Kaset Pita yang Tinggal Nostalgia

Ada yang masih punya kaset pita di rumah? Toss dulu dong. Sayang saya gak bisa ambil fotonya karena udah dikardusin sama orang tua saya di Pasaman Barat, Sumatera Barat sana.

Kenapa sih bahas kaset pita? Zaman udah Spotify, Joox, Shazam, YouTube Music kok masih dengerin musik cara jadul sih? Gak papa sih, lagi pengen nostalgia aja gara-gara kemarin baca di Kompas, basis Dewa19, Erwin Prasetya meninggal dunia.

Saya jadi ingat koleksi kaset Dewa saya di rumah. Sungguh masa-masa itu tak akan terlupa. Alfatihah buat Almarhum Mas Erwin.

Awalnya saya jadi kolektor kaset pita lantaran saya punya om penggemar berat musik-musik Indonesia dan luar. Kami memanggilnya Mang Uyung. Hihihi. Zaman Mang Uyung SMA, trus kuliah di Universitas Bung Hatta, Padang, setiap pulang kampung Mang Uyung suka bawain kaset-kaset baru.

Kaset-kaset itu kemudian ditaruh di kamarnya. Saya dan teteh sering minjem dan dengerin bareng di rumah. Dari Mang Uyung dan teteh saya kenal Slank, Dewa19, Gun N Roses, Bon Jovi, Fire House, Scorpion, sampai band-band Malaysia yang nge-hits waktu itu, seperti Slam dan Exist.

Ayah juga mantan anak band waktu muda. Setiap hari di rumah saya dicekokin lagu-lagu The Beatles, Queen, ABBA, George Michael, Panbers, Broery Marantika, sampe Dewi Yul. Wkwkwk. Jadi, koleksi kaset pita jadul ayah juga banyak, bahkan masih suka beliau putar di rumah sampai hari ini. Awet banget, kayak wajah Eyang Titik Poespa.

Pertama Kali Beli Kaset Pita

Kaset pita pertama yang saya beli pakai uang sendiri adalah album Ti3a milik Base Jam (1998). Lagu andalannya adalah Bukan Pujangga. Waktu itu saya masih 11 tahun, duduk di SMP kelas 1.

Mungkin aku bukan pujangga

Mungkin aku tak slalu ada

Ini diriku apa adanya

Bukan Pujangga – Base Jam

Harga kasetnya kalo gak salah Rp 13 ribu. Setelah krisis ekonomi meledak di tahun yang sama, harga kaset pita langsung naik jadi Rp 15 ribu untuk album lokal dan Rp 22-25 ribu untuk album internasional.

Saya bangga banget punya album Base Jam yang satu ini, meski cuma berisi delapan lagu. Padahal band lain rata-rata kasih 10-12 lagu dalam satu album.

kaset pita

Album Ti3a merupakan mahakarya yang mengantar Base Jam menuju puncak karier. Bukan Pujangga jadi lagu terhits mereka sepanjang sejarah. Hebat euy Sigit dan Adon CS.

Setahun kemudian, tepatnya 1999, Sheila On 7 langsung menggebrak pasar musik Tanah Air. Sejak lagu Kita dan Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki keluar, sejak itu pula saya mengukuhkan diri sebagai Sheila Gank sampai hari ini. Kartu anggota Sheila Gank masih saya simpan loh sampai sekarang di dompet, meski udah expired dan layak masuk museum. Hehehe.

Pernah gak sih kecewa waktu beli kaset?

Pernah dong. Saya sempat kecewa beli kaset beberapa band karena merasa lagu-lagu di album mereka kurang memenuhi ekspektasi pribadi. Ya minimal 50 persen lagunya di side A dan side B enak didengerin, gak cuma single pertamanya doang.

Beberapa album yang bikin saya menyesal beli kasetnya, antara lain Jikustik (Seribu Tahun, 2000), Naff (Naff, 2003), Ada Band (Metamorphosis, 2003), Base Jam (Dua Sisi, 2003), Element (Resonansi, 2005), Gigi (Salam Kedelapan, 2003), dan The Fly (Episode III, 2002).

Mohon maaf ya buat yang gak sependapat, juga buat fans dari band-band yang saya sebutkan di atas. Namanya juga pendapat pribadi.

Saya juga pernah kecewa berat sama album Pejantan Tangguh-nya Sheila On 7 loh. Menurut saya, Duta CS terlalu buru-buru mengeluarkan album baru waktu itu, padahal penggemarnya masih larut dalam euforia album OST 30 Hari Mencari Cinta yang mereka rilis 2003.

Kualitas lagunya jomplang abis dari album-album sebelumnya yang selalu nge-hits. Dari 12 lagu di album Pejantan Tangguh ini, saya cuma suka empat lagu, yaitu Pejantan Tangguh, Itu Aku, Pemuja Rahasia, dan Ketidakwarasan Padaku. Sisa lagunya buat saya biasa-biasa aja, bahkan makin kelelep sama lagu-lagu di album 07 Desember yang menurut saya itu album Sheila On 7 paling sempurna dan tanpa cacat.

Aturan Pinjam Meminjam Kaset Pita

Saya punya banyak koleksi kaset pita. Teman-teman satu sekolah tahu saya kolektor kelas berat. Kekeke. Saya rela gak jajan, gak nongkrong, juga gak beli baju baru asal bisa beli kaset baru.  Waktu saya berulang tahun sekali pun, seringnya sahabat atau pacar ngadoin kaset-kaset baru, mau itu album lokal atau luar. Senang banget deh.

Kaset-kaset tersebut biasanya saya simpan di tempat yang bersih, tidak lembab, dan tidak terkena cahaya matahari langsung, seperti di meja belajar. Setiap selesai dengerin musik di tape, saya akan menyimpan kembali kaset ke dalam case-nya.

kaset pita

Saya juga gak pelit. Teman-teman, kakak kelas, orang yang kenal saya boleh kok minjam kaset-kaset saya. Biasanya mereka ramai datang ke rumah kalo lagi musim festival musik, ada acara pentas seni, atau mau perform di acara khusus. Kaset saya dipinjam buat mereka latihan nge-band atau nge-jam bareng.

Meski demikian, saya memberlakukan sejumlah aturan bagi teman-teman yang meminjam kaset pita saya. Apa aja tuh?

1. Kaset pita dilarang berpindah tangan

Jika saya meminjamkan kaset kepada Si A, maka Si A tidak boleh meminjamkannya kepada Si B dan seterusnya. Si A bertanggung jawab penuh dan harus menjaga dengan baik kepercayaan yang sudah saya berikan untuknya.

2. Dilarang corat-coret cover dan booklet kaset

Pernah beberapa kali teman cowok yang pinjam kaset saya membuat saya kecewa. Begitu dia mengembalikan kaset saya, booklet-nya sudah ada yang ditulisi I love you lah, aku sayang kamu lah, bahkan yang bersangkutan melingkari beberapa kata di dalam lirik lagu yang jika dirangkai seolah dia seperti sedang menulis surat cinta buat saya.

Hadeuh, bukannya membalas cintanya, saya malah ngelabrak dan marahin dia karena udah corat-coret kaset saya. Padahal waktu pertama kali dia pinjam, dia udah tahu aturannya loh. Kalo saya ingat-ingat lagi sekarang, jadi ketawa sendiri kelakuan ABG zaman dulu.

3. Dilarang keras muter kaset pita di walkman

Biasanya kalo teman yang pinjam kaset saya punya walkman, saya bakal cek dulu merek walkman-nya. Kalo Sony, Sharp, Polytron, saya baru izinkan. Kalo merek walkmannya aneh-aneh, made in Cina, saya gak bakal pinjamkan kaset saya ke dia. Kecuali dia mau janji gak bakal muter kaset saya di walkman.

Kaset pita yang diputar di sembarang walkman biasanya bakal mengalami penurunan kualitas. Kadang suara musiknya jadi masuk ke dalam, temponya melambat, bahkan pita kasetnya bisa jadi keriting mendadak. Sedih kan kita yang punya kaset?

4. Maksimal cuma boleh pinjam seminggu

Teman saya cuma boleh pinjam kaset saya maksimal seminggu. Kalo saya kasih kaset ke dia Senin, maka dia harus mengembalikannya Senin minggu depan di sekolah.

Jika kaset yang dipinjam adalah kaset Sheila On 7 atau kaset luar negeri, lama pinjamnya dipersingkat maksimal 3-4 hari saja. Saya suka gak tega lepasin kaset-kaset kesayangan saya ke sembarang orang untuk waktu lama. Huhuhu. Sesayang itu saya sama barang.

5. Kaset rusak atau hilang harus diganti kaset baru

Saya gak menerima ganti rugi uang, mau dibayar tiga kali lipat dari harga beli kaset pun saya gak terima. Jika kaset saya kebetulan gak sengaja rusak atau hilang, saya minta dibelikan kaset original yang sama persis dengan milik saya.

Kenapa? Zaman 1998-2000 itu kaset bajakan nyaris belum ada. Artinya, kalo saya beli kaset Sheila On 7 1999, trus setahun kemudian teman saya menghilangkannya, belum tentu saya bisa mendapatkan kaset ganti yang sama persis. Apalagi saya tinggal di desa.

Zaman dulu mah band-band gak kejar tayang kalo mau produksi album. Minimal mereka bikin album baru setahun atau dua tahun kemudian. Jadi, butuh usaha ekstra buat nyari kaset original, apalagi yang produksi lama di kota.

6. Jika melanggar, tidak boleh meminjam kaset lagi di kesempatan berikutnya

Saya langsung black list nama-nama teman yang gak amanah menjaga kaset-kaset saya. Entah dia mengoper kaset saya ke teman-temannya, muterin kaset saya di sembarang walkman atau tape mobil, corat-coret, atau bikin kertas covernya sobek lecek lepek. Mereka tidak boleh lagi meminjam kaset-kaset saya di kesempatan berikutnya.

Nostalgia dengan Kaset Pita

Namanya juga ABG yaaa. Ada yang gak tahu istilah ABG anak 90-an? ABG itu singkatan dari Anak Baru Gede. Saya sangat merawat kaset-kaset pita saya, terutama cover atau bookletnya yang berisi profil band/ penyanyi, foto mereka, dan lirik lagunya.

Seluruh sela lipatannya yang berbahan art cartoon itu akan saya lapisi selotip transparan biar gak mudah sobek. Cara nempelinnya juga gak sembarangan loh, harus vertikal mengikuti lapisannya.

Cover ini yang membedakan kaset asli dan bajakan. Kaset bajakan gak mungkin punya booklet panjang. Paling cuma cover depan doang dan itu juga foto kopi hitam putih atau foto kopi warna yang pudar. Jelek banget deh pokoknya.

Selesai ngamanin cover, saya juga membubuhi nama dan tanda tangan saya di semua koleksi kaset pita saya. Dari jarak jauh pun saya bisa tahu orang lagi pegang kaset saya atau bukan. Wkwkwk. Apa lagi ya kenangan saya dengan kaset pita?

1. Punya toko kaset langganan

Saya punya toko kaset langganan, tempat yang sama saya perdana membeli kaset Base Jam. Punya toko kaset langganan membuat kita gak akan pernah kehabisan stok setiap ada band favorit merilis album baru.

Biasanya kaset-kaset di toko itu ditata di dalam etalase kaca. Satu album mereka cuma punya maksimal lima pcs dan itu direbutin sama ABG sekampung. Hahaha. Kalo Sheila On 7, Peterpan, Slank, Dewa, Cokelat, Jamrud, Boyzone, Westlife, Backstreet Boys merilis album baru, siap-siap deh rebutan.

Si abang langganan saya biasanya sudah nyimpenin 1 copy buat saya. Saya tinggal ambil dan bayar sepulang sekolah. Saya sudah pesan bahkan jauh hari sebelum album itu dirilis. Informasinya dari mana? Ya dari Majalah Aneka Yess, Gadis, Hai, Kawanku, atau Tabloid Gaul.

2. Bawa walkman sendiri ke sekolah

Dulu kesannya kalo bawa walkman dan kaset ke sekolah itu anak gaul banget ya. Jam istirahat bisa dengerin musik di kelas, atau santai di bangku shelter sekolah. Dengerin kaset sambil bikin ringkasan catatan Sosiologi, Biologi, atau nulis rumus Fisika Kimia.

Biasanya kalo sayang sama kaset, kita gak pernah mau kaset kita diputar selain di walkman sendiri. Takut walkman teman itu gak bagus, bikin kaset kita rusak, suaranya langsung jelek, atau kalo apes pita kasetnya bisa keriting.

3. Ngutrak-ngatrek kaset di tape

Siapa di sini yang kalo lagi suka-sukanya sama lagu utama di album band favorit, selalu muterin lagu yang sama. Akhirnya kerjaan kita di rumah ngutrak-ngatrek tombol kaset di tape atau walkman.

kaset pita

Begitu lagunya abis, ulang lagi, ulang lagi. Kalo takut kasetnya rusak, kasetnya dibalik dulu dan lagu di side-B diputar sampai abis, kemudian kembali mendengar lagu favorit di side-A. Kita bisa juga muterin bagian tengahnya dengan pulpen. Cuma anak 90-an yang akrab dengan cara ini.

Kadang kita juga bisa apes karena tanpa sengaja mencet tombol record pada tape. Begitu nyadar, tahu-tahu beberapa bait lagu dan musiknya hilang pas diputar ulang. Ya gimana? Gak sengaja ke-record. Nangis bombay deh abis itu.

4. Merasa berdosa beli kaset bajakan

Fenomena kaset bajakan di Indonesia itu mulai ramai sekitar tahun berapa ya? Saya pun tak tahu pasti. Yang jelas, saya pertama kali melihat ada kaset bajakan itu kalo gak salah sekitar 2003-2004 gitu deh.

Sejak itu semua orang berhak mengklaim sudah punya kaset terbaru band A. Padahal kaset yang dia punya cuma bajakan.

Pernah gak sih beli kaset bajakan? Saya pernah dan itu karena terpaksa. Saya beli waktu itu kaset Potret. Saking sukanya sama albumnya, tapi kaset aslinya udah gak ada lagi, akhirnya saya beli bajakan. Rasanya saya berdosaaaa banget waktu itu.

Begitu kuliah ke Bogor, masuk 2005, mulai deh rame MP3 player. Kaset pita perlahan ditinggalkan. Padahal saya masih sempat bawa semua koleksi kaset saya satu kardus besar buat diputar di kamar kos setiap hari.

Pelan tapi pasti, saya pun mengikuti perkembangan zaman di dunia musik Tanah Air. Saya berhenti membeli kaset pita, mulai akrab dengan CD dan MP3. Walkman kaset tape pun saya ganti dengan CD Walkman. Begitu terus hingga orang-orang mulai mendengarkan lagu dari flash disk di PC atau laptop, MP3, MP4, MP5 player, hingga android dan berbagai aplikasi musik bermunculan.

Seru ya kalo kita ingat lagi cerita nostalgia kita dengan kaset pita. Semoga coretan saya kali ini bisa mengukir senyum di wajah yang membaca. Jangan lupa sharing nostalgiamu dengan kaset pita yang paling berkesan. Saya tunggu di kolom komentar ya.

23 thoughts

  1. baca ini jadi inget jaman dulu hehe, waktu SD punya kaset melisa seingatku, waktu SD juga kok demen kasetnya itu lo yang macam nia daniaty wkwkwk, hetty koes endang, ebit g ade
    kalo ebiet emang long lasting lagunya sampe sekarang
    SMP juga suka pergi ke toko kaset, jaman jamannya A1, BLUE, westlife, punya hahaha, duhh jadi inget beneran
    base jam, sheila nggak pernah beli kasetnya, tapi ya pas booming booming lagunya, seneng aja dengerinnya

    Like

    1. Waaaah, sama mba, kaset Melisa yang Semut Semut Kecil yaaa. Kotak kasetnya rada tebal dan besar, warna putih dasarnya, trus ada dilapisin cover kertas dan plastik bening luarnya. Hahahaha. Jadi ikut nostalgia juga saya gara-gara komen Mba Ainun.

      Like

  2. Saya termasuk generasi kaset pita. Saya masih punya album kaset boyband luar negeri kayak bsb, nsycn, dan sebagainya. Kalau Indonesia saya punya dewa, glenn, dan ost film biasanya hehehe. Saya suka sheila tapi enggak punya kasetnya. Dulu pinjam doang. Wah, kangen sangat dengarkan pita kaset lagi

    Like

  3. Saya jdi nostalgia masa kecil, dulu sering rusakin kaset pita ayah gara-gara dibuat mainan hehe. Sampai sekarang sisa satu doang, yang iwan fals. Favorit saya sama ayah.

    Like

    1. Wah inget zaman waktu kecil. Malah pas smp dibeliin walkman yang kaset pita kecil itu buat rekam2an. Sering rekamin lagu2 di radio, apalagi jaman2 AFI. Wkwk. Selain itu aku sering mainin kaset pita bapak yg banyak banget buat dimainin2 rumah2an πŸ˜‚πŸ˜‚

      Like

  4. Iihhh kannn jadi kangen dengerin SO7 di tape. Ya ampun punya koleksi SO7, walt disney, westlife banyak. Trus pernah pitanya dibuat mainan molor panjang terus diputer lagi pake pulpen. Hiyaa ketauan angkatan berapa nih wkwk

    Like

  5. Jadi dulu aku suka banget denger kaset yg isinya lagu2 rekaman. Yg ngerekam temannya kakak. Nah lagunya bagus2 tuh mba. Suatu ketika rusak. Bingung kan aku karena lagunya bagus2 dan sayanh kalau harus dibuang. Entah mitos darimana akhirnya kaset itu aku taruh di dalam freezer kulkas. Dan ternyata kasetnya udh baik lagi lho wkwkkw. Ada ada aja ya kenangan masa kecil

    Like

  6. Wah jadi ingat jaman dulu, punya kaset lagu band favorit rasanya senang sekali. Biasanya saya dan teman saya kalau ada lagu baru yang lagi hits langsung pergi ke toko kaset. Ini benar-benar nostalgia banget, generasi sekarang sudah jarang yang mengenal kaset karena posisi kaset sudah terganti dengan mp3

    Like

  7. Haha kaset pita, meskipun milenial, tapi saya juga ‘njamani’ kaset pita. Bahkan waktu SMA masih sempet dikado kaset pita, kyaknya itu kaset terakhir sebelum akhirnya era CD dan mp3. Kalau Bapak saya hobinya juga koleksi kaset pita dan CD. Ada Koes Plus, Chrisye, Ebiet G Ade (entah sampe berapa part itu Camelia). Ah, nostalgia…

    Like

  8. Wah menarik banget ya kak cerita tentang kaset pitanya. Saya tahun 2003/4 itu masii bayi hehe meski saya nggak ngerasain pengalaman seperti mba setidaknya saya sering lihat kaset pita peninggalan ortu hehehe

    Like

  9. KIta satu generasi mbak, wkwk. Saya juga suka beli kaset pita dan puter di tape jadul itu. Kalo pitanya keluar, tinggal ambil pensil trus puter tengahnya supaya pitanya masuk lagi. Masih ada lho kasetnya di rumah mama saya.

    Like

  10. Bahas kaset pita jadi inget masa kecil. Saya selalu minta kaset yang rusak ke Bapak. Terus dalemannya saya ambil buat mainan. Kalau di ulur dalemannya panjang banget, bisa buat pagar kalau main rumah-rumahan. hehehe

    Like

  11. Aku anak 90an mbaaak. Hihi tau banget senengnya beli kaset pita penyanyi favorit, bahagia banget. Terus di zaman itu belum banyak paham mengenai musik. Yang penting suka lagunya udah seneng banget hihihi… Jadi kangen sekolah hmm

    Like

  12. Baca komennya rasa mutar balik seperti saat muter lagu kesukaan di kaset pita.

    Kembali ke masa di mana beli oita kaset lumayan mahal.

    Ternyata kesukaan kita sama ya Kak. Wkwkw

    Like

  13. Kebetulan dulu pernah diberi hadiah sama temen SMP kaset pita gitu. Tapi jarang make hehe. Lebih suka dengan pakai CD aja XD Itu sekita 2005/2006 kalau nda salah

    Like

  14. wah jd anak angkatan 90an jd penuh nostalgia ya mba..btw Base Jam nih band favorit ku jg lho.. dan aku pun penggemar kaset pita yg suka muter lobang kaset pake pinsil ..sama lah kitah hobinya wkwk

    Like

  15. Kak Mutia, ada lagi nostalgia anak zaman kayak kita, yakni kaset yang berisi single kesukaan. Jadi beli kaset kosong trus di rekam deh lagu kesukaan dari kaset kita untuk didengar. Semacam playlist zaman baheula.
    Aah kalo ingat kaset pita, aku semakin ngebayangin ET 45 yang sering jadi tempat aku lari sepulang sekolah.
    Kaset yang gak pernah ketinggalan beli itu annual Grammy award sama Linkin Park. Dewa juga. Sama anak-anak nya, si Dewi-Dewi

    Like

  16. Kaset pita, ini di rumah ada radio yang plus kaset plus kaset pita juga masih ada tapi tidak pernah coba apakah masih bisa dinyalakan itu kasetnya , membaca artikel uni , aku coba putar ahh oprek itu kaset dan dengenrin di radio yang ada tempat kasetnya hahahah ga pernah disentuh soalnya itu radio

    Like

  17. Jadi ingat zaman kaset pita
    Pas smp masih tuh
    Beli kaeet sheila on 7 diputerin mulu
    Terus punya yang januari di kota dili, siapa ya waktu itu g nyanyi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.