Studio 54 TOP
Studio 54 TOP

Dear VIPs, gimana kabarnya? Masih aman setelah T.O.P tiba-tiba ngasih kita dua MV sekaligus bulan ini? DESPERADO dan STUDIO 54 sudah dirilis. Aku sendiri, jujur, masih belum napak bumi nih. Hahaha. Setelah 13 tahun, akhirnya dia balik dengan full album solo pertamanya sejak DOOM DADA di 2013, dan ya… kalian yang udah baca thread aku pasti paham kenapa comeback dia kali ini terasa begitu berarti buat aku. 

Sekarang aku mau mengajak kalian ngulik MV STUDIO 54 – T.O.P yang baru rilis 8 April kemarin. Makin dipikir, makin banyak hal yang pengen aku bahas soal dia.

Sekilas, STUDIO 54 T.O.P bisa dengan mudah disalahpahami newbie sebagai karya yang aneh, artsy, dan sedikit “gila.” Tapi tahukah kamu? Dari sisi produksi dan visual, MV-nya jelas digarap dengan pendekatan yang sangat serius dan artistik, bukan sekadar visual pendukung lagu. 

Keterlibatan Chae Kyung-seon sebagai art director, yang dikenal lewat karyanya di SQUID GAME, langsung terasa dalam cara ruang, warna, dan simbol-simbol dalam MV ini disusun secara surreal. 

Ia menciptakan dunia yang penuh makna tersembunyi. Ada sosok besar memakai headphone dan wajahnya tertutup kain tipis. Ada mata palsu di gelas. Ada kalimat “Dirty Sun! Dirty Sun!” Ada random dance T.O.P dan Nana yang terinspirasi dari klub legendaris AS, STUDIO 54. Ditambah dengan sinematografi Kim Ji-yong yang memberi nuansa sinematik kuat lewat pencahayaan kontras. 

Aku sendiri lebih melihat STUDIO 54 sebagai film pendek psikologis T.O.P, bukan video musik biasa. Makin menarik lantaran T.O.P juga membuat gebrakan dengan menggabungkan dua lagu dalam satu narasi visual.

Dia menyelipkan “ADHD (Another Dimension Holy Dude)” ke dalam MV STUDIO 54, menciptakan pengalaman dua dimensi emosi yang saling bertabrakan. Transisinya keren banget, bikin keseluruhan MV jadi lebih kompleks, berani, dan jenius secara konseptual.

Kehadiran Nana sebagai featured model untuk MV ini sekaligus figur visual utama juga memperkaya layer cerita. Buat kamu yang udah bisa nebak dari awal, Nana di MV ini tidak sekadar tampil sebagai karakter tambahan, melainkan refleksi identitas T.O.P itu sendiri. 

Kenapa STUDIO 54?

Kenapa sih T.O.P kasih judul lagunya “STUDIO 54”? Sejak teaser MV-nya muncul, aku langsung menduga ini bakal ada kaitannya dengan salah satu klub paling legendaris dalam sejarah budaya pop Barat, juga film lawas yang mengangkat kisah sama di dalamnya. Begitu aku tonton pelan-pelan, aku baca liriknya, kemudian aku tempatkan dalam sejarah hidup T.O.P sendiri, barulah aku tahu kalau karya ini sangat personal buat dia. 

T.O.P di STUDIO 54 ibarat membangun satu ruang simbolik untuk bicara tentang hidupnya yang pernah terlalu terang, terlalu liar, terlalu ramai, lalu menyisakan kerusakan yang harus dia tanggung sendiri.

Judul “STUDIO 54” adalah pintu masuk paling penting. Secara historis, Studio 54 memang bukan klub dansa biasa. Klub itu berdiri di New York dan booming pada akhir 1970-an sebagai pusat disko, pesta, selebritas, glamor, kebebasan, dan juga ekses.

Media Britannica menjelaskan Studio 54 sebagai salah satu klub paling terkenal pada era itu, tempat para figur budaya dan seni berkumpul, dan tempat yang kemudian identik dengan glamor sekaligus debauchery, atau gaya hidup berlebihan yang nyaris jadi legenda. 

Dengan kata lain, Studio 54 lebih dari sekadar “tempat untuk bersenang-senang.” Ia sudah berubah menjadi simbol untuk sebuah dunia yang sangat memabukkan, yaitu dunia yang menjanjikan kebebasan total, tapi juga bisa menghapus batas, merusak kendali diri, dan membuat orang-orang yang ada di dalamnya kehilangan arah.

Kalau simbol itu dibawa ke dalam karya T.O.P, hasilnya langsung menarik. Karena T.O.P sendiri datang dari dunia yang, dalam bentuk modernnya, punya banyak kemiripan dengan mitos Studio 54. Dunia idol, terutama ketika dia masih menjadi anggota BIGBANG, adalah dunia yang super terang. 

T.O.P tidak hanya terkenal. Dia dilihat, dibicarakan, diproyeksikan, diinginkan, dibenci, dipuja, dan dijadikan simbol. Dalam batasan tertentu, ketika seorang sudah menjadi artis atau idol, dia tidak lagi hidup sebagai orang biasa. Dia hidup sebagai citra. Dan T.O.P adalah salah satu contoh paling kuat dari itu. 

Sebelum publik mengenal dia sebagai figur eksentrik yang suka seni, vokal berat, gaya cool, dan aura yang sangat khas, Choi Seung-hyun lebih dulu masuk ke YG Entertainment setelah punya pengalaman sebagai rapper underground, lalu debut sebagai member BIGBANG pada 2006. 

Sejak debut, hidupnya bukan lagi cuma milik dirinya sendiri. BIGBANG berkembang menjadi salah satu grup K-pop paling besar dan paling berpengaruh di Asia, bahkan dunia, dan T.O.P menjadi bagian penting dari identitas grup itu.

Judul “STUDIO 54” di sini tidak harus kita baca harfiah sebagai “T.O.P pengen bikin MV ala klub di New York,” tapi dia sedang menggambarkan STUDIO 54 sebagai sebuah dunia yang sangat menggoda sekaligus sangat merusak.

Bedah Lirik STUDIO 54

STUDIO 54 dalam konteks T.O.P adalah metafora untuk mesin ketenaran. Tempat di mana semua hal terasa mungkin, semua kesenangan terasa dekat, semua orang terlihat indah dan gagah, semua lampu menyala terang, dan membuat orang larut dalam identitasnya. 

Orang-orang masuk ke sana untuk merasa bebas, tapi nahasnya, mereka bisa keluar sebagai orang yang tidak lagi tahu dirinya siapa. Kalau kita pasangkan ini dengan lirik yang dia nyanyikan, polanya makin jelas.

Di Thread, aku sudah terjemahkan semua lirik lagu T.O.P di album ANOTHER DIMENSION ke dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Silakan kalian cek langsung ke akunku di @muthe_ramadhani. Sekarang, aku mau kutip beberapa lirik yang relate sama T.O.P.

Lirik “오늘 어땠어? 난 더 미쳤어” atau “How was your day? I got even crazier” 

Kedengarannya kayak T.O.P nanyain kabar kita, penggemarnya, setelah 10 tahun tak jumpa. Simpelnya kan kayak gitu, toh?

Siapa sangka, pembuka lagu ini itu sebenarnya pahit. 

Jawaban kita ke T.O.P mungkin… “Aku baik-baik aja,” “Ya hidupku gini-gini aja, bangun pagi, kerja, ngumpul sama teman pas weekend.” Intinya ya sesusah-susahnya kita, kita tetap bisa having fun. 

Tapi buat T.O.P? Hidup dia tuh sudah kelewat intens. Lalu muncul lanjutan liriknya…

“내 인생 곡선은 조금 미쳤어” yang kira-kira berarti hidupnya sendiri “makin gila” dalam artian tidak stabil, tidak normal, tidak seperti orang lain, tidak seperti kita. 

Dari sini, kita sudah tahu bahwa kita sedang mendengar T.O.P sedang menceritakan hidupnya yang terlalu berlebihan sampai terasa tidak masuk akal dan bikin dia gila. Dan ketika dia lanjut ke “난 Who 난 Who?” atau “Who am I?” T.O.P secara terang-terangan mengungkapkan dirinya sedang krisis identitas.

Baris “Who am I?” sangat penting karena hampir semua simbol di MV STUDIO 54 ini berputar di sekitar pertanyaan itu. Kita bisa lihat, ada sosok dengan wajah tertutup, sepasang bola mata yang lepas dari tubuh, mata Nana yang ditutup, semua kembali ke satu problem yang sama, yaitu seseorang yang tidak lagi bisa melihat siapa dirinya sendiri. 

Itu sebabnya pembacaan atas MV STUDIO 54 ini paling kuat kalau dimulai dari tema identitas, bukan dari tema romance, bukan dari tema horor, dan bukan dari tema estetika semata. Semua yang aneh di MV ini terasa aneh karena fungsinya adalah memperlihatkan perpecahan dalam diri T.O.P, antara dirinya yang lama, dirinya yang selama belasan tahun menjadi konsumsi publik, dengan dirinya yang sedang berusaha lahir kembali.

Pada titik ini, sejarah hidup T.O.P memang tidak bisa diabaikan. Tahun 2017, ia terseret kasus penggunaan marijuana dan kemudian dijatuhi hukuman penjara 10 bulan yang ditangguhkan karena masa percobaan dua tahun. Pada periode yang sama, pemberitaan juga luas soal dirinya yang dirawat di rumah sakit setelah overdosis obat penenang. 

Kasus itu menjadi titik keruntuhan dirinya, bukan cuma secara hukum dan karier, tapi juga secara citra publik. Reuters, BBC, KBS, Yonhap, dan berbagai media Korea pada masa itu menandai peristiwa ini sebagai salah satu momen paling gelap dalam hidupnya. Di kemudian hari, T.O.P juga menjauh dari aktivitas grup dan akhirnya resmi keluar dari BIGBANG. 

Semua ini membuat pembacaan “STUDIO 54” sebagai karya tentang kehancuran, rasa bersalah, dan pelepasan diri dari persona lama jadi terasa masuk akal sekali.

Nah, menariknya, T.O.P di lagu ini sama sekali tidak menjual kesedihan. Dia tidak menangis, tidak meratap. Dia menyadari kesalahannya dan menerima karma atas dirinya. Dia bicara dengan bahasa panggung, bahasa seni, bahasa surealisme, dan bahasa tabrakan simbol. 

Misalnya ketika dia menyebut “쾌락을 좇던 악몽” atau mimpi buruk yang mengejar kenikmatan.

Kalimat ini sangat penting karena ia merangkum seluruh filosofi STUDIO 54, bahwa kesenangan bukan selalu berarti kebebasan. Tidak jarang, kesenangan justru berubah jadi mimpi buruk, terutama ketika ia dijalani sebagai pelarian. 

Dalam banyak cerita tentang STUDIO 54, dalam versi sejarah atau pun dalam versi filmnya, yang dibicarakan orang bukan cuma kemewahan dan pestanya, tapi juga ekses dan kebobrokan yang menyertainya. Itu sebabnya STUDIO 54 terus hidup dalam imajinasi budaya bukan sebagai tempat yang indah, melainkan tempat yang sangat memikat tapi juga sangat berbahaya.

Lalu ada baris “난 자유의 몸을 원해” atau “I just want to be free.” 

Setelah semua kegilaan, semua kelelahan, semua ketidakjelasan identitas yang dialami T.O.P, tuntutan yang tersisa dalam dirinya cuma satu, “aku mau bebas.” Tapi bebas dari apa? Di sinilah lagu ini memperkaya maknaya. Ia bisa dibaca sebagai bebas dari industri, bebas dari sorotan publik yang berlebihan, bebas dari kegagalan masa lalu, bebas dari persona T.O.P yang dulu, bebas dari versi dirinya yang dibangun oleh BIGBANG, oleh media, oleh penggemar, oleh skandal, bahkan oleh dirinya sendiri.

Saat dia bilang “너와의 이별이 달콤해,” yang artinya “berpisah denganmu terasa manis.” Nah, “you” atau “kamu” di sini maknanya tidak harus satu orang. “You” di sini bisa berupa seluruh sistem yang pernah mengurungnya.

Baris “갈기갈기 찢겨 상처많은 나의 fans / 어머니처럼 날 걱정하던 내 Ex-Girlfriends” sangat menarik karena T.O.P memasukkan orang-orang di sekitarnya ke dalam penderitaannya sendiri. Fans atau VIP digambarkan seperti ikut terluka atas dirinya. Mantan pacar digambarkan seperti orang-orang yang mengkhawatirkannya.

Jadi, dalam lagu ini T.O.P juga mengungkapkan bahwa “kekacauanku berdampak ke orang-orang lain.” Dia menunjukkan kesadaran, bahkan rasa bersalah. Lalu ketika dia bilang “상처엔 연고 내 모질이 업보,” atau kira-kira “put balm on my scars, this is the karma I earned,”

T.O.P tidak playing victim di sini. Dia mengakui ada konsekuensi atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Ada karma. Ada sesuatu yang harus dia tanggung. STUDIO 54 tidak lagi terasa sebagai lagu pembelaan diri, tapi sebagai lagu pengakuan yang dibungkus seni oleh T.O.P.

Baris “Prada 구두에서 가벼워진 나의 Vans” juga layak dibaca serius.

Prada dan Vans di sini adalah dua gaya hidup berbeda. Prada mewakili kehidupan yang glamor, kemewahan, status, mode, dunia kelas atas. Vans mewakili gaya hidup yang lebih santai, lebih membumi, lebih tidak pretensius.

Jadi perpindahan T.O.P dari awalnya mengenakan Prada ke Vans bisa dibaca sebagai gerakan menjauh dari citra glamor lama menuju identitas yang lebih sederhana, atau setidaknya ingin terlihat tidak lagi tunduk pada kode-kode kemewahan yang dulu menempel padanya.

Apakah itu berarti T.O.P sepenuhnya meninggalkan kehidupan glamor? Belum tentu. Tapi secara simbolis, ia jelas sedang bilang bahwa dia sedang menanggalkannya satu per satu.

Bedah MV STUDIO 54

Kita masuk ke MV. Kalau kamu perhatikan, satu figur paling dominan adalah sosok tanpa wajah yang terus hadir di belakang T.O.P. Ia memakai headphone, wajahnya tertutup kain tipis, tubuhnya bisa membesar secara tidak proporsional, sehingga sulit kalau kita simpulkan sosok ini sebagai satu orang atau satu individu. 

Figur ini menurutku adalah kunci utama pembacaan visual MV STUDIO 54. Ia tidak tampil seperti musuh biasa, seperti yang mungkin pernah kita lihat di MV Fantastic Baby. Di MV T.O.P ini, figur tanpa wajah ini tampil seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan. 

Secara visual, di akhir MV kita tahu bahwa dia lebih besar dari T.O.P, artinya dia punya daya tekan lebih besar daripada orang yang dia hantui. Ia tanpa wajah, artinya ia bukan identitas yang jelas, melainkan sesuatu yang menelan identitas. Ia memakai headphone, artinya ia terhubung pada suara, kebisingan, mungkin juga industri musik itu sendiri. 

Dan yang paling penting, ia tidak pernah benar-benar menyerang T.O.P secara langsung di MV ini. Figur ini lebih sering hadir sebagai pengawas, sebagai beban, sebagai sesuatu yang terus menempel di belakang T.O.P/ Nana.

Figur misterius dalam MV STUDIO 54 T.O.P
Figur misterius dalam MV STUDIO 54 T.O.P

Kalau semisal figur itu kita baca sebagai trauma masa lalu T.O.P, masuk. Kalau dibaca sebagai persona lama T.O.P, juga masuk. Kalau dibaca sebagai industri hiburan yang membentuk lalu menghisap dirinya, masih masuk. Jadi, menurut aku, sosok itu bisa dibaca sebagai gabungan semuanya. Ia adalah “sesuatu yang lebih besar dari T.O.P” yang membayangi T.O.P. 

Dan karena wajahnya tertutup, ia juga nyambung dengan lukisan karya René Magritte yang berjudul “The Lovers.” MoMA menjelaskan lukisan itu sebagai gambaran tentang hasrat yang terhalang, di mana ada dua orang sedang berciuman, tapi wajah mereka dipisahkan kain, sehingga ungkapan asmara yang seharusnya penuh gairah berubah jadi frustrasi dan isolasi. Wajah yang tertutup membuat kedekatan mereka justru terasa dingin.

So, idenya adalah kedekatan tanpa akses. Kamu dekat, tapi tidak benar-benar dekat. Kamu saling bersentuhan, tapi tidak benar-benar saling mengenal. Dalam MV STUDIO 54, motif ini diubah dari relasi dua orang menjadi relasi seseorang dengan dirinya sendiri. 

The Lovers, lukisan karya Rene Magritte, salah satu inspirasi T.O.P di STUDIO 54
The Lovers, lukisan karya Rene Magritte, salah satu inspirasi T.O.P di STUDIO 54

Di MV ini, T.O.P dikelilingi figur-figur yang seperti versi dirinya, entah itu bayangannya, atau cerminnya, tapi ia tetap tampak tidak bisa benar-benar menjangkau identitas utuhnya. Wajah tertutup di sini adalah simbol putusnya aksesnya terhadap diri sendiri.

Lalu kita lihat motif mata. Ada adegan mata palsu di dalam gelas minuman berisi cairan pink. Ada adegan tatapan yang berlebihan, agresif, teatrikal, antara Nana dan T.O.P, yang bisa kita artikan antara “T.O.P yang lama” dengan “T.O.P yang baru.”

MV STUDIO 54 - T.O.P
MV STUDIO 54 – T.O.P

Mata dalam MV ini jelas bukan properti random. Mata adalah lambang melihat, mengenali, menyadari. Ketika mata dipisahkan dari tubuh dan diletakkan ke dalam gelas, yang terjadi bukan sekadar image aneh, tapi kemampuan melihat sudah tercerabut dari subjeknya. 

Orang itu tidak lagi bisa “melihat” secara utuh. Ia memegang penglihatan seperti benda. Ia mengonsumsi atau dihadapkan pada penglihatan yang sudah dijadikan objek. Ini nyambung sekali dengan kehidupan idol K-pop yang dilihat terus-menerus, tapi tidak sungguh dipahami oleh orang-orang yang melihatnya. Idol K-pop yang menjadi objek visual, bukan manusia yang utuh.

Cairan pink di dalam gelas juga tidak sepele. Warnanya memang mencolok, tapi secara simbolik, cairan pink ini adalah minuman yang dikonsumsi bersama oleh T.O.P dan Nana. Dan karena mereka berdua meminum cairan yang sama di awal MV, gerak mereka pun saling mirip, saling menyerupai, mirroring.

MV STUDIO 54 - T.O.P
MV STUDIO 54 – T.O.P

Cairan pink itu bisa dibaca sebagai pengalaman bersama, racun bersama, atau dunia bersama. Ini bisa berarti dunia ketenaran, dunia kenikmatan, dunia ilusi, atau trauma yang sama-sama mereka telan. Warna pink sendiri menarik, karena dalam bagian lain kita juga melihat pita pink di lengan T.O.P pada akhir video musik. 

Selain karena pink adalah warna favorit T.O.P, pink di satu sisi identik dengan kelembutan, keintiman, bahkan innocence. Akan tetapi, dalam MV ini, pink dihadirkan untuk konteks yang tidak sehat. Jadi pink di sini seperti versi palsu dari kelembutan,  sesuatu yang manis di permukaan, tapi sudah tercampur keganjilan.

Nana adalah T.O.P

Sekarang kita masuk ke Nana. Menurutku pembacaan bahwa Nana adalah sisi lain T.O.P atau T.O.P versi lama itu sangat kuat. Bahkan mungkin itu salah satu pembacaan paling konsisten untuk seluruh MV. Alasannya karena MV STUDIO 54 ini berkali-kali memberi petunjuk bahwa Nana bukan diposisikan sebagai karakter terpisah yang punya cerita sendiri. 

Nana di MV STUDIO 54 T.O.P
Nana di MV STUDIO 54 T.O.P

Pilihan menjadikan refleksi itu dalam sosok perempuan juga penting. Dalam banyak karya seni, versi perempuan dari suatu identitas laki-laki sering dipakai bukan untuk romantisasi semata, tapi untuk mewakili sisi bawah sadar, sisi emosional, sisi yang tidak tampil di permukaan, atau sisi yang lebih instingtif. 

Ia dibangun sebagai refleksi dari T.O.P. Ketika ia melakukan gerakan yang sama dengan T.O.P, meminum cairan yang sama, memberi ekspresi yang sama, dan secara keseluruhan hadir seperti figur yang meniru sekaligus memantulkan T.O.P, MV sedang mengatakan bahwa keduanya berada dalam satu garis identitas. Mereka bukan dua tokoh yang bertemu secara biasa, melainkan dua versi dari satu subjek yang sama.

T.O.P dan Nana adalah satu jiwa di MV STUDIO 54
T.O.P dan Nana adalah satu jiwa di MV STUDIO 54

Nana di sini bukan sebagai love interest T.O.P, melainkan sebagai sisi T.O.P yang lain. Sisi T.O.P yang lebih liar, lebih ekspresif, lebih absurd, sebagaimana T.O.P ketika masih aktif bersama BIGBANG. Dia glamor, penuh pesona, atraktif, dan menjadi pusat perhatian. Jadi ketika Nana menatap T.O.P, itu seperti T.O.P sedang dihadapkan pada dirinya sendiri, tapi dalam bentuk yang dulu.

Scene ketika Nana menembak T.O.P lalu ternyata Nana juga berdarah adalah salah satu simbol paling jelas dalam MV STUDIO 54. Sejatinya kalau Nana menembak T.O.P, dia tidak mungkin terluka, dan tidak mungkin berdarah. Lalu, kenapa dia ikut berdarah?

Tapi karena Nana memang dibaca sebagai T.O.P versi lama, maka logika adegan itu menjadi sangat kuat. Membunuh dirimu yang lama tetap saja berarti melukai dirimu sendiri. Ini bukan kemenangan yang bersih. Ini bukan “aku mengalahkan masa lalu, lalu semua selesai.” Tidak. 

Bagi T.O.P, melepas identitasnya yang lama itu menyakitkan, karena identitas lama tetap bagian dari dirinya, termasuk melepas BIGBANG. Dalam pembacaan seperti ini, darah yang muncul di tubuh Nana bukan detail dramatis, tapi menyatakan bahwa luka itu bersifat timbal balik.

Diri lama dan diri baru tidak bisa dipisahkan dengan mudah. Mereka tetaplah senyawa. That’s why, T.O.P dalam bait liriknya bilang, I’m so sorry but I loved my twenties BIG-BANG, “SAY LESS.”

Scene menembak Nana di MV STUDIO 54 T.O.P
Scene menembak Nana di MV STUDIO 54 T.O.P

Lalu ada bando kelinci yang dipakai Nana. Detail ini juga sangat sengaja. Dalam kultur fandom VIP, simbol kelinci memang kerap diasosiasikan dengan T.O.P. Jadi ketika Nana memakai simbol itu, dia tetap berada di wilayah identitas T.O.P. Bando kelinci itu terang-terangan menunjukkan bahwa Nana sejak awal memang adalah T.O.P itu sendiri. MV ini tuh berkali-kali bilang ke penonton, “kalau kalian merasa mereka mirip, memang itu maksudnya. Mereka emang satu identitas.”

Sekarang soal pita pink di lengan kanan T.O.P dengan mata merah di akhir MV. Maknanya juga menarik. Pita itu kecil, halus, sementara mata merahnya terang dan agresif. Kombinasi tersebut menyatukan dua kondisi, bahwa ada luka atau kelembutan yang terikat rapat dalam diri T.O.P, tapi di matanya ada ledakan emosi yang tidak lagi bisa dia sembunyikan. 

Pita pink di lengan T.O.P di MV STUDIO 54
Pita pink di lengan T.O.P di MV STUDIO 54

Pita pink bisa dibaca sebagai sisa sisi lembut T.O.P yang masih bertahan, atau seperti balutan bagi luka emosionalnya. Tapi mata merahnya menjadi lapisan luar yang lebih keras, lebih terbuka, lebih siap menunjukkan bahwa ada “kemarahan” dan sesuatu yang berdarah dalam dirinya.

Referensi “Papillon”

Pada salah satu bagian liriknya, T.O.P menggunakan referensi “papillon.” Ini menarik karena “Papillon” adalah memoir atau kisah nyata dari Henri Charrière, seorang pria yang dituduh melakukan pembunuhan (padahal tidak bersalah) dan dijatuhi hukuman seumur hidup di koloni penjara brutal yang dijuluki ‘Devil’s Island’ di French Guiana, Prancis.

Di penjara itu, hidupnya benar-benar hancur. Dia ikut kerja paksa, disiksa, diisolasi bertahun-tahun, dan nyaris mati berkali-kali. Meski begitu, ada satu hal yang tak berubah dari dirinya, yaitu obsesinya untuk BEBAS.

Henri percaya bahwa dirinya bukan “tahanan.” Dia hanya “terjebak sementara” di sana. Meski percobaan kaburnya gagal berkali-kali, termasuk mempertaruhkan nyawa dengan lompat dari tebing ke laut, Henri tetap berusaha sampai akhirnya ia berhasil. Kisahnya ini kemudian dituliskan dalam sebuah novel klasik, bahkan difilmkan.

Papillon, salah satu referensi T.O.P di MV STUDIO 54
Papillon, salah satu referensi T.O.P di lagu STUDIO 54

Kebebasan tentu saja datang dengan harga mahal. Sama seperti T.O.P. Dia harus kena skandal dulu, harus menderita dulu, harus terisolasi dulu, harus mengalami cancel culture dulu, harus menjauh dari BIGBANG dulu, dan harus kehilangan banyak hal dulu, baru bisa bebas. 

Pas dia dalam liriknya bilang, 소리쳐 만세 빠삐용 같애 (Screaming freedom, feeling like Papillon), itu paralel dengan T.O.P yang harus melewati fase kehancuran sebelum akhirnya sampai pada titik refleksi dan usaha membebaskan diri dari versi lamanya.

Selanjutnya, T.O.P bilang, 해방을 선포 광대짓 접고 (Declaring my freedom, done playing the clown). Dia mendeklarasikan kebebasan dan berhenti jadi badut.

Nah, “badut” di sini bisa dibaca sebagai entertainer, orang yang terus tampil untuk orang lain meski dirinya sendiri compang-camping. Ketika dia bilang dia berhenti menjadi badut, artinya dia menolak kehidupan performatif yang sudah terlalu lama dia jalani.

Dirty Sun! Dirty Sun!

Lalu kita sampai ke bagian paling puitis sekaligus paling berani karena T.O.P menginterpretasikan, “Dirty Sun! Dirty Sun! They just ruined my soul / That’s where I got great new Moon inspiration.” 

Sempat heboh karena katanya di bagian ini T.O.P menyindir Burning Sun Scandal yang melibatkan mantan membernya. Tapi… menurutku enggak sama sekali. Hehehe. Ini hanya perbedaan PoV saja.

Menurutku, pembacaan paling kuat untuk lirik ini adalah karena “Sun” adalah pasangan dari “Moon.” Matahari dan bulan adalah dualitas antara dunia luar dan dunia dalam. Matahari adalah sorotan, pusat panggung, ketenaran, popularitas, keterlihatan. Tapi… dia “dirty” yang artinya dia tercemar, kotor, merusak. Ia merusak jiwa. 

Dalam konteks sejarah BIGBANG, ini juga terasa masuk akal. BIGBANG adalah salah satu grup K-pop legendaris yang membantu membentuk gambaran idol K-pop pria generasi sekarang ini. Grup ini menjadi “manual book” bagi grup K-pop yang lebih eksperimental, lebih berani, lebih modis, template generasi awal yang lebih rapi.

Mereka besar bukan cuma karena musik, tapi karena auranya. Dan T.O.P adalah bagian sentral dari aura itu. Suara beratnya, gaya visualnya, karakternya yang dingin tapi aneh, semuanya membuat dia seperti idola yang berbeda, di luar kerangka idol biasa. Itulah sisi mataharinya.

Di sisi lain, bulan akan selalu menjadi kebalikannya. Bulan itu gelap, sepi, reflektif. Bulan identik dengan malam, ruang seni, ruang kontemplasi. Ketika T.O.P bilang jiwanya dirusak oleh Dirty Sun, tapi dari situ dia mendapat inspirasi baru dari Moon.

Sebenarnya, dia pengen bilang, boleh saja sorotan publik dan media menghancurkannya. Akan tetapi, dari kehancuran itu lahir sisi artistiknya baru. Bukti nyatanya ya album ANOTHER DIMENSION ini.

Sensasi "loop" di STUDIO 54 T.O.P
Sensasi “loop” di STUDIO 54 T.O.P

Satu lagi yang menurutku penting. MV STUDIO 54 ini kayak sengaja membangun “loop.” Kita yang menontonnya seperti tidak diberi narasi lurus dari awal sampai akhir. Sebaliknya, yang kita dapat adalah fragmen-fragmen seperti mengulang tema sama dalam bentuk berbeda. 

T.O.P bertemu Nana, bayangan yang memantulkan dirinya. Mata bertemu mata. Gerakan bertemu gerakan. Mereka bahkan memakai kostum yang sama. Kenapa dibuat seperti itu? Karena trauma dan krisis identitas memang sering terasa seperti “loop.” Orang tidak “selesai” dalam satu adegan. Ia terjebak memutar kembali bentuk-bentuk yang sama. Jadi struktur MV seperti ini cocok sekali dengan tema isinya.

Finally, setelah sepanjang ini aku cuap-cuap, kalau semua ini kita satukan, maka STUDIO 54 T.O.P bisa dibaca sebagai karya tentang lima hal sekaligus. Pertama, popularitas adalah ruang yang memabukkan tapi merusak. Kedua, siapa saja bisa mengalami krisis identitas setelah hidup terlalu lama sebagai publik figur. Ini juga dialami G-Dragon dan dia mengakuinya.

Ketiga, tentang rasa bersalah dan kesadaran bahwa ketika kita melukai diri sendiri, bisa jadi kita juga melukai orang lain. Keempat, usaha memutus diri dari masa lalu, yang ternyata tetap menyakitkan, sebab masa lalu itu selamanya akan menjadi bagian yang melekat pada diri kita. Kelima, seni (art) bisa menjadi media atau ruang baru setelah runtuhnya versi diri yang lama.

T.O.P mungkin belum sepenuhnya bebas, tapi setidaknya dia sudah berhenti berpura-pura. Dia kelihatan banget sudah berkomitmen sama keputusannya untuk benar-benar tidak terikat lagi dengan BIGBANG. Jujur, tiap bahas ini aku selalu nangis… but I let him go, for the best.

Meski aku sudah nge-bias dia sejak 2007, sebagai penggemar aku sadar, aku tidak akan pernah benar-benar kenal T.O.P as a person. Aku nggak tahu seberapa gila hidupnya dulu, seberapa bising dunia yang dia jalani dulu, seberapa banyak yang ternyata palsu, mana saja yang asli, atau seberapa jauh dia sekarang dari dirinya yang dulu. And maybe that’s the hardest part to accept as a fan, realizing that the version of him we loved was never the full story.

Dan lewat STUDIO 54 ini, T.O.P seperti lagi jujur ke kita semua, bahwa di balik semua gemerlap itu, selalu ada harga yang harus dibayar setelah pesta selesai. Freedom doesn’t come easy, and it never comes without loss.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment