Green Jobs Baharukan Rezeki, Energi, dan Negeri

Green jobs pada dasarnya adalah pekerjaan sekaligus peluang semua orang untuk mendulang rezeki sembari membaharukan energi untuk menyelamatkan Bumi. Namun, di sini lah letak masalahnya.

Kita kerap terjebak dalam paradigma sesat bahwa perubahan iklim merupakan efek global, sehingga hanya mereka yang punya kekuatan besar bisa menghentikan dan mengatasi dampaknya.

Siapa itu? Jawabannya bisa saja pemerintah, bahkan ada yang bilang PBB harus duluan maju dan mengambil tindakan.

Akibatnya apa? Kita mengalami difusi tanggung jawab. Kita cenderung lengah, tidak bertindak apa-apa jika dampak negatifnya terlihat di depan mata.

Contoh sederhana, pas jalan-jalan ke taman kota, kita lihat ada sampah bungkus plastik, kemudian kita cuek aja karena berpikir nanti pasti ada petugas kebersihan atau tukang sampah yang memungutnya.

Setiap orang berasumsi tak perlu melakukan apa-apa karena pasti ada orang lain atau pihak yang bergerak dan bertindak. Sikap inilah yang akhirnya mengantar kita hidup dalam kondisi lingkungan semakin rusak seperti sekarang ini.

Bumi adalah korban perubahan iklim yang gagal kita selamatkan secara kolektif. Bumi juga korban utama yang gagal kita bantu secara individu.

Green Jobs dan Coaction Indonesia

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri menonton Talkshow: Yuk Cari Peluang di Sektor Green Jobs di saluran YouTube Coaction Indonesia. Coaction Indonesia adalah organisasi nirlaba yang berperan sebagai simpul jejaring dan simpul pembelajaran ide-ide inovatif yang berkontribusi pada program-program pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Direktur Program Coaction Indonesia, Verena Puspawardani dalam kesempatan tersebut menyampaikan Coaction Indonesia bekerja sama dengan banyak jejaring, mulai dari pemerintah, swasta, lembaga, juga individu. Semua informasi terkait perubahan iklim, terutama adaptasi, mitigasi, dan energi terbarukan harapannya bisa diakses semua orang.

Sejak 2018 Coaction Indonesia telah mengampanyekan peningkatan kesadaran masyarakat untuk transisi energi ke energi terbarukan yang berkelanjutan, khususnya anak muda usia 18-30 tahun. Sudut pandangnya adalah lapangan kerja ramah lingkungan dan peluang untuk mempercepat proses tersebut.

Kampanye yang menggunakan tagar #EnergiMuda ini disampaikan secara positif demi terciptanya kolaborasi antarkomunitas dan organisasi masyarakat sipil.

Anak-anak muda perlu lebih peka dengan perubahan iklim dan energi terbarukan secara spesifik. Sektor energi, limbah, transportasi, kehutanan, pertanian, dan sebagainya adalah sektor-sektor penting yang perlu diperhatikan jika kita menginginkan Indonesia lebih maju. Kalau anak muda tidak terlibat dalam sektor-sektor tersebut, mau kita bekerja di bidang apapun, kita tidak akan sukses.

Direktur Program Coaction Indonesia, Verena Puspawardani.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) PBB setidaknya menyebut dua indikator utama green jobs.

1. Green jobs memadai secara ekonomi

Ini berarti pekerjaan-pekerjaan green jobs harus layak secara ekonomi. Layak dalam artian kita gak cuma bisa makan, tapi terpenuhi kebutuhan sandang, pangan, pengetahuan, tabungan, bahkan investasi kita.

2. Green jobs berkontribusi pada lingkungan

Ini cocok untuk semua orang, terutama anak muda yang mau merintisnya dari sekarang. Pandemi Covid-19, sebut Verena adalah momentum tepat untuk kita memikirkan lagi rencana Indonesia ke depannya terkait bonus demografi.

Negara kita mendapat privilege bonus demografi yang tidak dimiliki negara lain. Populasi anak muda Indonesia mencapai 70 persen. Bayangkan jika semua anak muda Indonesia terjun ke green jobs, kelak Indonesia bisa mencapai cita-citanya menjadi negara maju.

Indonesia sekarang sudah masuk negara anggota G20. Ke depannya jika kita mau konsen ke green jobs, Indonesia bisa masuk ke Quantum Leap dengan masa depan lebih gemilang.

Green Jobs dan Anak Muda Bali

Enam tahun hidup di Bali memungkinkan saya bertemu dengan banyak sosok menginsipirasi. Terkait dengan green jobs ini, saya sempat berkenalan dengan tiga putra-putri daerah asal Pulau Dewata yang mampu mendulang rezeki sembari membarukan negeri lewat usaha ekonomi yang memerhatikan aspek lingkungan dan prinsip berkelanjutan.

1. Inovasi tenun Bali dengan pewarna alami oleh I Made Andika Putra

Saya berkenalan dengan I Made Andika Putra, seorang pengrajin tenun Bali yang mengembangkan inovasi tenun lokal menggunakan pewarna alami. Produk-produknya mampu menjangkau pasar di berbagai benua, mulai dari Australia, Eropa, hingga Amerika.

Suatu hari saya dan tiga orang sahabat bertandang ke galeri beliau di Blahbatuh, Gianyar. Saya melihat langsung bisnis Tarum dari hulu hingga hilir. Bukan cuma saya, tapi banyak juga wisatawan asing yang belajar bisnis serupa di sana.

Bli Dika, demikian saya menyapanya, belajar tentang tenun dengan pewarna alami dari sang kakak, I Made Arsana sejak masih duduk di bangku SMA. Empat tahun lamanya dua beradik ini mengeksplorasi aneka produk tenun dengan pewarna alami.

Celupan tenun Tarum berbahan dasar daun. Bli Dika bilang, daun sebagai pewarna alami memiliki beberapa kelebihan, antara lain mudah diekstrak, bisa dipanen lebih dari sekali, dan kita tak harus mematikan atau menebang pohon.

Pohon-pohon semakin segar ketika sebagian daunnya dipangkas. Limbah daun bekas pun bisa diolah lagi menjadi kompos.

Ada banyak jenis daun yang digunakan Bli Dika untuk menghasilkan warna untuk kain tenun Tarum. Empat di antaranya adalah daun tarum untuk warna biru indigo, daun mahoni untuk warna cokelat, daun mangga untuk warna kuning, dan daun Ketapang untuk warna hitam.

Semua bahan baku daun ini berasal dari perkebunan Bli Dika sendiri yang dikembangkan di Tampak Siring. Kalo kekurangan bahan, Bli Dika membelinya langsung dari kebun-kebun masyarakat setempat.

Bli Dika membawahi lebih dari 100 pengrajin lokal loh. Pendapatan bersihnya gak main-main, bisa di atas Rp 100 juta per bulan. Selain jualan offline, Bli Dika juga memasarkan produknya secara online.

Green jobs yang ditekuni Bli Dika ini terbukti tak hanya memberi omset tinggi untuk pribadi, melainkan ikut memberdayakan masyarakat sekaligus membarukan negeri dengan pewarna alami.

2. Inovasi bisnis penyamakan dari limbah kulit ikan oleh Putu Ary Dharmayanti

Saya berkenalan dengan Putu Ary Dharmayanti saat mengikuti sebuah seminar yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Denpasar. Kami rupanya seumuran.

Putu Ary waktu itu paling menarik perhatian saya, padahal banyak banget anak-anak muda kreatif yang berbagi pengalaman dalam sharing session waktu itu.

Dia bercerita awal mula terpikir ide bisnis penyamakan kulit ikan lantaran melihat industri penyamakan kulit di Indonesia masih umum menggunakan bahan pengawet berbahaya, seperti formalin dan krom. Bahan baku terbanyak masih dari kulit sapi, domba, buaya, dan ular.

Nah, Putu Ary memilih jalan berbeda. Dia beralih menggunakan bahan baku kulit ikan, pewarna alami, serta pengawet nabati dan sintetis, seperti getah tumbuhan bakau. Kebetulan sarjana lulusan UGM ini belajar dari ayahnya yang lulusan Teknik Kimia.

Mengapa pilih kulit ikan?

Alasannya karena Indonesia adalah negara maritim dengan kekayaan laut melimpah. Terang saja, produksi perikanan kita hampir 50 juta ton atau lebih dari separuh produksi perikanan dunia versi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB.

Apalagi Bali merupakan sentra industri filet ikan terbesar kedua di Indonesia. Di Pelabuhan Benoa, Denpasar saja setidaknya ada 23 unit usaha industri filet ikan.

Sayangnya, kata Putu Ary baru 40 persen saja dari bagian ikan yang dimanfaatkan industri filet ikan di Benoa dan umumnya itu berupa daging ikan. Bagian sisanya, mulai dari kepala, tulang, dan kulit ikan terbuang percuma.

Putu Ary memperkirakan satu unit usaha filet ikan di Benoa menghasilkan limbah 3.000-4.000 lembar kulit ikan per hari. Nah, dari sini lah ide bisnis penyamakan kulit ikan untuk berbagai produk kerajinan ala Putu Ary bermula.

Putu Ary lewat brand-nya, Yeh Pasih Leather mengembangkan usaha dengan prinsip bebas limbah (zero waste). Sisik ikan diolahnya menjadi cangkang kapsul. Sebagian daging yang masih menempel di kulit ikan segar yang dibelinya dikumpulkan dan diolah menjadi abon dan pakan ternak.

Kulit ikan disulap menjadi kulit ikan samak untuk bahan baku kerajinan. Jenisnya bisa dari kulit ikan kakap, kulit ikan barramundi, dan kulit ikan mahi-mahi.

Kulit ikan punya motif unik, berupa guratan-guratan lengkung bekas sisik nan eksotis. Seratnya juga kuat untuk diolah menjadi produk samak.

Putu Ary mencontohkan kulit ikan kakap yang sudah disamak cocok untuk bahan baku tas, dompet, alas kaki, ikat pinggang, dan aksesoris lainnya.

Hasil akhir lembaran kulit ikan samak di Indonesia rata-rata dihargai tiga dolar AS per lembar. Ketika hasil akhir ini diekspor, harga jualnya bisa mencapai 14 dolar AS per lembar. Putu Ary bisa mendulang keuntungan bersih hingga Rp 30 juta per bulan.

Kalo saja pemerintah mau mengembangkan industri ini lebih luas, Indonesia bisa memenuhi permintaan pasar dunia karena sentra industri filet di Indonesia ini lebih dari 16 ribu unit.

Saingan Indonesia itu cuma empat negara, yaitu Australia, Islandia, Kanada, dan Rusia. Empat negara tersebut lautnya gak ada yang menandingi luasnya lautan Indonesia.

3. Inovasi panel surya di Desa Geluntung, Tabanan

I Gusti Ngurah Agung Putradhyana atau yang akrab disapa Gung Kayon bukan sosok baru di kalangan anak-anak muda Bali. Beliau selalu berada di garda terdepan dalam mengampanyekan penggunaan energi alternatif, khususnya energi surya di Pulau Dewata.

Suatu hari ada acara ngopi sembari bincang santai soal energi bersih di Kubu Kopi, Denpasar. Saya ikut dan kebetulan beliau jadi salah satu pembicara waktu itu.

Saya tergelitik ketika Gung Kayon bilang, kita perlu bercermin pada Bhutan. Negara tersebut menjadikan kebahagiaan sebagai acuan. Perempuan-perempuan desa di Bhutan dilatih supaya mampu merakit peralatan tenaga surya sendiri, padahal Bhutan tak mempunyai cahaya matahari sepanjang hari seperti Indonesia.

Kita juga perlu bercermin dari niat, komitmen, dan kesungguhan mencapai tujuan energi bersih yang digagas negara seperti Bangladesh. Targetnya adalah 100 persen tenaga surya pada 2020. Setiap hari pemerintah Bangladesh mendistribusikan panel surya difasilitasi Grameen Shakti.

Bagaimana dengan Indonesia?

Gung Kayon yang notabene bukan siapa-siapa, bukan menteri, bukan pejabat, bukan PNS berpikir dari kacamatanya sendiri. Cita-citanya mulia, suatu hari Bali secara keseluruhan bisa memiliki pembangkit listrik dari energi terbarukan, khususnya energi surya.

Intensitas sinar matahari cerah per hari di pulau tropis ini, mencapai 4-8 jam. Gung Kayon lewat Komunitas Kayon mengembangkan Grid Tied Inverter yang menggandengkan panel surya dengan jaringan PLN tanpa menggunakan aki atau baterai, kecuali ingin menggunakannya kontinyu siang malam dengan tenaga matahari seluruhnya.

Menurut Gung Kayon, ini membuka lapangan kerja hijau untuk ribuan orang. Anak-anak muda di mana pun berada bisa bekerja di daerah masing-masing, tanpa perlu berbondong-bondong urbanisasi ke kota, membawa ijazah demi mendapat pekerjaan.

Sebagai gambaran, perbandingan luas Kota Denpasar hanya 2,18 persen dari luas Pulau Bali. Jika ingin Kota Denpasar menggunakan pembangkit surya, kita tak perlu melakukan pembebasan lahan, cukup menggunakan atap rumah, kantor, kampus, sekolah, pasar, hotel, restoran, vila, tempat parkir, bahkan payung-payung pantai di Bali. Semuanya bisa dimanfaatkan dan dirancang dengan manis untuk keperluan itu.

Masyarakat Bali tak perlu membabat hutan, tak perlu mengotori napas Bumi. Gung Kayon mulai mewujudkan mimpi dari desanya sendiri, Desa Geluntung, Kabupaten Tabanan.

Di rumahnya, Gung Kayon mencukupi hampir seluruh kebutuhan energi listrik dengan panel surya. Dia memasang banyak panel surya di halaman, atap, dan bagian lain rumahnya.

Sikap Gung Kayon ternyata membius masyarakat desanya melakukan hal sama. Sejak 2016 kantor desa, pura, balai banjar, hingga beji di Desa Geluntung sudah menggunakan panel surya. Sumber energi yang berasal dari alam dikembalikan lagi ke alam.

Green Jobs are Good Jobs

Green jobs are good jobs. Menurut saya karena pekerjaan-pekerjaan ramah lingkungan ini melibatkan multiprofesi, multibidang, multisektor yang bisa dilakukan mulai dari desa hingga kota, mau itu di sektor ekonomi yang formal atau pun informal.

Green jobs are good jobs karena memberi kesempatan sama bagi laki-laki juga perempuan untuk menekuninya. Green jobs bukan cuma diisi lapangan kerja baru, tapi juga lapangan kerja tradisional yang sudah dimodifikasi dalam perspektif hijau.

green jobs

Anak muda Indonesia yang tertarik terjun ke green jobs juga semakin banyak. Nah, kira-kira apa saja ya green jobs yang antimainstream dan bisa menjadi ‘emas hijau’ bagi anak muda Indonesia yang mau menekuninya?

1. Sustainable chef

Kalo kita bahasakan kurang lebih artinya adalah juru masak ramah lingkungan. Kalo kita mendengarnya sekarang rada lucu ya? Namun, saya yakin di masa depan kita akan terbiasa dengan profesi ini.

Koki-koki di Indonesia sekarang udah banyak yang menjadi koki seleb. Mereka bukan cuma jago masak, tapi juga diidolakan banyak orang. Saya misalnya, nge-fans berat sama Chef Arnold dan Chef Marinka.

green jobs

Saya yakin pekerjaan sebagai Sustainable Chef di masa depan bakal menarik. Mereka bukan cuma bisa masak enak, tapi juga memerhatikan bahan baku masakan yang menekankan prinsip berkelanjutan, bersumber dari panganan lokal, kualitasnya bagus, organik, dan yang terpenting adalah juru masak yang gak boros dan zero waste.

Secara gak langsung Sustainable Chef akan mengedukasi masyarakat luas tentang isu-isu lingkungan hidup berkelanjutan. Mereka bisa menjadi inspirator yang baik.

2. Teknisi AC ramah lingkungan

Hari gini rumah mana sih yang gak pakai AC? Konsumsi energi listrik untuk AC di Indonesia itu tinggi banget loh.

green jobs

Coba kita bayangkan sekiranya di Indonesia ini memiliki banyak teknisi atau installer AC ramah lingkungan, yang bisa membuat AC lebih efisien, bahkan kalo bisa AC yang menggunakan energi matahari. Pasti saya akan menjadi pelanggan pertamanya.

3. Insinyur energi

Walau pun gelar insinyur udah gak ada lagi, tapi tetap aja keren ketika kita gunakan sebagai istilah. Nah, sekarang ini sudah banyak insinyur atau sarjana mesin, arsitek bangunan, sarjana sipil, dan profesional semacamnya yang bekerja di berbagai sektor industri.

green jobs

Namun, sejauh yang saya tahu belum ada yang spesifik bisa dikatakan ahli manajemen energi. Kalaupun ada istilah yang sama, biasanya baru didapatkan kalo mereka mengambil kursus atau kuliah di luar negeri.

Nah, insinyur energi atau ahli manajemen energi ini bisa mengatur sistem manajemen energi, entah itu di perusahaan atau lembaga pemerintah.

4. Konsultan konstruksi material berkelanjutan

Pasar konstruksi bangunan di Indonesia mengalami perubahan besar sejak krisis moneter belasan tahun lalu. Tantangan kita sekarang adalah merancang konstruksi bangunan yang betul-betul memerhatikan kriteria ramah lingkungan.

Memang sih udah banyak bangunan yang dirancang sebagai green building, tapi seberapa banyak sih di Indonesia? Bisa dihitung pakai jari deh kayaknya.

green jobs

Konsultan konstruksi material berkelanjutan diperlukan karena mereka ahli mendesain, memilih material, dan mengarahkan konstruksi baru yang benar-benar ramah lingkungan.

5. Pengacara lingkungan

Indonesia benar-benar butuh ahli hukum lingkungan, khususnya pengacara. Kita sama-sama tahu berapa banyak pelaku dan perusahaan perambah hutan lolos dari jerat hukum di pengadilan. Ini karena masih sedikit pengacara yang mendalami hukum lingkungan.

green jobs

Green lawyer ini menurut saya berperan besar mengedukasi, memberi konsultasi kepada perusahaan, lembaga publik, dan klien-klien di pengadilan. Tentu saja profesi ini di masa depan bakal bangkit dan menciptakan ceruk pasar sendiri.

6. Environmental IT tech

Nyaris semua peralatan rumah tangga, gadget, pokoknya yang berbau internet of things sekarang ini terkait dengan efisiensi energi.

green jobs

Coba bayangkan di antara aplikasi yang gak terhitung jumlahnya itu ada yang prinsipnya ramah lingkungan, pasti sangat diminati industri masa depan. Ini juga green jobs loh, sebab semuanya butuh keterampilan IT, hanya saja disempurnakan dengan keberadaan teknisi atau orang yang menguasai environmental IT.

7. Ahli pertanian vertikal

Lahan pertanian di Indonesia semakin berkurang, sementara jumlah penduduk terus bertambah. Mau gak mau di masa depan kita membutuhkan konsultan dan ahli pertanian vertikal yang bisa mengadopsi teknologi pertanian terbaru, bahkan jika mungkin menggunakan kecerdasan buatan.

green jobs

Teknologi terbaru ini membutuhkan pengorganisasian komunitas petani di Indonesia, sebagaimana halnya komputer. Konsultan pertanian ini lah yang akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, komunitas petani, dan swasta yang menjadi kliennya untuk mengidentifikasi lokasi optimal untuk budidaya pertanian.

Pertanian vertikal adalah terobosan baru di sektor pertanian. Dengan demikian, rantai pasok pangan di Indonesia tetap terjamin, meski lahannya terbatas.

8. Teknisi surya fotovoltik

Panel surya mengonversi energi matahari menjadi energi listrik. Kebutuhan listrik di Indonesia amat besar. Kalo kita terus menerus mengandalkan energi fosil untuk listrik, lama-lama bakal defisit.

Saya yakin di masa depan teknisi surya fotovoltik akan menjadi green jobs paling bergengsi. Profesi ini di luar negeri sudah banyak, tapi di Indonesia masih sedikit.

Teknisi surya fotovoltik di Amerika saja bisa bergaji 49 ribu dolar AS atau sekitar Rp 700 juta loh.

green jobs

Green jobs bukan cuma berisi satu lapangan pekerjaan. Ada banyak peluang dan jutaan profesional dengan beragam keterampilan dan gelar bisa meng-upgrade pekerjaan mereka menjadi green jobs.

PBB memperkirakan akan ada 24 juta lapangan kerja baru tercipta hingga 2030. Sebagian besarnya adalah green jobs lantaran semakin banyak negara di dunia bertransisi ke arah ekonomi hijau dan berkelanjutan. So, tunggu apa lagi? Yuk, ciptakan peluangmu sendiri.

33 thoughts

  1. Peluang kerja masa depan ya green jobs tuh. Masih kurang banget tuh teknisi surya votolotaik. Sayangnya juga energi terbarukan masih mahal. Semoga makin banyak deh upaya menghijaukan bumi dengan makin banyaknya peluang green jobs tadi.

    Like

  2. Mbaaa, enjoy bangeett aku baca artikel ini.
    “Daging” semua nih isinya!
    Aku salut sama anak2 muda yg peduli akan kelestarian alam, dan mereka bisa mendapatkan penghasilan dengan tetep menebar semangat ‘go green’
    semogaaaa makin banyak yg kian concern dgn green jobs ini ya

    Like

  3. Rumahku nggak pake AC 😀 Alhamdulillah di Bandung bagian rumahku masih cukup sejuk 🙂
    Berharap banget semoga ke depannya kita semua (iya, kita) lebih peduli pada kelestarian lingkungan.

    Like

  4. sebenarnya kita semua juga harus peduli terhadap lingkungan ya mbak
    dimulai dari hal yg paling kecil, hemat energi contohnya
    dan memang green jobs ini harus terus didorong perkembangan nya, karena ini pekerjaan yang layak sekaligus ramah lingkungan

    Like

  5. Green jobs ini baru tahu akhir-akhir ini.
    Ternyata memang diperlukan trend untuk pekerjaan yang juga sekaligus peduli terhadap lingkungan
    Semoga semakin banyak yang tahu soal green jobs ini
    Dan presentase orang-orang yang peduli etrhadap lingkungan bisa semakin naik aamiin

    Like

      1. Iya Mbak betul. Aku gak tahu masih disebut pemuda atau enggak,
        tapi semoga bisa berkontribusi dengan hal-hal berkaitan lingkungan.
        Setidaknya dari rumah sendiri dulu.

        Like

  6. Kita emang harus peduli pada lingkungan. Apalagi bumi yang pijak ini semakin tua. banyak kehidupan yang hilang dengan keberadaan kita sebagai manusia. makanya sebagai manusia harus pintar2 menjaga kehidupan mahluk dimuka bumi ini.
    Green jobs ini bagus sekali diberdayakan. semakin banyak yang mengetahuinya semakin terjaga kehidupan lingkungan kita.

    Like

  7. Saya berharap banget program seperti ini tersosialisasi dalam cakupan yang (jauh) lebih luas. Biar generasi muda bisa lebih terbuka mata dan pengetahuannya akan kesempatan kerja di masa yang akan datang. Mereka juga harus menyadari tentang betapa pentingnya awareness akan lingkungan dan mengembangkan ilmu tentang pemeliharaan lingkungan.

    Like

  8. semoga semakin banyak yaaa yang tertarik untuk berkecimpung di green jobs, karena dunia kita membutuhkan generasi yang peduli lingkungan dan berkarya menghasilkan inovasi/teknologi yang ramah lingkungan

    Like

  9. Jangankan memungut sampah yang dilihat mbak, sesimple membuang sampah pada tempatnya saja masih ada yang tidak melakukannya.

    Keren banget ya anak muda Bali itu. Kutertarik dengan sepatu hasil limbah kulit ikan itu, cantik banget.

    Like

    1. Hahahaha. Entah apa masalahnya ya. Buang sampah di tempatnya saja, atau menahan sampah bekas makan sementara di tas sampai menemukan tong sampah saja itu kesannya sulit sekali bagi kebanyakan orang. Gak heran kalo lagi naik kereta api misalnya, itu banyak sampah di bawah kursinya.

      Like

  10. Keren ya Gung Kayon dan penduduk sekitarnya. Sudah memakai tenaga panel surya untuk listrik.
    Kemaren aku baru balik dari PUlau macan.. disana juga membuat panel surya atau solar cell untuk mencukupi kebutuhan listrik di resort.

    Like

  11. Menarik sekali ya green jobs ini, semoga nanti semakin banyak lagi ya anak muda yang menginspirasi. Peduli akan kelestarian alam. Dengan membaca artikel ini jadi berbicara pada diri, kira-kira apa ya yang bisa kulakukan untuk bumi? Teman-teman suah banyak memulai … sungguh menginspirasi.

    Like

  12. Keren ya kalo membayangkan beberapa sektor pekerjaan mulai mengarah untuk peduli lingkungan. Apalagi tentang sustainable chef, kalau ada yang bisa memulai ini pasti keren banget sih karena gak cuma jago masak tapi juga jago untuk peduli sama lingkungannya.

    Like

    1. Yuhuuuu, dimulai dari diri kita sendiri sebagai ibu yang menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anak kita di rumah ya mba. Setiap ibu bisa jadi sustainable chef dalam keluarga. Saya kemarin kepikiran memasukkan sustainable chef sebagai salah satu green jobs masa depan karena melihat banyak sekali makanan sisa hotel dan restoran yang terbuang percuma. Sayang kan.

      Like

  13. Luar biasa. Terkagum-kagum saya baca artikel ini
    Indonesia punya banyak potensi anak-anak muda yang ide-idenya kadang tak terduga dan benar-benar memikirkan keberlanjutan generasi dengan green jobs. Saluuuuut

    Like

  14. Pengacara lingkungan, saya sepakat mesti ada ini. Orang yang ahli berkomunikasi dan memiliki pemahaman soal isu-isu dan peraturan di sektor lingkungan, biar nggak ada lagi pembalak liar, pembuang limbah industri sembarangan yang lolos dari jeratan hukum.

    Like

  15. Soal lingkungan ini kurasa adalah kewajiban setiap penghuni bumi untuk menjaga. Tanpa kecuali. Karena kita udah ambil manfaat dari bumi.maka sudah selayaknya kita bayar fasilitas untuk ikut menjaganya.

    Dan kali ini lagi2 aku acungkan jari untuk salutku sama mbak Muthe artikelnya selalu komplit, keren totalitasnya. Harus banyak belajar nih aku

    Like

    1. Sejatinya hidup di Bumi ini berdasarkan prinsip apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Kalo kita ramah pada Bumi, pasti Bumi juga ramah pada kita ya Mba Sita. Terima kasih apresiasinya mba. Jadi tersanjung euy.

      Like

  16. Aihh kak mutiaa keren bangett lahh tulisannya.
    Adeem bacanya berasa kayak di bawah AC hahah. Aku juga baru tahu greenjobs ini setelah kepoin coaction haha. Bener2 harapan di masa mendatang

    Like

  17. Kalau dulu kita nyari kerjanya cuma berdasarkan keinginan dan juga rata-rata gaji berapa yang dihasilkannya kan Kak. kalau sekarang kita harus lebih memperhatikan pekerjaan kita ini apakah ramah lingkungan atau tidak. Karena selain untuk mempertahankan eksistensi bumi yang sehat, keren Jobs juga bisa memperbaiki keadaan bumi yang sedang sakit sekarang.

    Like

  18. Iya, serasa kalau urusan global yang bertanggungjawab mesti entitas yang lebih besar. Tapi orang yang berpikir demikian lupa dengan pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Sesuatu yang besar selalu bermula dari hal yang kecil. Yang global dimulai dari yang lokal.

    Btw, pengin juga masang panel surya, biar gak tergantung sama PLN. Tapi investnya masih mahal. Atau jangan2 karena Teknisi surya fotovoltik masih sedikit ya di tanah air?

    Like

  19. keren banget yaa mba Muthe karena Indonesia tuh potensi alamnya sangat luar biasa, jadi peluang green jobs tuh terbuka lebar sekali, harus banyak edukasi ke milennials nih biar pd mau terjun ke green jobs

    Like

  20. Jika dieksplor lebih jauh, potensi green jobs di Indonesia itu besar banget ya Uni, tinggal pelaku nya saja yang belum banyak. Mudah-mudahan anak muda bisa tergerak hatinya untuk berkontribusi di sektor ini

    Like

  21. udah baca artikel ini dari lama, baru kali ini mampir komen, emang kece bunda cayangku satuh ini

    peluang green job peluangnya luas bgt ya, dari sekian byk artikel green jobs yg ku baca, sudut pandang mba mut ini emang paling bedaaa

    Like

Leave a Reply to fatimahaqila Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.