Bukan Harta, tapi Pendidikan Investasi Terbaik untuk Anak Perempuan Kita.

Indonesia masih didominasi paham patrialisme. Suka atau tidak suka, fakta ini masih sering kita jumpai di lapangan, meski pemahamannya semakin bergeser ke arah lebih baik.

Selama ini saya melihat perempuan itu kesannya kok memiliki masa expired alias batas waktu untuk bekerja, apalagi untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi, misalnya kuliah sarjana, master, atau doktoral.

Perempuan dihadapkan pada banyak pilihan. Bisa sekolah sampai SMA saja sudah luar biasa. Jika ingin melanjutkan pendidikan tinggi, apabila anak perempuan tersebut berasal dari keluarga tidak mampu, kuliah dipastikan sebatas impian.

Apabila anak perempuan berasal dari keluarga kurang mampu, tapi memiliki orang tua dengan pemahaman baik tentang pendidikan, maka kuliah bisa diusahakan. Apalagi jika si anak berasal dari keluarga mampu, sudah lah pasti pendidikan menjadi prioritas utama.

Oktober 2018 lalu saya berkesempatan menjadi satu dari sekian banyak peserta yang beruntung mengikuti seminar bertajuk Empowering Women in the Workplace dalam rangkaian Pertemuan Tahunan Bank Dunia (World Bank) – Dana Moneter Internasional (IMF) 2018 di Nusa Dua, Bali. Saya ingat betul waktu itu curhatan Ibu Sri Mulyani, menteri keuangan kita.

Beliau mengatakan perempuan harus menghadapi banyak pilihan yang membatasinya untuk mengembangkan diri dan bekerja. Perempuan akan menikah, berkeluarga, mengandung, dan mempunyai anak. Jika perempuan tetap bekerja setelah menikah, maka kegiatan mengurus keluarga ini dianggap sebagai beban tambahan untuk mereka.

Ibu Sri Mulyani menilai sekiranya institusi, perusahaan, lingkungan kerja secara keseluruhan menciptakan ruang untuk perempuan dapat bekerja dengan nyaman, beliau percaya perempuan Indonesia dapat menunjukkan seluruh potensi yang dimiliki.

educenterid

Saya sepakat dengan pernyataan beliau. Tanpa dukungan dan kebijakan yang meringankan beban perempuan di rumah dan di lingkungan kerja, saya rasa sia-sia saja kita selama ini menggaungkan kesetaraan gender dalam pendidikan dan angkatan kerja. Percuma saja kita memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret setiap tahunnya.

Di tengah-tengah diskusi, Ibu Sri Mulyani kemudian menantang Ibu Christine Lagarde yang masih menjabat Direktur Pelaksana IMF kala itu terkait pemberdayaan perempuan. Beliau mengusulkan sekiranya pekerjaan rumah tangga yang dilakukan perempuan di rumah bisa dimasukkan ke dalam komponen produk domestik bruto (PDB) setiap negara alangkah potensialnya memajukan ekonomi bangsa di masa mendatang.

Gayung bersambut, Ibu Lagarde pun mempertimbangkan hal tersebut dan berencana mengumpulkan berbagai usulan untuk diinput ke dalam statistik IMF pada kesempatan berikutnya. Sejauh mana kemajuannya sampai sekarang? Tampaknya saya, kita semua yang membaca artikel ini masih harus bersabar.

Pendidikan adalah Investasi

Investor sekaligus filantropis asal AmerikaSerikat, Warren Buffet berulang kali mengatakan investing in youself. Perempuan bergelar sarjana tentu berpeluang lebih besar meraih pendapatan tinggi ketimbang perempuan yang hanya lulusan SMA atau SMK. Pendidikan dalam hal ini bisa meningkatkan level ekonomi perempuan.

Pendidikan juga bisa meningkatkan peran intelektual perempuan di masyarakat. Riset Bank Dunia secara global menunjukkan perempuan berpendidikan rendah lebih mungkin menikah pada usia dini, mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hidup dalam kemiskinan, dan tidak bisa mengatur pengeluaran rumah tangga dengan baik.

Sekitar 65 persen perempuan yang hanya tamat pendidikan dasar lebih mungkin mengalami hal-hal merugikan di atas dibanding lima persen perempuan lulusan sekolah menengah.

educenterid

Satu dari lima anak perempuan di negara-negara berkembang hamil sebelum berusia 18 tahun. Artinya, jika kita ingin mengakhiri kemiskinan dan memastikan kesejahteraan penuh untuk perempuan, maka berinvestasilah pada pendidikan perempuan sejak mereka masih anak-anak.

Berikut saya akan memaparkan sederet fakta menarik yang menunjukkan betapa mirisnya nasib perempuan di dunia, termasuk Indonesia yang tidak dapat mengakses pendidikan layak. Fakta-fakta berikut sebagian besar saya kutip dari penelitian global Bank Dunia 2014.

1. Kesehatan dan gizi anak

Di Etiopia, anak yang lahir dari ibu lulusan sekolah dasar 39 persen berisiko lebih rendah mengalami gangguan pertumbuhan. Di Vietnam, anak yang lahir dari ibu berpendidikan menengah 67 persen berisiko lebih kecil mengalami gangguan pertumbuhan. Artinya, semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin baik tingkat kesehatan anak yang dilahirkan.

Data Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) 2013 menunjukkan ibu dengan pendidikan rendah berisiko 42,7 persen melahirkan anak stunting, yaitu kondisi gizi buruk pada anak berusia di bawah lima tahun. Ibu dengan pendidikan menengah ke atas, atau pernah duduk di bangku SMP, SMA, hingga perguruan tinggi berisiko lebih kecil, sekitar 33,8 persen melahirkan anak stunting.

2. Hak seksual dan reproduksi

Hampir sepertiga wanita di 33 negara berkembang tidak dapat menolak aktivitas seksual dengan pasangan. Kasus serupa dihadapi 7 dari 10 perempuan di Nigeria, Mali, dan Senegal.

Lebih dari 41 persen perempuan di 33 negara berkembang ternyata tidak dapat meminta pasangan mereka menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Ini akhirnya meningkatkan jumlah kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk tak terkendali di sejumlah negara.

Sebanyak 700 juta perempuan tinggal di berbagai belahan negara di Benua Afrika. Satu dari tiga perempuan di sana pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Umumnya itu dilakukan suami atau kekasih mereka.

Rata-rata satu dari lima anak perempuan berusia di bawah 18 tahun di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia setiap tahunnya hamil dan melahirkan anak. Negara-negara berkembang di Asia Selatan menyumbang hampir 50 persen kehamilan usia remaja.

Dari persentase tersebut, hampir 70 ribu anak perempuan dengan rentang usia 15-19 tahun meninggal dunia saat menjalani kehamilan. Semua karena apa? Salah satunya tingkat pendidikan yang rendah.

3. Pendidikan dan lapangan kerja

Jumlah anak perempuan yang mengakses pendidikan tinggi di 33 negara berkembang semakin meningkat. Namun, pilihan pekerjaan untuk mereka tetap terbatas. Norma sosial dan norma hukum seakan berhak menentukan pekerjaan apa yang pantas untuk perempuan.

Kesan yang saya dapat adalah pegawai perempuan baru bisa mendapat posisi bagus setara pegawai laki-laki jika kinerjanya di tempat kerja dua kali lebih baik. Stereotipe seperti ini banyak dipraktikkan secara tak tertulis oleh perusahaan-perusahaan tempat bekerja.

4. Akses teknologi

Jumlah perempuan yang bisa mengakses internet di Afrika 32 juta jiwa lebih sedikit dibanding pria. Asia Selatan mencatat gap antara laki-laki dan perempuan yang bisa mengakses teknologi, khususnya internet mencapai 25 juta jiwa, sedangkan Timur Tengah mencapai 18 juta jiwa.

5. Penguasaan tanah dan lahan

Sekitar 80 persen tanah dan lahan di Afrika dikuasai oleh pria dan bersertifikat atas nama mereka, sementara lebih dari 70 persen perempuan di berbagai pedesaan Afrika bekerja di atas lahan-lahan tersebut.

Bagaimana kondisinya di Indonesia? Data validnya mungkin belum ada, tapi saya mencoba memberikan contoh sederhana.

Ketika saya dan suami memutuskan memiliki rumah 2017 lalu, kami membelinya dengan uang penghasilan kami dalam bentuk investasi bersama. Memang, jumlah uang yang saya miliki sangat sangat kecil dibanding penghasilan suami selama kami menikah.

Saat membuat sertifikat rumah dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), notaris tanpa bertanya menuliskan semuanya atas nama suami. Saya pribadi memang tidak mempermasalahkan hal itu, toh kami ini pasangan menikah. Namun, itu hanya contoh kecil bagaimana perempuan masih dinomorduakan dalam berbagai hal.

Pendidikan adalah investasi terbaik bagi anak perempuan. Tak ada yang lebih berharga dari itu. Lewat pendidikan, anak perempuan bisa mengaktualisasi diri sesuai potensi masing-masing.

Memotivasi Perempuan untuk Berpendidikan

Pendidikan itu memang bukan cuma baca, tulis, berhitung saja. Namun, ketiga faktor tersebut bisa mengindikasikan kualitas pendidikan suatu bangsa.

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan masih ada 3,29 juta penduduk Indonesia yang buta aksara. Angka ini setara dengan 1,93 persen total penduduk Indonesia. Sebagian besar atau dua per tiga dari penduduk yang buta huruf adalah perempuan.

Itulah sebab mulai dari sekarang kita harus memotivasi perempuan, khususnya anak-anak kita untuk berpendidikan. Bagaimana caranya?

1. Menghadirkan sosok panutan atau role model

Kita perlu memastikan anak-anak perempuan kita memiliki sosok panutan yang memotivasi mereka untuk berpendidikan tinggi. Saya pribadi memiliki orang tua yang hanya lulusan SMA dan SMP. Namun, ayah ibu saya selalu mendorong anak-anaknya bersekolah hingga kuliah.

Kita harus lebih sering menceritakan kisah sukses perempuan-perempuan juara untuk memotivasi anak-anak perempuan kita. Ibu Sri Mulyani misalnya, perempuan Indonesia pertama yang bisa menduduki kursi direktur di Bank Dunia. Saya juga mengagumi sosok Malala Yousafzai, pejuang hak pendidikan untuk anak- anak perempuan di Lembah Swat, Pakistan.

Setiap hari Malala menyembunyikan buku-buku pelajaran di balik selendangnya dan tetap berjuang pergi ke sekolah. Ia hampir meregang nyawa saat melawan aturan ketat Taliban yang melarang anak perempuan mengecap pendidikan.

Perempuan-perempuan juara ini tidak harus bergelar sarjana, doktor, atau profesor. Banyak perempuan yang berpendidikan karena keterampilan dan leadership yang dimiliki. Mereka juga bisa menginspirasi anak-anak perempuan zaman sekarang.

Sebut saja Ibu Susi Pudjiastuti, mantan menteri kelautan dan perikanan kita yang lulusan SMA. Ada juga perancang busana kebaya Indonesia, Ibu Anne Avantie yang hanya bersekolah hingga SMA.

educenterid

Semakin sering kita menampilkan sosok perempuan sukses dan berpendidikan, semakin banyak kelak anak perempuan kita ingin menjadi seperti mereka. Secara langsung kita mengelilingi puteri-puteri kita dengan sosok yang membawa energi positif dalam kehidupannya.

2. Meningkatkan jejaring pegiat pendidikan

Saya tahu banyak orang pintar di negara ini. Saya yakin sudah banyak yang memulai menguatkan jejaring untuk memperluas akses anak perempuan bisa berpendidikan. Banyak pegiat pendidikan juga masyarakat bisa membangun jejaring taman bacaan, rumah baca, perpustakaan keliling, dan sebagainya.

Di Bali, saya sering berkunjung ke Taman Baca Kesiman, salah satu taman baca yang misinya bukan cuma menumbuhkan minat baca masyarakat, tapi juga meningkatkan literasi masyarakat secara umum. Ada lebih dari 2.500 koleksi buku berbagai genre bebas dibaca pengunjung di sini.

Bali juga menggagas Gerakan Bali Membaca, dipelopori salah satu tokoh perempuan yang saya kagumi, Ni Putu Suaryani. Beliau memayungi lebih dari 50 ribu anak seluruh Bali dengan rentang usia 7-12 tahun.

Selain mendorong minat baca, Ibu Ani juga memotivasi anak-anak asuhnya untuk terus belajar dan berbudi pekerti baik. Gerakan ini melingkari anak-anak sejak usia dini dengan mencerdaskan mereka lewat bacaan-bacaan informatif.

3. Kebijakan lebih fleksibel untuk perempuan bekerja dari rumah

Setuju tidak jika perempuan layak bergaji setara pegawai laki-laki, meski harus bekerja dari rumah? Saya membayangkan seperti apa yang diidamkan Ibu Sri Mulyani bahwa pekerjaan rumah tangga kelak dapat dimasukkan ke dalam komponen PDB.

Saya bersyukur dulu pernah bekerja di perusahaan yang memberi fleksibilitas tinggi untuk karyawan perempuan. Ini pula yang membuat saya betah bekerja hingga sembilan tahun di perusahaan sama.

Perusahaan tempat saya bekerja dulu memberi kelonggaran bagi karyawan perempuan yang hamil, menyusui, datang bulan, sedang sakit, atau ada keperluan mendadak, misalnya suami atau anak sakit.

Karyawan perempuan bahkan diperkenankan membawa anak ke kantor selama yang bersangkutan tetap bekerja optimal. Pihak kantor menyediakan ruang ibadah yang nyaman, termasuk di dalamnya ruang menyusui.

Perempuan membutuhkan lebih banyak opsi karena menjalankan banyak peran sekaligus. Perempuan selain bekerja, juga menjadi istri dan ibu rumah tangga. Sesekali mereka menjadi kurang aktif karena kewajiban di rumah.

Dunia bisnis dan dunia kerja perlu memberikan opsi lebih fleksibel bagi perempuan untuk memotivasi mereka tetap bekerja secara profesional dan berkelanjutan. Perempuan demikian akan melahirkan anak-anak cerdas, dan secara bersamaan membantu menopang ekonomi keluarga.

4. Peningkatan pekerjaan bergaji tinggi bagi perempuan

Perempuan layak dipromosikan posisi tinggi level manajemen dan eksekutif di semua jenis pekerjaan. Bukankah diversifikasi kepemimpinan justru menguntungkan perusahaan? Diversifikasi ini dalam jangka panjang akan berkontribusi mengidentifikasi isu-isu diskriminasi di tempat kerja.

Kebijakan pemerintah sangat dibutuhkan. Perempuan bukan cuma obyek pasif, melainkan subyek pembangunan. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan dan diperbanyak lagi pekerjaan-pekerjaan bergaji tinggi untuk perempuan.

Perempuan didorong aktif bekerja di berbagai sektor, apakah itu ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya. Saya tahu pemerintah serius membahas ini di berbagai lini diskusi, tapi bagaimana dengan implementasinya di lapangan?

5. Dukungan lembaga pendidikan

Kita perlu menjamin kesempatan untuk anak perempuan mengenyam pendidikan setara anak laki-laki. Anak perempuan harus mendapatkan pendidikan minimal 12 tahun.

Anak-anak perempuan perlu didukung untuk ikut serta dalam kegiatan di luar sekolah yang biasanya lebih banyak diikuti anak laki-laki. Mereka bisa kok memiliki keterampilan menerbangkan pesawat, jago matematika, bermain musik, berenang, memahami coding, dan sebagainya sebagaimana anak laki-laki.

Indonesia punya regulasi lengkap yang mendukung kesetaraaan pendidikan bagi anak laki-laki dan perempuan. Posisi paling atas nih, ada pasal 31 UUD 1945 yang tidak membedakan hak mengenyam pendidikan antara perempuan dan laki-laki.

Ada juga UU Nomor 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta UU Nomor 7/ 1984 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Penguatannya sampai ke level instruksi presiden loh. Ada Inpres Nomor 9/ 2000 tentang Pengarusutamaan Gender.

Lagi-lagi saya bertanya, bagaimana dengan implementasinya di lapangan?

EduCenter Dukung Kesetaraan Pendidikan Anak

Perluasan pendidikan untuk anak perempuan memerlukan kerja sama tiga pihak (tripatrit), yaitu keluarga/masyarakat, sekolah/ lembaga pendidikan, dan pemerintah pusat/ daerah. Kali ini saya akan membahas dari pihak sekolah atau lembaga pendidikan secara umum.

Ada tiga hal yang bisa dilakukan pihak sekolah dan lembaga pendidikan. Pertama, membuka akses pendidikan untuk siapa saja tanpa memandang gender. Hal ini perlu tersosialisasi dengan baik untuk seluruh siswa di lembaga pendidikan tersebut.

Kedua, menyiapkan kurikulum dan bahan pelajaran sekolah yang responsif gender, bukan malah bias gender. Ketiga, menyiapkan iklim lingkungan sekolah yang peka terhadap gender awareness, sehingga pendidikan yang menyetarakan seluruh gender bisa terlaksana dengan baik.

Keempat, sekolah atau lembaga pendidikan perlu memiliki statistik pendidikan yang berwawasan gender di ruang lingkup tersebut.

educenterid

EduCenter merupakan mall edukasi pertama di Indonesia yang mengusung konsep one stop excellence of education. Keempat hal penting yang saya paparkan di atas semuanya terpenuhi di lembaga pendidikan satu pintu ini.

Apa keistimewaan EduCenter?

Lebih dari 20 institusi/ lembaga pendidikan, tempat kursus, dan satu pre-school berada di sini. Kita mengetahui orang tua zaman sekarang tak hanya sekadar menyekolahkan anak-anaknya saja. Waktu luang anak dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kegiatan bermanfaat dan menyenangkan, misalnya kursus.

Studi EduCenter menunjukkan seorang anak atau murid sekolah dasar rata-rata mengikuti 2-3 kursus setiap hari sepulang sekolah. Pilihannya beragam, mulai dari kursus bahasa Inggris, bahasa Mandarin, musik, matematika, menggambar, balet, dan berenang.

Murid SMP rata-rata mengambil 1-2 kursus setiap hari, khususnya bahasa inggris, mandarin, matematika, fisika, dan musik. Terakhir, muris SMA rata-rata mengambil 1-2 kursus setiap  hari, mulai dari matematika, fisika, kimia, bahasa inggris, dan mandarin.

Gedung bertingkat tujuh yang berada di Kawasan BSD City ini menaungi sejumlah tempat kursus, di antaranya Apple Tree Pre-School, Shane Learning Centre, Flamingo Studio, FlyBest, Wow Art Studio, Nutty Scientist, Binary Kiddo, Calculus, Farabi Music School, dan CMA Mental Arithmetic.

Di EduCenter, orang tua dan anak bisa menghemat waktu untuk menjalani segala bentuk pendidikan dan kursus yang disukai, tanpa membeda-bedakan gender. Anak laki-laki mau kursus balet? Bisa. Anak perempuan ingin menjadi pemain drum dengan kursus di Farabi Music School? Bisa. Anak perempuan ingin terampil menerbangkan pesawat? Boleh ikut kursusnya di FlyBest. Semuanya responsif gender.

Pendidikan terintegrasi satu atap membuat orang tua dan anak lebih banyak memiliki waktu berkualitas. Macet di jalan tak lagi menjadi alasan. Orang tua juga tak perlu waswas sebab bisa mengawasi buah hati. Anak-anak pun pada akhirnya mendapat pengalaman belajar terbaik.

educenterid

Jadi, siapa bilang warisan terbaik untuk anak perempuan kita sebatas harta? Harta bisa habis, tetapi yang namanya ilmu pendidikan tetap abadi bahkan setelah kita mati.

100 thoughts

  1. Kultur masyarakat kitavdi indonesia memang masih menomorduakan perempuan. Itu pun bisa kita lihat dalam aktivitas budaya. Pihak perempuan hampir tidak pernah ditempatkan dibagian depan. Semoga saja organisasi-organisasi perempuan dapat merubah cara berpikir masyarakat itu

    Like

  2. Menjadi anak perempuan terkadang memang suka merasa di anak tiri kan 😂😂😂 banyak hal-hal yang seharusnya sama perlakuannya tapi pada kenyataannya anak perempuan yang selalu dikalahkan.
    Semoga kita semua yang sudah pada ngerti dan melek teknologi ini bisa merubah pola hidup dan cara pikiran kita memandang anak perempuan. Terkadang yaitu orang tua memikirnya menikah pasti ujung-ujungnya ke dapur jadi anak perempuan Bahkan tidak memiliki hak yang sama dalam menuntut ilmu.

    Like

  3. Setuju banget dengan judul artikel ini, bahwa untuk anak perempuan bukanlah harta sebagai investasi masa depan melainkan ilmu dan pendidikan. Educenter ini menarik, ya, pengen lihat-lihat ke sini, sayangnya tempat tinggal saya jauh dari BSD.

    Like

    1. Iya mba, EduCenter yg di BSD merupakan yg terbesar dan pertama di Indonesia. Mungkin konsepnya sudah banyak ditiru lembaga pendidikan lain di berbagai kota. Namun, yg terbesar masih di BSD.

      Like

  4. Salah satu kalimat yang sering sekali ayah saya berulang kali sampaikan adalah, ‘jangan meninggalkan generasi yang lemah.’ Salah satu bukti kesungguhanya adalah memperjuangkan anak perempuannya pendidikan dengan semaksimal yang ia mampu. So, setuju sekali perempuan harus mengenyam pendidikan.

    Like

  5. Iya juga ya, kl perempuan pendidikan rendah ujung2nya merid. Termasuk ortu aku, tak tamat SD lalu menikah, sangat muda. Jd saat ibu saya berusia +- 35 udah punya cucu 😀😀

    Like

  6. Sekarang kondisinya sudah lain. Jaman orang tua kita dulu bisa sekolah SD saja sudah beruntung. Jaman sekarang kalau tidak sekolah, memang tidak masalah, tapi apa orang tua membiarkannya?

    Like

    1. Pada dasarnya semua orang tua ingin anaknya sekolah tinggi. Hanya saja, jika harus ada yg berkorban karena alasan ekonomi keluarga, maka anak perempuan cenderung jadi pihak yg harus mengalah.

      Like

  7. Saya setuju bahwa investasi terbaik bagi anak adalah pendidikan. Sementara harta yang kita dapatkan kini, hanyalah penunjang untuk mencapai suatu strata pendidikan, baik formal maupun informal. Namun lebih penting lagi adalah kecukupan pemenuhan secara mental, sehingga anak cakap di masa mendatang.

    Like

  8. Wah, ini filosofi yang dipegang mama dan bapakku deh. Ngemodalin anak-anak dengan sekolah. Sebab kalo harta, sebanyak apa pun bias habis. Tapi kalo ilmu sekolah, itu justru bisa bikin survive. Dengan sekolah, kita jadi bisa mencari harta.

    Like

  9. Teringat kembali saat mau masuk jurusan SMA, saya pilih IPA, terus ibu saya bilang, pilih IPS aja, nanti kuliahnya di dekat sini ekonomi, kan paling kamu kerja administasi gitu. Hehehe

    Like

    1. Udah langsung ditembak gitu ya mba. Hehehe. Padahal anak cewek juga bisa jadi Direktur Bank Dunia kayak Bu Sri Mulyani dulu. Anak cewek juga bisa jadi Gubernur Bank Indonesia, seperti Bu Destri Damayanti.

      Like

  10. Setuju banget mbak, kl mewariskan harta tentunya akan habis begitu saja ya. Tapi kl ilmu pendidikan yg diwariskan, maka anakw bisa mengelola harta dari ilmu yg telah mereka pelajari

    Like

  11. Setuju sekali, Mbak Mutia. Karena investasi ilmu itu akan lekang sampai akhir hayat. Dan ini pun berlaku bagi pria juga. Dengan para investasi ilmu, memang bisa meningkatkan taraf kehidupan juga. Karena itu tadi, salah satunya menikah di usia di bawah 18 tahun. Akhirnya mata rantai tidak akan terputus, karena anak-anaknya juga bisa mengalami nasib yang sama.

    Like

  12. Bener banget mbak, investasi tidak melulu soal harta. Memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak perempuan itu juga termasuk investasi yang sangat berharga. Mengingat perempuan juga memiliki peran yang sangat penting baik dalam keluarga maupun masyarakat.

    Like

  13. Suka sekali sekali deh dengan fakta yang dijabarkan detail mengenai kesetaraan gender. Menurut saya perempuan layak mendapatkan gaji tinggi, sama dengan laki-laki. Anak-anak cerdas terlahir dari perempuan cerdas dan berpendidikan.

    Like

  14. Kalau aku sih iyess peduli banget pada pendidikan anak mau perempuan mau laki2 sama saja..selama dia tidak melupakan fitrahnya Makanya anakku kuliah di luar negeri juga aku welcome aja asal kalau kelak dia berumah tangga tetap yang utama keluarga dan memperhatikan pendidikan dan tumbuh kembang anak anaknya

    Like

  15. Setuju banget kalau pendidikan itu investasi pendidikan. Nggak akan rugi berpendidikan tinggi, meski sebagai perempuan berpotensi menjadi ibu rumah tangga, tapi pendidikan akan mengubah pola pikir perempuan. ,

    Like

  16. Setuju banget mbak, pendidikan adalah investasi terbaik untuk anak perempuan kita. Dengan pendidikan, perempuan akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Tidak hanya itu dengan pendidikan juga, perempuan juga bisa mengangkat harkat dan martabat keluarganya ….

    Like

  17. Yup terkadang orangtua bermindset bahwa untuk apa anak perempuan tinggi-tinggi sekolahnya. Ada baiknya bahwa orangtua tersebut dijelaskan bahwa pendidikan itu adalah sebuah investasi kelak bagi anak perempuannya.

    Like

  18. Saya suka sedih klo ada stigma “ngapain perempuan sekolah tinggi2 entar jg cuma ngurus sumur dapur kasur.”.ya ampun itu yg ngomong gitu ga laki ga perempuan pengen tak keramasi mulutnya..kyknya perempuan tuh ga ada harganya banget . Dan nganggap perempuan tuh gender yg paling rendah gitu..Dann saya setuju banget nih ortu yg mendukung pendidikan anak perempuan spti mba Mutia ..krna pendidikan itu bekal untuk survive dimasa depan. Semangat mbak

    Like

  19. Wah setuju banget kak
    Memang pendidikan itu modal sekaligus investasi terbaik
    Kelak perempuan akan menjadi ibu, sekolah pertama bagi anak-anaknya
    Dengan bekal pendidikan yang baik, semoga nantinya menjadi “guru” yang baik juga untuk keluarga

    Like

  20. Tak bisa dipungkiri, memang masih banyak perempuan yang terpinggirkan dalan urusan pendidikan. Nggak cuma di desa, di kota pun masih ada.
    Berharap akan ada educenter juga di kota-kota lain

    Like

  21. perempuan memang juga butuh pendidikan ya sebagai investasinya, seru educenter mall banyak tempat belajarnya gitu. tapi inget jgn smp kita kalap nyekolahin anak ini itu tapi anaknya ga bahagiaa~

    Like

    1. Betul Mba Shafira. Di EduCenter semua terintegrasi. Intinya serahkan ke anak kita, mau kursus apa, mau les apa, sesuai minat dan bakatnya. Tidak ada dikotak-kotakkan ini tuh hobi cowok atau hobi cewek. Bebaskan mereka memilih.

      Like

  22. Kalo saya Kak Mutia, role model gak jauh-jauh. Ibu saya sebagai perempuan yang giat belajar. Meski akhirnya harus puas dengan pendidikan yang rendah, tapi ia selalu berjuang agar anaknya semua tamatan perguruan tinggi.

    Like

    1. Ibu saya cuma lulusan SD. Tapi beliau role model saya juga, terutama semangat pantang menyerahnya menyekolahkan anak. Walaupun harus jual emas dan perhiasan. Duh jadi terharu sendiri ingat zaman dulu.

      Like

    1. Kalo anak perempuan kita berpendidikan. Kelak dia mau dibawa suaminya ke Kutub Utara pun kita sebagai orang tua gak risau, sebab anak kita sudah matang secara pemikiran dan ilmu pengetahuan.

      Like

  23. setuju selain itu juga harus investasi agama. nah kedua hal ini investasi terbaik untuk anak-anak kita nanti nih. insyaallah dimudahkan untuk menjadi orang sukses yang sholeh dan sholehah. aamiin

    Like

  24. Ibu saya termasuk yang menasehati demikian, Ni Mutia… cepatlah sarjana agar cepat cari kerja, abis tu menikah dan punya anak2. Hihi… ini aja saya mau lanjut S3 sejak 2010 sampai 2020 sekarang ini, manut dulu sama suami, besarin anak2 dulu, tp gpp deh insyaallah kl taat ama suami kl lanjut sekolah lg dg ridanya, lebih berkah, aamiin. Mantul ya Educenter.

    Liked by 1 person

  25. Perempuan punya pendidikan itu harus karena buat kemandirian dia sendiri dan bagi orang sekitarnya, apabila sudah punya suami jadi ga terlalu juga membebankan suaminya jika perempuan tsb ingin memberikan sesuatu kepada keluarganya atau di sekelilingnya.

    Like

  26. Saya jadi terdukasikan dengan baik… jadi pengen punya anak perempuan (amin)…. dan membiarkan dirinya berkreasi penuh sesuai dengan cita2nya sehingga tercipta kartini2 muda bagi masa depan…

    Like

  27. Saya sepakat dengan artikel ini dan mendukung pendidikan dan kesempatan yang sama bagi perempuan dimanapun berada, karena dampaknya akan luas sekali baik bagi diri, keluarga, sesama terutama untuk generasi berikutnya.
    Bersyukur saya terlahir dari 6 bersaudara perempuan semua, meski orangtua pas-pasan tapi mengutamakan pendidikan. Saya bersaudara disekolahkan sampai sarjana semua oleh orangtua dan itu satu hal yang saya syukuri sampai kini.

    Like

  28. Jadi EduCenter ini pusat lembaga pendidikan formal dan informal ya, Uni? Keren banget ada pusat pendidikan begitu. Pun kalau seorang anak mengikuti 2-3 kursus tidak harus menempuh jarak yang jauh karena tersedia di komplek yang sama

    Like

  29. Pendidikan itu memang satu2nya jalan untuk merubah kehidupan, baik laki2 maupun perempuan ya. Semoga ke depan betul2 terealisasi soal IMF yang disebut di awal. Akan jadi sebuah kemajuan besar nih buat perjuangan kesetaraan.

    Like

  30. Perempuan memang masih belum dianggap mumpuni di bagian pengembangan diri dengan berkarir dan kewajiban ibu rumah tangga. Kdang suka miris jika perempuan nggak perlu investasi ilmu sampai pendidikan tinggi. Karena tugasnya nanti juga IRT aja stlah bersuami. Orang nggak mikir, jaid ibu juga butuh ilmu, kan?

    Like

  31. Betul mbak, investasi terbesar adalah ilmu yang bermanfaat. Karena dengan ilmu, maka dunia pun akan mengikutinya.

    Begitupun dengan perempuan, dimasa sekarang ini perbedaan gender seharusnya tidak menjadi penghalang perempuan untuk terus berkarya dan memperoleh pendidikan yg lebih tinggi

    Like

  32. Kadang ada ortu yg bilang: buat apa kuliah tinggi, nanti juga pegang sutil (alat utk goreng). Padahal kuliah bukan hanya utk bekerja tapi juga menyiapkan bekal kematangan parenting

    Like

  33. Setuju banget, anak perempuan juga perlu ilmu agar nantinya bisa membuat rumah tangganya lebih baik, apalagi dalam hal mengelola harta. Kl gak ada ilmunya, ya bakal habis percuma

    Like

    1. Hidup tanpa ilmu bagaikan mengarungi lautan tanpa perahu. Perempuan tanpa ilmu bakal terombang ambing ke sana kemari, tak jelas mau bersandar di mana, tak tentu arah, akhirnya mengikuti arus.

      Like

  34. Pendidikan, tidak layak dibatasi gender.. Sebel juga kalau misal masih ada yang nerapin hal tsb ya Mba… Adanya educenter seperti ini, bagus banget euy buat pengembangan skill ..

    Like

  35. setuju nih aku juga pernah ikut seminar yang bilang kalo diumur 20an itu lebih baik investasi ke ilmu dan pengalamaan

    Like

  36. Pendidikan bagi perempuan memang penting banget, aku gak bakal membatasi gerak dari istri dan anak-anakku nanti, baik itu anak laki-laki atau perempuan. Aku akan mendukung tiap kegiatan yang ingin mereka lakukan termasuk ketika nanti berurusan tentang pendidikan

    Like

  37. Aku terinspirasi dengan teman-teman yang bisa membuka taman bacaan dan ibu di Bali tadi yang membuat gerakan Bali Membaca. Sekitar 2016, aku pernah menerapkan taman bacaan di Sekayu, tapi kepentok dana dan kami yang nomaden. Semoga suatu saat nanti bisa memulai kembali.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.