Dua cara menikmati seafood Jimbaran
Dua cara menikmati seafood Jimbaran

Setiap kali orang bicara soal Bali, seafood Jimbaran mostly selalu masuk wishlist. Entah kamu baru pertama kali ke Bali, atau sudah puluhan kali bolak-balik, nama Jimbaran hampir selalu masuk daftar rekomendasi. Bahkan sebelum orang menyebut pantai-pantai tersembunyi, vila estetik, atau kafe Instagramable, seafood Jimbaran sudah lebih dulu disebut. Seolah-olah, kalau ke Bali tapi belum makan seafood di Jimbaran, liburannya belum sah.

Aku juga termasuk yang begitu. Dari dulu, Jimbaran selalu identik dengan momen makan. Rasanya, kebiasaannya, dan memorinya. Duduk di tepi pantai, kaki menyentuh pasir, angin laut, bau ikan bakar, suara ombak, dan matahari yang perlahan tenggelam, kadang diiringi penari-penari Bali dan grup pengamen yang mengitari kita. Rasanya kayak dikasih paket emosional yang susah ditandingi.

Tapi, seiring waktu, aku sadar bahwa menikmati seafood Jimbaran dengan gaya tersebut bukan satu-satunya pengalaman. Di dalamnya, ada dua dunia yang berjalan berdampingan, tapi sering dipersepsikan seolah bertolak belakang. Dua dunia itu adalah dunia seafood murah ala street food, dan dunia seafood restoran tepi pantai yang harganya middle up sampai mahal.

Nikmatnya makan seafood Jimbaran
Nikmatnya makan seafood Jimbaran

Ritual Makan Seafood Jimbaran

Aku pernah mencoba keduanya lebih dari sekali. Lokasi favoritku untuk menikmati seafood Jimbaran adalah sekitar Pantai Kedonganan.

Pantai Kedonganan sendiri secara administratif memang masih satu kawasan dengan Jimbaran. Letaknya bersebelahan, garis pantainya nyambung, bahkan sumber ikannya pun sama. Nelayan yang melaut di perairan yang sama, hasil tangkapan yang sama, hari yang sama. Yang membedakan hanyalah cara kita menikmatinya.

Aku ingat betul pertama kali makan seafood di Kedonganan versi street food era 2013-an bareng kawan-kawan. Pas masih zaman susah cari duit di Jakarta dan bisa ke Bali karena modal tugas liputan. Wkwkwk. Setelah seharian liputan acara kementerian, malamnya aku dan beberapa kawan ngebolang ke Jimbaran.

Jelas, kami tidak punya uang banyak untuk makan mewah ala restoran. “Sayang uangnya,” pikir kami waktu itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan seafood Jimbaran ala streetfood.

Bukan karena direkomendasikan travel blogger, bukan karena viral, tapi karena waktu itu kami memang ingin makan enak tanpa mikir terlalu banyak soal harga. Waktu itu, kami mikirnya, “yang penting ikannya segar dan dibakar.” Dan memang begitu adanya.

Di Kedonganan, kamu bisa melihat laut dari jarak yang sangat dekat dengan sumbernya. Ada pasar ikan yang hidup sejak pagi buta. Ikan baru turun dari perahu, masih basah oleh air laut, masih utuh matanya, sisiknya mengilap. Kamu memilih sendiri ikan yang kamu mau, menimbangnya, menawar, lalu membawanya ke warung panggang terdekat.

Proses ini penting, karena di sinilah sensasi street food-nya terasa. Kamu tahu persis apa yang kamu makan. Kamu melihat bentuk ikannya sebelum dibakar. Kamu tahu beratnya. Kamu tahu harganya. Tidak ada menu cetak dengan foto cantik, tidak ada ambience romantis yang “dijual.” Cuma ada kesepakatan jujur antara pembeli, pedagang ikan, dan warung panggang.

Buatku pribadi, ada kepuasan tersendiri di situ.

Tulisanku tentang seafood Jimbaran kali ini nggak bisa sesederhana “yang murah lebih enak” atau “yang mahal lebih nyaman.” Karena setelah mencoba kedua versi makan ini, menurutku, dua-duanya valid. Dua-duanya punya tempat. Dua-duanya memberikan pengalaman yang berbeda, bukan hanya di lidah, tapi di tubuh dan pikiran.

Aku nggak mau bilang makan mahal itu sok-sokan, atau makan murah itu lebih autentik. Nggak ya. Aku hanya ingin mengajak pembaca melihat bahwa seafood Jimbaran itu menawarkan dua cara menikmati laut yang sama, dengan rasa yang sama-sama sah.

Kalau kamu datang ke Bali dengan ransel dan jiwa petualang, Kedonganan versi pasar ikan adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Tapi kalau kamu datang bersama keluarga besar, orang tua, anak kecil, atau sekadar ingin duduk manis menikmati sore tanpa ribet, restoran tepi pantai juga punya nilai yang tidak bisa diukur cuma dengan rupiah.

1. Seafood Jimbaran ala Street Food

Kalau kamu ingin tahu dari mana sebenarnya reputasi seafood Jimbaran berasal, jawabannya ada di Kedonganan. Pada bagian ini, aku mau cerita bukan dari meja-meja restoran berlampu temaram, tapi dari pasar ikan yang hidup sejak subuh, di tangan nelayan, dan di warung-warung panggang sederhana yang aromanya bisa kamu cium dari jauh.

Pengalaman makan seafood street food di Kedonganan itu beda lagi kenikmatannya. Semuanya dimulai dari pasar ikan Kedonganan.

Pagi hari adalah waktu terbaik, sekitar jam 6–8 pagi. Di jam-jam ini, ikan baru turun dari perahu. Kamu bisa melihat langsung ikan kakap, baronang, kerapu, cumi, udang windu, bahkan lobster. Semuanya masih segar, masih utuh, dan belum dipajang di restoran.

Sebelum menikmati seafood Jimbaran, belanja dulu ke pasar ikan (Foto: Bali Express)
Sebelum menikmati seafood Jimbaran, belanja dulu ke pasar ikan (Foto: Bali Express)

Kamu memilihnya sendiri. Ini pengalaman yang sering bikin wisatawan kaget, terutama yang baru pertama kali ke Kedonganan. Di sana, nggak ada menu, nggak ada foto hidangan seafood yang sudah dimasak, nggak ada recommended dish. Kita cuma melihat tumpukan ikan di meja basah, timbangan analog, dan pedagang yang siap diajak tawar-menawar.

Eh, jangan malu menawar ya. Itu bagian dari ritual pasar ikan ini. Harga ikan di sini dihitung per kilo atau per ons, tergantung jenisnya. Ikan bisa Rp75.000 per kg. Udang bisa Rp35.000 saja per kg. Cumi bisa Rp80.000 saja per kg. Apalagi lobster, beuh bisa lebih murah.

Kalau kamu datang sebagai keluarga besar, biasanya lebih hemat ambil ikan ukuran sedang–besar. Misalnya, satu kakap besar bisa dimakan rame-rame. Atau kombinasi satu ikan besar + cumi + udang.

Setelah ikan dibeli, kamu tidak langsung makan di situ. Inilah bagian khas Kedonganan yang tidak semua orang tahu. Ikan itu kamu bawa ke warung panggang di sekitar pasar. Warung-warung ini biasanya berdiri berderet, sederhana, tanpa dekor aneh-aneh. Mereka tidak menjual ikan. Mereka menjual jasa masak.

Biaya masaknya? Relatif murah. Sekitar Rp15.000–30.000 per kg, tergantung jenis bumbu dan kesepakatan. Kamu bisa pilih mau dibakar bumbu Bali, saus pedas manis, atau sekadar dibakar polos lalu dicocol sambal.

Inilah pengalaman asli yang pernah kurasakan saat menikmati seafood Jimbaran ala street food. Di sini, aku tahu harga ikannya. Aku tahu biaya masaknya. Aku tahu porsinya. Nggak ada bill yang bikin shock di akhir. Hehehe. Nggak ada pajak. Kalau pun ada rasa kurang, biasanya tinggal bilang, “Bli, sambalnya tambahin dikit ya.”

Soal sambal, jangan ditanya. Sambal matah, sambal pedas, sambal terasi, semuanya biasanya dibuat di dapur kecil, segar, tanpa standar rasa global. Pedasnya bisa nggak konsisten, tapi justru itu yang bikin berkesan.

Aku dan teman-teman pernah makan versi ini. Meja plastik, kursi sederhana, tangan bau ikan, kami makan sambil ketawa, sambal belepotan. Nggak ada sunset sih, tapi kenyang yang menyenangkan.

Dan soal harga? Dengan budget yang sama seperti makan di restoran mahal, kami bisa makan lebih banyak, lebih sering, dan tanpa rasa was-was melihat bill.

Meski begitu, street food Kedonganan juga punya tantangan. Pertama, panas dan ramai. Ini bukan tempat makan santai berjam-jam.

Kedua, harus siap ribet. Dari beli ikan, bawa ke warung, nunggu dibakar, sampai beresin meja sendiri. Ketiga, tidak semua orang cocok. Kalau kamu bawa lansia, bayi, atau ingin pengalaman yang tenang, ini bisa terasa melelahkan.

Street food Kedonganan memang nggak glamor, nggak romantis, tapi mengenyangkan secara rasa juga pengalaman. Jadi ya, menurutku, seafood Jimbaran itu mahal bukan karena ikannya, tapi karena cara menikmatinya.

2. Seafood Jimbaran ala Restoran Tepi Pantai

Restoran seafood Jimbaran tepi pantai adalah tentang pengalaman yang dikurasi dalam cara kita menikmati seafood Jimbaran. Semuanya ditata. Semuanya dibuat nyaman. Kamu datang, duduk, melihat laut, dan tinggal menunggu makanan datang.

Tidak perlu basah-basahan ke pasar ikan. Nggak perlu tawar-menawar. Nggak perlu bingung jasa masaknya berapa. Kamu tinggal buka menu.

Sebagai ibu dengan tiga anak, ada momen-momen tertentu di mana aku ingin hidup yang simpel. Aku ingin duduk, minum, anak-anak tenang, dan nggak perlu mikir logistik. Nah, itu yang aku rasakan waktu liburan keluarga akhir Desember 2025 kemarin, ketika akhirnya kami mencoba Legong Segara Cafe and Resto, salah satu restoran seafood tepi pantai di dekat Pantai Kedonganan.

Begitu masuk area restoran, atmosfernya langsung beda. Meja tertata rapi di pasir, kursi empuk, lampu-lampu temaram, suara ombak pelan. Anak-anak bisa lari sebentar di pasir, lalu balik duduk. Ada pelayan yang sigap, ada menu jelas, ada rasa bahwa “kami sedang liburan.”

Kami memesan cukup banyak, karena memang datang sebagai keluarga.

  • Ikan kakap bakar ±800 gram – Rp184.000
  • Cumi-cumi bakar ±500 gram – Rp105.000
  • Udang windu bakar ±500 gram – Rp212.500
  • Kerang saus pedas manis ±500 gram – Rp52.500
  • Plus minuman, nasi, sayur, dan tetek bengek lainnya

Total yang aku bayar adalah Rp747.000.

Seafood Jimbaran di Legong Segara Cafe and Resto
Seafood Jimbaran di Legong Segara Cafe and Resto

Secara angka ya… jujur saja, untuk ukuran aku dan suami, ya itu mahal. Kepalaku langsung muncul perbandingan otomatis, “Ini kalau versi street food, bisa makan tiga kali.” Hehehe.

Lalu, apakah makan di restoran mahal ini worth it? Jawabannya ya tergantung ekspektasi kamu.

Dari sisi rasa, seafood-nya enak. Segar, matang pas, bumbunya aman untuk lidah banyak orang. Tapi kalau kamu berharap rasa “nendang” seperti sambal warung panggang Kedonganan, mungkin kamu akan merasa, “Oh… ini versi sopannya.”

Restoran seafood Jimbaran tepi pantai memang bermain pada rasa yang lebih netral, lebih universal. Tidak terlalu pedas, tidak terlalu kasar. Aman untuk turis asing, anak-anak, dan orang tua.

Dari sisi kenyamanan, ini juara. Tidak kepanasan, tidak ribut, tidak bau asap bakar. Kamu bisa ngobrol, bisa foto-foto, bisa menikmati sunset tanpa terganggu orang lalu-lalang membawa ember ikan.

Anak-anakku jauh lebih “tertib” di sini dibanding kalau aku bawa mereka makan ala street food. Dari sisi pengalaman, ini yang sebenarnya kamu bayar. Kamu tidak hanya membayar ikan, tapi juga lokasi tepi pantai, pemandangan matahari tenggelam, layanan, slow living-nya di sini.

Jadi, Harus Pilih yang Mana?

Setelah mengalami dua dunia ini, seafood Jimbaran ala street food yang membumi dan restoran tepi pantai yang mahal, aku mau bilang, nggak ada yang satu lebih keren dari yang lain.

Makan murah bukan berarti murahan. Makan mahal bukan berarti pamer. Keduanya hanya menawarkan cara menikmati laut yang berbeda.

Kalau kamu tipe petualang rasa, ingin cerita “aku beli ikan sendiri, aku tawar, aku bawa ke warung,” maka street food Kedonganan adalah surga buat kamu. Dengan budget terbatas, kamu bisa makan seafood segar. Kamu bisa datang rame-rame, bisa nraktir teman juga karena murah.

Kalau kamu tipe yang prioritasnya emang makan, bukan suasana, nggak masalah sama panas, asap bakar, dan bau ikan, ya makan seafood Jimbaran ala streetfood ini sangat direkomendasikan.

Tapi… kalau kamu pengen duduk santai, menikmati momen sunset, ngobrol lama sama keluarga, dan nggak mau ribet, apalagi udah dandan cantik sama ayang beb mau dinner seafood Jimbaran berdua, ya restoran tepi pantai adalah pilihan yang sah dan masuk akal.

Kalau kamu ingin momen spesial, seperti anniversary, liburan akhir tahun, atau sekadar ngasih reward spesial untuk diri sendiri, ya pilihlah tipe restoran tepi pantai ini. Buatku pribadi, mengalami dua-duanya justru bikin liburan terasa lengkap.

Makan seafood Jimbaran di restoran tepi pantai
Makan seafood Jimbaran di restoran tepi pantai

Tips Jujur Biar Nggak Kecewa Makan Seafood Jimbaran

Banyak orang datang ke Jimbaran atau Kedonganan dengan ekspektasi yang keliru. Ada yang kaget begitu lihat bill karena merasa “kok mahal banget?” Ada juga yang langsung ilfeel karena merasa ribet, panas, dan kurang nyaman. Padahal, sejak awal, kawasan ini memang dihuni oleh dua dunia yang berbeda, dan masing-masing punya aturannya sendiri.

Hal paling penting sebelum datang adalah meluruskan ekspektasi. Kalau kamu datang dengan target makan murah, jangan berharap suasana romantis.

Street food Kedonganan itu hanya menyajikan rasa, kenyang, dan pengalaman memilih ikan sendiri. Bau asap, bangku plastik, dan tangan lengket adalah bagian dari paket.

Sebaliknya, kalau kamu memilih makan di restoran tepi pantai dengan harga mahal, jangan berharap sensasi “warung” juga. Kamu sedang membayar pemandangan laut, kursi empuk, pelayanan, dan waktu yang berjalan lebih pelan. Rasa boleh standar, nggak bisa request banyak, tapi fokus utamanya adalah pengalaman, bukan adu murah.

Kalau ini pertama kali kamu ke Kedonganan, aku selalu menyarankan coba street food dulu. Supaya kamu tahu akarnya. Dari situ, kamu akan lebih memahami kenapa restoran Jimbaran bisa semahal itu, karena mereka menjual versi yang sudah “dibungkus rapi.”

Kalau kamu datang membawa anak kecil atau orang tua, realistis saja. Restoran sering kali jadi pilihan yang lebih manusiawi. Capek itu nyata, apalagi sore menjelang malam, saat kawasan ini paling ramai.

Yang penting, jangan bandingkan dua pengalaman ini secara mutlak. Bandingkan sesuai kebutuhanmu hari itu. Lagi punya energi lebih buat ribet tapi puas? Pilih street food. Lagi pengen duduk tenang sambil lihat sunset? Pilih restoran tepi pantai.

Nggak apa-apa kok menikmati dua-duanya. Hari ini street food, besok restoran. Hidup nggak harus konsisten. Liburan, apalagi.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment