Setiap kali berkunjung ke Bali Timur, aku selalu bisa merasakan slow living sebenarnya. Waktu benar-benar berjalan lebih pelan di sana. Ya anggap saja mendadak jarum jam kami rusak sehingga tubuh dan kepala dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme alamnya Salah satu spot yang menarik perhatian kami adalah Gili Selang Lighthouse atau Menara Suar Gili Selang.
Angin di Karangasem lebih kering, mataharinya terasa lebih dekat, lautnya lebih luas, dan kami sebagai manusia, entah kenapa, lebih tenang di sana. Liburan akhir tahun kemarin, kami memutuskan staycation di Karangasem selama empat hari. Sebenarnya tidak ada agenda yang terlalu ambisius meski sejak berangkat dari Jakarta kami sudah menyusun itinerary.
Karangasem, Bali bikin kami tidak berpacu dari satu tempat ke tempat lain. Kami hanya ingin berada di sana, menikmati suasananya. Dan Karangasem adalah tempat yang sangat tahu caranya menerima orang-orang yang ingin melambat.
Salah satu hari kami sengaja kosongkan tanpa target wisata tertentu. Paginya, setelah sarapan, kami buka peta. Lalu muncul ide touring keliling pesisir Karangasem, satu putaran penuh.
Kami naik mobil dari Kura-Kura Hotel di Candidasa menyusuri jalanan yang memeluk laut. Pantai demi pantai kami lewati. Amed, Labuhan Amuk, Jemeluk. Anak-anakku duduk di kursi belakang semringah sekali, sambil sesekali menunjuk laut, sesekali bertanya, “Itu pulau apa, Bun?” atau “Kenapa lautnya ada yang biru dan ada yang hijau, Bun?”
Setelah beberapa lama, kami berpapasan dengan satu bangunan yang langsung mencuri perhatian itu, Gili Selang Lighthouse.
Pertemuan Pertama dengan Gili Selang Lighthouse
Dari kejauhan, Gili Selang Lighthouse ini tampak seperti garis putih tegak di antara birunya laut dan langit Karangasem. Bangunan itu berdiri saja, sepertinya tidak butuh perhatian siapapun, sepi tanpa pengunjung. Tidak ada papan besar bertuliskan spot foto.
Gili Selang Lighthouse berdiri anggun di tepi laut lepas, tepat di Banjar Dinas Gili Selang, Desa Seraya Timur, Kabupaten Karangasem. Lokasinya benar-benar di ujung timur Bali, menghadap langsung ke perairan luas yang menghubungkan Bali dengan gugusan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara.
Kami sempat berhenti beberapa kali. Ingin mendekat ke menara tapi tidak bisa. Akhirnya kami menikmati pemandangan di sekitarnya yang terlalu sayang kalau dilewatkan begitu saja.
Menjelang menara suar itu, kami sudah melewati Pantai Amed dengan lautnya yang tenang. Lanjut Pantai Labuhan Amuk dengan karakter pesisir industrinya. Kemudian, ada Pantai Jemeluk dengan gradasi biru perairannya yang nyaris tak masuk akal. Barulah kemudian sampai Gili Selang.
Ternyata, Gili Selang Lighthouse adalah properti negara, berada di bawah pengelolaan Distrik Navigasi Kelas II Benoa. Artinya, tidak terbuka untuk umum.
Pengunjung mana pun tidak bisa naik, tidak bisa masuk, dan tidak bisa berfoto di dalam. Bagaimana pun, Gili Selang Lighthouse ini bukan atraksi wisata. Ia punya fungsi vital, penanda navigasi laut, penunjuk arah bagi kapal-kapal yang melintas di perairan timur Bali.
Menara ini berdiri setinggi kurang lebih 45 meter, dicat putih bersih, dengan struktur kokoh yang jelas dirancang untuk bertahan menghadapi angin laut, panas matahari, dan waktu. Dari kejauhan, ia tampak sederhana. Dari dekat, sejauh yang bisa kulihat, ia memancarkan pesonanya yang tak mungkin dijamah.

Arsitektur Fungsional yang Apa Adanya
Gili Selang Lighthouse memiliki tiga lantai utama. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang kontrol, yaitu ruang komunikasi, peralatan, dan operasional mesin lampu suar.
Lantai kedua digunakan sebagai tempat tinggal sementara petugas jaga, terdapat lima kamar untuk lima orang. Terakhir, lantai ketiga adalah pelataran terbuka yang terhubung langsung ke menara.
Di atasnya, menjulang struktur menara dengan enam tingkat, ditandai oleh enam jendela kecil. Di pucuk menara terdapat empat bohlam besar yang menjadi sumber cahaya suar, serta alat komunikasi berbentuk seperti drum, penampung dan penguat sinyal.
Alat ini menghubungkan mercusuar Gili Selang dengan mercusuar lain, seperti Gili Trawangan dan Nusa Penida, lalu diteruskan ke pusat kendali di Benoa. Sistemnya ini bekerja tanpa henti.

Lampu mercusuar ini sudah beroperasi sejak 1991. Setiap hari, ia menyala dari pukul 18.20 WITA hingga 06.20 WITA. Siang hari, lampu tetap berputar, tetapi cahayanya tidak terlihat karena fungsinya memang untuk malam.
Mercusuar ini dijaga oleh tiga petugas setiap hari, satu teknisi dan dua petugas pendukung. Jika dibutuhkan, petugas tambahan dari Benoa bisa dikerahkan. Mereka bekerja dalam sistem shift, memastikan lampu suar tetap berfungsi, komunikasi berjalan, dan struktur aman.
Menurut salah satu petugas, dari keterangan yang kubaca di salah satu media online, area mercusuar tidak boleh dibuka untuk wisata karena faktor keamanan. Angin di puncak sangat kencang. Struktur menara tidak dirancang untuk lalu-lalang wisatawan. Ini bukan tempat selfie, ini tempat kerja.
Pantaslah ya. Di era di mana hampir semua tempat berlomba menjadi instagrammable, Gili Selang Lighthouse memilih tetap menjadi dirinya sendiri, fungsional dan setia pada perannya.

Menikmati Tanpa Memiliki
FYI untuk kamu yang berencana ke sini, you can’t go inside the lighthouse. Ya… nggak apa-apa. Justru keindahan Gili Selang Lighthouse bisa dinikmati dari kejauhan. Ada beberapa jalan kecil menuju pura di sekitar area ini. Dari sana, kamu bisa melihat menara berdiri megah dengan latar laut lepas.
Pemandangannya luar biasa, terutama saat pagi atau sore hari. Cahaya matahari jatuh miring ke tubuh menara, kalau beruntung kamu bisa melihat kontras putih dan biru yang dramatis. Laut di bawahnya berkilau, kadang tenang, kadang berombak.
Anak-anakku duduk menghadap ke sekitar pantai. Harus berhati-hati karena tidak ada pagar tinggi di sana, sementara bawahnya langsung ke tebing laut.
Fungsi Mercusuar di Tepi Pantai
Kalau kita berdiri dekat mercusuar, kayak Gili Selang Lighthouse, terus melihatnya menjulang sendirian di tepi laut, pasti yang terlintas di kepala, “Keren ya buat foto.” Padahal, mercusuar itu bekerja sejak sebelum kita datang di sana, dan tetap bekerja setelah kita pulang.
Mercusuar bukan bangunan romantis tanpa fungsi. Ia adalah infrastruktur keselamatan. Nah, biar kamu makin tahu informasinya, aku bakal menuliskan satu per satu fungsi mercusuar di tepi pantai.
1. Penunjuk Arah Dasar bagi Kapal di Laut
Fungsi paling klasik, tapi paling penting dari mercusuar adalah titik orientasi visual. Saat malam hari atau cuaca buruk, nakhoda butuh sesuatu yang bisa dilihat dari jauh untuk tahu mereka ada di mana, daratan di arah mana, kapal sudah terlalu dekat dengan tujuan atau belum.
Cahaya mercusuar memberi jawaban itu. Bahkan di era GPS saat ini, pelaut tetap menjadikan mercusuar sebagai referensi cadangan. Karena teknologi bisa error, tapi cahaya di kejauhan itu nyata.
2. Penanda Wilayah Berbahaya
Mercusuar jarang dibangun di lokasi yang aman-aman saja. Biasanya ia berdiri di dekat karang, tanjung curam, perairan dangkal, dan jalur arus kuat. Gili Selang Lighthouse misalnya, berdiri di daerah dengan tanjung curam dan berkarang.
Ibaratnya, mercusuar ini seperti papan peringatan besar yang memperingatkan kapten kapal supaya berhati-hati dan jangan asal mendekat.
Di wilayah seperti Gili Selang, lautnya cantik tapi tidak selalu bersahabat. Arus bisa berubah cepat. Karang bisa muncul tiba-tiba. Dan Gili Selang Lighthouse adalah penjaga yang selalu siaga.

3. Identitas Lokasi lewat Pola Cahaya
Ini bagian yang jarang diketahui orang awam. Setiap mercusuar punya pola cahaya unik. Ada yang berkedip cepat, berkedip lambat, berputar, atau kombinasi tertentu. Pola ini tercatat resmi di peta navigasi laut. Jadi pelaut tidak asal menebak.
Bagi mereka, melihat cahaya mercusuar itu seperti membaca nama. Oh, ini Gili Selang. Oh, ini Nusa Penida. Begitulah kira-kira ya.
4. Sistem Navigasi yang Tetap Relevan di Era Modern
Banyak orang berpikir mercusuar itu teknologi lama. Padahal, justru di era modern sekarang ini, mercusuar menjadi lapisan keamanan tambahan. Ia bukan saingan GPS, tapi pendamping.
Sewaktu sinyal hilang, alat rusak, cuaca ekstrem, kapal kecil tanpa teknologi canggih sangat membutuhkan ini. Mercusuar tetap menyala. Dia selalu ada dan konsisten.
As we know, dalam dunia keselamatan, redundansi itu penting. Dan mercusuar adalah bagian dari sistem itu.
5. Penjaga Jalur Pelayaran Lokal
Bukan cuma kapal besar yang butuh mercusuar. Nelayan lokal, kapal kecil, perahu antar-pulau, mereka sering kali lebih bergantung pada penanda visual daripada teknologi mahal.
Buat nelayan yang pulang dini hari, cahaya mercusuar itu memberi rasa aman mereka. Secara psikologis mereka lebih nyaman aja.
6. Simpul Komunikasi Navigasi Laut
Mercusuar modern di dalamnya ada sistem komunikasi, alat pemantau, jaringan koordinasi antar-mercusuar. Seperti di Gili Selang Lighthouse, komunikasi bisa diteruskan ke Nusa Penida, Gili Trawangan, sampai kantor Distrik Navigasi Benoa. Artinya, mercusuar itu bagian dari jaringan besar keselamatan laut.
7. Alat Navigasi Tanpa Bergantung Internet
Ini penting banget, terutama di wilayah terpencil. FYI, sinyal ponsel di Gili Selang itu bapuk banget. Saat berada di sana, ponselku cuma ada 2-3 bar saja, itu pun EDGE, bukan 4G apalagi 5G.
Mercusuar tidak butuh internet, tidak butuh aplikasi, tidak butuh update software. Selama listrik ada, atau sistem cadangan berjalan, ia tetap berfungsi.
Di daerah 3T atau wilayah laut terbuka, ini keunggulan besar. Karena keselamatan tidak boleh bergantung pada sinyal.
8. Penanda Batas Alam antara Laut dan Darat
Secara simbolik, mercusuar adalah perbatasan sunyi. Ia berdiri di titik transisi antara laut dan darat, antara bahaya dan perlindungan, antara perjalanan dan tujuan.
Itulah kenapa mercusuar sering terasa lebih emosional meski kita tidak tahu alasannya. Ia berdiri di tempat yang tidak nyaman, tapi penting.
9. Referensi Visual saat Cuaca Ekstrem
Kabut, hujan deras, malam tanpa bulan, semua itu bikin laut jadi serba tak pasti. Dalam kondisi seperti itu, mercusuar membantu pelaut menjaga jarak aman, menghindari arah salah, membuat pelaut tetap tenang.
Secara psikologis, kalau kita berada di tengah laut, melihat satu titik cahaya saja sudah cukup untuk mencegah kepanikan. Ya nggak?
Sepenting itulah mercusuar. Dan mungkin, itu alasan kenapa mercusuar seperti Gili Selang Lighthouse tidak dibuka untuk wisata. Karena ia bukan objek hiburan, melainkan alat keselamatan negara.
Kita boleh menikmatinya dari kejauhan, mengaguminya dari luar pagar, dan menghormati fungsinya dengan tidak memaksakan diri masuk.**

Leave a Comment