Tuba di Kampung Bandar Sari, Kabupaten Way Kanan https://dlhwaykanan.org/ pada 1 Februari 2026. 

Petugas melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan Sarana Air Minum pada sumur bor milik warga. Tujuannya memang memastikan air aman dikonsumsi, tetapi lebih dari itu, ini juga bisa membaca kondisi lingkungan desa dari dalam tanahnya sendiri.

Air tanah menyimpan jejak aktivitas manusia di permukaan. Jika lingkungan terjaga, air akan bersih. Jika lingkungan rusak, air akan memberi tanda.

Tanda itu sering tidak langsung terlihat. Air tetap jernih, tidak berbau, bahkan terasa segar. Tapi di dalamnya bisa tersimpan bakteri dari septic tank bocor, nitrat dari pupuk, limbah rumah tangga, residu deterjen, partikel tanah akibat erosi.

Pada banyak wilayah seperti Kabupaten Way Kanan di Lampung, masyarakat tidak bergantung pada air perpipaan. Sumur bor adalah sumber utama kehidupan. 

Airnya dipakai untuk minum, memasak, mencuci, mandi, menyiram tanaman, hingga memberi minum ternak. Artinya, satu sumur melayani hampir seluruh siklus kehidupan rumah tangga.

Ketika satu sumur air tercemar, dampaknya bukan hanya sakit perut. Ia memengaruhi kualitas hidup, kebersihan lingkungan, bahkan ekonomi keluarga.

Air yang buruk membuat tanaman pekarangan kurang sehat, ternak rentan penyakit, biaya kesehatan meningkat, kualitas sanitasi menurun. Maka inspeksi sumur air, termasuk sumur bor, sebenarnya adalah bagian dari pengelolaan lingkungan berbasis rumah tangga.

Hasil inspeksi misalnya konstruksi sumur tidak aman, potensi aliran limbah menuju sumur, sanitasi lingkungan buruk, kebiasaan warga berisiko. Dengan kata lain, inspeksi adalah cara membaca “bahasa alam” sebelum masalah menjadi besar.

Mengapa Sumur Air Bisa Tercemar?

Pencemaran air tidak hanya berasal dari pabrik atau limbah besar. Di lingkungan rumah dan desa, pencemaran sumur air justru sering datang dari aktivitas sehari-hari yang terlihat sepele. 

Karena terjadi perlahan, dampaknya jarang langsung terasa. Tahu-tahu air sumur berubah kualitasnya.

1. Septic tank yang terlalu dekat dengan sumur.

Air limbah manusia dari toilet akan meresap ke dalam tanah. Tanah memang berfungsi sebagai penyaring alami, tetapi kemampuannya sangat terbatas. 

Jika jarak septic tank dan sumur terlalu dekat, bakteri, virus, dan mikroorganisme berbahaya bisa ikut terbawa air tanah menuju sumur bor. Pada awalnya air masih terlihat jernih, tetapi secara mikrobiologis sudah tidak aman.

Inilah sebabnya penyakit seperti diare dan tifus sering muncul tanpa sebab yang jelas. Jarak aman antara septic tank dan sumur sangat penting untuk mencegah pencemaran ini.

2. Deterjen dan air cucian rumah tangga.

Air bekas mencuci pakaian, piring, atau peralatan rumah tangga biasanya langsung dibuang ke tanah atau selokan. Deterjen mengandung fosfat dan bahan kimia lain yang sulit terurai. 

Jika terus-menerus meresap ke tanah, zat ini akan menurunkan kualitas air tanah. Dalam jangka panjang, air sumur bisa terasa berbeda, memicu iritasi kulit, bahkan mengganggu kesehatan jika dikonsumsi.

3. Sampah organik dan anorganik.

Tumpukan sampah di sekitar rumah atau di kebun sering dianggap masalah kecil. Sampah yang membusuk akan menghasilkan cairan berwarna gelap yang disebut lindi. Cairan ini mengandung bakteri dan zat berbahaya.

Ketika lindi meresap ke tanah, ia bisa mencemari lapisan air tanah yang sama dengan sumber air sumur warga. Semakin dekat lokasi sampah dengan sumur, semakin besar risikonya.

4. Pupuk dan pestisida dari lahan pertanian.

Di daerah pertanian, penggunaan pupuk kimia dan pestisida sering tidak terkontrol. Zat-zat ini tidak hanya berhenti di tanaman, tetapi juga ikut terbawa air hujan dan meresap ke tanah. 

Lama-kelamaan, residu kimia tersebut bisa mencapai lapisan air tanah dan mencemari sumur bor masyarakat.

Tips Menjaga Sumur Sekaligus Lingkungan

Menjaga kualitas sumur air sebagaimana yang dilakukan di Way Kanan https://dlhwaykanan.org/ sebenarnya tidak sulit. Banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah, tetapi dampaknya besar bagi kesehatan keluarga dan lingkungan sekitar. 

Kuncinya memahami bahwa sumur bukan hanya milik satu orang, sebab air tanah dipakai bersama oleh seluruh warga.

1. Jaga jarak aman

Pastikan sumur berjarak minimal 10 meter dari septic tank, kandang ternak, tempat sampah, atau saluran limbah.

Mengapa penting? Karena air limbah membawa bakteri dan kuman penyakit. 

Tanah memang dapat menyaring, tetapi hanya sebagian. Jika terlalu dekat, kuman bisa ikut terbawa aliran air tanah menuju sumur.

Jika kondisi rumah sudah terlanjur dekat, solusi sementara adalah memperdalam septic tank agar tidak mudah merembes, memperkuat dinding sumur dengan semen, memastikan tidak ada retakan di sekitar sumur. Langkah kecil ini bisa sangat mengurangi risiko pencemaran.

2. Buat saluran air limbah

Air cucian dari dapur, kamar mandi, dan tempat mencuci jangan langsung dibuang ke tanah di sekitar sumur. Air sabun mengandung bahan kimia yang lama-kelamaan merusak kualitas air tanah.

Buatlah saluran sederhana, misalnya parit kecil menuju kebun, lubang resapan khusus, saluran pembuangan menjauh dari sumur. Dengan begitu, air limbah tidak berkumpul di satu titik yang sama dengan sumber air minum.

3. Tanam tanaman penyerap

Tanaman bukan hanya memperindah halaman, tetapi juga berfungsi sebagai penyaring alami. Akar tanaman membantu menahan partikel kotoran sebelum masuk ke dalam tanah.

Beberapa tanaman yang baik ditanam di sekitar halaman, seperti rumput, bambu kecil, tanaman pagar, tanaman perdu.

Tanah yang ditumbuhi tanaman lebih mampu menyerap dan menyaring air dibanding tanah kosong yang keras atau becek.

4. Hindari pestisida berlebihan

Di daerah yang memiliki kebun atau ladang, penggunaan pestisida sering dilakukan agar tanaman tidak rusak. Namun pemakaian berlebihan membuat zat kimia ikut meresap ke tanah dan masuk ke air tanah.

Gunakan pestisida secukupnya dan sesuai petunjuk. Bila memungkinkan, gunakan cara alami seperti perangkap hama, tanaman pengusir serangga, campuran bahan alami. Selain menjaga air sumur, tanah juga menjadi lebih sehat untuk jangka panjang.

5. Tutup sumur dengan baik

Sumur harus selalu tertutup rapat. Penutup ini penting untuk mencegah serangga masuk, debu dan daun jatuh, air hujan tercemar masuk langsung.

Pastikan bibir sumur diplester dengan baik dan tidak retak. Retakan kecil bisa menjadi jalur masuk kotoran dari permukaan tanah.

6. Rebus air sebelum diminum

Walaupun air tampak jernih, tetap biasakan merebus sampai benar-benar mendidih. Perebusan membantu membunuh bakteri dan mikroorganisme yang tidak terlihat.

Air yang aman bukan hanya jernih, tetapi juga bebas kuman. Langkah-langkah sederhana ini jika dilakukan bersama-sama akan menjaga sumur tetap sehat. 

Saat sumur terjaga, lingkungan ikut terlindungi, dan kesehatan keluarga pun lebih aman.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment