Truk protes untuk G-Dragon dari fans Korea? Konyol! (Foto: CNA)
Truk protes untuk G-Dragon dari fans Korea? Konyol! (Foto: CNA)

Sudah hampir 20 tahun VIP ada sebagai salah satu fandom tertua di industri K-pop. Dari 2006, dari masa lagu BIGBANG masih diunduh satu-satu, dari zaman forum online dan mailing list, dari era lightstick pertama, dari masa orang masih meremehkan BIGBANG sebagai idol hip-hop yang aneh.

Aku tumbuh bareng mereka. Aku dewasa bareng mereka. Dan nggak kalah penting, aku menyaksikan sendiri bagaimana G-Dragon (Kwon Jiyong) bertransformasi dari leader muda penuh tekanan menjadi ikon global yang menjadi “manual book” bagi idol-idol setelahnya.

Sekarang tiba-tiba muncul sekelompok orang yang mengatasnamakan “fans G-Dragon (FAM) berbasis Korea” dan berencana melancarkan truk protes ke agensi, ya… aku ngerasa aneh. Sangat aneh.

Wacana truk protes dari fanbase Korea untuk agensi G-Dragon
Wacana truk protes dari fanbase Korea untuk agensi G-Dragon

Aku nggak bilang fans nggak boleh punya opini ya. Aku juga bukan penggemar yang menganut paham “agensi selalu benar.” Tapi karena cara dan urgensinya yang lagi ramai sekarang di medsos ini terasa tidak masuk akal.

Sudah hampir 20 tahun fandom ini berdiri. VIP dikenal sebagai fandom yang solid, kreatif, loyal, dan yang paling penting, fokus pada karya. Kami merayakan musik BIGBANG.

Kami menikmati proses BIGBANG. Kami mengkritik BIGBANG (as group or solo) dengan elegan jika perlu, tapi tidak pernah berubah jadi police fashion yang mengatur gaya rambut, stylist, atau keputusan personal member yang sebenarnya bukan wilayah kami.

Serius deh, aku mau nanya sama mereka yang support truk protes tersebut, sejak kapan cinta kita ke BIGBANG/ member berubah jadi kontrol?

BIGBANG dan Budaya Fandom yang Berbeda

VIP itu beda dan dari awal kita emang beda. BIGBANG bukan grup yang lahir dari konsep sempurna secara visual. Mereka lahir dari kompetisi keras, dari latihan brutal, dari kritik publik. Mereka membangun karier lewat eksperimen, bukan lewat formula aman seperti kebanyakan idol sekarang. 

G-Dragon adalah jantung dari semua itu. Jiyong nggak pernah jadi artis yang rapi sesuai ekspektasi. Rambutnya pernah setengah botak, pernah neon, pernah merah darah. Outfit-nya pernah dibilang terlalu aneh, terlalu nyentrik, terlalu feminin, terlalu maskulin, pokoknya “terlalu” apa pun. Tapi ya… di situlah identitasnya.

Kita sebagai VIP tahu satu pakem dari dulu, bahwa G-Dragon nggak pernah ingin jadi versi yang nyaman untuk semua orang. Dia ingin jadi dirinya sendiri. Dan kita mencintai itu.

So, ketika ada orang-orang yang merasa perlu memprotes stylist GD, mempersoalkan rambut GD, atau mengatur tampilan GD, aku mau nanya lagi deh, kalian tuh nge-fans G-Dragon yang mana?

Yang liar? Atau yang kalian mau kendalikan?

Sejarah Truk Protes di Korea

Truk protes di industri K-Pop bukan hal baru. Aku gak terlalu ngikutin K-pop sejak BIGBANG hiatus, tapi pas aku coba menyelaminya, mungkin baru terlihat menjelang awal 2020-an sebagai bagian dari cara penggemar menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap keputusan agensi atau perlakuan terhadap idolanya.

Kalau soal “siapa idol pertama yang menerimanya,” aku nggak punya catatan pasti atau yang bisa aku konfirmasi secara historis. Tapi… dari beberapa pembahasan yang aku baca di Fanlore dan Reddit, tren ini pernah muncul sekitar 2019, dikaitkan dengan Blink, fandomnya BlackPink. 

Sejak itu, tren ini makin banyak dilakukan berbagai fandom di Korea, seperti Reveluv, EXO-L, Engene, Midzy, hingga fans internasional dari China dan Amerika Latin. Ini bertepatan juga dengan pandemi COVID-19, sehingga protest truck dianggap medium paling aman karena tidak memerlukan izin aksi fisik di jalanan.

Apa yang dipermasalahkan fans yang mengirim protest truck ini?

Biasanya menyangkut isu kontrak, perlakuan tidak adil, promosi yang buruk, penghapusan member, meminta comeback, skandal, bahkan mendesak tindakan hukum atas rumor idol mereka.

Caranya, mereka menyewa truk LED untuk menyampaikan tuntutan atau kekecewaan mereka kepada agensi idolnya, dalam hal GD, artinya Galaxy Corp. Mereka akan berkeliling ke kantor/ gedung agensi dalam jangka waktu tertentu.

Beberapa fans percata bahwa dengan mengirim truk protes ini, efektif untuk membuat manajemen malu dna memaksa atasan mereka sadar akan isu tertentu. Bahkan, ada insider agensi yang mengakui bahwa kehadiran truk protes ini bisa memicu pertanyaan di level eksekutif perusahaan.

Nggak sedikit juga yang menganggap, mengirim truk protes ini lebay. Ada yang berpendapat bahwa boikot merchandise jauh lebih berdampak. Ada pula yang merasa malu membayangkan idol mereka datang bekerja sama, sementara di luar ada truk LED besar memprotes sesuai atas nama mereka.

Sekarang kita balik lagi ke GD, rencana fans jadi-jadian atau fans hantu ini mengirim truk protes ke Galaxy Corp hari ini, 24 Februari 2026. Bahkan mereka berencana untuk melancarkan serangan cyber lewat media sosial. Serius deh, sejak kapan VIP memprotes hal-hal superfisial seperti styling? Rambut? Konsep visual BIGBANG/ member?

Menurut aku sih ya, ini bukan advokasi, tapi obsesi. Kalian yang mengaku FAM Korea itu, kalian SAKIT!

Apa semua isu memang pantas diangkat dengan neon sign raksasa di depan kantor agensi? CHILDISH banget kalian.

Mentalitas “Fans Paling Benar”

Ada pergeseran mentalitas dalam sebagian fandom K-pop zaman sekarang, menurut kacamataku, bahwa mereka merasa punya “saham” atas idol.

Merasa karena membeli album, streaming lagu, atau trending tagar, maka punya hak menentukan arah hidup idol. Padahal hubungan fans dan idol itu bukan hubungan kepemilikan. Itu hubungan apresiasi.

G-Dragon bukan proyek kelompok WhatsApp atau Telegram ya say. Dia seniman. Dan seniman yang bereksperimen. Dia seniman berubah-ubah.

Nah, yang namanya seniman, itu nggak selalu tampil sesuai ekspektasi publik. Kalau setiap keputusan kreatif harus melalui voting fandom, apa bedanya dia dengan brand produk FMCG?

Sebagai VIP lama, aku bisa bilang dengan penuh percaya diri, bahwa fandom ini sudah melewati masa jauh lebih berat dari sekadar urusan stylist. Kita sudah melewati hiatus panjang, melewati wajib militer, melewati kontroversi para member.

Kita melewati fase di mana orang-orang menganggap BIGBANG sudah SELESAI, tapi ternyata lihatlah, mereka akan comeback 2026 ini.

Selama itu pula, kita nggak pernah mengirim truk untuk memprotes potongan rambut GD, Taeyang, atau siapa pun. Karena yang kita pedulikan adalah musiknya, kesehatannya, kebahagiaannya.

Kalau GD bisa comeback dengan bahagia, bisa jadi diri sendiri, bisa berkarya tanpa tekanan, dan ya… bisa menghasilkan banyak uang dari karyanya sendiri, itu sudah lebih dari cukup. Kenapa kita tiba-tiba jadi ribut soal styling?

VIP dan Kedewasaan Emosional

Aku jujur aja ya, perdebatan soal stylist dan rambut ini buat aku sangat dangkal. G-Dragon adalah orang yang sepanjang kariernya menjadikan fashion sebagai medium ekspresi.

Dia bukan korban styling dan nggak sekali pun dia jadi boneka agensi, malah agensi dia yang lama itu, bisa sebesar sekarang ya salah satunya karena G-Dragon dan BIGBANG. 

Cuyyy… dia salah satu figur paling berpengaruh di fashion Korea. Kalau rambutnya berubah, kemungkinan besar itu keputusan yang dia setujui. Bahkan mungkin dia yang inisiasi sendiri.

Menganggap GD nggak punya kontrol atas tampilannya sendiri itu justru meremehkan dia sebagai seniman dewasa. Kalian jahat banget sih?

Fans hantu yang mengirim truk protes ini, tampaknya merasa lebih tahu apa yang terbaik untuk GD daripada GD sendiri. Hey… itu bukan cinta, itu ego.

Mungkin ini terdengar sombong, tapi ada satu hal yang membedakan VIP generasi lama dan sebagian fans baru, yaitu kedewasaan emosional.

Kita tumbuh bersama BIGBANG. Kita nggak lagi remaja yang melihat idol sebagai pusat dunia. Kita punya pekerjaan, keluarga, tanggung jawab. Kita menikmati musik sebagai bagian dari hidup, bukan sebagai pelarian total.

Cinta kita pada BIGBANG bukan histeris. Kita mencintai mereka dengan tenang, stabil, dan konsisten. Kita nggak butuh validasi lewat aksi ekstrem untuk menunjukkan loyalitas.

Kita tahu tahu kapan harus bersuara dan kita tahu kapan harus diam dan percaya. Kalau kalian mengaku VIP atau FAM, membaca ini dan merasa tidak seperti itu, berarti kalian bukan bagian dari kami.

Fandom yang Berisik vs Fandom yang Kuat

Di era media sosial, yang paling keras sering terlihat paling peduli. Padahal belum tentu ya. 

Kirim truk protes memang dramatis. Udahlah viral, kelihatan militan, tapi apakah itu benar-benar membantu? Atau justru mempermalukan idol yang kalian klaim kalian lindungi?

Bayangkan jadi G-Dragon, yang sudah berkarya sebagai idol hampir dua dekade, lalu melihat fans-nya ribut soal rambut dan stylist. Itu bukan dukungan cuy, kalian cuma nambahin masalah doang buat Jiyong.

Yang Jiyong butuhkan sekarang, bukan pembela yang teriak paling keras buat dia, tapi fans yang berdiri tenang di belakangnya.

Aku paham kenapa banyak real VIP dan FAM memilih untuk “counter attack” dengan cara memposting hal-hal positif tentang G-Dragon. Itu jauh lebih masuk akal.

Counter attack dari fans internasional untuk G-Dragon
Counter attack dari fans internasional untuk G-Dragon

Kita nggak mau perang sama mereka, tapi untuk menyeimbangkan narasi. Daripada membalas drama dengan drama, lebih baik membanjiri timeline dengan karya, pencapaian, musik, inspirasi. Itu lebih elegan dan lebih dewasa. Itu juga lebih sesuai dengan nilai yang selama ini kita pegang.

Kalau mau menunjukkan cinta, lakukan dengan cara yang tidak “mempermalukan” orang yang kamu cintai. Aku harap sih, adek-adek fans baru juga baca ini.

Aku sudah melihat banyak fase fandom datang dan pergi. Yang heboh biasanya cepat redup. Yang tenang biasanya bertahan. Kayak kita nih, VIP. Kalian bisa nggak kayak kita? Hehehe. Aku doakan semoga apapun fandom kalian, tetap solid dan kuat, bisa melewati 20 tahun, 30 tahun, bahkan setengah abad.

VIP bertahan hampir 20 tahun bukan karena kita paling ribut, tapi karena kita paling konsisten. Kita nggak pernah pamer streaming. Beli album juga sekenanya, bukan buat perang angka penjualan. Realistis aja, gitu loh. 

Kita datang ke konser bukan untuk membuktikan sesuatu ke fandom lain. Kita datang karena kita menikmati musiknya. Sesederhana itu.

Biarkan G-Dragon menjadi G-Dragon. Dia bukan trainee lagi, bukan rookie lagi, bukan idol 18 tahun yang harus dibentuk untuk memenuhi ekspektasi publik. GD sekarang adalah pria dewasa, dengan pengalaman, trauma, kemenangan, kegagalan, dan identitas kuat.

Kalau kita benar-benar menghormatinya, maka kita harus menghormati pilihannya, termasuk pilihan soal styling, konsep, bahkan diamnya. Cinta yang dewasa tidak menuntut untuk selalu didengar. Cukup percaya GD. Trust him!

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment