Sungai kotor di Malinau akibat limbah batubara (ilustrasi)
Sungai kotor di Malinau akibat limbah batubara (ilustrasi)

Apakah kamu pernah tinggal atau berkunjung ke Malinau, Kalimantan Utara? Kalau pernah, kamu pasti paham bahwa di sana sungai lebih dari sekadar bentang alam. Sungai adalah urat nadi. Ia memberi air minum, tempat mandi, jalur transportasi, sumber ikan, hingga ruang hidup bagi banyak komunitas yang tinggal di sepanjang alirannya.

Di wilayah seperti Malinau https://dlhmalinau.org/profile/tentang/, sungai adalah kehidupan itu sendiri. Karena itu, ketika kabar tentang berubahnya warna air sungai menjadi cokelat pekat beredar tahun lalu akibat cemaran limbah batubara, terutama di Sungai Seturan, keresahan masyarakat bukan sesuatu yang berlebihan. Alarm lingkungan tengah berbunyi keras, meski sering kali kita memilih mematikannya pelan-pelan.

Malinau dan Sungai tak Bisa Dipisahkan

Warga Malinau merekam kondisi beberapa sungai yang tak lagi seperti biasa. Air yang sebelumnya jernih atau setidaknya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, berubah keruh, berwarna cokelat pekat. Keluhan bermunculan. Air tidak lagi layak dipakai. Ikan berkurang. Bau tak sedap kadang tercium. Sungai yang selama ini jadi sandaran hidup, mendadak terasa asing.

Dalam banyak laporan media, pencemaran ini dikaitkan dengan aktivitas tambang batubara di wilayah hulu. Aku tidak akan menyebut nama perusahaan apa pun di sini, karena fokus tulisanku bukan menunjuk hidung, melainkan mengajak kita semua memahami bersama bahwa limbah batubara yang mencemari sungai itu sangat berbahaya, bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan.

Apalagi Malinau bukan wilayah biasa. Ia adalah bagian dari Heart of Borneo, salah satu kawasan hutan hujan tropis tersisa paling penting di dunia, yang seharusnya dilindungi penuh, bukan dikorbankan perlahan.

Malinau adalah wilayah yang secara ekologis sangat kaya. Hutan-hutan lebat, sungai-sungai panjang, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa menjadikannya salah satu benteng terakhir ekosistem Kalimantan. Sungai di Malinau bukan hanya jalur air, tapi juga jalur kehidupan sosial dan budaya.

Bagi masyarakat lokal, sungai adalah tempat mandi, mencuci, mengambil air minum, mencari ikan, bahkan jalur utama transportasi antar desa. Banyak wilayah di pedalaman yang akses jalannya terbatas, sehingga sungai menjadi “jalan raya” alami.

Ketika sungai tercemar, dampaknya tidak pernah sederhana. Air keruh yang mengganggu pemandangan hingga terganggunya seluruh sistem kehidupan yang bergantung padanya.

Apa Dampak Limbah Batubara Terhadap Sungai di Malinau?

Sebelum jauh membahas dampaknya, kita perlu paham dulu apa yang dimaksud dengan limbah batubara. Dalam aktivitas pertambangan batubara, limbah bisa muncul dalam berbagai bentuk.

Ada air asam tambang, yaitu air hasil reaksi antara batuan yang mengandung sulfur dengan air dan udara. Air ini biasanya bersifat asam dan mengandung logam berat. Ada juga sedimen lumpur, hasil dari penggalian dan pencucian batubara, yang terbawa air hujan ke sungai. Belum lagi debu batubara dan residu kimia lain yang bisa ikut hanyut.

Ketika sistem pengelolaan limbah tidak ketat, atau ketika terjadi kebocoran, limpasan hujan, atau pembuangan sembarangan, limbah-limbah ini sangat mudah masuk ke badan sungai.

Dan sekali masuk, efeknya tidak berhenti di satu titik saja. Sungai mengalir. Artinya, pencemaran juga ikut mengalir, menyebar ke wilayah hilir, ke desa-desa yang mungkin tidak pernah melihat tambang secara langsung, tapi ikut menanggung dampaknya.

1. Air yang tak Lagi Layak

    Dampak paling cepat terasa dari pencemaran sungai oleh limbah batubara adalah perubahan kualitas air. Air menjadi keruh, berwarna, dan sering kali berbau. Kandungan logam berat seperti besi, mangan, atau bahkan merkuri bisa meningkat.

    Bagi masyarakat yang masih mengandalkan sungai sebagai sumber air sehari-hari, ini masalah serius. Air yang tercemar tidak layak diminum, berisiko jika digunakan untuk mandi atau mencuci, dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan jangka panjang.

    Dalam banyak kasus, masyarakat terpaksa mencari sumber air alternatif, membeli air bersih, atau berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air yang relatif aman. Ini berarti biaya hidup meningkat, waktu terbuang, dan kualitas hidup menurun.

    2. Ikan Pergi, Rantai Makanan Terganggu

    Sungai yang tercemar tidak ramah bagi kehidupan akuatik. Ikan sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air. Kadar asam yang tinggi, logam berat, dan sedimentasi berlebihan bisa membuat ikan mati, berpindah, atau gagal berkembang biak.

    Ketika ikan berkurang, dampaknya berlapis. Nelayan sungai kehilangan sumber penghasilan dan protein. Predator alami terganggu. Rantai makanan di sungai menjadi tidak seimbang.

    Lebih jauh lagi, logam berat yang mengendap di dasar sungai bisa terakumulasi dalam tubuh ikan. Ketika ikan tersebut dikonsumsi manusia, racun ikut masuk ke tubuh manusia. Ini proses yang pelan, sering tak disadari, tapi dampaknya serius.

    3. Ancaman Kesehatan yang Sering tak Terlihat

    Bahaya pencemaran limbah batubara bukan selalu berupa penyakit yang langsung terasa. Banyak dampaknya bersifat kronis dan jangka panjang.

    Paparan logam berat melalui air dan makanan bisa meningkatkan risiko gangguan kulit, masalah pernapasan, gangguan pencernaan, hingga kerusakan organ dalam jika terjadi dalam waktu lama. Anak-anak dan ibu hamil adalah kelompok paling rentan.

    Masalahnya, di daerah terpencil, akses layanan kesehatan sering terbatas. Ketika gejala muncul, sering kali tidak langsung dikaitkan dengan pencemaran lingkungan. Sungai tercemar, tapi penyakit dianggap “biasa”. Di sinilah bahaya terbesar: kerusakan yang terjadi perlahan, diam-diam, dan sering luput dari perhatian.

    4. Kepercayaan pada Lingkungan Retak

    Sungai bukan hanya ruang fisik, tapi juga ruang emosional. Ketika sungai tercemar, rasa aman masyarakat ikut terguncang. Ada kemarahan, ada ketakutan, ada rasa tidak berdaya.

    Konflik sosial juga bisa muncul. Masyarakat hilir merasa dirugikan oleh aktivitas di hulu. Kepercayaan pada sistem pengelolaan lingkungan menurun. Ketika keluhan dianggap berulang tapi tidak kunjung tuntas, muncul kelelahan sosial.

    Ini bukan soal anti-industri atau anti-pembangunan, melainkan perkara keadilan lingkungan. Soal siapa yang menikmati keuntungan, dan siapa yang menanggung risiko.

    Taruhan Besar Malinau sebagai Heart of Borneo

    Yang membuat persoalan ini jauh lebih serius adalah posisi Malinau dalam peta ekologi global. Malinau adalah bagian dari Heart of Borneo, kawasan hutan hujan tropis yang diakui dunia sebagai pusat keanekaragaman hayati dan penyangga iklim.

    Hutan dan sungai di kawasan ini berfungsi menyerap karbon, menjaga siklus air, dan menjadi rumah bagi spesies langka. Ketika sungai-sungai di wilayah ini tercemar, dampaknya tidak hanya lokal, tapi global.

    Ironisnya, kawasan yang seharusnya menjadi simbol komitmen perlindungan lingkungan justru menghadapi tekanan besar dari aktivitas ekstraktif. Ini seperti memiliki jantung yang sehat, tapi terus-menerus diberi racun dosis kecil.

    Kencapa pencemaran sungai sulit dihentikan?

    Salah satu masalah utama adalah pencemaran sungai sering dianggap sebagai “efek samping” yang bisa ditoleransi. Selama air masih mengalir, selama dampaknya tidak langsung terlihat ekstrem, masalahnya dianggap belum darurat.

    Selain itu, pengawasan di wilayah luas seperti Malinau tidak mudah. Sungai panjang, akses sulit, dan keterbatasan sumber daya membuat pemantauan lingkungan sering terlambat. Ketika pencemaran terdeteksi, kerusakan sudah terjadi.

    Belum lagi persoalan penegakan hukum yang kerap dianggap lemah. Keluhan masyarakat sipil yang berulang menunjukkan bahwa masalah ini bukan kejadian satu kali, melainkan pola yang perlu dibenahi secara sistemik.

    Ada anggapan bahwa alam akan pulih dengan sendirinya. Memang, alam punya kemampuan regenerasi. Tapi kemampuan itu ada batasnya.

    Jika pencemaran terjadi terus-menerus, sungai tidak punya waktu untuk pulih. Sedimen tercemar menumpuk. Logam berat mengendap. Ekosistem rusak permanen. Pada titik tertentu, pemulihan menjadi sangat mahal, bahkan mustahil.

    Lebih murah mencegah daripada memperbaiki. Ini bukan slogan kosong, tapi fakta ekologis dan ekonomi.

    Edukasi Publik Sangat Penting

    Salah satu hal yang perlu diperkuat adalah edukasi publik tentang bahaya limbah batubara. Banyak orang melihat air keruh dan berpikir itu hanya lumpur biasa. Padahal, di balik warna coklat pekat itu, bisa tersimpan zat berbahaya.

    Masyarakat perlu tahu apa yang berisiko, bagaimana dampaknya, dan mengapa suara mereka penting. Ketika masyarakat paham, tekanan sosial untuk pengelolaan lingkungan yang lebih baik akan semakin kuat.

    Cara kita memperlakukan sungai hari ini adalah cermin bagaimana kita memperlakukan masa depan. Sungai yang tercemar adalah pesan bahwa ada yang salah dalam cara kita mengelola sumber daya.

    Malinau https://dlhmalinau.org/profile/tentang/ punya peluang besar untuk menjadi contoh bagaimana wilayah kaya sumber daya bisa tetap menjaga ekosistemnya. Tapi itu hanya mungkin jika pencemaran sungai dianggap sebagai masalah serius, bukan gangguan sementara.

    Tulisan ini bukan untuk menyalahkan satu pihak. Ini ajakan untuk berpikir bersama. Apakah kita rela menukar sungai jernih dengan air cokelat demi keuntungan sesaat? Apakah kita siap mewariskan sungai tercemar kepada generasi berikutnya?

    Yang bisa bersuara adalah kita. Dan di wilayah sepenting Malinau, bagian dari Heart of Borneo, suara itu seharusnya lantang, jujur, dan berpihak pada kehidupan.

    Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

    Share:

    Leave a Comment