Mandi air panas di Toya Devasya Kintamani
Mandi air panas di Toya Devasya Kintamani

Pagi itu kami berangkat sekitar pukul 09.00 WIB dari Kura-Kura Hotel di Karangasem, Bali. Suasana pagi masih cukup tenang. Anak-anak sudah semangat karena tahu tujuan kami hari itu adalah kolam pemandian air panas, Toya Devasya di Kintamani. Bayangan berendam sambil melihat danau tentu terdengar menyenangkan, bahkan bagi mereka.

Jarak Karangasem ke Kintamani kurang lebih 40–50 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam, tergantung jalur dan kondisi lalu lintas. Untuk menghemat waktu, kami memilih jalur Manggis, Karangasem, yang memang dikenal bisa memangkas perjalanan dibanding jalur utama.

Awalnya semua berjalan lancar. Jalan relatif sepi, udara masih segar, dan pemandangan hijau di kiri-kanan jalan cukup memanjakan mata. Anak-anak senang, Kami sempat berpikir, “Wah, pilihan jalurnya tepat.”

Ternyata… tidak begitu.

Di tengah perjalanan, cuaca berubah cukup drastis. Langit yang tadinya cerah perlahan menggelap, dan hanya hitungan menit saja, hujan lebat turun tiba-tiba. Bagi yang pernah melewati jalur Manggis, Karangasem, pasti tahu karakter jalannya. Berbukit, sempit di beberapa titik, dan penuh kelokan menanjak.

Hujan membuat aspal licin, jarak pandang berkurang, dan kabut tipis mulai turun di beberapa bagian. Mobil kami pun matic, mini pula. Suami yang menyetir jadi ekstra hati-hati, terutama saat melewati kelokan tajam dan tanjakan panjang. Di dalam mobil, anak-anak yang biasanya ribut pun ikut diam, mungkin ikut merasakan kami tegang di depan.

Meski kami deg-degan banget, akhirnya kami bersyukur karena perjalanan tetap berjalan lancar. Hujan reda saat mendekati Kintamani.

Begitu tiba di kawasan Kintamani, udara terasa jauh lebih dingin dibanding Karangasem. Kabut masih tebal, dan suasana khas pegunungan langsung menyambut kami.

Anak-anak langsung minta mampir ke Museum Gunung Berapi Batur. Permintaan yang tentu saja sulit ditolak, apalagi museum ini memang edukatif dan menarik untuk anak-anak. Tapi cerita soal museum ini akan aku simpan dulu untuk artikel terpisah, karena rasanya layak dibahas lebih panjang.

Setelah dari museum, barulah kami mampir sebentar makan di Mutiara Resto Kintamani. Kalau kalian mencari restoran enak di Bali dengan harga yang ramah wisatawan domestik, di sinilah tempatnya. Nggak perlu takut dompet tong pes. Hehehe

Perut kenyang, barulah kami melanjutkan perjalanan sedikit lagi menuju tujuan utama hari itu, Toya Devasya.

Slow living di Kintamani
Slow living di Kintamani

Serbuan Lalat Kintamani

Begitu memasuki area Toya Devasya, satu hal yang langsung terasa… dan sayangnya bukan hal yang menyenangkan buat kami, terutama suami, yaitu lalat. Banyak. Sangatlah banyak.

Terus terang, ini bukan kejutan besar bagi kami, karena masalah lalat di Kintamani sudah lama menjadi perbincangan wisatawan sejak lama. Tapi tetap saja, ketika mengalaminya langsung, rasanya cukup mengganggu.

Bagi yang belum tahu, Kintamani merupakan wilayah yang pertaniannya masih didominasi pertanian organik. Banyak petani menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk utama. Masalahnya, di beberapa area, pupuk kandang ini tidak selalu kering sempurna, sehingga masih lembap dan menjadi tempat favorit lalat untuk berkembang biak.

Dari dulu sebenarnya sudah ada imbauan agar sistem pertanian organik ini dikelola lebih rapi, terutama di area yang berdekatan dengan kawasan wisata. Tujuannya supaya aktivitas pariwisata tidak terganggu oleh populasi lalat yang berlebihan. Sayangnya, sampai kunjungan kami kali ini, masalah tersebut masih terasa.

Beberapa wisatawan terlihat cukup terganggu. Ada yang terus mengibas-ngibaskan tangan, ada juga yang memilih cepat-cepat masuk ke area kolam. Kami pun akhirnya melakukan hal yang sama.

Tiket Masuk Toya Devasya

Sebelum masuk ke area pemandian, kami membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket masuk Toya Devasya bervariasi, kisarannya sekitar Rp90.000 hingga Rp125.000 per orang.

Menariknya, tiket ini biasanya disajikan dalam bentuk paket, bukan sekadar tiket masuk kolam. Dalam paket tersebut, pengunjung sudah mendapatkan makanan dan minuman, seperti nasi goreng, kentang goreng, spageti, kopi dan roti.

Pilihan menu tergantung paket yang kita ambil. Menurutku ini cukup menarik, karena setelah berendam air panas, biasanya perut memang terasa lapar.

Namun perlu dicatat, harga tiket ini belum termasuk sewa handuk dan loker. Jadi kalau kamu tidak membawa handuk sendiri, siapkan budget tambahan ya. Tidak banyak, Rp10-15 ribu saja.

Area Kolam di Toya Devasya

Di dalam area Toya Devasya, setidaknya ada tiga area kolam utama. Satu kolam anak, dengan kedalaman yang lebih aman plus water playground-nya. Dua kolam dewasa, salah satunya merupakan kolam premium.

Area kolam ditata cukup rapi dan bersih. Pengunjung bisa memilih ingin berendam santai di kolam biasa atau menikmati pengalaman yang lebih privat di kolam premium.

Bagi kami yang datang bersama anak-anak, keberadaan kolam khusus anak tentu menjadi nilai plus. Anak-anak bisa bermain air dengan lebih aman, sementara orang tua tetap bisa mengawasi dari dekat.

Kolam anak di Toya Devasya
Kolam anak di Toya Devasya

Salah satu daya tarik utama Toya Devasya adalah sumber air panasnya yang alami. Air panas di sini berasal dari mata air yang dipanaskan oleh aktivitas vulkanik Gunung Batur. Lokasinya memang berada di kaki gunung tersebut, sehingga aliran air panas ini kemudian dialirkan ke kolam-kolam pemandian sekitarnya.

Airnya jernih, tidak keruh, dan yang paling penting bagi banyak orang adalah tidak berbau belerang yang menyengat seperti di beberapa pemandian air panas lain. Aromanya sangat ringan, bahkan nyaris tidak terasa.

Air panas ini juga dikenal kaya mineral, yang dipercaya baik untuk kesehatan kulit, meredakan pegal-pegal, membantu relaksasi otot setelah perjalanan jauh. Tak heran kalau Toya Devasya menjadi salah satu tempat relaksasi populer di Kintamani.

Berendam dengan Latar Danau Batur

Kalau harus memilih satu hal yang paling membekas dari Toya Devasya, jawabannya adalah pemandangannya. Kami berendam di kolam air panas, uap air tipis mengepul, tubuh terasa hangat dan rileks.

Lalu ketika menoleh ke depan atau ke belakang, hamparan Danau Batur terbentang luas, dengan latar kaki Gunung Batur yang hijau dan megah.

Pemandangan ini benar-benar memikat. Rasanya seperti sedang berendam di lukisan alam. Tak heran banyak wisatawan betah berlama-lama di kolam, sekadar menikmati suasana tanpa banyak bicara.

Anak-anak pun ikut terpesona, meski tentu saja mereka tetap lebih sibuk bermain air dibanding menikmati panorama.

Berendam dengan latar danau dan Gunung Batur
Berendam dengan latar danau dan Gunung Batur

Air di kolam Toya Devasya terasa pas. Hangat, tidak terlalu panas, dan nyaman untuk berendam cukup lama. Kami setidaknya menghabiskan dua jam di sana. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, sensasi ini terasa sangat menyenangkan.

Tubuh perlahan rileks, otot-otot yang tegang mulai mengendur. Bahkan rasa lelah akibat perjalanan hujan dan jalan berkelok tadi hilang.

Kalau kamu tipe traveler yang suka destinasi dengan konsep slow travel dan relaksasi, tempat ini bisa jadi pilihan yang tepat.

Selain Toya Devasya, sebenarnya Kintamani punya beberapa pilihan pemandian air panas lainnya. Masing-masing menawarkan pengalaman yang sedikit berbeda, baik dari segi harga, suasana, maupun fasilitas.

Jadi kalau suatu saat kamu merasa Toya Devasya terlalu ramai atau ingin mencoba suasana baru, kamu tinggal pilih alternatif lain yang tersedia di sekitar Danau Batur.

Wisata air panas Toya Devasya, Kintamani, Bali
Wisata air panas Toya Devasya, Kintamani, Bali

Tips Berkunjung ke Toya Devasya Kintamani

Berkunjung ke Toya Devasya Kintamani bisa menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan, apalagi kalau tujuanmu memang ingin relaksasi sambil menikmati pemandangan alam.

Supaya kunjunganmu lebih nyaman dan tidak kaget dengan kondisi di lapangan, ada beberapa tips berdasarkan pengalaman kami yang mungkin bisa kamu jadikan pegangan.

1. Datang Lebih Pagi

Kalau punya pilihan waktu, usahakan datang lebih pagi. Selain udara Kintamani masih segar dan dingin, suasana di Toya Devasya biasanya juga belum terlalu ramai.

Berendam pada pagi hari terasa lebih tenang, kamu bisa benar-benar menikmati hangatnya air tanpa harus berbagi kolam dengan terlalu banyak orang. Bonusnya, pemandangan Danau Batur biasanya masih terlihat lebih jelas sebelum kabut turun.

2. Siapkan Mental soal Lalat

Ini tips yang penting, meski agak sensitif untuk dibahas. Masalah lalat di kawasan Kintamani memang masih menjadi tantangan hingga sekarang.

Jadi sebaiknya datang dengan ekspektasi yang realistis. Bawa tisu basah, hand sanitizer, atau bahkan kipas kecil kalau perlu. Setelah masuk ke area kolam, biasanya gangguan lalat akan jauh berkurang.

Akan tetapi, di area restoran dan jajanan, lalat ini masih cukup mengganggu. Kuncinya adalah jangan terlalu fokus pada hal ini dan tetap nikmati pengalaman berendamnya.

3. Bawa Handuk Sendiri

Untuk kamu yang ingin lebih hemat, membawa handuk sendiri sangat disarankan. Di Toya Devasya memang tersedia penyewaan handuk, tapi tentu ada biaya tambahan.

Dengan membawa handuk dari penginapan, kamu bisa mengurangi pengeluaran dan langsung siap berendam tanpa repot.

4. Perhatikan Cuaca dan Jalur Perjalanan

Kintamani berada di daerah pegunungan, jadi kondisi cuaca bisa berubah cukup cepat. Kalau berkunjung saat musim hujan, perhatikan jalur yang akan kamu lewati.

Jalur Manggis, Karangasem memang bisa mempersingkat perjalanan, tetapi jalannya berkelok, menanjak, dan cukup menantang saat hujan. Jadi, kami tidak merekomendasikan.

Pastikan kendaraan dalam kondisi prima dan tidak terburu-buru di jalan.

5. Jangan Terburu-buru

Toya Devasya bukan destinasi yang cocok untuk wisata kilat. Tempat ini lebih pas dinikmati dengan tempo santai. Datang, berendam air panas, menikmati makanan dari paket yang tersedia, lalu duduk sejenak sambil memandangi Danau Batur.

Luangkan waktu untuk benar-benar menikmati suasananya, karena di situlah letak keistimewaan Toya Devasya. Slow living banget.

6. Siapkan Pembayaran Nontunai

Hal penting yang sering luput, semua pembayaran di Toya Devasya bersifat nontunai. Tidak ada pembayaran tunai di area ini, baik untuk tiket, makanan, maupun fasilitas tambahan.

Jadi pastikan kamu sudah menyiapkan e-wallet, m-banking, atau aplikasi pembayaran nontunai lainnya sebelum datang. Jangan sampai sudah sampai lokasi tapi malah repot karena saldo kurang atau aplikasi belum siap.

Apakah Toya Devasya sempurna? Jujur saja, tidak. Masalah lalat cukup mengganggu, dan saat ramai, suasana bisa terasa kurang nyaman bagi sebagian orang.

Tapi di balik itu semua, pengalaman berendam air panas dengan latar Danau Batur dan Gunung Batur adalah sesuatu yang sulit dilupakan.

Perjalanan penuh deg-degan, hujan, dan rasa lelah akhirnya terbayar lunas saat kami benar-benar bisa duduk santai, merendam tubuh, dan menikmati alam Bali dari sudut yang berbeda.

Dan seperti banyak perjalanan lainnya, justru cerita-cerita kecil yang tidak direncanakan itulah yang membuat liburan terasa lebih berkesan.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment