Buat aku, makan enak adalah bagian dari traveling, bukan sekadar mengisi jeda di antara agenda. Dan walaupun nasi tempong adalah kuliner khas Banyuwangi, entah kenapa kalau lagi ke Bali, khususnya area Kuta dan sekitarnya, rasanya aku kurang afdal kalau belum mampir ke Warung Tempong Pink.
Bukan cuma karena rasanya yang khas, Warung Tempong Pink ini sudah seperti ritual wajib wisatawan domestik di Bali. Apalagi buat yang suka pedas, sambal “monyor-monyor” dan makanan rumahan. Pas banget mampir ke sini.
Sekitar jam 13.00 WITA, Desember 2025, kami sekeluarga baru selesai belanja oleh-oleh di Krisna Tuban. Perut sudah mulai kasih kode, anak-anak juga mulai rewel tipis-tipis, keputusan makan siang harus cepat dilakukan.
Tanpa diskusi panjang, tujuan kami langsung ke Warung Tempong Pink Bali di Jalan Raya Kuta.
Kalau kamu sudah akrab dengan Kuta dan sekitarnya pas jam makan siang, kamu pasti hafal suasananya seperti apa. Ramai, padat, penuh kendaraan, dan agak chaotic sih menurutku.
Jam segitu memang jam rawan. Wisatawan keluar masuk hotel, rombongan wisatawan makan siang, belum lagi pengendara lokal, taksi online, dan bus-bus pariwisata kecil.
Kami parkir tidak tepat di depan warung, karena memang area parkir Warung Tempong Pink Kuta ini terbatas. Banyak kendaraan akhirnya parkir agak jauh atau on the street. Tarif parkir sekitar Rp10.000, dan ini diatur oleh tukang parkir resmi dari banjar adat Kuta, jadi aman dan tertib.
Dari tempat parkir, kami jalan kaki sebentar. Dari kejauhan, warna pink mencolok khas warung ini sudah kelihatan. Jujur ya, sulit banget nggak notice tempat ini.
Pink di Mana-Mana, tapi Nggak Norak
Begitu sampai di Warung Tempong Pink Bali, satu hal langsung kerasa, yaitu suasana serba pink tempat makan ini. Warungnya ramai banget, tapi terorganisir.
Nuansa pink warung ini memang dominan, mulai dari dindingnya, spanduknya, logonya, meja, dan identitas visual lainnya. Tapi anehnya, nggak kerasa norak sama sekali. Justru jadi ikonik. Kamu bakal langsung tahu, “Oh, ini toh Tempong Pink itu?”
Pas kami berada di dalamnya, Warung Tempong Pink sudah penuh pengunjung. Ada keluarga, rombongan teman, pasangan, sampai wisatawan yang kelihatannya baru landing dari bandara. Suasananya agak bising, tapi ya khas Bali.


Menu dan Tata Cara Pesan di Warung Tempong Pink
Ini penting banget buat kamu yang baru pertama kali datang, karena sistemnya bukan langsung duduk lalu pesan ke pelayan. Alurnya kurang lebih begini:
- Datang dan mengantre di area kasir
- Sampai kasir, kamu akan diberi kertas dan pulpen
- Di kertas itu sudah ada daftar menu
- Centang/ tulis menu yang kamu mau
- Setelah selesai, langsung bayar di kasir
- Kamu akan diberi nomor meja
- Cara meja kosong, duduk, dan tinggal menunggu
- Pelayan akan datang mengantarkan pesanan ke meja

Aku pribadi suka warung yang tahu dirinya mau jual apa. Dan Tempong Pink ini jelas punya identitas. Menu utamanya ya nasi tempong, dengan variasi lauk yang masih satu keluarga, seperti:
- Nasi tempong ayam goreng
- Nasi tempong ayam bakar
- Nasi tempong bebek peking
- Nasi tempong lele goreng
- Nasi tempong ikan laut
- Nasi tempong telor dadar
- Nasi tempong telor mata sapi
- Nasi tempong kepala ayam
- Nasi tempong vegetarian

Menunya nggak neko-neko. Semua berbasis ayam, ikan, atau lauk sederhana. Tidak ada menu aneh-aneh yang bikin bingung. Hari itu, aku memilih paket nasi tempong ayam bakar. Aku pengen aja makan ayam yang lebih juicy. Dan, ayam bakar biasanya lebih aman buat semua umur. Anak-anakku juga suka banget.
Kalau makan pedas, minuman itu penting. Di Tempong Pink, pilihan minumannya cukup lengkap, mulai dari es teh manis, es jeruk, es cincau, aneka jus buah, dan air mineral. Tapi satu yang wajib banget dicoba adalah soda gembira warna pink.
Soda gembira pink di Tempong Pink ini terbuat dari apa sih?
Jawabannya sirup merah/ pink, susu kental manis, es batu, dan minuman soda bening, biasanya soda tawar atau soda gembira klasik.
Yang bikin beda di Tempong Pink adalah sirupnya. Warna pink-nya lebih soft. Rasanya manis, segar, dan ketika dicampur susu plus soda, hasilnya creamy dan manis.
Minuman ini cocok banget buat menetralisir pedas sambal, disukai anak-anak, juga kamu yang ingin nostalgia minuman jadul.

Setelah duduk, kami mulai menunggu. Jujur aja, menunggunya cukup lama.
Hanya saja, ini bukan hal mengejutkan. Makan di Tempong Pink memang harus siap mental karema ramai, antre, dan menunggu.
Begitu pesanan datang, aromanya langsung naik ke hidung. Satu piring nasi tempong biasanya berisi:
- Nasi putih
- Ayam bakar
- Tahu goreng
- Tempe goreng
- Lalapan (timun, kemangi, kol)
- Ikan asin
- Dan tentu saja… SAMBAL TEMPONG.

Nasi putih hangat dipadatkan rapi. Raanya pulen. Ayam bakarnya dibakar sampai bumbu benar-benar meresap, dikaramelisasi yang pas. Manis dan gurihnya sudah terasa bahkan sebelum dicicip.
Ada tahu goreng dan tempe goreng sebagai pelengkap. Ada juga ikan asin goreng yang menambah rasa umami di antara pedas dan gurih.
Tak lupa, lalapan rebus yang jadi ciri khas nasi tempong. Ada bayam rebus, labu siam, dan irisan mentimun segar. Lalapan ini tampil polos, tanpa bumbu. Fungsinya menyegarkan mulut, menurunkan “panas” dari sambal.
Sambal tempong jadi bintang utama. Warnanya merah segar, teksturnya agak kasar, dan aromanya… pedas.
Aku sengaja nyobain sambalnya sedikit dulu. Dan ya… langsung monyor-monyor.
Pedasnya pedas segar. Ada rasa cabai merah mentah, tomat, sedikit asam, gurih, dan bikin nagih.
Ayam bakarnya empuk, bumbunya meresap, dan nggak kering. Dipadu sambal tempong, rasanya naik level.
Yang aku suka, sambalnya konsisten. Ini penting. Banyak tempat terkenal tapi sambalnya berubah-ubah. Di Tempong Pink, sambalnya punya karakter kuat dan stabil.
Anak-anak makan lauk tanpa sambal, dan mereka tetap suka. Itu pertanda lauknya nggak cuma numpang sambal.
Siapa Pemilik Warung Tempong Pink Bali?
Pemilik Warung Tempong Pink Monyor-Monyor adalah Yuricky Angelo. Kuliner ini berasal dari Banyuwangi, dan sudah hadir di Bali sejak sekitar tahun 2013. Resep sambalnya adalah warisan keluarga, yang dikembangkan secara turun-temurun.
Saat ini, Warung Tempong Pink punya tiga cabang, yaitu di Jalan Teuku Umar, Denpasar; Jalan Hayam Wuruk, Denpasar; Jalan Raya Kuta, Badung.
Harga menu-menu di sini tergolong ramah kantong, mulai dari sekitar Rp10.000 hingga Rp60.000, tergantung lauk. Jam buka cabang Jalan Raya Kuta sekitar pukul 10.00 – 22.00 WITA
Tempat ini sangat layak dikunjungi karena dia tahu apa yang ditawarkan. Kalau kamu sempat mampir lah ke sini, maka ini akan menjadi keputusan yang tepat. Selamat mencoba!

Leave a Comment